Diposkan oleh Ali Sina, pada tanggal 19 Maret 2011

Untuk Ali Sina, Aku baru membaca pandanganmu di website-mu, dan aku ingin menanyakan pertanyaan-pertanyaan berikut kepadamu. Aku harap engkau menyukai pertanyaan-pertanyaan ini.

1. Jika engkau tidak percaya dengan misi Muhammad, coba beritahukan padaku, siapakah Musa, Abraham, Daud, Yesus dan nabi-nabi lainnya yang datang sebelum dan setelah Muhammad dan berkata bahwa Tuhan itu Satu, dan bahwa Dialah Allah. Bukankah mereka semuanya percaya pada Allah?

Apa yang saya pikirkan mengenai Musa, Abraham, Yesus, dan yang lainnya, tidak relevan dengan fakta bahwa Muhammad itu adalah seorang penipu yang lihai. Engkau menyebutkan mengenai nabi-nabi lainnya yang datang setelah Muhammad? Nabi-nabi yang mana? Entah Muhammad itu adalah seorang pembohong atau nabi-nabi yang lain inilah yang berbohong. Muhammad mengklaim bahwa tak ada nabi lain yang datang setelah dia. Dengan membela apa yang dikatakan oleh Muhammad, anda secara otomatis mengabaikan nabi lainnya yang telah datang setelah dia.

Ambil Muhammad keluar dari gambarnya dan anda tetap masih bisa percaya pada semua agama-agama yang lain. Dengan dia ada dalam gambaran itu, tidak saja anda telah menyangkali kebenaran dari semua yang datang setelah dia, tetapi anda pun juga telah mempertanyakan validitas dari semua yang datang sebelum Muhammad, sebab ajaran-ajaran dan tindakan-tindakan Muhammad sangatlah berbeda dengan nabi-nabi lain yang menurut klaimnya adalah para nabi yang ia ikuti.

Juga Musa dan Yesus tidak mempercayai Allahnya Muhammad. Allah bukanlah nama diri (proper name). Ini adalah sebuah gelar seperti “sang raja” atau “presiden”. Kata ini merupakan komposisi dari awalan penentu al dan kata ilah, yang artinya Tuhan. Jadi arti kata Allah adalah “Tuhan” (the god).

 

Nama Allah terkait dengan ilah terbesar yang ada di Ka’ba, Habaal (Hubal), yaitu Sang Dewa Bulan. Orang Arab memanggil Habaal dengan gelarnya, sama halnya dengan orang Inggris memanggil Elizabeth II dengan gelarnya “the Queen”. Meskipun demikian, Habaal tidaklah sama dengan YAHWEH. Ha Baal merupakan komposisi dari kata: Ha dan Baal. Dalam bahasa Ibrani, Ha adalah sebuah awalan penentu (the), sementara Baal dalam Alkitab ditolak karena ini adalah ilah yang palsu. Habaal adalah dewanya orang Moab yang dicela oleh Alkitab.

Fakta bahwa Allahnya orang Arab adalah Habaal, atau Dewa Bulan, bisa dibuktikan melalui simbol Islam yaitu bulan sabit.

Orang-orang Kristen berbahasa Arab dan orang Yahudi juga menyebut Tuhan mereka Allah, tetapi maknanya tidak sama dengan Tuhannya orang-orang Arab. Yang mereka maksudkan adalah Tuhannya Israel yaitu YAHWEH. Orang Libya menyebut Qaddafi, presiden dan orang Italia juga menyebut Berlusconi, presiden. Qaddafi dan Berlusconi adalah dua presiden yang berbeda. Sama halnya dengan allahnya Israel dengan allahnya orang-orang Arab, keduanya adalah ilah yang berbeda.

Bisakah anda lihat bahwa pertanyaan anda itu muncul dari lapisan tipu daya? Menyelidiki Islam sama seperti mengupas sebuah bawang. Setelah engkau mengupas satu lapisan, engkau akan menemukan lapisan lainnya, dan pada akhirnya, tak ada apa-apa pada intinya.

2. Menurutmu – darimana engkau berasal, menurutmu, siapakah Tuhanmu (jika engkau mempercayai eksistensi Tuhan)

Kita adalah produk dari evolusi yang berlangsung selama jutaan tahun.

3. Menurutmu, siapa yang menciptakan semua mahluk hidup, juga hal yang kompleks dan tak mungkin terjadi secara natural?

Semua hal yang kompleks bisa terjadi secara natural. Saya pernah berdiskusi dengan para kreasionis yang percaya dengan kisah bahtera Nuh. Diperhadapkan dengan pertanyaan, bagaimana Nuh bisa mengakomodasi begitu banyak spesis dalam bahteranya, jawaban mereka adalah bahwa evolusi minor dan diversifikasi terjadi pada spesis-spesis sejak terjadinya air bah pada zaman Nuh. Sebagai contoh, harimau dan singa sebelumnya adalah satu spesis.

Ini benar-benar menggelikan. Air bah terjadi sekitar 5000 tahun lalu. Bagi kehidupan di bumi, ini sama seperti mengedipkan mata. Mustahil dalam periode yang sedemikian singkat, variasi-variasi seperti itu bisa terjadi.

Mereka mempercayai kemustahilan ini, tetapi mereka tersandung ketika mereka katakan bahwa manusia berevolusi dari bakteri, sejak 4 juta tahun yang lalu. Singa, harimau, macan tutul, jaguar dan binatang lainnya yang termasuk keluarga kucing, merupakan anggota-anggota dari gen yang sama yaitu, panthera. Nenek moyang terakhir mereka yang dikenal, hidup tak kurang dari lima juta tahun yang lalu. Perubahan-perubahan di antara mereka sekurangnya terjadi lima juta tahun lalu, dan bukan lima ribu tahun lalu.

4. Sejarah Islam itu adalah sesuatu yang jelas bila dibandingkan dengan agama-agama lainnya yang dibuat oleh tangan manusia.

Saya setuju dengan pendapat anda bahwa sejarah Islam itu sangat jelas. Ada banyak hadis-hadis palsu yang dikenakan pada Muhammad, tetapi sangatlah mudah untuk memisahkannya dari hadis-hadis yang benar. Saya telah menulis sebuah sejarah yang sebenarnya mengenai Muhammad dan telah mengamati secara tajam ke dalam pemikiran psikopatisnya. Terimakasih atas biografi Muhammad yang sedemikian lengkap dan jelas.

5. Yang terakhir, Apa yang engkau pikirkan ketika engkau mati? Kemanakah jiwamu akan pergi?

Meskipun jadwalmu sangat padat untuk mengumpulkan donasi, cobalah sediakan sedikit waktu untuk memikirkan hal-hal yang saya sampaikan di atas.

Terimakasih

S. Watson

London

Hal ini, sama dengan pertanyaanmu yang nomor 3, adalah sebuah kesalahan, dikenal dalam logika sebagai mengemis pertanyaan ketika dasar pemikiran memasukkan klaim bahwa kesimpulannya adalah benar.

Pada pertanyaan nomor 3 anda menegaskan,”…sebagaimana hal-hal kompleks yang tidak mungkin terjadi secara natural.” Dasar pemikiran itu menyesatkan. Hal kompleks pun terjadi secara natural. Ini adalah pertanyaan mengenai waktu. Jutaan tahun adalah kurun waktu yang panjang. Perubahan kecil ditambahkan dan jutaan perubahan-perubahan kecil menjadi sebuah perubahan yang besar.

Pada pertanyaan nomor 5 anda berasumsi bahwa jiwa eksis dan akan terus hidup, dan bertanya pada saya kemana ia akan pergi. Mari kita mulai dari permulaan dan menanyakan apakah ada sesuatu mengenai jiwa – apakah ia akan terus hidup atau tidak. Sekali pertanyaan itu dijawab, maka kita akan mengikat diri kita sendiri dengan pertanyaan, kemana ia akan pergi.

Apakah keberadaan jiwa itu independen dari tubuh? Saya tidak tahu! Saya tidak menyangkali bahwa ia bisa saja eksis, tetapi tak ada bukti-bukti yang pasti. Ini adalah soal iman. Saya bukan orang yang beriman. Silahkan jika anda percaya bahwa jiwa akan terus hidup dan saya tidak punya masalah dengan hal itu. Saya tidak menentang keyakinanmu juga tidak menyetujuinya. Saya akan tetap menjadi seorang yang skeptis.

Sekarang, marilah kita berasumsi bahwa jiwa kita ini akan terus hidup. Tetapi hal yang pasti adalah bahwa gambaran Muhammad mengenai surga dan neraka tak mungkin merupakan gambaran yang benar. Muhammad tidak memiliki pemahaman mengenai dunia spiritual sebagaimana yang dipahami oleh kebanyakan orang. Konsepnya mengenai hidup setelah mati bersifat sangat jasmaniah dan duniawi. Firdausnya dipenuhi dengan para pelacur, minuman beralkohol (anggur), makanan, dan semua yang berkaitan dengan pesta pora yang berlebih-lebihan dan keinginan jasmaniah (persetubuhan). Nerakanya juga merupakan sebuah tempat yang penuh dengan kesengsaraan dan penyiksaan.

Kita umpamakan bahwa saya ini adalah seorang Muslim dan orang yang saya kasihi bukan orang Muslim. Mungkinkah saya menikmati kesenangan, minum dan makan sepuasnya di Firdaus, ketika orang yang saya kasihi dan mati sebagai seorang kafir, tengah dibakar di neraka? Tentu saja tidak! Bagiku ini sama saja seperti tengah berada di neraka. Saya lebih suka bersama dengan mereka dan turut merasakan kesakitan dan penderitaan mereka.

Tapi Muhammad tak sanggup melihat sejauh itu. Alasan sehingga ia tidak bisa melihatnya adalah karena ia adalah seorang narsis dan tidak memiliki empati. Dikarenakan ia tidak bisa merasakan kesakitan yang dirasakan oleh orang lain, maka ia pun berasumsi bahwa orang lain juga tidak merasakan kesakitan mereka. Sedihnya, para pengikutnya – yang telah terperangkap dalam kebohongan Muhammad mengenai jagat raya – juga telah menjadi orang-orang narsis dan tidak lagi memiliki empati.

Ketika banyak orang tewas karena bencana alam, seperti tsunami yang baru-baru ini terjadi di Jepang atau badai dan banjir yang terjadi di New Orleans, orang-orang Muslim sebaliknya bersorak-sorai kegirangan. Mereka bersukaria dan memuji Allah. Mereka berpikir bahwa Allah telah menghukum orang-orang kafir itu oleh karena ketidakpercayaan mereka. Orang seperti apakah yang bisa sedemikian kehilangan rasa kemanusiaannya? Orang-orang Muslim telah menjadi colon-nya (usus besar) Muhammad. Itulah alasan mengapa mereka tidak melihat ada yang salah berkaitan dengan penglihatan-penglihatan Muhammad mengenai surga dan neraka. Seseorang harus sedemikian bodoh atau jahat dalam hatinya, sehingga bisa menyembah sesosok ilah yang membakar orang dengan cara yang sangat sadis dalam kekekalan, hanya karena mereka itu tidak percaya padaNya. Orang-orang Muslim telah mengalami kemunduran sehingga menjadi para zombie. Mereka telah kehilangan hati nurani mereka.

Meskipun demikian, setiap guru spiritual harus dipelajari berdasarkan kebajikan yang mereka wariskan. Kita tak boleh membendel bersama-sama Budha, Yesus, Muhammad dan David Koresh, serta memberikan keputusan yang sama tentang mereka. David Koresh dan Muhammad adalah orang-orang yang secara individual sangat jahat dan sakit.

About these ads