July 2008


Ada hadis dari Aisha, istri sang nabi, kata Aisha tadinya ada “ayat rajam”, dimana disitu rajam dijelaskan sebagai hukuman bagi zinah, ayat ini menjadi bagian dari Quran tapi sekarang hilang. Kalifah2 awal melakukan hukuman rajam bagi para penzinah meski Quran, yang kita kenal sekarang, hanya memerintahkan seratus cambukan. Ini jadi aneh – jika hadis itu tidak benar – kenapa hukum islam sampai saat ini masih menetapkan hukum rajam padahal Quran hanya menuntut hukum cambuk. Menurut hadis juga, lebih dari seratus ayat telah hilang. Kaum Shia, tentunya mengklaim bahwa Usman telah membuang banyak ayat2 yang condong berpihak ke Ali karena alasan2 politisnya.

Nabi sendiri telah melupakan banyak ayat, ingatan para sahabat juga sama2 tidak bisa diandalkan dan para penyalin bisa juga salah menyalin ayat2. Kita juga punya kasus Ayat setan yang jelas menunjukkan bahwa Muhammad sendiri menyembunyikan atau menghapuskan beberapa ayat.

Keaslian banyak ayat juga dipertanyakan bukan hanya oleh scholar barat modern tapi juga oleh para muslim sendiri. Banyak kaum Kharijit yang menjadi pengikut Ali waktu awal islam berdiri menemukan surah yg menceritakan kisah Yusuf yg ganas berikut kisah2 erotisnya yang sekarang tidak ada di Quran. Bahkan sebelum Wansbrough ada sejumlah scholar barat seperti Sacy, Weil, Hirschfeld dan Casanova yang meragukan keaslian surah ini atau surah itu atau ayat ini dan ayat itu. Bisa dibilang sejauh ini argumen mereka belum bisa dibantah. Argumen Wansbrough malah menemukan dukungan diantara scholar generasi muda yang tidak sejalan dengan kolega mereka dari generasi sebelumnya, seperti dijelaskan dalam bab 1-nya “Trahison des Clercs”.

Dilain pihak kebanyakan scholar benar percaya adanya interpolasi (penyisipan/penambahan) dari Quran; interpolasi ini berupa sebagai terjemahan yang ditambah-tambahkan pada kalimat2 yg sulit. Yang lebih serius lagi adalah interpolasi sebuah karakter (politis atau dogmatis) seperti pada ayat 42.40-42, yang kelihatannya ditambahkan hanya utk membenarkan pengangkatan Usman sebagai kalifah dan menafikan Ali. Lalu ada ayat2 lain yang ditambahkan hanya utk menyesuaikan rimanya, atau utk menggabungkan dua ayat pendek yang tidak ada hubungannya sama sekali agar nyambung dan bisa dimengerti.

Bell dan Watt[16] secara cermat meneliti banyak pengubahan dan revisi dan menunjuk pada tidak samanya gaya penulisan Quran sebagai bukti dari banyaknya perubahan2 dalam Quran:

Banyak sekali hal2 yg demikian dan ini diklaim sebagai bukti adanya perubahan yg fundamental. Disamping hal2 yang sudah kita perhatikan – rima2 tersembunyi, dan frase-rima yang tidak menyatu kedalam tekstur dari ayat – terdapat juga perubahan mendadak dari rimanya; pengulangan kata atau frase yg berima sama dalam ayat2 yang berdampingan; bercampurnya subjek yang tak ada hubungannya sama sekali kedalam ayat yang tidak homogen/bertopik sama; perlakuan yg berbeda utk subjek sama dalam ayat2 yang berdekatan, sering dengan pengulangan kata dan frase; pemotongan tata bahasa yang menimbulkan kesulitan untuk penafsiran; perubahan kasar dalam ayat2 yang panjang; perubahan mendadak dalam kisah2 dramatis dengan mengubah kata ganti dari tunggal ke jamak, dari kata ganti orang kedua ke kata ganti orang ketiga, dan seterusnya; disejajarkannya pernyataan yang jelas2 berlawanan; disejajarkannya ayat2 yang ceritanya jelas2 beda jaman, dengan frase yg bertanggal belakangan disimpan diayat bertanggal lebih awal.

Dalam banyak hal sebuah ayat punya sambungan alternatif yang saling mengikuti dalam teksnya. Alternatif kedua ditandai oleh sebuah perhentian arti dan perhentian dalam konstruksi tata bahasanya, hubungannya tidak dengan ayat yang berikutnya tapi dengan yang ada disurah yang jauh dari ayat itu.

Al-Kindi, seorang kristen[17] yg menulis sekitar 830M mengkritik Quran dengan pernyataan yang sama:

“Hasil dari semua ini (proses terbentuknya Quran) adalah paten bagi anda yang membaca kitab suci ini dan melihat bagaimana dalam kitab itu sejarah2 dicampur adukkan dan disemrawutkan; ini sebuah bukti bahwa banyak tangan telah ikut campur dalam pembentukkannya dan menyebabkan ketidak sesuaian, penambahan atau pemotongan apapun yang mereka suka atau tidak suka. Sekarang apakah wahyu yang berasal dari surga bisa demikian?”


Mungkin harus diberi contoh:

- Ayat 15 dari Surah 20 sama sekali bukan disitu tempatnya; rimanya berbeda dari isi ayat lainnya dalam surah tsb.

- Ayat 1-5 dari surah 78 jelas2 hasil penambahan karena baik rima maupun sifatnya berbeda dari ayat2 lainnya; dalam surah yang sama ayat 32, 33 dan 34 telah disisipkan antara ayat 31 dan 35, dg demikian memotong hubungan yang jelas antara ayat 31 dan 35.

- Dalam Surah 74, ayat 31 lagi2 sebuah penyisipan yang jelas karena sama sekali berbeda gaya penuturannya dan panjangnya juga berbeda dari ayat2 lainnya.

- Dalam surah 50, ayat 24-32 dimasukkan kedalam sebuah konteks yang tidak pada tempatnya.

Utk menjelaskan kejanggalan atau keanehan kata/frase, bisa dengan memakai formula pertanyaan “Apa yang diajarkan ayat…. Itu?” (atau “mengajarkan apa ayat …. Ini?”) yg diterapkan pada ayat2 aneh tsb. Jelas bahwa penjelasan terjemahan tambahan ini – ada 12 semuanya – telah ditambahkan belakangan, karena dalam banyak kejadian ‘definisi’nya tidak nyambung dengan arti asli dari kata2 atau frasenya. Bell dan Watt[18] memberi contoh surah 101.9-11, yang harusnya terbaca: “ibunya akan jadi hawiya. Dan mengajarkan kamu apakah ini? api yang sangat panas.” “Hawiya” aslinya berarti “tidak punya anak” karena kematian atau kecelakaan tapi catatan penjelasan ayat ini menyatakannya sebagai “neraka.” Dg demikian banyak penterjemah sekarang menganggap kalimat tersebut sebagai “maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah. Dan tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu? (Yaitu) api yang sangat panas!” (Lihat juga 90.12-16)

Tentu saja interpolasi apapun, betapapun sepele, menjadi fatal untuk dogma muslim yang menganggap bahwa Quran itu Kalimat Tuhan yang diberikan pada Muhammad di Mekah dan di Medina. Seperti Regis Blachere tulis dalam karya klasiknya Introduction to the Koran, pada titik ini, tidak ada cara yang mungkin utk mempertemukan penemuan2 ahli tata bahasa dan sejarawan barat dengan dogma resmi dari Islam.

Kita juga punya kisah dari Abd Allah b. Sa’d Abi Sarh[19]:

Abd Allah b. Sa’d Abi Sarh adalah penyalin tulisan yang dipekerjakan di Medina utk menuliskan wahyu2 selama beberapa waktu. Dia sering bersama dengan sang Nabi mengubah kata2 dari beberapa ayat. Ketika sang Nabi berkata “Dan Allah maha Kuasa dan bijaksana,” Abd Allah menyarankan utk menuliskan “Maha Tahu dan Maha Bijaksana” dan sang nabi menjawab bahwa dia tidak keberatan dituliskan demikian. Setelah sadar bahwa dia (dan Muhammad) bisa melakukan penggantian ‘ayat Tuhan’ semaunya. Abd Allah meninggalkan Islam dengan alasan bahwa wahyu2 itu, jika benar berasal dari Tuhan, tidak boleh diubah sedikitpun apalagi jika hanya karena diusulkan penulis seperti dirinya. Setelah murtad, dia pergi ke Mekah dan bergabung dengan kaum Quraysh.

Tak perlu dikatakan lagi sang Nabi tak ragu utk memerintahkan pembunuhan Abd Allah ketika Mekah jatuh ketangan dia, tapi Usman meminta ampunan Muhammad bagi Abd Allh dengan susah payah.

William Henry Burr, penulis dari Self-Contradictions of the Bible, pasti akan berpesta pora jika memakai Quran sebagai subjeknya, karena Quran padat dengan kontradiksi. Tapi pesta Burr hanya akan berumur pendek saja; karena para teolog muslim punya doktrin yang nyaman buat mereka, yang seperti Hughes[20] katakan, “klop dengan efek manfaat yang sepertinya sudah menjadi satu keistimewaan dalam karir kenabian Muhammad.” Menurut doktrin ini ayat2 tertentu dari Quran dibatalkan dan diganti dengan ayat yang lain yg berbeda dan kadang bertentangan artinya dari ayat yang digantikan. Ini diajarkan oleh Muhammad dalam surah 2.106: “Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya.” Menurut al-Suyuti, jumlah ayat2 yang digantikan diperkirakan berkisar dari 5 sampai 500 ayat. Margoliouth[21] berkomentar tentang ini:

Utk ini cukup ambil satu wahyu dan gantikan ayat lainnya, Muhammad bilang ini diijinkan Tuhan. Meski meragukan tapi jelas ini masih dalam kekuasaan manusia dan meski bagi kita heran betapa begitu mudahnya sebuah prosedur boleh dipakai dalam sebuah sistem, baik bagi sekutu ataupun bagi musuh2nya.

Al-Suyuti memberi contoh surah 2.240 sebagai ayat yang digantikan oleh ayat 234. Bagaimana bisa sebuah ayat awal menggantikan ayat yang datang kemudian? Jawabannya tergantung pada cara bagaimana para muslim tradisional mengurutkan surah dan ayatnya, yaitu tidak secara kronologis, para penyusun menempatkan surah yang panjang sebagai surah awal. Para komentator telah memutuskan bahwa urutan kronologis ini hanya utk alasan doktrin semata; scholar barat juga pernah memutuskan utk mengurutkan secara kronologis. Meski terdapat banyak perbedaan mendetil, tapi sepertinya ada persetujuan tak resmi mengenai surah mana yang menjadi ayat Periode Mekah dan yang mana sebagai ayat Periode Medinah. Perhatikan bagaimana periode waktu begitu mengikat kalimat2 “abadi” sang Allah ini.

Muslim berhasil keluar dari satu kesulitan hanya utk kemudian masuk kedalam kesulitan lainnya. Pantaskah Tuhan yang Maha Kuasa, Maha Ada dan Maha Tahu merevisi perintah-perintahNya sampai sebanyak itu? Apa dia perlu mengeluarkan perintah yang harus diperbaiki, diganti, direvisi sesering itu? Kenapa Dia tidak memberi yang betul saja langsung ketika pertama diturunkan? Kenapa tidak bisa yg benar saja langsung pertama kali diturunkan? Padahal Dia itu Maha Bijaksana? Kenapa dia tidak keluarkan yang paling hebat saja langsung? Meminjam perkataan Dashti[22], :

Kayaknya tukang ejek juga ada jaman dulu itu dan mereka rajin mengejeknya. Dan sebuah jawaban diberikan utk mereka dalam ayat 101 dan 102 surah 16: “Dan apabila Kami letakkan suatu ayat di tempat ayat yang lain sebagai penggantinya padahal Allah lebih mengetahui apa yang diturunkan-Nya, mereka berkata: “Sesungguhnya kamu adalah orang yang mengada-adakan saja”. Bahkan kebanyakan mereka tiada mengetahui. Katakanlah: “Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al Qur’an itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”.

Dengan asumsi bahwa Quran itu perkataan Tuhan, harusnya tidak ada bekas2 intelektual manusia yang tidak sempurna dalam apa2 yang Tuhan katakan. Tapi dalam dua ayat ini jelas2 ada ketidak pantasan. Tentu Tuhan ‘tahu’ apa yang Dia turunkan. Utk alasan itu saja mengganti satu ayat dengan ayat lainnya akan membuat orang curiga. Terbukti bahkan orang2 Arab Hijazi yang tidak terpelajar dan sederhanapun bisa mengerti bahwa Allah SWT yang seharusnya tahu yg terbaik bagi hambaNya akan langsung menurunkan yang terbaik dan tidak akan berubah pikiran seperti makhluk tak sempurna lainnya.

Doktrin penggantian in juga menjadi bahan ejekan bagi dogma Muslim yang meyakini bahwa Quran itu reproduksi dari ayat Asli yang ada disimpan di Surga yang tak berubah satu titikpun. Jika perkataan tuhan itu abadi, tidak tercipta dan universal kepentingannya, lalu bagaimana bisa kita mengatakan bahwa perkataan Tuhan telah digantikan atau telah usang? Apakah Tuhan lebih suka perkataan anu dibanding perkataan ani? Sepertinya iya. Menurut Muir sekitar 200 ayat telah dibatalkan dan diganti oleh yang lebih baru. Dg demikian kita mendapatkan situasi yang aneh dimana keseluruhan Quran diucapkan sebagai perkataan Tuhan, tapi ada ayat2 yang dianggap tidak “benar”; dengan kata lain, 3 persen dari Quran diakui palsu.

Mari kita lihat contoh. Setiap orang tahu muslim tidak boleh minum arak karena dilarang dalam surah 2.219; tapi banyak yang pastinya kaget membaca Quran surah 16.67, “Dan dari buah kurma dan anggur, kamu buat minuman yang memabukkan dan rezeki yang baik. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang memikirkan.” Rodwell menerjemahkan dengan ‘wine’. Dawood menerjemahkan ‘intoxicant ‘ (minuman keras) dan Pickthall menuliskan ‘strong drink’ dan Sale, dengan pesona abad 18 menuliskan ‘inebriating liquor’ menggantikan ‘wine’. Yusuf Ali mengaku bahwa kata Arab yang tepat adalah ‘sakar’ artinya ‘wholesome drink’, dan dalam sebuah catatan kaki dia berkeras bahwa yang dimaksud adalah minuman tak beralkohol; tapi kemudian, diakhir kalimat dia menambahkan bahwa jika ‘sakar’ harus diambil arti harafiahnya, berarti anggur fermentasi, dan ini mengacu pada saat sebelum minuman keras dilarang: ini adalah surah Mekah dan larangan muncul di Medina.”

Sekarang kita bisa melihat dan mengerti betapa berguna dan nyamannya doktrin Penggantian (Abrogasi) ini utk menyelamatkan para scholar muslim keluar dari segala kesulitan. Tapi tetap mengandung masalah bagi para pembela Islam karena semua ayat2 yang mengajarkan toleransi ada dalam Surah Mekah, yakni Surah2 awal, dan semua ayat2 yang membolehkan pembunuhan, pemancungan dan penganiayaan ada dalam surah Medina. “Toleransi” telah diganti oleh “Intoleransi”. Contohnya, ayat terkenal Surah 9.5, “bunuhlah orang-orang musyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka” katanya telah membatalkan sekitar 124 ayat yang menganjurkan toleransi dan kesabaran.

Lagi, kita dapatkan dari sumber2 Muslim yang diandalkan (al-Tabari; Waqidi), kisah merusak dari ayat2 setan (sebuah ungkapan yang dipakai oleh Muir pada akhir tahun 1850an, dan sekarang dikenal luas). Selama hari2nya di Mekah, sebelum pindah ke Medina, Muhammad duduk bersama-sama orang2 terkenal Mekah disebelah Kabah, ketika dia mulai mengucapkan Surat 53, yang menjelaskan kunjungan pertama Jibril pada Muhammad dan lalu berlanjut pada kunjungan keduanya:

Dia juga melihatnya (Jibril) dilain waktu
Pada pohon Lote dibagian jauhnya
Dekatnya ada surga
Ketika pohon Lote menutupi apa yang ditutupinya
Pandangannya tidak berpaling, tidak juga berpindah
Dan sesungguhnya dia membawa tanda2 kebesaran Allah
Bagaimana pendapatmu mengenai Lat dan Uzza dan Manat?

Pada titik ini, kita diberitahu bahwa Setan telah menaruh perkataan tsb dimulutnya, perkataan rekonsiliasi dan kompromi:

Mereka adalah wanita2 mulia
Dimana intersesinya dimohonkan

Tentu saja, orang2 Mekah senang dengan dikenalnya dewi2 mereka dan diucapkan dalam doa2 oleh orang muslim. Tapi Muhammad sendiri lalu dikunjungi Jibril yang membatalkan semua itu dan dikatakan bahwa ayat itu seharusnya berakhir demikian:

Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan?
Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil.
Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakannya

Muslim selalu tidak nyaman dengan kisah ini, tidak mau percaya bahwa nabinya bisa membuat kompromi utk menyembah berhala. Tapi jika kita terima keaslian sumber2 muslim ini secara umum, tidak ada alasan utk menolak kisah ini. Kelihatannya tidak masuk akal bahwa kisah demikian direkayasa oleh muslim saleh seperti al-Tabari, atau bahwa dia bisa menerima begitu saja sumber2 yang tak jelas.[25] Lagipula, hal ini menjelaskan fakta kenapa para muslim yang lari ke Abyssinia banyak yg kembali diterima: Karena mereka mendengar orang2 Mekah telah masuk islam. Sepertinya jelas bahwa tidak ada kisah yang loncat tentang Muhammad disini, malah secara hati-hati hal ini telah diperhitungkan utk memenangkan dukungan orang2 Mekah. Hal ini juga menimbulkan keraguan hebat akan kejujuran Muhammad; Meski jika benar Setan menaruh perkataan itu dimulut Muhammad, lalu gimana bisa kita percaya pada orang yang begitu mudah disesatkan oleh setan? Kenapa Tuhan membiarkan ini terjadi? Darimana kita tahu bahwa tidak ada lagi ayat2 lain dari Muhammad yang disesatkan oleh Setan?

Bahkan sangat tragis sebagian muslim tahunya atas ajarannya di mana quran adalah buku induk dan ada di surga maka jelasnya ayat ayat setan tersebut juga tercantum di surga dengan kata lain setan menaruh perkataannya juga atas quran yang di surga bagaimana bisanya kacau dan rancunya logika muslim dengan ayat ayat setan ini

Pengumuman akan Kelahiran dari seorang Perawan

Quran berkata bahwa Yesus secara ajaib lahir dari Perawan Maria. Ini dikisahkan dalam surah 19.16-21 dan surah 3.45-48:

“(Ingatlah), ketika Malaikat berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putra yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya Al Masih Isa putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah), dan dia berbicara dengan manusia dalam buaian dan ketika sudah dewasa dan dia termasuk di antara orang-orang yang saleh.” Maryam berkata: “Ya Tuhanku, betapa mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-laki pun.” Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril): “Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: “Jadilah”, lalu jadilah dia. Dan Allah akan mengajarkan kepadanya Al Kitab, Hikmah, Taurat dan Injil.”

Meski ini juga masih menjadi prinsip teologi kristen ortodoks, kristen liberal dan banyak kristen lain, bahkan uskup Durham (inggris) tidak lagi menerima kisah ini secara harafiah, mereka lebih suka menafsirkan ‘perawan/virgin’ sebagai “murni” atau secara moral tanpa cela. Martin Luther (1483-1546) yg menulis diabad 16 mengakui bahwa “Kami orang kristen seperti orang2 bodoh karena percaya bahwa Maria adalah ibu kandung dari anak ini tapi masih perawan. Karena bukan saja ini bertentangan dengan akal, tapi juga dengan penciptaan Tuhan, yang mengatakan pada Adam dan Hawa utk ‘bergunalah, beranakcuculah dan bertambah banyak.’”[78]

Pengujian para scholar kristen untuk masalah ini adalah contoh yang baik tentang bagaimana muslim tidak bisa sembunyi dari kesimpulan2 mereka sendiri, karena kesimpulan2 ini punya efek langsung pada kejujuran atau setidaknya pada kebenaran harafiah dari Quran. Charles Guignebert (1867-1939)[79] telah membuat penelaahan rinci akan legenda Kelahiran dari Perawan ini. Guignebert menunjukkan kesamaan legenda ini dengan legenda dari Greco-Roman:

Disini kita temukan legenda dari Perseus, lahir dari Danae, seorang perawan yang mengandung karena hujan emas, dan kisah dari Attis yang beribukan Nana, yg mengandung karena memakan buah delima. Disini juga ada kelahiran orang2 terkenal – Phytagoras, Plato, Augustus – yg cenderung dijelaskan lewat kisah semacam parthenogenesis (reproduksi dari sebuah ovum tanpa pembuahan), atau lewat campur tangan misterius dari Tuhan. Sangat mungkin bahwa dalam sebuah masyarakat dimana terdapat banyak kisah2 semacam ini beredar, orang2 kristen yg sedang begitu semangat menunjukkan keyakinan imannya akan ketuhanan dari Yesus memakai cara mengemukakan pertanda2 yang manusia anggap sebagai pertanda dari Tuhan. Tidak salah lagi ini tentunya adalah sebuah tiruan dari kisah yang sama tapi dipengaruhi oleh atmosfir kepercayaan tertentu.

Scholar2 lain, seperti Adolf Harnack (1851-1930), percaya bahwa legenda Kelahiran dari Perawan ini muncul dari tafsiran ayat2 Perjanjian Lama, sebut saja Yesaya 7.14, sesuai dengan teks yunani dari Septuagint, terjemahan dibuat ditahun 132 SM. Pada kejadian ini, Ahaz Raja Yudea, takut akan serangan baru dari persekutuan raja2 Siria dan Israel, yang telah gagal mengambil Yerusalem. Nabi Yesaya meyakinkan Ahaz dan berkata:

[7:14-16] Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel. Ia akan makan dadih dan madu sampai ia tahu menolak yang jahat dan memilih yang baik, sebab sebelum anak itu tahu menolak yang jahat dan memilih yang baik, maka negeri yang kedua rajanya engkau takuti akan ditinggalkan kosong.

Orang2 kristen dulu waktu mencari-cari semua perkataan2 nubuat mengenai Messiah, menemukan ayat dari Yesaya ini dan mengambilnya keluar dari konteks, membuatnya punya arti bagi messiah. Yang lebih penting lagi, tulisan asli Hebrewnya tidak ada kata “virgin” (Bethulah) tapi kata “perempuan muda” (Haalmah); dalam bahasa Yunani, “Parthenos” dan “neanis”. Guignebert menyatakan,

Teolog ortodoks berusaha membuktikan bahwa “haalmah” bisa berarti ‘virgin’ tapi tidak ada hasil. Nabi Yesaya tidak berpikir utk meramalkan sebuah mukjjijat, dan orang2 Yahudi ketika menyerang orang kristen tidak melewatkan kesempatan menunjuk ayat ini yang bagi mereka adalah sebuah kesalahan tafsir.

Guignebert sendiri tidak menerima teori asal muasal Kelahiran Perawan yang dinyatakan oleh Harnack. Malah, Guignebert mengemukakan hipotesanya sendiri [hal.247]:

Ditelaah bahwa dalam tulisan2 Paul, john dan Mark, tak seorangpun dari mereka yg percaya pada Kelahiran dari Perawan, Yesus dikarakterisasikan sebagai anak Tuhan. Penjelasan ini muncul sebelum penetapan kepercayaan mukjijat yang disampaikan oleh Matius dan Lukas, dan bukan berasal dari itu. Segera setelah mereka yakin bahwa, bukan hanya karena Yesus telah diangkat oleh Tuhan dan sebagai manusia yang penuh Roh Kudus serta yg merampungkan rencanaNya, tapi juga bahwa kelahirannya kedunia ini oleh Tuhan telah ditakdirkan dan dimuliakan oleh Roh Kudus, maka mereka mesti berusaha menandai dan mengungkapkan hubungan spesial antara Yesus dan Tuhan. Mereka bilang dia adalah ‘anaknya’, karena hanya istilah itu satu-satunya yang dikenal dalam bahasa manusia dan bisa dimengerti meski tidak sepenuhnya dan secukupnya menerangkan hubungan spesial sebenarnya. Karena gagasan sebagai anak/turunan langsung dari Tuhan tampak seperti kemustahilan bagi orang Yahudi, tapi ungkapan ini bagi orang2 Palestina pada kenyataannya hanya cara pengucapan belaka, hanya metafora.

Jelas Yesus sendiri tidak pernah menerapkan hal itu mengenai dirinya, dan bahwa di Israel sendiri sampai sekarang tidak ada kepentingan yg berhubungan dg Messiah. Maksudnya adalah, orang Yahudi tidak memberi Julukan Anak Tuhan pada Messiah yang mereka harapkan. Messiah mestinya bagi mereka bukanlah berarti Anak, tapi Pelayan dari Tuhan (Ebed Yahweh), karena hal itu adalah penunjukkan akan “orang2nya Yahweh.” Tapi di Yunani, para kristolog menemukan lingkungan yang sangat berbeda dari Palestina. Disana gagasan prokreasi manusia oleh Tuhan sudah ada dan dikenal dalam budaya mereka dan hubungan yang nyata dari anak-Bapak antara Kristus dan Tuhan Bapa tidak akan mengagetkan orang2 sana… sebaliknya, istilah Anak Tuhan malah mungkin bisa dipakai utk menarik simpati disana daripada memakai istilah yang keyahudi-yahudian, yg terlalu nasionalistik seperti istilah ‘Messiah’. Dg demikian, dari semua kemungkinan, dimasyarakat kristen pertama, diantara para Gentiles (orang2 bukan yahudi), istilah tersebut mengemuka. Pertamanya, mungkin, hanya terjemahan belaka dari Ebed Yahweh-nya Palestina, karena kata yunani dari ‘pais’ bisa berarti ‘pelayan’ sekaligus ‘anak-anak/bani’, dan ini transisi yang mudah dari bani menjadi anak. Tapi segera mendapatkan pewarnaan dari gagasan asli kristologi, gagasan yang menemukan kebutuhan dari lingkungannya ini diambil dan diungkap dalam Surat2 Paulus. Gagasan ini menemukan pembenaran dari pengikut Paulus dan Johannine dalam doktrin keberadaan ilahi serta inkarnasi Tuhan. Legenda Kelahiran dari Perawan adalah pembenaran lainnya lagi, muncul dari lingkungan intelektual yang sama sekali berbeda, tapi mirip dengan yang disebutkan diatas, dan menemukan konfirmasi dari ayat2 biblenya, ketika kebutuhan muncul utk membela kontroversi yang dikemukakan oleh orang sekitar, dalam Yesaya 7:14. Matius dan Lukas menampilkan dua perwujudan yang kongkrit, berbeda dalam bentuk tapi sama dalam semangat dan arti dari kepercayaan kristen: “Dia adalah Anak Tuhan. Dia lahir dari Roh Kudus.”

Kelahiran Yesus

Kisah kelahiran Yesus dalam surah 19.22-34 menunjukkan kemiripan yang luarbiasa bukan hanya pada kisah dari Leto, seperti yang ditunjukkan Sale, tapi juga pada kisah yang belum pernah saya lihat dikutip dimanapun, yaitu kelahiran yang bersejarah dari Buddha. Mari kita lihat versi Quran lebih dulu, surah 19.22-34:

“Maka Maryam mengandungnya, lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh. Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, ia berkata: “Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi dilupakan”. Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: “Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu. Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang Manusia pun pada hari ini”. Maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan menggendongnya. Kaumnya berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar. Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina”, maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata: “Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih dalam ayunan?” Berkata Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi. dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) salat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup; dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali”. Itulah Isa putra Maryam, yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya.”

Leto – atau dalam bahasa Latin, Latona – adalah Titaness, anak perempuan dari Coeus dan Phoebe. Menurut himne Homer kepada Delian Apollo, Leto melahirkan Apollo ketika mencengkeram pohon palem Keramat. Apollo juga dikatakan telah bisa berkata-kata ketika masih dalam kandungan. Callimachus (ca. 305-240SM) dalam karyanya “Hymn in Delum” mengulangi kisah yang sama.

Menurut legenda kelahiran sang Buddha, Ratu Maya Devi bermimpi seekor gajah putih menghampiri sisi kanannya. Banyak Brahmin meyakinkan sang raja dan ratu bahwa anak mereka suatu hari akan menjadi raja yang besar atau seorang Buddha. Ajaibnya kandungan ini berumur hingga 10 bulan. Ketika menuju orang tuanya, Ratu Maya Devi melahirkan, ia memasuki taman Lumbini dimana ketika itu dia berpegangan pada cabang pohon Shala, sang anak mucnul dari sisi kanannya. Segera setelah lahir, calon Buddha ini berdiri dan berjalan tujuh langkah kearah utara, lalu kearah pusat mata angin bumi utk mengumumkan kepemilikannya akan jagat raya, dan mengumumkan bahwa ini adalah kelahirannya yang terakhir. Kita sudah mengisahkan kemungkinan sumber langsung dari kisah kelahiran Yesus di Quran, yakni, sebuah buku apocrypha (=yg sebenarnya diragukan kebenarannya) yang berjudul “The History of the Nativity of Mary and the Saviour’s Infancy.”

Apakah Yesus benar2 ada?

Mungkin orang muslim akan kaget jika tahu bahwa ada dan masih ada scholar yang meragukan keaslian sejarah tentang Yesus, yang keberadaannya oleh para Muslim benar2 dipercayai. Bruno Bauer (1809-1882), J.M. Robertson (1856-1933), Arthur Drews (1865-1935), van den Bergh van Eysinga, Albert Kalthoff, dan yang lebih baru Guy Fau (Le Fable de Jesus Christ, Paris, 1967), Prosper Alfaric (Origines Sociales du Christianisme, Paris 1959), W.B. Smith (The Birth of the Gospel, New York, 1957), dan Professor G.A. Wells dari Birbeck College, University of London telah mengembangkan semua teori “Mitos Kristus” ini[80]. Professor Joseph Hoffman merangkum situasi demikian sbb:

Pendapat para scholar masih tetap (meski tidak ngotot) pada dalil figur sejarah dimana kisah kehidupannya banyak diliputi oleh aktivitas2 pembuat mitos sebuah pengkultusan. (Scholar2 lainnya) berpegangan pada pendapat bahwa dalil sebuah figur sejarah tidaklah selalu perlu digunakan utk menjelaskan keistimewaan “biografikal” dari injil. Penilaian yang jujur atas bukti yang ada kelihatannya lebih condong pada pendapat yang terakhir, tapi kita juga tidak dapat dengan mudah menghilangkan kemungkinan bahwa benar ada sebuah figur sejarah dibelakang legenda Yesus dalam Perjanjian Baru[81].

Saya lebih suka mendiskusikan bukti2 yang ‘tidak bisa begitu saja disepelekan’ akan pendapat bahwa Yesus tidak benar2 ada karena beberapa alasan:

1. Pertama, umumnya debat2, diskusi2 dan argumen2 mengenai mitos Yesus menjadi perhatian para muslim selain para kristen juga; atau setidaknya jika para muslim tidak menaruh perhatian, maka harusnya mereka menaruh perhatian. Saya mengira tidak ada buku tentang islam yang pernah mendiskusikan pandangan2 dari Bauer atau pandangan2 sekolah Radical Dutch mengenai sejarah Yesus. Harusnya menjadi perhatian besar semua orang2 terpelajar yang tertarik akan asal muasal dan warisan spiritual serta intelektual kita. Sejarah awal kekristenan adalah salah satu bagian penting dari sejarah peradaban. Bagi para muslim, Yesus adalah salah seorang nabi Tuhan dan seorang figur sejarah yang melakukan banyak mukjijat, dan yang akan datang lagi dihari Terakhir serta membunuh Dajjal (Anti Kristus). Jika bisa ditunjukkan bahwa Yesus tidak pernah ada, maka akan ada konsekwensi yang pasti bagi semua muslim, karena ini akan otomatis menganggap kejujuran wahyu Quran mereka dipertanyakan.

Tapi, ini bukan hanya sekedar mempertanyakan sejarah Yesus, tapi apa yang kita lakukan dan dapat kita ketahui tentang dia. Pertanyaan ini harusnya sangat penting bagi semua, khususnya muslim. Muslim percaya Yesus itu pernah ada, dg demikian semua riset2 dan semua yang didedikasikan oleh intelektual dan sejarawan terkenal tentang Yesus ini harusnya jadi perhatian penuh mereka. Muslim, dan juga kristen, harusnya menaruh perhatian akan kebenaran dari masalah ini. Bahkan teolog kristen yang menerima keberadaan Yesus juga menghadapi sejumlah masalah dari sebagian kehidupan Yesus yang belum terpecahkan. Kebanyakan kisah2 dalam Perjanjian Baru mengenai kehidupannya sekarang telah diterima sebagai legenda tanpa dasar sejarah, bahkan oleh teolog kristen konservatif sekalipun. Scholar Perjanjian Baru Ernst Kasemann menyimpulkan: “Dalam beberapa subjek jika ada pertentangan pendapat yg pahit diantara para scholar selama dua abad ini maka itu adalah mengenai kisah2 mukjijat dalam Injil.. Kita bisa bilang saat ini pertentangan itu telah selesai, mungkin demikian diarena kehidupan gereja, tapi dalam bidang teologi sains tidaklah demikian. Pertentangan ini berakhir dengan kekalahan konsep mukjijat yang menjadi tradisi pada gereja2.”[82]

Lalu dimana posisi Quran? Tidak satupun kisah2 Yesus dalam Quran diterima sebagai kebenaran; kebanyakan kisah2 itu berisi takhyul dan mukjijat yang keterlaluan yang hanya dipercaya oleh orang2 yg percaya Quran saja. Layak disebutkan bahwa jika Quran itu sungguh2 benar dan merupakan Kalimat Langsung dari Tuhan, lalu kenapa tidak ada teolog Kristen yang memakainya sebagai bukti dari Keberadaan Yesus? Tidak ada sejarawan yang pernah sekali saja melirik Quran sebagai penerang sejarah, dengan alasan yang sama seperti juga tidak ada sejarawan yang akan melirik sebuah dokumen, dimana dokumen tsb berupa karya manusia yang ditulis 600 tahun setelah kejadian, padahal sudah ada dokumen2 yang ditulis hanya 50-60 tahun setelah kejadian itu. Kita juga tahu sumber2 dari kisah2 dalam Quran, yaitu berasal dari injil2 Gnostik Penghujat seperti Injil Thomas, yang dianggap oleh para sejarawan sebagai bertentangan dengan sejarah.

Bahkan meski jika kita tidak menerima tesis bahwa Yesus pernah ada, kesimpulan dari para sejarawan Perjanjian Baru menghasilkan sesuatu yang memberi pertumbuhan positif dalam agama dan mitologi religius; lebih jauh lagi, mereka menunjuk pada kemiripan yg ada pada teori2 baru yang diajukan oleh para scholar islam dalam kebangkitan islam dan legenda Muhammad dalam hadis2nya.

2. Banyak kecaman dari kekristenan yang ditemukan dalam karya2 yang didiskusikan, pengubahan2, yg ada dalam seluruh agama2, termasuk islam.

3. Diskusi mengenai kesejarahan Yesus telah dilakukan di Eropa dan Amerika selama lebih dari 150 tahun, tanpa ada satupun scholar yang menyangkal keberadaaan sejarah Yesus terancam dibunuh. Benar, Bauer dikeluarkan dari posisi teologinya di Universitas di Bonn tahun 1842, tapi dia terus mempublikasikan karyanya sampai meninggal. Professor Wells masih hidup (1994) dan sehat serta mengajar di Universit of London sampai 1971 dan dia masih tetap menyangkal bahwa Yesus pernah ada. Ini semua bisa jadi pelajaran bagi dunia islam.

4. Dogmatisme buta telah mengurung muslim dari tantangan dan kemeriahan riset, debat dan diskusi satu setengah abad belakangan ini. Meminjam perkataan Joseph Hoffman: “Lewat diskusi2 demikian kita menghindar dari dogmatisme masa lalu dan belajar menghormat ketidak pastian sebagai pertanda pencerahan.”[83]

5. Juga ada metodologi moral yang lebih mendalam utk dipelajari dari diskusi berikut ini. Kebaikan dari pertanyaan2 sejarah disepelekan meski jika kita membawanya kedalam iman islam atau kristen. Riset sejarah hanya berujung pada pendekatan kebenaran objektif, setelah sebuah proses dugaan dan pembuktian kesalahan, pemikiran kritis, argumen rasional, penyajian bukti dan lain-lain. Tapi, jika kita membawa subjektifitas iman religius dengan kepastian dogmatismenya kedalam “proses perkiraan sejarah, hal ini jelas menyepelekan apa yang R.G. Collingwood perdebatkan berupa atribut fundamental dari sejarawan kritis, skeptis mengenai kesaksian akan masa lalu.”[84]

Argumen-argumen

Strauss

Dalam karyanya Life of Jesus Critically Examined (1835), David Strauss menunjukkan bahwa kita tidak bisa mengambil injil sebagai biografi sejarah; bukan itu fungsi utamanya. Kristen2 awal ingin memenangkan orang agar masuk kristen ‘lewat propagasi mitos religius yang sintetis.”[85]

Tesis utama Strauss adalah bahwa kisah2 dalam perjanjian baru adalah hasil dari harapan2 messianik orang2 yahudi.

Para penginjil membuat seakan Yesus melakukan dan mengatakan apa yang mereka inginkan – dari pengetahuan yg mereka dapat di Perjanjian Lama – bahwa Messiah akan melakukan anu dan mengatakan anu; dan banyak ayat2 yang nyatanya tidak ada referensinya bagi Messiah tapi diambil juga seakan sebagai ramalan tentang Messiah. Dg demikian, “Yesaya 35:5 Pada waktu itu mata orang-orang buta akan dicelikkan” mengungkapkan kegembiraan orang2 yahudi buangan di Babylon ketika mengetahui kabar akan dibebaskannya mereka, tapi diartikan oleh para penginjil sebagai ramalan akan Messiah yang akan menyembuhkan orang buta, yang lalu mereka buat seakan memang Yesus melakukan itu.[86]

Bauer

Bauer lebih berani lagi dan menyatakan bahwa orang2 kristen awal menemukan Yesus Kristus dari penggambaran nabi2 yang ada dalam Perjanjian Lama. Yesus tidak pernah ada dan kekristenan yg bangkit di pertengahan abad pertama berasal dari gabungan gagasan Judaic dan Greco-Roman. Bauer berpendapat, contohnya, bahwa orang kristen memakai istilah Yunani “Logos” yang berasal dari Philo, Stoicisme, dan Heraclitus. Bagi Philo, Logos adalah kekuatan kreatif yang memerintah dunia dan sebagai perantara manusia dengan Tuhan. Tentu saja, dalam injil Yohanes, Logos disamakan dengan Tuhan, yang lalu berinkarnasi jadi Yesus Kristus.

Sedang utk pengaruh2 klasik lainnya dalam kekeristenan mulai diawal abad 4 penulis2 anti kristen menunjuk pada kemiripan kehidupan Yesus dengan kehidupan dari Apollonius dari Tyana, seorang pengajar Neo-Pythagorean yang lahir sebelum era kristen. Dia melakukan kehidupan berkelana dan bertapa, mengaku punya kekuatan mukjijat, dan selalu berada dalam bahaya sepanjang kehidupannya selama kekuasaan Kaisar Roma Nero dan Domitian. Para pengikutnya menyebut dia sebagai Anak Tuhan; mereka juga bilang Dia dibangkitkan didepan mata mereka sendiri dan naik ke surga.

Misteri kultus Mithra ini pertamanya ada didunia Romawi pada pertengahan abad pertama SM. Kultus ini mengembangkan ritual dan upacara serta tahapan2 rahasia utk inisiasi para pengabdi dewa2 itu untuk lulus. Misteri Mithraic juga menunjukkan kemiripan dengan Baptisan dan Ekaristi kekristenan.

Kristen2 awal menyebutkan perkataan2 Yesus yang pada kenyataannya hanyalah gambaran dari pengalaman, keyakinan dan harapan2 dari masyarakat2 Kristen itu sendiri, bukan benar2 perkataan dari Yesus. Contoh, Markus 1:14-15: Sesudah Yohanes ditangkap datanglah Yesus ke Galilea memberitakan Injil Allah, kata-Nya: “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!”

Yesus tidak pernah mengucapkan ini – perkataan2 itu hanyalah :

Ungkapan dan pendapat komunitas kristen awal yang menyatakan bahwa waktunya sudah tiba utk kemunculan dan penyebaran kekristenan. Tapi seiring waktu banyak usaha2 dilakukan utk menemukan indikasi2 sejarahnya – hari2 di jaman itu yang tercatat dalam Perjanjian Baru hingga jaman Kekaisaran – Bahwa persiapan yang progresif utk jaman keselamatan sudah jelas. Masing2 generasi baru menganggap jamannya adlah jaman Penggenapan Perjanjian. Kristen awal juga percaya, lewat pengetahuan mereka dari perjanjian Lama, bahwa sebelum Penyelamat datang Eliya akan kembali ke bumi. Setelah mereka menganggap Yohanes pembaptis sebagai kembalinya Eliya, mereka secara otomatis percaya bahwa Penyelamat yang berikutnya akan segera datang; dan pada akhirnya sebuah cerita dibuat dimana “sang penyelamat” ini dibuat seakan menyebut Yohanes Pembaptis sebagai Eliya. (Markus 9.13)[87]

Wrede

Mengakui karyanya berhutang pada karya Bauer, Wilhelm Wrede yg menulis diawal abad 20 menunjukkan bahwa injil Markus “disaring dengan kepercayaan teologis dari komunitas kristen awal. Bukannya sebuah biografi, injil ini adalah pembacaan kembali kedalam kehidupan Yesus, iman dan harapan dari gereja2 awal yang menganggap Yesus sebagai Mesiah dan Anak Tuhan.”[88]

Kalthoff

Albert Kalthoff, juga menulis diawal abad ini, berpendapat bahwa kita bisa menjelaskan asal muasal kekristenan tanpa harus menempatkan penmu sejarah. Kekristenan bangkit dengan ledakan spontan ketika “materi religius dan sosial yang mudah terbakar, yang dikumpulkan oleh kekaisaran Romawi, bergesekan dengan harapan2 akan kedatangan Messiah milik orang Yahudi.”[89] “Dari sudut pandang sosio-religius, figur Kristus adalah ungkapan religius yang dihaluskan utk kekuatan2 sosial dan etikal yang sedang bekerja pada perioda tertentu.”

Bukti2 Non Kristen

Meski ada fakta sekitar 60 sejarawan aktif diabad pertama kekaisaran Romawi, tapi sedikit sekali koroborasi (bukti2 yang menguatkan) akan kisah kristen tentang Yesus yang berasal dari luar tradisi kristen. Yang ada malah sangat tidak meyakinkan dan tidak menolong sama sekali, seperti Josephus, Tacitus, Suetonius, Plinty.[90]

Injil2

Kita mengenal bahwa injil (Matius, Markus, Lukas dan Yohannes) tidak ditulis oleh murid2 Yesus. Injil itu bukanlah kesaksian langsung, dan ditulis oleh penulis yang tidak dikenal sekitar 40 sampai 80 tahun setelah penyaliban Kristus. Matius, Markus dan Lukas biasanya disebut Injil Sinoptik karena kesamaan subjek dan kemiripan frase pada ketiganya. Markus dianggap yang lebih awal dari ketiga injil itu dan mungkin juga dipakai sebagai sumber oleh dua injil lain. Sangat tidak mungkin bahwa apa yang katanya diucapkan oleh Yesus dalam injil benar2 pernah diucapkan oleh figur sejarah Yesus yang sebenarnya. Seperti disimpulkan oleh Hoffmann:

Sangat Sulit bahkan utk membicarakan sekalipun seorang Yesus yg asli menurut “sejarah”, jika melihat proporsi dan kesegeraan proses pembuatan mitos yang mengkarakterisasi hari2 awal pengultusan Yesus. Apa benar ada pendiri sejarahnya atau tidak (dan ini tidak begitu diperlukan karena kesaksian misteri dari agama2, demi suksesnya sebuah pengultusan dan kisah2 yang berkaitan dengan pendirinya itu), para scholar sekarang menganggap pasti bahwa Injil adalah kompilasi atau kumpulan ‘tradisi2/hadis2’ yang ditulis oleh orang2 kristen awal bukannya oleh penulis2 sejarah.[91]

Pengadilan Sanhedrin, pengadilan dihadapan Pilatus, dan faktor utama dalam kisah Passion of Christ, punya masalah serius, dan kita tidak dapat menganggapnya sebagai kejadian sejarah; tapi semua itu dikarang oleh kristen2 awal. Seperti Nineham katakan, kebanyakan yang kita temukan dalam injil Markus mungkin adalah kesimpulan dari ramalan2 Perjanjian Lama mengenai apa yang ‘harusnya’ terjadi ketika Sang Messias datang.”[92]

———–
[78] Dikutip oleh Feuerbach, hal.304
[79] Hoffmann, R. Joseph and G.A. Larue, eds. Jesus in History and Myth. Amherst, N.Y., 1986. Hal.233-252
[80] Artikel Wells, G.A. “Jesus, Historicity of.” In KU, vol.1.
[81] Hoffmann, R. Joseph and G.A. Larue, eds. Jesus in History and Myth. Amherst, N.Y., 1986. Hal.179
[82] Dikutip dalam Hoffmann, R. Joseph and G.A. Larue, eds. Jesus in History and Myth. Amherst, N.Y., 1986, Hal.135-136
[83] Hoffmann, R. Joseph and G.A. Larue, eds. Jesus in History and Myth. Amherst, N.Y., 1986. Hal.21-22
[84] Ibid., hal.199
[85] Ibid., hal.13
[86] Wells, G.A. Artikel “Strauss.” In KU, vol. 2. Hal.657
[87] Wells, G.A. Artikel “Bauer.” In KU, vol.1. hal.44-46
[88] Hoffmann, R. Joseph and G.A. Larue, eds. Jesus in History and Myth. Amherst, N.Y., 1986. Hal.15
[89] Ibid., hal.184
[90] Stein, Gordon. An Anthology of Atheism and Rationalism. Amherst, N.Y., 1980. Hal.178
[91] Hoffmann, R. Joseph. The Origins of Christianity. Amherst, N.Y., 1985. Hal.177
[92] Ibid., hal.184
_________________
Para Muslim tidaklah bodoh. Mereka bisa melihat bahwa Islam adalah salah. Mereka tahu ayat2 Quran bertentangan satu sama lain. Mereka tahu Islam bertentangan dengan kecerdasan manusia dan tidak masuk akal, tapi mereka begitu terjebak di dalamnya sehingga mereka tidak bisa meninggalkannya. Mereka memaksa diri mereka untuk percaya, karena tanpa itu, mereka bagaikan tersesat.
- Ali Sina

Surah al-Nisa ayat 30 (maksudnya) : ”Jika kamu takut tidak berlaku adil maka hanya seorang isteri”
Poligami adalah untuk kaum lelaki muslim.. Bahwa lelaki muslim dibenarkan menikahi lebih dari 1 wanita untuk dijadikan istri tetapi tidak lebih dari 4. Kita semua tahu, berapa jumlah si HAJI MUHAMMAD SAW !!!

BERIKUT SEJARAH ADANYA POLIGAMI
Pada masa Arab pra-Islam mengenal institusi pernikahan tak beradab (nikâh al-jâhili) di mana lelaki dan perempuan mempraktikkan poliandri dan poligami. Contoh – contoh pernikahan yang masuk kategori NIKAH AL JAHILI adalah :

Pertama, pernikahan sehari, yaitu pernikahan hanya berlangsung sehari saja.

Kedua, pernikahan istibdâ’ yaitu suami menyuruh istri digauli lelaki lain dan suaminya tidak akan menyentuhnya sehingga jelas apakah istrinya hamil oleh lelaki itu atau tidak. Jika hamil oleh lelaki itu, maka jika lelaki itu bila suka boleh menikahinya. Jika tidak, perempuan itu kembali lagi kepada suaminya. Pernikahan ini dilakukan hanya untuk mendapat keturunan.

Ketiga, pernikahan poliandri jenis pertama, yaitu perempuan mempunyai suami lebih dari satu (antara dua hingga sembilan orang). Setelah hamil, istri akan menentukan siapa suami dan bapak anak itu.

Keempat, pernikahan poliandri jenis kedua, yaitu semua lelaki boleh menggauli seorang wanita berapa pun jumlah lelaki itu. Setelah hamil, lelaki yang pernah menggaulinya berkumpul dan si anak ditaruh di sebuah tempat lalu akan berjalan mengarah ke salah seorang di antara mereka, dan itulah bapaknya.

Kelima pernikahan-warisan, artinya anak lelaki mendapat warisan dari bapaknya yaitu menikahi ibu kandungnya sendiri setelah bapaknya meninggal.

Keenam, pernikahan-paceklik , suami menyuruh istrinya untuk menikah lagi dengan orang kaya agar mendapat uang dan makanan. Pernikahan ini dilakukan karena kemiskinan yang membelenggu, setelah kaya perempuan itu pulang ke suaminya. Ketujuh, pernikahan-tukar guling, yaitu suami-istri mengadakan saling tukar pasangan.

Praktik pernikahan Arab pra-Islam ini ada yang berlangsung hingga masa Nabi, bahkan hingga masa Khulafâ al-Rashidîn. Poligami yang termaktub dalam QS.4:3 adalah sisa praktik pernikahan jahiliah sebagaimana disebutkan di atas.

Berikut AN NISSA 4:
Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya) , maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil [265], maka (kawinilah) seorang saja [266], atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.

Penjelasan ayat diatas :
Pertama, anggaplah semacam memberi kesempatan untuk poligami. Kedua, peringatan atau warning agar belaku adil: fain khiftum allâ ta‘dilû fawâhidah (kalau engkau sangsi tidak dapat berlaku adil, satu sajalah!.
Ketiga, ada ayat yang mengatakan, walan tashtatî’û ‘an ta’dilî bainan nisâ’ wain harashtum. Artinya, kamu sekalian (wahai kaum laki-laki!) tidak akan bisa berbuat adil antara isteri-isterimu, sekalipun engkau berusaha keras. Ini artinya, kalau kita melakukan komparasi atas berbagai ayat, kesimpulannya adalah satu ayat membolehkan poligami, sementara dua ayat justru (seakan-akan) menafikan terwujudnya syarat pokok berpoligami: masalah keadilan. Intinya, dua ayat justru mengekang poligami. Kalau kita menggunakan proporsi seperti tadi, akan dihasilkan perbandingan dua ayat banding satu. Dan ingat, satu-satunya ayat yang seakan membolehkan poligami.

ALASAN DIBOLEHKANNYA POLIGAMI PADA ZAMAN HAJI MUHAMMAD SAW :
(1)Saat itu jumlah laki-laki lebih sedikit dibandingkan perempuan akibat perang [artinya, poligami DIHARAPKAN bisa menambah jumlah LELAKI]
(2)Untuk mempercepat penyebaran Islam karena diharapkan dengan menikahi seorang perempuan maka seluruh keluarganya pun memeluk Islam [artinya, poligami DIHARAPKAN mampu menjadi ALAT penyebaran Islam]
(3)) Mencegah munculnya konflik antar suku [artinya POLIGAMI diharapkan mampu mendamaikan peperangan]

SEKARANG MASUK KE TAHAP : POLIGAMINYA HAJI MUHAMMAD SAW :
Bahwa yang tertulis dalam surat ANNISA : 3 TIDAK BERLAKU bagi haji muhammad saw. Karena sebagai nabi dan atau rasul nya Islam, si haji muhammad saw diyakini memiliki khushusiyyat, atau spesifikasi yang dimiliki Nabi yang tidak dimiliki dan tidak boleh dituruti orang lain, termasuk masalah POLIGAMI juga!

Ingat yah !!! si nabi ini istimewa!! Jadi dia bisa poligami karena dia dianggap bisa adil!!!

SEKARANG : LIHAT SIKAP SI HAJI MUHAMMAD SAW KETIKA ANAK NYA AKAN DIPOLIGAMI !!

Muhammad marah besar ketika mendengar Fatimah, akan dipoligami Ali bin Abi Thalib. Perhatikan kalimat si muhammad :

“inni la adzan, (saya tidak akan izinkan), tsumma la adzan (sama sekali, saya tidak akan izinkan), tsumma la adzan illa an ahabba ‘ibn Abi Thalib an yuthalliq ‘ibnati, (sama sekali, saya tidak akan izinkan, kecuali bila anak Abi Thalib (Ali) menceraikan anakku dahulu)“

“Fathimah bidh‘atun minni, yuribunima ‘arabaha wa yu’dzini ma ‘adzaha, Fatimah adalah bagian dari diriku; apa yang meresahkan dia, akan meresahkan diriku, dan apa yang menyakiti hatinya, akan menyakiti hatiku juga. (Jami’ al-Ushul, juz XII, 162, nomor hadis: 9026)

Jadi…kalau si muhammad saw itu bisa mengatakan SAKIT anaknya dipoligami. Mengapa dia melakukan poligami ????

apa itu adil? Apa itu bukan egois ?

POLIGAMI DI NEGARA “ISLAM” INDONESIA
Mengenai poligami diatur dalam UU RI Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan yang menerangkan kebolehan poligami selama mengantongi ijin dari istri sebelumnya serta UU RI No. 7/1989 pasal 49 yang menugasi pengadilan Agama untuk menangani poligami!!!

Pertanyaannya adalah :
Berapa kasus poligami yang istri pertama tahu dibandingkan dengan istri pertama tidak tahu?
Sementara kyai besar si A’A GYM saja masih sempat dimedia menyatakan “TIDAK” ketika dikonfirmasi mengenai poligami.

Salah TOKOH ISLAM yang menentang masalah poligami adalah THAHA HUSAYN menyatakan dalam bukunya FI SYI’R AL-JAHILI pada tahun 1920-an. Dia menyatakan AL-QUR’AN CERMIN BUDAYA MASYARAKAT ARAB JAHILLIYAH, dan akhibatnya dia dipecat sebagai DOSEN UNIVERSTITAS KAIRO.
[garis besar tentang buku judul diatas adalah : Betapa si tuhan islam tidak pernah memikirkan DAMPAK PSIKOLOGIS bagi ANAK yang bapak nya poligami, dan dampak psikologis seorang istri yang dipoligami. tetapi karena menentang apa yang ada di AL QURAN dan HADIST tetap saja dipecat!!!]

Demikianlah tentang poligami.
Bagi saudara muslim…
katakan kepada saya, jika saya dianggap salah karena menyatakan POLIGAMI CERMIN EGOISME SEORANG MUHAMMAD SAW!!!

si haji muhammad saw diyakini memiliki khushusiyyat, atau spesifikasi yang dimiliki Nabi yang tidak dimiliki dan tidak boleh dituruti orang lain, <<<< dan dia gunakan spesifikasinya untuk menikahi anak dibawah umur !!!

DIA MEMANG SPESIAL PEDHOPIL !!!

Ada yang protes ?

GOD is its target,the YESUS CHRIST is its model,the BIBLE its constitution: Martyrs & Sahid its path and death for the sake of GOD is the loftiest of its wishes
AMEN

Baik buruk tindakan manusia diukur dari patokan2 abadi, yaitu prinsip2 masuk akal yang disetujui secara universal. Inti Prinsip Abadi ini adalah “Perlakukan orang sebagaimana kau ingin diperlakukan.” Melalui prinsip ini kita tahu bahwa mencuri tidak baik, membunuh tidak baik, memperkosa tidak baik, kemurahan hati baik, pengampunan baik dsb dsb …
Setiap agama/ajaran memiliki cara tersendiri dalam menerapkan konsep simpel ini. Seperti contoh2 dibawah ini:

Kepercayaan Bahá’í : “Pilihlah bagi tetanggamu hal yang kau pilih untuk dirimu.” Dari Epistle to the Son of the Wolf

Brahmanism: “Ini tugasmu: Jangan perlakukan orang sebagaimana menyakitkan jika diterapkan padamu”. Mahabharata, 5:1517

Buddhism: “…suatu keadaan yang tidak menyenangkan, bagaimana saya dapat melakukan yang sama terhadap orang lain ?” Samyutta NIkaya v. 353

Jangan sakiti orang sebagaimana itu akan menyakitimu. ” Udana-Varga 5:18

Kristen: “Perlakukan orang sebagaiamana kau ingin diperlakukan: inilah hukum bagimu.” Mateus 7:12.

“Dan sebagaimana kau ingin orang memperlakukanmu, dengan demikian pula kau harus memperlakukan mereka.” Lukas 6:31.

“…jangan melaksanakan hal yang kamu benci…”, Injil Thomas 6.

Confucianism: “Jangan melakukan terhdp orang apa yg kau tidak ingin mereka lakukan padamu. Dialects 15:23

“Ze-Gong bertanya, ‘Apakah ada satu kata yg bisa merangkum prinsip kelakuan manusia ?’ Confucius menjawab, ‘Kata ‘xu’ — resiprositas. Jangan berlakukan terhdp orang lain apa yg kau sendiri tidak suka.’” Doctrine of the Mean 13.3

“Upayakan sebisa mungkin utk memperlakukan orang spt kau ingin diperlakukan, dan kau akan menemukan jalan terpendek menuju kebajikan.” Mencius VII.A.4

Mesir Kuno: “Lakukan bagi orang lain apa yg kau inginkan terjadi padamu.” The Tale of the Eloquent Peasant, 109 – 110 Translated by R.B. Parkinson. The original dates to 1970 to 1640 BCE and may be the earliest version ever written.

Hindu: “Kau tidak boleh berlaku pada orang lain yg tidak kau sukai sendiri.” Mencius Vii.A.4

“Inilah kesimpulan Dharma [tugas]: Jangan perlakukan orang lain shg menyakitkanmu jika itu dilakukan padamu.” Mahabharata 5:1517

Humanisme: “(5) Humanis mengakui interdependensi sesama manusia, kebutuhan bagi kehormatan sesama dan persaudaraan seluruh umat manusia.”

Jainisme: “Dlm kebahagiaan dan penderitaan, dlm kesenangan dan kesedihan, kami harus menganggap semua mahluk hidup spt kami menganggap diri sendiri.” Lord Mahavira, 24th Tirthankara

“Seseorang harus memperlakukan semua mahluk spt ia sendiripun ingin diperlakukan. “Sutrakritanga 1.11.33

Judaisme: “…cintailah tetanggamu spt kau mencintai diri sendiri”, Leviticus 19:18

“Apa yg kau benci, jangan perlakukan terhdp orang lain. Ini hukum (paling penting).” Talmud, Shabbat 31a.

“And what you hate, do not do to any one.” Tobit 4:15

dsb dsb …

(sumber: http://www.religiou stolerance. org/reciproc. htm)

PENGECUALIAN:
Namun ada pula pengecualian terhadap prinsip universal diatas tersebut. Ini dianut oleh:

SATANISME :
Anton Szandor LaVey, pendiri Church of Satan, menulis 2 daftar pola kelakuan yang dituntutnya dari pengikutnya. Nomor 4 dan 5 dari ke Sembilan Pernyataan Satanisme adalah:

4. Setan mewakili kemurahan hati kepada mereka yang patut menerimanya daripada menghabiskan waktu mencintai mereka yang tidak patut.

5. Satan mewakili dendam dan bukan memaafkan.

Ke Sembilan Dosa Satanisme:

3. Solipsisme – bisa sangat bahaya bagi para Satanis.
Para pengikut Satanisme harus memberlakukan diktum “Perlakukan orang sebagaimana mereka memperlakukanmu.” Ini menuntut kerja keras dan sikap waswas dari kita semua agar kita tidak lengah melorot ke ilusi bahwa semua orang seperti kamu …”

Nah, saudara pembaca, Islam mirip dengan Satanisme. Islam tidak tunduk kepada Prinsip Abadi/Prinsip Emas. Hanya satu prinsip dalam hadis yang mengatakan:

“Tidak ada dari kalian yang benar2 percaya (pada Allah) kecuali menginginkan bagi saudara (MUSLIM)nya apa yang ia inginkan bagi dirinya sendiri.” [Nomor 13 dari 40 hadis Imam "Al-Nawawi." ]

Hadis yang sama dilaporkan dalam Bukhari 1.2.12:
“Rasulullah mengatakan, ‘Tidak ada seorangpun dari kalian memiliki iman
sebelum ia menginginkan bagi SAUDARA (MUSLIM)NYA apa yang diinginkan bagi dirinya.

Saudara pembaca, persaudaraan ala Islam ini tidak dimaksudkan bagi siapa saja. Quran (9:23) mengatakan bahwa mereka yang percaya (muslimin) selayaknya tidak mengambil kafir sebagai teman dan pelindung (wali) ataupun bapak dan kakak mereka jika mereka mencintai kekafiran diatas Islam.] Bahkan banyak surah yang mengatakan kepda muslim agar membunuh kafir dan perlakukan mereka dengan keras.

Contoh jelas bahwa Islam tidak didasarkan kepada Prinsip Emas adalah ayat berikut ini (48:29) : “Muhamad adalah rasul Allah dan mereka yang menyertainya memiliki kekuatan melawan kafir, penuh kasih sayang terhadap sesama (MUSLIM).”

Inilah definisi sempurna fasisme. Banyak lagi surah yang menunjukkan bahwa persaudaraan dalam Islam tidak universal. Manusia diluar Islam tidak memiliki hak dan tidak patut diperlakukan sederajat dengan Muslimin. Keseluruhan Quran adalah pelanggaran Prinsip Emas.

Quran mengatakan kepada Muslimin agar membunuhi kafir dimanapun mereka ditemui (2:191), jangan menjalin persahabatan dengan mereka (3:2, perangi mereka dan tunjukkan kekerasan terhadap mereka (9:123), dan penggallah kepala mereka (47:4).

Menurut Muslim, bukannya sang Prinsip Emas yang menentukan beda baik dan buruk, tetapi apa yang dilakukan Muhammad. Mereka percaya bahwa apa yang baik bagi Islam adalah nilai tertinggi dan apa yang tidak baik bagi Islam adalah dosa terbesar.

Ini etos milik “cult/aliran/ kultus”. Dari Asahara-nya Aum Shinrikyo ke People’s Temple-nya Jim Jones; dari Gereja Unifikasi Sun Myung Moon ke Cabang david-nya David Koresh, tujuan utama mereka adalah bahwa kepentingan cult mereka sendiri adalah diatas pengertian umat manusia tentang beda baik-buruk. Dan guna memajukan kepentingan cult mereka, yang dianggap kebenaran yang paling tinggi, termasuk membohong, membunuh dan pembunuhan bayaran, diijinkan.

Tujuan akhir dianggap begitu suci sampai menghalalkan segala cara. Ini sama dengan filsafah fasisme Nazi yang memaksakan glorifikasi negara dan subordinasi total. Dalam fasisme, “negara dianggap suatu organ dimana individu ditempatkan bagi kepentingan diri dan negara.
Negara macam ini bersifat absolut dalam metoda, penerapan hukum dan kontrol terhadap warganya.” [The Columbia Encyclopedia, Sixth Edition. 2001]

Muslimin menganggap diri “penerima wahyu” dan orang2 lain adalah kafir dan bahan bakar neraka. Harta, nyawa dan bahkan isteri2 mereka adalah halal bagi muslim. Non-muslim bisa membeli perlindungan dengan memberi uang kepada muslim yang dinamakan dengan JIZYAH, namun begitu menghentikan pembayaran, merekapun akan dilawan dan dibinasakan.

Seperti para Satanis atau para neo-Nazi, Muhammad tidak percaya kepada Prinsip2 Emas. Ia memerintahkan pengikutnya untuk memenangkan kepercayaan korban dengan cara membohong. Dan jika korban/lawan lengah, bunuhlah mereka. Ia mengirimkan pengikutnya ke Mekah, ke Bani Quraiza dan menyuruh mereka agar berbohong dan menipu. Dan ia tambahkan : “perang adalah permainan tipu muslihat”.

Apakah seseorang yang sanggup berbohong, membunuh lawannya, membantai tawanan perang dan menghalalkan segala cara agar mencapai tujuannya, tidak juga sanggup berbohong bahwa ia rasul Allah ?
Sekali bisa dibuktikan bahwa ia melanggar Prinsip Emas dan berbohong ataupun mendorong pengikutnya untuk berbohong, mengapa kita diharapkan untuk percaya bahwa ia rasul Allah ?

Dalam salah satu debat dengan seorang pemimpin Islam, saya mengutip beberapa surah dari Quran dan mengganti kata “Non-Muslim” dengan “Muslim”. Inilah hasilnya:

… akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka. 8:12
Janganlah para non-Muslim mengambil Muslimin sebagai teman dan pembantu. 3:28
Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin itu untuk berperang. 8:65
Perangi dan bunuhlah Muslim dimanapun mereka ditemui. 9:5
Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka… 9:14
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu pemimpin-pemimpinmu , jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan …9:23
Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis… 9:28
Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu.. . 9:123,
Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang leher mereka… 47:4

Sang ahli agama Islam itu menjadi sangat marah dengan ayatl2 yang saya usulkan di atas itu dan malah mencap saya picik… Ia jelas tidak menyukai Prinsip Abadi.

Pada bulan Februari 2005, otoritas tertinggi Sunni, Sheik Fauzi Zafzaf, presiden Komite Dialog Antar Agama (Interfaith Dialogue Committee) dari Universitas Al-Azhar di Kairo, mengatakan komitenya mengirim surat kepada Paus, menuntut “permintaan maaf resmi akibat Perang Salib Kristiani melawan dunia”, begitu laporan the Morocco Times.

Tuntutan itu sehubungan dgn permintaan maaf Paus Johanes Paulus II kepada orang Yahudi di Israel. Dan dalam kunjungan berikutnya ke Suriah dan Mesir, Zafzaf mengatakan, “Al-Azhar hanya meminta perlakuan yang sama”.

Muslimin ternyata tidak dapat melihat gajah didepan mata, namun titik noda diseberang lautan mereka sangat suka membesar2kan. Perang Salib terjadi 900 tahun yang lalu (1095 A.D). Bagaimana dengan kejahatan Muslimin yang terjadi dulu dan sekarang ? Apakah petinggi Sunni ini juga meminta maaf bagi pembunuhan masal 9/11, atau pembantaian di Madrid, Beslan dsb dsb ? Bagaimana dengan invasi Eropa dan penjajahan Spanyol ? DImana permintaan maaf Muslim ?

Dunia barat tidak memiliki satu alasanpun untuk meminta maaf kepada dunia Muslim. Thomas F. Madden, associate professor dan ketua Department of History di Universitas Saint Louis dan penulis “A Concise History of the Crusades” mengatakan, “PERANG SALIB ADALAH PERANG DEFENSIF.”

“Perang ini adalah tanggapan Barat yang terlambat atas invasi Muslim terhadap dua-pertiga dunia Kristen,” ia tulis dalam kolum National Review.”Pada permulaan abad 7-10, saat kaum Arab sibuk memperluas kekuasaan dan mencaplok negara2 sekelilingnya, Eropa sibuk membela diri melawan invasi bangsa2 lain. Hanya dalam abad ke 11 Eropa sanggup mencurahkan perhatian kepada orang2 Arab.”

Menurut Madden, peristiwa yang memulai Perang Salib adalah penjajahan Turki atas sebagian besar Asia Minor milik Kristen.
“Kaisar Kristen di Konstantinopel, menghadapi lenyapnya setengah jumlah kekuasannya, kemudian meminta bantuan kepada Eropa. Ia mendapatkannya, malah lebih dari yang ia inginkan,” tulis Madden.

WorldNetDaily. com melaporkan:
“Dalam beberapa tahun akhir2 ini, pengumuman dari Al-Azhar menimbulkan kontroversi. Pada tahun 2003, Sheik Agung Al-Azhar, Muhamad Sayyid Tantawi, mengatakan bahwa berdasarkan hukum Islam, suicide bombers dianggap “martyrs”. “

Desember 2002, the Islamic Ruling Committee di Al-Azhar memutuskan bahwa kepemilikan senjata nuklir adalah kewajiban agama bagi negara2 Islam. Anggota panel tsb, Sheikh Ala A-Shanawi mengatakan, “Bangsa Islam harus mengenal musuh dan mempersiapkan diri.”
A-Shanawi menulis, “Rasulullah sendiri akan mempersiapkan diri dengan segala sumber yang dimungkinkan guna menghadapi musuh. Oleh karena itu, jika bangsa Islam tidak dilengkapi dengan persenjataan yang diinginkan, mereka terpaksa menderita konsekwensi. “

Dilanjutkannya, “Semua bangsa Islam diwajibkan untuk merebut persenjataan nuklir. Kami melihat bagaimana bangsa kita terbelakang akibat kurang persiapan, sementara musuh melengkapi diri dengan persenjataan yang paling maju, yang akan digunakannya untuk melukai dan menghancurkan Muslimin.”

Mengingat sejarah dan sikap Muslimin, menuntut Paus agar meminta maaf adalah sungguh keterlaluan. Pelaku perang Salib memang melebihi mandat dan terlibat tindakan brutal. Namun ini adalah balasan terhadap kebiadaban Muslimin. Mengapa para petinggti Muslim tidak menyebut barbaritas Muslim di Iran, Byzantium, Mesir atau India? Di India sendiri lebih dari 80 juta orang dibantai oleh pasukan Muslim. Ini lebih banyak dari korban total Perang Dunia I dan II.

Dimanapun Muslim datang, disitulah mereka melakukan tindakan barbar mengerikan. Mereka merajah, memerkosa dan membantai rakyat tidak bersalah. Kaum Arab adalah korban pertama Islam. Semua korban Islam, begitu masuk Islam, menjadi pelaku kejahatan, kehilangan rasa kemanusiaan mereka dan melakukan tindakan yang paling mengerikan terhadap orang lain.

Ketimbang meminta maaf atas Perang Salib, kami harus berterima kasih pada mereka karena berhasil mengalahkan Islam dan menyelamatkan Eropa dan dunia. Kalau Islam sukses menjajah Eropa, peradaban dunia tidak pernah akan mencapai tahap seperti sekarang ini.

Bahkan seribu tahun lalu, kemajuan peradaban hampir tercapai dengan adanya pemikir2 seperti Avicenna, Zakaria Razi, Khyyam dan pemikir2 Persia lainnya seribu tahun lalu. Namun mereka dihentikan oleh pakar2 Islam seperti Al Ghazali dan Rumi yang mengatakan bahwa jalur pikir (nalar/logika) harus tunduk kepada wahyu. 500 tahun kemudian, karya Avicenna menjadi pemicu Renaissance di Eropa. Perkembangan ilmu pengetahuan jadi tersendat 500 tahun, gara2 Islam. Jika Islam berhasil menjajah Eropa, kami sekarang masih tetap tinggal dalam Jaman Kegelapan (the Dark Ages).

Semua agama menerapkan Prinsip2 Emas. Ini tidak berarti bahwa saya setuju dengan semua agama. Agama merupakan gabungan antara baik dan buruk. Namun Islam adalah satu2nya “agama” yang kehilangan kebaikan (“bereft of any good”). Prinsip2 Emas adalah kompas nurani yang digunakan orang waras untuk mengukur baik dan buruknya kelakuan. Penerapannya sangat sederhana. Saya tidak ingiin dibunuh, oleh karena itu saya tidak mau membunuh. Saya tidak suka dirampok, oleh karena itu saya tidak merampok. Saya tidak suka dibohongi oleh karena itu saya tidak boleh membohongi orang lain. Saya tidak sudi isteri atau puteri saya diperkosa, oleh karena itu saya tidak memperkosa isteri atau puteri orang lain. Bahkan orang atheispun dapat mengikuti Prinisp Emas ini.

Karena Islam tidak mengikuti Prinsip Emas, Islam menarik orang2 yang senang dengan kekerasan. Satu contoh adalah Amir Tîmûr-i-lang, atau lebih dikenal sebagai Tamerlane, (1336-1405). Ia orang kejam dan menjadi kaisar lewat perampokannya. Dalam otobiografinya, “The History of My Expedition against Hindustan/Sejarah Expedisi saya melawan Hindustan ”, ia menulis:

“Tujuan utama saya datang ke Hindustan ( India ) ini adalah dua hal. Pertama, perang melawan kafir, musuh Islam; dengan melakukan perang agama ini saya bisa mendapatkan penghargaan dalam akhirat. Tujuan lainnya adalah bawha pasukan Islam bisa mencaplok kekayaan kafir: perampokan dalam perang sah sebgm susu ibu dan penikmatan susu ibu sah bagi muslim yang berperang demi agama mereka. ”

Seluruh sejarah Islam didasarkan kepada kekerasan dan teror. Muslimin yang mengikuti Quran percaya bahwa mereka berhak atas kekayaan dan bahkan para wanita non-muslim. Mereka tidak sedikitpun memiliki kesadaran karena Islam terpisah dari Prinsip Abadi tsb diatas.

Mengikutsertakan Islam diantara agama2 lain adalah kesalahan fatal. Islam mirip dengan Satanism dan fasisme dan bukan kepada agama. Menderajatkan Islam pada agama lain adalah tindak ketidakjujuran intelektualitas. Semua agama didasarkan pada Prinsip Abadi. Islam tidak. Dan banyak Muslim yang akan mengatakannya kepadamu. END

By Ali Sina – 2005/10/08 http://www.faithfreedom.org/oped/sina51007p1.htm

Saya orang nigeria. Saya menemukan situs anda ketika melakukan pencarian dengan google mengenai nabi mohamad dua bulan lalu, sejak saat itu saya sering mengunjungi situs ini.

Saya setuju dengan sebagian besar apa yang anda katakan mengenai nabi mohamad dan sangat menikmati debat-debat anda. Namun saya ingin mengetahui akhir dari debat anda dengan Yamin Zakaria. Saya tanyakan karena jika anda mencari nama yamin melalui google, anda akan menemukan pernyataannya bahwa ia memenangkan debat melawan anda, dan anda gagal merespon argumentasinya.

Akpan

***

Akpan yang terhormat,

Kenyataan bahwa muslim menyatakan kemenangan dalam kekalahan mereka adalah biasa. Untuk melihat siapa pemenang debat sebenarnya adalah dengan membacanya. Sesungguhnya saya menyarankan untuk membaca debat tersebut bagi siapapun yang ingin berdebat dengan saya. Tn. Zakaria, dalam debat tersebut terjebak dalam kesalahan-kesalahan yang sama dengan muslim lain, dan dia telah mendapat semua jawaban. Untuk menghindari pengulangan, saya meminta kepada semua orang yang ingin berdebat dengan saya untuk membaca debat tersebut lebih dahulu. Baca juga tantangan saya.

Tn. Zakaria tidak membantah tuduhan saya terhadap muhamad. Saya menuduh muhamad sebagai seorang pedophile, pembunuh, pemerkosa, pemusnah masal, perampok jalanan, perompak, penipu, di samping berbagai tuduhan lainnya. Bukannya menjawab tuduhan ini, Tn Zakaria malah mempertanyakan validitas Aturan Emas “Tn Sina harus membuktikan legitimasi Aturan Emas atau aturan tersebut hanyalah merupakan asumsi”, tulisnya. Ia bahkan menyebut aturan tersebut sebagai suatu konspirasi dan menyimpulkan bahwa muhamad tidak pantas diadili berdasarkan Aturan Emas. Kutipan langsung, “Aturan Emas tidak bersifat universal, tidak dapat dibuktikan, subjektif, tidak cukup layak, dan tidak bersifat absolut.. penuh kesalahan sebagai prinsip dasar. Secara maksimal, aturan tersebut hanyalan anjuran moral bagi orang-orang yang ingin mempraktekkan pengendalian diri. Karena itu, tuduhan atas nabi terakhir tidak dapat dikabulkan.”

Aturan Emas menyatakan: “Perlakukanlah orang lain sama seperti anda ingin diperlakukan.” Dengan kata lain, “Berikanlah penghargaan dan penghormatan yang sama kepada orang lain, sama seperti anda ingin dihargai dan dihormati oleh orang lain.” Debat ini cukup panjang dan apa yang dilakukan Tn. Zakaria hanyalah mengatakan bahwa muhamad tidak patut dihakimi dengan aturan ini dan ia tidak perlu tunduk kepada aturan yang dibuat oleh manusia. Ia kemudian menyatakan bahwa apapun yang muhamad lakukan, sekalipun tampak salah di mata kita, muhamad tetap benar karena kita tidak memiliki hak untuk menghakimi seorang utusan tuhan. Menurut Tn. Zakaria, sah-sah saja bagi muhamad untuk memperlakukan orang lain sesuai dengan apa yang dia perbuat semasa hidupnya dimana ia sendiri tidak ingin diperlakukan demikian. Bukannya berusaha membantah tuduhan terhadap muhamad, Tn. Zakaria malah mempertanyakan masalah benar/salah. Ia menyatakan bahwa kita tidak dapat mengatakan muhamad sebagai orang jahat hanya karena ia seorang pedophile, pembunuh atau pemerkosa karena kita tidak dapat benar-benar yakin bahwa kejahatan muhamad itu benar-benar suatu kejahatan. Tn. Zakaria tidak berusaha membela muhamad, tetapi malah mengadili hukum.

Saya telah selesai dengan Tn. Zakaria. Debat saya dengannya merupakan debat yang penting karena sekalipun Tn. Zakaria tidak menyentuh esensi debatnya yaitu kejahatan muhamad, ia malah mengekspose sisi narsistik dari islam. Para penganut narsisme tidak terikat dengan Aturan Emas. Mereka percaya bahwa mereka dapat memperlakukan orang lain semau mereka sementara orang lain tidak boleh berbuat semaunya terhadap mereka. Mereka pikir orang lain harus mematuhi Aturan Emas karena mereka mempercayai hal tersebut, tetapi para narcistik dikecualikan karena tidak memegang aturan tersebut.

Muslim tidak memandang benar dan salah seperti yang lain. Sementara seluruh umat manusia membedakan benar dan salah melalui sudut pandang Aturan Emas, muslim membedakan benar dan salah berdasarkan haram dan halal. Contohnya, anda dan saya percaya bahwa berbohong adalah salah, dan memperkosa itu salah karena kita tidak mau dibohongi, dirampok, dan diperkosa. Tetapi muslim dengan pakaian islam tidak berpikiran demikian. Mereka sama seperti kita tidak mau diperlakukan sembarangan. Mereka tidak mau ditipu, kecurian, atau istri mereka diperkosa. Tetapi mereka tidak memandang salah untuk berbohong kepada non-muslim, merampas harta mereka, memperkosa kaum wanitanya, bahkan membunuhi mereka. Hal ini konsisten dengan ajaran dan perilaku muhamad. Ia sangat melarang muslim saling mencuri dan memperingatkan mereka yang mencuri dari hasil jarahan atas kaum kafir, atau bahkan mengutuki mereka. Tetapi harta jarahan itu halal bagi muslim. Amir Tîmûr-i-lang, (1336-1405) seorang muslim penakluk india mengatakan, “jarahan perang sama sahnya dengan air susu ibu mereka bagi muslim yang memerangi mereka demi iman, dan menikmati hal yang sah itu artinya menikmati karunia. “[Amir Tîmûr-i-lang: The History of My Expedition against Hindustan]

Non-muslim di negara islami tidak memiliki hak yang sama dengan muslim karena agama mereka tidak diperkenan allah. Jika mereka ditolak allah, mengapa harus diperlakukan dengan adil oleh muslim? Muhamad bukan hanya memperbolehkan penganiayaan, dia malah menyatakan perang atas non-muslim, membohongi, merampoki, memperkosa, dan memaksa mereka untuk beralih jadi muslim. Ia sendiri memberikan teladan tersebut. Jadi, sementara kaum narcis menuntut untuk diperlakukan adil dan bahkan diistimewakan, mereka tidak mau melakukan hal yang sama. Mereka ingin orang lain melaksanakan Aturan Emas dan memperlakukan MEREKA dengan wajar karena orang lain menganut Aturan Emas, tetapi mereka sendiri tidak menganut Aturan Emas ini dan tidak mau terikat olehnya.

Muslim memiliki kode etik sendiri yang tidak berdasarkan kepada Aturan Emas tetapi berdasarkan islam. Contohnya Pernyataan Universal Hak Asasi Manusia (PUHAM). PUHAM ini didasarkan kepada Aturan Emas. Muslim tidak mengakui ini, mereka menciptakan PUHAM sendiri yang islami.

Dalam artikel “Islam dan Hak Asasi Manusia” situs internet ntpi.org menyatakan:

“Banyak negara islam kecuali arab saudi yang mengadopsi Pernyataan Universal Hak Asasi Manusia pada tahun 1948, tetapi sebagian besar negara tersebut mengubah isinya. Bagi seorang Abu’l A’la Mawdudi terdapat konflik kepentingan antara hak-hak wanita dalam PUHAM dengan kebutuhan untuk melindungi dan melestarikan tekanan terhadap wanita. Muhammed Naceri, anggota Dewan Cendekiawan Religius Moroko menyatakan:

“PUHAM mengakomodasi persamaan hak antara pria dan wanita. Bagi kami, wanita setara dengan pria dalam hukum, tetapi mereka tidak sama dengan pria, dan mereka tidak boleh berkeliaran dengan bebas di jalan-jalan seperti layaknya binatang.”

Tetapi pria boleh, tentu saja. Kesetaraan hak??

Situs ini juga menjelaskan ada dua versi PUHAM islami pada tahun 1981; satu dalam bahasa arab, dan satu lagi dalam bahasa inggris. Dalam bahasa inggris ada pasal yang menyatakan bahwa versi bahasa arab itu definitif. Namun ada perbedaan substansial antara versi arab dan versi inggris. Versi bahasa inggris ditujukan bagi konsumsi masyarakat barat, sementara versi bahasa arab yang definitif memiliki warna yang lebih konservatif.

PUHAM islami ini tidak hanya membatasi hak-hak wanita, tetapi juga menolak hak-hak non-muslim dan tidak menghargai kebebasan berekspresi dan kebebasan untuk memeluk agama dan kepercayaan.

Muslim percaya bahwa karena muhamad adalah utusan tuhan, ia berada di atas Aturan Emas. Tindakan dan ajarannya diilhami oleh tuhan, menurut mereka, sementara Aturan Emas berasal dari akal sadar manusia. Mentalitas narsistik ini, yang menjadi inti dari pemikiran islami, memberi hak bagi muslim untuk melanggar Aturan Emas, menganiaya non-muslim, atau yang dipandang sesat, dan tidak menghiraukan hak asasi mereka dan bahkan membunuh mereka dengan tenang dan sadar. Sementara mereka tetap meminta diistimewakan di dalam negara non-islami.

Contohnya, pada 23 September 2005, Coning Americans With Islamic Ruse (CAIR), menerbitkan edaran yang memohon muslim dan “orang-orang yang peduli” untuk menulis kepada anggota dewan perwakilan untuk memaksa Kongres Amerika Serikat untuk mengakui islam sebagai “Agama besar di dunia dan layak untuk dihargai sebesar-besarnya”

Bayangkan kemungkinan para penganut Yahudi, Hindu, Budha, atau bahkan Kristen untuk mengajukan permintaan yang sama!! Mengapa hanya muslim yang membutuhkan konfirmasi orang lain atas kebesaran agama mereka? Bukankah ini pertanda bahwa mereka yang malang ini tidak percaya diri? Bayangkan para penganut hindu, yahudi, atau budha membujuk para politikus untuk menyatakan bahwa agama mereka itu agung! Sangat menggelikan! Tidak mungkin terjadi. Mereka tidak butuh dukungan orang lain untuk meyakini agama mereka sendiri.

Lebih jauh, bukankah amerika menganut pemisahan agama dengan negara? Apakah para muslim ini belum disumpah berdasarkan undang-undang dasar amerika? Mengapa mereka meminta kongres, pemerintah untuk mensahkan agama mereka? Bukankah ini permintaan yang aneh yang bahkan menunjukkan bahwa mereka tidak menghargai UUD amerika? Apa alasan bagi suatu pemerintahan untuk mensahkan dan memuji suatu agama? Sebaliknya, karena islam memiliki ambisi politik, yaitu berusaha untuk menumbangkan pemerintah amerika dan mendirikan khilafah, pemerintah harus menyatakan islam sebagai subversi dan melarangnya. Karena ideologi terorisme islam adalah islam, sudah menjadi tugas pemerintahlah untuk memerangi dan menghabisi islam. Tugas pertama dari pemerintah adalah untuk melindungi UUD. Islam bertujuan menghancurkan UUD.

Permintaan yang keterlaluan ini makin mengejutkan ketika pada saat yang sama mereka minta dipuji, orang-orang kristen di pakistan diperkosa dan dibunuh secara sistematis oleh muslim dan para pelakunya tidak pernah dihukum. Di banglades orang-orang hindu juga dianiaya dan dibunuh. Orang-orang non-muslim di seluruh negara islam tidak memiliki hak asasi sama sekali.

Muslim telah masuk ke dalam gelembung narsistik muhamad, mereka berpikir seperti dia dan menirunya habis-habisan. Mereka tidak merasa bersalah waktu menganiaya non-muslim dan menginjak-injak hak asasi mereka, sementara mereka meminta dihargai dan diistimewakan. CAIR, yang tidak pernah secara tulus mengutuki aksi terorisme islam internasional dan seringkali bahkan mendukung aksi teror serta menuduh dan mempersalahkan para korban terorisme karena tidak memahami muslim, memiliki keberanian untuk meminta kongres amerika untuk mengumumkan bahwa islam itu adalah ‘agama yang besar sedunia dan untuk itu harus dihargai sedalam-dalamnya’. Sangat menarik untuk dicatat bahwa beberapa direktor CAIR menjadi tertuduh dalam keterlibatan aksi teroris.

Yang harus disesalkan adalah bahwa Presiden Amerika Serikat ingin menyenangkan muslim, muslim yang sama yang menyatakan perang terhadap amerika, terlibat dalam pembunuhan orang-orang amerika, dan berusaha menumbangkan pemerintah, menyatakan suatu pujian kepada muslim atas ‘komitmen mereka terhadap pertumbuhan spiritual dan amal’ serta menyambut baik ‘sumbangan muslim bagi masyarakat amerika’. Tn. Presiden tidak menyebut sumbangan apa. Apakah yang dimaksudkannya adalah 9/11?

Karena ada 2 juta orang muslim yang hidup di amerika dan diantara mereka ada beberapa orang teroris, orang-orang amerika dipaksa untuk mengeluarkan dana ratusan miliar dolar untuk keamanan dalam negeri. Saya tidak tahu pasti berapa biaya yang sebenarnya. Jika anda membayangkan sistem keamanan di seluruh tingkatan pemerintahan dan swasta, angka ini sungguh menakjubkan. Mari kita mencoba konservatif dan mengasumsikan bahwa biayanya hanya $200 miliar per tahun. Saya yakin angka sebenarnya beberapa kali lipat dari itu. (apakah ada yang tahu?) Dengan angka hanya $200 milyar per tahun, muslim beserta seluruh keluarganya membebani para pembayar pajak amerika sebesar $100,000 per tahun. Inilah biaya untuk menerima keberadaan muslim di amerika. Inilah sumbangan nyata dari muslim bagi amerika, Tn. Presiden. Jika semua muslim diusir dari amerika, apakah kita masih perlu mengeluarkan biaya keamanan sebesar ini? Begitu anda menambahkan biaya sebenarnya dari serangan teroris, misalnya bangunan, tanah, dan lainnya, biaya ini membengkak dengan luar biasa. Kita baru berbicara kerugian finansial. Dapatkah kita menghitung kerugian yang harus dibayar oleh keluarga para korban aksi terorisme islam? Hal yang sama bisa diterapkan di seluruh negara yang menerima muslim sebagai pendatang dan sebagai hasilnya menjadi target terorisme islami.

Anggota Dewan Betty McCollum dan Nancy Pelosi juga memberikan pernyataan pujian kepada muslim. Orang-orang amerika yang patriotik seharusnya menulis kepada para wakil rakyat tersebut dan mendidik mereka mengenai tujuan islam di amerika. Mereka harus diingatkan juga bahwa sebagai politikus mereka tidak diperkenankan memberikan pernyataan yang mendukung agama manapun. Jika islam adalah sebuah agama, maka jangan campur adukkan agama dengan pemerintahan. Jika islam adalah politik, perangilah. Apakah para politikus ini akan tetap memberikan pujian dan terima kasih kepada para muslim jika mereka tahu apa yang menjadi rencana muslim bagi amerika dan UUD-nya?

Tn. Zakaria secara fasih menolak Aturan Emas bagi muslim. Kita harus mendengar pernyataannya ketika membantai Aturan Emas. Dia adalah seorang muslim sejati yang memberitakan kebenaran mengenai islam.

By Brian Macker
2005/10/14

Saya membaca Quran utk belajar ttg Islam. Ternyata Quran tidak ditata dgn baik dan oleh karena itu tidak nikmat membacanya. Bahkan membosankan karena berulang2 mengatakan kpd pembaca bahwa ia bukan orang beriman atawa orang baik kalau bukan Muslim. Plus, Quran sering salah kutip cerita2 Injil dan malah membohong ttg agama orang lain dan sejarah (contoh: Iskandar/Alexander the Great dikatakan sbg Muslim. Aneh !).

Akhirnya saya menggunakan situs lain utk memudahkan pengertian saya ttg Quran ini. Ada situs yg membagi topik2 Quran kedalam topik “ketidakadilan” , “tidak ada toleransi”, “absurditas” dsb dan saya mengecek isi surah2 tsb dgn situs2 Islam. Ternyata isinya semua sama.

Kesimpulan saya : Islam tidak memiliki konsep “The Golden Rule”. Ini mengagetkan saya karena ini konsep yg bisa dilacak dari jaman Kong Hu Cu/Confucius (ribuan tahun sebelum Islam).

Setelah saya menemukan situs A SIna, ternyata ada juga orang lain yg sependapat dgn saya. Ali Sina menunjuk pada satu Hadis yg bisa dianggap mengandung The Golden Rule:

“Tidak ada seorangpun yang benar2 beriman (kpd Islam) kecuali ia meninginkan bagi saudaranya apa yang diiginkan bagi dirinya sendiri.”
[Number 13 of Imam "Al-Nawawi's Forty Hadiths."]

Hadis yang sama dilaporkan oleh Bukhari 1.2.12 :
“Nabi (saw) mengatakan, “Tidak ada dari kalian memiliki iman (kpd Islam) sampai ia menginginkan bagi saudara (Muslim)-nya apa yang diinginkannya bagi dirinya sendiri.”

Tetapi dari hadis diatas saja sudah kelihatan bahwa persaudaraan dalam Islam TIDAK BERLAKU BAGI SEMUA ORANG ! Persaudaraan hanya berlaku bagi mereka dalam Islam. Surah 9:23 bahkan mengatakan, seorang Muslim tidak boleh mengambil sebagai teman ataupun pelindung (bitanah/wali) bahkan ayah atau kakak/adik lelakinya sendiri, jika mereka tidak memilih Islam.

Banyak juga surah yg mengatakan bahwa Muslim harus berlaku keras terhdp kafir. Kafir oleh Islam diperlakukan sama dgn “niggers” dan Yahudi oleh kaum kulit putih supremis macam Klu Klux Klan.

Muslim membatasi prinsip the Golden Rule pada sesama Muslim saja dan lalu mengaku bahwa Islam bersifat universal. Kok aneh !!

Ada lagi situs2 Islam yg menegaskan the Golden Rule dalam Islam, dan inilah salah satunya kutipannya:

Perlakukanlah semua orang sebgm kau ingin mereka berlaku terhdpmu; dan tolak bagi orang lain hal2 sebgm kau menolak hal2 bagi dirimu.
(Do to all men as you would wish to have done unto you; and reject for others what you would reject for yourselves.)

Namun, tidak satu situspun dapat menunjukkan dasar surah ataupun dasar Hadis pernyataan diatas. Tapi akhirnya saya temukan juga hadis yg satu ini, setelah lama dan berkali2 mengadakan google search.

Do to all men as you would wish to have done unto you; and reject for others what you would reject for yourselves. (Hadith) (2 p. 75)

Nah, berbekal hadis ini saya mencoba menantang Ali Sina dan mengirimnya email.

Ali Sina,

Anda mengatakan bahwa dalam Islam tidak ada prinsip the golden rule.
Tapi saya menemukan hadis ini :

[b]Do to all men as you would wish to have done unto you; and reject for others what you would reject for yourselves. (Hadith) (2 p. 75)

Jadi tolong revisi situs anda atau tolong tanggapi saya.

Debat anda dgn Yamin Zakaria memang seru tetapi aneh bahwa anda maupun dia tidak menyebut hadis ini.

Regards,

Brian Macker [/b]

Ini Jawaban Ali Sina : Hadis itu bohong. tidak ada hadis macam itu. Apa artinya “hadith 2 page 75″ ? Reverensinya tidak jelas.

Wah ! Oops! Saya tidak tahu menahu cara mencari refernsi dan hanya mengasumsi bahwa ini betul. Saya belum pernah membaca Hadis yang volumenya berjibun. Saya akhirnya mencoba mencari referensi asal muasal hadis tsb dan membaca kembali artikel yg menyebut hadis tsb.
Ternyata “hadis 2 p. 75″ ini merupakan referensi bibliografi sang penulis pada akhir halaman tulisannya. Kutipan itu datang dari hal 75 bukunya berjudul “Everyone Is Right. A New Look at Comparative Religion and its Relation to Science”.

Jadi ternyata itu bukan referensi sebuah hadis ! Mengingat kesalahan ini saya juga jadi malas membeli buku macam itu ! Referensinya saja tidak beres !

Ternyata sering juga orang menggunakan taktik macam ini.
Contoh : dlm link dibawah ini seorang Muslim mengutip pernyataan2 bagus yg katanya datang dari Muhamad tanpa sedikitpun memberi dasar referensi/rujukan.

http://www.ummah. com/forum/ archive/index. php/t-32236. html

Ia hanya membohong. Tidak ada hadis macam itu. Sahih Muslim 138 ? Dari mana asalnya ? Mana ada Sahih Muslim 138 ? Silahkan anda
cari sendiri. Muslim menganggap membohong memang perlu. Mereka tidak hanya TIDAK malu berbohong agar membuat agama mereka nampak indah, tetapi mereka benar2 percaya bahwa mereka akan diberi rahmat karena usaha mereka itu.

Nah, katakanlah hadis2 macam itu memang eksis. Problem berikutnya adalah : hadis itu mengkontradiksi Quran. Setiap Muslim akan mengatakan kepadamu bahwa jika sebuah hadis mengkontradiksi Quran maka pasti hadis itu palsu. Saya men-cek pernyataan Sina ttg Sahih Muslim 138.

Ternyata Sina betul. Menurut pendahuluan dlm referensi yg diberikan Sina :

Sahih Muslim terbagi dalam 42 buku ttg berbagai subyek, setiap buku mengandung hadis. Sistim pe-nomor-an yg digunakan Muslim adalah secara konsekutif dan tidak terputus bagi seluruh koleksi.
Muslim 138, mungkin sebuah nomor buku. Tetapi karena hanya ada 42 buku, ini tidak mungkin nomor buku. Jadi mungkin nomor ini adalah pasti
nomor hadis. Tetapi Hadis nomor 138 isinya adalah:

Book 001, Number 0138:
Al-Bara melaporkan kpd Nabi (saw) bahwa ia mengamati hal sehubungan dgn Ansar, tidak ada siapapun kecuali Muslim mencintai mereka, hanya orang munafik membenci mereka. Ia yang mencintai mereka mencintai Allah dan ia yang membenci mereka membenci Allah.

Nah, hadis diatas jelas bukanlah mengandung the Golden Rule. Sina ternyata betul

Author: Amil Imani on Friday, August 25, 2006

Islam dgn mudah dapat dicap sbg ideologi barbaris yg sejajar dgn Nazisme, Fascisme dan bermacam2 faham Totaliter yg mempromosikan kebencian dan kekerasan terhdp mereka yg tidak sepaham.

Banyak Muslim tidak mengenal Islam. Ini sama saja dgn penduduk yg tidak tahu atau tidak mau tahu UU negaranya sendiri. Ini bukan alasan utk membebaskan orang dari kesalahan. Sama juga dgn Muslim. Hanya
karena mereka tidak tahu ajarannya, bukan berarti bahwa mereka harus dibebaskan dari kesalahan mereka. Mengikuti Islam secara buta adalah salah besar. Ini sama saja dgn mendukung Muslim2 tulen spt Bin Laden.

Pendukung Bin Laden bisa diklasifikasikan kedalam 4 golongan kader
apologis Islam (mereka yg mencari2 alasan utk membenarkan Islam).

Pertama, apologis Islam terdiri dari para pakar agama berjenggot, parasit tidak tahu malu, yg bangga sbg pengikut ‘diehard’ Allah, disokong petrodollar dan manipulasi kemurahan hati kafir.

Lalu, ada juga apologis atau para ilusionis licin yg pandai membolak balikkan lidah. Mereka ini sangat sulit dilacak tapi mereka sangat efektif dlm pekerjaan mereka. Dgn taktik licik mencampurkan kebenaran dgn kebohongan, mereka mencengkram dan menipu Muslim2 yg memang mudah ditipu.

Dan yg berikutnya adalah barisan DOMBA — Muslim2 pada umumnya.
Merekalah yg menjadi tulang punggung Islam, mendukung kelangsungan hidup Islam. Barisan ROBOT ini berada digaris depan pasukan Allah yg menunjukkan cinta kasih dan pengampunanNya itu lewat pembunuhan non-Muslim dan bahkan sesama Muslim.

Masa semua Muslim dianggap teroris ? Ini khan yang kau tanyakan ?

YA ! Fakta bahwa kau mempertahankan diri sbg Muslim sama saja dgn pengakuan kesalahan karena tidak peduli dan oleh karena itu secara langsung maupun tidak langsung turut mendukung ajaran tiranis.

Golongan terakhir adalah barisan Muslim yg tidak memiliki keberanian utk meninggalkan Islam. Sudah tahu Islam bengis, tapi TAKUT murtad. Mungkin karena otak mereka sudah terprogram oleh Islam atau takut dimusuhi. Mereka ini juga tidak tahu malu dan merupakan pendukung tirani.

Ingat pribahasa, if a person is not part of the solution, he is part of the problem. Islam is indeed a huge problem. (Kalau seseorang bukan bagian dari solusi, maka ia bagian dari problema. Islam memang problema besar.)

Muslim pandai memindahkan fokus ke kejahatan orang/agama lain dan lupa mengaca pada diri sendiri. Kalau negara/agama lain bengis, itu berarti Islam juga boleh bengis. Begitu cara berpikir mereka.

Tapi fokus saya bukan agama atau negara lain. Fokus saya adalah Islam, karena bangsa saya, Iran, terlalu lama ditindas ideologi primitif dan asing itu. Setelah menyaksikan dgn mata kepala sendiri bgm Islamofascisme membawa kesengsaraan pada rakyat saya dan rakyat lain, saya bersumpah utk memberantas ideologi penuh penindasan, kebencian dan kekerasan ini.

Di AS saya menikmati hidup nyaman dan tentram, jauh dari kesengsaraan bangsa saya yg takut membuka mulut mereka.

Oleh karena itu adalah kewajiban dan hak sakral saya utk menyatakan semua Muslim sbg entah kriminal atau pendukung kejahatan, dan memperingatkan orang lain atas bahaya Islamofascisme dlm segala bentuknya.

Saya menantang semua Muslim agar meninggalkan cult setannya
Muhamad dan bergabung dgn bangsa2 bebas yg tidak terikat tuan2
berturban dan berjenggot.

Kalau anda hanya berdiam diri dan masa bodoh terhdp kejahatan didepan mata anda, andapun turut bersalah. Utk itulah saya mendorong anda utk turut buka suara dan menghentikan kebrutalan Islam dgn meninggalkan Islam.
———— ——— ——— ——— ——— —-
Amil Imani is an Iranian-born American citizen and pro-democracy activist residing in the United States of America. Imani is a columnist, literary translator, novelist and an essayist who has been writing and speaking out for the struggling people of his native land, Iran. He maintains a website at AmilImani

By Ayesha Ahmed
Prinsip Emas islam adalah, “Serahkan kafir kpd Allah dan Allah akan serahkan houri (72 perawan) kpdmu”.

Inilah satu2nya rukun islam : membunuh dan menyerahkan kafir kpd Allah, dgn kata lain, lakukan jihad dgn kekerasan melawan setiap kafir KECUALI mereka tunduk pada Islam. Itulah yg diajarkan dan dipraktekkan nabi kita tersayang. Ini pula yg diajarkan dan dianjurkan para pemimpin2 kita.

Pakar2 Muslim terbesar jaman ini adalah Syed Qutub, Dr. Salah Serea
& Mohammed Abed Al-Salem. Mereka semua ini menganjurkan Jihad dgn Kekerasan sbg PRINSIP EMAS ISLAM.


SYED QUTUB http://en.wikipedia .org/wiki/ Sayyid_Qutb

Pemimpin terbesar kami, Syed Qutub dari surga Islam bernama MESIR menulis buku Islam termasyur Ma’alim fi-l-Tariq (Milestones/Petunjuk Jalan), yg mewakili denyut jantung para muslim tulen. Semua muslim tulen dimuka bumi ini spt Osama bin Laden dan Al Zawahiri memuja2 buku ini.

Syed Qutub menulis:

“Hancurkan semua pemerintahan dan organisasi yg dibentuk manusia. Pemulihan kalifat Allah hanya bisa dibentuk dgn PEDANG. Pemberontakan absolut dan penghancurkan dgn kekuatan besar adalah mutlak terhdp apapun dimuka bumi ini yg berkonflik dgn islam”.

Tindakan 9/11 merupakan perwujudan anjuran ‘pemberontakan absolut dan penghancuran dgn kekuatan besar’ ini.

DR. SALAH SEREA (??? tidak ditemukan namanya di wikipedia! Mugnkin ia adalah pemimpin dari daerah asal penulis ?)
Ia adalah pemimpin muslim ternama dan pengikut faham Imam Taymmiyyah. Dr. Salah Serea adalah pendiri HIZBUT TAHRIR.

Ini yg ditulisnya :
“Para pemimpin Islam kini adalah orang2 yg rajin solat. Mereka mendirikan mesjid2. Mereka menerapkan puasa dan solat dan melakukan apapun yg membuat mereka nampak sbg muslim tulen. TAPI mereka juga menjauhkan Islam TULEN, yi JIHAD DGN KEKERASAN, dari hati muslimin. Pemimpin muslim macam ini adalah KAFIR dan siapapun yg berdiri dibelakang mereka atau mendukung mereka adalah KAFIR.”

MOHAMMED ABED AL-SALEM
Mujahid tulen ini menulis buku “The missing Commitments” (Perintah2 yg Ditangguhkan/ Faridah al-Gha’ibah). Buku ini mengandung aturan gerakan jihad sedunia dan merupakan buku wajib setiap insan Islam yg bercita2 disambut houri setelah mati.

Buku ini menekankan bahwa Jihad dgn kekerasan dan membantai kafir adalah ISLAM TULEN dan ‘DIPRAKTEKKAN OLEH NABI KAMI.’

Katanya, “pertumpahan darah adalah satu2nya jalan Islam bisa disebarkan dan didirikan. Otoritas Islam Fundamentalis harus didirikan di SETIAP negara di dunia dgn bantuan PEDANG (kami)”.

JIHAD MENDAHULUI SOLAT, PUASA & ZAKAT :
Dlm bukunya, Abed Al-Salem mengutuk ritual religius yg dipraktekkan muslim spt puasa, solat dan umroh. Ini aktivitas2 yg menyibukkan Muslim sampai mereka lupa akan anjuran Allah sebenarnya, yi jihad dgn KEKERASAN dan PEMBANTAIAN KAFIR guna menyebarkan dan mendirikan islaam, katanya.

MEMBUNUH KAFIR ADALAH KEWAJIBAN SETIAP MUSLIM :
Abed Al – Salem menulis bahwa pembunuhan adalah perbedaan utama atara agama tulen Allah dan agama2 lain. Sebelum Islam, Allah menangani kafir dgn api, banjir dan gempa bumi. Namun setelah mendirikan islam, Allah memindahkan tanggung jawab menangani kafir ini kpd umatNya. Nabi kami mendirikan islam dgn jihad kekerasan dan MEMBERIKAN CONTOH KPD KITA. Setelah ia wafat, muslim2 selanjutnya MENYEBARKAN ISLAM dgn menggunakan PEDANG.

MULLAH YG HANYA BERKOTBAH RITUAL ISLAM = KAFIR !
Saudara2 seukuwah … mullah2 yg hanya menganjurkan solat, puasa, umroh adalah AGEN2 YAHUDI/Kristen yg ingin menjauhkan Muslimin dari rukun Islam sebenarnya ! Ritual2 kosong ini hanya akan menjerumuskan umat ke neraka jahanam.

Ini yg dikatakan Allah kpd siapapun yg tidak mempedulikan rukun Islam yi “berjuang dlm jalan Allah”.

9.38: Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya bila dikatakan kepadamu : “Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah” kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal keni`matan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) diakhirat hanyalah sedikit. (Allah peduli teuing apakah kalian berpuasa atau berzakat !)

MANA MUNGKIN ke 164 ayat Quran yg mewajibkan kalian melakukan jihad dgn kekerasan dikesampingkan ?

Kalau kalian merasa bahwa ayat2 dibawah ini tidak menegaskan bahwa JIHAD ADALAH satu2nya rukun Islam, otak kalian harus diperiksa lagi !

Q 8.65: Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mu`min untuk berperang.

Q 9.111 Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu`min diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur`an.

Q 9.123: Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu …

Q4:84 Maka berperanglah kamu pada jalan Allah … Kobarkanlah semangat para mu`min (untuk berperang).

Q 2:216 Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci.

Q 47:4 Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir maka pancunglah batang leher mereka

Q 8.12 … Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka

RUKUN2 ISLAM ITU DITANAMKAN OLEH MUSUH KITA
1) SOLAT

Mana mungkin solat yg merupakan contekan tradisi kaum berhala Sabean jaman kuno dijadikan rukun Islam ?? Tidak ada satupun ayat dlm Quran yg mewajibkan ritual kosong ini ? Apalagi upacara menunggingkan pantat ! Ini bisa menarik mata setan dan amat sangat berbahaya. Wanita cantik yg menunggingkan bokongnya ke surga bisa mengundang gairah birahi lelaki muslim sehat ! Posisi macam itu menjadikan wanita itu target pemerkosa yg menyergapnya dari belakang. Dan gimana pula dgn kaum homo yg suka melihat bokong lelaki atau bokong anak kecil ? Tidakkah kalian tahu bahwa homosexualitas dan PEDOFILIA rawan dipraktekkan diantara para mullah ? Ini sungguh sungguh bahaya, kawan.

2) PUASA

Inilah ritual yg paling parah ! Ini hanya praktek sadis menyiksa diri sendiri lewat kelaparan, dehidrasi dan abstain dari sex. Ini hanya melemahkan tubuh Mukminin dan membuat mereka tidak lagi bisa berpikir dgn jernih. Otak kami pelan2 melemah. Itulah alasan negara2 surga islam tanpa petrodollar selalu membutuhkan bantuan non-Muslim utk menyambung hidup dari hari ke hari !

Tidakkah kalian berpikir mengapa segelintir Yahudi bisa memenangkan lebih dari 150 hadiah Nobel dlm bidang sains sementara 1.5 milyar Muslim tidak pernah memenangkan apa2 ?

Puasa adalah plot efektif Yahudi utk melemahkan jasad dan nurani umat islam.

3) UMROH/HAJI

Lagi2 adat berhala yg dicontek mukminin ! Percayalah … Umroh BUKAN rukun Islam asli. Ini hanya cara agen2 Yahudi di Saudi utk mencuri uang mukminin yg ingin naik haji.

AYAT BONUS dlm PRINSIP EMAS ISLAM

Allah memang menjamin surga & 72 houri bagi mujahid dan para pembunuh kafir, tapi tunggu dulu. Orgy ini harus kau tangguhkan sampai tibanya hari kiamat. Namun jangan khawatir, Islam menyediakan AYAT BONUS ! Jika kau mati bagi Allah dan menjadi syuhada, maka kau bisa langsung bersenggama dgn houri2 yg dijanjikan padamu itu. Tidak perlu menunggu hari kiamat segala ! Ayat bonus inilah dijadikan motivasi Muslim2 berbirahi dan menarik minat mereka menjadi suicide bomber pada missi2 jihad.

PRINSIP EMAS ISLAM BAHKAN DITERAPKAN PADA NABI

Allah tidak selalu adil. Bahkan nabinya sendiri tidak dikecualikan dari golden rule of islam.

DI Mekah, ketika Muhammad belum menemukan nikmatnya jihad ataupun membunuh kafir, Allah tidak menjanjikannya surga. Inilah ayat yg menunjukkan sifat ragu2 nabi ketika itu.

Q 17.54: Tuhanmu lebih mengetahui tentang kamu. Dia akan memberi rahmat kepadamu jika Dia menghendaki dan Dia akan meng`azabmu, jika Dia menghendaki.

Q 46.9 Katakanlah: “Aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasul dan aku tidak mengetahui apa yang akan diperbuat terhadapku dan tidak (pula) terhadapmu.

Nabi MO masih juga menunggu hourinya

Walau nabi MO memenuhi persyaratan masuk surga karena aktivitasnya penggal memenggal kafir, ia sendiri tidak mati syuhada, dipenggal kepalanya oleh kafir, misalnya. Bahkan kepalanya masih utuh saat ia merebahkan dirinya pada istri (snagat) mudanya, Aisha, setiap saat Aisha mens dan pada detik2 kematiannya.

Bukhari ;Volume 1, Book 6, Number 296:
Narrated ‘Aisha:
“The Prophet used to recite Qur’an with his head on my lap while I was in menses”. Prophet Mo slept with his face between Ayesha’s warm naked thighs in winters.

Abu Dawood Book 1, Number 0270:
Narrated Aisha, Ummul Mu’minin:
“One night he entered (upon me) while I was menstruating. He felt pain from cold. And he said: Come near me. I said: I am menstruating. He said: Uncover your thighs. I, therefore, uncovered both of my thighs. Then he put his cheek and chest on my thighs and I lent upon he until he became warm and slept”.

For information or comments, write to Feedback@IslamReview.com

Next Page »