Saya lahir dan besar ditengah keluarga berlatar belakang militer. Ayah yang adalah seorang tentara, sangat disiplin dan juga keras dalam mendidik anak-anaknya. Kesalahan sedikit mendatangkan hajaran fisik, sehingga rasa sakit terus tertanam dan berakar kuat dalam hati. Saya dihajar dengan bambu sampai ujung bambu hancur. Ketika mendapat nilai jelek saya dilempar ke bawah tempat tidur. Sampai malam saya tetap di situ dalam gelap dan baru keluar setelah ayah pergi. Hal-hal ini membuat saya munafik. Saat di rumah saya menjadi anak baik, tetapi di luar rumah menjadi liar, tidak terkontrol. Ibu tidak berdaya untuk menghalangi perlakuan ayah terhadap anak-anaknya.

Pada usia 14 tahun saya bertengkar dengan orang tua, lalu pergi meninggalkan rumah. Saya belajar ilmu gelap, santet, yang menurut pandangan saya adalah baik. Dengan bekal ilmu bela diri dan ilmu hitam yang saya miliki, hari-hari saya penuh perkelahian. Siapapun yang tidak saya sukai, akan saya hajar. Saya memiliki anak buah beberapa preman. Untuk menghabisi nyawa orang buat saya hal biasa. Jika ada wanita yang menolak cinta saya dengan mudah saya habisi nyawanya lewat santet.

Pada usia 18 tahun, saya mulai jatuh dalam dosa perzinahan dan terikat seks bebas. Ditambah dengan studi di Malang tanpa pengawasan orang tua menjadikan hidup saya semakin rusak. Bahkan kemudian saya menjadi pemasok wanita penghibur untuk para dosen, pejabat, pengusaha.

Satu ketika, salah satu anak buah saya bertobat. Seorang kerabatnya yang adalah misionaris dari Australia datang melayani di Indonesia. Saat itu, saya bersama anak buah mendapat tawaran untuk menjaga keamanan acara tersebut. Awalnya saya berpikir bahwa acara ini pasti menguntungkan karena banyak orang asing yang terlibat. Ternyata acara tersebut adalah KKR.

Selama beberapa hari bertugas disana, saya mendengar kalimat tantangan dari atas panggung, “Jika engkau lelaki sejati angkat tanganmu, Tuhan Yesus sanggup merubah hidupmu!” Mendengar itu, saya emosi dan langsung mengangkat tangan sehingga usher yang bertugas mendatangi saya dan meminta saya maju untuk didoakan.

Sampai di depan panggung, saya sempat bersitegang dengan hamba Tuhan yang akan mendoakan. Saya katakan, “Saya tantang engkau. Aku ini pangeran sejagat!”. Lalu saya mulai membaca mantera-mantera. Pada malam harinya, saya menantang Yesus di kamar. Saya lawan dengan ilmu yang saya miliki, lalu bergulat antara hidup dan mati. Wajah dan seluruh badan saya panas. Sempat saya berpesan pada penjaga di rumah itu, jika saya kedapatan meninggal, agar jasad saya dikubur.

Pada hari ke-3 saya mendatangi seorang hamba Tuhan dan minta pertolongan karena sudah tidak tahan lagi. Seluruh tubuh saya panas. Di dalam kamar saya didoakan dan muntah. Kemudian tidak sadarkan diri sampai keesokan hari. Saya tergeletak diantara muntahan yang berbau busuk. Tetapi tubuh terasa ringan dan saya merasa pulih. Setelah bangun dan membersihkan bekas muntahan, saya menyerahkan semua jimat saya untuk dibakar. Saya mengakui bahwa Tuhan Yesus jauh lebih hebat dari apapun juga yang ada di dunia ini.

Dari situ saya mulai belajar menata hidup dari awal dengan membantu membereskan kursi di gereja, membantu bersih-bersih. Dari sana saya merasakan cinta mula-mula. Saya melayani daerah-daerah rawan seperti Senen, Grogol, terminal-terminal bis.

Tuhan Yesus yang luar biasa hebat sanggup mengubahkan keadaan kita, seburuk apapun menjadi baik semudah membalik telapak tangan. Haleluya!

…ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya. (Mazmur 139:14)

Sumber: Kesaksian Andarias

About these ads