Diposkan oleh Ali Sina pada tanggal 30 April 2011

Saya dilahirkan dalam keluarga religius yang moderat. Dari pihak ibu, saya mempunyai beberapa kerabat yang termasuk dalam golongan para Ayatollah. Walaupun kakek saya (yang tidak pernah lihat) dapat dikatakan adalah seorang yang berpikiran bebas, kami semua adalah orang beriman. Orang-tua saya tidak terlalu menyukai para mullah. Kenyataannya, hubungan kami dengan para kerabat kami yang lebih fundamentalis tidak begitu erat. Saya menilai keluarga saya sebagai orang-orang yang percaya pada “Islam yang sejati”, bukan Islam seperti yang diajarkan dan dipraktekkan oleh para mullah.

Saya teringat bahwa saya pernah mendiskusikan agama dengan suami salah seorang bibi saya ketika saya masih berusia sekitar 15 tahun. (lihat: about). Ia adalah seorang Muslim fanatik  yang sangat memperhatikan fiqh (yurisprudensi Islam). Fiqh menjelaskan bagaimana orang Muslim seharusnya bersembahyang, berpuasa, menjalani kehidupan pribadi dan publik mereka, melakukan bisnis, membersihkan diri, menggunakan toilet, buang air kecil, berpasangan dan bersetubuh. Saya berargumen, hal-hal itu tidak ada kaitannya dengan Islam yang sejati. Menurut saya hal-hal itu adalah rekaan para mullah, dan perhatian berlebihan kepada fiqh menghilangkan nilai kemurnian pesan Islam, yang saya yakini adalah untuk menyatukan manusia dengan Penciptanya. Pandangan ini sangat diinspirasi oleh Sufisme. Banyak orang Iran, berkat puisi-puisi Rumi, hingga pada tingkatan yang tinggi, dapat disebut Sufi berdasarkan penampilan mereka.

Sudah tentu Sufisme tidak benar-benar damai. Namun Sufisme lebih mistik daripada Islam sejati yang benar-benar duniawi dan tidak spiritual. Namun demikian, ia dapat sangat menyesatkan.

Di awal masa remaja saya memperhatikan adanya diskriminasi dan kekejaman terhadap anggota-anggota kelompok minoritas agama di Iran. Ini lebih terlihat di kota-kota provinsi dimana para mullah mempunyai kekuasaan yang lebih besar atas penduduk yang mudah dibodohi.

Oleh karena pekerjaan ayah saya, kami tinggal selama beberapa tahun di kota-kota kecil di luar ibukota. Suatu hari guru kami mengumumkan bahwa ia hendak membawa kelas kami pergi berenang. Hal sederhana seperti itu adalah sesuatu yang sangat besar bagi kami yang hidup di negara dunia ketiga. Kami sangat senang dan sangat menantikan hari itu. Di kelas kami ada beberapa anak yang beragama Baha’i dan Yahudi. Pada hari keberangkatan, guru kami mengatakan pada mereka bahwa mereka tidak boleh ikut. Ia berkata mereka tidak diijinkan berenang di kolam yang sama dengan orang Muslim. Saya tidak dapat melupakan kekecewaan anak-anak itu ketika mereka meninggalkan sekolah dengan berlinang air mata, sedih dan patah hati. Pada usia seperti itu, sekitar 9 atau 10 tahun, saya belum mengerti hal tersebut dan merasa sedih melihat ketidakadilan ini. Saat itu saya berpikir kesalahan mereka adalah mereka bukan orang Muslim.

Saya percaya bahwa saya beruntung mempunyai orang-tua yang berpikiran terbuka dan mendorong saya untuk berpikir kritis. Mereka berusaha untuk menanamkan pada saya kasih kepada Allah dan para utusan-Nya, namun juga menjunjung nilai-nilai kemanusiaan seperti kesamaan hak antara pria dan wanita, dan kasih pada semua orang. Kini saya tahu mereka tidak mengetahui apa-apa mengenai Islam yang sejati. Dapat dikatakan, seperti itulah keluarga-keluarga orang Iran yang berpendidikan pada umumnya. Kenyataannya, mayoritas orang Muslim percaya bahwa Islam adalah agama yang humanis, yang menghormati hak-hak azasi manusia, meninggikan status wanita dan melindungi hak-hak mereka. Orang Muslim pada umumnya percaya bahwa Islam berarti damai. Tak perlu dikatakan lagi, hanya sedikit diantara mereka yang telah membaca Quran.

Saya menghabiskan awal masa remaja saya dalam firdaus ketidakpedulian yang indah itu, menyanjung “Islam yang sejati” seperti yang saya bayangkan, dan mengkritik para mullah dan penyimpangan mereka dari Islam yang sejati. Saya mencita-citakan Islam yang bersesuaian dengan nilai-nilai kemanusiaan saya sendiri. Islam imajiner saya adalah sebuah agama yang indah. Sebuah agama yang menjunjung kesetaraan dan kedamaian. Sebuah agama yang menganjurkan para pengikutnya untuk mengejar pengetahuan dan bersikap ingin tahu. Sebuah agama yang selaras dengan sains dan nalar. Kenyataannya, saya dibawa untuk percaya bahwa sains mendapatkan inspirasinya dari Islam, yang pada akhirnya menghasilkan buahnya di Barat dan memungkinkan adanya penciptaan-penciptaan dan penemuan-penemuan modern. Dengan demikian, Islam adalah dasar utama peradaban modern. Menurut saya, mengapa orang Muslim hidup dalam ketidakpedulian yang parah seperti itu adalah karena kesalahan para mullah dan pemimpin agama yang berpusat pada diri sendiri, yang demi keuntungan pribadi, mereka telah salah menafsirkan Islam. Inilah sesungguhnya cara berpikir semua orang Muslim. Mereka tidak bersedia menemukan kesalahan apapun dalam Islam. Mereka menyalahkan diri sendiri dan semua orang, untuk semua yang salah dengan agama mereka.

Orang Muslim percaya bahwa peradaban Barat berakar dalam Islam. Mereka menyanjung para ilmuwan Timur Tengah yang mereka anggap memberi kontribusi sains yang penting dalam kelahiran sains modern (dalam anggapan mereka).

Omar Khayyam adalah seorang pakar matematika yang hebat. Ia mengkalkulasi panjang tahun dengan ketepatan 74% per detik. Zakaria Razi dapat dipandang sebagai salah satu pendiri pertama sains empiris yang mendasari pengetahuannya pada riset dan eksperimen. Ensiklopedia medis Avicenna yang ternama, diajarkan di universitas-universitas Eropa selama berabad-abad. Masih ada banyak lagi pencerah yang mempunyai “nama islami”, yang merupakan pionir sains modern di saat Eropa masih berada dalam Jaman Kegelapan abad pertengahan. Seperti semua orang Muslim, saya percaya bahwa orang-orang besar ini adalah orang Muslim dan mereka diinspirasikan oleh pengetahuan tersembunyi di dalam Quran; dan jika orang Muslim pada masa kini dapat memperoleh kembali kemurnian Islam yang mula-mula, masa-masa kejayaan Islam yang telah lama sirna akan kembali dan orang-orang Muslim akan memimpin peradaban dunia sekali lagi.

Iran adalah negara Muslim, tetapi juga merupakan negara yang korup. Kesempatan untuk masuk universitas yang baik sangat kecil. Hanya satu dari sepuluh pendaftar yang dapat masuk ke perguruan tinggi. Seringkali mereka dipaksa memilih mata kuliah yang tidak ingin mereka pelajari karena mereka tidak mempunyai poin yang cukup untuk mengambil mata kuliah pilihan mereka. Hanya para mahasiswa yang mempunyai koneksi yang baik yang diterima.

Standar edukasi di Iran tidak ideal. Universitas-universitas kurang mendapat dukungan dana, karena Shah Iran lebih suka membangun militer yang kuat yang dapat menjadi kekuatan di Timur Tengah daripada membangun infrastruktur negara dan berinvestasi pada pendidikan bangsa. Sebenarnya ia tidak terlalu mempercayai kaum intelektual. Inilah alasan mengapa ayah saya berpikir lebih baik saya meninggalkan Iran untuk melanjutkan pendidikan saya di tempat lain.

Kami mempertimbangkan Amerika dan Eropa, tetapi ayah saya, bertindak berdasarkan nasehat beberapa teman religiusnya, berpendapat negara Islam lainnya adalah tempat yang lebih baik untuk seorang anak laki-laki berusia 16 tahun. Kami diberitahu bahwa moralitas di Barat rendah, pantai-pantainya dipenuhi orang-orang yang bugil, dan mereka minum alkohol dan mempunyai gaya hidup yang tidak mengindahkan aturan, dan semuanya itu tidak baik untuk seorang pria muda. Jadi kemudian saya dikirim ke Pakistan, dimana orang-orangnya religius dan bermoral. Seorang teman keluarga kami mengatakan bahwa Pakistan itu sama seperti Inggris, namun (biaya hidup) lebih murah.

Hal ini sudah tentu terbukti tidak benar. Saya mendapati orang-orang Pakistan sama tidak bermoral dan korupnya dengan orang Iran, bahkan lebih. Ya, mereka sangat religius. Mereka tidak makan babi dan saya tidak melihat seorangpun minum alkohol di depan umum. Tetapi mereka berbohong, munafik, dan kejam terhadap wanita, dan lebih lagi, mereka dipenuhi kebencian terhadap orang India. Mereka sama sekali tidak bermoral. Mereka religius tapi tidak beretika.

Di perguruan tinggi, alih-alih mempelajari Urdu, saya mengambil Kebudayaan Pakistan untuk menyelesaikan level A FSc (Fellow of Science) saya. Saya mempelajari alasan pecahnya Pakistan dari India dan untuk pertama kalinya mendengar tentang Muhammad Ali Jinah, orang yang disebut orang-orang Pakistan sebagai Qaid-e A’zam, sang pemimpin besar. Ia digambarkan sebagai seorang yang cerdas, Bapak Bangsa, sedangkan Gandhi dibicarakan dengan nada yang menghina. Namun demikian, saya memihak Gandhi dan mengutuk Jinah sebagai orang yang arogan, ambisius, yang menjadi penjahat yang mengakibatkan perpecahan sebuah negara dan yang menyebabkan kematian jutaan orang. Anda dapat berkata, saya selalu mempunyai pendapat saya sendiri dan mempunyai pemikiran yang menakjubkan. Tak peduli apa yang diajarkan pada saya, saya selalu tiba pada konklusi saya sendiri.

Saya tidak melihat perbedaan-perbedaan agama sebagai alasan yang valid untuk memecah sebuah negara. Kata “Pakistan” itu sendiri adalah sebuah penghinaan terhadap orang-orang India. Mereka menyebut diri mereka sendiri “pak” (bersih) untuk membedakan mereka dari orang-orang India yang najis (tidak bersih). Ironisnya, saya tidak pernah melihat orang yang lebih kotor daripada orang-orang Pakistan, baik secara fisik maupun mental. Sangat mengecewakan melihat ada negara Islam lain yang mengalami kemunduran intelektual dan moral seperti itu.

Dalam diskusi-diskusi saya dengan teman-teman saya, saya gagal menyakinkan mereka akan “Islam yang sejati”. Saya mengutuk kebencian, fanatisme dan sikap mereka yang tidak toleran terhadap orang lain sementara mereka tidak menyetujui pandangan-pandangan saya yang tidak islami. Saya membutuhkan waktu bertahun-tahun dan banyak studi untuk menyadari bahwa mereka sesungguhnya benar mengenai Islam dan sayalah yang bodoh.

Saya melaporkan semua ini kepada ayah saya dan memutuskan untuk pergi ke Italia untuk melanjutkan studi di perguruan tinggi. Di Italia orang minum anggur dan makan babi, tetapi saya mendapati mereka lebih ramah, lebih bersahabat, dan tidak semunafik orang Muslim. Saya memperhatikan orang sudi membantu tanpa mengharapkan pamrih. Saya berjumpa dengan sepasang suami istri yang sudah lanjut usia, yang mengundang saya untuk makan siang dengan mereka setiap hari Minggu sehingga saya tidak usah tinggal di rumah sendirian. Mereka tidak menginginkan apapun dari saya. Mereka hanya menginginkan seseorang untuk dikasihi. Saya sudah seperti seorang cucu bagi mereka. Hanya orang asing di negara yang baru yang dapat menghargai nilai pertolongan dan keramahan penduduk lokal.

Rumah mereka bersih mengkilap dengan lantai marmer yang berkilau. Ini bertentangan dengan apa yang selama ini dikatakan kepada saya mengenai orang non Muslim. Menurut Islam, orang-orang yang tidak beriman itu kotor dan tidak seorangpun boleh berteman dengan mereka (Q.9:28). Quran berkata, Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu) [awliya’ = teman, pelindung, penolong, dsb]; sebahagian mereka adalah pemimpin [awliya] bagi sebahagian yang lain Q.5: 51

Saya mengalami kesulitan memahami “hikmat” dalam ayat seperti itu. Saya bertanya-tanya mengapa tidak boleh bersahabat dengan orang-orang yang baik ini, yang tidak mempunyai motivasi terselubung saat menunjukkan pada saya keramahan mereka selain dari membuat saya betah. Menurut saya merekalah “orang-orang Muslim sejati” dan saya berusaha membicarakan masalah agama, berharap mereka melihat kebenaran Islam dan memeluk Islam. Mereka tidak berminat dan dengan sopan mengubah pokok pembicaraan. Saya tidak terlalu bodoh untuk mempercayai bahwa semua orang yang tidak beriman akan masuk neraka karena mereka bukan orang Muslim. Saya telah  membacanya dalam Quran sebelumnya tetapi tidak pernah ingin mengetahuinya. Saya hanya melihatnya sekilas atau mengabaikannya. Sudah tentu, saya tahu Allah akan senang jika ada orang yang mengakui utusan-Nya tetapi tidak pernah berpikir Ia akan benar-benar sekejam itu hingga membakar orang dalam kekekalan, hanya karena mereka bukan Muslim. Tetapi Quran sangat jelas:

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi (akan semua semua kebaikan spiritual). Q 3:85,

Walau demikian, saya tidak terlalu memperhatikannya dan berusaha meyakinkan diri saya sendiri bahwa makna ayat ini dan ayat-ayat yang serupa adalah berbeda dari apa yang terbaca. Pada saat itu saya tidak siap untuk menangani hal ini. Jadi saya tidak memikirkannya. Kebanyakan orang Muslim hidup dalam penyangkalan seperti itu.

Saya bergaul dengan teman-teman Muslim saya dan memperhatikan bahwa kebanyakan dari mereka menjalani hidup yang sangat tidak bermoral dan berstandar ganda. Banyak dari mereka yang mempunyai teman wanita dan tidur dengan mereka. Itu sangat tidak islami, atau demikianlah pandangan saya pada waktu itu. Yang sangat mengusik saya adalah kenyataan bahwa mereka tidak menghargai gadis-gadis itu sebagai sesama manusia yang layak dihormati. Gadis-gadis itu bukan orang Muslim dan oleh karena itu mereka digunakan dan diperlakukan hanya sebagai obyek pemuas kebutuhan seks. Sikap ini tidaklah umum. Mereka yang tidak terlalu menunjukkan religiositasnya, lebih respek dan tulus kepada teman-teman wanita Barat mereka dan bahkan ada yang mengasihi mereka dan ingin menikahi mereka. Sebaliknya, mereka yang (kelihatannya) lebih religius, kurang setia dan lebih munafik.

Dalam benak saya, Islam sejati adalah semua yang benar. Jika saya melihat ada sesuatu yang tidak bermoral, tidak etis, tidak jujur atau kejam, menurut saya itu tidak islami. Dan sebaliknya, segala sesuatu yang baik saya hubungkan dengan Islam. Umumnya seperti inilah orang Muslim berpikir mengenai Islam, tetapi itu bukanlah Islam yang sesungguhnya. Pada waktu itu saya tidak dapat melihat bahwa orang Muslim itu jahat karena Islam.

Mereka yang lebih bertakwa ternyata lebih tidak bermoral. Orang-orang yang membela Islam dengan keras adalah orang-orang yang menjalani hidup yang kurang bertakwa. Mereka cepat marah dan memulai perkelahian jika ada orang yang mengucapkan sesuatu yang menentang Islam.

Saya pernah bersahabat dengan seorang pria muda Iran di restoran universitas dan mengenalkannya dengan dua orang muda Muslim lainnya yang adalah teman-teman saya. Usia kami kira-kira sebaya. Ia terpelajar, baik hati dan bijak. Kami selalu menantinya dan duduk di dekatnya selama jam makan siang, dan kami selalu belajar sesuatu darinya. Kami selalu makan banyak spaghetti dan risotto dan merindukan ghorme sabzi dan chelow yang lezat (kuliner Persia). Teman kami itu mengatakan ibunya telah mengiriminya beberapa sayuran kering dan mengundang kami ke rumahnya hari Minggu depan untuk makan siang. Kami mendapati apartemennya yang mempunyai dua kamar itu bersih. Ia membuat ghorme sabzi yang lezat untuk kami, yang kami makan dengan rakusnya, kemudian duduk mengobrol dan menyeruput teh. Ketika itulah kami memperhatikan buku-buku Baha’i miliknya. Ketika kami menanyakan tentang buku-buku itu, ia mengatakan bahwa ia beragama Baha’i.

Dalam perjalanan pulang, kedua teman saya  mengatakan bahwa mereka tidak mau melanjutkan hubungan persahabatan dengannya. Saya terkejut dan bertanya mengapa. Mereka berkata, dengan menjadi penganut Baha’i ia menjadi najis dan seandainya mereka tahu ia adalah seorang Baha’i mereka tidak mau berteman dengannya. Saya terheran dan meminta penjelasan mengapa mereka menganggapnya najis jika kami semua memujinya karena kebersihannya. Kami sepakat bahwa ia jauh lebih bermoral daripada orang-orang Muslim yang kami kenal, lalu mengapa tiba-tiba ada perubahan hati seperti ini? Mereka mengatakan, nama itu sendiri mengandung sesuatu di dalamnya yang membuat mereka tidak menyukai agama ini. Mereka bertanya pada saya apakah saya tahu mengapa semua orang tidak menyukai orang Baha’i. Saya mengatakan kepada mereka bahwa saya tidak tahu orang tidak menyukai orang Baha’i. Baha berarti kemuliaan. Tidak ada yang salah dengan itu! Dan saya mengatakan saya menyukai semua orang. Saya bertanya pada mereka karena mereka tidak menyukai orang Baha’i, mungkin mereka dapat menjelaskan alasannya. Mereka tidak tahu mengapa! Orang ini adalah orang Baha’i pertama yang mereka kenal dengan sangat baik, dan ia adalah seorang yang patut diteladani. Saya ingin tahu alasan ketidaksukaan mereka. Mereka mengatakan, tidak ada alasan khusus untuk itu. Mereka hanya tahu bahwa orang Bahai’i itu jahat.

Saya senang saya tidak meneruskan persahabatan saya dengan kedua orang fanatik itu. Dari mereka saya belajar bagaimana prasangka dibentuk dan beroperasi. Di kemudian hari saya menyadari bahwa prasangka buruk dan kebencian yang ditujukan orang Muslim kepada semua non Muslim adalah karena Quran menanamkannya dalam pikiran mereka.

Orang-orang yang pergi ke mesjid dan mendengarkan ceramah-ceramah para mullah sudah dipengaruhi. Ada banyak ayat dalam Quran yang menghimbau orang beriman untuk membenci orang-orang yang tidak beriman, memerangi mereka, menundukkan mereka, menghina mereka, memenggal kepala dan tangan mereka, menyalibkan mereka, dan membunuh mereka dimanapun mereka dijumpai.

Selama beberapa tahun, saya membiarkan kehidupan agama saya mati suri. Iman saya belum hilang, tetapi terlalu banyak yang harus saya kerjakan sehingga saya tidak punya waktu untuk urusan agama. Sementara itu, saya belajar tentang demokrasi, hak azasi manusia, kesetaraan, kebebasan berbicara dan hal-hal lainnya yang membentuk dunia Barat. Saya menyukai apa yang saya pelajari. Apakah saya sembahyang? Kapanpun saya sempat, tapi tidak secara teratur. Lagipula, saya tinggal dan bekerja di negara Barat dan saya tidak ingin kelihatan terlalu berbeda.

Suatu hari, saya memutuskan sudah saatnya bagi saya untuk memperdalam pengetahuan saya mengenai Islam dan membaca Quran dari halaman pertama hingga halaman terakhir. Saya menemukan sebuah Quran dalam bahasa Arab dengan terjemahan bahasa Inggris dan juga menggunakan terjemahan Persia yang saya miliki. Dulu saya hanya membaca Quran sepotong-sepotong. Kali ini saya membacanya sampai selesai. Saya membaca satu ayat dalam bahasa Arab; kemudian saya membaca ayat itu dalam terjemahan Inggris dan Persia; kemudian membaca lagi ayat itu dalam bahasa Arab, dan tidak membaca ayat berikutnya hingga saya memahami bahasa Arabnya.

Tidak dibutuhkan waktu yang lama bagi saya untuk tiba pada ayat-ayat yang bagi saya sulit diterima. Salah satu ayat tersebut adalah, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar” 4:48

Sulit bagi saya mempercayai bahwa Gandhi akan dibakar di neraka selamanya karena ia adalah seorang politeis yang tidak mempunyai pengharapan akan penebusan, sedangkan orang-orang Muslim yang melakukan pembunuhan dapat berharap menerima pengampunan Allah. Ini memunculkan pertanyaan, mengapa Allah sangat ingin dikenal sebagai satu-satunya Tuhan? Jika tidak ada Tuhan selain Dia, mengapa harus repot? Mengapa Ia harus pusing memikirkan apakah orang mengenal-Nya dan memuji-Nya atau tidak?

Itu kedengarannya sangat sepele. Katakanlah seorang suami yang cemburu mengatakan pada istrinya, “Jika engkau memandang pria lain aku akan memukulmu”. Nah, itu sangat menyedihkan. Tapi seandainya pasangan itu tinggal di sebuah pulau dimana tidak ada pria lain selain si suami. Bukankah itu gila jika si suami menunjukkan kecemburuan terhadap pria yang tidak eksis? Jika tidak ada Tuhan selain Allah, mengapa Ia sangat paranoid? Allah nampaknya bukan Tuhan yang mempunyai perasaan (emosi) yang stabil. Syahadat Islam yang berbunyi “Tidak ada Tuhan selain Allah”, mulai terdengar aneh. Jika Allah tahu tidak ada Tuhan selain diri-Nya, mengapa Ia sangat terobsesi mengenai hal itu?

Saya belajar tentang ukuran alam semesta ini. Cahaya yang menempuh perjalanan dengan kecepatan 300.000 kilometer per detik membutuhkan 40 milyar tahun untuk mencapai kita dari galaksi-galaksi yang berada di ujung alam semesta yang kelihatan. Alam semesta yang kelihatan hanyalah setitik dibandingkan dengan ukuran alam semesta yang sebenarnya. Berapa trilyun banyaknya galaksi yang ada di luar sana? Setiap galaksi ini memuat ratusan milyar bintang. Setiap bintang mempunyai lusinan planet. Alam semesta ini sangat besar. Mengapa Allah sangat pusing soal apakah Ia disembah oleh makhluk-makhluk yang tidak penting di planet sekecil ini?

Sekarang saya tinggal di Barat, berteman dengan banyak orang Barat yang membuka hati dan rumah mereka untuk saya, dan menerima saya sebagai sahabat mereka. Sulit bagi saya menerima bahwa Allah tidak ingin saya bersahabat dengan mereka. Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah   (Q.3:28).

Bukankah Allah juga yang menciptakan orang-orang yang tidak beriman? Bukankah Ia Tuhan atas semua orang? Tidakkah lebih baik jika orang Muslim bersahabat dengan orang-orang tidak beriman dan mengajari mereka Islam melalui teladan yang baik? Bila kita menjauhkan diri dari orang lain, jurang kesalahpahaman tidak akan pernah terjembatani. Bagaimana mungkin orang-orang yang tidak beriman belajar tentang Islam jika kita tidak bergaul dengan mereka? Inilah pertanyaan-pertanyaan yang selalu saya tanyakan pada diri saya sendiri. Pada saat yang sama saya membaca ayat-ayat seperti Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka” (Q.2:191). Itu kedengarannya gila. Apakah saya lebih bijak daripada Allah? Kelihatannya memang demikian. Bunuhlah mereka dimana saja kamu menjumpai mereka adalah kalimat yang bodoh, tak peduli siapa yang mengatakannya. Apakah ini perkataan Tuhan atau dengan keliru ditaruh di mulut-Nya? Itulah pertanyaan yang selalu muncul di benak saya saat saya membaca Quran.

Saya memikirkan teman-teman saya, mengingat kebaikan dan kasih mereka kepada saya, dan bertanya-tanya, bagaimana bisa Tuhan yang sejati memerintahkan orang untuk membunuh sesamanya manusia hanya karena mereka tidak beriman. Namun konsep ini sangat sering diulang dalam Quran sehingga tidak ada lagi keraguan akan hal itu. Dalam Sura 8:65, Allah berkata kepada nabi-Nya, Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir

Saya bertanya-tanya mengapa Allah mengirim seorang utusan untuk mengobarkan perang? Bukankah seharusnya Tuhan mengajari kita untuk saling mengasihi dan bersikap toleran satu sama lain? Jika Allah sangat peduli akan penyembahan kepada-Nya hingga Ia akan membunuh mereka dan membakar mereka jika mereka tidak beriman, mengapa bukan Ia sendiri yang membunuh mereka? Mengapa Ia meminta kita untuk melakukan pekerjaan kotornya? Memangnya kita ini tukang pukul dan gengsternya Allah?

Walaupun saya tahu tentang jihad dan tidak pernah memikirkan implikasinya, sulit bagi saya menerima bahwa Tuhan akan memberlakukan standar yang kejam kepada orang. Yang lebih mengejutkan lagi adalah kekejaman Allah dalam menangani orang-orang tidak beriman:

Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka.” 8:12

Nampaknya Allah tidak puas dengan hanya membunuh orang yang tidak beriman; Ia menikmati menyiksa mereka sebelum membunuh mereka. Tapi pada saat yang sama Ia tidak mampu mencederai siapapun dan bergantung pada orang Muslim untuk melakukan pekerjaan kotor untuk-Nya. Memenggal kepala orang dari atas leher mereka dan mencincang jari-jari mereka? Apakah ini yang disebut atribut keilahian? Apakah Tuhan benar-benar memberikan perintah seperti itu? Dan yang paling buruk lagi adalah, apa yang Ia telah janjikan akan lakukan terhadap orang-orang tidak beriman di dunia yang lain:

Inilah dua golongan (golongan mukmin dan golongan kafir) yang bertengkar, mereka saling bertengkar mengenai Tuhan mereka. Maka orang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api neraka. Disiramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala mereka. Dengan air itu dihancur luluhkan segala apa yang ada dalam perut mereka dan juga kulit (mereka). Dan untuk mereka cambuk-cambuk dari besi. Setiap kali mereka hendak ke luar dari neraka lantaran kesengsaraan mereka, niscaya mereka dikembalikan ke dalamnya. (Kepada mereka dikatakan), Rasailah azab yang membakar ini. 22:19-22

Bagaimana pencipta jagat raya ini bisa sedemikian bengisnya? Saya begitu terkejut mengetahui bahwa Quran memberitahukan orang-orang Muslim supaya mereka:

  • membunuh orang-orang kafir dimanapun orang Muslim menemukan mereka (Q.2:191),
  • membunuh dan memperlakukan mereka dengan keras (Q.9:123),
  • memerangi mereka, (Q.8:65), hingga tak ada agama lain yang tersisa kecuali Islam (Q.2:193)
  • menghina mereka dan memaksa mereka membayar pakaj (jizyah) jika mereka adalah orang-orang Kristen atau Yahudi (Q.9:29)
  • menyembelih mereka jika mereka adalah Penyembah Berhala (Q.9:5), menyalibkan, atau memotong tangan dan kaki mereka.
  • mengusir mereka dari negeri sehingga mereka merasa malu. Dan jika itu masih belum cukup,”mereka akan mengalami penghukuman yang keras di dunia yang akan datang” (Q.5:34),
  • tidak menjadikan bapa-bapa dan saudara laki-laki mereka sebagai teman/wali jika mereka itu bukan orang beriman (Q.9:23), (Q.3:28),
  • membunuh anggota-anggota keluarga mereka sendiri dalam peperangan di Badr dan Uhud, dan mengajak orang-orang Muslim untuk “berjihad melawan orang-orang kafir dengan jihad yang besar” (Q.25:52),
  • bersikap keras terhadap mereka karena mereka (orang-orang kafir) itu adalah penghuni neraka (Q.66:9), dsb… dsb…

Bagaimana mungkin orang yang berpikiran sehat tidak akan terganggu perasaannya ketika membaca Quran yang mengatakan: “Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir maka pancunglah batang leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka…” (Q.47:4).

Saya pun tidak menyukainya ketika menemukan bahwa Quran menolak kebebasan berkeyakinan bagi semua orang, dan dengan jelas menyatakan bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang diterima (Q.3:85). Kedengarannya sangatlah menyedihkan mengetahui bahwa Pencipta dunia ini membakar orang-orang karena ketidakpercayaan mereka (Q.5:11), menyebut mereka najis, cemar, tidak boleh disentuh, tidak murni (Q.9:28) dan berkata bahwa mereka akan dipaksa untuk minum air mendidih (Q.14:17).

Tetapi tak ada akhir untuk kesadisan Allah. Ia berjanji, ”dengan memalingkan lambungnyauntuk menyesatkan manusia dari jalan Allah. Ia mendapat kehinaan di dunia dan dihari kiamat Kami merasakan kepadanya azab neraka yang membakar” (Q.22:9).

Setelah saya membaca lebih banyak lagi, saya menemukan bahwa segala sesuatu yang salah dengan Islam disebabkan oleh Quran. Para mullah yang kejam, yang mulut mereka sampai berbusa saat menyerukan kebencian, bukanlah orang-orang yang disesatkan. Mereka sesungguhnya orang-orang Muslim yang baik, yang sedang melakukan apa yang diperintahkan oleh Muhammad untuk mereka kerjakan. Saya sendirilah yang sebenarnya tidak tahu (ignorant).

Kitab Allah mengatakan bahwa para wanita lebih rendah dibandingkan pria dan suami-suami mereka mempunyai hak untuk memukuli mereka (Q.4:34); para wanita akan pergi ke neraka jika mereka tidak taat pada suami-suami mereka (Q.66:10); bahwa para pria adalah lebih superior dibandingkan wanita (Q.2:228), dan wanita tidak mempunyai hak warisan yang sama (Q.4:11-12). Berdasarkan Quran, para wanita adalah orang bodoh (pandir), yang jika mereka sendirian bersaksi di pengadilan, maka kesaksian mereka itu tidak bisa diterima (Q.2:282). Seorang wanita yang diperkosa, tidak boleh menuduh pemerkosanya kecuali ia bisa memberikan kesaksian dari seorang saksi pria. Ini tentu saja sebuah lelucon. Para pemerkosa tidak melakukan perkosaan di depan para saksi. Tetapi ayat yang paling mengejutkan adalah ketika Allah mengijinkan orang-orang Muslim untuk memperkosa wanita-wanita yang menjadi tawanan perang, bahkan meskipun mereka itu sudah menikah (Q.4:24 dan 4:3).

Ketika saya membaca biografi Muhammad, saya menemukan bahwa ia memperkosa wanita-wanita paling cantik yang ia tawan dalam penyerangan yang ia lakukan (Lihat “Apakah Muhammad Memperkosa Safiyah?” ), pada hari yang sama ia membunuh suami-suami mereka. Inilah alasan mengapa setiap kali seorang tentara Muslim mengalahkan bangsa lain, mereka menyebut bangsa itu kafir dan kemudian memperkosa para wanitanya.

Tentara-tentara Pakistan memperkosa lebih dari 250.000 perempuan Bengali pada tahun 1971 dan membunuh 3.000.000 orang sipil tak bersenjata, ketika para pemimpin agama mereka mendekritkan bahwa orang-orang Bangladesh adalah non-Muslim. Ini juga alasan mengapa para sipir penjara rejim Islam Iran, memperkosa wanita-wanita sebelum membunuh mereka. Mereka dituduh telah murtad dan menjadi musuh-musuh Allah sebab menentang rejim tersebut. Hal ini juga yang persis sama, dilakukan oleh Muhammad. Siapapun yang menentangnya, dianggap sebagai penentang Allah dan karena itu darah mereka halal untuk ditumpahkan.

Seluruh Quran dipenuhi oleh ayat-ayat yang mengajarkan untuk membunuh orang tidak beriman dan bagaimana Allah akan menyiksa mereka setelah mereka mati. Tak ada pelajaran mengenai moralitas, keadilan, kejujuran, atau kasih, dalam kitab itu. Satu-satunya pesan Quran adalah untuk mempercayai Allah dan utusannya. Quran membujuk orang dengan menawarkan upah akan menikmati seks tak terbatas dengan para pelacur yang cantik di Firdaus, dan mengancam mereka yang tidak beriman dengan api yang menyala-nyala di neraka.

Ketika Quran berbicara tentang kebenaran, hal itu tidak sama maknanya dengan kebenaran yang kita ketahui. Kebenaran artinya melakukan apa yang dikatakan dan dikerjakan oleh Muhammad, yang sesungguhnya jauh dari esensi kebenaran itu sendiri.

Seorang Muslim bisa menjadi seorang pembunuh dan tetap dianggap sebagai seorang yang benar. Perbuatan baik dalam pengertian sebagaimana yang umum kita pahami, adalah hal kedua. Pada kenyataannya itu bukanlah hal yang penting. Percaya pada Allah dan utusannya menjadi tujuan tertinggi dalam hidup seseorang.

Setelah membaca Quran, saya mengalami depresi yang luar biasa besar. Ini adalah sebuah buku yang jahat dan saya mengalami saat-saat yang sulit untuk mempercayai kejahatan yang sedemikian banyaknya. Secara natural saya dipengaruhi oleh kasih. Kejahatan adalah hal yang menjijikkan bagi saya. Pada mulanya saya menyangkali pemahaman saya mengenai apa yang saya baca dan coba mencari arti-arti esoterik dari ayat-ayat Quran yang kebanyakan merupakan ayat-ayat yang jahat. Namun usahaku sia-sia. Di sini tak ada kesalah pahaman! Quran itu sangatlah tidak manusiawi. Ia juga berisi banyak sekali kesalahan ilmiah dan absurditas, namun bukan itu yang paling memberi pengaruh. Yang memberi pengaruh paling besar adalah kekerasan yang sedemikian banyaknya yang ada dalam buku ini, dan yang benar-benar mengguncangkan pondasi keyakinan saya.

Dengan menggunakan terjemahan Inggris dan Persia sebagai penuntun, saya juga memperhatikan bahwa terjemahan Quran dalam bahasa Inggris tidaklah akurat. Penterjemahnya mencoba sekeras mungkin menyembunyikan pernyataan-pernyataan keras maupun yang sangat bodoh yang ada dalam Quran. Mereka memelintirkan arti dari kata-kata tersebut dan memasukkan penjelasan-penjelasan mereka yang telah diperhalus. Saya periksa terjemahan Inggris lainnya, semuanya juga melakukan penipuan yang halus dan kata-kata yang dipermanis. Tampaknya para penterjemah menyadari bahwa karya mereka akan dibaca oleh orang-orang non-Muslim dan karena itu mereka melakukan sebisa mungkin untuk menyesatkan orang-orang non-Muslim itu. Para penterjemah Quran ke dalam bahasa Persia tampaknya tidak terikat untuk melakukan hal yang sama. Oleh sebab itu mereka menyampaikan isi Quran dalam bentuk aslinya.

About these ads