Dari sini hendak kemana?

Oleh: Gregory M. Davis

Mereka yang telah melihat Islam dari dalam tahu lebih baik warna sebenarnya dari Islam dibandingkan mereka yang hanya melihatnya dari luar. Ini semua adalah kesaksian-kesaksian mereka – lebih lengkap dibandingkan pendapat para politikus atau para pengamat Barat. Kita harus memperhatikan apa yang mereka katakan jika kita ingin selamat dari ancaman Islam yang ditujukan kepada seluruh dunia. Berita-berita yang menggunung yang melaporkan tindak kekerasan, kekacauan, dan terorisme dari seluruh penjuru dunia sudah membuat banyak orang terhenyak, tetapi sayangnya hanya sedikit orang yang memiliki kesabaran atau pikiran yang jernih bagaimana bisa memfokuskan diri untuk menyelesaikan masalah ini. Tidak lagi diragukan bahwa semua kekerasan-kekerasan yang kita saksikan di dunia saat ini, dari Nigeria hingga Thailand, dari Bosnia hingga Bali, dari Chechnya hingga Filipina, dari Sudan hingga Indonesia, dari Israel hingga Kashmir, di Paris, London, Madrid, Moskow, Washington dan New York, kesemuanya itu berakar dalam iman kepada Muhammad. (more…)

“Bagaimana jika – walaupun kita sangat mengharapkan dan menginginkan – namun Islam tetaplah bukan sebuah agama yang pada dasarnya baik, damai dan toleran? Bagaimana jika Islam pada dasarnya sangat mirip dengan Naziisme atau sistem-sistem keyakinan yang menyimpang atau yang jahat, dan yang pada hakekatnya ingin menguasai dunia?”

Sebagai kesimpulan terhadap kumpulan kesaksian-kesaksian dari buku ini, maka sebuah elemen yang sangat meyakinkan dapat ditarik. Walaupun para apologis Muslim membuat klaim-klaim yang tak habis-habisnya, dimana mereka mengatakan bahwa Islam sangat menghargai kebebasan personal dan toleransi terhadap non-Muslim, tetapi hal itu adalah sebuah perkecualian dan bukan norma. Sebagaimana yang kita ketahui saat ini, goal dari Islam radikal adalah untuk membawa dominasi global Islam secara komplet.

Jika para Islamist tidak dihentikan, maka apa yang telah anda dengar di sini – cerita-cerita mengenai penindasan-penindasan, intoleransi, dan diskrimasi ekstrem yang sudah ditinggalkan oleh masyarakat Barat berabad-abad yang lalu – akan tetap diceritakan, bukan dari bagian dunia yang ada di seberang sana, tetapi dari para tetangga kita sendiri. Jika para Islamist tidak dihentikan, maka cerita dari mereka yang anda baca di sini akan menjadi kehidupan harian dari generasi-generasi masa depan di Barat, maupun di negara-negara non-Muslim. Jika anda berpikir bahwa hal ini adalah sebuah ide atau pikiran yang gila maka pertimbangkanlah hal berikut ini: Apakah kita memilih atau menolak untuk mengabaikan fakta-fakta, dunia Islam dan Barat sedang terlibat dalam sebuah perang suci. Dan kelihatannya dunia Barat tidak sedang memenangkan pertempuran itu. Adalah sebuah kebenaran, bahwa ada orang-orang yang dipersiapkan untuk mati dan membunuh kita hanya karena kita tidak mau memeluk Islam sebagaimana halnya mereka. Sebagai tambahan, mereka juga dipersiapkan untuk membunuh muslim-muslim lainnya, seperti halnya Benazir Bhutto, yang juga tidak memeluk Islam radikal. (more…)

“Islam hari ini adalah agama pembenci terbesar di dunia. Kata “Islam” dan “fundamentalisme” diasosiasikan dengan terorisme, genosida, pembunuhan, pengeboman, kebencian-semua hal yang berlawanan dengan kemanusiaan. Islam menyebabkan bertambahnya kesakitan, kecemasan, panik dan perasaan tidak aman diantara para Islamis.”

Abul Kasem adalah seorang yang nyata. Ia tinggal dan menghirup udara Australia. Ia menulis kesaksiannya dari sebuah kota besar Sidney dimana ia telah bersumpah untuk tidak terkurung dengan ketakutan supaya dapat menyampaikan kebenaran mengenai efek dari Islam terhadap para tetangganya yang ada di Bangladesh, sebuah negara yang pernah ia sebut rumah dan yang masih ia cintai hingga hari ini. (more…)

“Setelah saya berubah [menjadi Islam] … Saya belajar bahwa saya dapat dipukuli oleh suami saya, apabila dia tidak puas dengan saya. Tetapi dalam pemikiran saya yang kacau saya mencoba untuk mencari pembenaran atas firman tersebut. Lebih dari itu, saya yakin bahwa suami saya tidak mampu memukuli seorang wanita”

Selagi para agen intelijen menjadi lebih pandai dalam melacak teroris, sangat penting untuk menegaskan dalam pemikiran kita bahwa organisasi-organisasi teror akan memiliki lebih banyak akal untuk memperoleh para mualaf baru. Sungguh, dalam tahun-tahun mendatang, para mualaf pada keturunan fundamentalis Islam tidak dapat menyesuaikan profil tradisional dari sebuah teroris Islam dan akan mampu untuk masuk tanpa terdeteksi oleh para agen pemerintah. Lagi pula, dengan peningkatan tingkat kelahiran Islam akan menjadi lebih banyak perubahan menjadi Islam. Secara ringan atas hal ini sangat penting untuk mengetahui perubahan berarti apa bagi Jutta dalam negeri asalnya, Jerman. (more…)

“[setelah meninggalkan Islam], saya mulai kuliah.. saya memilih apa yang ingin saya kenakan, saya memilih bagaimana saya hidup. Saya membawa anak-anak saya menjauh dari pengaruh yang merusak dari Islam. Saya berharap banyak orang Muslim dapat meninggalkan Islam tahun ini dan tahun-tahun berikutnya sampai tidak seorangpun tersisah.”

Sementara serangan teror telah menggoncangkan dunia, beberapa orang yang murtad telah mengalami bentuk terorisme dan penyiksaan terhadap mereka dalam rumah mereka sendiri. Dalam cerita Shara kita belajar bagaimana penyiksaan dan tirani terjadi di tengah-tengah keluarga Islam ditolerir dan bagaimana hal seperti itu bahkan bisa terjadi dalam sebuah keluarga di Inggris. Sungguh, pada beberapa tahun terakhir ini kita menyaksikan istilah dan efek dari “pembunuhan demi menjaga kehormatan” di banyak kota di Barat. Kesaksian Shara memberikan bukti lebih banyak lagi bahwa wanita secara berkala menderita di bawah Islam – bahkan ketika mereka hidup di negara Barat.

Kesaksian Shara (more…)

“Presiden Bush dan yang lain melakukan kesalahan fatal ketika mereka berkata bahwa Islam adalah iman yang agung dan penuh kedamaian, namun ada sekelompok ekstremis membajaknya. Pada kenyataannya, Islam adalah iman yang keji dan penuh dengan kekerasan yang menyebabkan munculnya para ekstremis”

Banyak orang berpendapat bahwa kekerasan keji yang ada dalam Islam diilhami melalui interpretasi harafiah terhadap Qur’an. Meskipun, sejumlah mantan Muslim berpendapat bahwa kekerasan keji tersebut merupakan fakta dari pengungkapan Islam yang benar, adalah hal yang menarik untuk dicatat di sini bahwa kesaksian itu tidak muncul dari Timur Tengah atau dari negara Islam, tetapi dari negara Amerika Serikat, suatu tempat dimana mereka bebas mempertanyakan ungkapan bahwa Islam adalah sebuah agama damai. (more…)

“Ketika berumur sekitar sepuluh tahun, ayah saya mulai mengajak saya mengikuti upacara perayaan tahunan abad ke tujuh belas dibawah kepemimpinan Imam Ali bin Hessein. Pada awalnya, saya diijinkan memukuli dada saya secara perlahan selama acara itu berlangsung. Tetapi ketika saya berumur dua belas tahun, saya diperbolehkan mencambuki badan saya dengan rantai”

Mungkin judul artikel pasal ini terdengar gila, seperti halnya tingkat pengajaran dalam Islam yang dipercayai oleh Esfahani. Dari waktu ke waktu kita mendengar tentang pengajaran Islam yang menebarkan benih kebencian dan ketakutan terhadap pemikiran yang berbeda, termasuk terhadap kebebasan. Sekarang, Esfahani telah murtad namun ia masih menghadapi masalah bagaimana ia harus membesarkan anak-anaknya tanpa sebuah keyakinan. Sungguh, bagi seseorang yang meninggalkan Islam, tidak jadi masalah jika ia tidak lagi menghadiri shalat Jumat, tetapi yang sulit adalah bagaimana mengubah secara keseluruhan cara hidup mereka. Sebagai akibatnya, mereka yang meninggalkan Islam seringkali dikucilkan, ditolak, dan diganggu. Kepada siapa mereka dapat berpaling untuk mendapatkan dukungan; bukan hanya bagi diri mereka sendiri tetapi juga bagi keluarga mereka? Bukankah ini kenyataan yang menyedihkan yang membuat semua kisah-kisah ini semakin memprihatinkan. (more…)

“Saya tidak setuju bahwa saya pasti aman dalam menjalankan kepercayaan (atau “ketidakpercayaan”) saya dalam alam demokrasi Barat. Sayangnya, hal tersebut lebih terlihat seperti suatu dhimmikrasi bagi saya setiap harinya.”

Sementara banyak orang percaya bahwa kekerasan dalam Islam tidak mewakili keseluruhan agama itu, Muslim lain menantang pihak Barat untuk membaca buku suci Islam dan melihat sendiri mengapa dan bagaimana para fundamentalis menginterpretasikan Quran dengan benar. Lebih jauh lagi, banyak orang yang telah meninggalkan Islam percaya bahwa satu-satunya jalan ke depan bagi dunia adalah untuk bersatu dan mulai menghargai dengan sungguh kebebasan yang kita nikmati, dan melakukan apa saja yang bisa dilakukan untuk menangani masalah itu. (more…)

“Motif dari para Islamis adalah Islam – bukan terorisme, bukan Irak, bukan Afghanistan. Terorisme hanyalah sebuah alat yang dipakai, tetapi motivatornya adalah Al Quran, dan goal akhirnya adalah Islam. Tidak akan ada pesan yang lebih jelas daripada ini. Peradaban dunia tengah berada dalam peperangan – sebuah perang dengan Islam.

Setiap hari dalam keputusasaan orang-orang terpelajar dan para politisi menawarkan rangkuman yang tak habis-habisnya mengenai apa yang sedang terjadi dalam dunia Islam. Mengikuti berita pembunuhan Benazir Bhutto di Pakistan, debat mengenai al-Qaeda terjadi sekali lagi. Tetapi tampaknya hanya sedikit yang memiliki solusi bagaimana menghentikan Islam radikal. Sebenarnya, kebanyakan agen-agen keamanan internasional berpendapat bahwa masalahnya bukan apakah serangan teror besar lainnya akan terjadi atau tidak, melainkan kapan itu akan terjadi. Abul Kasem percaya bahwa ia memiliki sebuah solusi. (more…)

“Ayahku menyerahkanku ke pihak berwajib, lalu mereka menangkapku dan memasukkanku ke penjara karena aku meninggalkan Islam. Aku mengalami waktu-waktu yang sangat buruk di sana, karena mereka menganiayaku dengan bengis supaya aku kembali lagi ke Islam.”

Bagi para pengikut fundamentalis Islam, menerima perintah untuk membunuh dalam nama Allah adalah sebuah tantangan yang besar. Bassam memilih untuk menolak tantangan itu bahkan bangkit menentangnya. Hal yang menyedihkan, ia tidak hanya dianggap telah menentang metode yang diterapkan oleh pemerintah, tetapi juga telah dianggap menentang ayah kandungnya sendiri, yang kemudian menyerahkannya ke pihak berwajib. Kejahatannya adalah: Ia tidak lagi memiliki keinginan untuk mengikuti Islam.

Bassam menunjukkan kepada kita arti sebenarnya dari keberanian. Ia mendesak setiap kita untuk melakukan seperti yang ia lakukan ketika ia berdiri menentang para ekstremis Muslim – termasuk keluarga kandungnya sendiri. Ia juga memperingatkan kita: Perhatikan apa yang dilakukan oleh Islam kepadaku … Ia bisa melakukan hal yang sama kepadamu. (more…)

« Previous PageNext Page »