Pernikahan masal antara pemuda-pemuda hamas dengan 450 ANAK GADIS BERUMUR 6-9 TAHUN (Inilah cara Muslim mengikuti sunnah nabi???)

Muhammad,

Nabi Pujaan Kaum Pedophile

Kalangan umat muslim sendiri terpecah dua dalam hal perkawinan Muhammad (54 thnn) dengan Aisha (6 thnn).

Satu kalangan dengan gagah mengatakan bahwa memang benar Muhammad mengawini Aisha pada umur 6 thn menidurinya pada umur 9 thn karena memang tercatat demikian dalam beberapa hadist Sahih (Bukhari dan Muslim) dan berupaya membela habis-habisan alasan Muhammad meniduri Aisha pada usia 9 thn dengan mengesampingkan seluruh nilai moral dan hati nurani yang ada, misalnya umur 9 thn sudah matang secara fisik atau sudah menstruasi yang artinya sudah siap utk ditiduri tanpa memperhatikan sisi psikologisnya sama sekali.

Kalangan lain, mungkin karena lebih memperhatikan nilai-nilai moral dan hati nurani, berupaya mati-matian menyanggah bahwa Muhammad menikahi Aisha pada usia 6 thn dengan mengajukan hipotesa-hipotesa bahwa Aisha waktu itu sudah berumur paling tidak 16 thn, dan dengan sendirinya menyanggah kesahihan hadist mereka sendiri yang sudah dinyatakan sahih (valid).

Kedua pendapat tersebut di atas sama-sama merupakan upaya untuk membersihkan “cacat” yang ada, tetapi upaya kedua kalangan tsb tidak menolong.

Jika memang benar Muhammad meniduri anak 9 thn yang masih bermain dengan bonekanya, maka nilai moral yang disunnahkan oleh Muhammad sangat “menjijikan” dan tidak bisa diterima oleh siapa saja yang masih bermoral dan berhati nurani. Seorang Nabi selayaknya memberikan standard nila moral yang tinggi dan bukan terbawa arus pada saat itu, dan juga menetapkan standar moral & etika yg dapat berlaku universal untuk segala jaman dan peradaban manusia.

Jika ternyata Muhammad mengawini Aisha bukan pada umur 6 thnn spt yang tercatat dalam berbagai hadist sahih, maka bagaimana kesahihan hadist-hadist tsb dapat dipertanggung-jawabkan. Dengan sendirinya Al Quran juga layak dipertanyakan kesahihan, keaslian, dan keabsahannya.

Tetapi untuk topik ini, kita akan mempertanyakan nilai-nilai moral apa yang hendak diajarkan oleh “Nabi Besar” itu kepada umat muslim dengan:

  1. Mencontohkan mengawini anak ingusan berusia 6 thn dan menidurinya pada usia 9 thnn.
    Sahih Bukhari. Vol 7, Book 62. Wedlock, Marriage (Nikaah). Hadithn 065.
    Narrated By ‘Aisha:
    Thnat thne Prophet married her when she was six years old and he consummated his marriage when she was nine years old. Hisham said: I have been informed thnat ‘Aisha remained withn thne Prophet for nine years (i.e. till his deathn).”

{Note: Apakah “consummated thne marriage” berarti melakukan hubungan intim (sexual intercourse)? Jawabnya YES!}

Sahih Muslim. Book 8. Marriage. Hadithn 3310.
‘Aisha (Allah be pleased withn her) reported: Allah’s Apostle (may peace be upon him) married me when I was six years old, and I was admitted to his house when I was nine years old.

  1. Menyatakan bahwa “legitnya” Aisha yang berumur 9 thn secara fisik, seperti thnarid (hidangan roti dan daging), yg tidak ada bandingannya.

    Sahih Bukhari. Volume 4, Book 55, Number 623:
    Narrated Abu Musa:
    Allah’s Apostle said, “Many amongst men reached (thne level of) perfection but none amongst thne women reached thnis level except Asia, Pharaoh’s wife, and Mary, thne daughter of ‘Imran. And no doubt, thne superiority of ‘Aisha to othner women is like thne superiority of Thnarid (i.e. a meat and bread dish) to othner meals.”

  1. Menganjurkan untuk mengawini anak-anak gadis perawan yang masih ingusan sehingga bisa meraba-raba mereka dan bermain-main dengan mereka.

    Sahih Bukhari. Vol 7, Book 62. Wedlock, Marriage (Nikaah). Hadithn 017.
    Narrated By Jabir bin ‘Abdullah :
    When I got married, Allah’s Apostle said to me, “What type of lady have you married?” I replied, “I have married a matron’ He said, “Why, don’t you have a liking for thne virgins and for fondling thnem?” Jabir also said: Allah’s Apostle said, “Why didn’t you marry a young girl so thnat you might play withn her and she withn you?’

Kebanyakan Muslims scholar mencari dalih mengenai umur Aisha, karena jaman sekarang menyetubuhi bocah umur 9 adalah kriminal berat apalagi ini dilakukan oleh kakek peot yang nota bene adalah (suppose) seorang “nabi” gitu-loh yang seharusnya tahu morality. Argumentasi dari Muslim bahwa pada usia 9 thnn Aisha sudah haid juga tidak tepat karena menurut hadist-hadist yang sahih pada usia tsb Aisha masih belum haid. Jika kita telusuri diskusi tentang ini biasanya Muslim yg tanggung akan berdalih bahwa pada Usia 9 thn Aisah sudah besar dan sudah menstruasi (alias sudah matang untuk digauli secara seksual tanpa peduli pribadi yg masih kekanak-kanakan yg dibuktikan pula dalam Hadist bahwa Aishah masih senang bermain boneka. Jadi jelas Aim-nya hanyalah pada Sexual Intercourse yg dirasionalkan halal. Dan bagi mereka yg tidak mengerti Bahasa Inggris dan hanya bisa Bahasa Indonesia dan ARAB bisa membuka resources tentang ISLAM disini.

Some modernist Islamic apologists try to cast doubt on thne age of Aisha when she married and had sex withn Muhammad despite thne many sahih hadithns in which Aisha explicitly and directly states thnat she was nine years old at thne time. Thney are clearly embarrassed thnat thneir pedophile Prophet married and had sex withn a nine-year-old CHILD, and thney sometimes seek to explain thnat Aisha was in fact not nine-years-old as thne SAHIH HADITHNS of Aisha’s own testimony claim, but some othner ages derived from indirect sources, fuzzy dating techniques, and downright slander.

Dari sumber hadist yang sahih, kita bisa melihat bahwa pada usia 9 thn saat digauli, Aisha masih belum akil baliq. Bahkan dari hadist-hadist tsb menyatakan pada usia sekitar 14-15 saat perang Khaybar, Aisha masih belum haid karena masih bermain dengan boneka. Dalam aturan hukum Islam yang ketat pada jaman Nabi, bermain boneka hanya diperbolehkan bagi anak-anak kecil yang belum akil baliq. Kesimpulannya, Aisha belum akil baliq pada usia 9 thn saat di-embat oleh si Mamad, bahkan pada usia 14-15 pun saat perang Khaybar dia belum haid.

Sunan Abu Dawud, Vol. 2, #2116:
“Aisha said, “Thne Apostle of Allah married me when I was seven years old.” (Thne narrator Sulaiman said: “Or six years.”). “He had intercourse withn me when I was 9 years old.”

Sahih Bukhari Volume 8, Book 73, Number 151
Narrated ‘Aisha: I used to play withn thne dolls in thne presence of thne Prophet, and my girl friends also used to play withn me. When Allah’s Apostle used to enter (my dwelling place) thney used to hide thnemselves, but thne Prophet would call thnem to join and play withn me. (Thne playing withn thne dolls and similar images is forbidden, but it was allowed for ‘Aisha at thnat time, as she was a little girl, not yet reached thne age of puberty.) (Fateh-al-Bari page 143, Vol.13)


Sunan Abu Dawud. Book 36. General Behavior. Hadithn 4914.
Narrated By ‘Aisha, Ummul Mu’minin : When thne Apostle of Allah (pbuh) arrived after thne expedition to Tabuk or Khaybar (thne narrator is doubtful), thne draught raised an end of a curtain which was hung in front of her store-room, revealing some dolls which belonged to her.

He asked: What is thnis? She replied: My dolls. Among thnem he saw a horse withn wings made of rags, and asked: What is thnis I see among thnem? She replied: A horse. He asked: What is thnis thnat it has on it? She replied: Two wings. He asked: A horse withn two wings? She replied: Have you not heard thnat Solomon had horses withn wings? She said: Thnereupon thne Apostle of Allah (pbuh) laughed so heartily thnat I could see his molar teethn.

Alasan bahwa Muhammad mengawini Aisha adalah untuk memperkuat tali persaudaraan dengan “suadara angkatnya” Abu Bakr juga tidak valid karena Abu Bakar jelas keberatan karena mereka adalah saudara angkat. Tetapi Muhammad tetap memaksa dan mengatakan tidak menjadi masalah padahal dia pernah menolak tawaran dari Hamza, saudara angkatnya juga, untuk menikasih puterinya:
Menurut hadist berikut Abu Bakr keberatan saat Muhammad melamar Aisah.

Sahih Bukhari. Volume 7. Book 62. No. 18
Narrated ‘Ursa: Thne Prophet asked Abu Bakr for ‘Aisha’s hand in marriage. Abu Bakr said “But I am your brothner.” Thne Prophet said, “You are my brothner in Allah’s religion and His Book, but she (Aisha) is lawful for me to marry.”

Abu Bakr sebenarnya tidak salah karena dalam tradisi bangsa Arab persaudaran walaupun saudara angkat sama artinya dengan saudara kandung. Demikian juga dengan anak angkat. Adalah tabu mengawini anak saudara angkat atau isteri anak angkat menurut moral bangsa Arab pada waktu itu.

Muhammad sendiri pun menolak saat di tawarin untuk menikah dengan anak Hamza (yang juga adalah saudara angkat spt halnya Abu Bakr) dengan alasan bahwa anak Hamza adalah keponakan angkatnya (seperti halnya Aisha juga adalah keponakannya):

Sahih Bukhari. Volume 7, Book 62, Number 37:
Narrated Ibn ‘Abbas: It was said to thne Prophet, “Won’t you marry thne daughter of Hamza?” He said, “She is my foster niece (brothner’s daughter). “

* Untuk bahan Review; Ada artikel bagus dr Jennifer King:

Pedophilia and Beastiality In Islam (by Jennifer King)
Untuk lengkapnya, kamu bisa kunjungi
situs ini



AISYAH UMUR 7 TAHUN

(DARI BUKU ISLAM INDONESIA)


Judul: Mengapa Nabi SAW berpoligami
Diterjemahkan dari JUDUL asli: Women In Thne Eyes And Heart Of Muhamad — Karya : Dr.Ali Syariati — Terbitan school Publication,Teheran.
Penerbit di Indonesia: PENERBIT MISBAH
Email : Pantera@cbn.net.id

Buku ini TANPA MALU-MALU mengakui AISYAH itu UMURNYA 7 TAHUN waktu di nikahi oleh MUHAMAD.

Dari mana Penulis itu mendapatkan umur 7 tahun? Tentu dari hadits seperti berikut ini :

Sahih Muslim Book 008, Number 3311
‘A’isha (Allah berkenan padanya) mengatakan bahwa Rasulullah (saw) menikahi dia ketika dia berusia tujuh tahun, dan dia dibawa ke rumah Nabi sebagai pengantin ketika berusia sembilan tahun, dan boneka2nya ikut bersamanya; dan dia (sang Nabi) mati ketika ‘A’isha berusia delapan belas tahun.

Sunan Abu-Dawud Book 41, Number 4915, also Number 4916 and Number 4917
Dinyatakan Aisha, Ummul Mu’minin:
Sang Rasul Allah menikahiku ketika aku berusia tujuh atau enam tahun. Ketika kami tiba di Medina, beberapa perempuan datang, menurut versi Bishr:Umm Ruman datang padaku ketika saya sedang bermain ayunan. Mereka memandangku, mempersiapkanku, dan mendandaniku. Kemudian aku dibawa ke Rasul Allah, dan ia hidup bersamaku sebagai suami istri ketika aku berusia sembilan tahun. Ia (Umm Ruman) menghentikanku di pintu, dan aku meledak tertawa.

[Anda mau setuju atau tidak setuju, itu bukan urusan saya.Yang JELAS hadits-hadist yang kami kutip tentang UMUR aisyah 6 dan 7 tahun itu BENAR adanya, BUKAN HADITS PALSU atau hadits yang DITAMBAH-TAMBAHAIN, terbukti dengan adanya pihak MUSLIM yang menyebut umur aisyah 7 tahun waktu dinikahi Muhammad, dan penulis juga mempercayai umur 7 tahun pada waktu dulu belumlah dewasa, tetapi masih kanak-kanak, ini sekaligus juga untuk membantah muslimers yang berargumen ‘jaman dulu itu walau umur 7 tahun,tapi sdh dewasa loh ‘. Seperti biasa, Kalau keberatan, proteslah ke email penerbit tsb]

Baik, langsung saja saya kutipkan cerita dari buku tsb dari Halaman 78

Di sisi lain, Aisyah, anak perempuan Abu Bakar, adalah gadis pertama yang lahir dalam keadaan Islam. Kualitas inilah yang membuatnya mempunyai keistimewaan tersendiri dibandingkan selainnya, dan telah memotivasi para sahabat dan teman-teman seperjuangan Rasulullah untuk menjadikannya sebagai istri Rasulullah. Hanya kelembutan hati nurani (dan bukan akal ataupun logika) yang mampu memahami keluruhan usulan itu. Manakala bunga pertama mekar di taman, manakala buah pertama matang di kebun, maka semua itu merupakan hasil usaha keras si tukang kebun. Hati manusia akan menyadari bahwa bunga atau buah pertama itu murni milik si tukang kebun dan kekayaan yang hanya layak dimiliknya.

Abu Bakar adalah figur manusia yang penuh kelembutan, kesetiaan dan kecintaan yang meluap kepada Rasulullah. Dia sangat mengharapkan Rasulullah untuk mengawini anak perempuannya itu. Tetapi, waktu itu Aisyah baru berusia 7 tahun, sedangkan Muhammad saw telah berusia di atas 50 tahun. Di rumah beliau ada Fatimah yang masih membutuhkan kasih sayangnya. Di luar rumahnya musuh-musuh berkeliaran, seperti Abu Jahal, sementara kehidupan beliau masih terkungkung dengan kepahitan, kekerasan dan penderitaan. Yang paling beliau butuhkan pada situasi semacam itu adalah pasangan jiwa (soulmate) untuk berbagi suka dan duka. Dan beliau merasa bahwa putri Abu Bakar yang baru berusia 7 tahun itu kurang cocok untuk situasi yang demikian.

Akan tetapi, dengan berbagai pertimbangan, Muhammad saw pada akhirnya meminangnya (dan baru dua tahun kemudian mereka hidup bersama). Maka, anak perempuan pertama yang lahir dalam keadaan memeluk Islam dan merupakan barisan pertama generasi Islam itu menjadi istri Rasulullah. Dengan perkawinan tersebut, Muhammad dan Abu Bakar telah menjalin ikatan kekerabatan. Sosiologi Baduwi dan kesukuan mengakui bahwa ikatan kekerabatan pada zaman dan situasi waktu itu merupakan bentuk ikatan yang paling kuat untuk menyatukan dua manusia.

Aisyah merupakan satu-satunya istri Rasulullah yang masih gadis (perawan. -adm) ketika dinikahi, dan satu-satunya yang kecantikan dan kefemininannya menarik hati Nabi Muhammad. note : Kecantikan opo? wong masih ingusan..kekekeke

Meski demikian, kecantikannya itu bukan merupakan alasan utama kebersamaan mereka, karena bagaimana mungkin kecantikan seorang gadis kecil berusia 7 tahun mampu membangkitkan perasaan seseorang yang telah berusia 50 tahun.

Perkawinan mereka lebih merupakan perpaduan simbolis yang dikaitkan dengan kelayakan yang bisa diterima akal. Tidak tepat menganggap hasrat dan cinta sebagai alasan perkawinan itu. Baru dua tahun kemudian ketika berada di Madinah mereka memulai hidup bersama.

Kita mesti menyadari bahwa cinta Muhammad saw terhadap Aisyah tepat seperti apa yang diungkapkan oleh penulis kontemporer Mesir, Muhammad Husayn Haykal: “…Berkembang setelah perkawinannya dan bukan sebelumnya. Sulit dipercaya Muhamad jatuh cinta pada gadis kecil berusia 7 tahun. Jadi tak bisa dinyatakan bahwa perkawinan itu hanya karena cinta semata.”

Dengan kata lain, perkawinannya dengan perempuan yang paling muda dan paling cantik di antara istri-istri Muhammad adalah demi kepentingan sosial dan politis semata …

Lanjut…ya
baru dapet lagi neh…

Majalah Salafy Edisi XV/Dzulqa’idah/1417/1997

Disini diceritakan Aisyah adalah ‘gadis’ UMUR 6 TAHUN.

Istri-istri Rasulullah : Aisyah binti Abu Bakar
Kamis, 10 Maret 2005 – 02:49:24 :: kategori Keperempuanan
Penulis: Majalah Salafy Edisi XV/Dzulqa’idah/1417/1997
.: :.

Hari-hari indah bersama kekasih Allah dilalui dengan singkatnya ketabahan menghiasi kesendiriannya guru besar bagi kaumnya pendidikan kekasih Allah telah menempanya.

Dia adalah putri Abu Bakar Ash-Shiddiq , yang Rasulullah saw lebih suka memanggilnya “Humaira”. ‘Aisyah binti Abu Bakar Abdullah bin Abi Khafafah berasal dari keturunan mulia suku Quraisy.

Ketika umur 6 tahun, gadis cerdas ini dipersunting oleh manusia termulia Rasulullah saw berdasarkan perintah Allah melalui wahyu dalam mimpi beliau.

Note: 6 tahun dibilang gadis? Xixixi..xintink

Rasulullah saw mengisahkan mimpi beliau kepada ‘Aisyah: ”Aku melihatmu dalam mimpiku selama tiga malam, ketika itu datang bersamamu malaikat yang berkata: ini adalah istrimu. Lalu aku singkap tirai yang menyembunyikan wajahmu , lalu aku berkata sesungguhnya hal itu telah ditetapkan di sisi Allah.” (Muttafaqun ‘alaihi dari ‘Aisyah radilayallahu ‘anha)

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha memulai hari-harinya bersama Rasulullah sejak berumur 9 tahun. Mereka mengarungi bahtera kehidupan rumah tangga yang diliputi suasana Nubuwwah. Rumah kecil yang disamping masjid itu memancarkan kedamaian dan kebahagiaan walaupun tanpa permadani indah dan gemerlap lampu yang hanyalah tikar kulit bersih sabut dan lentera kecil berminyak samin (minyak hewan).

Di rumah kecil itu terpancar pada diri Ummul Mukminin teladan yang baik bagi istri dan ibu karena ketataatannya pada Allah, rasul dan suaminya. Kepandaian dan kecerdasannya dalam mendampingi suaminya, menjadikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat mencintainya. Aisyah menghibur Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat mencintainya. Aisyah menghibur Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika sedih, menjaga kehormatan diri dan harta suami tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berda’wah di jalan Allah.

Wallahu’alam bishowwab.

Muslimers … adakah diantara kalian yang mempunyai akhlak sebijaksana Abu bakar?? Ane mau cari ‘gadis’ 6 tahun neh…

jadi inget kata-kata ginian :
‘ISLAM adalah agama yang sempurna’
sempurna opo nye….umur asiyah aja gak kelar-kelar,masih berselisih.


Lanjut lagi ya.
Dari sirah nabi tertua,biasanya disebut juga sirah nabi IBNU ISHAQ

SIRAH NABAWIYAH IBNU HISYAM JILID 2
Penulis: Abu Muhammad Abdul Malik bin Hisyam Al-Muafiri,
Penerjemah: Fadhli Bahri, Lc.;
Cetakan V, Darul Falah Jakarta, 2006
704 him; 15,5×24 cm.
Judul Asli: As-Sirah An-Nabawiyah li Ibni Hisyam
Penerbit: Darul Fikr, Beirut 1415 H/l994 M
ISBN 979-3036-17-6


632 —Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam-Il

Aisyah binti Abu Bakar Radhiyallahu Anhuma

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa SaJ/am menikahi Aisyah binti Abu Bakar Ash-Shiddiq di Makkah ketika Aisyah berumur tujuh tahun dan menggaulinya di Madinah ketika ia berusia sembilan atau sepuluh tahun. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sal/am tidak menikahi perempuan gadis selain Aisyah binti Abu Bakar. Beliau dinikahkan dengan Aisyah oleh Abu Bakar dengan mahar empat ratus dirham.

Saudah Binti Zam’ah Radhiyallahu Anha
Shallallahu Alaihi wa Sal/am menikah dengan Saudah binti Qais bin Abdu Syams bin Abdu Wudd bin Nashr bin Malik bin Hisl bin Amir bin Luai dan orang yang menikahkan beliau dengannya ialah Salithn bin Amr dengan mahar empat ratus dirham. Ada yang mengatakan bahwa orang yang menikah­kan beliau dengannya ialah Abu Hathnib bin Amr bin Abdu Syams bin Abdu Wudd bin Nashr bin Malik bin Hisl.”
Ibnu Hisyam berkata, “Ibnu Ishaq kontradiksi dalam hadits ini, padahal ia pemah menyebutkan bahwa Salithn bin Amr dan Abu Hathnib bin Amr berada di daerah Habasyah ketika pernikahan tersebut terjadi.”
Ibnu Ishaq berkata, “Sebelum diperistri Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Salam, Saudah binti Zam’ah diperistri As-Sakran bin Amr bin Abdu Syams bin Abdu Wudd bin Nashr bin Malik bin Hisl.

Zainab Binti Jahsy Radhiyallahu Anha
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menikah dengan Zainab binti Jahys dan orang yang menikahkan beliau dengannya ialah saudara Zainab binti Jahsy, Abu Ahmad bin Jahsy, dengan mahar empat ratus dirham. Sebelum itu, Zainab binti Jahsy diperistri Zaid bin Haritsah, mantan budak Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Tentang Zainab binti Jahsy, Allah Tabaraka wa Ta’ala menurunkan ayat berikut,..dst.. [baca sendiri seterusnya tuh buku].

lanjut ya..

sumber :

Judul Asli:
‘Atsyah Qudwatun Nisaa’ul Mu’minin wa Habiibatu Rasuulu Rabbul ‘Aalamiin
Penulis: Khalld Abu Shaleh | Edisi Indonesia:

UMMUL MU’MININ ‘
Penerjemah: Wafi’ Zaanuddin Lc,
Editor; Team At-Tibyan
Desain Sampul: Team At-Tibyan Layoiil Team At-Tibyar;
Penerbil: At-Tibyan – Sola Jl. KyaJ Mojo 5B, Solo, 57117
telp./Fax (0271| 652540
email: pustaka@at-tibyan.com, http://www.at-tibyan.com

PERNIKAHAN DENGAN NABI

halaman : 13
Rasulullah menikahi Aisyah saat dia berusia 6 atau 7 tahun. Beliau mengumpuli , nya saat usianya 9 tahun. Dan Rsulullah wafat saat ‘Aisyah berusia I5 tahun. (HR. Riwayat Muslim).

“Aisyah berkata, ” Rasulullah menikahiku saat aku berumur 6 (enam) tahun dan mengumpuliku saat aku berusia 9 (sembilan) tahun.” Dia berkata, “Kami dan datang ke Madinah, dan kau sakit panas.1. selama satu bulan,kemudian rambutku telah tumbuh kembali hingga kedua telingaku..Ummu Ruman mendatangiku di saat aku berada di ayunan bersama teman-temanku. Dia berteriak memanggilku, aku pun datang, tak tahu apa yangt diinginkan dariku. Maka dia menghentikanku di depan pintu. maka aku berkata, ” hah hah, hingga nafaskn habis.” Kemudian dia memasukkanku ke dalam sebuah rumah yang ternyata, di dalamnya banyak kaum perempuan dari anshar. Mereka berkata, “Semoga senantiasa dalam kebaikan penuh barakah dan dikaruniai nasib yang baik.” Maka aku diserahkan kepada mereka, kemudian mereka memandikan kepalaku dan menghiasiku, tidak pernah aku dikejutkan atas kedatangan seseorang dengan tiba-tiba kecuali saat kedatangan Rasulullah diwaktu dhuha, kemudian mereka menyerahkanku kepada-nya.” (Mutafaqun ‘alaihi).

Quote:

[tambahan saya]
Hadits diatas tersebur KOMPATIBLE dgn hadits :
Sahih Bukhari Volume 7, Buku 62, Nomer 64
Dikisahkan oleh ‘Aisha:
Bahwa sang Nabi menikahinya ketika ia berusia enam tahun dan sang Nabi menyetubuhinya ketika dia berusia sembilan tahun, dan dia terus bersama sang Nabi selama sembilan tahun (sampai Nabi mati).

Sahih Muslim Buku 008, Nomer 3310:
‘A’isha (Allah berkenan padanya) melaporkan: Rasulullah (saw) menikahiku ketika aku berusia enam tahun, dan aku diterima di rumahnya pada waktu aku berusia sembilan tahun.

Sahih Bukhari Volume 7, Buku 62, Nomer 88
Dikisahkan oleh ‘Ursa:
Sang Nabi menulis (kontrak kawin) dengan ‘Aisha ketika dia berusia enam tahun dan menyetubuhinya ketiak dia berusia sembilan tahun dan dia tinggal bersama sang Nabi selama sembilan tahun (sampai Nabi mati).

Sahih Bukhari 5.234
Dikisahkan oleh Aisha:
Sang Nabi bertunangan denganku ketika aku masih seorang gadis kecil berusia enam (tahun). Kami pergi ke Medina dan tinggal di rumah Bani-al-Harithn bin Khazraj. Lalu aku sakit dan rambutku rontok. Tak lama kemudian rambutku tumbuh (lagi) dan ibuku, Um Ruman, datang padaku ketika aku bermain ayunan bersama beberapa dari kawan perempuanku. Ibu memanggilku, aku pergi menghadapnya, tidak tahu apa yang dia inginkan dariku. Ibu memegang tanganku dan membawaku berdiri di depan pintu rumah. Aku tak bisa bernafas, dan ketika aku bisa bernafas lagi, dia (Ibu) mengambil air dan membilas wajah dan kepalaku. Lalu dia membawaku masuk ke dalam rumah. Di dalam rumah kulihat perempuan2 Ansari yang berkata, “Salam sejahtera dan Berkat Allah dan semoga selamat.” Lalu dia (Ibu) menyerahkanku kepada mereka dan mereka mempersiapkanku (untuk perkawinan). Secara tak terduga, Rasul Allah datang padaku di pagi hari dan ibuku menyerahkanku kepadanya, dan pada saat itu aku adalah seorang gadis berusia sembilan tahun.

Sahih Bukhari Volume 7, Book 62, Number 90
Dinyatakan Aisha:
Ketika sang Nabi menikahiku, ibu datang padaku dan membawaku ke dalam rumah (sang Nabi) dan TIDAK ADA YANG LEBIH MENGAGETKANKU SELAIN KEDATANGAN SANG NABI ALLAH PADAKU DI PAGI HARI.


lanjutttt….

Beberapa Faedah Dari Hadits Di Atas. 4(Syarh AN-Nawawi’Ala Sahih Muslim 9/210.211)

- Diperbolehkan seorang bapak menikahkan anak perempuannya yang masih kccilr meskipun tanpa seizinnya, sebab dia tidak memiliki (kuasa) izin. Kaum muslimin ber-IJMA’ tentang diper-bolehkan seorang bapak menikahkan anak perempuannya yang masih kecil dan perawan, ber-dasarkan hadits ini.
Mayoritas riwayat menjelaskanbahwa usia ‘Aisyah adalah enam tahun,dan dalam sebuah riwayat lain disebutkan tujuh tahun.Dengan menggabungkan antara riwayat-riwayat yang ada kita bisa katakan bahwa usia beliau adalah enam tahun lebih(masuk ke tujuh),karena dalam sebuah riwayat dinyatakan jumlah tahunnya saja,sedangkan riwayat lain menyebutkan hitungan tahun yang sudah dimasukinya;

- Kata kata perawai (Sedangkan dia masih bersama mainannya): maksudnya adalah mainan anak-anak perempuan yang layaknya dimainkan oleh anak-anak perempuan yang masih kecil. Jadi,riwayat ini menunjukkan usianya yang masih kecil.

Quote:

{tambahan saya}
Saya bingung dgn komentar diatas tsb yang saya beri warna HIJAU, karena tidak ada haditsnya,tapi saya yakin hadits yang dimaksud pastilah ini:

Sahih Bukhari Volume 8, Book 73, Number 151
Dinyatakan oleh ‘Aisha:
Aku biasa bermain dengan boneka-boneka di depan sang Nabi, dan kawan-kawan perempuanku juga biasa bermain bersamaku. Kalau Rasul Allah biasanya masuk ke dalam (tempat tinggalku) mereka lalu bersembunyi, tapi sang Nabi lalu memanggil mereka untuk bergabung dan bermain bersamaku. (Bermain dengan boneka atau bentuk-bentuk yang serupa itu dilarang, tapi dalam kasus ini diizinkan sebab Aisha saat itu masih anak kecil, belum mencapai usia pubertas) (Fateh-al-Bari halaman 143, Vol.13)

hayooo… siapa muslim yang masih MEMBANTAH aisyah BUKAN anak kecil yang masih main boneka???
jadi ingat f4/montir kepala yang NGOTOT aisyah bukan anak kecil..dan berkata “orang dewasa pun masih main BONEKA”
tapi syukurlah sang PERAWI dan penulis buku tsb JUJUR dan berkata :

lanjutan utk MEMBUNGKAM muslim KERAS KEPALA yang menganggap aisyah sudah DEWAS walaupun masih main boneka, silahkan simak kata-kata JUJUR dari muslim ini;

Al-Qadhi menyatakan ,” ini menunjukkan diperbolehkannya mainan,dan diperbolehkann anak kecil memakaianya untuk bermain. Dalam hadits lain disebutkan bahwa NABI melihat hal tersebut,dan beliau tidak mengingkarinya. mereka mengatakan, sebabnya adalah sebagai latihan buat mereka untuk mendidik anak-anak (kelak) dan memberikan yang terbaik untuk kemaslahatan rumah tangga.


A. Pernikahan Rasulullah dengan Aisyah
Gambar Aisyah telah turun kepada Nabi sebelum beliau menikahinya. Aisyah menceritakan bahwa Rasul pernah bersabda,
“Aku diperlihatkan gambarmu dalam mimpi selama tiga malam. Seorang malaikat membawanya dalam sebuah tempat dari sutra. la kemudian berkata, ‘Ini adalah istrimu. ‘ Aku kemudian melihat wajahmu dan ternyata gambar yang diperlihatkan oleh malaikat itu adalah gambarmu. Aku kemudian berkata, ‘Jika ini memang dari Allah, maka Dia akan melaksanakan-nya.'” (HR Bukhari)

Dalam riwayat lain dari Aisyah disebutkan,
“Malaikat Jibril datang dengan gambarnya dalam selendang sutra berwarna hijau kepada Nabi saw. seraya berkata, ‘Ini adalah istrimu di dunia dan akhirat.'” (HR Tirmidzi)

Aisyah menceritakan berapa umurnya ketika menikah dengan Nabi, ia berkata, “Rasul menikahiku ketika aku berumur enam tahun dan aku masuk bersamanya ketika umur sembilan tahun, Aku pernah bermain ayunan kemudian Nabi mendatangi-ku untuk mengambil dan mempersiapkanku masuk rumahnya, dan gambarku diperlihatkan dalam sutra.” (HR Abu Dawud)

Rasulullah adalah figur suami yang paling utama. Beliau memperlakukan Aisyah seperti anak kecil dan bukan seperti istri-istri yang tua. Rasul bermain-main, berlomba-lomba, bercanda, bergurau, dan memanjakannya. Aisyah berkata, ‘Aku pernah bermain dengan anak-anak perempuan di sisi Rasul. Mereka mendatangiku dengan bercadar karena ada Rasul dan Rasul merasa senang dengan mereka.” (HR Muslim)

Makna hadits ini adalah, ketika Aisyah asyik bermain boneka bersama teman-temannya, tiba-tiba Rasul datang sehingga teman-teman Aisyah bersembunyi karena malu. Akan tetapi, karena kelembutan dan kasih sayangnya, Rasul justru ikut bermain dan mengizinkan mereka ber¬main bersama Aisyah.
Sikap-sikap Aisyah bersama Rasul sangat banyak sekali, dan di sini kami cukup menyebutkan dua sikap yang menunjukkan keutamaan dan kelebihan Aisyah.

Link sumber video


Rasulullah sering berkunjung ke rumah Abu Bakar untuk bermusyawarah dalam urusan dakwah. Pada saat itu, Aisyah masih kecil dan baru berusia enam tahun sehingga tidak seorang pun yang ingin menikahinya. Lagi pula, siapa yang mau menikahi anak kecil? Apakah dia akan bisa membantu meringankan beban suaminya atau malah sebaliknya, akan merepotkannya? Akan tetapi, Nabi ingin menjalin hubungan yang kuat dengan tangan kanan dan pembantu pertamanya,

**mau denger muslim berdongeng?? nih baca lanjutannya **

Pernikahan Rasul dengan istri-istrinya, semuanya untuk kemaslahatan agama dan bukan untuk kepuasan hawa nafsu belaka.

Pernikahan Rasul dengan Aisyah disebabkan karena adanya hubungan yang erat dengan orang kepercayaan-nya, Abu Bakar.

Pernikahan Rasul dengan Hafshah disebabkan karena adanya hubungan erat dengan khalifah kedua, Umar bin Khathnthnab.

Pernikahan Rasul dengan Saudah disebabkan karena suaminya telah wafat dan tidak seorang pun yang meng-urusinya.
Pernikahan Rasul dengan Zainab binti Jahsy adalah untuk menunjukkan bahwa menikah dengan mantan istri anak angkatnya adalah tidak terlarang, sekaligus sebagai bantahan terhadap orang-orang musyrik yang melarang menikahi istri anak angkatnya.

Pernikahan Rasul dengan Shafiyyah binti Huyaiy adalah karena alasan politis, yaitu sebagai upaya pendekatan terhadap orang-orang Yahudi sehingga mereka mau masuk Islam. Pernikahan Rasul dengan Ummu Habibah adalah untuk menarik simpati Abu Sufyan agar mau masuk Islam. Lebih-lebih karena suaminya telah masuk agama Kristen dan meninggalkan Islam. Selain iru, bapaknya adalah pemimpin kaum kafir.

Pernikahan Rasul dengan Ummu Salamah adalah untuk memelihara anak-anak yatim yang diasuhnya serta untuk mengurusi keperluannya. Pernikahan Rasul dengan Maimunah adalah untuk manyambung tali silaturrahim. Pernikahan Rasul dengan Zainab binti Khuzaimah adalah untuk menjaga dan mengurusi kebutuhannya.

Itu artinya bahwa pernikahan Nabi dengan istri-istrinya karena dinikahkan dan bukan karena keinginan pribadi-nya. Semua pernikahan yang dilakukan oleh Nabi adalah…bla..bla..

===
** Kita perhatikan yang diwarnai BIRU.

Pernikahan Rasul dengan Shafiyyah binti Huyaiy adalah karena alasan politis, yaitu sebagai upaya pendekatan terhadap orang-orang Yahudi sehingga mereka mau masuk Islam.

Benarkah demikian?
Kok kisah si Muhammad membunuh AYAH dan SUAMI Safiyah di tutup-tutupin???
mari kita liat bukti sejarah dari SUMBER asli. Klink links berikut;

Pembunuhan Suami SAFIYAH oleh MUH SAW

Pembunuhan Ayah dari SAFIYAH oleh Muhammad yg bernama Huyai bin Akhthnab

Pernikahan Rasul dengan Saudah disebabkan karena suaminya telah wafat dan tidak seorang pun yang mengurusinya.

Bagaimana kelanjutan pernikahan ini? Klik link berikut:
Malangnya Nasib Istri Rasul

SUPLEMEN:

Usia IDEAL untuk MENIKAH

Selasa, 9 Maret 2004 22:04:40 WIB

USIA IDEAL MENIKAH
Oleh
Syaikh Abdul Aziz bin Baz

Pertanyaan.
Syaikh Abdul Aziz bin Baz ditanya : Berapa usia ideal untuk menikah bagi perempuan dan laki-laki, karena ada sebagian remaja putri yang menolak dinikahi oleh lelaki yang lebih tua darinya? Dan demikian pula banyak laki-laki yang tidak mau menikahi perempuan yang lebih tua daripada mereka. Kami memohon jawabannya. Jazakumullahu khairan

Jawaban.
Saya berpesan kepada para remaja putri agar tidak menolak lelaki karena usianya yang lebih tua dari dia, seperti lebih tua 10,20 atau 30 tahun. Sebab hal itu bukan alasan. Rasulullah SAW sendiri menikahi Aisyah RA, ketika beliau berusia 53 tahun, sedangkan Aisyah baru berusia 9 tahun. Jadi usia lebih tua itu tidak berbahaya, maka tidak apa-apa perempuannya yang lebih tua dan tidak apa-apa pula kalau laki-lakinya yang lebih tua.

Rasulullah SAW pun menikahi Khadijah RA yang pada saat itu berumur 40 tahun, sedangkan Rasulullah masih berusia 25 tahun sebelum beliau menerima wahyu. Itu artinya Khadijah lebih tua 15 tahun dari Rasulullah SAW. Kemudian menikahi Aisyah RA sedang umurnya baru enam tahun atau tujuh tahun dan beliau menggaulinya ketika dia berumur sembilan tahun sedang beliau lima puluh tiga tahun.


Buku : AISYAH SAJA NIKAH DINI!
Mengintip Asyiknya Pernikahan Aisyah dengan Rasulullah

Penulis : Ummu Aisyah
Penerbit : Samudra, Surakarta, 2008
ISBN : 978-979-1256-12-4
Tebal Buku : 104 Halaman
Warna Cover : Hitam-Kuning
Email Penerbit : penerbit_samudera@yahoo.com
Telepon : 0271-726452, 720426
Grup Penerbit : Arafah

Bagi muslims yg merasa tdk enak membaca ini, maaf ini bukan pendapat ana, ana hanya mengutip buku islami tsb, silahkan langsung menelpon penerbit islami tsb bila ente tdk setuju.

PEMBUNUH GADIS CILIK,

JONBENET RAMSEY & MUHAMAD


Anda sempat baca berita yg sedang hangat di AS? Itu tuh … ttg berlanjutnya kasus pembunuhan bocah cilik berusia ENAM tahun, JonBenet Ramsey. 10 tahun lalu, gadis ini ditemukan mati terbunuh secara mengenaskan di rumahnya.

Berita ini mencuat kembali karena tertuduh pembunuh, John M. Karr, lelaki berusia 41 tahun, guru dan ayah 3 anak, mengaku bahwa ia berada dirumah JonBenet pada saat kematiannya.

Media sibuk tebak menebak, tetapi dari hasil penyelidikan terhdp DNA lelaki itu nanti, yg akan disamakan dgn DNA yg ditemukan pada kuku JonBenet, baru kita akan tahu benar tidaknya Karr sbg pembunuhnya.

Yang menarik dari kasus ini adalah bahwa lelaki berusia 41 tahun ini telah mengirimkan email kpd seorang profesor di Universitas Colorado dan mengakui cintanya kpd JonBenet (hanya 6 tahun ketika tewas). “JonBenet, cintaku, hidupku,” tulis Karr. “Saya mencintaimu dan akan selalu mencintaimu. Saya berdoa agar kau dapat mendengar suaraku memanggilmu dari kegelapan saya — kegelapan yg kini memisahkan kita.”

Orang yg menulis ini tidak lain adalah orang yg mengidap penyakit jiwa pedofilia. Isterinya menceraikannya ketika kecendrungan pedofilianya terungkap. Ia sakit jiwa dan harus dijauhkan dari hubungan dgn anak-anak kecil. Pedofil membahayakan keselamatan anak-anak kita. Mereka harus mendekam di penjara dan kunci sel mereka dibuang. Mereka tidak dapat mengontrol nafsu birahi mereka dan tidak ada yg dapat menjamin bahwa mereka akan berhenti memangsa anak-anak.

Tapi apa hubungan kasus ini dgn situs kita, FFI? Missi FFI adalah utk mengekspos Islam, dan hubungannya ini: pendiri Islam JUGA SEORANG PEDOFIL. Aisha, isteri kedua Muhamad, seumur dgn JonBenet ketika Muhamad yg ketika itu berusia 51 tahun, jatuh cinta padanya dan langsung melamarnya kpd ayahnya, Abu Bakar. Seakan-akan dgn ‘pernikahan’, sifat jijik dan kriminal tindakan tsb menjadi sah.

Bukti bahwa Muhamad mimpi basah, berangan-angan ttg Aisha, yg 6 thnn itu, tercatat secara luas di hadis.

Sahih Bukhari 9.140
Narrated ‘Aisha: Allah’s Apostle said to me, “You were shown to me twice (in my dream) before I married you. I saw an angel carrying you in a silken piece of clothn, and I said to him, ‘Uncover (her),’ and behold, it was you. I said (to myself), ‘If thnis is from Allah, thnen it must happen.’ Thnen you were shown to me, thne angel carrying you in a silken piece of clothn, and I said (to him), ‘Uncover (her), and behold, it was you. I said (to myself), ‘If thnis is from Allah, thnen it must happen.'”

Bahkan Imam Agung, Ayatollah Montazeri, dlm suratnya kpd saya menulis: “Sbg prinsip, seorang lelaki 53 thnn tidak bisa memiliki rasa seksual terhdp perempuan berusia 9 tahun.”

Ayatollah itu memang benar. Tidak ada orang dewasa normal yg bisa mimpi basah terhdp anak-anak dibawah umur. Mereka yg melakukannya dianggap berkelainan jiwa, alias pedofil. Mereka bukan manusia normal, mereka monster. Mereka membahayakan anggota masyarakat yg paling lemah: anak-anak kita.

Jadi mengapa sang ayatolah dan 1,5 milyar Muslim masih dgn bangga menyebut Muhamad yg sakit jiwa itu sbg “nabi”? Menyebut pedofil sbg nabi adalah kegagalan KOLOSAL Muslim dlm menilai karakter orang.

Ketimbang mengamini segala kelakuan jijik Muhamad, Muslim seharusnya MALU! Adakah hal yg lebih jijik ketimbang memuja-muja seorang PEDOFIL, 5 kali sehari? Bisakah seorang pedofil membawa manusia pada keselamatan? Mengantar kita ke Tuhan? Dan mengapa Tuhan memilih seorang pedofil sbg rasulNya?

Ini sama sekali tidak masuk akal. Ini sebuah tragedi.

Sumber:

AISYAH umur 7 TAHUN (Dari buku islam yang ada di INDONESIA)

http://www.indonesia.faithnfreedom.org/forum/viewtopic.php?t=4827


ENGLISH VERSION