Bagaimana kita bisa memakai apa yang dikatakan Al-Qur’an tentang Kristus?
Orang yang membaca Alkitab bisa menemukan 250 nama, gelar dan sebutan bagi Yesus di dalamnya. Bagi orang yang mempelajari Al-Qur’an, ia juga bisa menemukan 25 nama, gelar dan sebutan untuk Isa sebagai gema atas apa yang disebut di dalam Injil. Salah satu cara yang dapat menolong kita untuk mendekati orang Muslim adalah untuk mengisi makna dari nama Kristus di dalam Alkitab ke dalam gelar Islamnya yaitu putera Maryam, untuk menjelaskan kepada orang Muslim bahwa Anak Manusia adalah Anak Allah seperti yang dijelaskan Yesus mengenai Diri-Nya sendiri. Kalau seseorang berpikir bahwa ia bisa sukses tanpa mengerti istilah-istilah di dalam Al-Qur’an maka bahayanya adalah ia akan berbicara kepada orang Muslim dengan kata-kata yang sangat asing bagi mereka.

Isa atau Yesus?

Isa, nama Islam untuk Yesus, muncul 25 kali di dalam Al-Qur’an. Namun, Isa bukanlah Yesus, karena Dia dilucuti dari semua keilahian-Nya di dalam kitab orang Muslim. Dia tidak mati di atas kayu Salib menurut Al-Qur’an. Tidak ada yang bisa menjelaskan mengapa Muhammad memakai nama Isa bukan nama Yesus, karena sebenarnya di dalam bahasa Arab kata Jasu’u sudah ada sejak masa-masa awal di dalam buku-buku Kristen Arab sebagai persamaan untuk kata Yesus.

Para imam Ortodoks mengatakan bahwa kata Isa berasal dari pengucapan Siria terhadap kata Yunani untuk Yesus. Yang lainnya mengatakan bahwa Muhammad mengubah huruf pertama dan terakhir dari kata Jasu’u di dalam bahasa Arab sehingga menjadi kata Isa. Dalam beberapa budaya di Afrika hal itu menunjukkan kutukan kepada pribadi yang dimaksud. Kamus Lisan al-Arab mengemukakan sebuah penjelasan yang sangat menarik yang mengatakan bahwa akar kata dari kata Isa (‘Ais) berarti “air mani kuda jantan” yang bisa menjadi racun mematikan dengan seketika.

Kebanyakan orang Kristen Arab tidak menggunakan kata Isa dalam percakapan mereka dengan orang Muslim, sementara misionaris asing secara berulang kali mengatakan bahwa tanpa menyebut nama Isa, maka seorang Muslim tidak akan bisa memahami bahwa mereka sedang berbicara tentang Yesus. Karena itu mereka berusaha mengisi makna dari nama Yesus di dalam Alkitab ke dalam nama Al-Qur’an Isa.

Kita perlu ingat bahwa di dalam Perjanjian Baru nama Yesus muncul sebanyak 975 kali. Nama ini adalah nama yang terpenting dari segala nama dan gelar Anak Allah, dan nama yang paling sering dipakai. Sangat menarik (juga) bahwa nama “Yesus” untuk anak Maria ditentukan melalui dua bentuk wahyu (wahi) yang pertama kepada Yusuf, yang bertanggung-jawab untuk membesarkannya (Matius 1:21), dan yang kedua kepada ibunya melalui Malaikat Gabriel (Lukas 1:31; 2:21). Penghulu malaikat itu bahkan menjelaskan makna dari nama yang sangat unik itu, yang dipilih sejak kekekalan: “Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka” (Matius 1:21).

Orang-orang yang mengerti bahasa Ibrani bisa mengetahui bahwa akar kata dari nama Yesus (yod-shin-ayin) muncul sebanyak 281 di dalam Perjanjian Lama dalam hubungannya dengan nama Allah “Yahweh”: 68 kali dalam bentuk kata benda yang berkaitan dengan keselamatan dan pertolongan dari Yahweh, dan 213 kali dalam bentuk kata kerja, di mana Yahweh sendiri bertindak dan menyelamatkan. Makna dan tujuan dari nama Yesus ini sudah ditentukan sejak kekekalan, sama seperti yang dituliskan oleh seorang penulis lagu Natal: “Kristus Juruselamat telah lahir!”

Kata Yunani untuk penyelamat (soter), justru, tidak hanya berarti penyelamat dari kesusahan dunia atau dari penghukuman Allah. Kata itu juga merupakan gelar penghormatan untuk Kaisar Agustus dari Romawi yang dipuji sebagai penjamin dari kedamaian dunia setelah ia memantapkan kekuasaannya melalui kemenangan-kemenangannya.

Malaikat Gabriel menjelaskan kepada Yusuf bahwa masalah manusia yang paling besar adalah dosa mereka. Dosa memisahkan kita dari Allah. Dengan demikian Yesus, Anak Domba Allah, telah menanggung segala dosa dunia dan memperdamaikan kita dengan Yang Maha Kudus melalui korban pendamaian-Nya di kayu Salib. Kasih-Nya mendorong Dia untuk menggenapi hukum Paskah melalui kematian-Nya untuk menggantikan kita. Darah-Nya adalah tebusan yang dibayar-Nya untuk memerdekakan kita dari dosa, Iblis, dan murka Allah (Surat as-Saffat 37:107).

Orang Muslim tidak memiliki gambaran mengenai kekayaan dari nama Yesus dan kedaulatan-Nya yang agung. Kita perlu berdoa meminta hikmat dan bimbingan dari Roh Kudus dalam pembicaraan kita dengan orang Muslim agar bisa menunjukkan kepada mereka makna yang penuh dari nama Yesus, sehingga Iblis akan terpaksa harus membebaskan tawanan Muslimnya, dan mereka bisa menerima pengampunan atas segala dosa mereka dengan penuh ucapan syukur, karena Yesus menggenapkan karya keselamatan-Nya bagi mereka juga (Yohanes 19:30). Mari kita mengasihi Yesus, sehingga orang Muslim bisa melihat Dia di dalam kelemahan kita.

Kristus – Yang Diurapi

Gelar Yesus yang resmi di dalam Alkitab adalah: Yang Diurapi, yang berarti Mesias atau Kristus. Gelar Yesus ini muncul sebanyak 569 kali di dalam Perjanjian Baru dan 11 kali di dalam Al-Qur’an. Kata dalam bahasa Arab al-Masih berasal dari kata “membasuh” dan “mengurapi.” Meskipun demikian, hanya sedikit saja orang Muslim yang tahu bahwa kata al-Masih berarti, “yang diurapi.”

Kita bisa berusaha untuk menjelaskan kepada mereka bahwa di dalam Perjanjian Lama para raja, imam dan nabi diurapi dengan minyak kudus sebagai tanda bahwa Tuhan perjanjian sudah memberikan kepada mereka kuasa dan kedaulatan melalui Roh Kudus-Nya untuk diperlengkapi di dalam menjalankan tugas mereka. Yesus sendiri menjelaskan gelar kehormatan-Nya ini di Nazaret: “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan…” (Lukas 4:18-19).

Tidak ada yang bisa menjelaskan mengenai gelar “Kristus” ini lebih baik dari penjelasan-Nya sendiri. Dia menyatakan kesatuan dari Tritunggal yang Kudus di dalam bentuk yang ringkas sebagai “Tuhan, Roh dan Diri-Nya.” Dia juga menjelaskan bahwa pengurapan Roh Kudus memiliki tujuan yang sangat unik: untuk memberitakan kabar baik kepada kelompok “yang terinjak”, supaya hati mereka yang hancur bisa dipulihkan.

Alkitab menyatakan bahwa Yesus Kristus adalah raja segala raja, imam besar yang kekal dan perwujudan dari Firman Allah. Ia adalah Tuhan seperti yang ditegaskan oleh Perjanjian Baru sebanyak 216 kali! Ia memiliki segala kuasa dan kemuliaan di surga dan di bumi. Gelar “Tuhan” bagi Kristus sama sekali tidak ditemukan di dalam Al-Qur’an. Muhammad mengajarkan bahwa orang Muslim tidak akan pernah menerima manusia menjadi Tuhan. Keilahian-Nya sepenuhnya ditolak (Surat Al ‘Imran 3:64; al-Ma’ida 5:17,31; al-Tawba 9:30,31, dll.). Apakah orang Muslim melihat Ketuhanan-Nya dengan ketaatan iman seperti yang kita miliki?

Ketiga nama dan gelar Alkitabiah: Yesus, Kristus, Tuhan, secara bersama-sama menjadi 65 persen dari penulisan nama-Nya yang disebutkan di dalam Alkitab. Orang yang bisa mengenali kedalaman dari ketiga nama Anak Allah, percaya dan meyakini semuanya, adalah seorang Kristen dan berhak mengulang kesaksian Yesus dalam Lukas 4:18 di dalam dirinya sendiri.

Kristus – rasul Allah?

Muhammad percaya pada tugas Isa yang bersifat politis dan menyebut-Nya sebagai utusan atau duta dari Allah sebanyak lima kali (Surat Al ‘Im­ran 3:49; al-Nisa 4:157,171; al-Ma’ida 5:75; al-Saff 61:6). Ia juga menyebutkan nama-Nya beberapa kali bersama-sama dengan rasul-rasul Allah yang lainnya (Surat al-Baqara 2:87,253: al-Hadid 57:27).

Seorang rasul Allah oleh Al-Qur’an dianggap lebih tinggi kedudukannya dibandingkan dengan seorang nabi. Nabi bertanggung-jawab untuk menyatakan wahyu dari Allah secara tepat. Seorang rasul, memiliki kelebihan, yaitu untuk menegakkan semua hukum ilahi itu dengan kuasanya! Di dalam kesaksian iman mereka orang Muslim mengaku bahwa Muhammad adalah seorang “utusan” Allah, dan bukan hanya sekedar seorang nabi! Musa dianggap sebagai teladan penuntun untuk Muhammad. Musa adalah perantara antara Yahweh dengan umat-Nya, yang harus memimpin dan memerintah mereka sebagai pembuat peraturan sekaligus hakim. Muhammad memandang dirinya sendiri dan juga Isa, putera Maryam, sebagai memiliki kuasa yang sama dengan yang dimiliki oleh Musa.

Mungkin Muhammad sudah mendengar dari orang Kristen di Mekah dan Medinah bahwa Yesus di dalam Injil-Nya berbicara mengenai kerajaan Allah, kerajaan surga atau mengenai kerajaan saja secara sangat sering (sekitar 100 kali), tetapi hanya sedikit (hanya tiga kali saja) berbicara mengenai gereja-Nya! Muhammad menganggap bahwa Kristus datang sebagai seorang rasul Allah dengan tujuan untuk membangun kerajaan-Nya dengan kuasa dan kekuatan. Kata kerajaan dalam bahasa Arab diambil dari akar kata “milik” (mulk) yang berarti: “sang pencipta memiliki segala sesuatu yang diciptakannya” (Surat al-An’am 6:75; al-A’raf 7:185; al-Mu’minun 23:88; Ya Sin 36:83). Kristus datang ke dunia ini untuk mengklaim milik Tuhan dari bangsa Israel (Matius 21:33-46).

Muhammad tidak mengetahui bahwa setelah penyaliban Kristus, kenaikan-Nya dan pencurahan Roh Kudus kepada jemaat-Nya yang sedang berdoa, isi dari khotbah-khotbah para rasul mengalami perubahan yang sangat mendasar. Di dalam Kisah Para Rasul dan di dalam surat-suratnya, para rasul berbicara dua kali lebih banyak mengenai gereja daripada mengenai kerajaan! Sejak saat itu topik rencana keselamatan menjadi topik bagi orang-orang yang terpanggil” dari antara orang Israel dan juga bangsa-bangsa lain. Namun klaim-Nya untuk menerima kembali segala ciptaan tidaklah menurun karena karya-Nya di dalam membangun gereja, karena Yesus sendiri mengutus hamba-hamba-Nya, yang sudah dipanggil-Nya keluar dari dunia, untuk kembali kepada dunia untuk membawa pulang semua orang yang mau mendengarkan firman-Nya.

Tetapi, Muhammad menganggap tugas Kristus adalah dalam bidang keagamaan sekaligus dalam bidang militer dan politik juga. Ia tidak mengetahui bahwa Yesus pernah mengatakan: “Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini… Aku adalah raja. Untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini, supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran; setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suara-Ku.” (Yohanes 18:36-37).

Muhammad tidak memahami kebenaran ini. Ia tidak mau tunduk kepada raja ilahi Yesus Kristus dan tidak mau membuat dirinya taat kepada Tuhan. Oleh karenanya, ia menjelaskan Isa hanyalah sebagai rasul Allah yang berkaitan dengan kehidupan politik dan agama saja, seperti dirinya sendiri!

Tetapi, Yesus, tidak ragu-ragu untuk menyebut diri-Nya sendiri sebagai utusan yang diutus beberapa kali menurut Injil Yohanes, tetapi Dia menegaskan bahwa “Bapa-Nya” sudah mengutus-Nya dan bukannya suatu Allah yang tidak peduli. Dengan demikian Dia secara tidak langsung menyatakan bahwa Dia adalah Anak Allah dengan kuasa yang penuh:

“Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus” (Yohanes 17:3).

“Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu” (Yohanes 20:21).

Kristus – Putera Maryam

Muhammad dibingungkan oleh kenyataan bahwa Yesus dilahirkan dari anak dara Maria, tanpa seorang ayah. Namun ia menerima rahasia ini dan menyebut Isa Putera Maryam sebanyak 23 kali di dalam Al-Qur’an. Ia bahkan mencoba untuk membela Maria dan menegaskan bahwa ia tidak melahirkan seorang anak di luar ikatan pernikahan (Surat Al ‘Imran 3:45-47; Mar­yam 19:16-23 dsb). Muhammad menggambarkan bahwa Jibril (Gabriel) menghembuskan roh yang dari Allah kepada Maria (Surat al-Hajj 21:91; al-Tahrim 66:12). Dengan pernyataan ini Muhammad sudah semakin dekat dengan Injil, tetapi ia membatasi perkataannya dengan membuat Jibril berkata bahwa Isa bukan diperanakkan oleh roh Allah di dalam rahim Maria tetapi hanya sekedar diciptakan. Dengan demikian Muhammad menempatkan diri dalam tempat yang berbeda dengan yang disebutkan dalam Pengakuan Iman Nicene, di mana seluruh gereja mengaku:

Kristus adalah Allah dari Allah, Terang dari terang.

Allah Sejati dari Allah sejati, diperanakkan, bukan diciptakan, dalam satu hakekat dengan Bapa.

Muhammad menjadi roh anti Kristus dengan menyangkal keilahian Kristus (1 Yohanes 2:22-25; 4:1-5).

Di dalam Al-Qur’an kita membaca 17 kali bahwa Isa bukanlah anak Allah. Muhammad menolak ide bahwa Allah secara biologis menjadi Bapa dari Kristus di dalam rahim Maria. Semua gereja juga pasti tanpa ragu-ragu menolak ide yang demikian! Sebuah sekte Kristen di Semenanjung Arab menyebut Maryam sebagai “ibu dari Allah” dan menganggap bahwa Allah Tritunggal Yang Kudus itu terdiri dari “bapa, ibu, dan anak” (Surat al-Ma’ida 5:116). Bidat ini secara tepat ditolak oleh Muhammad! Jika kita membenarkan penolakannya terhadap pemahaman yang keliru ini tentang kelahiran Kristus di dalam dialog kita dengan orang Muslim, ketegangan yang sangat besar di antara mereka dengan kita bisa dihilangkan.

Alkitab menjelaskan pembuahan secara rohani dari Kristus dan mengaku bahwa “Allah, Firman dan Roh-Nya” adalah kesatuan yang tidak bisa terpisahkan. Penyebutan yang tidak Alkitabiah tentang Maria sebagai “bunda Allah” di kalangan Katholik dan Kristen Ortodoks membuat percakapan dengan orang Muslim seringkali sangat menyulitkan.

Alkitab berbicara sebanyak 59 kali mengenai Anak Allah. Yesus juga menegaskan di dalam kalimat yang berbentuk “Akulah” sebanyak 50 kali bahwa Dia adalah Tuhan yang menyatakan diri-Nya kepada Musa di dalam belukar yang menyala (Keluaran 3:14) sebagai “Aku adalah Aku.” Di saat-saat terakhir kehidupan-Nya Yesus mengatakan dengan tegas di hadapan kelompok Sanhedrin bahwa Dia adalah Kristus, Anak Allah yang hidup (Matius 26:63-68; Lukas 22:70). Karena pengakuan inilah Dia dihukum mati. Muhammad menolak dan bahkan membenci kesaksian bahwa Kristus “adalah Anak Allah” sampai-sampai ia mengutuk semua orang Kristen yang bersaksi dengan memohon agar Allah membunuh mereka semua (Surat al-Tawba 9:30)!

Di dalam kehidupan-Nya di dunia ini, Yesus tahu bahwa semua orang yang menyebut Dia sebagai Anak Allah akan dianggap sebagai penghujat. Karena itu Dia bersaksi tentang diri-Nya sebanyak 80 kali sebagai Anak Manusia di dalam Injil. Dalam penggunaan nama ini Dia menunjuk kepada nubuat yang tercatat di dalam Daniel 7:13-14, di mana “anak manusia” muncul di dalam penglihatan sebagai raja yang kekal dan hakim yang ilahi. Tetapi kebanyakan orang Yahudi memahami nama ini hanya secara dangkal saja dan menganggap bahwa Yesus menyebutkan diri-Nya sebagai sekedar manusia biasa saja. Namun, Dia menggenapi pernyataan ini dengan kedaulatan ilahi-Nya.

Setengah dari ayat-ayat mengenai Anak Manusia bersaksi mengenai kerendahan-Nya, kemanusiaan-Nya, kerendahan hati-Nya dan kelemah-lembutan-Nya: “Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Matius 20:28). Dengan pernyataan ini Yesus menjungkir-balikkan semua anggapan umum. Yang terbesar harus menjadi yang terkecil, karena Raja kita sendiri menyatakan diri-Nya sebagai hamba. Orang-orang yang mengikuti Dia tidak akan menjadi tuan tetapi menjadi hamba.

Setengah yang lain dari pernyataan-pernyataan-Nya mengenai Anak Manusia menyaksikan tentang kemuliaan dan kuasa-Nya yang besar ketika nanti Dia kembali sebagai hakim atas segala manusia: “Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya. Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya …” (Matius 25:31-32 dst.) Yesus adalah manusia yang sejati, dicobai sama seperti kita, tetapi tetap tidak berdosa (Ibrani 2:17-18). Karena itulah Dia memahami apa yang dirasakan manusia dan akan menjalankan penghakiman-Nya secara adil.

Akan sangat baik bagi kita jika kita belajar metode yang sangat berguna ini dari Yesus, yang menyelubungi keilahian-Nya, dan menyatakan rahasia inkarnasi-Nya di bawah sebutan Anak Manusia. Nama ini adalah salah satu kunci untuk masuk ke dalam hati orang-orang Semit. Jika anda berbicara mengenai Anak Allah di awal percakapan anda dengan orang Muslim, maka anda akan bisa melihat bagaimana mereka akan menutup pintu bagi-Nya. Tetapi kalau anda belajar dari Yesus, anda akan menjadi bijak dan tidak akan menyangkal kebenaran. Sebaliknya, anda bisa bersaksi akan hal itu dengan kasih dan hikmat, sesuai dengan apa yang bisa diterima oleh pendengar anda.

Kristus– firman Allah dalam rupa manusia

Muhammad memakai beberapa sebutan, gelar dan nama Kristus di dalam Al-Qur’an, dengan tujuan untuk menarik orang-orang Kristen kepada Islam. Ia menyisipkan di antara ayat-ayatnya perkataan-perkataan dari Perjanjian Baru supaya ia dianggap sebagai nabi yang sesungguhnya. Ia ingin menarik orang-orang Kristen di Abyssinia (Etiopia) serta sebuah kelompok dari Yaman kepada dirinya dengan cara meniru kepercayaan mereka. Karena itu kita berhak menggunakan berbagai perkataan-perkataannya, yang dipinjamnya dari Alkitab, berhak mengambilnya dari dalam Al-Qur’an dan mengembalikan semuanya kepada konteks yang sebenarnya di dalam Injil, seperti mengumpulkan potongan-potongan kecil mosaik untuk dijadikan pola yang memiliki bentuk yang jelas. Ini bisa menolong orang Muslim, yang mencari kebenaran, untuk menemukan jalan keselamatan mereka di dalam Kristus.

Dari dalam Injil Yohanes, Muhammad empat kali mencantumkan pernyataan bahwa Kristus adalah kalimat atau firman Allah atau firman-Nya (Surat Al ‘Imran 3:39,45,64; al-Nisa 4:171). Para penafsir Muslim kemudian melihat bahwa sebutan Kristus yang demikian membahaya-kan pengakuan iman Islam dan kemudian dengan cepat mengajarkan bahwa Kristus adalah firman Allah yang “diciptakan”, yang tidak mengandung kehadiran yang sesungguhnya dari Yang Maha Tinggi. Sebagai pencipta dari Kristus, Allah dianggap mengatakan: “’Jadilah’, lalu jadilah dia.” Pada saat yang sama, para penafsir Muslim menganggap bahwa Al-Qur’an (Al Imran 3:47) mengandung kehadiran Allah yang sesungguhnya, kehendak dan kuasa-Nya.

Kita berhak untuk menjelaskan kepada orang Muslim bahwa hal yang sama sebenarnya terjadi di dalam diri Yesus. Semua kuasa penciptaan dari firman Allah, kuasa penyembuhan-Nya, otoritas pengampunan-Nya, kasih karunia penghiburan-Nya dan kuasa pembaharuan bekerja di dalam diri-Nya. Di dalam Kristus segala gelar dan karya firman Allah dinyatakan. Kehendak Yahweh, hikmat-Nya, murka-Nya, kasih-Nya, kasih karunia-Nya, kesabaran-Nya, semua yang dikatakan dan diperintahkan Allah, dijanjikan dan dilarang berinkarnasi di dalam Yesus. Di dalam Dia segala nubuat Allah sudah menjadi ya dan amin. Barang siapa ingin mengetahui kehendak Allah harus memandang kepada Yesus: Dia adalah inkarnasi dari perkenanan yang baik dari Bapa-Nya. Dia berkata:

Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang diam di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-Nya.” (Yohanes 14:10)

Aku dan Bapa adalah satu.” (Yohanes 10:30)

Pernyataan yang sangat khusus di dalam Al-Qur’an mengenai inkarnasi firman Allah di dalam Kristus menjelaskan bahwa Kristus memanglah firman kebenaran. Kebenaran dan keadilan di sini muncul sebagai sebutan dan nama Allah, sehingga ayat itu berarti: Kristus adalah sabda Allah sendiri yang penuh dengan keadilan dan kebenaran (Surat Maryam 19:34). Namun, beberapa penafsir menyimpangkan ide yang dianggap berbahaya di dalam Islam ini dan mengatakan bahwa perkataan yang seperti itu adalah kalimat yang sifatnya rendah dan tidak memiliki kepentingan apapun. Tetapi yang benar adalah kebalikannya. Kristus tetaplah merupakan manifestasi dari kebenaran dan hukum, juga di dalam Al-Qur’an (Yohanes 14:6). Ia lebih dari sekedar nabi – Ia adalah firman Allah dalam rupa manusia! Pernyataan ini bisa menjadi alat yang paling kuat bagi anda dalam kesaksian anda kepada orang Muslim.

Kristus – roh dari Allah

Pernyataan yang lain di dalam Al-Qur’an justru melawan dan meruntuhkan posisi para kritikus Islam yang mengatakan bahwa “Kristus tidak bersifat ilahi,” karena Dia juga disebut sebagai roh yang dari Allah (Surat al-Nisa 4:171). Pernyataan ini menjelaskan bahwa Kristus bukanlah manusia biasa saja seperti Musa dan Muhammad, tetapi inkarnasi dari roh Allah. Perkataan Al-Qur’an yang menjelaskan bahwa Yang Mahamulia menghembuskan sebagian dari “Roh-Nya” kepada Maryam (Surat al-Anbiya’ 21:91; at-Tahrim 66:12). Karena itu Isa dianggap sebagai Roh yang hidup dalam bentuk manusia. Dengan tubuh rohani, setelah Dia menyelesaikan pelayanan-Nya di bumi, Dia naik kembali kepada Allah. Di dalam Islam, Kristus bukan hanya sekedar manusia biasa, bukan sekedar nabi biasa seperti yang lain, tetapi Roh yang dari Allah sendiri! Dengan pernyataan ini Muhammad mengakui bahwa Isa bukan termasuk dalam golongan yang sama dengan manusia yang lain yang dilahirkan dari debu tanah. Namun, Dia adalah Anak karena Roh Allah, atau “anak rohani” dari Allah – menurut perkataan Al-Qur’an, juga!

Para penafsir Islam sudah memahami kelemahan di dalam Al-Qur’an ini dan kemudian memelintirnya menjadi bermakna sebaliknya. Mereka mengatakan: Memang, Kristus adalah roh Allah yang berbentuk manusia, tetapi – hanya roh “yang diciptakan”! Suatu roh yang secara kekal mandiri dan berasal dari Allah, yang tentu saja juga bersifat ilahi, tidak diakui keberadaannya di dalam Islam. Semua roh yang dari Allah adalah roh yang diciptakan, sama seperti malaikat dan juga setan-setan, Gabriel dan Mikael. Kristus dikatakan sebagai salah satu di antara banyak roh yang diciptakan oleh Allah.

Tetapi kita tahu bahwa Kristus dilahirkan dari Roh Kudus Allah yang kekal. Tuhan berkata kepada-Nya: “Anak-Ku engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini.” (Mazmur 2:7). Dan kemudian Malaikat Gabriel juga berkata kepada Maria: “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kau lahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.” (Lukas 1:35).

Orang Muslim bisa mengetahui fakta ini, seperti yang diakui oleh almarhum Raja Hassan II dari Maroko, di hadapan suatu sinode di Rabat, bahwa tidak ada manusia atau Ayatullah yang manapun yang memiliki hak untuk menyebut dirinya sebagai roh yang dari Allah (Rohullah), kecuali Isa, putera Maryam; karena hanya Dialah yang dilahirkan karena Roh yang dari Allah!

Kristus tetap tidak berdosa – bahkan di dalam Al-Qur’an!

Ketika menuliskan mengenai kelahiran Kristus di dalam Al-Qur’an, Jibril, yang juga dianggap sebagai roh yang dari Allah dan utusan yang menyampaikan wahyu-Nya, berjanji kepada Maryam bahwa ia akan memberikan kepadanya seorang anak laki-laki yang suci dan tidak bercela (Surat Maryam 19:19). Perkataan itu begitu menjadi bahan pemikiran bagi para penafsir. Beberapa di antara mereka secara terbuka menulis bahwa Isa dilahirkan tanpa dosa dan suci, karena Dia dilahirkan dari Roh Allah.

Beberapa tradisi Muslim di jaman Muhammad kemudian mengembangkan hal ini dan mengatakan: Semua anak dilahirkan dalam keadaan tidak memiliki dosa asal, tetapi Iblis mencemari bayi sejak saat pertama kali mereka dilahirkan. Ini yang dianggap sebagai penyebab mengapa setiap bayi menangis – dengan pengecualian Maryam dan Isa! Mereka dijaga dari sengat dosa Iblis karena istri Imran sudah menaruh anaknya, Maryam dan keturunannya, di bawah perlindungan yang khusus dari Allah dari gangguan Iblis, sebelum mereka dilahirkan (Surat Al ‘Imran 3:36).

Karena Kristus dinyatakan sebagai firman Allah yang berinkarnasi di dalam Al-Qur’an, Dia bukan hanya mengajar tetapi juga menjalani kehidupan yang sesuai dengan ajaran itu. Tidak ada perbedaan antara perkataan dengan kehidupan-Nya. Di dalam Islam, juga, Isa disebutkan sebagai satu-satunya manusia yang tidak berdosa. Kehidupan-Nya adalah firman Allah yang bisa dilihat.

Kalau Kristus disebutkan sebagai orang berdosa di dalam Al-Qur’an, maka Dia pasti akan mati dan harus menunggu di dalam kubur-Nya untuk menantikan saat penghakiman dari Allah. Tetapi Kristus, menurut Al-Qur’an, diangkat kepada Allah. Dia hidup bersama dengan Allah. Dia adalah salah satu di antara mereka yang dibawa dekat kepada-Nya. Dia berbicara kepada Allah dalam percakapan yang pribadi (Surat al-Ma’ida 5:116-118). Tidak ada dosa yang memisahkan antara Dia dengan Yang Mahakudus. Kristus adalah kudus, sebagaimana Allah adalah kudus. Al-Qur’an dengan jelas berbicara mengenai dosa-dosa Abraham, Musa, dan Muhammad (Surat Ghafir 40:55; Muhammad 47:19; al-Fath 48:2; al-Nasr 110:3). Tetapi sama sekali tidak ada tanda mengenai Kristus, bahkan sekalipun di dalam Tradisi, bahwa Dia mungkin sudah berdosa, bersalah atau menjadi lemah.

Injil menunjukkan kepada kita bahwa setan-setan sekalipun memahami rahasia bahwa Yesus adalah kudus, karena mereka berseru: “Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah” (Markus 1:24; Lukas 4:34). Akhirnya, kebangkitan Yesus menjadi indikasi yang paling kuat akan kekudusan-Nya. Kalau Ia melakukan satu dosa saja di dalam perkataan, perbuatan, pemikiran atau mimpi-Nya, kematian akan senantiasa mencengkeram Dia. Tetapi Kristus sudah bangkit dari kematian! Iblis tidak bisa menahan kebangkitan-Nya!

Kristus – Ayatullah yang sebenarnya

Ada dua ayat di dalam Al-Qur’an yang mengatakan bahwa Yesus dan ibu-Nya adalah “tanda dari Allah” bagi dunia ini (Surat al-An­biya 21:91; al-Mu’minun 23:50). Ayat-ayat yang lain juga mengatakan bahwa putera Maryam sendiri itulah tanda bagi manusia (Surat Maryam 19:21). Kata yang diterjemahkan sebagai kata tanda (ajatun) juga berarti suatu mujizat atau tanda yang ajaib. Siapa pun yang membaca kata tanda yang disertai dengan kata Allah akan mendapatkan kata penggabungannya yaitu Ayatullah. Karena kelahiran-Nya yang bersifat supernatural, Kristus dan ibu-Nya disebut sebagai tanda yang ajaib dari Allah. Keberadaan keduanya yang unik bukan hanya menjadi tanda bagi orang Kristen dan orang Yahudi, tetapi juga bagi orang Hindu, Budha, Muslim dan juga ateis. Dia dan ibu-Nya adalah fenomena yang paling agung yang mempengaruhi surga dan neraka, karena Al-Qur’an berbicara mengenai tanda dari Allah bagi dunia ini, baik di bumi sekarang ini maupun yang akan datang!

Kristus adalah Ayatullah yang sebenarnya, karena Dia tidak mendapatkan gelar ini dari sebuah universitas atau karena mempelajarinya, tetapi menerimanya langsung dari Allah. Isa adalah satu-satunya Ayatullah yang diberikan oleh Allah sendiri. Muhammad tidak berani menyandang gelar ini bagi dirinya sendiri, karena ayah dan ibunya dikenal oleh orang-orang di sekitarnya.

Melalui Injil kita bisa memahami ayat ini dengan cara yang berbeda. Yesus mengatakan: “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa” (Yohanes 14:9). Anak Maria adalah gambaran dari Allah yang tidak kelihatan, refleksi dari kemuliaan-Nya dan terang bagi dunia ini. Dia adalah tanda dari Allah yang diberikan kepada semua manusia. Dia sudah menggenapi tujuan yang paling dasar dari penciptaan: “Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia” (Kejadian 1:27). Sampai saat itu tidak ada seorang pun yang berani mengatakan: Barangsiapa yang melihat aku ia melihat Allah, kecuali Yesus, Anak Allah, karena Dia adalah satu dengan Bapa-Nya yang ada di dalam Dia (Yohanes 17:21-24). Dia ingin mengubahkan kita menjadi serupa dengan gambar-Nya. Hal yang membuat kita tidak layak adalah dosa kita, sebagaimana yang dituliskan oleh Paulus: “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan ke-muliaan Allah” (Roma 3:23). Yesus hendak menghapuskan segala dosa kita dan menjembatani kekurangan kita (1 Yohanes 3:1-3). Kesaksian di dalam kehidupan anda seringkali berbicara lebih jelas dibandingkan dengan perkataan anda.

Kristus – rahmat dari Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang!

Isa disebut di dalam Al-Qur’an sebagai rahmat dari Allah (Surat Maryam 19:21). Muhammad sudah mendengar tentang mujizat Yesus, bahwa Dia menyembuhkan orang buta dan kusta, membangkitkan orang mati dan menurunkan makanan dari surga untuk murid-murid-Nya. Bagi Muhammad, Yesus adalah inkarnasi dari rahmat Allah. Ayat ini sangat menggugah sekelompok pengajar Al-Qur’an di kalangan orang Muslim. Beberapa di antara mereka berkata: “Allah adalah yang maha pengasih (al-Rahman), Roh Kudus adalah yang maha penyayang (al-Rahim) dan Kristus adalah rahmat itu sendiri (al-Rahmat).” Putera Maryam membawa di dalam diri-Nya hakekat Allah. Roh yang sama ada di dalam keduanya.

Ayat ini ditulis dalam bahasa Arab dengan menggunakan bentuk jamak. Allah berkata bahwa putera Maryam adalah rahmat dari “Kami”. Karena itu beberapa orang yang menyelidiki kebenaran mengakui bahwa “Kristus adalah rahmat dari Yang Maha Pengasih dan Yang Maha Penyayang”, yang secara tidak langsung menegaskan kesatuan dari Tritunggal Yang Kudus di dalam Al-Qur’an.

Tetapi Muhammad ingin menghentikan penjelasan ini, sehingga ia mengatakan bahwa dirinya juga disebut sebagai rahmat Allah di dalam Al-Qur’an! Bagaimana rahmat Allah bisa dilihat nyata di dalam kehidupan dan karya Muhammad? Semua ayat-ayat di dalam Al-Qur’an dan tradisi darinya secara bersama-sama membentuk suatu Syariat, hukum Islam. Dengan hukum ini, ia berusaha untuk membentuk dan menentukan kehidupan para pengikutnya di dunia ini dan di dalam kekekalan. Namun, setiap hukum pasti memunculkan pertentangan dan kemarahan. Tidak ada seorang pun yang bisa mentaati hukum secara penuh selamanya. Hukum Islam pada akhirnya akan menghakimi seluruh orang Muslim. Muhammad bahkan terpaksa mengatakan bahwa semua orang Muslim akan masuk ke dalam neraka (Surat Maryam 19:71-72).

Namun, Yesus, bukan hanya memberikan suatu hukum yang baru, tetapi memberikan kepada kita rahmat pengampunan. Dia juga memberikan kepada kita kuasa untuk menggenapi hukum kasih-Nya. Ia memberikan kepada kita kemantapan hak untuk menjadi anak-anak Allah, dan memberikan kehidupan kekal-Nya bagi kita. Rahmat Allah di dalam kehidupan Muhammad hanyalah sebuah hukum yang pada akhirnya justru akan menghukum orang Muslim. Rahmat Allah di dalam Yesus Kristus, sebaliknya, adalah anugerah pembenaran yang disertai dengan kuasa Roh Kudus, untuk memampukan kita menggenapi hukum Kristus yang baru – semata-mata atas dasar anugerah!

Sebaik apakah Kristus di dalam Al-Qur’an?

Di dalam Surat Al ‘Imran kita membaca bahwa Isa adalah seorang di antara orang-orang yang saleh (3:46). Di dalam Surat al-An’am kita juga bisa membaca bahwa Abraham, Ishak, Yakub dan Nuh tergolong ke dalam kelompok orang-orang saleh, seperti juga Daud, Sulaiman (Salomo), dan Ayub, Yusuf, Musa dan Harun. Zakaria, Yahya, Ilyas dan Isa tergolong di dalam sekumpulan kelompok orang-orang yang disebut “orang-orang saleh” (6:83-85). Di dalam Al-Qur’an, menjadi orang saleh tidak berarti hidupnya tanpa dosa, tetapi hidup sebagai orang Muslim yang takut kepada Allah.

Yesus pernah sekali membereskan pertanyaan ini di saat Dia menjawab pertanyaan seorang muda yang kaya: “Tak seorang pun yang baik selain dari pada Allah saja” (Markus 10:18). Orang muda ini menyebut Yesus sebagai Guru yang “baik.” Tetapi Yesus mau menaklukkan impian orang muda itu untuk menjadi orang yang baik dalam pandangan religius-humanistiknya, dan menjelaskan kepada pencari kebenaran itu, bahwa kasih Allah yang sempurna adalah satu-satunya ukuran kebaikan manusia. Kita semua memiliki kelemahan, jahat dan tidak murni – kecuali Yesus! Dia ingin menuntun orang muda itu untuk mengerti dan mengakui bahwa Dia, Kristus adalah “satu-satunya orang yang baik”, Allah di dalam daging, kasih yang kudus di dalam rupa manusia.

Tetapi Muhammad menyangkal kenyataan ini dan menyebut Yesus hanya sebagai salah-satu di antara banyak orang saleh. Ketika kita berbicara dengan orang Muslim, kita perlu membawa mereka keluar dulu dari pandangan nilai manusia kepada kasih Allah yang kudus yang menjadi satu-satunya ukuran yang sah. Kalau seseorang mengaku bahwa ia adalah orang yang baik, Muslim yang saleh, kita bisa bertanya kepadanya: “Apakah anda baik seperti Allah itu baik?” Orang itu pasti akan menyangkal, dan kemudian anda bisa menunjukkan ketidaksempurnaannya sebagai dosa yang sangat mendasar.

Kristus – orang yang lemah lembut dan benar

Di dalam Surat Maryam Isa disebut “berbakti kepada ibu-Nya, dan Dia tidak bukan seorang yang sombong (raksasa) lagi celaka (kejam)” (Surat Maryam 19:32). Karakteristik Kristus yang ditulis di dalam Al-Qur’an ini secara tidak langsung merefleksikan karakter-Nya yang sebenarnya. Kristus bukan hanya saleh dan benar, Dia adalah pembenar itu sendiri, kekudusan Allah yang menjadi manusia. Dalam penjelasan Al-Qur’an ini karakteristik Yesus sangat nyata.

Muhammad memahami bahwa Isa bukanlah raksasa, yang ditakuti semua orang (jabbar), bukan penakluk yang tidak terkalahkan (qahhar) sebagaimana Allah digambarkan di dalam Islam, tetapi Dia adalah lemah lembut dan rendah hati. Dia tidak berusaha memperoleh apa yang diinginkan-Nya dengan cara paksa. Dia tidak pernah mengambil bagian di dalam satu pun serangan atau peperangan, seperti yang dilakukan oleh Muhammad sebanyak 29 kali. Dia bahkan memberi perintah kepada Petrus: “Masukkan pedang itu kembali ke dalam sarungnya, sebab barangsiapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang” (Matius 26:52). Dia lebih memilih mati bagi musuh-musuh-Nya, daripada harus membunuh mereka. Kristus adalah manusia yang penuh kasih, penuh rahmat dan belas kasihan. Dia menolong orang miskin dan orang sakit dan tidak terlebih dahulu memperhatikan orang yang kaya dan berkuasa. Dia berkata: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.” (Matius 11:28-30).

Kristus – Yang diberkati, di mana saja Dia berada

Gelar Kristus di dalam Al-Qur’an ini menjadikan Dia sebagai sumber dari segala berkat Allah yang tidak akan pernah ada habisnya (Surat Maryam 19:31). Kebenaran ini berkaitan dengan penjelasan di dalam surat Paulus kepada jemaat di Efesus: “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga” (Efesus 1:3).

Ayat di dalam Al-Qur’an mengenai Kristus yang diberkati sudah menggerakkan banyak orang Muslim di India dan Pakistan untuk mendatangi orang-orang Kristen di sekitar mereka dan meminta didoakan agar mereka disembuhkan oleh Kristus yang hidup. Di dalam ayat ini kita membaca bahwa Kristus bukan hanya bisa memberkati, me-nyembuhkan dan menyelamatkan dunia ini, tetapi juga bisa melakukan hal ini di dunia yang akan datang sesudah kenaikan-Nya. Orang Kristen di Asia tidak langsung meresponi permintaan orang-orang Muslim itu tetapi menjawab: “Doa kami untuk anda tidak bernilai apa-apa kecuali kalau anda sungguh-sungguh percaya kepada Kristus, bertobat dari dosa-dosa anda dan meminta pengampunan kepada Kristus.” Orang-orang Muslim yang meminta pertolongan itu biasanya dengan cepat menjawab: “Kami percaya kepada Isa, roh Allah yang menjadi daging, yang menyembuhkan orang sakit dan membangkitkan orang mati. Dia juga bisa menyembuhkan pada saat ini, karena Dia berdiam bersama dengan Allah dan memberkati semua orang yang datang kepada-Nya.” Dan tentu saja Yesus Kristus menghargai iman mula-mula dari beberapa orang Muslim, dan kemudian menyembuhkan serta menolong mereka di dalam kesusahan mereka. Di dalam Dia ada rahmat yang berlimpah. Dia memiliki kuasa Allah. Siapa pun yang percaya kepada-Nya, meski imannya hanya sekecil biji sesawi, dan berseru: Berikan rahmat kepadaku! bisa mengalami rahmat dan berkat dari Tuhan dan Juruselamat kita yang hidup.

Apakah Isa hanya seperti Adam?

Muhammad menyebut Isa dengan 25 nama dan gelar yang berbeda di dalam Al-Qur’an. Kebanyakan dari nama-nama itu merupakan penghormatan kepada putera Maryam melebihi segala sesuatu dan meninggikan Dia secara lebih tinggi dibandingkan dengan semua nabi Allah dan utusan-Nya. Namun, Muhammad bersaksi demikian tentang Kristus hanyalah untuk menarik orang-orang Kristen di sekitarnya kepada Islam, yaitu dengan menjadikan Islam nampak sebagai agama yang mirip dengan kekristenan.

Agar tidak membuat orang-orang Musim bingung, sehing-ga mereka tidak meninggalkan Islam dan berbalik kepada kekristenan, ia harus membuat Isa, yang ditinggikannya sendiri, turun sampai ke tanah di dalam pandangan Islam! Setelah tiga hari pembicaraan di Medinah dengan uskup dan raja Wadi Nadjran beserta dengan kelompok 60 orang Kristen berbahasa Arab, Muhammad menyimpulkan argumentasi terdahulunya tentang Kristus dalam sebuah ayat yang menyedihkan:

Sesungguhnya misal (penciptaan) ‘Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia), maka jadilah dia. (Apa yang telah Kami ceritakan itu), itulah yang benar, yang datang dari Tuhanmu, maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu!” (Surat Al ‘Imran 3:59-60)

Ayat ini sering diulangi oleh orang-orang Muslim untuk menekankan bahwa Isa bukan satu-satunya yang dilahirkan tanpa ayah, Adam, juga, diciptakan oleh firman Allah, dan Hawa dari salah satu tulang rusuk Adam. Dengan demikian kelahiran Kristus tidak bisa dianggap unik.

Tetapi argumentasi ini tidak tepat dan dangkal. Menurut Al-Qur’an Isa tidak diciptakan dari tanah, seperti Adam, dan bukan oleh sebuah perintah dari Allah, tetapi diperanakkan dari Roh Allah di dalam diri Maryam. Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa, menurut Al-Qur’an, tetapi Isa tidak. Adam dan Hawa diusir dari Firdaus dan mati terpisah dari Allah. Tetapi putera Maryam hidup bersama dengan Allah, bahkan Al-Qur’an juga menuliskan demikian. Ketika kita mengikuti penjelasan kitab orang Muslim itu kita bisa melihat bahwa tidaklah tepat untuk mengatakan bahwa Isa itu seperti Adam, karena Adam diciptakan dari tanah, sedangkan Isa adalah Roh dari Allah dalam rupa manusia.

Alkitab bersaksi beberapa kali bahwa Yesus menjadi manusia dan bahkan menjadi seorang anak. Dia menjadi serupa dengan Adam dan dicobai sama seperti kita, tetapi tetap tidak memiliki dosa. Yesus menyebut diri-Nya sebagai saudara kita. Pada saat yang sama Dia adalah Tuhan atas alam semesta dan Allah yang benar dari segala allah. Dia adalah anak Abraham dan anak Daud. Tetapi, yang paling utama, Dia adalah Anak Allah dan hidup dalam kesatuan yang penuh dengan Bapa-Nya. Yesus, dengan demikian, adalah sungguh-sungguh manusia dan sungguh-sungguh Allah. Kepercayaan ini memang tidak logis, tetapi rohaniah. Intelek kita tidak akan bisa menangkap misteri ini tanpa penerangan dari Roh Kudus! Kita harus bersabar dengan orang Muslim kalau mereka tidak bisa dengan cepat memahami kebenaran ganda dan realitas supernatural Kristus ini di dalam diri mereka. Berdoalah bagi orang Muslim yang tertarik, dan pelepasannya dari roh anti-Kristus juga sama pentingnya dengan kesaksian yang dipimpin oleh Roh Kudus yang kita minta di dalam doa kita.

Kristus – hamba Allah?

Di dalam Al-Qur’an, Isa memperkenalkan dirinya sebagai “hamba Allah (Abdullahi)” di dalam salah satu dari dua perkataannya sebagai seorang bayi yang baru lahir (Surat Maryam 19:30). Beberapa kali Muhammad menyebut Isa dengan gelar ini (Surat al-Nisa 4:172; Maryam 19:93; al-Zukh­ruf 43:59). Dalam segala keadaan ia ingin melenyapkan keilahian Isa dari dalam benak semua orang Muslimnya.

Dengan cara penurunan derajat ini Muhammad membuat Kristus semakin menjadi seperti yang dijanjikan oleh Allah mengenai hamba-Nya yang terpilih di dalam Yesaya pasal 40 sampai 66. segala sesuatu yang dinyatakan di sana tentang hamba Allah bisa dijelaskan bagi Isa sebagai hamba Allah. Penjelasan tentang seseorang yang menanggung aniaya – menurut Yesaya 53:4-12: Dia menanggung ke atas diri-Nya segala kelemahan dan penghukuman kita – bisa menerangi hati orang Muslim. Tetapi di dalam teks tersebut kita tidak akan membaca perkataan “Anak Allah”, atau kata “salib”. Karena alasan inilah orang Muslim bisa menerima dan memahami janji tentang hamba Allah. Rasul Paulus menjelaskan janji yang agung di dalam Yesaya 53 dalam pujiannya kepada Kristus melalui suratnya kepada jemaat di Filipi sebagai suatu janji yang sudah digenapi: “…Kristus Yesus… mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah (bahkan termasuk Muhammad!) mengaku, “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa” (Filipi 2:7-11).

Isa – seorang nabi, menurut Al-Qur’an

Muhammad terus mengislamkan putera Maryam dan satu kali menyebut dia sebagai seorang nabi (Surat Maryam 19:30). Sebelumnya, ia sudah mendeskripsikan Dia lima kali sebagai rasul Allah dan firman-Nya. Tetapi dengan pemberian gelar sebagai nabi ini ia ingin menjelaskan bahwa Isa tidaklah lebih tinggi dari dirinya. Dalam keadaan apapun ia tidak ingin menjadi lebih rendah dibandingkan dengan Kristus.

Al-Qur’an menyebutkan beberapa nama nabi dari dalam Perjanjian Lama. Di dalam tradisi Muslim Muhammad berbicara mengenai 200.000 nabi Allah, tetapi tidak menyebutkan nama-nama mereka. Mereka semua memberitakan kabar baik dari Allah (Surat al-Baqara 2:213; al-An’am 6:61) dan peringatan akan penghakiman dari-Nya (Surat al-Baqara 2:213 dst). Mereka dianiaya dan dibunuh (Surat al-Baqara 2:61, 87, 91; Al ‘Imran 3:21, 112, 113, 181, 183; al-Nisa 4:155, 157; al-Ma’ida 5:70). Menurut Al-Qur’an, Isa mengikuti jejak langkah mereka (Surat al-Ma’ida 5:46).

Gelar Isa sebagai nabi memberikan kepada kita kesempatan untuk memperkenalkan kesaksian tentang Kristus di dalam Injil: “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi” (Matius 5:17-18).

Posisi Isa sebagai nabi di dalam Islam bisa menolong untuk mengatasi tuduhan dari orang-orang Muslim bahwa Perjanjian Lama sudah diubahkan!

Yesus hidup – dekat dengan Allah!

Anehnya, Muhammad tidak bisa menyangkal eksistensi kekekalan Kristus. Ia bersaksi dua kali bahwa Allah sudah mengangkat Yesus kepada diri-Nya (Surat Al ‘Imran 3:55; al-Nisa 4:158). Isa juga dianggap sebagai “(orang) yang sangat dihormati di dunia ini dan dunia yang akan datang” dan “orang yang dibawa mendekat (kepada Allah)”. Muhammad sangat cerdik. Setelah menjelaskan bahwa Isa tidak mati di Kayu Salib, ia mengatakan bahwa Allah mengangkat Yesus kepada-Nya ke dalam surga (Surat Al ‘Imran 3:55; al-Nisa 4:158).

Sungguh mengejutkan! Al-Qur’an sendiri menegaskan: Yesus hidup! Ia tidak mati! Pernyataan legal (fatwa) dari Arab Saudi menegaskan di jaman ini bahwa Isa naik kepada Allah dalam tubuh, dengan jiwa dan roh-Nya. Dia berada di antara hamba-hamba yang Maha tinggi di surga. Dia memiliki “wajah kemuliaan” sebagai orang yang sangat dihormati. Tidak ada seorang pun yang dapat masuk ke surga tanpa melalui Kristus. Beberapa penasihat rohani mengatakan bahwa pernyataan ini (wajihun) membuat kita bisa mengatakan bahwa Kristus adalah Perantara kita, imam besar dan pembela bagi para pengikut-Nya, yang berpegang teguh kepada perjanjian dengan Allah (Surat al-Ahzab 33:7).

Kristus, menurut Al-Qur’an, berdiri di depan seperti penghulu malaikat, Jibril, kerubim dan serafim. Cahaya yang menembus dari Allah tidak menghancurkan-Nya karena Dia adalah roh Allah dan hidup di dunia ini tanpa melakukan dosa. Muhammad menerima banyak ide dari doktrin Kristen kita. Tetapi ia tidak pernah menerima bahwa Kristus duduk di atas tahta bersama dengan Bapa-Nya (Wahyu 3:21). Ia membuat Isa dibawa mendekat kepada tahta itu, dan sangat dekat, tetapi tidak pernah duduk di atas tahta dengan Bapa-Nya. Ini sesuatu yang sangat khas dilakukan Muhammad: Ia menerima kebenaran 90 sampai 95 persen, tetapi dengan cerdiknya menyimpangkan hal-hal yang sangat penting (Daniel 7:13-14).

Sebagai tambahan, kita membaca di dalam Al-Qur’an adanya permintaan yang sangat mendesak bahwa Allah, seluruh malaikat, Mikhael dan Jibril perlu berdoa untuk Muhammad bersama-sama dengan semua orang Muslim yang percaya kepadanya, supaya jiwanya mendapatkan ketenangan di tempat perantaraan (barzakh) (Surat al-Ahzab 33:56). Namun, menurut Injil hal itu sangat berbeda dengan Kristus, di mana Dia berdoa untuk para pengikut-Nya, bukan mereka yang berdoa untuk-Nya. Yesus hidup – Muhammad mati! Ini adalah akhir yang sangat menarik dari dua pribadi yang sangat berpengaruh di dunia ini! Barang siapa mengikut Yesus, mengikuti agama kehidupan! Barangsiapa mengikut Muhammad, sedang mempercepat diri menuju ke tangan kematian.

Dialog di dalam Al-Qur’an antara Allah dan Kristus di Surga

Di dalam surat al-Ma’ida kita membaca adanya dialog antara Allah dan Kristus di surga setelah Isa mati dengan tenang dan Allah sudah mengangkat-Nya kepada diri-Nya (Surat al-Ma’ida 5:116-118). Ketika Kristus sampai di surga Yang Mahamulia bertanya kepada-Nya apakah Dia mengajari para pengikut-Nya untuk memuja ibu-Nya dan juga diri-Nya bersama-sama dengan Allah sebagai suatu tritunggal (palsu). Kristus secara benar menolak tuduhan yang sangat kritis di dalam Al-Qur’an ini dan memperlihatkan kebenaran atas beberapa penyimpangan Islamiyah terhadap kerohanian-Nya yang sesungguhnya.

Namun, di dalam kesaksiannya Kristus menyebut Allah sebagai saksi dan penjaga dari pengikut-Nya yang telah ditinggalkan-Nya, sebagaimana Kristus sendiri adalah saksi dan penjaga mereka sebelumnya. Di dalam dialog surgawi tersebut, Allah dan Kristus memiliki gelar yang sama, sahid. Kita bisa menganggap Mazmur 23 sebagai sumber dari pernyataan ini, di mana Daud mengatakan, “Tuhan adalah gembalaku!” Dengan cara yang sama, Yesus bersaksi di dalam Injil bahwa Dia sendiri adalah Gembala yang Baik yang memberikan nyawa-Nya untuk domba-domba-Nya (Yohanes 10:11). Di dalam Islam, Isa bahkan memiliki beberapa sebutan yang sama dengan Allah (Surat al-Nisa 4:159)! Di dalam Al-Qur’an, penyebutan ilahi seperti itu tidak akan diterapkan bagi semua makhluk fana yang lainnya.

Kristus – pengetahuan tentang hari kiamat!

Di kedalaman hati mereka, orang-orang Muslim takut kepada hari kebangkitan, karena saat itulah Allah akan datang untuk menghakimi perbuatan mereka. Kristus memegang peranan yang sangat penting di dalam eskatologi Muslim. Beberapa kali di dalam tradisi disebutkan bahwa Isa akan datang kembali untuk menghancurkan sang anti-Kristus, membunuh semua penjahat di dunia ini dan menghancurkan semua salib baik yang ada di gereja maupun di kuburan. Setelah itu ia akan menikah dan memiliki anak-anak. Sebagai pembaharu Islam, ia akan mentobatkan semua umat manusia, termasuk orang-orang Kristen (Surat al-Nisa 4:159), kepada Al­lah. Setelah ia menggenapi tugasnya ia juga akan mati, dan akan dikuburkan di antara Muhammad dengan Abu Bakar di Medinah. Saat itu akan menjadi hari yang terpenting di masa yang akan datang, karena pada saat itu Allah akan datang untuk menghakimi dunia. Ia akan membangkitkan Muhammad dan Isa, mendudukkan keduanya di atas tahta dan membiarkan mereka berpartisipasi di dalam penghakiman dunia. Muhammad akan menghukum orang Muslim yang tidak bershalat, berinfaq atau berjihad, sementara Isa akan menghukum semua orang Yahudi dan orang Kristen yang tidak mau menerima Islam.

Saat yang paling penting ini, yaitu saat kematian Kristus setelah kedatangan-Nya yang kedua kali, disebut, di dalam Al-Qur’an, sebagai “pengetahuan tentang hari kiamat” (Surat al-Zukhruf 43: 61), karena saat itu dianggap sebagai masa awal dari akhir jaman ini.

Seorang peserta katekisasi wanita di Indonesia, yang sebelumnya mengajarkan agama Islam di sekolah-sekolah pemerintah, mengakui: “Ketika saya harus menjelaskan kepada murid-murid saya tentang prinsip Islam mengenai akhir jaman saya menjadi sangat terganggu karena Isa yang lemah, dan yang lemah lembut akan kembali untuk membinasakan sang anti-Kristus! Tidak ada penjelasan sama sekali mengenai peranan Muhammad, sang nabi-pejuang, di masa akhir jaman! Saya ingin melihat Muhammad sebagai pemenang dan bukannya putera Maryam itu! Namun, saya berpikir bahwa kalau Kristus memang sungguh-sungguh akan datang kembali dari surga, lebih baik saya mempersiapkan diri untuk kedatangan-Nya. Saya merasa harus membaca tentang apa yang akan ditanya-Nya, apa yang diperintahkan-Nya dan apa yang dilarang-Nya. Dengan demikian doktrin Islam mengenai kembalinya Kristus sudah membawa saya kepada Injil dan menolong saya untuk bertemu dengan Juruselamat sejati itu melalui Firman-Nya.” Hari ini wanita itu menjadi seorang pengajar Kristen yang setia dan memberi kesaksian tentang Yesus yang sesungguhnya dan kedatangan-Nya yang akan segera terjadi.

Apakah kekurangan Isa di dalam Al-Qur’an?

Di masa sinkretisme sekarang ini kita jangan pernah sampai membiarkan kemegahan nama dan gelar Kristus di dalam Al-Qur’an membutakan kita, tetapi kita justru harus menggunakannya sebagai titik awal dalam percakapan pelayanan kita kepada orang Muslim untuk dapat menuntun mereka kepada kepenuhan Injil. Kristus di dalam Islam tidak memiliki kuasa untuk menyelamatkan seorang Muslim pun atau untuk menjadikan dia seorang yang dilahirkan kembali!

Kita harus memahami bahwa di dalam Al-Qur’an semua gelar tentang keilahian Kristus dan kemahakuasaan-Nya dihilangkan. Tidak ada satu penulisan pun tentang pengorbanan-Nya yang menggantikan kita di kayu salib dan juga tentang kedaulatan-Nya sebagai Imam Besar. Juga tidak ada satu pun penyebutan tentang pencurahan Roh Kudus. Kristus di dalam Al-Qur’an sama sekali tidak dijelaskan sebagai sumber dari kehidupan kekal, dan juga tidak disebutkan sebagai kepala gereja. Bagian yang kedua dan ketiga dari pengakuan iman kita seperti yang tertulis di dalam Kredo Nicene sama sekali dihilangkan di dalam Islam! Muhammad tidak bisa menangkap hubungan rohani antara Kristus dengan gereja-Nya. Karena itu kita bisa menggunakan nama Kristus yang disebutkan di dalam Al-Qur’an sebagai batu loncatan dan jembatan untuk menjelaskan Injil yang lengkap kepada keturunan Ismael itu.

Kristus – Raja Damai

Tujuan dari perbandingan nama dan gelar Kristus di dalam Alkitab dan di dalam Al-Qur’an bukanlah sekedar untuk menekankan tentang kemungkinan pelayanan yang untuk berbicara dengan orang Muslim, tetapi juga untuk menunjukkan betapa khususnya karakter dari pribadi Yesus Kristus di dalam kedua agama ini. Dia adalah pribadi yang terbesar yang pernah hidup di dalam dunia – bahkan menurut Al-Qur’an sekalipun. Muhammad tidak bisa menyangkal fakta bahwa putera Maryam itu memang manusia pembawa damai. Nabi dari Arab itu membuktikan dirinya sebagai seorang pemimpin perang. Banyak darah di tangannya. Muhammad sangat terkesan oleh pengaruh yang ditimbulkan oleh Kristus bagi para pengikut-Nya walaupun Dia bersifat lemah-lembut. Dia membuatnya berkata di dalam Surat Maryam: ”Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali” (Surat Maryam 19:33).

Sejak kelahiran sampai kepada kematian-Nya dan bahkan di dalam kebangkitan-Nya perkenanan Allah berdiam dan akan tetap ada di dalam diri putera Maryam itu. Kristus mengadakan perdamaian antara Allah dengan manusia. Dia mengasihi musuh-musuh-Nya. Dia memilih untuk mati menggantikan mereka dibandingkan dengan harus membunuh mereka. Yesus sangat lemah lembut dan rendah hati. Dia tidak pernah menonjolkan diri-Nya dengan cara paksa. Ia menjadi Pemenang melalui iman-Nya, kasih-Nya, kesabaran-Nya dan pengharapan-Nya. Karena itu orang Muslim mengucapkan perkataan, “Damai sejahtera atasnya!” (as-salamu ‘alayhi) setiap kali mereka menyebut nama-Nya. Mereka mengetahui bahwa Kristus adalah raja damai yang sejati. Namun, orang-orang Muslim mengenakan perkataan itu untuk menghormati nabi-nabi yang lain juga. Bedanya adalah bahwa nabi-nabi yang lain menerima damai itu secara pasif saja. Kristus sendirilah yang menjadi sumber dari kedamaian itu. Di dalam Injil Ia menyatakan: “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu” (Yohanes 14:27). Dia mampu mengubah para pengikut-Nya menjadi para pembawa damai yang aktif (Matius 5:9).

Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus

(Yohanes 17:3)

25 Nama dan Gelar Isa, putera Maryam, di dalam Al-Qur’an

Nama atau gelar Isa

Frekuensi

Referensi

Isa

25

2:87.136.253; 3:45.52. 55.59.84; 4:157.163. 171; 5:46.78.110.112. 114.116; 6:85; 19:34; 33:7; 42:13; 43:63; 57:27; 61:6.14

Putera Maryam

23

2:87.253; 3:45; 4:157. 171; 5:17(2X).46.72.75. 78.110.112.114.116; 9:31; 19:34; 23:50; 33:7; 43:57; 57:27; 61:6.14

Kristus (Al Masih)

11

3:45; 4:157.171.172; 5:17 (2X).72 (2X). 75; 9:30.31
Rasul Allah

5

3:49; 4:157.171; 5:75; 6:61

Utusan-Nya secara umum

3

2:87.253; 57:27; dst.
Kalimat Allah

4

3:39.45.64; 4:171
Perkataan yang benar

1

19:34

Hamba Allah

4

4:172; 19:30.93; 43:59

Roh dari Allah

3

4:171; 21:91; 66:12
Tanda bagi manusia

3

19:21; 21:91; 23:50

Salah satu di antara orang saleh

2

3:46; 6:85

Seperti Adam

2

3:59; 43:59

Seorang Saksi

2

4:159; 5:117

Anak laki-laki yang suci

1

19:19

Rahmat dari Allah

1

19:21

Nabi

1

19:30

Salah satu nabi

16

2:61.91.136.177.213; 3:21.80.81.112.181; 4:69.155.163; 17:55; 33:7; 39:69; dst.
Pemberi kabar gembira

2

2:213; 6:61; dst.

Ia membenarkan Taurat

2

5:46; 61:5
Pemberi peringatan

1

2:213; dst.
Berbakti kepada ibunya

1

19:32

Bukan seorang yang

celaka

1

19:32
Diberkati, di mana sajaia berada

1

19:31

Terkemuka di dunia dan akhirat

1

3:45

Dibawa mendekat

kepada Allah

1

3:45
Pengetahuan tentang hari kiamat

1

43:61
Kesejahteraan diatasnya

1

19:33

35 Nama Yesus Kristus di dalam Alkitab (diurutkan berdasarkan frekuensi pemakaian)

Nama Yesus Frekuensi

Yesus                     975

Kristus                   569

Tuhan                    216

Anak Manusia     80

Anak Allah           59

Tuan                       56

AKU                        50

Anak Domba Allah 33

Raja                        33

Guru                      27

Juruselamat       26

Kehidupan          20

Yang Akan Datang 20

Manusia              19

Anak                     18

Nabi                      16

Terang                  13

Anak Daud           10

Hamba Tuhan    10

Daging                  10

Yang Kudus         10

Yang Adil             10

Imam Besar          10

Kepala Gereja     10

Yang Mahakuasa 10

Yang Mahamulia 10

Pembela                   9

Batu Penjuru         9

Hakim                      8

Pendamai               8

Yang Ditinggikan 8

Kuasa                       8

Serupa dengan Allah 7

Utusan Yang berkuasa 7

Yang Teraniaya           6

Ke-35 nama dan gelar dari Yesus Kristus ini dipilih dari antara 250 nama dan gelar-Nya di dalam Alkitab (diambil berdasarkan terjemahan dari Alkitab bahasa Jerman yang diterjemahkan oleh Dr. Martin Luther). Daftar ini bisa saja berubah, karena tentu saja akan ada perbedaan dalam frekuensi sehubungan dengan penerjemahan yang berbeda.

K U I S

Pembaca yang kekasih!

Apabila anda sudah mempelajari buklet ini dengan seksama, anda akan bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan mudah. Setiap orang yang menjawab 90 persen dari semua pertanyaan di dalam kedelapan buklet dari seri ini, akan mendapatkan sertifikat dari kantor pusat kami di

Studi Lanjutan

Cara-cara yang dapat membantu untuk berbicara dengan orang Muslim tentang Yesus Kristus

sebagai dorongan untuk masa depan pelayanannya bagi Kristus.

  1. Berapa banyak nama, gelar, dan sebutan bagi Kristus yang bisa ditemukan di dalam Alkitab dan berapa banyak yang ada di dalam Al-Qur’an?
  2. Apakah arti nama Isa bagi orang Muslim dan berapa kali nama itu muncul di dalam Al-Qur’an? Mengapa para misionaris asing sering menggunakan nama ini sementara orang Kristen Arab justru menghindari pemakaian nama ini? Mengapa Isa tidak sama dengan Yesus? Berapa lama kita bisa menggunakan nama Isa dalam percakapan kita dengan orang Muslim sampai kita membimbing mereka kepada Yesus yang sesungguhnya?
  3. Berapa kali gelar Kristus (Al-Masih) muncul di dalam Al-Qur’an? Apakah arti gelar ini bagi orang Muslim dan apa artinya bagi orang Kristen? Bagaimana Kristus sendiri menjelaskan tentang gelar ini di dalam Injil?
  4. Apa yang terkandung di dalam gelar utusan atau duta (rasul) sebagaimana yang dipakai oleh Al-Qur’an untuk Kristus? Mengapa Muhammad menolak gelar “Raja” dan “Tuhan” bagi Kristus, meskipun ia juga memiliki kesalahpahaman politik akan kedatangan Kristus?
  5. Mengapakah putera Maryam di dalam Islam tidak pernah bisa disebut Anak Allah? Bagaimana mungkin orang Muslim bisa mengakui kelahiran Kristus dari seorang anak dara Maria sementara pada saat yang sama secara tegas menolak keilahian-Nya?
  6. Dua bagian dari Kredo Nicene yang mana yang secara jelas menjadi tanda perbedaan antara Islam dengan Kekristenan dalam kerangka pemahaman mereka tentang Kristus?

  7. Mengapa Kristus menyebut diri-Nya Anak Manusia sebanyak 80 kali di keempat Injil sementara Dia jarang dan sering menggunakan cara terselubung dalam menyebutkan diri-Nya sebagai Anak Allah?
  8. Apa yang dipikirkan atau dibayangkan oleh seorang Muslim ketika ia membaca di dalam Al-Qur’an bahwa Kristus adalah Firman dari Allah atau Perkataan-Nya? Dengan pemahaman Alkitabiah yang manakah penjelasan Al-Qur’an ini bisa diisi?
  9. Mengapa Muhammad berani menyebut Kristus sebagai Roh dari Allah yang turun kepadanya dan akan kembali kepadanya?
  10. Apa sebabnya Roh Kudus tidak mungkin ada di dalam pengajaran Islam seperti Ia ada di dalam pengajaran Injil?
  11. Bagaimana kita bisa menggunakan makna dari istilah Al-Qur’an zakiy (suci) bagi Isa bahwa ia memang tanpa cacat dan tidak memiliki dosa sejak kecilnya? Apa yang bisa kita jelaskan kepada orang Muslim dengan pertolongan istilah ini?
  12. Apa gunanya perkataan Al-Qur’an bahwa Isa adalah satu-satunya Ayatullah manusia yang dipilih oleh Allah di dalam sejarah dunia ini bagi kesaksian kita di antara orang Muslim?
  13. Jalan apa yang dibukakan oleh Al-Qur’an bagi kita dengan menjelaskan bahwa Kristus adalah inkarnasi dari rahmat Allah?
  14. Seberapa baiknyakah Kristus di dalam Al-Qur’an dengan melihat bahwa Muhammad menjelaskan dia sebagai salah satu di antara orang-orang saleh? Bagaimana kita bisa menunjukkan kepada orang Muslim bahwa putera Maryam itu sama baiknya dengan Allah?
  15. Apa yang dikatakan Al-Qur’an ketika di sana disebutkan bahwa Isa berbakti (berbuat yang benar) kepada ibunya? Apakah ada cara untuk menunjuk kepada kebenaran Allah dengan menggunakan istilah ini?
  16. Bagaimanakah kita bisa mengubahkan kalimat negatif di dalam Al-Qur’an bahwa Kristus bukan seorang yang sombong dan celaka dan kemudian mengubahkan kalimat ini menjadi pernyataan positif yang ada di dalam Injil?
  17. Apakah kesaksian Al-Qur’an mengenai arti Isa, ketika dijelaskan bahwa ia diberkati di mana saja ia berada, di bumi ini dan juga di akhirat?
  18. Mengapa Muhammad menyimpulkan kesaksiannya tentang Kristus di dalam sebuah pernyataan bahwa Kristus adalah seperti Adam? Apa yang salah dari penegasan ini kalau dibandingkan dengan penjelasan lain di dalam Al-Qur’an sendiri tentang Isa?
  19. Bagaimana kita bisa mengisi gelar di dalam Al-Qur’an tentang Kristus sebagai “Hamba Allah” (Abdullahi) dengan Injil yang penuh? Di bagian Alkitab yang mana Yesus disebut sebagai Budak (atau Hamba) Tuhan?
  20. Mengapa Isa di dalam Al-Qur’an bukanlah hanya sekedar salah satu di antara para nabi tetapi merupakan suatu pribadi yang unik dan menonjol? Jelaskan rahasia ini secara singkat.
  21. Bagaimana mungkin Muhammad mengakui bahwa Kristus sangat ditinggikan di dunia dan di akhirat dan bahwa Ia hidup dekat dengan Allah setelah ia diangkat kepadanya?
  22. Apakah makna dari dialog di dalam Al-Qur’an antara Allah dengan Kristus sesudah ia diangkat? (Surat al-Ma’ida 5: 116-118) Mengapa Kristus diberi gelar yang sama dengan Allah (sebagai shaheed = peneliti, saksi)?
  23. Bagaimana orang Muslim membayangkan bahwa awal dari hari penghakiman secara jelas akan tergantung kepada kedatangan Kristus yang kedua kali?
  24. Ayat-ayat apa di dalam Al-Qur’an yang bisa anda kutip untuk menjelaskan bahwa Yesus adalah satu-satunya Raja Damai, pembuat damai yang sesungguhnya dan satu-satunya Muslim sejati di dunia ini?
  25. Gelar Alkitabiah penting yang manakah yang sungguh-sungguh dihilangkan di dalam Al-Qur’an? Mengapa hal demikian terjadi?
  26. Sampai seberapa jauh masih bisa diperbolehkan dan layak bagi kita untuk mengisi nama-nama, gelar dan sebutan di dalam Al-Qur’an mengenai Kristus dengan makna yang penuh dari Injil untuk istilah-istilah itu?

  27. Mengapa orang Muslim sangat kesulitan untuk memahami terminologi Kristen seperti saat kita berbicara mengenai keselamatan dan juruselamat? Mengapa banyak kesaksian orang-orang Kristen yang tidak terpahami oleh mereka?
  28. Sampai seberapa jauh Yesus dan murid-murid-Nya menyesuaikan kesaksian mereka kepada kehidupan dan pemikiran praktis orang-orang Yahudi dan orang-orang non Yahudi supaya bisa menjelaskan seluruh kebenaran Injil kepada mereka? Bagaimana Paulus menjadi orang Yahudi bagi orang-orang Yahudi dan menjadi orang non Yahudi bagi orang-orang non Yahudi? Apakah tujuan yang paling penting dari cara pewartaan Alkitabiah ini?

Setiap peserta kuis ini boleh menggunakan buku apa saja yang tersedia dan bertanya kepada orang yang layak dipercaya dan dikenalnya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini. Kami menantikan jawaban tertulis anda termasuk alamat lengkap anda di atas selembar kertas atau melalui e-mail anda. Kami berdoa kepada Yesus, Tuhan yang hidup, agar Ia memanggil, mengutus, membimbing, menguatkan, melindungi dan beserta dengan anda di dalam kehidupan anda setiap hari!

Rekan anda dalam melayani Dia

Abd al-Masih dan saudara-saudaranya di dalam Tuhan

Kirimkan jawaban anda ke GRACE AND TRUTH P.O.Box 1806 70708 Fellbach GERMANY

atau dengan e-mail ke: info@grace-and-truth.net

About these ads