KESAKSIAN


Oleh : Luthfi Assyaukani – Paramadina Mulia Jakarta

Saya baru saja melakukan perjalanan ke Israel. Banyak hal berkesan yang saya dapatkan dari negeri itu, dari soal Kota Tua yang kecil namun penuh memori konflik dan darah, Tel Aviv yang cantik dan eksotis, hingga keramahan orang-orang Israel. Saya kira, siapapun yang menjalani pengalaman seperti saya akan mengubah pandangannya tentang Israel dan orang-orangnya.

Ketika transit di Singapura, seorang diplomat Israel mengatakan kepada saya bahwa orang-orang Israel senang informalities dan cenderung rileks dalam bergaul. Saya tak terlalu percaya dengan promosinya itu, karena yang muncul di benak saya adalah tank-tank Israel yang melindas anak-anak Palestina (seperti kerap ditayangkan oleh CNN and Aljazira). Tapi, sial, ucapan diplomat itu benar belaka. Dia bukan sedang berpromosi. Puluhan orang yang saya jumpai dari sekitar 15 lembaga yang berbeda menunjukkan bahwa orang-orang Israel memang senang dengan informalities dan cenderung bersahabat.

Saya masih ingat dalam sebuah dinner, seorang Rabbi mengeluarkan joke-joke terbaiknya tentang kegilaan orang Yahudi. Dia mengaku mengoleksi beberapa joke tapi kalah jauh dibandingkan Gus Dur yang katanya “more jewish than me.” Dalam jamuan lunch, seorang diplomat Israel berperilaku serupa, membuka hidangan dengan cerita jenaka tentang persaingan orang Yahudi dan orang Cina. (more…)

Sumber: http://backtojerusalem.com/Articles/Muhammad%20and%20the%20Bis%20Driver.pdf

Kisah tentang perjalanan Muhammad naik haji ke Mekah dan apa yang terjadi di sana.

Mekah! Orang yang bernama Muhammad itu merinding kegirangan. Sukar membayangkan bahwa dia akhirnya bisa tiba di kota ini, yang merupakan pusat Islam di Saudi Arabia, kota tempat lahir sang Nabi besar yang namanya sama dengan namanya – sungguh semua ini merupakan impian seumur hidup!

Meskipun Muhammad bekerja sebagai imam di mesjid lokal di Sumatra, Indonesia, dia belum pernah naik haji ke Mekah, yang merupakan ibadah yang harus dilakukan sebagai Muslim yang takwa, setidaknya sekali dalam hidup. Naik hajinya yang pertama kali ini di bulan Mei 1992 memenuhi kebulatan tekad Muhammad untuk menjalankan pilar ke 5 dan yang terakhir dalam Islam. Dia menduga perjalanan ini akan jadi pengalaman rohaninya yang terhebat dalam hidupnya.

Di hari pertama di Mekah, Muhammad mendaftarkan diri untuk ikut tour bis untuk mengunjungi tempat-tempat suci di daerah itu. Keesokan paginya dia tiba lebih awal dari jadwal tour dan dia duduk di belakang supir bis agar bisa melihat pemandangan dengan baik dari jendela depan. Dia merasa senang karena kendaraan itu tidak penuh penumpang dan kursi-kursi sekitarnya juga tampak kosong. (more…)

Saya (OA) lahir tanggal 18 November 1956 dari keluarga poligami yang tidak mengenal Kristus. Ibu sangat menderita saat mengandung dan melahirkan saya, karena saya adalah anak ke-10 dalam keluarga dan ke-9 kakak saya semuanya meninggal saat masih bayi atau pun dalam kandungan, sehingga ketika keluarga tahu bahwa ibu mengandung, mereka menolak dan menyingkirkannya. Akhirnya, ibu saya bersembunyi di sebuah kampung terpencil. Saya tidak lahir tepat pada saatnya, tapi pada usia kandungan ibu saya 18 bulan, sehingga ia sangat kesakitan saat saya lahir. Ibu dibawa ke rumah sakit yang sangat jauh dari kampung karena komplikasi. Orang tua saya tidak mau memberikan nama, karena takut saya akan meninggal jika diberi nama. (more…)

Salam dalam Kasih Tuhan kita Yesus Kristus,

KESAKSIAN-KISAH NYATA

DR. dr.. RM. Tedjo Oedono Oepomo.

Saat ini beliau berprofesi sebagai dosen Fakultas Kedokteran UGM, Bagian THT. Dan berjemaat di Gereja Yerusalem Baru, Yogyakarta.

Ilmu Hitam dan Ilmu Putih vs Kebenaran

Keluarga Dukun Keraton

Aku dilahirkan di dalam lingkungan keluarga keraton. Dan keluargaku adalah trah keluarga dukun keraton. Sejak kecil aku sangat mengagumi ilmu-ilmu kadigdayan gaib yang dimiliki oleh para sesepuh keluarga.

Kakekku memiliki ilmu yang sangat tinggi. Ia bisa menghilang. Bahkan hadir di empat tempat yang berbeda dalam waktu yang bersamaan. Beliau juga mampu menyembuhkan berbagai penyakit dengan tenaga gaibnya. Pamanku juga sangat tinggi ilmunya. (more…)

PERTENTANGAN ANTARA ABAD PERTENGAHAN DENGAN ABAD KE 21

A Clash Between the Middle Ages and the 21st Century

Psikolog Arab – AS, Wafa Sultan, memang benar-benar perempuan pemberani. Sambil dgn gigih menentang sang imam berjenggot dlm siaran TV Al-Jazeera (Tuesday, February 28, 2006), Wafa menjejalinya dengan fakta-fakta yang tak terbantahkan.

Wafa Sultan:
Bentrokan yg kita saksikan diseluruh dunia ini bukan bentrokan antar agama atau budaya. Melainkan bentrokan antara dua kubu bertentangan, antara dua era. Ini sebuah bentrokan antara mentalitas milik abad pertengahan dan satu lagi, mentalitas abad ke 21. Ini sebuah bentrokan antara peradaban dan keterbelakangan, antara yang beradab dan yang primitif, antara kebiadaban dan rasionalitas. Ini bentrokan antara kebebasan dan opresi, antara demokrasi dan diktator. Ini bentrokan antara HAM dan pelanggaran HAM. Ini bentrokan antara mereka yg memperlakukan perempuan spt hewan dan mereka yg memperlakukan perempuan sbg manusia. Jadi yg kita saksikan sekarang bukanlah bentrokan peradaban. Peradaban bukannya saling bentrok, tetapi saling bersaing. (more…)

By Ali Sina – 2005/10/08 http://www.faithfreedom.org/oped/sina51007p1.htm

Saya orang nigeria. Saya menemukan situs anda ketika melakukan pencarian dengan google mengenai nabi mohamad dua bulan lalu, sejak saat itu saya sering mengunjungi situs ini.

Saya setuju dengan sebagian besar apa yang anda katakan mengenai nabi mohamad dan sangat menikmati debat-debat anda. Namun saya ingin mengetahui akhir dari debat anda dengan Yamin Zakaria. Saya tanyakan karena jika anda mencari nama yamin melalui google, anda akan menemukan pernyataannya bahwa ia memenangkan debat melawan anda, dan anda gagal merespon argumentasinya. (more…)

Dalam VCD KKR GKJW 2007

Satu perkara yang mungkin menjadikan satu pertanda tanya besar dalam kehidupan kita, mengapa kita memilih Kristen menjadi agama kita. Mengapa kita memilih Kristen menjadi agama kita? Ada banyak alasan yang sering dibuat oleh manusia, namun yang menjadi catatan yang perlu kita garis bawahi, bahwa agama Kristen sangat identik dengan pengikut Kristus, dan semua manusia tahu, bukan saja orang Kristen, khususnya saudara-saudara kita di bani Kedar, mereka tahu bahwa Yesus memiliki jalan yang lurus. Yesus memiliki jalan yang lurus. Sehingga kekristenan kita ketika kita keluar dari rumah kita sudah di pantau oleh mereka ucapan kita tutur bahasa kita dan langkah kita, pola pemikiran kita, semua apa yang kita kerjakan selalu dipantau oleh keberadaan kita, apalagi di depan orang-orang Islam.

Lantas bagaimana peran kita sendiri di tengah-tengah masyarakat? Setelah saya lihat saat ini adalah kebalikannya gereja sudah menjadi diskotik itu sudah banyak. Sehingga sesuatu yang sangat memprihatinkan, ketika saat ibadah sekalipun gereja sudah menjadi diskotik. Ini sangat membahayakan sekali kalau gereja sudah menjadi diskotik. Namun saat ini, ada pertanda tanyaan dalam hati kita bersama. Kalau gereja sudah dijadikan diskotik, lantas apa yang bisa kita perbuat? Sebagai laskar-laskar kristus, sudahkah kita memiliki kekristenan yang benar?

Kalau boleh saya tanya pada pagi hari ini, siapa dihari bapak, ibu, sodara sekalian yang boleh duduk di ruangan tempat ini, yang pagi ini dibekarti tuhan? Acung tangan! Jangan diturunkan dulu! Karena saya tahu bahwa malaikat disurga akan mencatat, jangan diturunkan dulu! Dan saya mau tanya! Siapa yang pagi hari ini siap mati untuk tuhan? Jangan diturunkan dulu! Semua akan butuh tuhan, bahwa semua akan siap mati untuk tuhan, puji tuhan! Turunkan! (more…)

Pada waktu dahulu saya merupakan seorang yang amat aktif dalam Islam,juga merupakan salah seorang daripada Pengerakkan Muhammadiah dan seorang pengajar Islam. Pada tahun 1947, saya telah dipilih untuk menjadi pengerusi kepada Kongress Muslim Kalimantan di Amutai, bersama-sama dengan K.H Idham Chalid. Pada tahun 1950-51 saya menjadi Imam Muslim bagi pasukan tentera di Banjarmasin, dengan kedudukan yang tinggi. Rencana saya telah diterbitkan dalam beberapa majalah Islam seperti Mingguan Adil di Solo, Mingguan Risalah Jihad di Jakarta dan Mingguan Anti-komunis di Bandung.Saya telah bekerjasama dengan Gerakkan Anti-Kristian dari tahun 1936 di Muara Teweh (Barito) dan sehingga tahun 1962 bersimpati dengan kumpulan yang merancang untuk membina undang-undang Islam di seluruh Indonesia, yang mana secara tidak lansung adalah bertentangan dengan pendirian Kristian.

Sebenarnya saya telah memiliki Kitab Suci Injil sendiri semenjak tahun 1936. Walau bagaimanapun, saya tidak membaca dan mencari kebenarannya, tetapi mencari perenggan yang boleh membantu saya untuk berdiri teguh sebagai seorang Muslim yang mempunyai sikap anti-Kristian, dan bersedia untuk menyerang keimanan orang Kristian secara lebih berkesan.

Saya juga mnengutuk ‘Isa Al-Masih sehingga saya berumur 40 tahun,menolak terus yang mengatakan Dia adalah daripada Tuhan.Saya sengaja mentertawakan dan menolak kebenaran.Tetapi kasih Tuhan sungguh hebat,Dia berusaha,mencari dan menyelamatkan saya. (more…)

Berikut ini satu lagi contoh cendikiawan muslim yang murtad dari Islam.
Karena hati nuraninya yang jujur telah sadar akan kebusukan Islam.

============ ========= ===

Minggu, 20 Juni 2004
Fenomena Destruktif Ibn Warraq

OLEH: LUTHFI ASSYAUKANIE*
SEJAK beberapa tahun belakangan, studi keislaman dihebohkan oleh hadirnya seorang penulis yang menamakan diri Ibn Warraq. Ini adalah nama samaran sang penulis yang mengaku berasal dari India, melewati masa kecilnya sebagai muslim, dan kemudian belajar Islam di sebuah universitas ternama di Inggris. Seperti ditulis dalam otobiografinya, Why I am not a Muslim? (1995), Ibn Warraq mengaku telah keluar dari Islam dan memilih jalan agnostis, jika bukan ateis. Kekecewaannya terhadap Islam diekspresikan lewat tulisan-tulisannya yang mengandung semangat kebencian terhadap agama ini.

Kehadiran Ibn Warraq bukan hanya meresahkan kalangan muslim “konservatif, ” tapi juga para intelektual dan kalangan muslim liberal yang selama ini memiliki pandangan kritis terhadap (beberapa doktrin) Islam. Ibn Warraq dianggap telah merusak proyek pembaruan keagamaan yang dilakukan oleh para intelektual muslim. Apa yang dilakukannya lebih sebagai agenda destruksi ketimbang reformasi. (more…)

Palembang

Sejak kecil saya dididik oleh keluarga dalam agama Islam yang sudah menjadi agama turun temurun bagi keluarga “KEMAS” di Palembang. Saya sebagai anak tunggal yang dididik dan dimiliki oleh seluruh keluarga, dalam arti saya dididik oleh orang tua saya, juga oleh kakek saya dan juga oleh paman-paman saya turut bertanggung jawab mengarahkan saya, demikianlah sistem ke-keluargaan kami, yang saya kenal dan alami sejak kecil. Jadi apabila ada keputusan yang akan diambil mengenai diri saya, maka orang tua saya tidak berhak mutlak, sebab harus dimusyawarahkan terlebih dahulu oleh keluarga besar seperti yang saya katakan di atas…..

Yang dominan mendidik saya adalah kakek saya, karena itu sering saya disebut anak kakek (note: kakeknya adalah keturunan langsung dari Daeng Ario Wongso, anak Tumenggung Nogowongso, cucu pangeran Fatahillah, totalnya 10 keturunan dari Pangeran Fatahillah ke kakenya). Karena saya kagum dengan kakek yang wibawa dan kharismanya sangat besar ditengah-tengah keluarga kami, dan dalam masyarakat Islam Palembang! Sejak kecilpun saya sudah cenderung mempelajari agama Islam dan melaksanakan syariat-syariat agama dengan baik sampai saya dewasa tetap konsisten.

Sebab rotanlah bagian saya ketika kecil apabila saya malas dalam melaksanakan ibadat. Demikian kerasnya keluarga saya mendidik saya dalam agama Islam, sehingga saya bertumbuh menjadi penganut yang fanatik dalam agama Islam!…. (more…)

Kesaksian – Pertobatan

Tuesday, September 18, 2007. Saya benci orang Kristen – Padahal sejak TK , SD , SMP, SMA, saya sekolah di sekolah Khatolik dan Kristen. Jadi saya sangat familiar dengan nama Yesus, Alkitab, Natal , Paskah, dan hal-hal berbau Kristen Khatolik.

Latar belakang keluarga saya adalah penganut aliran Buddhis, atau Kong Hu Chu, pokoknya tradisi cina. Buat keluarga saya, nama Yesus itu nggak ada arti apa-apanya. Bahkan cenderung mengganggu.

Satu-satunya alasan ortu saya sekolahin saya di situ adalah karena mutu sekolah Kristen Khatolik lebih bagus (katanya). Well, ini relatif. Yang pasti sih uang sekolah lebih mahal.

Waktu SMP, saya ingat teman akrab saya mulai mengajak saya sekolah minggu di sebuah gereja di ketapang. Saya tidak menolak karena: (more…)

Murtad Mama is a former Muslim from Malaysia, and is now agnostic. Check out her testimonial of why she left Islam.

She also has her own website.

Articles by her:

Malaysian Identity Cards (explains how Malaysia is following the example of the Taliban, by displaying the religion of the individual on their identity cards)

Famous Ex-Muslims:Name Country of Origin Gender Current Belief Website
Ibn Warraq Pakistan M Agnostic SecularIslam. org
Taslima Nasrin Bangladesh F Atheist TaslimaNasrin. com
Ali Sina Iran M Atheist FaithFreedom. org
Parvin Darabi Iran F Atheist Homa.org
Nonie Darwish (Middle East) F Christian NonieDarwish. com
Anwar Shaikh Pakistan M Liberal Humanist

Other ex-Muslims:Name/nick Country of Origin Gender,
Age/Age group Left Islam on/in *: Current Belief Email(click @)/
Web site (WWW) (more…)

Before you read my story below, I would like you to know that a lot of details are omitted to prevent people finding out who I am, etc. Some individuals and organizations may use my detailed info to hurt me in some way – just because I do not think Islam is right for me.

My parents made Malaysia their permanent home and that is where I was born and raised. By the laws in Malaysia, whoever is Malay or has a Malay ethnic background, they have to be Moslem. Since, my dad is Malay, our whole family in Malaysia was registered as Moslem and had no other choice but to be Moslem.

In regular school (from grade 1 to university), we had to learn Islam over and over. From age 8-11, I was also sent to religious school (every day except weekends) in addition to regular school, which I hated! I hate to wear the veil because it is hot and humid all year long in Malaysia. I recall making fun of the teacher in religious school at the age of 11 because she kept on talking about nonsense (which she seemed to believe in). At least I just went to religious school from age 8-11 (other kids go from age 7-12). I probably started late because my parents wanted to see if I could handle regular school alone. And I quit at age 11 because I wanted to do sports and the religious school’s headmaster didn’t want to let me take leave for sports practice. So, my parents said, “Hey! quit then”, which is good. My siblings had to go up to age 12. But they were in a religious school that was only 3 times a week and only 2 hours a day instead of 4-5 hours. (more…)

« Previous PageNext Page »