Zainab Affair (Skandal Sang Nabi Dengan Menantu)
Satu hari sang nabi mengunjungi anak angkatnya Zaid. Zaid adalah salah seorang mualaf awal – mualaf ketiga tepatnya – dan dia sangat setia pada ayah angkatnya ini, hingga Muhammad sangat memperhatikan Zaid dan menilainya lebih tinggi dari yang lain. Zaid sudah menikah dengan Zaynab bint Jahsh, keponakan sang Nabi sendiri. Dan tambahan lagi – ini sangat penting dalam kisah ini – Zainab sangatlah cantik mempesona.

Hari itu, Zaid sedang tidak ada di rumah, tapi Zainab yang sedang memakai pakaian sembarangan (sexy) dan menampakkan keindahan tubuhnya membukakan pintu bagi sang nabi, dan memintanya masuk. Ketika Zainab membereskan pakaiannya, Muhammad tersentak oleh kecantikan dan keindahan tubuhnya “Auwloh yang mulia! Auwloh disurga! Betapa kau membalikkan hati para lelaki!” teriak sang Nabi. Dia menolak untuk masuk dan malah pergi sambil kebingungan. Tapi, Zainab telah mendengar perkataannya dan lalu menceritakannya pada Zaid ketika dia pulang. Zaid langsung pergi menemui sang Nabi dan dengan patuh menawarkan untuk menceraikan istrinya demi sang nabi. Muhammad menolak, sambil menambahkan “Pertahankan istrimu dan takutlah pada Auwloh.”

Zainab sekarang seperti terpengaruh dengan ide menikahi sang nabi, dan Zaid, melihat bahwa Muhammad masih birahi (horny) pada istrinya, menceraikan juga Zainab. Tapi rasa takut pada opini masyarakat membuat Muhammad ragu: lagipula, anak angkat saat itu dianggap sama dengan anak kandung; jadi, pernikahan demikian akan berarti incest bagi orang Arab saat itu. Seperti biasa, sebuah wahyu turun baginya tepat waktu, mengijinkannya untuk “membuang segala keberatannya bersama dengan angin.” Ketika Muhammad duduk disamping istrinya Aisha, mendadak dia terpelanting kerasukan. Ketika sadar dia bilang, “Siapa yang mau pergi dan memberi selamat pada Zainab dan bilang bahwa Auwloh telah menyatukan dia denganku dalam perkawinan?” Dengan itu kita mendapatkan surah 33.4-5, 33.36-40:
Auwloh sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya; …… Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). ….. Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Auwloh, Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Auwloh dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan….. Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Auwloh telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya: “Tahanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Auwloh”, sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Auwloh akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Auwloh-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) istri-istri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada istrinya. Dan adalah ketetapan Auwloh itu pasti terjadi…. Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki- laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi.

Reaksi yang seketika dan paling alami mengenai kejadian ini pastilah datang dari istri muda Muhammad itu sendiri, Aisha, yang mengatakan keheranannya akan keanehan kejadian ini, “Sungguh, Auwlohmu kelihatannya sangat gesit untuk memenuhi segala keinginanmu.”

Bagaimana para apologis Islam membela hal yang mustahil dibela ini? Watt dan yang lainnya mencoba berkata bahwa perkawinan ini dilakukan untuk alasan politis; tidak ada yang tidak patut secara seksual mengenai tingkah laku Muhammad ini. Mereka menunjuk pada fakta bahwa Zainab waktu itu sudah berumur 35 tahun dan dengan demikian tidaklah mungkin sedemikian membangkitkan birahi. Tapi ini omong kosong belaka. Sumber-sumber muslim sendiri menuliskannya secara seksual: Kecantikan Zainab, keadaan pakaiannya yang berantakan, keindahan tubuhnya yang tersingkap karena angin meniup pakaiannya, komentar Muhammad dan kebingungannya ketika pergi. Sudah jelas pula dari reaksi pengikut Muhammad yang terdiam mendengar wahyu ini, tapi yang membuat kaget mereka bukanlah birahi sang Muhammad. “Yang membuat mereka kaget dan merasa aneh adalah aturan itu (yang ada dalam wahyu tersebut) begitu penuh perhitungan sehingga selain memuaskan keinginan dan birahi si Muhammad tapi juga sekaligus menutup peluang akan konflik tabu dan sosial.” Lanjut Rodinson.
Pemikiran dari apologis muslim paling terpelajar Muhammad Hamidullah mengenai seruan Muhammad ketika melihat kecantikan Zainab adalah: melulu menimbulkan keheranannya, Zaid pastilah tidak bisa mengurus perempuan secantik ini sambil menjalankan tugas- tugasnya, ini tidak masuk akal karena menjadi bertentangan dengan arti sebenarnya seruan tersebut. Bahkan ayat-ayat Quran sekalipun, meski singkat menyatakan bahwa sang nabi juga sebenarnya ingin melakukan apa yang wahyu itu tidak perintahkan untuk dilakukan sampai saatnya tiba, dan bahwa rasa takut pada opini masyarakat sajalah yang mencegah dia untuk melakukannya. Teori dari Hamidullah hanya menunjukkan sekali lagi kepelikan yang berlebihan yang bisa muncul dari hasrat untuk membuktikan teori-teori yang sebenarnya telah dinyatakan dengan jelas dalam dogma itu sendiri.[23]

Skandal seks lainnya mengancam dan mengganggu ketenangan ‘harem’ Muhammad. Untuk mencegah kecemburuan diantara istri-istrinya, Muhammad membagi waktu yang sama diantara mereka, satu malam tiap istri bergiliran. Disaat tiba giliran Hafsa, Muhammad melihat kecantikan budak/pembantunya Hafsa, Maria orang Koptik, Hafsa ditipunya dengan berbohong bahwa dia dipanggil ayahnya, ketika Hafsa pergi dia gagahi Maria diranjang Hafsa itu juga. Hafsa yang kembali karena memang ayahnya ternyata tidak memanggil dia, mendapati sang Nabi sedang menindih budak pembantunya (kepergok lagi “maen kuda-kudaan” sama pembokap). Hafsa menjadi sangat marah dan memaki-maki sang nabi dengan kasar; dia mengancam untuk mengungkapkan hal ini pada istri-istrinya yang lain. Muhammad memohon Hafsa agar berdiam diri jangan memberitahu yang lain dan bersumpah untuk tidak mendekati Maria lagi. Tapi Hafsa tetap tidak bisa berdiam diri dan memberitahu Aisha, yang kebetulan tidak senang pada Maria. Skandal ini menyebar luas diantara harem-haremnya, dan segera Muhammad mendapatkan dirinya diasingkan oleh istri-istrinya sendiri.

Seperti dalam masalah Zainab, sebuah wahyu surga turun untuk membereskan masalah rumah tangga ini. Wahyu surga ini membatalkan sumpah yang dibuat Muhammad untuk tidak mendekati lagi sang budak, Maria orang Koptik, dan menegur para istrinya dengan tuduhan tidak patuh dan durhaka; wahyu itu bahkan mengisyaratkan bahwa Muhammad boleh menceraikan semua istri- istrinya dan menggantinya dengan yang lebih patuh (maksudnya yang tidak marah-marah kalo si nabi bejat itu horny sama pembantunya). Lalu, Muhammad mengurung diri (tidur bersama) dengan Maria Koptik dan menjauh dari istri-istrinya selama sebulan. Akhirnya, lewat campur tangan Umar dan Abu Bakar, Muhammad berdamai dan MEMAAFKAN para istrinya (aneh, kok yang minta maaf malah para istri yang jadi korban dari perselingkuhan si Mamad). Harmoni sekali lagi kembali ke haremnya. Surah yang beruntung kita dapatkan dari kejadian ini adalah:
[66.1] Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Auwloh menghalalkannya bagimu; kamu mencari kesenangan hati istri- istrimu? Dan Auwloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
[66.2] Sesungguhnya Auwloh telah mewajibkan kepada kamu sekalian membebaskan diri dari sumpahmu (maksudnya, boleh melanggar sumpah sendiri); dan Auwloh adalah Pelindungmu dan Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
[66.3] Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang dari istri-istrinya (Hafshah) suatu peristiwa. Maka tatkala (Hafshah) menceritakan peristiwa itu (kepada Aisyah) dan Auwloh memberitahukan hal itu (semua pembicaraan antara Hafshah dengan Aisyah) kepada Muhammad lalu Muhammad memberitahukan sebagian (yang diberitakan Auwloh kepadanya) dan menyembunyikan sebagian yang lain (kepada Hafshah). Maka tatkala (Muhammad) memberitahukan pembicaraan (antara Hafshah dan Aisyah) lalu Hafshah bertanya: “Siapakah yang telah memberitahukan hal ini kepadamu?” Nabi menjawab: “Telah diberitahukan kepadaku oleh Auwloh Yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.
[66.5] Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi auwlohnya akan memberi ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertobat, yang mengerjakan ibadah, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan.
Seperti yang Muir katakan, “pastinya tidak ada ayat yang lebih menjijikan dari ayat ini dalam “Kitab Suci Orang Timur” ini; tapi ayat ini telah berulang kali dibaca dan dilantunkan sepanjang abad, dan sampai sekarang juga masih oleh para muslim baik dimuka umum maupun ditempat tertutup, sebagai bagian dari ayat suci Quran yang abadi.”[24]

Ayat-ayat Setan (Satanic Verses)
Lagi, kita dapatkan dari sumber-sumber Muslim yang diandalkan (al- Tabari; Waqidi), kisah merusak dari ayat-ayat setan (sebuah ungkapan yang dipakai oleh Muir pada akhir tahun 1850an, dan sekarang dikenal luas). Selama hari-harinya di Mekah, sebelum pindah ke Medina, Muhammad duduk bersama-sama para orang terkenal Mekah disebelah Kabah, ketika dia mulai mengucapkan Surat 53, yang menjelaskan kunjungan pertama Jibril pada Muhammad dan lalu berlanjut pada kunjungan keduanya:
Dia juga melihatnya (Jibril) dilain waktu Pada pohon Lote dibagian jauhnya Dekatnya ada surga
Ketika pohon Lote menutupi apa yang ditutupinya
Pandangannya tidak berpaling, tidak juga berpindah
Dan sesungguhnya dia membawa tanda-tanda kebesaran Auwloh
Bagaimana pendapatmu mengenai Lat dan Uzza dan Manat?
Pada titik ini, kita diberitahu bahwa Setan telah menaruh perkataan tersebut di mulutnya (Muhammad), perkataan rekonsiliasi dan kompromi: Mereka (Al-Lat, Al-Uzza, dan Al-Manat; dewi-dewi padang pasir Arabia) adalah para perempuan mulia // Dimana intersesinya dimohonkan (maksudnya; Muhammad mengeluarkan ayat tersebut di atas yang mengakomodir dewa-dewi berhala Arab)

Tentu saja, orang-orang Mekah senang dengan dikenalnya dewi-dewi mereka dan diucapkan dalam doa-doa oleh orang muslim. Tapi Muhammad sendiri lalu dikunjungi Jibril yang membatalkan semua itu dan dikatakan bahwa ayat itu seharusnya berakhir demikian:
Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Auwloh (anak) perempuan? // Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil. // Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakannya
(Maksud ayat di atas adalah, bila manusia saja dapat anak laki-laki, maka alangkah tidak terhormatnya auwloh dapat anak perempuan. Karena nilai anak lelaki dianggap lebih tinggi nilainya daripada anak perempuan)

Muslim selalu tidak nyaman dengan kisah ini, tidak mau percaya bahwa nabinya bisa membuat kompromi untuk menyembah berhala. Tapi jika kita terima keaslian sumber-sumber muslim ini secara umum, tidak ada alasan untuk menolak kisah ini. Kelihatannya tidak masuk akal bahwa kisah demikian direkayasa oleh muslim saleh seperti al-Tabari, atau bahwa dia bisa menerima begitu saja sumber-sumber yang tak jelas.[25] Lagipula, hal ini menjelaskan fakta kenapa para muslim yang lari ke Abyssinia banyak yang kembali diterima: Karena mereka mendengar orang-orang Mekah telah masuk Islam. Sepertinya jelas bahwa tidak ada kisah yang loncat tentang Muhammad disini, malah secara hati-hati hal ini telah diperhitungkan untuk memenangkan dukungan orang-orang Mekah. Hal ini juga menimbulkan keraguan hebat akan kejujuran Muhammad; Meski jika benar Setan menaruh perkataan itu dimulut Muhammad, lalu gimana bisa kita percaya pada orang yang begitu mudah disesatkan oleh setan? Kenapa Tuhan membiarkan ini terjadi? Darimana kita tahu bahwa tidak ada lagi ayat- ayat lain dari Muhammad yang disesatkan oleh Setan?

Perdamaian Hudaibiya
Muhammad juga dikritik oleh para pengikutnya pada kesempatan lain, ketika dia dicurigai telah menyalahi prinsipnya sekali lagi. Muhammad, yang merasa sangat yakin setelah konsolidasi posisinya di Medina, memutuskan saatnya sudah tiba untuk mengambil alih Mekah. Tapi ketika sadar bahwa waktunya belumlah tepat, dia berubah pikiran disaat terakhir dan malah bernegosiasi dengan orang-orang Mekah. Lewat perjanjian Hudaibiya, Muhammad diijinkan untuk melakukan ziarah pada tahun berikutnya, tapi balasannya dia harus menahan diri utk dipanggil nabi, dan menahan diri memakai rumus-rumus islamnya. Belakangan Muhammad melanggar perjanjian dengan Mekah ini.

Dengan elemen-elemen ini kita berada pada posisi yang lebih baik untuk mengerti referensi-referensi dari Dr. Margoliout[26] dalam rangkumannya yang menggambarkan kemunculan Muhammad pada biografi karya Ibn Ishaq:
Sifat-sifat yang diterapkan pada Muhammad dalam biografi karya Ibn Ishak sangat tidak menyenangkan. Demi tujuan-tujuannya dia menyimpang dari jalan yg benar, dan dia setuju kekejian-kekejian yang dilakukan para pengikutnya ketika melaksanakan perintah- perintahnya. Dia yg paling banyak mendapat untung dari persaingan dengan orang Mekah, tapi jarang bersyukur untuk itu. Dia mengorganisir pembunuhan dan pembantaian. Karirnya sebagai tiran dari Medina layak pemimpin garong yang ekonomi politiknya terdiri dari melulu harta jarahan yang dibagi dan diamankan, pembagian harta ini kadang dilakukan dengan prinsip-prinsip yang gagal memuaskan para pengikutnya. Dia sendiri tak terkendali dalam masalah perempuan dan mendorong para pengikutnya untuk melakukan hal yang sama. Untuk apapun yang dia lakukan dia siap membenarkannya dengan bantuan Auwlohnya. Bagaimanapun, mustahil utk menemukan doktrin yang dia tidak siap tinggalkan demi mengamankan tujuan-tujuan politiknya.
Pada titik lain dalam karirnya dia mengabaikan kesatuannya dengan Tuhan dan klaimnya sebagai nabi. Ini adalah gambaran yang tidak pantas bagi seorang pendiri agama, dan tidak bisa dibela dengan alasan bahwa gambaran ini adalah gambaran yang dibuat oleh musuh- musuhnya; dan meski nama Ibn Ishaq untuk suatu alasan dipandang rendah oleh para tradisionalis klasik diabad ketiga Islam, tapi toh mereka tidak membuat upaya-upaya untuk mendiskredit bagian-bagian dari biografinya yang memuat kekejian dari karakter nabi mereka.
Penilaian akhir dari apa yang dicapai Muhammad harus menunggu sampai kita menelaah Quran dan doktrinnya, pada bab selanjutnya.

——————————————————–
[23] Rodinson, Maxime. Muhammad. New York, 1980., hal.207-208 [24] Muir, Sir W. The Life of Muhammad. Edinburgh, 1923, hal 414
[25] Watt, W. Montgomery. Muslim-Christian Encounters. London, 1991.
[26] Margoliouth, D.S. Muhammad. In Encyclopaedia of Religion and Ethics, vol.8 hal 878

About these ads