Bagaimana Kita Bisa Menggunakan Apa Yang Dikatakan Al-Qur’an Tentang Kristus?

Mujizat-mujizat Kristus – tanda misi ilahi-Nya?

Muhammad ingin membawa orang-orang Kristen di Semenanjung Arabia untuk menjadi Islam. Jadi ia menyaksikan kepada mereka apa yang didengarnya tentang Yesus dari para budak Kristen, dari utusan gereja-gereja di Yaman Utara, dari para pengembara dari Etiopia, dan dari sahabat-sahabat Hanifnya, sekarang orang-orang Kristen. Muhammad sangat terkesan dengan Putera Maryam dan segala mujizatnya. Ia menyadari bahwa mujizat ini melebihi kuasa manusia dan karena itu ia menganggap hal itu sebagai bukti (bayyinaat) dari otoritas keilahian-Nya (Surat al-Baqara 2:87, 253; al-Ma’ida 5:110; al-Zukhruf 43:63; al-Saff 61:6).

Muhammad menyebutkan sembilan mujizat yang dilakukan Musa di Mesir, yang disebutnya juga sebagai bukti (Surat al-Isra’ 17:101; lihat juga Surat al-Baqara 2:92; al-Qasas 28:36; al-‘Ankabut 29:39). Tetapi mujizat-mujizat yang dilakukan Musa adalah serangkaian hukuman oleh Allah yang diturunkan kepada Mesir supaya mereka melepaskan anak-anak Yakub yang mereka perbudak. Mujzat Yesus di dalam Al-Qur’an, justru, muncul secara positif sebagai berkat-berkat dari Allah untuk membawa bangsa Israel percaya dan taat kepada Isa.

Muhammad memiliki kekurangan di dalam keadaan bahwa ia sendiri tidak bisa melakukan mujizat baik yang positif maupun yang negatif. Ia tidak bisa memahami mengapa orang Yahudi begitu keras hati dan tidak mau menerima bukti yang sangat nyata tentang Putera Maryam, dan justru menolak serta membenci-Nya.

Bukti-bukti mengenai Kristus (bayyinaat)

● Dalam Surat al-Baqara kita membaca bahwa Isa tidak bisa melakukan mujizat tanpa pertolongan dari Rohulqudus (Surat al-Baqara 2:87). Muhammad membayangkan bahwa Allah mengutus Jibril (Gabriel) untuk menguatkan Putera Maryam supaya ia bisa melakukan mujizat-mujizat besar. Muhammad mengatakan di dalam pernyataannya itu bahwa Yesus tidak bisa melakukan mujizat sendiri. Untuk melakukannya Ia membutuhkan pertolongan utusan Allah, yang disebutnya sebagai Rohulqudus.

Nama itu sering secara salah disamakan dengan “Roh Kudus.” Di dalam Al-Qur’an Allah sendirilah yang disebut “Kudus”, dan roh itu hanyalah hamba-Nya. Roh dari Yang Kudus tidak kudus daridirinya sendiri dan tidak memiliki hakekat ilahi. Ia hanyalah ciptaan dari Yang Mahakuasa. Roh di dalam Al-Qur’an ini jangan sampai disamakan dengan Roh Kudus yang ada di dalam Alkitab, meskipun Muhammad menganggap bahwa roh dari yang Mahakudus itu sama dengan Roh Kudus yang sesungguhnya yang menguatkan Putera Maryam. Jadi Muhammad kelihatannya memiliki pengakuan secara tidak langsung akan kesatuan dari Tritunggal yang Kudus, karena di dalam Al-Qur’an ketiganya – Allah, Roh-Nya dan Kristus – bersama-sama mendakan mujizat!

Muhammad tidak bisa memahami mengapa orang Yahudi selalu menolak bukti-bukti dari utusan-utusan Allah, dan bahkan menyebut mereka sebagai pendusta dan bahkan membunuh beberapa di antara mereka (Surat al-Baqara 2:87)!

● Dalam Surat yang sama (al-Baqara 2:253) Muhammad mengakui bahwa ada perbedaaan-perbedaan yang sangat mendasar di antara utusan-utusan Allah. Ia lebih menyukai yang satu dibandingkan yang lain dan kemudian memberikan kepadanya kedudukan yang lebih tinggi. Kepada Musa Ia berbicara secara langsung, yang tidak dilakukannya kepada Muhammad. Muhammad menerima yang disebut sebagai wahyunya melalui suatu roh yang tidak dikenal, yang kemudian disebut Jibril. Muhammad sendiri tidak pernah melihat Allah, atau mendengar suara-Nya! Ia tidak memiliki kontak pribadi dengan Allah.

Menurut Al-Qur’an, Allah menempatkan Putera Maryam dalam kedudukan yang lebih tinggi dibandingkan dengan Musa, karena Ia memberikan kepada Putera Maryam bukti-bukti khusus (bayyinaat) dengan menguatkan dia dengan rohulqudus. Muhammad menggelengkan kepalanya atas pertentangan yang keras antara orang Yahudi dengan orang Kristen dan atas perpecahan di antara mereka meski memiliki hak yang sangat istimewa itu (Surat al-Baqara 2:253). Ia menganggap bahwa pertentangan sebagai penentuan yang bijaksana dari Allah yang membuat Islam sebagai kekuatan ketiga akan muncul sebagai pemenang atas kedua kelompok yang bertikai itu. Muhammad tidak menyadari bahwa Anak Allah yang tersalib itu serta karya pembenaran atas orang-orang berdosa, yang tidak didasarkan kepada perbuatan baik, adalah alasan yang paling utama terjadinya pertentangan antara orang Yahudi dengan orang Kristen. Orang Muslim dan orang Yahudi lebih memiliki kedekatan kesamaan dibandingkan dengan orang Kristen dengan orang Muslim!

● Dalam Surat al-Ma’ida kita membaca empat penjelasan yang diberikan Allah langsung kepada Kristus di dalam Al-Qur’an (Surat al-Ma’ida 5:110). Ia mengatakan, “Ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu ketika Aku menguatkan engkau dengan Ruhul Qudus.” Kemudian diikuti dengan daftar beberapa mujizat yang dilakukan Kristus yang kemudian berujung kepada penjelasan bahwa Allah menghalangi bangsa Israel mendatangi Isa, sehingga mereka tidak bisa membunuh dia, meskipun ia datang kepada mereka dengan bukti-bukti yang jelas (bayyinaat). Tetapi mereka membenci dia dan mengatakan, “Ini tidak lain melainkan sihir yang nyata!”

Dalam ayat ini Kristus sekali lagi muncul sebagai tokoh yang sudah diberi dan ditolong oleh roh Allah. Hal ini membuktikan bahwa di dalam Al-Qur’an Putera Maryam tidak memiliki di dalam dirinya hakekat atau kemampuan ilahi. Pada saat yang sama, bagaimanapun, Muhammad mengakui tidak bisa ditirunya mujizat-mujizat Isa dan menyebut semuanya itu bukti untuk kuasanya, yang diberikan oleh Allah. Muhammad tidak bisa memahami kerendahan hati Kristus, ketika Ia menyangkal dirinya dan memberikan semua kehormatan kepada Bapa, dan berkata, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak.” (Yohanes 5:19).

 

● Dalam Surat al-Zukhruf kita membaca sebuah penjelasan yang khas timur mengenai bukti yang dimiliki Kristus (Surat al-Zukhruf 43:63): Ia datang kepada orang Yahudi dengan “hikmah” untuk bisa membuka mata mereka kepada alasan dari kritik dan ketidaksetujuan mereka semua. Mungkin Muhammad pernah mendengar pengajaran yang diajarkan Yesus di dalam Matius 7:1-28 melalui tradisi lisan, dan menjelaskan perkataan Kristus itu sebagai suatu usaha untuk memperdamaikan kelompok-kelompok yang bertikai. Dengan cara ini Isa menuntut ketaatan tanpa syarat dan ketundukan mereka kepada perintah-perintahnya.

● Menurut Surat al-Saff, Isa datang kepada bangsa Israel untuk membenarkan bahwa Taurat tidaklah dipalsukan (Surat al-Saff 61:6). Ini adalah penjelasan yang sangat khusus kepada kita tentang tujuan kedatangan Isa yang memberikan kepada kita kesempatan untuk membuktikan kepada orang Muslim bahwa Alkitab tidak dibelokkan, karena, menurut Al-Qur’an sendiri, tugas pertama Kristus adalah membenarkan atau menegaskan ketidakbersalahan Taurat.

Namun, tujuan yang paling utama dari kedatangan Isa, maksud yang paling akhir dari semua mujizatnya, menurut Al-Qur’an, adalah adanya suatu janji yang dinyatakan oleh Putera Maryam bahwa sesudah dia akan datang seorang utusan Allah yang sangat terpuji. Dengan nubuat ini Muhammad menaruh peristiwa kedatangannya sendiri ke bibir Isa! Sejak itu, orang Muslim sudah berusaha menyelidiki Alkitab untuk menemukan nama Muhammad yang tersembunyi, yang secara literal berarti “Dia yang Terpuji.” Beberapa penafsir Muslim mengajarkan bahwa Muhammad adalah Parakletos yang dijanjikan, Roh Penghibur itu. Untuk membuat kata dalam bahasa Yunani ini cocok dengan Muhammad, orang Muslim mengubahkan huruf hidup dari kata Parakletos menjadi Periklytos, yang berarti “Dia Yang Sangat Terhormat.” Sebagai akibatnya orang Muslim menuduh orang Kristen sudah menutupi atau memalsukan nubuat dari Isa tentang Muhammad di dalam Alkitab, atau bahkan menghapus namanya dari dalam Alkitab,

Tanda-tanda ajaib Isa dan Muhammad (‘aayaat)

Di dalam tiga ayat Al-Qur’an mujizat-mujizat Yesus disebut sebagai tanda (‘aayaat) dari missi ilahinya (Surat Āl ‘Imran 3:49.50; al-Ma’ida 5:114). Kata yang dipakai Muhammad untuk hal ini juga bisa dilihat di dalam Injil Yohanes untuk menyebut tentang mujizat-mujizat Yesus. Di sana kita bisa membaca, “Hal itu dibuat Yesus di Kana yang di Galilea, sebagai yang pertama dari tanda-tanda-Nya dan dengan itu Ia telah menyatakan kemuliaan-Nya.” (Yohanes 2:11-12). Banyak orang percaya kepada nama-Nya ketika mereka melihat tanda-tanda-Nya yang dilakukan-Nya (Yohanes 2:23). Ketika Ia menyembuhkan anak seorang pegawai istana dari jauh, Yohanes menyebut hal itu juga sebagai tanda yang dilakukan-Nya (Yohanes 4:54). Ketika mereka melihat tanda itu (memberi makan 5000 orang) mereka mengatakan, “Dia ini adalah benar-benar Nabi yang akan datang ke dalam dunia.” (Yohanes 6:14). Namun, ketika Yesus melihat mereka datang dengan bergegas untuk menjadikan diri-Nya sebagai raja, karena mujizat roti itu, Ia meninggalkan mereka.

Yesus tidak melakukan tanda-tanda mujizat-Nya dengan tujuan supata orang-orang akan percaya kepada-Nya, tetapi supaya mereka mengenal kasih-Nya, kedaulatan-Nya dan kemahakuasaan ilahi-Nya. Yesus tidak ingin orang mengikuti Dia karena mujizat-Nya, tetapi Ia menghendaki pertobatan dan pembaharuan. Yesus memperigatkan orang-orang itu dan mengatakan, “Jika kamu tidak melihat tanda dan mujizat, kamu tidak percaya.” (Yohanes 4:48). Di dalam Injil kita membaca beberapa kali bahwa Yesus melarang mereka yang disembuhkan-Nya untuk berbicara tentang Dia yang menyembuhkan mereka (Matius 9:30; Markusus 3:12; 5:43; 7:36; Lukas 5:14; 8:56; 9:21).

Ketika Yesus dianiaya dan diancam kematian di Yerusalem, orang banyak yang hanya ingin melihat mujizat berbalik dari pada-Nya. Hanya murid-murid-Nya, yang sudah mengakui dosa-dosa mereka di hadapan Yohanes Pembaptis dan yang kesombongannya sudah diremukkan dengan pertobatan, yang tetap setia kepada Yesus. Mereka melihat kemuliaan_nya meskipun Ia sedang dianiaya dan mati di Kayu Salib. Ketika orang Yahudi mencobai Yesus dan menuntut tanda dari-Nya untuk membuktikan kedaulatan dan missi-Nya, Ia menjawab, “Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali.!” (Yohanes 2:18-22). Dan kemudian Ia menambahkan, “Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus.” (Matius 12:39-40; 16:4)

Bukti-bukti dan tanda-tanda yang disebutkan oleh Muhammad tentang Isa di dalam Al-Qur’an berusaha untuk menciptakan suatu keyakinan yang sebenarnya ditolak sepenuhnya oleh Yesus! Karena itu kita tidak boleh menjelaskan tanda-tanda yang dilakukan Kristus kepada orang Muslim hanya karena semuanya itu bersifat mujizat, tetapi justru harus menekankan bahwa semuanya itu hanya menunjuk kepada kebesaran, kasih, kerendahan hati, kekudusan dan kedaularan-Nya. Yesus Kristus sendiri yang harus dimuliakan di dalam penyebutan akan mujizat-mujizat itu. Mujizat-mujizat itu bukanlah sesuatu yang mulia karena dirinya sendiri. Semua penyembuhan yang ajaib yang tidak membawa orang kepada pertobatan dan pembaharuan hidup bisa dikatakan gagal membangun iman yang dalam kepada Yesus.

1. Kristus berbicara ketika masih bayi yang baru lahir

Tiga kali kita menemukan tulisan di dalam Al-Qur’an mengenai Putera Maryam yang berbicara ketika baru lahir, masih ada di palungan. Kenyataan bahwa ia berbicara ditulis dua kali (Surat Āl ‘Imran 3:46; al-Ma’ida 5:110), isi dari pembicaraannya bisa dilihat secara terperinci di dalam Surat Maryam (19:24-33).

Kisah yang sangat tidak masuk akal mengenai Isa yang baru lahir bisa berbicara secara sempurna, dijelaskan dengan cara yang berbeda oleh para penafsir Al-Qur’an. Ada yang mengatakan, Isa hanya membutuhkan beberapa menit, ada yang mengatakan beberapa jam, sampai ia bisa mengucapkan setiap kata dan kalimat tanpa salah. Otaknya sudah berkembang secara penuh sejak ia lahir, dan pengertiannya, perasaan dan kemampuan logikanya berkembang dalam waktu yang sangat singkat, paling tidak itulah yang mereka katakan.

Mengapa para penafsir Muslim percaya dan mendiskusikan fenomena yang demikian? Mereka membaca di dalam Al-Qur’an bahwa Kristus adalah “firman Allah” yang menjadimanusia. Yang Mahakuasa mengajarkan Taurat kepadanya, amsal Salomo, Injil dan Kitab yang asli di surga, sebelum ia lahir (Surat Āl ‘Imran 3:48). Ia dilahirkan ke dunia dengan pengetahuan yang penuh, kepintaran dan kemampuan untuk berbicara. Ia harus menyampaikan firman Allah senantiasa sejak ia lahir sampai ia mati. Ia adalah seperti aliran wahyu yang dari Tuhannya.

Al-Qur’an menegaskan kebenaran bahwa Putera Maryam bukanlah manusia biasa, tetapi suatu roh dari Allah yang menjadi manusia. Ia turun dari lingkungan yang dekat dengan Yang Mahakekal (perhatikan bagian akhir dari Surat Āl ‘Imran 3:45) dan memiliki pengetahuan yang besar dan kemampuan rohani yang melebihi semua makhluk yang lainnya.

Pernyataan-pernyataan spekulatif di dala, Al-Qur’an juga mendekati pemahaman Kristen tentang inkarnasi Anak Allah di dalam Alkitab. Tetapi di dalam Alkitab Yesus dilahirkan sebagai bayi manusia yang sesungguhnya yang dibungkus dengan kain lampin. Ibu-Nya yaitu Maria tidak pernah mengatakan kepada dokter Lukas mengenai pembicaraan yang dikatakan oleh anaknya setelah Ia dilahirkan, karena sebagai bayi Ia tidak bisa berbicara dan membutuhkan waktu untuk berkembang (Lukas 2:40-52).

Dari mana asalnya kisah khayalan ini? Di dalam kitab Injil apokripa tentang masa kanak-kanak yang ada di kalangan orang Kristen Syria dan Koptik kita bisa menemukan petunjuk untuk kisah yang demikian. Para ibu biasa menyanyikan lagu nina bobo yang berisi tentang bayi Yesus untuk membuat anak-anak mereka tidur. Sumber dari kisah tentang bayi Yesus bisa lebih jelas diketahui sekarang ini.

Muhammad mendengar kisah kanak-kanak itu dari para budan Kristen dari Syria dan Koptik dan – mempercayai kisah itu! Ia mempercayainya lebih daripada para Bapa Gereja, yang sama sekali tidak pernah mencantumkan kisah dongeng itu ke dalam kanon Alkitab, karena memang hal itu tidak pernah terjadi. Jadi Muhammad kelihatan seperti orang yang sungguh-sungguh mencari kebenaran, tetapi sama sekali bukan nabi. Ia tidak bisa membedakan antara dongeng dengan kenyataan.

Mengenai isi dari apa yang disebut sebagai perkataan Putera Maryam yang baru lahir itu (Surat Maryam 19:24-33) bayi itu pertama-tama ingin memberikan penghiburan kepada ibunya yang masih muda yang sudah mengandungnya tanpa menjalani pernikahan. Maria tahu bahwa dirinya bisa dirajam dengan batu. Karena itu bayi Isa yang beru lahir menghiburnya dengan berita bahwa ia baru saja melahirkan seseorang yang sangat menonjol di bawah pohon palem di padang pasir.

Dalam bahasa Arab salah satu istilah untuk orang yang luar biasa adalah suriyun, dengan bentuk jamaknya surawaa’, asriyaa’ atau saraat (semua berasal dari kata dasar bahasa Arab S-R-W). Tetapi para pembaca Al-Qur’an yang cemburu mengubahkan huruf vokal dari kata itu dan makna dari kata itu menjadi “anak sungai kecil atau selokan” (yang dalam bahasa Arab adalah sariyun) kemudian dengan menarik dilahirkan kembali dari kata dasar S-R-Y membentuk kata bentuk jamak asriyat atau suryaan. Para pembaca Muslim itu menjadi marah karena Isa sebagai bayi yang baru lahir sudah memiliki tempat yang lebih tinggi dibandingkan dengan Muhammad, jadi mereka langsung saja mengubahkan huruf vokalnya dan dengan itu mengubahkan artinya juga dari ‘pribadi yang luar biasa’ menjadi ‘anak sungai’, meskipun kemudian arti dari kalimat itu menjadi sangat tidak masuk akal.

Anak yang baru lahir itu kemudian mengatakan kepada ibunya untuk menggoyang dahan pohon kurma dan membuat buah-buah yang sudah matang berjatuhan di dekatnya dan ia bisa menguatkan dirinya setelah menderita sakit melahirkan. Betapa hal itu sangat tidak masuk akal untuk orang-orang Bedouin. Beberapa orang laki-laki yang kuat belum tentu bisa menggoyang sebuah pohon kurma. Bagaimana mungkin seorang ibu muda yang baru melahirkan bisa melakukan hal ini? Pada jaman Muhammad kehidupan orang-orang Bedouin sangat berat, dua kali lipat bagi kaum wanita dan kaum ibu.

Di akhir dari pembicaraannya yang pertama Isa mengatakan kepada ibunya yang merasa ketakutan bahwa ia harus menjelaskan kepada semua orang yang akan menanyakan kepadanya tentang asal-usul anak yang baru lahir itu: bahwa ia sudah berjanji kepada Allah yang Maha Pengasih untuk berpuasa dan tidak akan berkata-kata kepada siapapun hari itu. Jadi nasehat pertama, yang diberikan oleh Isa kepada ibunya, adalah suatu tipuan, suatu kelicikan, dan suatu kebohongan, untuk menyelamatkan dia dari bahaya yang mengancamnya.

Catatan selanjutnya menunjukkan bagaimana bayi yang baru lahir itu membela ibunya dari kemarahan orang-orang sedesanya dengan memperkenalkan dirinya sebagai nabi yang diberkati dalam permbicaraannya yang kedua yang dicatat oleh Al-Qur’an.

Orang-orang yang secara obyektif memperhatikan kisah ini akan melihat bagaimana mimpi dan kenyataan bergabung dan menjadi suatu fatamorgana di dalam pikiran Muhammad. Seluruh isi Al-Qur’an berisi percampuran antara fiksi dengan kenyataan yang demikian.

2. Isa menciptakan seekor burung

Dari sumber apokripa yang sama muncul kisah yang lain: Isa yang masih muda membuat bentuk burung dari tanah liat, meniupnya, dan burung itu kemudian terbang! (Surat Āl ‘Imran 3:49; al-Ma’ida 5:110). Kita akan diarahkan untuk melupakan kisah yang tidak realistis tentang Putera Maryam ini, tetapi pada kenyataannya ada tiga penyebutan.

Di dalam Surat Āl ‘Imran Isa mengatakan kepada bangsa Israel, “Aku akan menciptakan bagimu serupa burung dari tanah liat.” Di dalam Surat al-Ma’ida Allah, sesudah kenaikan Isa, menegsakan, “Engkau menciptakan seekor burung dari tanah liat!” Mujizat ini disebutkan di dalam Al-Qur’an dalam bentuk present tense dan past tense, sekali dikatakan oleh Isa dan sekali lagi dikatakan oleh Allah sendiri. Penegasan yang dua kali ini membuat teks ini menjadi penting.

Di kedua tempat itu kta melihat bahwa Isa mampu menciptakan burung hidup dari bahan mati. Dalam bahasa Arab, kata “mencipta” (khalaqa) yang biasanya dipakai hanya untuk Allah, sang Pencipta, yang menciptakan segala sesuatu dari ketiadaan. Tetapi kata yang khusus ini dipakai untuk Isa, juga. Ia adalah satu-satunya manusia, menurut Al-Qur’an, yang menjadi pencipta dan bisa menciptakan sesuatu yang hidup dari benda mati. Kristus di dalam Islam ditunjukkan sebagai pencipta juga.

Muhammad, bagaimanapun, membatasi penghormatan kepada Putera Maryam ini dengan kalimat, “Dengan ijin Allah!” beberapa kali di dalam ayat-ayat Al-Qur’an mengenai mujizat-mujizat Kristus. Karena itu kita bisa bertanya kepada orang Muslim yang kritis, “Apakah anda percaya bahwa Kristus, dengan ijin Allah, mampu menciptakan burung dari benda matu?” Jawabannya kemungkinan, “Tentu saja. Al-Qur’an menegaskannya dua kali!” Kemudian kita bisa menjelaskan kepadanya bahwa Putera Maryam adalah pencipta yang sangat unik –dengan ijin Allah!

Kisah legenda masa kanak-kanak inimengandung kejutan yang lain. Isa mengangkat burung dari tanah liat ke mulutnya dan kemudian meniupnya. Lalu burung dari tanah liat itu menjadi hidup dan kemudian terbang. Menurut Al-Qur’an, Isa memiliki di dalam dirinya nafas pemberi kehidupan –dengan ijin Allah, tentu saja!

Di dalam Alkitab, Allah menghembuskan “nafas hidup” kepada Adam. Dan kemudian manusia yang pertama tercipta (Kejadian 2:7). Di malam Paskah Kristus menghembus kepada murid-murid-Nya yang sedang ketakutan dan sekaligus penuh sukacita dan berkata kepada mereka, “Terimalah Roh Kudus!” (Yohanes 20:22). Kemudian para pengikut-Nya dipulihkan, karena Kristus adalah pemberi roh yang menghidupkan (1 Korintus 15:45).

Muhammad, bagaimanapun, tidak masuk sampai sejauh itu di dalam tulisannya. Ketika Isa meniupkan nafasnya ke benda mati, benda itu tidak menjadi manusia, dan juga tidak dilahirkan kembali sebagai anak Allah. Tetapi hany emnjadi sesuatu yang seperti seekor burung! Muhammad tidak berani menyangkal bahwa Yesus sendiri memiliki roh pemberi kehidupan dari sang pencipta.

Kisah tentang penciptaan burung ini membuat sakit kepala para penafsir Al-Qur’an, karena kalau memang Isa bisa menciptakan burung yang hidup dari benda mati, meskipun atas ijin Allah, itu berarti ia jauh lebih tinggi dari semua manusia, bahkan lebih tinggi dari Muhammad. Kemudian beberapa penafsir mengatakan, “Isa sebenarnya ingin menciptakan seekor binatang berkaki empat atau seekor burung yang bisa terbang tetapi tidak menjadi kedua-duanya. Yang kemudian jadi dari apa yang dibuatnya hanyalah seekor ‘kelelawar’ yang bukan termasuk burung dan bukan juga mammalia, tetapi pada saat yang sama memiliki ciri kedua jenis itu.” Kita bisa menjawab untuk kritik yang demikian, “Kelelawar adalah satu-satunya binatang terbang yang sudah sangat berkembang, karena ia memiliki unit ultrasound (seperti radar) di dalam mulutnya yang memungkinkan ia bisa terbang bahkan pada waktu malam, seperti pesawat terbang di jaman modern!”

3. Kesembuhan orang buta

Setelah dua kisah mujizat yang meragukan yang dilakukan Isa waktu masih sangat muda, yang sebenarnya bukan sepenuhnya karya Muhammad, karena ia hanya mengambilnya dari tulisan apokripa mengenai masa kanak-kanak Yesus, kita membaca tulisan tentang Kristus sendiri, yang kebenarannya ditegaskan oleh Allah, bahwa Isa mampu menyembuhkan beberapa orang buta (Surat Āl ‘Imran 3:49; al-Ma’ida 5:110).

Di dalam tulisan ini kita bisa merasakan belas kasihan Kristus kepada orang-orang hina yang tidak bisa melihat terang matahari dan berjalan di dalam kegelapan. Putera Maryam, menurut Al-Qur’an, tidak melakukan mujizat untuk membuat para raja dan penguasa tertarik kepadanya, tetapi karena ia ingin menolong orang yang sakit, orang-orang yang sengsara dan terbuang dari masyarakat. Rasa iba dan kasihnya yang membuatnya melakukan tanda-tanda yang demikian.

Kata dalam bahasa Arab untuk “menyembuhkan” (bar’ia) berhubungan dengan makna “membenarkan” atau “membasuh.” Kalau suatu penyakit dianggap sebagai penghukuman dariAllah untuk dosa-dosa yang tersembunyi, maka Kristus tidak hanya menyembuhkan penyakitnya tetapi juga berurusan dengan penyebabnya.

Yesus tidak membuka mata orang buta dengan pisau yang tajam atau dengan sinar laser, Ia juga tidak memakai obat atau antibiotik, tetapi Ia menyembuhkan dengan perkataan-Nya saja. Ia tidak menggunakan sulap, sihir atau roh-roh asing, tetapi Ia membebaskan orang-orang yang menderita, yang sengsara daridalam kegelapan dengan kuasa perkataan-Nya semata-mata. Tentu saja, Muhammad menambahkan juga kalimat yang sangat khas,: “dengan ijin Allah!” Akan tetapi, siapa saja bisa melihat kuasa Yesus Kristus dan kasih-Nya kepada orang-orang yang terbuang di dalam kitab orang Muslim.

Dari Al-Qur’an orang Muslim tidak bisa melihat secara terperinci tentang bagaimana, dimana, kapan atau siapa yang matanya dibukakan oleh Yesus. Jadi ayat-ayat seperti itu membutuhkan kesaksian dari para saksi mata yang melihatnya sendiri di dalam Injil. Kita harus membuka Alkitab dalam bagian-bagian di atas untuk orang-orang Muslim yang tertarik, tetapi jangan membacanya sendiri melainkan doronglah mereka untuk membaca bagian itu sendiri, sehingga mereka bisa mengalahkan rintangan yang ada dan menerima Roh Kudus di tangan mereka dan melihat Yesus dengan mata hati mereka. Dengan itu mereka bisa mengakui bahwa Yesus tidak pernah memaksa orang untuk menerima pertolongan atau kesembuhan dari-Nya, tetapi menunggu sampai si sakit itu datang kepada-Nya atau berseru meminta pertolongan. Yesus ingin membangkitkan kehendak untuk disembuhkan di dalam diri orang yang menderita itu, sampai mereka meminta kesembuhan. Ia menumbuhkan di dalam diri mereka kepercayaan kepada-Nya dan kemahakuasaan-Nya, sehingga Ia bisa membebaskan mereka dari beban mereka. Jarang sekali kesembuhan terjadi kalau seseorang tidak percaya kepada tabib itu di antara semua tabib yang ada. Kristus tidak memaksakan anugerah-Nya kepada siapapun, tetapi membangun di dalam diri mereka kehendak, iman dan kasih akan Dia, penebus mereka. Yesus menunjukkan bagian dari orang itu di dalam kesembuhannya, ketika mengatakan, “imanmu telah menyembuhkan engkau.” (Matius 9:22; Markusus 5:34; 10:52; Lukas 7:50; 8:48; 17:19; 18:42). Semua ini asing bagi orang Muslim. Ia tidak tahu tentang Juruselamat atau penolong. Kepercayaan kepada Kristus, Penebusnya, haruslah dipupuk, sehingga hal itu bisa bertumbuh di dalam hidupnya secara rohani.

4. Isa mentahirkan orang kusta

Dalam dua bagian Al-Qur’an ditulis mengenai pentahiran dan penyembuhan orang-orang kusta, kesaksian Isa dan Allah sekali lagi menegaskan adanya mujizat-mujizat itu (Surat Āl ‘Imran 3:49; al-Ma’ida 5:110). Bentuk dalam bahasa Arab untuk penyembuhan bagi orang kusta ada dalam bentuk tunggal, tetapo memiliki makna kolektif jaman untuk menunjuk kepada beberapa orang sakit demikian. Sebagaimana dengan orang buta, hal ini tidak menunjuk kepada satu mujizat saja, tetapi serangkaian penyembuhan ajaib yang dilakukan Kristus terhadap orang-orang kusta.

Kalau anda pernah bertemu dengan orang-orang yang menderita seperti ini di India, dengan jari yang hilang atau wajah yang rusak, yang secara bersama-sama mengemis di stasiun-stasiun, anda akan memahami betapa besar kasih Yesus, keagunan-Nya dan kemenangan-Nya atas rasa jijik dan takut terinfeksi. Ia tidak mengusir orang-orang kusta itu sebagai orang-orang yang najis, tetapi berbicara kepada mereka dan bahkan menyentuh beberapa di antara mereka. Ia membangun jembatan bagi iman mereka, sehingga mereka bisa mengerti: Yesus ini mengasihi saya secara pribadi! Kristus lebih kuat dibandingkan dengan kusta! Ia bisa dan akan menyembuhkan saya (Matius 8:1-4; Markusus 1:40-45; Lukas 5:12-16). Ketika Yesus menyembuhkan kesepuluh orang kusta Ia menginginkan agar mereka memiliki iman yang melebihi manusia biasa. Mereka percaya kepada Dia yang berbicara kepada mereka dengan kasih Allah yang mereka rasakan di dalam Dia ( Lukas 17:11-19).

Yang ditulis di dalam Al-Qur’an hanyalah kenyataan umum yang memerlukan penerangan dari Injil dan tambahan kesaksian kita: bahwa Ia sudah mentahirkan kita dari segala kelemahan dan kecemaran kita.

Kepada peristiwa kesembuhan bagi orang kusta bisa ditambahkan juga pengampunan yang diberikan Yesus. Di beberapa negara, dalam keyakinan Islam secara umum, kusta sering dianggap sebagai penghukuman Allah untuk peemberontakan atau dosa-dosa yang tersembunyi. Di sini beberapa catatan Alkitab mengenai kesembuhan dari kusta bisa sangat menolong. Ia mengharapkan kata-kata “kesembuhan” dari Yesus, tetapi justru ia mendengar, “Percayalah, hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni.” Ketika para ahli Taurat berpikir bahwa Yesus menghujat, Ia menengok ke arah mereka dan berkata, “Mengapa kamu memikirkan hal-hal yang jahat di dalam hatimu? Manakah lebih mudah, mengatakan: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah dan berjalanlah? Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa” — lalu berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu –: “Bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!” (Matius 9:1-8).

5. Membangkitkan orang mati

Kalau anda membaca kalimat singkat yang ditegaskan sampai dua kali di dalam Al-Qur’an bahwa Yesus bisa membangkitkan orangmati, mungkin anda akan sangat terkejut (Surat Āl ‘Imran 3:49; al-Ma’ida 5:110). Di dalam dua ayat ini anda akan menemukan kata dalam bentuk jamak, bukan dalam bentuk tunggal! Dalam bahasa Arab itu berarti bahwa Kristus membangkitkan lebih dari dua orang, atau paling tidak tiga orang dari kematian. Sangat dianjurkan untuk menghafal bagian-bagian di dalam Injil dimana Yesus membangkitkan seorang anak, seorang pemuda dan seorang dewasa dari kematian, dan untuk membaca bagian-bagian itu bersama-sama dengan orang Muslim yang tertark (Matius 9:18-26; Markus 5:21-43; Lukas 7:11-17; Lukas 8:40-56; Yohanes 11:1-45).

Al-Qur’an menggunakan dua istilah yang berbeda untuk peristiwa Kristus membangkitkan orang mati. Di dalam surat Āl ‘Imran (Surat Āl ‘Imran 3:49) ia mengatakan, “aku menghidupkan orang mati.”

Di ayat yang lain (Surat al-Ma’ida 5:110) Allah menegaskan, “engkau mengeluarkan orang mati (menjadi hidup)!”

Kalau anda mengenal orang Muslim yang sudah menunjukkan ketertarikan kepada Kristus anda bisa bertanya kepadanya berdasarkan dua kesaksian di dalam Al-Qur’an itu, “Siapakah yang bisa membangkitkan orang mati?” Yang paling sering, jawabannya adalah, “Tidak ada selain Allah.” Tetapi kalau anda bertanya, “Apakah anda mengatakan kalau Kristus itu Allah, karena Ia sudah menghidupkan kembali paling tidak tiga orang yang sudah mati?” mungkin anda mendengar penolakan yang sangat keras, “Aku berlindung kepada Allah dari orang-orang seperti anda!” Kalau anda meneruskan dengan bertanya, “Tetapi didalam Al-Qur’an anda menemukan dua ayat dimana Kristus memang membangkitkan orang mati,” mungkin anda akan mendengar jawaban setelah ia berpikir cukup lama, “Tetapi di setiap peristiwa anda akan menemukan tulisan, ‘dengan ijin-Ku’! Kristus sendiri tidak bisa membangkitkan orang yang sudah mati. Karena itu Allah mengutus Jibril untuk menguatkan dia, sehingga ia bisa melakukan tanda-tanda ajaib membangkitkan orang mati untuk kemuliaan bagi Allah!” Kalau bertanya dengan hati-hati, “Jadi anda percaya bahwa Allah dan Rohulkudus dan Putera Maryam bersama-sama bisa membangkitkan orang mati?” Mungkin anda akan mendengar jawaban yang ragu-ragu, “Ya, itu dituliskan di dalam Al-Qur’an.” Kemudian anda bisa berkata, “Jadi anda percaya kepada kerjasama Tritunggal?” Hal ini bisa jadi, setelah beberapa penyangkalan, membawa kepada pernyataan bahwa di dalam Al-Qur’an terdapat penegasan akan kesatuan Tritunggal di dalam tindakan, meskipun hal itu tidak menegaskan keberadaan di dalam roh dan hakekatnya. Memang tidak selalu menjadi keharusan bahwa orang Muslim akan diyakinkan dengan semua argumentasi kita. Tetapi akan sangat menolong bagi dia untuk mendengar ide-ide baru yang juga ditegaskan kebenarannya oleh Al-Qur’an, sehingga ia bisa mulai berpikir dengan cara yang berbeda.

Kenyataan adanya orang mati yang dibangkitkan oleh Putera Maryam adalah sesuatu yang sangat menakjubkan sampai-sampai mungkin anda sendiri bertanya mengapa di dalam Al-Qur’an Muhammad menuliskan kesaksian yang didengarnya dari orang-orang Kristen yang ada di sekitar dia. Mungkin ia melakukannya untuk menunjukkan Islam sebagai agama yang mirip dengan kekristenan untuk bisa membawa orang-orang Kristen kepada iman miliknya.

Kita percaya bahwa kesaksian tentang kemenangan atas maut di dalam Al-Qur’an akan menjadi seperti ragi, dan akan membuka mata orang Muslim dari dalam, sehingga mereka bisa mengenal Kristus yang sesungguhnya yang memiliki kehidupan kekal di dalam diri-Nya. Kemudian mereka akan memahami bahwa Kristus bisa memberikan kehidupan kekal kepada semua orang yang meminta kepada-Nya. Kenyataan bahwa Kristus membangkitkan orang mati menjadi tantangan bagi semua anak-anak Abraham, termasuk orang Yahudi maupun orang Muslim: “Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup.” (Yohanes 3:36; 1 Yohanes 5:12)

6. Yang Mahatahu

Dalam surat Āl ‘Imran kita menemukan ayat yang cukup menarik dimana Isa mengatakan kepada orang Yahudi bahwa ia akan menunjukkan kepada mereka apa yang sudah mereka maka secara sembunyi-sembunyi dan harta apa yang mereka sembunyikan di dalam lemari mereka.

Kisah yang tidak mungkin ini bisa memiliki banyak penjelasan: banyak orang Yahudi tidak secara tepat mematuhi hukum Musa, dan sering memakan apa yang dilarang secara sembunyi-sembunyi. Yang lainnya tidak berpuasa dengan benar di hari-hari yang ditentukan dan secara sembunyi-sembunyi makan di rumah mereka setiap kali mereka menginginkannya. Sebagai tambahan mereka menyimpan harta mereka di lemari dan bukannya membaginya untuk orang-orang miskin dan para pengungsi dari Mekkah.

Al-Suyuti, seorang penafsir Islam, menjelaskan bahwa Isa sebagai seorang anak sedang bermain-main dengan anak-anak yang lainnya ketika ia berkata kepada mereka, “Saya bisa mengetahui apa yang dimakan oleh orang tuamu ketika kamu tidak dirumah, dan apa yang secara rahasia mereka simpan di dalam lemari yang tersembunyi darimu.” Ketika anak-anak itu bertanya tentang pernyataan itu, orang tua mereka sangat terkejut dan bertanya kepada anak-anak mereka, “Siapa yang memberitahukan rahasia itu kepadamu?” Ketika anak-anak itu mengatakan bahwa Isa yang menjelaskan rahasia itu kepada mereka, para orang tua itu kemudian melarang anak-anak mereka bermain bersama dengan Putera Maryam dan mengunci mereka di halaman belakang rumah mereka.

Ketika Isa kemudian bertanya kepada para orang tua teman-temannya mengapa ia tidak bisa bertemu lagi dengan mereka ia diberitahu bahwa teman-temannya saat itu sedang tidak ada di rumah. Ketika Isa mengatakan kepada para orang tua itu, “Tetapi aku bisa mendengar mereka ribut di halaman belakangmu,” mereka mengatakan kepadanya, “Itu hanya babi kami yang sedang kelaparan.” Kemudian Isa dengan sedih memandang mereka dan berkata, “Kamu benar! Hanya babi-babimu yang bisa membuat keributan yang demikian di halaman belakangmu.” Ketika para orang tua itu mencari anak-anak mereka, kata-kata Isa sudah menjadi kenyataan. Semua anak-anak mereka sudah menjadi babi!

Kisah yang sangat keji ini berasal dari imajinasi yang penuh fitnah terhadap orang-orang Yahudi yang tidak pernah memelihara babi di halaman belakang mereka, dan juga terhadap Yesus sendiri, yaitu untuk menjauhkan anak-anak darinya, karena ia bisa menyatakan kebenaran yang tersembunyi. Namun, teks dari Al-Qur’an ini menegaskan kebenaran bahwa Kristus bisa melihat menembus dinding sekalipun! Menurut Muhammad, ia memiliki “mata sinar X”. Di dalam Injil Yohanes kita bisa membaca bahwa Yesus melihat apa yang ada di dalam diri manusia. Ia tidak membutuhkan pemberitahuan tentang siapapun, “sebab Ia tahu apa yang ada di dalam hati manusia.” (Yohanes 2:24-25).

Di dalam ayat ini Al-Qur’an membuktikan kemahatahuan Isa, tetapi menarik kesimpulan yang salah akan hal itu. Bukan makanan yang dimakan secara rahasia, atau harta yang tersembunyi yang Yesus lihat dengan mata Penebus-Nya. Ia menyingkap dosa-dosa yang tersembunyi dan mengenal kerinduan seseorang akan keadilan, kesucian dan kebenaran. Ia ingin menyelamatkan, menyucikan dan memperbaharui semua orang, dan tidak ingin mengambil bagian di dalam kekayaan mereka.

Muhammad menderita karena meningkatnya ketegangan antara para pengungsi yang datang bersamanya dari Mekkah dan para penduduk asli di Medinah. Para pendatang dari Mekkah tidak bisa menemukan pekerjaan, mereka tidak memiliki rumah dan tidak memperoleh apapun dari saudara-saudara mereka. Di lain pihak, orang-orang Muslim yang asli dari Medinah semakin hari menjadi semakin kaya dan semakin kaya. Mereka sudah menampung para pendatang itu ke rumah mereka dan sudah berjanji untuk mengurus mereka seperti saudara kandung. Tetapi harapan dan kenyataan jauh sekali bedanya. Para penduduk asli makan makanan yang lebih baik ketika para pendatang itu sedang tidak ada di rumah mereka, dan para pemilik rumah menyembunyikan kekayaan mereka dari mata para pancari suaka itu. Muhammad mendengar tentang perilaku ini dan ingin ikut mengambil bagian campur tangan dalam harta mereka yang disembunyikan. Karena itu ia mengatakan, “Kalau Isa datang kembali ia akan mengatakan kepadamu apa yang kamu makan secara rahasia dan apa yang kamu sembunyikan di rumahmu, karena ia bisa melihat semua yang ada di dalam dirimu. “

Kita perlu merenungkan kesaksian dari Al-Qur’an ini, dan ketika memberikan nasehat rohani kepada orang Muslim, membuat mereka menyadari bahwa kita semua perlu diuji dan diungkap sepenuhnya oleh kasih Yesus Kristus dan oleh kebenaran ini berulang-ulang kali! Uang dan harta milik semua orang Kristen yang disembunyikan akan cukup untuk menginjili seluruh dunia ini, kalau orang-orang itu bersedia untuk membagi sebagian dari harta mereka itu.

7. Hidangan dari surga

Di dalam Surat al-Ma’ida (5:112-115) kita bisa menemukan semacam hema dari kisah Kristus memberi makan 5.000 orang dalam pandangan Islam. Kita akan menerjemahkan teks ini secara literal, sehingga cara berpikir Muhammad dan sikap orang-orang Muslim bisa dipahami sebagai dasar untuk percakapan kita dengan mereka:

112 Para hawariryin (murid) berkata, “Hai Isa Putra Maryam sanggupkah Tuhanmu menurunkan hidangan dari langit kepada kami?”

Dia menjawab, “Bertaqwalah kepada Allah jika kamu benar-benar orang mukmin!”

113 Mereka berkata, “Kami ingin memakan hidangan it, dan supaya hati kami tenteram dan supaya kami mengetahui bahwa engkau telah berkata benar kepada kami dan kami menjadi saksi atas hidangan itu.”

114 Isa Putera Maryam berkata, “Allahumma (Elohim), turunkanlah kepada kami hidangan dari langit yang akan jadi hari raya bagi kami dan bagi orang-orang yang bersama kami serta yang datang sesudah kami, dan sebagai tanda (kebenaran) dari Engkau! Dan berilah kami rezeki dan Engkaulah sebaik-baiknya Pemberi rezeki.”

 

115 Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku akan menurunkan hidangan itu kepada kamu. Maka barangsiapa yang ingkar di antara kamu sesudah itu sesungguhnya Aku akan menyiksanya dengan siksaan yang belum pernah Aku timpakan kepada seorangpun di antara umat manusia!”

Dalam kisah imajinatif tentang pemberian makan kepada 5,000 orang ini kita bisa memberikan penjelasan demikian:

  • Beberapa kali Muhammad membuat pembedaan di antara orang-orang Kristen berdasarkan kedewasaan mereka dan menyebut mereka sebagai hawariyin atau murid (para pemula), penolong yang giat atau pejuang, orang yang percaya yang berdoa, Muslim, pengikut dan saksi (Āl ‘Imran 3:52-53). Di dalam kisah hidangan dari surga Isa berbicara kepada para hawariyin atau murid sebagai para pemula.
  • Di dalam Al-Qur’an, Isa sendiri tidak pernah disebut sebagai “Tuhan”, tetapi Allah adalah Tuhannya. Isa selalu disebut sebagai alat saja.
  • Setelah Isa memberikan khotbah yang panjang di padang pasir para muridnya menjadi lapar. Mereka tidak sabar menunggu sampai Isa menyediakan makanan bagi mereka, tetapi justru ‘mencobai’ dia dan mempertanyakan kemahakuasaan Allah, mungkinkah ia bisa memiliki kemampuan menolong mereka. Mereka tidak sungguh-sungguh percaya kepada kasih keperduliannya tanpa keinginan untuk mencobai dia.
  • Isa tidak menantang para muridnya untuk percaya, tetapi untuk takut kepada Allah. Kasih Allah dan kepercayaan kepada perhatiannya bukanlah topik yang utama di dalam Islam, dan hanya ketundukan penuh kepada Allah dan ketakutan dengan rasa hormat yang mendalam kepadanya.
  • Orang-orang Muslim tidak memiliki jaminan akan adanya penebusan dan tidak memiliki damai di dalam hati karena mereka tidak memiliki Roh Kudus di dalam agama ini. Rohulkudus dianggap sebagai Jibril (Gabriel), sehingga orang-orang Muslim sering berusaha menyelidiki bukti yang pokok untuk iman mereka. Mereka ingin menjadi saksi mata untuk hidangan itu, bukan untuk karya yang dilakukan Isa. Hidangan dan apa yang ada di dalamnya adalah pusat dari pengharapan mereka.
  • Anehnya, Putera Maryam tidak berdoa kepada Allah, tetapi kepada Allahuma (Elohim). Nama ini bagi Muhammad merupakan kunci bagi doa-doa yang sangat menolong sehingga doa bisa dijawab secepatnya. Elohim adalah bentuk jamak dari kata Allah dan mengandung kemungkinan adanya Kesatuan Tritunggal yang Kudus. Di dalam Al-Qur’an Isa menyebut Allah dari Perjanjian Lama “TUHAN Allah (Allahuma) kami”. Ini sangat bertentangan dengan apa yang “Tuhan” nyatakan kepada Musa ketika ia mengatakan, “Akulah TUHAN Allahmu!” Muhammad berusaha untuk mengislamkan Allah dari Perjanjian Lama.
  • Isa di dalam Al-Qur’an menyebut hidangan makanan dari surga itu sebagai pesta yang sangat istimewa untuk semua orang, untuk semua murid Kristus baik yang terbesar maupun yang terkecil secara setara. Mungkin Muhammad di dalam imajinasinya mencampurkan antara perjamuan Tuhan dengan pemberian makan kepada 5.000 orang sebagai peristiwa yang sama. Ia menyebut hidangan ini sebagai tanda mujizat. Itulah sebabnya ia menyebut Surat kelima di dalam Al-Qur’an sebagai “Hidangan” (al-Ma’ida).
  • Putera Maryam juga meminta kepada Allah untuk memberi rezeki kepada pengikutnya secara tetap dengan segala makanan yang diperlukan. Di dalam Islam iman berarti nafkah (Surat Fatir 35:29-30) dan akan membawa hasil keberhasilan yang nyata. Allah bukanlah bapa tetapi sultan yang secara murah memberi rezeki kepada orang-orang Muslimnya – kalau ia menghendakinya.
  • Allah langsung mengabulkan doa Isa, yang sangat luar biasa di dalam Islam. Ketika Isa masih berdoa, Allah secara seketika langsung mengirimkan hidangan surgawi untuk murid-murid Isa yang kelaparan.
  • Akibat sampingan dari mujizat Isa, bagaimanapun, sangat menakutkan. Allah mengancam siapa saja yang tidak mau percaya di antara murid-muridnya akan diberi hukuman yang sangat mengerikan di antara semua hukuman yang terjadi di dunia sekarang dan yang akan datang. Ancaman ini juga diarahkan kepada orang-orang Muslim (!) kecuali kalau mereka percaya kepada mujizat Isa sebagaimana yang tertulis di dalam Al-Qur’an.
  • Para penafsir Al-Qur’an lebih banyak membicarakan mengenai beragam makanan di dalam hidangan itu dibandingkan dengan hakekat dari dia yang sudah menyiapkan pemberian-pemberian surgawi itu. Orang-orang Muslim berusaha mencari tahu apakah anggur, daging babi dan makanan-makanan terlarang lainnya disiapkan bagi mereka di surga, tetapi mereka lupa kepada dia yang menurunkan hidangan itu bagi mereka. Kebanyakan mereka tidak menyadari bahwa di dalam Islam Putera Maryam memiliki hak istimewa untuk menjadi syafaat bagi para pengikutnya.
  • Ketika anda mengatakan kepada orang-orang Muslim bahwa Yesus hanya memiliki lima roti dan dua ikan dalam peristiwa Ia memberi makan 5.000 orang, anda akan bertemu dengan wajah yang panjang dan kecewa, karena roti dan ikan tidak dianggap sebagai makanan khusus dari Firdaus.
  • Tetapi anda bisa menolong pendengar anda untuk berpikir bahwa Yesus mengucapkan syukur untuk sesuatu yang sedikit yang ada di tangan-Nya, dan bahwa kemudian, ketika Ia mengucapkan syukur, hal itu menjadi makanan dalam jumlah yang besar. Kemudian anda bisa menjelaskan kepada orang-orang Muslim bahwa menerima makanan dan uang bukanlah bukti akan kebenaran, tetapi justru iman dengan ucapan syukur lebih dahulu di depan akan membawa berkat bagi banyak orang.
  • Kita tahu bahwa Yesus sendiri merupakan pusat dari mujizat ini, dan bukannya pelipatgandaan roti itu. Tuhan kita menjamin kepada kita bahwa Ia memberikan makanan sehari-hari kepada semua yang mengikut Dia, percaya kepada-Nya dan mengucap syukur terlebih dahulu di depan kepada-Ny untuk penyediaan perhatian-Nya. Hal ini sangat bertolak belakang dengan apa yang diajarkan oleh Al-Qur’an. Anugerah Alkitab dari Allah Bapa bisa menggantikan konsep tentang sultan yang sewenang-wenang yang menyelamatkan siapa saja yang dikehendakinya, dan yang menyesatkan siapa saja yang dikehendakinya.
  • Berita yang paling menonjol dari mujizat Kristus di dalam Al-Qur’an ini adalah bukti bahwa Ia adalah satu-satunya Pengantara antara Allah dengan manusia. Ia adalah pusat rahasia dari mujizat besar ini yang bisa dipahami oleh semua orang Muslim kalau ia memang mau. Doa di dalam nama Kristus menjadi sesuatu yang mungkin bagi orang-orang Muslim juga. Kristus sudah membuka pintu kepada Allah bagi kita. Tidak ada jalan untuk sampai kepada Bapa kecuali melalui Dia. “Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus “ (1 Tim. 2:5, Surat al-Anbiya’ 21:28).

8. Isa pembuat peraturan yang ilahi

Di dalam Al-Qur’an kita menemukan beberapa bagian yang di dalamnya menyaksikan kedaulatan Kristus di atas Hukum Taurat. Dua dari antara bagian itu menyebut tentang sikapnya dan tindakannya sehubungan dengan ayat-ayat di dalam Perjanjian Lama sebagai suatu tanda dan suatu bukti tentang missi ilahinya (Surat Āl ‘Imran 3:50-51; al-Ma’ida 5:46-47; al-Zukhruf 43:63). Beberapa hal di bawah ini mengenai mujizat berhubungan dengan hukum perlu dipertimbangkan:

  • Allah mengutus Kristus ke dalam dunia ini untuk menegaskan ketidakbersalahan Taurat. Mengapa kemudian orang-orang Muslim terus menerus menuduh bahwa Taurat sudah dipalsukan? Al-Qur’an sendiri menyangkal pernyataan itu sampai beberapa kali. Sebagai tambahannya, Kristus adalah firman Allah yang menjadi manusia dan dengan itu mewakili Taurat di dalam kehidupannya (Surat Āl ‘Imran 3:50; al-Ma’ida 5:46 dll.).
  • Allah sendiri mengajar Putera Maryam – sebelum ia lahir – tentang Taurat, Amsal Salomo, Injil dan Kitab Asli dengan semua penjelasannya (Surat Āl ‘Imran 3:48). Karena itu Isa mampu datang kepada bangsa Israel dengan hikmat ilahi dan menjelaskan kepada mereka semua pertanyaan yang tidak terjawab tentang hukum, dan dengan itu menghilangkan adanya alasan untuk perpecahan.
  • Menurut Al-Qur’an, Kristus memiliki kedaulatan untuk mengubah dan membatalkan beberapa perintah Allah di dalam Taurat, dan untuk membebaskan para pengikutnya dari peraturan itu. Jadi di dalam Islam Isa adalah seorang pembuat peraturan. Ia tidak ada di bawah hukum sebagai pelaksana. Ini lebih dari sekedar mujizat bagi orang Muslim, karena bagi mereka Allah sendirilah yang menjadi pembuat peraturan dan yang memberi pernyataan tentang Hukum. Menurut Al-Qur’an Kristus memiliki fungsi ilahi karena ia sendiri adalah inkarnasi dari firman Allah di dalam daging. Ia adalah kebenaran ilahi dan hukum yang menjadi manusia (Yohanes 13:34; lihat Surat Maryam 19:21; al-Anbiya’ 21:91; al-Mu’minun 23:50 dan yang lainnya).

Di dalam ayat-ayat Al-Qur’an ini kita mendengar suatu gema dari pernyataan Yesus sendiri, “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.” (Matius 5:17-18) Ia juga menjelaskan, “Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita … Tetapi Aku berkata kepadamu!” (Matius 5:21-48) “Bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang.” (Matius 15:11.16-20)

Muhammad mungkin sudah mendengar prinsip-prinsip revoluioner yang diajarkan Kristus, tetapi ia tidak memahami semuanya itu sebagai penggenapan Hukum Taurat, tetapi sebagai dihilangkannya beberapa halangan terhadap Hukum bagi para muridnya. Dengan cara yang sangat mengejutkan ia menerapkan kepada Isa hak istimewa ilahi ini untuk meniadakan hukum dan untuk mengadakan yang baru sebagai utusan Allah.

  • Meski ada semua perubahan terhadan Hukum Taurat oleh Putera Maryam, ia menegaskan inti dari ibadah Islam: “Takutlah kepada Allah!” Islam tidak dikuasai oleh rasa kasih Allah kepada manusia, dan juga bukan kasih manusia kepada Allah. Tidak ada gambaran Allah sebagai Bapa yang ingin menyelamatkan semua manusia, tetapi hanya kuasa, kemahakuasaan dan kedaulatan yang suci dari Allah, yang, sebagai diktator, tidak bisa dipertanyakan atau diminta bertanggungjawab atas sesuatu. Orang-orang Muslim hanya bisa bersujud di hadapannya dan beribadah kepadanya dengan rasa hormat mendalam dengan penuh ketakutan.
  • Ketundukan yang serupa juga harus diberikan kepada setiap utusan dari Allah. Di dalam Al-Qur’an, Putera Maryam dua kali menuntut dari semua orang Yahudi, orang Kristen dan orang Muslim: “Taatlah kepadaku!” (Surat Āl ‘Imran 3:50; al-Zukhruf 43:63). Kalimat ini tentu saja menjungkirbalikkan pemikiran Islam! Semua orang harus menghormati Kristus Yesus, menyerahkan diri kepada-Nya dan mentaati perintah-perintah-Nya dengan setia, sama seperti mereka takut kepada Allah! Islam tidak mengajarkan, “Percaya kepada anugerah Allah, atau terimalah pengampunan kasih Kristus atau kasihilah Dia karena Ia mengasihimu terlebih dahulu,” tetapi justru Isa menuntut ketaatan-iman dan ketundukan tanpa syarat di bawah kedaulatan darinya. Siapa saja yang memahami perintah di dalam Al-Qur’an ini bisa menemukan cara yang bagus untuk menginjili orang Muslim. Seorang Muslim harus terlebih dahulu belajar hukum Kristus sebelum ia belajar tentang anugerah keselamatan-Nya. Kita harus belajar dengan dia tentang 510 perintah Kristus di dalam keempat Injil dan membandingkan semuanya dengan 613 perintah Musa di dalam Taurat. Kemudian kita harus hidup menurut Hukum Yesus sebagai teladan yang sesungguhnya dan mengakui di hadapan seorang Muslim bahwa kita semua tidak bisa menggenapi perintah-perintah-Nya dengan sempurna, dan bahwa karena itu kita harus meminta pengampunan setiap hari. Seorang Muslim harus memahami bahwa sangat tidak mungkin untuk menggenapi hukum Kristus dengan kekuatan sendiri karena Ia memerintahkan kepada kita, “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna!” (Matius 5:48) dan “Kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu.” (Yohanes 13:34) Kemudian ia mungkin memahami bahwa tidak seorangpun bisa menggenapi hukum Kristus dengan kekuatannya sendiri, tetapi memerlukan pengampunan Yesus dan keselamatan dari-Nya setiap hari. Anugerah Kristus Yesus adalah satu-satunya jalan kepada Bapa (Yohanes 3:16; 14:6 dll.).
  • Muhammad dengan cepat menghentikan pemikiran dan kesimpulan kritis yang demikian dengan membuat Yesus mengatakan, “Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu. Sembahlah Dia, itulah ibadah yang benar.” Ia tidak membiarkan Isa di dalam Al-Qur’an mengatakan, “Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapa-mu, Allah-Ku dan Allah-mu!” Tidak, Muhammad menempatkan Isa di bawah kuasa dan kedaulatan Allah. Muhammad tidak pernah siap untuk mengakui bahwa Kristus Yesus adalah Tuhan sendiri bagi kemuliaan Allah Bapa-Nya. Sementara menerima prinsip-prinsip pokok dari iman Kristen ia akhirnya menolak inti yang paling dalam dan membuat Putera Maryam sebagai hamba Allah, yang akan membawa para pengikutnya ke Firdaus di “jalan yang lebar” dari Hukum Islam.

Tetapi meski ada muslihat Islami ini, Muhammad sendiri sudah menegaskan kebenaran bahwa Kristus Yesus adalah pembuat peraturan yang ilahi yang memiliki hak untuk menuntut ketaatan tanpa syarat bagi pengikutnya dan dari semua manusia. Kita harus membuat para pencari kebenaran di dalam Muslim menyadari bagian dari Al-Qur’an ini, dan menolong mereka – sesudah mereka mengalami kehancuran kesombongan rohani – untuk menerima anugerah Kristus yang tersedia bagi mereka juga.

9. Kristus memperbaharui pengikut-pengikut-Nya

Di dalam Al-Qur’an ada beberapa ayat yang menjelaskan karakter Kristen dengan cara yang positif. Dari kesaksian Muhammad orang bisa melihat bahwa Putera Maryam mampu mengubah orang yang sombong menjadi orang yang rendah hati dan orang yang egois menjadi hamba yang penuh belas kasihan. Inilah mujizat terbesar yang dilakukan oleh Kristus menurut kitab orang Muslim. Perubahan ini tidak hanya terjadi satu kali, tetapi terjadi setiap hari, dahulu dan sekarang. Orang-orang Kristen dijelaskan lebih dari 50 kali di dalam Al-Qur’an. Beberapa dari ayat itu tidak hanya menuliskan mengenai orang-orang Kristen saja, tetapi orang-orang Yahudi juga (Surat Āl ‘Imran 3:55.113-114.199; al-Ma’ida 5:65-68; al-An’am 6:90; al-Hadid 57:27; al-Saff 61:14 dll.).

Di dalam Surat Āl ‘Imran kita membaca evaluasi Muhammad atas suatu delegasi Kristen yang berasal dari Yaman Utara (Wadi Nadjran), yang berdiskusi dengan dia tentang iman di Medinah selama tiga hari. Ia berusaha membawa orang-orang itu kepada Islam dan membuat Allah berkata kepada Isa,

“Aku akan menjadikan orang-orang yang mengikutimu di atas mereka yang kafir hingga hari kiamat.” (Surat Āl ‘Imran 3:55)

 

Muhammad dan orang-orang Muslimnya sangat terkesan oleh delegasi 60 orang Kristen dari Yaman Utara yang berpakaian rapi itu. Muhammad merasa bahwa budaya mereka lebih tinggi dari budayanya dan ingin menarik mereka kepada Islam. Ia melihat keunggilan mereka dan dominasi ekonomi mereka atas para penyembah berhala dan juga kaum animis. Tetapi, tentu saja, di dalam negosiasi itu ia tidak mengatakan pandangannya yang sebenarnya, yaitu bahwa orang-orang Muslim, tentu saja, dalam tingkatan yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan orang-orang Kristen.

Di dalam Surat yang sama kita membaca tentang para budak dan pekerja yang bertemu pada malam hari dan membaca Alkitab bersama-sama, dan beribadah kepada Tuhan mereka dengan bersujud. Mungkin mereka adalah kaum Kristen ortodoks, karena orang-orang dari gereja yang lain, dan bahkan orang Yahudi, tidak bersujud di dalam ibadah mereka. Muhammad mengakui bahwa mereka memelihara perjanjian mereka dengan Allah dan bahwa hidup mereka sesuai dengan iman mereka. Ia menyebut mereka sebagai “orang-orang baik” yang akan diberi pahala oleh Allah (Surat Āl ‘Imran 3:113-114). Betapa sebuah kesaksian yang hebat tentang orang-orang Kristen yang dianggap rendah di Hidjaz!

Menurut Surat Āl ‘Imran Muhammad juga bertemu dengan orang-orang Kristen yang rendah hati dan sederhana dan yang mengutip ayat-ayat dari Alkitab tanpa meminta uang, bertolak belakang dengan orang Yahudi di Medinah yang biasanya hanya mengatakan kepadanya sebagian dari Mishna atau Talmud ketika ia pada awalnya membeli barang-barang dari mereka (Āl ‘Imran 3:199). Beberapa kali, orang-orang Kristen, menurut Al-Qur’an, berusaha untuk menginjili Muhammad, tetapi sia-sia.

Di dalam Surat al-Ma’ida sebuah garis pemisah ditarik untuk membedakan antara orang-orang Yahudi dengan orang-orang Kristen. Allah disebut-sebut memberi pernyataan kepada Muhammad:

“Sungguh akan engkau dapati orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya akan engkau dapati juga orang yang paling dekat kasih sayangnya terhadap orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang berkata, “Sesungguhnya kami adalah orang Nashara.” Yang demikian itu disebabkan di antara mereka ada pendeta-pendeta dan rahib-rahib, dan sesungguhnya mereka itu tidak menyombongkan diri.” (Surat al-Ma’ida 5:82)

Muhammad mengenali kerendahan hati Kristus di dalam diri para pengikutnya, yang tidak berusaha untuk menjadikan diri mereka sebagai orang-orang hebat. Pada saat yang sama Muhammad mengetahui bahwa ciri ini tidak datang dari diri mereka sendiri tetapi datang dari pemimpin rohani mereka. Ayat ini memberikan pengakuan yang sangat luar biasa tentang kerendahan hati yang dimiliki oleh orang-orang Kristen pada jaman Muhammad.

Di dalam Surat al-Hadith anda bisa membaca suatu analisa yang sangat nyata tentang orang-orang Kristen. Muhammad membuat Allah mengatakan,

Kami ikutkan Isa, Putera Maryam, dan Kami berikan Injil kepadanya, dan Kami jadikan perasaan santun dan kasih sayang dalam hati pengikut-pengikutnya.” (Surat al-Hadid 57:27)

Muhammad membuat perbedaan di antara berbagai macam orang Kristen: Ia menyebut para pencari kebenaran sebagai murid-murid; para pejuang yang bersemangat dan penolong yang siap langsung berlari menuju medan peperangan memerangi doktrin baru; orang-orang yang percaya yang sadar dan para penyembah yang berdoa yang berusaha untuk hidup sesuai dengan keyakinan mereka; ‘orang-orang Muslim’ yang sejati yang menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah dan utusannya (Kristus) dan berserah kepadanya tanpa syarat; para pengikut yang berusaha untuk meneladani guru mereka dan mengikut dia melalui masa-masa susah dan senang; dan para saksi mata dari perbuatan-perbuatannya yang siap untuk mati bagi kesaksian mereka. Mereka hanya meminta satu hal saja kepada Isa, yaitu bahwa ia akan menuliskan nama mereka di dalam Kitab Kehidupan di surga (Surat Āl ‘Imran 3:52-53).

Menurut Muhammad, tidak semua orang Kristen mengambil bagian di dalam rahasia mujizat terbesar yang dilakukan Kristus – kecuali bagi para pengikutnya! Muhammad merasa bahwa Alllah secara pribadi melakukan mujizat dengan mereka. Ia meletakkan sesuatu ke dalam hati mereka sesuatu yang tidak dimiliki oleh orang-orang lain: belas kasihan dan kasih karunia, bahkan untuk musuh-musuh mereka! Ketika Muhammad menyelidiki tentang asal dari kharisma ini ia tidak menemukan sumber yang lain kecuali Injil, yang diwahyukan oleh Allah kepada Isa. Muhammad percaya bahwa belas kasihan dan kasih karunia di dalam hati para pengikut Kristus berasal dari kitab itu. Tetapi ia tidak mengenal kuasa Roh Kudus yang atasnya Paulus menuliskan, “Karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.” (Roma 5:5)

Muhammad berpikiran positif terhadap orang-orang Kristen yang sebenarnya. Ia tidak hanya mengenal Waraqa b. Naufal, sepupu dari istri pertamanya Kadijah, seorang penatua yang terhormat dari sebuah kelompok Pemahaman Alkitab di Mekkah, tetapi ia mengetahui bahwa 83 orang Muslim menemukan perlindungan di dalam lindungan orang-orang Kristen di Abyssinia ketika penganiayaan terhadap orang-orang Muslim di Mekkah menjadi tidak tertahankan. Sikap dari orang-orang Kristen Abyssinia membentuk gambaran tentang orang-orang Kristen di dalam Al-Qur’an lebih daripada yang kita perkirakan. Namun, orang-orang Abyssinia itu gagal menginjili para pengungsi Muslim itu. Ketika orang-orang Muslim itu kembali ke Medinah setelah Islam menjadi kuat, 230 orang Ethiopia sudah menerima Islam, sementara hanya ada seorang Muslim yang menjadi Kristen. Dan satu orang itupun mati segera setelah ia berpindah agama itu (mungkin ia mati karena kekerasan).

Di dalam Surat al-Saff orang-orang Kristen disebut sebagai penolong dan kawan sekerja Allah ketika mereka bersumpah untuk setia kepada Isa di dalam pengadilan terhadapnya dan bersiap-siap untuk berjuang baginya. Allah memastikan kemenangan mereka atas musuh-musuh mereka (Surat al-Saff 61:14).

Ketika anda membaca ayat-ayat itu di dalam Al-Qur’an anda akan menemukan bahwa Muhammad mengatakan kalau Isa sudah mengubah para pengikutnya menjadi serupa dengan dia. Mereka mengasihi musuh-musuh mereka, memberkati orang-orang yang mengutuk mereka dan melakukan kebaikan kepada mereka yang menghujat dan menganiaya mereka (Matius 5:44). Mereka sangat rendah hati dan lemah lembut, tidak tamak, tetapi berdoa di lingkungan jemaat mereka, bahkan kalau perlu pada waktu malam hari. Kitab mereka menjadi pusat dan sumber bagi ibadah mereka. Orang-orang Kristen ini, dijelaskan di dalam Al-Qur’an, biasanya bukanlah orang-orang asing, tetapi orang-orang Arab yang berasal dari utara, selatan dan barat Semenanjung Arab. Kristus menggenapkan mujizat terbesar-Nya di dalam mereka: mereka hidup seturut dengan apa yang mereka percayai dan sudah menjadi ciptaan baru dengan anugerah dari Juruselamat mereka. Hari ini orang-orang yang dulunya Muslim menemukan identitas mereka sebagai orang-orang Kristen Alkitabiah yang disebutkan di dalam Al-Qur’an. Ayat-ayat ini bisa menolong mereka ketika mereka berbicara dengan saudara-saudara mereka yang Islam.

10. Ayatullah yang sesungguhnya

Dua kali kita menemukan di dalam Al-Qur’an bahwa Kristus Yesus dan ibunya adalah dua tanda agung dari Allah (Surat al-Anbiya’ 21:91; al-Mu’minun 23:50). Sekali hal itu menyatakan bahwa Kristus sendiri adalah tanda bagi manusia dan kasih karunia yang dari Allah (Surat Maryam 19:21). Ketiga ayat di atas menegaskan rahasia Kristus di dalam Al-Qur’an dan menyimpulkan hakekat yang sesungguhnya dari semua mujizatnya. Tujuan dari mujizat-mujizatnya bukanlah mujizat itu sendiri tetapi sebagau pernyataan tentang dia, yang melakukan mujizat-mujizat itu.

Di dalam bahasa Arab kata untuk tanda adalah ayatun yang juga berarti mujizat. Dengan menggabungkan kata itu dengan kata Allah maka kedua kata itu akan membentuk suatu gelar yang sangat terhormat Ayatullah! Kristus Yesus adalah tanda mujizat dari Allah! Teks di dalam Al-Qur’an memperluas makna dari kata ini dan menunjukkan tujuannya: bagi manusia! Semua orang harus melihat kemahakuasaan Allah dan kasihNya di dalam diri Putera Maryam. Tidak ada nabi, raja atau imam yang lain yang menyandang gelar kehormatan ini menurut Al-Qur’an, bahkan Muhammad juga tidak. Kristus sendiri adalah satu-satunya mujizat Allah yang harus diakui manusia. Semua Ayatullah yang lain menerima gelar mereka hanya dari manusia.

Ketika kita bertanya mengapa Putera Maryam menjadi tanda terbesar dari Allah di dalam Al-Qur’an, kita menemykan jawabannya di dalam kepercayaan Islam bahwa Allah menciptakan Kristus di dalam diri Maryam sepenuhnya hanya melalui firman, tanpa ada keikutsertaan dari seorang ayah manusia. Allah menghembuskan rohnya ke dalam tubuh Maryam. Karena itu Kristus bukan hanya sekedar seorang manusia yang dilahirkan oleh seorang perempuan, tetapi, menurut Al-Qur’an, juga roh dari Allah di dalam tubuh manusia. Isa sudah ada bersama-sama dengan Allah bahkan sebelum ia dilahirkan. Setelah kenaikannya ia kembali kepada Allah dengan tubuh, jiwa dan roh. Saat ini, Yesus hidup bersama dengan Allah. Muhammad sudah mati. Kristus Yesus adalah satu-satunya manusia yang bisa disebut sebagai “Roh Allah” dan “firmannya yang berinkarnasi.” Karena itu Kristus adalah satu-satunya tanda dari Allah yang bisa dirasakan bagi semua manusia.

Dari dua keberadaan ini – sebagai manusia yang sempurna dan roh Allah yang sempurna – semua tanda-tanda dan mujizatnya terjadi, menurut Al-Qur’an:

  • Ia adalah firman Allah yang berinkarnasi. Ia sudah bisa berbicara ketika masih bayi baru lahir yang masih ada di ayunan.
  • Ia adalah pencipta dengan roh yang memberi kehidupan – dengan ijin Allah!
  • Ia penuh dengan belas kasihan bagi orang-orang yang sakit dan sengsara. Ia menyembuhkan semua yang datang kepadanya.
  • Ia adalah dokter yang terbaik di dunia – dengan ijin Allah!
  • Ia menang atas maut, karena Ia membangkitkan orang mati – dengan ijin Allah!
  • Ia mahatahu, karena “mata sinar x” yang dimilikinya bisa melihat semua orang dan segala sesuatu.
  • Ia memiliki hak untuk menaikkan syafaat sebagai pengantara antara Allah dengan para pengikutnya.
  • Ia menurunkan makanan dari Firdaus bagi mereka dan memberi rezeki kepada mereka dengan makanan untuk setiap hari!
  • Ia adalah pemberi hukum dan sudah menegaskan ketidakbersalahan Hukum Taurat. Ia mengubah hukum ilahi dan menetapkan aturan yang baru.
  • Ia disebut menuntut ketaatan-iman dari semua manusia, termasuk orang-orang Muslim.
  • Ia mengubahkan karakter yang sombong dari antara para peengikutnya dan memenuhi mereka dengan kasih dan kerendahan hati.

Tanda-tanda ini di dalam Al-Qur’an adalah seperti cermin yang memantulkan keadaan dan difat Isa, Putera Maryam. Semuanya menjelaskan bahwa ia adalah mujizat di atas semua mujizat.

Yesus yang Alkitabiah bisa diperhatikan berulangkali di dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Muhammad mencantumkan banyak dari iman Kristen di sana untuk menjadikan Al-Qur’annya sebagai sesuatu yang sepadan dengan Injil, sehingga orang-orang Kristen akan tertarik untuk menerima Islam. Ia tidak selalu menyatakan penolakannya akan keilahian Kristus, dan juga ia tidak membuang penyaliban Yesus. Ia mengakui Isa sebagai pembuat mujizat yang penuh belas kasihan, tabib, pembangkit orang mati dan pembuat peraturan untuk membuat orang-orang Kristen tertarik kepada Islam.

Jadi, kita memiliki hak untuk mengeluarkan kesaksian yang menyimpang tentang orang-orang Kristen dari Al-Qur’an dan meletakannya secara tepat dari keseluruhan Injil yang benar, sebagai satu-satunya kebenaran dan jalan untuk berdamai dengan Allah. Tujuannya bukanlah hanya untuk menunjukkan hukum dan anugerah, perintah dan ketaatan di dalam iman, tetapiuntuk memberikan gambaran tentang Kristus yang sebenarnya di hadapan mata orang-orang Muslim, supaya mereka bisa melihat Dia, mengasihi Dia, percaya kepada Dia, berpegang kepada Dia, menerima kehidupan kekal dari Dia dan menghasilkan buah-buah Roh yang dari Dia.

Untuk ini, Yesus menyebut diri-Nya sebagai terang dunia, roti hidup, jalan yang benar, kebenaran kekal, gembala yang baik, pokok anggur yang benar, kebangkitan dan hidup, raja (dengan mahkota duri), yang awal dan yang akhir. Kata-kata “Akulah…” dari Yesus di dalam Injil bisa memberikan penerangan kepada orang-orang Muslim yang mencari kebenaran untuk memahami bahwa Yesus bukan hanya seorang pembuat mujizat tetapi sepenuhnya kasih Allah dan kekudusan-Nya yang menjadi manusia.

 

K U I S

Pembaca yang kekasih!

Apabila anda sudah mempelajari buklet ini dengan seksama, anda akan bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan mudah. Setiap orang yang menjawab 90 persen dari semua pertanyaan di dalam kedelapan buklet dari seri ini, akan mendapatkan sertifikat dari kantor pusat kami di

Studi Lanjutan

Mengenai cara yang sangat menolong untuk mengadakan percakapan dengan orang-orang Muslim tentang Yesus Kristus

sebagai dorongan untuk masa depan pelayanannya bagi Kristus.

1. Berapa banyak mujizat yang dilakukan Musa yang disebutkan di dalam Al-Qur’an? Apakah ciri-cirinya dan tujuannya?

2. Berapa sering kita membaca tentang bukti-bukti (bayyinaat) Kristus di dalam Al-Qur’an? Apakah ciri-ciri dan tujuannya?

3. Siapakah Rohulqudus yang menurut Al-Qur’an menguatkan Kristus untuk melakukan semua mujizat-mujizatnya? (Surat al-Baqara 2:87, 253; al-Ma’ida 5:110, dll.)

4. Bagaimanakah Muhammad berusaha untuk menguatkan kenabiannya sendiri dengan bukti-bukti yang dimiliki Kristus? (Surat al-Saff 61:6)

5. Berapa sering Muhammad menggunakan istilah tanda (aayat) untuk mujizat-mujizat Kristus di dalam Al-Qur’an? Dimanakah di dalam Injil kita bisa membaca istilah yang sama untuk mujizat Kristus? Bagaimana makna dari kedua kata ini berbeda di dalam kedua kitab itu?

6. Mengapa Yesus menganggap keinginan untuk melihat mujizat sebagai ketidakpercayaan atau sebagai tindakan mencobai Allah di dalam Injil?

7. Dari sumber apakah Muhammad mendengartentang legenda bahwa Isa yang baru lahir langsung bisa berbicara setelah ia lahir? Mengapa Muhammad membiarkan dan percaya kepada kisah dongeng yang demikian?

8. Bagaimanakah pencantuman dari legenda tentang Isa ini di dalam pewahyuan Allah di dalam Al-Qur’an membuktikan bahwa Muhammad bukanlah nabi yang sesungguhnya?

9. Apakah isi yang bisa dipertanyakan dan yang terlalu berlebihan di dalam pembicaraan Kristus yang pertama di dalam Al-Qur’an? (Surat Maryam 19:24-26)

10. Bagaimana Muhammad membayangkan penciptaan seekor burung oleh Isa yang masih anak-akan?

11. Mengapa pernyataan “Aku menciptakan” di dalam penjelasan Al-Qur’an untuk mujizat oleh Putera Maryam ini begitu penting di dalam pembicaraan kita dengan orang-orang Muslim?

12. Apa yang bisa kita simpulkan dari penghembusan Isa kepada burung dari tanah liat dan pernyataan Al-Qur’an bahwa burung itu kemudian terbang? Dimana di dalam Injil kita melihat bahwa Yesus sungguh-sungguh menghembus kepada orang? Apakah perbedaan hasil dari penghembusan Kristus di dalam Al-Qur’an dan di dalam Injil?

13. Bagaimana Muhammad di dalam Al-Qur’an berusaha untuk membatasi kapasitas Isa di dalam melakukan mujizat-mujizatnya? Mengapa Yesus sendiri membatasi kapasitas-Nya untuk melakukan mujizat di dalam Yohanes 5:19?

14. Berapa banyak orang buta yang dicelikkan matanya oleh Kristus menurut Al-Qur’an? Dan bagaimana ia secara dalam tindakan membuka mata mereka menurut imajinasi Muhammad?

15. Bagaimana kusta disalahartikan dan dinilai secara negatif di banyak negara Asia dan Afrika?

16. Apakah kedaulatan Kristus yang bisa dilihat juga ketika Ia menyembuhkan orang-orang kusta?

17. Apakah kepedulian Putera Maryam bagi orang-orang sakit dan sengsara seperti yang dinyatakan di dalam Al-Qur’an?

18. Berapa banyak orang mati yang dibangkitkan Kristus dan dihidupkan kembali menurut Al-Qur’an?

19. Mengapakah Kristus menjadi satu-satunya manusia di dunia ini yang bisa membangkitkan orang mati menurut Al-Qur’an?

20. Rahasia yang mana yang bisa kita jelaskan kepada orang-orang Muslim tentang pandangan pemikiran Islam bahwa Kristus bisa melakukan mujizat-mujizatnya hanya dengan pertolongan Roh yang dari Allah?

21. Bagaimanakah Isa di dalam Al-Qur’an dinyatakan sebagai mahatahu? Bagaimana kita bisa menggunakan rahasia tentang Yesus yang tahu segala sesuatu di dalam percakapan kita dengan orang Muslim?

22. Bagaimana tafsiran al-Suyuti tentang bagian Al-Qur’an ketika ia memakai sebuah tradisi (Hadits) tentang Yesus untuk menjelaskan tentang kemahatahuan-Nya?

23. Apa yang bagi anda paling penting di dalam kisah di dalam Al-Qur’an tentang hidangan yang dari surga bagi para pengikut Isa?

24. Mengapa Yesus berdoa “Allahumma” dan tidak “Oh Allah”?

25. Bagaimana Muhammad menegaskan bahwa Kristus memiliki hak untuk menjadi pengantara antara para pengikutnya dengan Allah? Mengapa Yang Mahakuasa secara langsung menjawab dosa syafaat dari Putera Maryam?

26. Mengapakah Kristus mengubahkan Hukum Musa yang sudah diwahyukan? Bagaimana ia bisa “mengijinkan” para pengikutnya atas sesuatu yang dilarang oleh Allah? Apakah Kristus menurut Al-Qur’an memiliki hanya kuasa untuk melakukan tetapi juga kedaulatan untuk membuat peraturan?

27. Mengapa Isa di dalam Al-Qur’an berbicara sangat sering mengenai takut kepada Allah dan hampir tidak pernah berbicara mengenai kasih Allah?

28. Apakah makna dari perintah Kristus yang sangat jelas di dalam Al-Qur’an “Taatilah aku!” bagi semua orang Muslim? Mengapa kita perlu mempelajari Hukum Kristus bagi percakapan kita dengan orang-orang Muslim?

29. Bagaimanakah Muhammad dengan permainan kata-kata berusaha untuk mengosongkan kedaulata Kristus dan membuatnya menjadi seorang Muslim yang takut kepada allahnya?

30. Dengan sebutan dan nama apakah Muhammad berusaha untuk menjelaskan tingkatan yang berbeda dari para pengikut Kristus? Mengapa ia menyebut mereka semua sebagai “Orang-orang Muslim?”

31. Sebutan unik yang manakah yang dipakai oleh Muhammad untuk memberikan ciri kepada para pengikut Kristus? Dari mana ia mengetahui sebutan-sebutan itu?

32. Mengapakah perubahan dari orang-orang berdosa yang egois menjadi para hamba Tuhan yang penuh dengan kedamaian menjadi mujizat Kristus yang terbesar di antara semua mujizat?

33. Mengapa Isa di dalam Al-Qur’an menjadi satu-satunya Ayatullah sejati yang ditunjuk oleh Allah di dalam sejarah? Apa arti dari gelar ini dan gelar sepadan bagi Kristus yang mana yang bisa anda temukan di dalam Injil?

34. Bagaimanakah Muhammad menjelaskan dan memperdalam gelar Ayatullah bagi Kristus? Apakah kemungkinan makna di dalam Islam bahwa Kristus adalah anugerah Allah yang berinkarnasi?

35. Sepuluh gelar dan sebutan luar biasa Kristus yang manakah yang bisa anda ambil dari mujizat-mujizat Kristus di dalam Al-Qur’an?

36. Mengapakah Muhammad melukiskan gambaran yang sangat positif tentang Kristus bagi para anggota delegasi yang mengunjungi dia?

37. Bagaimana kita bisa menggunakan mujizat-mujizat Kristus di dalam Al-Qur’an sebagai jembatan kepada Injil yang benar? Apakah yang tidak mungkin dilepaskan dalam upaya mencapai goal ini di dalam pelayanan praktis anda di antara orang-orang Muslim?

 

Semua peserta dari kuis ini boleh menggunakan setiap buku yang dimilikinya dan untuk bertanya kepada orang yang bisa dipercayai yang dikenalnya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini. Kami menantikan jawaban tertulis anda termasuk alamat lengkap anda di selembar kertas atau di e-mail anda. Kami berdoa agar Yesus, Tuhan yang hidup, agar Ia memanggil, mengutus, membimbing, menguatkan, melindungi dan beserta dengan anda di sepanjang hari kehidupan anda!

 

Rekan anda dalam melayani Dia

Abd al-Masih dan saudara-saudaranya di dalam Tuhan

 

Kirimkan jawaban anda ke GRACE AND TRUTH P.O.Box 1806 70708 Fellbach GERMANY

Atau dengan e-mail ke: info@grace-and-truth.net

About these ads