Siapakah Yesus, Menurut Yesus Sendiri? Bagian 1 dari 2Bacabacaquran.com – Sekarang ini tampaknya ada banyak “varitas” sosok Yesus yang dianut orang disepanjang sejarah manusia. Ada sebutan Yesus Elohim, Yesus Manusia, Yesus Anak, Yesus Mesias. Ada julukan Yesus Setengah Elohim-Setengah Manusia, ada Guru Moral Teladan, Yesus Malaikat Ciptaan Pertama, Almasih Putra Maryam, sosok Terkemuka Didunia dan Diakhirat, atau sosok Kalimatullah, Rohullah yang tidak dijabarkan lebih lanjut dst. Ada yang mengatakan Yesus itu Jin, atau yang kerasukan Jin, seorang Penipu ulung. Novel Kode Da Vinci malahan menyimpulkan Yesus adalah tokoh besar yang ke-Tuhan-annya diciptakan oleh gereja-gereja abad ke empat. Bahkan ada yang mengklaim Yesus tidak pernah ada (Ketua Ateis Amerika, Ellen Johnson). Tampaknya terdapat banyak perselisihan persepsi dan pendapat mengenai Sosok yang satu ini. Tak terhindarkan, ada banyak “yesus-yesus” yang bukan Yesus hakiki menurut kesaksian Yesus sendiri, yang salah satunya yang paling menonjol ialah sosok ISA. Namun dibalik semuanya, kepelbagaian “varitas” ini sesungguhnya bukanlah hal yang mutlak jelek, sebab fakta ini justru berkaitan dengan peneguhan kebenaran sosok Yesus, dan sekaligus Alkitab, dimana salah satu nubuat Injil digenapi secara menakjubkan!

Pertama, bukankah juga terdapat banyak sekali perbantahan manusia tentang siapa Allah atau Tuhan yang sejati? Ini menegaskan bahwa jikalau kita membicarakan sebuah sosok dari “alam luar”, maka perbantahan dikalangan manusiapun tidak akan terhindarkan. Dengan kata lain, jikalau ada salah satu sosok yang begitu misteriusnya jatidirinya, sedemikian sehingga ia menjadi perbantahan dunia disepanjang masa, maka besar kemungkinan Zat-nya bukan berasal dari dunia ini. Dan benar, Yesus yang jelas-jelas orang Yahudi mengklaim Zat-diriNya dihadapan orang-orang Yahudi bahwa Ia bukan dari dunia ini,
“Lalu Yesus berkata kepada mereka: ‘Kamu berasal dari bawah, Aku dari atas; kamu dari dunia ini, Aku bukan dari dunia ini…Aku keluar dan datang dari Elohim.” (Yohanes 8:23, 42). Ya, RohNya keluar dari Elohim, dan masuk ke dunia fisik kita.

Kedua, perbantahan semacam ini justru menggenapi nubuat ajaib dan penuh otoritas dari seorang Simeon, tentang Yesus, yang dibawa ke Bait Tuhan tatkala Ia baru berumur 8 hari. Siapa Simeon itu sehingga kita harus sungguh-sungguh mendengar nubuatnya? Dia bukan orang saleh sembarangan, melainkan seorang tua yang dipenuhi oleh Roh Kudus dan dijanjikan secara khusus oleh Tuhan bahwa ia tidak akan mati sebelum melihat Yesus, Sang Anak,

“(Simeon) seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya, dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan” (Lukas 2:25-26 ). Dan Simeon berkata kepada Maria, ibu Yesus:

“Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan—dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri (Maria) — supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang” (Lukas 2:34-35).

Kini seluruh dunia menyaksikan sendiri bahwa nubuat ajaib Simeon ini terpenuhi secara menakjubkan. Maka kedua fakta kencang diatas haruslah menjadi dasar pokok acuan dari setiap kita manusia –kawan atau lawan– yang ingin menyelidiki dan menghampiri sosok Yesus. Fakta dasar ini telah menantang intelektual kita semua untuk mencernakan maksud dari tanda yang disebut-sebutkan oleh Simeon, yaitu “supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang” tentang siapakah sosok Yesus itu sebenarnya. Atau dengan bahasa modern sekarang, “supaya terjadi transformasi iman bagi banyak orang”!

Lebih lanjut, sambil menatang Anak itu dan memuji Elohim, Simeon pun berkata:

“Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel.” (Matius 29-32).

Dalam kepenuhan Roh Kudus, Simeon menyatakan bahwa Yesus adalah Terang dan Keselamatan (Juru Selamat) yang Tuhan anugerahkan kepada segala bangsa!

Tetapi diluar pikiran Simeon sendiri, nubuatnya ini merupakan ulangan yang konfirmatif dari apa yang dimaklumatkan oleh para malaikat 8 hari sebelumnya kepada para gembala di Betlehem kala Yesus dilahirkan:

“Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus (Mesias), Tuhan, di kota Daud” (Lukas 2:10,11).

Dan maklumat umum ini menjelaskan apa yang telah malaikat Gabriel sampaikan kepada Maria secara pribadi 9 bulan sebelumnya, dan berikutnya kepada Yusuf:

Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Elohim Yang Mahatinggi …Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Elohim Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Elohim (Lukas 1:31, 32, 35).

“Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.” (Matius 1:20-21).

Apa yang dapat kita lihat secara lurus tanpa usah ditafsir-tafsir oleh orang lain?

Yaitu bahwa Anak yang Maria lahirkan itu bukan berasal usul dari dunia ini melainkan dari Roh Kudus (Roh Elohim). NamaNya Yesus –bukan Isa seperti yang digantikan/ dikisahkan ulang dari dunia, melainkan live (hidup-hidup) dari malaikat sorga, sehingga Yesus dapat diberi 5 gelar ilahiah, yaitu: Kudus, Anak Elohim Yang Maha Tinggi, Juruselamat segala bangsa, Kristus (Mesias), dan Tuhan!

Maka muncul dua pertanyaan mendasar kepada kita manusia: (1) Adakah Anak Elohim dari Roh Elohim yang tidak ber- DNA Elohim? (2) Siapakah didunia yang bisa menyelamatkan umat Tuhan dari dosanya jikalau Dia bukan Tuhan? Adakah sosok yang kurang dari Elohim dapat menyelamatkan umat Elohim dari dosa?  Tidak satupun nabi yang berani mengklaim dirinya sebagai Penyelamat. Paling-paling mentok klaim sebagai penunjuk jalan selamat, pemberi peringatan dan sejenisnya! Tetapi Yesus sendiri yang berkata tentang diriNya:
“Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.” (Lukas 19:10).

Guinness Book of World Records

Kredensi Yesus adalah sosok diriNya sendiri , yang sesungguhnya tidak membutuh-kan pembuktian lanjutan. Dengan sepatah kata dari mulut-Nya, “Jadilah!” maka terjadilah itu (Kun faya kun, Matus 9:29 dll). Anak laki-laki ajaib ini juga tumbuh tanpa mendapat pendidikan dari guru-agama manapun. Guru Besar Gamaliel tidak mengenalnya. Namun tiba-tiba dan sekaligus Ia tampil sebagai Maha-Guru ilmu kehidupan yang paling ulung. Dan bahkan mendadak menjadi Dokter Spesialis yang tak pernah gagal. Tak ada penyakit yang tak dapat disembuhkannya. Dengan sepatah kata, “Talita kum!” Ia membangkitkan orang mati (Markus 5:41). Tak ada setan yang tidak takut akan Dia. Dengan sepatah kata “Enyahlah engkau Setan!” maka enyahlah setan-setan (Matius 8:16). Yesus tidak menulis apa-apa, atau mengumpulkan dan menyusun tulisan tulisan, namun Injil-Nya adalah kekal (Wahyu 14:6). Dia tidak butuh dicatatkan dalam Guinness Book of World Records, namun record book apa saja untuk siapa saja, tak satupun bisa memecahkan catatan karya-Nya! Dia bukan sosok yang bisa dibandingkan dengan makhluk mana saja…

Ia tidak punya bala tentara, atau membangun rumah (pusat) kerja, atau memiliki property pribadi. Ia bepergian setiap hari, berjalan kaki kemana-mana dalam radius seratusan mil dari kampungNya. Ia mengajar orang banyak maupun secara privat, dan berpraktek dalam kurun waktu 3 tahun. Spiritual, moral dan etika tertinggi adalah topiknya. PraktekNya membuat orang takjub dan tercengang dan berkata: “Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata.” (Markus 7:37). Namun aneh tak terbilang, Yesus menjadi sosok yang amat dibenci sebagian orang. Ia dimata-matai, dijebaki, sampai dikhianati. Dan akhirnya Ia ditangkap dan dinyatakan bersalah walau tanpa diadili dan tanpa bukti. Ia yang kudus, benar dan baik, telah dicurangi dan diperlakukan sebagai penjahat terbesar, dihina, dianiayai, dihukum mati dengan penyaliban, bukan karena apa (yang dilakukanNya), tetapi karena Dia menyatakan SIAPA DIA, atau tepatnya, “Dia Itu Apa” hakikinya.

Klaim Yesus tentang jatidiri-Nya telah membuat banyak orang marah dimasa-Nya. Tetapi awas, kemarahan dan kebencian ini juga diteruskan orang hingga sekarang ini. Dulu dia dipandang sebagai penghujat Elohim dan pengacau oleh penguasa Romawi dan Yahudi. Namun sejarah berulang dan kini Dia tetap sama dianggap sebagai oknum yang tersangkut dengan penghujatan Allah SWT, WALAUPUN Yesus dan Elohim sendiri, para Nabi, Rasul, Malaikat, dan bahkan setan dan musuh-musuh Yesus, semuanya secara mutawatir mengungkapkan jatidiri Yesus dan berkata: Dialah Anak Elohim! Bacalah dan dengarlah suara ini dengan seksama:

Malaikat Gabriel menyebutnya sampai 2x dalam sekali kunjungannya kepada Maria: * “hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar
dan akan disebut Anak Elohim Yang Mahatinggi”.

*“…anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Elohim
(Lukas 1: 32, 35).
Tuhan Elohim sendiri menyebut Yesus sebagai “Anak-Ku” berulang kali:

*“Dari Mesir Kupanggil AnakKu” (Matius 2:15).

*Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Elohim seperti burung merpati turun ke atas-Nya,
lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan:
“Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.”
(Matius 3:16, 17).

*Dan tiba-tiba sedang ia berkata-kata turunlah awan yang terang menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata: “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.”

Yesus sendiri menyebutkan diriNya sebagai Anak Elohim:

*“Aku telah berkata: Aku Anak Elohim”. (Yohanes 10:36) .

Yohanes Pembaptis (Nabi Yahya) sama memberikan kesaksiannya
dengan melihat tanda-Nya:

*“Dan aku telah melihat-Nya dan memberi kesaksian:
Ia inilah Anak Elohim.” (Yohanes  1:34)

Para Setan dan Iblis semua mengaku:
*Bilamana roh-roh jahat melihat Dia, mereka jatuh tersungkur di hadapan-Nya
dan berteriak: “Engkaulah Anak Elohim.” (Markus 3:11)

*Dan mereka itupun berteriak, katanya: “Apa urusan-Mu dengan kami, hai Anak Elohim? Adakah Engkau kemari untuk menyiksa kami sebelum waktunya?”

Akan tetapi, Muhammad yang samasekali tidak paham tentang konsep “keanakan Tuhan”, serta merta menjadi geram. Dan dengan mengatas-namakan Allah-nya ia melaknati kaum Nasrani yang berkata: “Al-Masih anak Allah” (Qs.9:30)! Dimana kebenarannya dan apa alasan geramnya? O, kita sungguh menyesalkan kesalahan yang amat fatal ini dari seorang Muhammad yang mengklaim dirinya Nabi. Ia sebagaimana orang-orang Arab sejamannya, rupa-rupanya hanya dapat memahami arti “anak” (waladun)  sebagai hasil kawin biologis dengan seorang istri:

“Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai istri”.
“Tidak layak bagi Allah mempunyai anak, Maha Suci Dia” (Qs.6:101, 19:35).

Untunglah jaman telah maju dan persepsi tentang “anak” telah disadari menjangkau luas kedimensi non-biologis. “Anak Bangsa” bukan hasil kawin-mawin siapapun dengan sang Bangsa, namun ia adalah juga Bangsa.

Salah kaprah lebih jauh lagi ketika Muhammad menuduh kaum Nasrani berpoliteis TIGA Tuhan yang saling eksklusif yang diniscayakan akan saling berselisih (Qs.4:171, dan 23:91). Dan akhirnya fatal kaprah masuk kotak, tatkala Muhammad mengindikasikan 3 oknum Tuhan yang disembah oleh Nasrani adalah: Allah dan Maryam (istri), dan Anak yang dihasilkanNya (Qs.6:101, 5:116, 75). Padahal gelar “Anak” ini total merujuk kepada Firman Elohim –yang juga selamanya Elohim itu– yang diturunkan kebumi (“dilahirkan/ inkarnasi”) menjadi manusia dan tinggal diantara kita (Yohanes 1:1,14). Dan karena berunsur “kelahiran” dengan DNA yang sama dengan Elohim (Bapa Sorgawi), maka digelarlah Ia secara rohani sebagai Anak Elohim. Tidak ada istilah atau gelar lain yang bisa lebih tepat untuk menggambarkan hubungan keduanya ketimbang “Bapa dan Anak”. Istilah ini tak ada kaitannya dengan sex fisikal dan keturunan biologis apapun seperti yang dpahami secara keliru oleh Muhammad, melainkan intimitas kesatuanNya dalam keilahian semesta. Yesus berkata,“Aku dan Bapa adalah satu” (Yohanes 10:30).

Socrates mengajar selama 40 tahun.

Plato 50 tahun.

Aristoteles 40 tahun.

Muhammad 23 tahun.

Namun Yesus hanya 3 tahun!

AjaranNya luas dan dalam, namun sederhana, untuk orang-orang sederhana.

Apa yang diwariskan Yesus ke dunia  selama pelayanan 3 tahun itu melewati apa yang dapat diwariskan seluruh filsuf dan guru-guru terbesar dijadikan satu di sepanjang abad! Masyarakat dan para muridNya merasa takjub, tercengang dan gentar menyaksikan kuasa perbuatan dan pengajaranNya:

Mereka takjub dan tercengang dan berkata: “Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata” (Markus 7:37).

“Takjublah orang banyak itu mendengar pengajaran-Nya,

sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka” (Matius7:29).

Dan pada suatu saat, ketika Yesus selesai menghardik angin topan dan gelombang, mereka menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain: “Siapa gerangan orang ini (Yesus), sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?” (Markus 4:41).

Ya, nama Yesus menggentarkan mereka yang tahu. Itu sebabnya kegentaran itu terlebih-lebih terjadi dialam roh yang memang sudah tahu siapa dan apa nama tersebut,

Roh jahat berkata: “Apa urusan-Mu dengan kami, hai Yesus orang Nazaret? Engkau datang hendak membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Elohim.”

“…banyak orang yang kerasukan setan dan dengan sepatah kata Yesus mengusir roh-roh itu dan menyembuhkan orang-orang yang menderita sakit” (Matius 8:16).

Sebaliknya Muhammad takut dan tak berdaya terhadap setan. Kenapa? Karena ia tidak tahu siapa yang paling ditakuti setan. Beliau hanya dapat melakukan dua hal terhadap setan, yang mana juga dapat dilakukan oleh setiap orang biasa lainnya. (1).Menghadapi roh jahat dan setan, Muhammad harus minta perlindungan Allah, namun tak mampu mengusirnya (sura 113, 114). Dia malahan kecolongan dengan ayat-ayat setan (lihat Qs. 53:19-22, yang dijelaskan oleh Sahih Bukhari 6:60:385; Ibn Ishaq, Translated by  Guillaume,  p. 146-148; Al-Tabari VI:107-108), dimana akhirnya Muhammad harus membenarkan walau tampak berkilah, bahwa setan memang menginjeksikan keinginannya pada setiap nabi ketika ayat-ayat diwahyukan, yang mana akan dihapuskan lagi oleh Allah (22:52-53!).

(2).Dan sebagai tindakan pelipur lara akan ketidak-berdayaannya, maka Muhammad mengadopsi upacara lempar jumrah yang njlimet di Mina (aksi lempar batu terhadap setan-setan dipilar Ula, Wustha, dan Aqobah) disetiap upacara Haji. Ini upacara primitif yang paling goyah landasannya. Pertama, karena hal ini bahkan tidak dikenal oleh Tuhan dan nabi-nabi Israel sebelumnya. Kedua, upacara ini bukan aslinya dari sorga, tetapi diadopsi dari ritual pagan /berhala yang sudah exist dalam sejarah pra-Islam.  Dan ketiga, tentu saja setan tak dapat dilempari dengan batu-batuan karena mereka tak punya daging, kulit dan tulang. Sebaliknya para setan justru sering berbalik menyerang sekelompok pelemparnya secara gaib, yang telah menyebabkan sejumlah kematian konyol diantara pelempar jumrah.

Sungguh tragis suatu ketahyulan kosong yang di inkorporasikan kedalam sebuah “agama samawi”, sehingga tampak kehilangan otoritas Allahnya, kecuali saling membodohi. Kunci pengusiran setan tidak ada (dan tidak terbukti ada!) pada batu-batu dan manusia, melainkan hanya terbukti pada kuasa nama Yesus, tatkala setan bergemetaran atasnya! Murid-murid Yesus melaporkan hasil kuasa nama Yesus yang diimpartasikan kepada mereka: “Tuhan, juga setan-setan takluk kepada kami demi nama-Mu.” (Lukas 10:17).
Setan adalah mahkluk yang selalu bersiasat dan berdusta. Namun siasat dan pendustaan-nya akan STOP, tatkala berhadapan dengan Yesus dengan gemetaran. Ketika itulah “bapa segala dusta” itu akan berkata jujur dan terbuka, yang mengharuskan kita untuk percaya pula apa yang tadinya dirahasiakannya. Maka bacalah baik-baik pengakuan mereka:

“Ketika ia (orang yang kerasukan sekumpulan roh jahat) melihat Yesus dari jauh, berlarilah ia mendapatkan-Nya lalu menyembah-Nya, dan dengan keras ia berteriak: “Apa urusan-Mu dengan aku, hai Yesus, Anak Elohim Yang Mahatinggi? Demi Elohim, jangan siksa aku!” (Markus 5:6-7).

“Hai Engkau, Yesus orang Nazaret, apa urusan-Mu dengan kami? Engkau datang hendak membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Elohim.” Tetapi Yesus menghardiknya, kata-Nya: “Diam, keluarlah dari padanya!” … Dan semua orang takjub, lalu berkata seorang kepada yang lain, katanya: “Alangkah hebatnya perkataan ini! Sebab dengan penuh wibawa dan kuasa Ia memberi perintah kepada roh-roh jahat dan merekapun keluar.” (Lukas 4:34-36).

Apa yang kita saksikan secara terbuka disini? Para legion setan ini tahu dan mengakui keberadaan Yesus sebagai, Sang Kudus, sosok Anak Elohim yang Mahatinggi yang mampu menyiksa dan membinasakan mereka, sehingga sosok ini harus disembah sebagaimana Elohim disembah oleh mereka dalam gemetaran, sebagaimana yang diserukan Yesus kepada mereka tadinya (lihat pasal yang sama pada Lukas 4:8)! Dan cukup dengan sepatah kata Yesus semua setan-setan itu terusir. Itulah Firman yang berkuasa! Tetapi adakah Quran terbuka mengatakan hal yang dahsyat ini? Justru kuasa Yesus yang satu ini yang disembunyikan kembali oleh Quran. Ayatnya dikosongkan.

Dalam Quran, Muhammad hanya mengisahkan barang sepuluh jenis mukjizat Yesus secara sambil lalu. Artinya hanya berisi list-mukjizat ini dan itu tanpa konteks dan latar belakang yang mencakup ucapan-ucapan (Firman!) yang begitu berharga dari Yesus kepada pihak-pihak yang dianugrahi mukjizat surgawi! Tuhan bukanlah tuhan yang asal “bermukjizat” ala tukang sunglap dan sihir untuk dikagumi atau ditakuti orang-orang dan selesai. Tuhan justru hanya  mau melakukannya dengan suatu divine purpose, maksud ilahi-sorgawi yang dalam. Dan itu disampaikan lengkap dengan latar belakang kejadian mukjizatnya berikut kata-kata dan pengajaran Yesus dalam konteksnya. Namun semua detail berharga ini dikosong-kan dari Quran, sehingga Muslim hanya membaca mukjizat besar dalam kekosongan makna dan tujuan ilahi, a.l. “wahyu” yang berisi embel-embel daftar/ list sunglap yang Isa sampaikan sendiri kepada Bani Israel, lihat ayat ini:

“Sesungguhnya aku (Isa) telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu…”. (Qs.3:49).

Banyak pihak menafikan scenario periwayatan Isa pribadi kepada Bani Israel ini. Mukjizat adikodrati tidak usah dan tidak pernah dipromosikan oleh Nabi pembuat mukjizat itu sendiri. Itu akan selalu dipromosikan oleh mulut orang-orang lain, atau untuk generasi lain yang mungkin sudah lupa atasnya. Isa dan nabinabi mulia manapun jelas tidak merasa perlu berpromosi sebegitu kasar untuk dirinya sendiri!

Dan yang fatal adalah kenyataan bahwa khusus kisah-kisah tentang kuasa Yesus yang mengusir setan dan roh-roh jahat, justru TIDAK SATUPUN diberitakan oleh Quran, padahal Muhammad sangat peka terhadap setan. Wahyu maha penting tentang cara dan kuasa dalam menaklukan setan secara nyata ini telah dikosongkan total oleh Muhammad! Sengaja? Atau wahyu yang tidak memadai? Apapun, itu adalah kesalahan, dan Andalah yang menilainya…

Siapakah Yesus, Menurut Yesus Sendiri? Bagian 2 dari 2Pertanyaan Besar: Kenapa Harus Yesus?

Ada banyak alasan kita merisaukan hidup kita saat ini dan disini. Ada lebih banyak lagi alasan kita menggelisahkan kematian kita. Banyak ragam kehidupan yang tak mampu kita arungi sendiri. Lebih gawat lagi menghadapi alam maut yang tidak kita kenali. Namun sebenarnya ada cukup alasan kenapa kita merasa aman, terjamin, tepat dan dalam sukacita mengandalkan Yesus dalam hidup kita di dunia dan di akhirat …

Pertama, karena Yesus itu Baik dan Benar.

AjaranNya baik dan benar. Kasih dan kepedulianNya baik dan benar. KaryaNya baik dan benar, yang mengabsahkan setiap pesan dan kata-kata-Nya!

Ia baik dan benar dalam seluruh kehidupanNya, serta diakui oleh semua kawan dan lawan! Di dalam sejarah manusia sepanjang zaman, hanya Yesus-lah yang adil, kudus dan benar.

Kudusnya Yesus bukan sembarang suci, sekedar bersih atau saleh, namun KUDUS sepenuhnya secara faultless (tidak berbuat dosa), dan sinless (tanpa dosa) yang dipisahkan secara khusus dari semua mahluk ciptaan lainnya. Artinya, kudusnya Yesus adalah kekudusan yang tidak dimiliki dunia kecuali Dia seorang. Ini bahkan dibenarkan oleh Quran dan Hadis Muhammad (Qs.19:19,34; Shahih Bukhari no.1493, semua orang pernah ditepuk oleh setan ketika lahirnya, kecuali Yesus dan Maryam)

Benarnya Yesus juga bukan pula benar biasa. Ia bukan hanya berkata seperti nabi-nabi lainnya, “Apa yang Kukatakan itu benar”, namun diatas itu Ia berkata, “Akulah Kebenaran”. Ia adalah Sang Benar, Realitas tertinggi yang benar (right) dan yang betul (true) seutuhnya (Mazmur/ Zabur 33:4). Semua nabi lainnya sempat berdosa dan tidak mutlak benar. Mereka perlu minta pengampunan Tuhan.
Adam berdosa (Qs.2:35,36;7:22,23

Ibrahim berdosa (Qs.26:82)

Musa berdosa (Qs.28:15,16)

Daud berdosa (Qs.38:24,25)

Yunus berdosa (Qs.37:142)

Muhammad berdosa Qs.47:19; 48:1-2).
Apalagi pelbagai pengakuan Muhammad sendiri bahwa dia berdosa dan sering minta pengampunan Allah, yang bahkan lebih dari 70x setiap hari (Shahih Bukhari no.1732, juga 1573).

Sebaliknya hanya Yesus seorang yang berani menantang musuh-musuhNya yang selalu mencari-cari kesalahan-Nya: “Siapakah diantara kalian yang membuktikan bahwa Aku berbuat dosa?” (dan tak ada yang mampu menyanggahNya). Dengan cara yang otoritatif Yesus menyatakan diriNya sebagai Sang Benar, bukan hanya mengajarkan tentang kebenaran:

“Akulah pokok anggur yang benar” …

“Akulah jalan, kebenaran, dan hidup” (Yohanes 15:1; 14:6).

Sesaat setelah Yesus menghembuskan nafas terakhirNya di atas kayu salib, kepala pasukan Romawi yang menyalibkanNya terpaksa harus berbalik pikiran, hati dan batin, sehingga harus berkata dalam kegentarannya: “Sungguh, orang ini adalah orang benar”.

Baiknya Yesus terpancar dalam setiap sikap dan karyanya bagi kemanusiaan. Ia mencetuskan makna moral dan etika yang paling tinggi. Apa yang diajarkan-Nya dalam pesan-pesan, itulah yang dilakukanNya! Ia yang Kalimatullah adalah identik dengan firman, pesan-pesanNya. Ia penganjur dan pelaksana keluhuran dan kejujuran, lemah lembut dan rendah hati. Ia meluruskan poligami yang banyak diselewengkan dengan nafsu syahwat dan akal-akalan manusia. Ia tidak merakusi wanita, harta dan kuasa. Tak ada istri orang yang diambil, digilir atau diperbudak. Tak ada dinar siapapun yang dijarah, atas nama “musuh Allah”. Ia hanya memberi dan memberi dalam kasih dan sukacita disepanjang hidup pelayananNya yang 1000-an hari. “Berilah, maka kamu akan diberi”. (Lukas 6:38). Dan WOW, harap dicatat Nabi dan Raja mana yang sanggup memberi apa yang Yesus telah berikan kepada anak-anak-Nya, seperti beberapa diantaranya ini?

“Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu”. (Matius 11:28)

“Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahteraKu Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu”. (Yohanes 14:27).

“Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Matius 2028)

“Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka (domba-dombaNya) dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya …” (Yohanes 10:28).

Bilamana Yesus melawan “antek-antek setan”, Ia tidak berperang atau membunuh manusia dengan kekerasan dan pedang. Ia tidak mengatas-namakan “Allahu Akbar” untuk menyerang dan membunuh para kafir. Ia tidak mendiskreditkan sosok wanita, melainkan mereformasi kehormatannya: “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di mana saja Injil ini diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukannya (wanita) ini akan disebut juga untuk mengingat dia.” (Matius 26:13).

Ringkas kata, kebaikan-kebaikan Yesus dibuktikan dalam dua arah yang sinkron, yaitu kesaksian dari mulut Yesus sendiri kepada Yohanes (Nabi Yahya), dan kesaksian mulut dari masyarakat luas tentang Yesus:

  • “Dan Yesus menjawab mereka: “Pergilah, dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu lihat dan kamu dengar: Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik” (Lukas 7:22).
  • “Mereka takjub dan tercengang dan berkata: “Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata.” (Markus 7:37).

Ia memberi pelajaran dan contoh keteladanan yang lemah lembut, rendah hati dan penuh pengampunan. Ia berkata kepada Anda dan saya:

“Belajarlah kepadaKu, karena Aku lemah lembut dan rendah hati”! (Matius 1129)

Hingga kepada pembunuhNya sekalipun– dalam sekarat kematian-Nya di atas kayu salib– Ia masih peduli untuk mengampuni mereka diluar nalar: “Bapa ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat”.

Kedua, Ia seperti pengakuanNya adalah Tuhan, dan tidak bisa lain dari Tuhan yang Maha Kuasa!

Kita tahu ada sebagian orang –-apalagi Muslim—harus mengakui kebesaran kuasa Yesus di dunia dan di alam akhirat. Namun entah kenapa pengakuan yang begitu dahsyat itu hanya berhenti stop (!) sampai disitu saja, lalu ngeloyor dikaburkan atau dihambarkan oleh para ulama seolah-olah itu hal biasa saja. Padahal ada konsekwensi yang melekat atas pengakuan kuasaNya yang SUPERLATIF ini, yaitu Yesus harus dipercaya sebagai sosok yang paling berdaulat atas urusan manusia di dunia maupun kelak di akhirat! KedaulatanNya aktif di sepanjang waktu, hingga kelak tidak berhenti di akhirat pun! Juga aktif di sepenuh ruang, di dunia, alam barzakh, di semesta-alam akhirat, di sorga, manapun!  Dan ini di konfirmasi pula oleh Quran (Qs.3:45),

“Kepada-Ku (Yesus) telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.” (Matius 28:18).

“Itulah sebabnya Elohim sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” (Filipi 2: 9-10).

Titel Lordship (Tuhan) ini dibuktikan Yesus dengan kuasaNya atas alam, atas hidup (dengan membangkitkan mayat, dan juga diriNya) dan atas setan. Adapun air, badai dan gelombang telah ditaklukkanNya, sehingga Yesus mampu berjalan diatas air; dan dalam menghadapi badai yang diredakan-Nya, para murid-Nya berkata dalam ketakutan: “Orang apakah Dia ini, sehingga angin dan (gelombang) danaupun taat kepada-Nya?” (Matius 8;27, Markus 4:41, Lukas 8:25, yang sayang kesemuanya lagi-lagi dikosongkan Muhammad dari Quran).

Ini sekaligus menempatkan semua mahkluk, termasuk Muhammad, takluk dibawah otoritas-Nya. Setan dan roh-roh jahat justru semuanya tahu betapa berkuasanya Yesus sehingga mereka sampai terpaksa menyembah-Nya. Murid-murid-Nya juga tahu, maka Yesus berkata,

“Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat,
sebab memang Akulah Guru dan Tuhan”.

“Aku adalah Alfa dan Omega, firman Tuhan Elohim,
yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang,
Yang Mahakuasa.” (Wahyu 1:8).

Jadi mau atau tidak mau, hidup kita harus berurusan dengan Dia sebagai Tuhan Yang Mahakuasa. Bahwa Anda menolak berurusan dengan Dia, itu tidak akan mengubah kebenaranNya sebagai Tuhan semesta-alam. Pada akhirnya kebenaran ayat-ayat inilah yang akan terjadi dalam penghakimanNya di akhir zaman. Dan apa yang akan terjadi di hari kiamat itu, tergantung kepada bagaimana respons Anda dan saya terhadap-Nya dalam kehidupan saat sekarang ini!

  • “Dia-lah (Tuhan Yesus) yang ditentukan Elohim menjadi hakim atas orang-orang hidup dan orang-orang mati”. (Kisah Rasul 10:42)
  • “Apabila Anak Manusia (Yesus) datang dalam kemuliaanNya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas tahta kemuliaanNya. Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapanNya … Dan Ia akan berkata … ‘Enyahlah dari hadapanKu, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah dalam api yang kekal …” (Matius 25: 31, 32, 41)
  • “ …pada waktu Tuhan Yesus dari dalam sorga menyatakan diriNya bersama-sama dengan malaikat-malaikatNya, dalam kuasaNya, di dalam api yang menyala-nyala, dan mengadakan pembalasan terhadap mereka yang tidak mau mengenal Elohim dan tidak mentaati Injil Yesus, Tuhan kita. Mereka ini akan menjalani hukuman kebinasaan selama-lamanya .” (2Tesalonika 1:7-9)

Cobalah untuk menjawab satu pertanyaan secara penuh kejujuran dalam hati: “Kenapa Yesus yang begitu benar, kudus, kuasa dan sempurna itu tidak mungkin TUHAN seperti yang di klaim dan yang dibuktikan dan disaksikan secara mutawatir? Bukti-bukti (bukan klaim) apakah yang lebih shahih yang ada pada kita-kita, untuk menolak Yesus itu Tuhan?

Ketiga, Yesus Mahakasih, berkorban segalanya bagi kita.

Para ahli teologi di abad pertengahan pernah menjajaki apa yang dinamakan “teologi keledai” (asinus-theology). Mereka mempertanyakan, “Dapatkah Tuhan menjelma menjadi keledai untuk melakukan misiNya? Atau menjelma menjadi sebuah batu?” Jawaban teologi-kilat cukup mengutib satu ayat, yaitu: tidak ada yang mustahil bagi Tuhan! Namun tentu teologi semacam ini akan ditolak, karena lebih merupakan spekulasi dan tafsiran satu ayat yang tidak didudukkan dalam perspektif keberadaan Tuhan terhadap manusia.

Masalahnya bukan dapat atau tidaknya Tuhan yang Maha Kuasa meng-operasikan kedaulatanNya, tetapi “Kenapa Tuhan harus menjelma menjadi manusia? Dan bukan keledai”. Dan pertanyaan ini menjadi mudah dijawab oleh konsep relasi, yaitu bahwa Tuhan melakukan hal itu karena mau membagikan sebuah RELASI khusus dengan manusia yang sedari semula diciptakanNya menurut gambar dan rupaNya. (Kejadian 1:26; Efesus 25-6).

“Sebab Anak Manusia datang untuk mencari (manusia) dan menyelamatkan (manusia) yang hilang”. (Lukas 19:10). Itulah misi penyelamatan seperti yang dimaklumatkan oleh Gabriel maupun yang dinubuatkan oleh Simeon diawal tulisan ini! Itulah ujud kasih karunia-Nya yang dilimpahkanNya secara khusus kepada manusia!

Disinilah peran Yesus yang paling pokok untuk apa Ia sendiri perlu datang kedunia. Yaitu melakukan suatu karya yang tidak bisa dilakukan oleh nabi manapun dengan mengorbankan nyawaNya cuma-cuma di atas kayu salib, demi menebus dosa kematian Anda dan saya yang mau menerima-Nya. Konsep penebusan ini bukan diada-adakan oleh manusia, melainkan design Bapa Sorgawi sendiri yang dilaksanakan oleh sang Anak sebagai kurban tebusan. Yesus berkata: “Anak Manusia (Yesus) datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Matius 20:28).

Tetapi teman Muslim sering bersinis: “Apa perlunya nyawa Yesus dikurbankan untuk pengampunan dosa manusia? Bukankah Allah bisa mengampuni saja dan selesai semuanya?” Jika itu yang Anda tanyakan pula, maka Anda belum tahu apa makna hakikinya dari sebuah AMPUN.

Mengampuni?
Apa yang ada dibenak Anda dengan istilah “mengampuni”?

Tuhan – dan bukan manusia– mensyaratkan pengampunan dalam arti yang amat mendasar, yaitu keharusan bagi sipengampun untuk membayar harga, harga tebusan! Elohim yang Maha Kuasa memang berkuasa mengampuni kita disetiap waktu, namun dosa kita tidak bisa diampuni begitu saja karena Ia juga adil dan konsekwen dengan hukum-pokok keadilanNya, yaitu harus menghukum setiap dosa yang kita perbuat. Disatu pihak Dia Yang Maha Kasih mau dan bisa mengampuni. Tetapi dilain pihak Dia Yang Maha Adil harus menghukum sipendosa secara konsekwen. Ia tidak mungkin Maha Adil apabila hanya sekedar “melupakan” atau “membiarkan” kesalahan seseorang tanpa mempertanggung-jawabkannya dengan suatu harga, yang disebut penebusan.

Anda bertanya, kenapa ada harga yang terlibat?

Ya, pemahaman kita atas azas pengampunan cenderung terkontaminasi menurut arti populer saja didunia kita yang korup,  bukan arti murninya. Untuk mencerna-kannya kembali, kini pikirkanlah ada seorang anak Anda yang berbuat-dosa terhadap Anda, misalnya ia memberontak dan membakar tas kantor Anda. Andapun marah. Kenapa? Karena Anda merasa dirugikan oleh perbuatan tersebut, rugi material dan immaterial. Akhirnya sang anak sadar akan kesalahannya dan minta pengampunan dari Anda, dan Anda juga rela untuk mengampuninya.

Kini karena sudah ditetapkan oleh Elohim sendiri bahwa setiap pelaku dosa harus dihukum mati dalam kekekalan (dengan istilah “upah dosa adalah maut”, Kejadian 2:17, Roma 6:23), maka tak ada manusia yang sanggup membayar harga sebesar itu dengan usaha amal-ibadah atau cara apapun. Itu sama halnya dengan hukuman mati dipengadilan yang tidak bisa dilunaskan dengan jasa-pahala apapun yang pernah dibuat oleh si terhukum! Diperlukan pertolongan dan kekuatan dari luar sebagai penyelamat atau penebus. Dicontohkan disini satu kasus tebusan sebagai berikut ini:

Ada cerita tentang seorang wanita muda yang tertangkap didiskotik ketika diadakan razia narkoba oleh aparat negara. Ia dihadapkan ke meja hijau. Jaksa penuntut membacakan dakwaan dan tuntutan. Maka sang hakimpun bertanya kepada si tertuduh: “Anda bersalah atau tidak bersalah?” Gadis tersebut mengaku bersalah, minta ampun dan ingin bertobat. Namun sang hakim yang adil itu tetap mengetuk palunya mendenda Rp. 10.000.000,- atau 6 bulan penjara. Tiba-tiba terjadi hal yang mengagetkan dalam sidang tersebut. Sang Hakim itu turun dari kursinya sambil membuka jubahnya. Ia segera menuju kursi si terhukum, mengeluarkan uang Rp. 10.000.000,- dari tas-nya untuk membayar denda sigadis. Apa pasal? Ternyata sang hakim tersebut adalah bapa dari sang gadis. Walau bagaimanapun cinta sang bapa pada anak gadisnya, ia tetaplah hakim yang adil dan tidak bisa berkata: “Aku mengampuni kamu karena kamu menyesal dan mau bertobat”, atau mengatakan: “Karena kasihku padamu, maka Aku mengampuni kesalahanmu”.

Hukum keadilan tidak memungkinkan Hakim yang adil bisa mengampuni dosa anaknya dengan sesukanya “tanpa prosedur harga”. Maka ia yang begitu mengasihi anaknya bersedia turun dari kursi dan menanggalkan jubah kehakimannya, lalu  menjadi wali untuk membayar harga denda. Inilah jalan satu-satunya bagi seorang hakim yang adil untuk memberi pengampunan bagi seorang terhukum yang dikasihinya.

Dan inilah analogi untuk Yesus Mesias yang menanggalkan jubah keilahianNya dan turun kedunia menjadi manusia demi untuk membayar harga MAUT dikayu salib, yang tidak sanggup dibayar oleh sipendosa sendiri (manusia-manusia) yang sudah terhukum mati. Yesus telah mengatakannya secara lurus, tanpa usah tafsiran, bahwa “Anak Manusia datang untuk memberikan nyawaNya menjadi tebusan (nyawa) bagi banyak orang”. Maka hak qisas (hukum pembalasan yang setimpal) terhadap utang nyawa, kini dipenuhi dalam kematian Yesus bagi manusia: “nyawa ganti nyawa” (Kel 21:24), demi menebus kematian Anda dan saya!

Kini, bagaimana teologi Islam berbicara tentang pengampunan?

Disini, teologi agama-agama yang tidak mengenal konsep penebusan Yesus (tidak mengimani anugerah Ilahi), melainkan hanya mengenal konsep usaha-diri dalam mencari ridha Allah lewat ibadah-amal-pahala, akan menemui dilemma yang dahsyat. Sebab mereka tidak mempunyai cara apapun untuk merekonsiliasikan kedua sifat Allah yang saling menentang, yaitu, Maha Kasih versus Maha Adil.

Sebab jikalau Allah mengampuni semata-mata karena Maha Pengasih & PenyayangNya, maka tentulah Ia Non-Adil, karena berkolusi tidak menghukum dosa yang seharusnya dihukum. Pengampunan model begini adalah keputusan tanpa dasar apapun kecuali sewenang-wenang. Elohim yang Maha Adil, Maha Benar dan Suci itu sungguh tidak bisa begitu saja menyebut “putih” atas sesuatu yang sebenarnya “hitam”.Hukum dan Jalan Elohim itu lurus, dan Ia tidak bisa berbunglon dengan mengingkari diriNya sendiri! (2Tim.2:13). Dengan perkataan lain teologi Islam tidak mampu ber-apologi tentang azaz pengampunan yang mendasar.

Akhirnya, Tuhan Yesus menjelaskan lagi hakekat penyerahan nyawaNya untuk keselamatan domba-dombaNya. Ia berkata, “Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya; …Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali. Tidak seorangpun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali” (Yohanes 10:11, 17-18).

Disini kesulitan Muslim untuk memahami kenapa Yesus (kalau ilahi) bisa mati bisa dijelaskan. Yesus menjelaskan bahwa penyerahan nyawaNya itu dilakukan atas dasar kasih-setia dan sukarelanya Dia yang memberikan nyawaNya seperti yang dimintakan BapaNya. Tidak seorangpun yang berkuasa membunuh diriNya bilamana Ia memang menolak kematianNya, “sebab untuk (kematian) itulah Aku (Yesus) datang ke dalam saat ini” (Yohanes 12:27). Yesus berkuasa memberikan nyawaNya untuk mendapatkannya kembali dalam kebangkitanNya yang berkemenangan… Dengan demikian Dia telah membayar harga kematian Anda dan saya secara tunai, memenuhi AZAZ hakiki dari hukum kasihNya dan KeadilanNya!
Semua yang diutarakan diatas adalah bagian dari kesaksian Yesus tentang SIAPAKAH YESUS yang sesungguhnya. Dengan siapakah Anda dapat membandingkan diriNya? Makin Anda mencari tandingan-Nya, makin Anda akan menemui kebenaran dan keluruhan dan kedahsyatan jatiidiriNya. Kini Dia menantang Anda dengan satu pernyataan yang menentukan hidup-mati Anda:

“Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?“
(Yohanes 11:25-26). (Posted By Kalangi)

Download artikel ini di Sini

About these ads