“Ayah…, maafin Putri ya yah, Putri udah malu-maluin ayah sama semua orang. Tapi Putri berani sumpah kalau Putri gak pernah jual diri sama orang. Malam itu Putri cuma mau nonton kibot (keyboard-red) di Langsa, terus Putri duduk di lapangan begadang sama kawan-kawan Putri. Sekarang Putri gak tau harus gimana lagi, biarlah Putri pigi cari hidup sendiri, Putri gak da gunanya lagi sekarang. Ayah jangan cariin Putri ya..!!, nanti Putri juga pulang jumpai ayah sama Aris. Biarlah Putri belajar hidup mandiri, Putri harap ayah gak akan benci sama Putri, Ayah sayang kan sama putri..???, Putri sedih kali gak bisa jumpa Ayah, maafin Putri ayah….. Kakak sayang sama Aris, maafin kakak ya.. (Putri sayang Ayah).”

TEMPO.CO, Banda Aceh - Pemberitaan media massa ternyata bisa membuat trauma bahkan sampai seseorang memutuskan mengakhiri hidupnya. Ini terjadi pada seorang gadis berinisial PE di Banda Aceh.

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Banda Aceh menduga, PE mengalami tekanan psikologis karena pengaruh pemberitaan dua media lokal. “Ada media yang menulisnya sebagai pelacur dan pelaku mesum,” kata Pelaksana Harian Ketua AJI Banda Aceh Taufik Al Mubarak di Banda Aceh, Senin, 17 September 2012.

Gadis berinisial PE, asal Aceh Timur, mengakhiri hidupnya pada Kamis, 6 September 2012, di kamarnya. Dia meninggalkan sepucuk surat kepada ayahnya yang berisi permintaan maaf dan bersumpah tidak pernah menjual diri.

Taufik mengatakan, insiden berawal ketika razia dilakukan oleh polisi syariat (Wilayatul Hisbah) Kota Langsa di Lapangan Merdeka Langsa, pada Senin dinihari, 3 September 2012. PE dan seorang kawannya ditangkap, WH, dan setelah dinasihati dikembalikan kepada orang tua.

Sehari kemudian, salah satu media menulis mereka dengan sebutan pelacur dan media yang lain menyebut mereka sebagai pelaku mesum. Bukti pemberitaan kemudian dikaji dan diverifikasi oleh AJI Banda Aceh.

Menurut Taufik, tak ada satu kalimat pun memuat penjelasan PE yang ditulis dalam berita tersebut. Padahal, dalam Pasal 1 Kode Etik Jurnalistik menyebutkan, wartawan harus independen, menghasilkan berita yang akurat, berimbang, dan tidak beriktikad buruk. “Pemberitaan media itu diduga menjadi salah satu penyebab tekanan psikologis terhadap PE,” ujarnya.

AJI Banda Aceh menilai kedua media itu langsung menghakimi PE dan IT sebagai pelacur yang kerap beraktivitas melayani lelaki hidung belang. Dalam berita itu juga disebutkan, dalam menjalankan aktivitasnya, mereka diarahkan oleh seorang germo yang namanya telah dikantongi Dinas Syariat Islam setempat.

Dalam berita, lanjut Taufik, juga tidak ada satu kutipan pun dari narasumber yang menyebutkan bahwa kedua anak tersebut merupakan pelacur.

Berdasarkan verifikasi yang dilakukan AJI Banda Aceh dengan Kepala Dinas Syariat Islam Kota Langsa Ibrahim Latif dalam berita acara penangkapan (BAP), saat ditangkap, PE tidak pernah menyatakan dirinya sebagai pelacur. Ibrahim pun membantah pernah menyebut mereka sebagai pelacur saat diwawancarai media. (ADI WARSIDI)

Kasus gadis kecil bunuh diri gara2 ditangkap dituduh pelacur, sebenarnya sudah umum terjadi di-negara2 syariah seperti di Iran, Arab Saudi, Yaman dll.

> <ambon@…> wrote:

Putri, 16 tahun, yang bunuh diri setelah dituduh sebagai pelacur oleh polisi syariah di Langsa, Aceh. Surat Putri “menyakitkan umat Islam Indonesia, khususnya masyarakat  Aceh. Dengan buru-buru dan tanpa penelitian yang mendalam, Tempo langsung mengambil kesimpulan penerapan qanun yang dibuat dan diterapkan tanpa memperhatikan perlindungan atas hak-hak anak.”

Sebenarnya tidak ada seorang gadis masih kecil bisa berpikir bunuh diri hanya karena dituduh pelacur. Mereka sebenarnya diam-diam dibunuh ditahanannya agar tidak perlu pemerintah melakukan hukum pancung atau hukum rajam yang pasti akan ditegur lembaga HAM.

Jadi untuk potong kompas menghindari teguran lembaga HAM itulah dalam Syariah Islam dibenarkan untuk langsung mengeksekusinya tanpa harus ramai diberitakan ke masyarakat. Hal-hal seperti ini malah sangat sering dialami para TKW yang sedang dalam tahanan tahu-tahu diberitakan sudah menjalani hukum pancung.

Jadi apa yang dilakukan di Aceh sebenarnya hanya meniru dan menindak lanjuti cara-cara umum di Negara-negara bersyariah.  Lebih-lebih para korban ini tidak dibenarkan untuk dilakukan otopsi, penjidikan kedokteran kehakiman terhadap penyebab-penyebab kematian yang sebenarnya.

Ny. Muslim binti Muskitawati.

Atjehpost.com

PUTRI, hari ini kau pasti sudah merasakan nikmatnya surga di sana. Jalan hidupmu begitu tragis, yang muncul dari kesalahan dan dosaku padamu. Memang aku tidak pernah mengenalmu, aku baru mengenalmu ketika kau memilih untuk pergi ke dunia yang lain, lepas dari dunia fana yang telah terbentuk dari suplai kesalahanku.

Putri, aku sedih, walau di sana kau senang. Kau juga tidak mengenalku, tapi saat ini aku ingin berkenalan denganmu. Parasmu begitu anggun ketika fotomu beredar lewat stasiun televisi. Orang tuamu pasti sangat menyayangimu, terbukti sampai hari ini mereka masih meratapi kepergianmu. Aku sedih dan benar-benar menangis ketika kau pergi akibat fitnah dari kalangan orang-orang berkuasa.

Aku tidak tahu, setelah aku berfikir akulah biang kepergian dirimu. Ketika fitnah itu menghujam dirimu, maka kuperkenalkan diri lewat surat ini dan permohonan maafku untukmu. Aku adalah orang yang diam ketika ada sekelompok aparat melakukan razia malam hari, aku diam ketika selama ini aku melihat mereka melakukan tindakan diskriminatif terhadap kaum perempuan.

Penyesalanku adalah, karena aku hanya diam. Dalam kasat mataku aku melihat aparat berkedok agama itu hanya menduga-duga tanpa bukti yang nyata. Mereka selalu menduga bahwa perempuan nongkrong di malam hari adalah pelacur. Lebih sakitnya lagi dulu sebelum kepergian dirimu, aku juga memiliki persepsi yang sama seperti mereka.

Aku pernah bangga melihat mereka. Kupikir mereka adalah orang suci yang mencoba membasmi maksiat di muka bumi. Bahkan Putri, kusampaikan kepadamu, aku sempat ingin menjadi seperti mereka, hingga kuperdalam ilmu agamaku agar aku bisa menjadi seperti mereka. Putri aku pernah bangga dengan penerapan aturan keagamaan di tempat kita, kufikir aturan itu sudah tepat, tanpa kukaji lebih dalam ternyata ada yang salah dengan aturan itu.

Putri, aku tahu pasti sakit rasanya difitnah. Setelah difitnah kau pasti dijauhi oleh masyarakat, kau dijauhi oleh teman-temanmu. Tak terbayangkan jika fitnah itu jatuh padaku, pasti aku melakukan tindakan yang tidak jauh beda darimu, Putri. Kau tahu banyak pihak yang tersentak akan kepergianmu. Hari ini para pembelamu muncul, setelah sekian lama bersembunyi dan hanya diam dan menikmati hidup, nyatanya aku dan para pembelamu adalah orang-orang yang berdosa besar terhadapmu, Putri.

Maka untuk menebus kesalahan kami, kami melakukan pembelaan terhadapmu, dan kami berusaha untuk memberikan hukuman yang tepat kepada orang yang secara jelas menyebabkan kepergianmu, merekalah orang-orang yang secara jelas dan nyata menfitnahmu, tapi aku juga tidak menafikan kesalahanku padamu, karena selama ini akulah pendukung mereka, Putri.

Ketika kumenulis surat ini untukmu, baru inilah tempat kita berada, tempat di mana kau difitnah, dituruni hujan satu hari lamanya, setelah kering sekian lama yang  membuat sumur-sumur tak berisi air. Maka kuanggap kekeringan itu sebagai balasan Tuhan untukku yang telah menjadi bagian dari proses jatuhnya fitnah terhadapmu.

Ini hanyalah bagian kecil dari hukuman Tuhan kepadaku dan seluruh orang-orang yang menyebabkan kepergianmu, Putri.  Ini pertanda Tuhan sangat sayang denganmu, Tuhan tidak menutup mata, karena Tuhan sangat marah ketika agama yang dianjurkannya dipermainkan sehingga menyebabkan munculnya ketidakadilan yang berujung pada kepergian dirimu, Putri.

Aku tahu maksudmu ketika malam itu sebelum kejadian razia dan fitnah itu menghampiri dirimu. Aku tahu kau haus akan hiburan, karena memang di mana tempat kita berada hiburan itu sangat jauh. Remaja seperti dirimu pasti sangat ingin merasakan hiburan yang tepat dan pantas. Tapi sebagian orang tidak mengerti, di tengah hiburan yang sulit di tempat kita berada mereka malah melakukan pembatasan ketika saat menikmati hiburan itu muncul.

Padahal hak kita sebagai masyarakat untuk mendapat hiburan tersebut. Jujur aku yang juga merupakan bagian dari anak muda juga haus akan hiburan, maka seharusnya sah-sah saja jika kau ingin menikmati hiburan bersama teman-temanmu  untuk menjalani hidup sebagai remaja yang berkembang.

Sebelumnya hak tumbuh kembangmu tidak diberikan oleh pemerintahan yang ada bersama kita saat ini. Kudengar kau putus sekolah ketika kau berada di kelas dua Sekolah Menengah Atas. Padahal Putri, kewajiban pemerintah kita adalah untuk memenuhi hak-hak pendidikan tersebut. Tapi apa, kau tidak mendapatkannya. Malah oleh bagian dari pemerintahan yang berkedok agama itu kau mendapatkan fitnah.

Fitnah itu murahan, Putri. Fitnah itu tidak masuk di logika. Fitnah yang hanya diambil dari penglihatan kasat mata orang-orang yang sok suci, sok taat, seolah-olah merekalah yang paling dekat dengan Tuhan. Seolah-olah merekalah makhluk kesayangan Tuhan. Kau tahu, Putri, mereka yang telah memfitnahmu, akan merasakan bara api neraka kelak.

Aku tahu, dan sudah jelas kau adalah gadis yang suci, kau belum ada ternoda, tapi mereka yang telah menfitnahmu adalah orang-orang yang berfikiran kotor, yang di dalamnya hanyalah memikirkan kesucian  selangkangan perempuan. Pikiran kotor itulah yang menjadi landasan mereka melakukan fitnah untukmu, Putri.

Aku jauh dari orang tuaku saat ini Putri. Aku menangis ketika kumengingat orang tuaku yang selalu memikirkanku, memikirkan keselamatan hidupku, memikirkan kesuksesanku di kemudian hari. Tapi tak terbayangkan olehku jika orang tuaku menangis, meratap dan bersedih terus menerus jika mereka kehilanganku, seperti yang dialami oleh orang tuamu sekarang, Putri.

Hari ini orang tuamu akan kuanggap sebagai orang tuaku juga, Putri. Maka aku juga menganggapmu seperti adikku sebagai permohonan maafku kepadamu, karena aku adalah bagian dari penyebab kepergianmu. Oleh karena itu, aku tidak ingin orang tuamu bersedih lagi Putri. Sampaikanlah kalau hari ini kau senang di sana.

Untuk itu aku tidak ingin orang tuamu melihat lagi kejadian-kejadian seperti yang kau alami , Putri. Maka aku akan terus berusaha untuk memberantas fitnah-fitnah dari hasil aturan yang diskriminatif berkedok agama. Mereka menfitnahmu dengan mendompleng agama, padahal mereka tidak tahu dan masih awam mengenai agama yang mereka cintai.

Mereka telah dibutakan oleh pemahaman agama yang dangkal, pemahaman agama yang tidak dikaji lebih dalam, sehingga mereka dengan senang hati dan suka ria sambil menikmati amprahan setiap bulan melakukan fitnah-fitnah dan tebak-tebakan dalam memberikan klaim dosa atau tidak.

Kau tahu Putri, mereka berlagak seperti malaikat Rakib dan Atid ketika mengklaim perbuatan dosa orang. Mereka juga laksana Munkar dan Nankir ketika memberikan hukuman. Padahal mereka hanyalah manusia biasa, yang bahkan kesuciannya boleh dipertanyakan ketika mereka  beranjak dewasa.

Tapi, Putri, kepadamu aku meminta maaf yang sebesar-besarnya, karena aku adalah orang yang pernah mendukung para pelaku yang telah menfitnahmu, Aku pernah bangga pada para pelaku yang telah menfitnahmu, aku juga sempat bermimpi ingin menjadi seperti mereka dulu. Tapi hari ini impian itu kubakar, karena akhlak mereka yang ternyata zalim.

Putri kumohon kau berikan maafmu padaku, jika kau berkenan kuharap kau berdoa untuk kesadaran sekelompok orang yang telah berlaku zalim padamu. Kuharap kau yang telah dekat dengan Tuhan agar meminta, jangan ada putri-putri lain menyusulmu.

Saat ini kau telah menjadi putri Tuhan. Kau telah tahu bahwa agama kita adalah agama yang paling benar. Agama kita adalah agama untuk seluruh alam, dan kau telah mengerti agama kita bukanlah agama yang diskriminatif dan penuh kezaliman seperti yang telah diterapkan oleh sekolompok orang yang telah menfitnah dan menzalimimu.

Kuharap surat ini dapat kau terima, dan semoga saja tidak ada putri-putri lain yang menyusul seperti dirimu. Selamat menikmati kehidupan yang baru wahai,  Putri.

In Memoriam Putri (1996-2012)

Penulis Adalah Anggota Koalisi Advokasi dan Pemantau Hak Anak (KAPHA)

Baca juga berita terkait:

Karena Putri Bukan Pelacur

Belajar Malu dari Putri 

About these ads