Saya (Omotoni Akintoye) lahir tanggal 18 November 1956 dari keluarga poligami yang tidak mengenal Kristus. Ibu sangat menderita saat mengandung dan melahirkan saya, karena saya adalah anak ke-10 dalam keluarga dan ke-9 kakak saya semuanya meninggal saat masih bayi atau pun dalam kandungan, sehingga ketika keluarga tahu bahwa ibu mengandung, mereka menolak dan menyingkirkannya. Akhirnya, ibu saya bersembunyi di sebuah kampung terpencil. Saya tidak lahir tepat pada saatnya, tapi pada usia kandungan ibu saya 18 bulan, sehingga ia sangat kesakitan saat saya lahir. Ibu dibawa ke rumah sakit yang sangat jauh dari kampung karena komplikasi. Orang tua saya tidak mau memberikan nama, karena takut saya akan meninggal jika diberi nama. Lagipula dalam adat saya, pemberian sebuah nama harus dilakukan dengan perayaan yang sangat mahal. Hal itu membuat saya dipanggil sekenanya pada masa kanak-kanak, sehingga pada saat remaja, saya memberi nama diri saya sendiri “Wahid”.

Saya sebenarnya anak yang cerdas di sekolah (Ahmadiyah Grammar School), namun saya juga sekaligus anak yang nakal, suka merokok, dan melakukan begitu banyak kenakalan remaja. Hal itu membuat saya menjadi anak yang paling banyak dihukum di sekolah, dan saya bangga akan hal itu. Sekolah segan mengeluarkan saya karena saya anak yang sangat cerdas, bahkan berhasil lulus SMA dengan nilai yang tinggi. Tapi saya melawan kehendak orang tua saya. Mereka ingin saya masuk universitas, tapi saya malah bergabung dengan kehidupan geng dan preman di kota kami. Melakukan apa saja untuk mendapatkan uang dengan cepat, namun hanya menghambur-hamburkan uang yang saya dapat untuk tidur bersama pelacur di hotel dan mabuk-mabukan sampai pagi. Hal itu membuat ibu saya memaksa saya untuk menikah. Saya menikah bulan Desember tahun 1981. Tapi di malam pernikahan saya, saya malah menghabiskan malam itu bersama dengan seorang pelacur di sebuah hotel. Malah pada malam ketika anak pertama saya lahir, saya mabuk-mabukan sampai drop di sebuah hotel.

Saya sama sekali tidak memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga dan sama sekali tidak peduli dengan istri saya yang membanting tulang bekerja sebagai buruh kasar untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Sebaliknya, saya malah meninggalkan mereka pergi ke Amerika tanpa pamit, hanya karena seseorang menghina saya tidak punya gelar sarjana. Di Amerika, saya masuk ke Borough Of Manhattan Community College, lalu ke Baruch College; kedua-duanya di New York. Sekolah saya berjalan cukup baik, namun seperti biasa saya terus terlibat dalam pencarian uang secara instan. Seperti penipuan, pemalsuan, pengedaran narkoba, bahkan perdagangan manusia. Semua, baik pendidikan dan penghasilan dari dunia gelap, berjalan baik (terutama dari bisnis penipuan saya). Saya merasa begitu penuh dan tercukupi, merasa diri paling hebat, itu semua hasil usaha saya, dan di manakah Tuhan? Buktinya Dia tidak bisa menghentikan hal-hal jahat yang saya lakukan ini.

Pengenalan saya yang pertama kali kepada Yesus terjadi agak aneh. Saya sedang bermain judi bersama teman-teman
saya. Kemudian ada seorang teman yang bernama Ray, sering menang dan setiap kali menang dia berseru, “Puji Tuhan, Haleluya, dan Terima kasih Yesus”. Hal itu sungguh mengesalkan hati saya. Saya memandangi Ray dan berpikir dia sudah gila. Masakan membawa-bawa jargon-jargon agama dalam judi. Dan saya juga katakan padanya bahwa Yesus yang dia puji-puji itu tidak ada istimewanya, hanya manusia biasa seperti kita, seorang penipu yang lebih pintar dari pengikutnya, sehingga pengikutnya mau saja dibohongi dan mengikutinya. Namun pada malam harinya, tanggal 5 Februari, saya bermimpi dan mimpi itu begitu nyata. Saya melihat seorang pria yang matanya, kulitnya, dan jubahnya semuanya berwarna putih bagai salju. Saya bertanya padanya, “Siapakah engkau?” Dia lalu menjawab, “Aku adalah Yesus yang kau bilang sebagai penipu. Tapi sekarang Aku akan memberimu tugas untuk memberitahukan seluruh dunia kalau Aku bukan tipuan, tetapi sesuatu yang sungguh nyata.”

Saya katakan padanya, saya tidak punya urusan denganmu, untuk itu pergilah tinggalkan saya. Kejadian itu menjadi awal dibongkarnya hidup saya dan akhir dari kenyamanan yang dibangun atas kejahatan saya. Saya tidak bisa lagi hidup tenang sejak mimpi itu. Beberapa hari setelah mimpi itu, ibu saya menelepon, katanya istri saya akan meninggalkan saya kalau saya tidak berbicara dengannya. Saya memang meninggalkan istri saya pada ibu saya, karena saya pikir dia tidak berpendidikan atau pun setingkat kehidupannya dengan saya. Saya coba bicara dengannya, namun saya malah salah bicara dan menghancurkan sedikit harapan yang tersisa padanya. Ia pun langsung pergi keluar dari rumah ibu saya, kembali pada orang tuanya, dengan meninggalkan sebuah amplop berisi surat yang mengatakan bahwa dia akan tetap menunggu saya, peduli sampai berapa lama. Tidak lama kemudian, rumah saya yang di Amerika dirampok habis saat saya sedang pergi kuliah, tidak ada harta saya yang tersisa, semuanya habis dibawa perampok.

Pada bulan Maret 1987, saya menembak seseorang hingga hampir mati hanya karena masalah wanita. Pada 15 September 1987, FBI menangkap dan membekuk saya di dalam kelas saat sedang kuliah, dengan tuntutan penipuan dan pemalsuan. Saya ditahan 13 bulan sebelum akhirnya dibebaskan. Baru saja saya dibebaskan, departemen imigrasi langsung menangkap saya dan langsung mendeportasi saya kembali ke Nigeria. Setelah hampir 4 tahun mencoba kembali ke Amerika, saya akhirnya berhasil kembali ke negeri itu tahun 1991. Namun dua tahun kemudian terjadi masalah besar, pertama ibu saya meninggal di bulan Januari. Lalu saya ditangkap pihak berwajib sampai 19 kali di tahun itu juga. Bukan semuanya karena kesalahan saya. Banyak orang dalam perusahaan saya terlibat dalam penipuan dan pemalsuan, sehingga saya sering terseret dalam penyelidikan.

Tahun 1994, saya kembali ke Nigeria untuk mencari pertolongan spiritual. Saya benar-benar hancur, baik dalam hal kejiwaan dan finansial. Saya benar-benar butuh pertolongan. Hal yang mendorong saya mencari pertolongan spiritual. Setiap kali kejadian-kejadian di atas terjadi, suara dalam mimpi yang saya alami itu terus datang. Menantang dan terus memanggil saya. Tapi saya coba lari dari-Nya, saya tidak mau itu menjadi jalan hidup saya. Saya memutuskan untuk mencoba sedikit berdamai dengan pemilik suara itu. Maka saya mencari seorang pendeta dan meminta sarannya. Ia menyarankan agar saya kembali bersama istri dan keluarga saya. Bila tidak, keadaan akan bertambah buruk. Saya mematuhi sarannya, dan berusaha kembali pada keluarga saya. Itulah hadiah Natal terindah, 23 Desember 1994, dua putri saya yang manis kembali duduk di pangkuan saya dengan sukacita.

Bulan Februari 1997, saya memutuskan kembali ke Amerika, karena bisnis saya di Nigeria, apapun itu, selalu gagal. Saya transit di Amsterdam, Belanda, saya menelepon teman saya yang tinggal di situ. Ia pun dengan senangnya langsung mengundang saya ke rumahnya, karena ada perayaan pemberian nama untuk anaknya. Setelah perayaan itu selesai, saya jalan-jalan melihat-lihat Amsterdam. Namun di tengah jalan, mendadak polisi memberhentikan mobil saya. Menurut data yang mereka miliki, ternyata saya termasuk dalam daftar orang dicari di negara tersebut. Saya sangat terkejut, bagaimana mungkin, saya belum pernah datang ke negara itu, namun tertuduh atas sebuah kejahatan di situ? Setelah diusut, ternyata saya tercatat karena kejahatan yang saya lakukan di negara lain 5 tahun lalu, yang dilaporkan oleh warga negara di negara tersebut. Saat didorong masuk dengan kasar ke dalam sel dan pintu sel dengan keras terkunci, suara dari mimpi itu dengan jelas datang lagi dan berkata, “Apakah engkau sudah siap sekarang?”

Saya langsung tersungkur di lantai sel itu dengan muka menghadap ke tanah. Saya menangis sejadi-jadinya seperti anak kecil. “Tuhan …, ampuni aku, aku sudah lelah, aku menyerah!” Di dalam penjara itu, pada tanggal 7 Februari 1997, saya akhirnya menyerahkan hidup saya kepada Yesus Kristus. Di dalam penjara itu pula saya menjadi manusia yang tergantung hanya pada satu buku, yaitu Alkitab. Tidak saya lepas ke mana pun saya pergi di dalam lingkungan penjara. Saya baca berulang-ulang, sekali lagi dan lagi. Roh Kudus banyak berbicara pada saya melalui firman-Nya. Selama 7 bulan dalam penjara, saya pun dilepaskan dan menjadi luntang-lantung di Belanda. Di jalanan, saya bertemu dengan seorang pecandu narkoba dan dia menawarkan tempat sementara untuk berteduh. Tempat itu ternyata sebuah gereja bernama Victory Outreach Church. Dan saya disambut dengan sangat baik di sana, seperti di keluarga sendiri, bahkan mungkin lebih baik dari keluarga. Saya ikut dalam program rehabilitasi di gereja itu selama 3 bulan dan kemudian dipindahkan ke Utrecth. Ternyata pendeta pelayan di Utrecth adalah seorang Nigeria, namanya Pendeta Franklin Ogunnorin. Saya belajar banyak di bawah bimbingannya selama 6 bulan, dan pemerintah Belanda memerintahkan saya untuk melanjutkan perjalanan ke Amerika.

Namun, saat saya sedang transit di Spanyol dan mengunjungi seorang teman, suara itu datang lagi. “Aku tidak mengutusmu ke Amerika, tapi kembali ke Afrika dan dirikanlah gereja seperti yang telah engkau lihat, khusus untuk melayani pecandu, pelacur, pemabuk, narapidana, anak jalanan, dan mereka yang berasal dari keluarga yang berantakan. Mendengar suara itu, saya memilih patuh daripada mengikuti keinginan diri saya sendiri. Saya pun kembali ke Nigeria dengan hanya $10 di kantong dan langsung menggunakan rumah warisan ibu saya sebagai tempat
pelayanan dan rehabilitasi. Kami juga melayani ibadah, sampai diadakan di hampir setiap hotel di Ibadan. Kehidupan dalam pelayanan bukanlah jalanan yang penuh bunga, namun begitu banyak tantangannya. Saya dan istri memang memiliki beban yang sama dalam pelayanan, tapi kami hidup tidak seperti suami istri, kami hidup seperti dua orang yang asing. Begitu banyak adu mulut dan perkelahian dalam kehidupan perkawinan kami. Sampai suatu saat, saya ditegur dengan firman Tuhan yang menyatakan agar saya harus mengasihi istri saya, menghormatinya, dan menjaganya. Puji nama Tuhan, kehidupan keluarga saya menjadi harmonis sejak saya patuh pada firman Tuhan.

Tuhan Yesus yang Mahakuasa telah memanggil dan mengubahkan saya. Saya yang dahulunya suka memukul wanita,
menjadi seorang pencinta istri. Saya tidak lagi melihat anak-anak saya sebagai parasit dan pengganggu hidup saya, melainkan warisan mulia dari Tuhan. Tuhan telah mengubahkan saya, dari seorang penghujat Tuhan menjadi pengabar Injil-Nya. Dari penjara menjadi pendeta, dari pencinta kehidupan malam menjadi pencinta kehidupan doa. Saya tidak melihat wanita dari tubuhnya lagi, tapi dari jiwanya yang terluka. Saya tidak mabuk akan anggur lagi, melainkan mabuk akan Roh Kudus. Dibebaskan dari lembah kematian dan diletakkan pada gunung batu kemulian-Nya. Saya sekarang percaya kalau Tuhan bisa memanggil saya, memilih saya, dan mengubahkan saya dengan karunia-Nya, kasih-Nya, dan kuasa-Nya yang begitu besar. Tuhan juga pasti mampu memanggilmu dan mengubahkanmu dari yang terhilang menjadi anak kesayangan-Nya. Asal kau mau bertobat dan kembali pada-Nya. Saya sekarang merasa begitu hidup, begitu diperbaharui, dan begitu dipulihkan. Membuat saya berpikir jika pengalaman saya bersama Kristus yang begitu indah ini adalah sebuah mimpi, maka saya tidak mau dibangunkan. Biarkan saya tetap bermimpi dalam hidup berkemenangan seperti ini.

Diambil dan disunting seperlunya dari:
Nama majalah: VOICE Indonesia, Vol. 88/2007
Penulis: Omotoni Akintoye
Penerbit: Communication Department Full Gospel Business’s Men Fellowship International — Indonesia dan Yayasan Usahawan Injil Sepenuhnya Internasional (PUISI), Jakarta 2007
Halaman: 18 — 23
Sumber: http://www.kumpulankotbah.com

About these ads