Aksi Brutal Massa FPI

KAL-TENG (Arrahmah.com) – Dengan alasan menjaga ketentraman ormas Dayak di Kalimantan Tengah menolak jika Front Pembela Islam (FPI) beraktivitas di Kalteng. Mereka juga menolak kehadiran pendiri FPI Habib Rizieq yang akan mengadakan tabligh akbar di Palangkaraya, Kalteng, Minggu (12/2) malam besok.

Wakil Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Kalteng Lukas Tingkes di Palangkaraya, Sabtu (11/2), mengatakan, pihaknya telah mengirimkan surat kepada Kepolisian Daerah (Polda) Kalteng agar melarang pembentukan FPI.

Keberadaan organisasi massa tersebut dikhawatirkan membuat masyarakat tak tenang. Lukas mengatakan, pihaknya akan menurunkan spanduk yang berkaitan dengan FPI dan acara Habib Rizieq di Kalteng.

“Penurunan tidak dilakukan dengan cara yang anarkis. Tidak dengan kekerasan,” ujarnya.

Ketua Gerakan Pemuda Dayak Kalteng Yansen Binti mengatakan, ia mendapatkan informasi bahwa pembentukan FPI di Kalteng akan dilakukan setidaknya di Palangkaraya, serta Kabupaten Kapuas dan Kotawaringin Timur. Organisasi massa tersebut dicemaskan memicu konflik.

Sementara itu, ratusan warga Dayak di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Sabtu (11/2/2012) berkumpul di Bundaran Besar Palangkaraya, untuk pembentukan Barisan Pertahanan Adat Dayak Kalimantan Tengah.

Massa FPI Siap Melakukan Perusakan

Sehari sebelumnya, ratusan warga Dayak Palangkaraya, Kalteng ini juga berkumpul di Rumah Betang yang ada di kompleks Kantor Gubernur Kalteng untuk menyuarakan aspirasi mereka melalui dewan adat dayak daerah Kalteng, didalam menolak rencana pembentukan Front Pembela Islam (FPI) di provinsi ini.

Ratusan warga dayak yang datang ke Bundaran tersebut, mengenakan pengikat kepala berwarna merah, sebagian mereka juga menggunakan baju bermotif khas dayak Kalteng serta berteriak khas teriakan orang dayak.

Setelah mendekrasikan Barisan Pertahanan Masyarakat Adat mereka ngeluruk ke Bandara Tjilik Riwut Palangkaraya.

Kedatangan Para Pemuda Dayak Kalteng ke Bandara Tjilik Riwut ini, mau mencekal kedatangan Habib Riziq pemimpin tertinggi Front Pembela Islam (FPI) yang akan datang ke Palangkaraya untuk melantik pengurus FPI di Kalimantan Tengah, Palangkaraya.

Para Pemuda Dayak yang tergabung dalam Gerakan Pemuda Dayak Indonesia (GPDI) Kalteng ini menyatakan menolak keras rencana pengukuhan FPI di Palangkaraya tersebut, sehingga sejak Jumat kemarin hingga saat ini mereka berkumpul untuk melakukan penolakan.

Ketua FPI Habib Rizieq dan Jenderalnya Munarman

JAKARTA (Arrahmah.com) – Ketua bidang Nahi Munkar DPP FPI Munarman mengatakan kelompok masyarakat yang melakukan penghadangan terhadap rombongan Habib Riziq dalam rangka dakwah Islamiyah di Kalimantan Tengah merupakan kafir harbi.

“Mereka yang menghalangi dakwah adalah kafir Harbi, halal darahnya.” lontar Munarman saat dihubungi oleh arrahmah.com.

Lebih dari itu, Munarman menuntut pertanggung jawaban Gubernur Kalimantan Tengah yang ditengarai berada dibelakang aksi tersebut.

“Teras Narang harus bertanggung jawab, sebab yang melakukan penghadangan orang-orangnya dia.” bebernya.

Dia berpendapat, Gubernur Kalimantan Tengah yang memimpin aksi tersebut.

“Teras Narang pemimpin kafir harbinya.” tandas Munarman.

Seperti diketahui, setelah  melakukan unjuk rasa di luar Bandara Tjilik Riwut Palangkaraya, ratusan gerombolan kafir pimpinan Yansen Binti yang merupakan operator gubenur Kal-Teng Teras Narang, Sabtu (11/2/2012) menyerbu ke apron bandara tersebut.

Anarkisme dan Kebrutalan Massa FPI

Mereka menyerbu setelah sebuah pesawat yang diduga berpenumpang Ketua Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq, mendarat di bandara terbesar di Kalteng itu. Ratusan gerombolan kafir pimpinan Yansen Binti Kalteng ini, sebelum pesawat Sriwijaya Air landing pun sudah tidak sabar menolak pemimpin FPI tersebut, dari Palangkaraya.

Aparat kepolisian yang datang untuk mengamankan pun kalah banyak dengan massa yang mengadang pemimpin FPI tersebut. Sempat terjadi negosiasi antara aparat kepolisian antara koordinator massa gerombolan kafir pimpinan Yansen Binti, sehingga akhirnya rombongan FPI pusat pun batal turun dari pesawat.

About these ads