PERANG SALIB
Bagian 10  Mengapa Dibentuk Tentara Salib (The Crusaders)
hal. 121

Menurut penulis Amin Maalouf di buku “The Crusades Through Arab Eyes” (Tentara Salib Menurut Mata Arab), tentara Salib menaklukkan Yerusalem di tahun 1099 dan inilah saat mulainya perseteruan berabad-abad antara Islam dan pihak Barat. [1] Pakar dan apologis Islam John Esposito bertindak lebih jauh dengan menyalahkan Tentara Salib (yang disebutnya melakukan perang suci bohongan) secara umum karena mengacaukan budaya masyarakat berbagai bangsa:
“Lima abad yang damai dan hidup berdampingan pupus sudah karena kejadian politik dan kekuasaan penjajahan oleh paus yang mengakibatkan berabad-abad penuh perang (yang katanya) suci yang dilakukan pihak Kristen atas Islam dan mewariskan rasa curiga dan tidak percaya.” [2] (more…)

PERANG SALIB: Khayalan dan Realitas

Seringkali dikatakan: “Tentara Salib berbaris dari Eropa ke Timur Tengah. Setibanya di sana, mereka menjarah dan membunuh lelaki, wanita, dan anak2 Muslim dan Yahudi tanpa pandang bulu, dan memaksa yang masih hidup masuk Kristen. Di atas genangan darah, mereka mendirikan daerah jajahan Eropa di Levant, yang menjadi gagasan dan pola penjajahan berikutnya. Merekalah yang pertama kali di dunia melakukan pembunuhan masal, dan jadi noda sejarah gereja Katolik, Eropa dan budaya Barat. Perbuatan mereka begitu menakutkan sehingga Paus Yohanes Paulus II akhirnya minta maaf pada dunia Islam atas terjadinya Perang Salib.”

Apakah ini benar?

Tidak. Setiap huruf dalam paragraf di atas salah, meskipun seringkali dikutip berulang-ulang oleh (yang katanya) para “ahli.”

Pandangan PC: Tentara Salib membentuk daerah2 jajahan di Timur Tengah

Tentara Salib menerima panggilan Paus Urban dan menuju ke Timur dan para pemimpin mereka bertemu dengan Kaisar Byzantium Alexius Comnesus. Sang Kaisar meminta setiap prajurit untuk bertindak sesuai dengan permintaan Paus Urban agar mengembalikan semua tanah yang berhasil mereka rebut kembali dari kekuasaan Islam kepada Kekaisaran Byzantium. Para prajurit menyetujui hal ini. Tapi setelah pengepungan Antiokhia tahun 1098, mereka merubah keputusannya. Sewaktu pengepungan berlangsung sampai musim dingin, tentara Muslim bergerak menuju utara dari Yerusalem. Tentara Salib menunggu bantuan tentara dari Kaisar Byzantium. Tapi Kaisar menerima laporan bahwa keadaan tentara Salib sangat lemah sehingga dia memilih tidak memberi bantuan apapun. Tentara Salib merasa dikhianati dan menjadi murka. Mereka akhirnya secara mengejutkan berhasil merebut kembali Antiokhia dari kekuasaan Islam. Setelah itu tentara Salib membatalkan perjanjian dengan Kaisar Alexius dan mendirikan pemerintahan sendiri.

Yang dilakukan tentara Salib bukanlah membentuk daerah jajahan. Negara yang dibentuk tentara Salib tidak sama dengan daerah2 jajahan Virginia, Australia, India Belanda Timur di abad2 berikutnya. Secara umum, daerah jajahan adalah tanah yang dikuasai negara yang letaknya jauh dari daerah jajahan tersebut. Tapi negara2 tentara Salib tidak dikuasai oleh negara2 Eropa Barat; Pemerintahan2 yang dibentuk tentara Salib tidak di bawah kekuasaan Barat manapun. Pemerintahan Salib juga tidak mengambil kekayaan tanah yang dikuasainya untuk dikirim ke negara asal mereka di Eropa. Tujuan tentara Salib mendirikan Pemerintahan adalah untuk melindungi perlindungan permanen bagi orang2 Kristen di Tanah Suci (Yerusalem dan sekitarnya).

Malah sebenarnya, banyak tentara Salib yang akhirnya tidak menganggap diri sebagai orang Eropa lagi. Tulisan Fulcher of Charters menyatakan:
Pikirkan, aku sembahyang, dan membayangkan bagaimana dalam hidup kita Tuhan telah mengubah orang2 Barat menjadi orang2 Timur. Kami yang dulu adalah asli orang Barat sekarang diubah jadi orang2 Timur. Dia yang dulunya orang Romawi atau orang Frank sekarang jadi orang Galilea atau penghuni Palestina. Orang yang dulu adalah warga Rheim atau Charter sekarang jadi warga Tyre atau Antiokhia. Kami telah lupa tempat kelahiran kami; tempat itu jadi asing bagi kami atau setidaknya tidak diucapkan lagi. Beberapa orang malah telah memiliki rumah dan pelayan yang mereka terima sebagai harta waris. Beberapa punya istri bukan wanita Eropa tapi wanita Syria atau Armenia atau Saracen yang telah dibaptis. Beberapa hidup bersama mertua, menantu, besan atau anak tiri, atau ayah tiri. Juga ada cucu dan buyut segala. Yang seorang mengurus kebun, yang lain mengurus ladang. Satu sama lain menggunakan ucapan dan kiasan dari bahasa yang berbeda. Kelainan bahasa sekarang merupakan hal yang biasa, dan kedua bangsa mengenalnya, dan iman yang sama menyatukan warga asli dengan orang asing. Seperti yang tertulis, “Singa dan lembu akan bersama-sama makan jerami.” Yang dulu orang asing sekarang jadi warga asli; dan yang dulu pendatang sekarang jadi penghuni tetap. [1]
[1] Dikutip dari August C. Krey, The First Crusade: The Accounts of Eyewitnesses and Participants (Princeton, NJ: 1921), 280-81. Reprinted at Medieval Sourcebook, http:www.fordham. edu/halsall/ source/fulcher- cde.html

Ciri lain penjajahan seperti perpindahan penduduk besar2an dari tanah asal Eropa ke tanah jajahan juga tidak terjadi. Tiada penduduk Eropa yang berbondong-bondong pergi untuk tinggal di tempat yang dikuasai tentara Salib.

Pandangan PC: Penaklukan Yerusalem adalah kejadian khusus dalam sejarah abad pertengahan yang menyebabkan Muslim tidak percaya lagi sama masyarakat Barat

Setelah dikepung selama lima minggu, akhirnya tentara Salib memasuki Yerusalem pada tanggal 15 Juli, 1099. Tulisan seorang Kristen yang tidak diketahui namanya menulis apa yang terjadi dan inilah yang lalu dicatat dalam sejarah dunia:
Salah seorang dari prajurit kami yang bernama Letholdus memanjat tembok kota. Ketika mencapai puncak tembok, semua yang mempertahankan kota cepat2 lari di sepanjang tembok dan masuk kota. Orang2 kami mengejar mereka, membunuh dan menebas, sampai sejauh Kuil Salomo, dan begitu banyak pembantaian sampai pergelangan kaki orang2 kami digenangi darah musuh.
Emir yang memerintah Menara Daud menyerah kepada Count St. Gilles dan membuka pintu gerbang tempat di mana para peziarah memberi hormat. Ketika memasuki kota, para peziarah kami mengejar dan membunuh orang2 Saracen sampai ke Kuil Salomo. Di sana orang2 Saracen berkumpul dan mempertahankan diri dengan sengit sepanjang hari, sehingga seluruh kuil dialiri darah mereka. Akhirnya kaum pagan dapat dikalahkan dan orang2 kami mengumpulkan banyak laki2 dan wanita dalam kuil, membunuhi mereka atau membiarkan hidup orang2 yang dapat berguna. Dari atas atap Kuil tampak kumpulan banyak orang pagan laki dan wanita, dan Tacherd dan Gaston de Beert memberi bendera2nya pada mereka (sebagai tanda perlindungan) . Lalu tentara Salib menyebar ke seluruh kota, mengambil emas dan perak, kuda2 dan keledai2, dan rumah yang penuh segala harta benda. Setelah itu, orang2 kami bersukacita dan bersyukur sambil mengagumi kuburan Juru Selamat kami Yesus dan melunaskan hutang2 mereka padaNya.
[2]
[2] R.G.D. Laffan, editor dan penerjemah, Select Documents of European History 800-1492, volume I, Henry Holt, 1929, Juga lihat “The Crusaders Capture Jerusalem, 1099“, “EyeWitness to History“, www.eyewitnesstohis tory.com (2000).
Pikiran kita yang modern terkejut ketika membaca pemberitaan yang positif atas pembantaian itu; memang perilaku dan pandangan masa sekarang dan masa dulu sangatlah berbeda. Tiga pemimpin utama tentara Salib yakni Archbishop Daimbert; Godfrey, Duke dari Bouillon, dan Raymond, Count dari Toulouse; menyombong pada Paus Paschal II di bulan September 1099 tentang bagaimana tentara Salib menaklukkan Yerusalem:
“Dan jika kau ingin tahu apa yang kami lakukan terhadap musuh yang kami temui di sana, ketahuilah bahwa di halaman depan dan kuil Salomo para pejuang kita berkuda diatas genangan darah orang2 Saracen yang tingginya mencapai lutut kuda2 mereka.” [3] Tapi Godfrey sendiri, yang adalah salah satu pemimpin tentara Salib yang paling dihormati, tidak ikut dalam pembantaian itu; mungkin karena dia lebih tahu bahwa tindakan tentara2nya malah menodai prinsip2 perjuangan Salib.
[3] Archibishop Daimbert, Duke Godfrey, dan Count Raymond, “Letter to Pope Paschal II, September, 1099,” di tulisan Colman J. Barry, editor, Readings in Church History (Christian Classics, 1985), 328.

Balderic yang adalah bishop dan penulis sejarah Yerusalem di awal abad ke-12 melaporkan bahwa tentara Salib membunuh antara 20 sampai 30.000 ribu orang dalam kota Yerusalem. [4] Kemungkinan besar angka ini dibesar-besarkan, tapi sumber Islam bahkan menyebut angka yang lebih besar lagi. Meskipun sumber awal Islam tidak menyebut jumlah yang mati, Ibn al-Jawzi menulis sekitar seratus tahun kejadian itu bahwa tentara Salib “membunuh lebih daripada 70.000 Muslim” di Yerusalem. Ibn al-Athir yang dikenal sebagai Saladin kontemporer yang menang perang atas tentara Salib di akhir abad ke-12, juga menyebut jumlah korban yang sama. [5] Ahli sejarah abad ke-15 Ibn Taghribirdi menulis jumlah korban sebanyak 100.000 orang. Dengan demikian bisa dilihat bahwa jumlah korban membengkak seiring dengan bertambahnya waktu, sampai2 Presiden A.S. Bill Clinton juga latah mengutip di perguruan tinggi Katolik di kota Georgetown di bulan November, 2001. Dia berkata bahwa tentara Salib tidak hanya membunuh setiap prajurit Muslim dan setiap pria Muslim, tapi juga “setiap wanita dan anak2 Muslim di Kuil” sampai darah menggenangi pergelangan kaki mereka, seperti yang ditulis oleh penulis Kristen anonim itu, tapi Daimbert, Godfrey, dan Raymond lalu membesarkannya jadi: “sampai ke lutut2 kuda mereka.” [6]
[4] Moshe Gil, A History of Palestine 634-1099 (Cambridge: Cambridge University Press, 1992), 827.
[5] Francesco Gabrieli, editor dan penerjemah, Arab Historians of the Crusaders (Berkeley, CA: University of California Press, 1957), 11.
[6] Bill Clinton, “Remarks as delivered by President William Jefferson Clinton, Georgetown University, November 7, 2001.” Georgetown University Office of Protocol and Events, www.georgetown. edu.

Seperti yang telah kita dengar berkali-kali, laporan kebiadaban ini merupakan “saat dimulainya permusuhan milenium antara Islam dan Barat.” [7] Tapi lebih tepat dikatakan bahwa inilah saat dimulainya milenia penuh tuduhan dan propaganda anti-Barat. Penaklukan Yerusalem yang dilakukan tentara Salib adalah tindakan kriminal yang biadab – terutama karena bertentangan dengan prinsip moral dan agama yang mereka seharusnya mereka junjung tinggi. Akan tetapi jika melihat kebiasaan militer pada jaman itu, yang mereka lakukan bukanlah hal yang luar biasa. Di jaman itu sudah menjadi kebiasaan umum bahwa jika sebuah kota yang dikepung melakukan perlawanan, maka kota itu akan dihancurkan, dan jika kota itu menyerah, maka akan diampuni. Beberapa sumber menyatakan bahwa tentara Salib berjanji tidak akan membunuh penduduk kota Yerusalem, tapi lalu melanggar janji sendiri. Yang menulis bahwa tentara Salib membiarkan orang2 Yahudi dan Muslim meninggalkan kota dengan aman. Count Raymond memberi jaminan pribadi bagi keamanan Gubernur Fatimid Yerusalem yang bernama Iftikar al-Daulah. [8] Dalam pandangan tentara Salib, ketika jaminan ini dikeluarkan, maka mereka yang tetap tinggal dalam kota dianggap sebagai pihak yang melawan – dan karena itu mereka dibunuh. [9]
[7] Amin Maalouf, The Crusaders Through Arab Eyes (New York: Schocken Books, 1984), xvi.
[8] Warren Carroll, The Building of Christendom (Front Royal, VA: Christendom College Press, 1987), 545.
[9] Tentang tentara Salib, lihat Gil, hal. 827. Untuk keterangan membebaskan orang2 untuk meninggalkan kota, lihat buku Thomas F. Madden, The New Concise History of the Crusaders (Lanham, MD: Rowman & Littlefield, 2005), 34.

Lalu bagaimana tentang darah yang menggenang sampai lutut? Ini hanyalah cerita yang semakin lama semakin di-besar2kan. Para pemimpin Salib jelas membual tentang laporan mereka karena hal ini tidak mungkin bisa terjadi. Tidak cukup banyak orang yang hidup di Yerusalem yang bisa mengucurkan darah sebanyak itu, bahkan jikalaupun populasi masyarakat membengkak dengan adanya pengungsi dari daerah2 sekitar. Catatan2 sejarah tertua yang ditulis Muslim tentang penaklukan Yerusalem tidak menunjukkan peristiwa ini sebagai sesuatu yang luar biasa kejam. Di sekitar tahun 1160, dua penulis Syria yakni al-`Azimi dan Ibn al-Qalanisi menulis penaklukan Yerusalem secara terpisah. Keduanya tidak menyebut jumlah korban yang dibunuh. Al-`Azimi hanya menulis bahwa tentara Salib “bergerak ke Yerusalem dan menaklukkannya dari kekuasaan orang2 Mesir. Godfrey mengambilnya. Mereka membakar sinagog2 Yahudi.” Ibn al-Qalanasi menulis sedikit detail tambahan: “Tentara Frank menyerbu masuk kota dan menaklukannya. Sejumlah penduduk kota melarikan diri ke tempat perlindungan dan sejumlah besar penduduk lainnya dibunuh. Kaum Yahudi berkumpul di sinagog, dan tentara Frank membakar sinagog di atas kepala mereka. Kaum Yahudi menyerahkan tempat berlindung (sinagog) kepada tentara Frank dengan jaminan keamanan pada tanggal 22 Sha’ban (14 Juli) tahun ini, dan mereka menghancurkan tempat suci dan kuburan Abraham.” [10] Setelah itu rupanya penulis Muslim sadar akan perlunya propaganda yang mem-besar2kan jumlah korban yang dibunuh.
[10] Dikutip dari Hillenbrand, The Crusaders: Islamic Perspective (Oxford: Routledge, 2000), 64-65.

Sesuai dengan catatan sejarah, tentara Muslim seringkali berbuat hal yang sama ketika memasuki kota yang ditaklukan. Ini bukan alasan untuk membela pembunuhan yang dilakukant tentara Salib dan menganggap “semua pihak juga melakukan hal itu, kok,” sama seperti yang seringkali diucapkan apologis Islam saat ini jika dihadapkan dengan kenyataan terorisme jihad modern. Satu kebiadaban tidak bisa membenarkan kebiadaban lainnya. Tapi yang dilakukan tentara Salib itu sesuai dengan kebiasaan tentara lain di jaman itu – karena semua pihak juga mengakui aturan pengepungan dan perlawanan.

Di tahun 1148, misalnya, komandan Muslim Nur ed-Din tidak ragu memerintahkan pembunuhan atas setiap orang Kristen di Aleppo. Di tahun 1268, ketika tentara jihad pimpinan Sultan Mamluk bernama Baybar menaklukkan Antiokhia dari kekuasaan tentara Salib, Baybar merasa jengkel ketika mengetahui pemimpin tentara Salib yakni Count Bohemond VI telah melarikan diri dari kota. Dia menulis pada Bohemond agar Bohemond tahu benar apa yang dilakukan Baybar terhadap Antiokhia:
Kau seharusnya melihat tentara2mu membungkuk di bawah kaki2 kuda, rumah2mu dijarah dan dihancurkan, kekayaanmu yang sekuintal, para wanitamu dijual berempat setiap kali dan dibeli seharga sedinar dari uangmu sendiri! Kau seharusnya melihat salib2 di gereja2mu dihancurkan, halaman2 Alkitab dirobek-robek, kuburan2 para tokoh gereja dijungkirbalikan. Kau seharusnya melihat tentara Muslim musuhmu menginjak-injak tempat ibadahmu, memotong tenggorokan2 para padri, pendeta, penatua2 di atas altar, membawa kematian kepada tokoh2 gereja dan memperbudak para bangsawan. Kau seharusnya melihat api membakar istana2mu, kematianmu dibakar di dunia baka sebelum kau dibakar lagi di dunia fana, istanamu tak berbentuk lagi, gereja St. Paul dan Katedral St. Peter diruntuhkan dan dihancurkan; lalu kau akan berkata, “Apakah aku ini debu sehingga belum pernah ada surat yang sedemikian menyedihkan bagiku!” [11]
[11] Dikutip dari Madden, hal. 181-82.

Yang paling kejam dari seluruhnya adalah kejadian di mana para jihadis menyerbu masuk kota Konstantinopel pada tanggal 29 Mei, 1453. Para jihadis – sama seperti para tentara Salib di Yerusalem tahun 1099 – akhirnya berhasil masuk kota setelah mengepung dalam waktu yang lama. Di sini sungai darah mengalir lagi, seperti yang dicatat ahli sejarah Steven Runciman. Tentara Muslim “membunuh setiap orang yang mereka jumpai di jalanan, laki2, wanita2, dan anak2 tanpa pandang bulu. Sungai darah mengalir di jalan2 mendaki dari ketinggian Petra sampai Tanduk Emas. Tapi akhirnya nafsu membantai mereka berkurang. Para tentara Muslim sadar bahwa tawanan dan barang2 berharga lebih berguna bagi mereka.” [12]
[12] Steven Runciman, The Fall of Constantinople 1453 (Cambridge: Cambridge University Press, 1965), 145.

Seperti tentara Salib, yang menghancurkan sinagog dan mesjid, tentara Muslim juga menghancurkan monasteri dan biara2, mengosongkan, dan lalu menjarah rumah2 penduduk. Mereka masuk Hagia Sofia yang merupakan gereja termegah di dunia Kristen selama hampir seribu tahun. Orang2 Kristen berkumpul di dalam gereja sambil berdoa atas kekalahan kota itu. Muslim menghentikan doa Orthos (doa pagi), sedangkan para pendeta, menurut dongeng, mengambil cawan2 suci dan menghilang dalam dinding timur gereja, dan dikisahkan mereka akan datang kembali dari dinding itu untuk menyelesaikan ibadah yang terputus suatu hari nanti. Tentara Muslim lalu membunuhi orang2 yang telah uzur dan lemah dan lalu memperbudak sisanya.

Ketika pembantaian dan penjarahan selesai, Sultan Ottoman bernama Mehmet II memerintahkan seorang Muslim naik ke puncak gereja Hagia Sofia dan mengumandangkan takbir (tiada illah lain selain Allah, dan Muhammad adalah Rasul Allah). Gereja tua yang agung ini diubah jadi mesjid; ratusan gereja lain di Konstantinopel dan di-mana2 juga bernasib sama. Jutaan Kristen dijadikan warga dhimmi; yang lainnya diperbudak dan banyak yang mati sebagai martir.

Pandangan PC: Pemimpin pasukan Muslim Sultan Saladin lebih murah hati daripada Tentara Salib

Salah seorang tokoh Muslim yang terkenal di jaman Perang Salib adalah Saladin. Dia menyatukan banyak negara Islam dan mengakibatkan banyak kekalahan pada tentara Salib. Di jaman kita sekarang, Saladin digambarkan sebagai tokoh toleran, pejuan Muslim yang berjiwa besar, “bukti” sejarah kemuliaan Islam dan lebih unggul secara moral dibandingkan penjajah Kristen yang kejam. Dalam buku Tentara Salib di Mata Bangsa Arab (The Crusaders Through Arab Eyes), Amin Maalouf menggambarkan tentara Salib sebagai orang2 buas, bahkan memakan daging orang2 yang dibunuhnya. Tapi Saladin! “Dia selalu bersikap ramah terhadap tamu2nya, mengajak mereka tinggal untuk makan, memperlakukan mereka dengan penuh hormat, bahkan biarpun mereka kafir, dan memenuhi segala kebutuhan mereka. Dia tidak tega melihat seseorang pergi dengan kecewa, dan ada orang2 yang mencari untung dari sikapnya yang murah hati. Suatu hari, di saat keadaan damai dengan bangsa Franj (Franks – Perancis), bangsawan Brin dari Antiokhia datang tak diundang ke tenda Saladin dan memintanya untuk mengembalikan daerah yang diambil Saladin empat tahun yang lalu. Dan Saladin setuju!” [13] Ini sungguh lelucon menggelikan! Jika diminta, mestinya dia bahkan setuju untuk menyerahkan seluruh Tanah Suci!
[13] Maalouf, hal. 179.

Satu hal yang nyata: Saladin menyerang Yerusalem di tahun 1187 karena tentara Salib di bawah komando Reynald dari Chatillon mengambil sehalaman buku Nabi Muhammad (Qur’an) dan menyerang kafilah2 Muslim. Penguasa Kristen Yerusalem memerintahkan Reynald untuk tidak melakukan hal itu karena mereka tahu hal ini akan membahayakan keberadaan kerajaan mereka. Tapi Reynald tetap melakukan hal itu sehingga akhirnya Saladin, yang memang sedang mencari-cari alasan untuk perang melawan orang2 Kristen, menemukan satu alasan dalam penyerangan yang dilakukan Reynald. [14]
[14] Madden, hal 74.

Telah banyak ditulis kenyataan bahwa ketika Saladin dan tentara Muslim menaklukan Yerusalem di bulan Oktober, 1187, Saladin tidak membantai orang Kristen – dan ini sangat berbeda dengan kelakuan tentara Salib di tahun 1099. Akan tetapi, Saladin yang sebenarnya bukanlah orang yang menghargai perbedaan budaya. Dia tidak seperti Nelson Mandela jaman modern. Ketika tentara Muslimnya mengalahkan tentara Salib di Hattin pada tanggal 4 Juli, 1187, dia memerintahkan pembantaian massal seluruh tentara Salib. Menurut sekretarisnya yang bernama Imad ed-Din, Saladin “memerintahkan mereka semua harus dipancung (sesuai dengan isi Qur’an 47:4, “Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang leher mereka.”), dan memilih membunuh daripada menawan mereka. Orang2 yang ada bersama Saladin saat itu adalah sekumpulan ilmuwan2 dan para penganut Islam Sufi dan beberapa Muslim mu’min dan terhormat; masing2 Muslim memohon untuk diperbolehkan memancung seorang tentara Salib, dan mencabut pedangnya sambil menggulung lengan bajunya. Saladin dengan muka gembira duduk di atas kursi kebesarannya; para kafir menunjukkan keputusasaan. ” [15]
[15] Ibid, hal. 76.

Juga, ketika Saladin dan tentaranya memasuki Yerusalem di tahun yang sama beberapa bulan kemudian, sikapnya yang mengampuni ternyata adalah karena ini merupakan pilihan terbaik. Awalnya dia berencana untuk membunuh semua orang Kristen di dalam kota. Akan tetapi, komandan tentara Kristen yakni Balian dari Ibelin mengancam untuk menghancurkan kota dan membunuh semua Muslim dalam kota sebelum Saladin bisa masuk. Karena itulah akhirnya Saladin berjanji untuk tidak membantai orang2 Kristen – meskipun begitu setelah dia menguasai kota, dia lalu memperbudak banyak orang2 Kristen yang tidak bisa meninggalkan kota.” [16]
[16] Ibid, hal. 78.

Pandangan PC: Tentara Salib Dibentuk untuk Melawan Orang2 Yahudi Selain Orang2 Muslim

Sangat disayangkan bahwasanya tentara Salib menyerang orang2 Yahudi di beberapa kejadian. Beberapa kelompok tentara Salib sudah menyimpang dari pesan Paus Urban. Karena dipanas-panasi para pengkhotbah pembenci Yahudi, sekelompok tentara yang tadinya berangkat ke arah timur dalam Perang Salib I malah berbalik kembali untuk menyerang dan membunuh banyak orang2 Yahudi di Eropa. Count Emicho dari Leiningen dan tentaranya memasuki Rhineland, lalu membunuh dan menjarah orang2 Yahudi di lima kota di Jerman: Speyer, Worms, Mainz, Trier dan Cologne. Beberapa bishop (pemimpin umat Kristen) berusaha mencegah pembantaian itu, dan akhirnya Count Emicho dan tentaranya berhasil dihentikan ketika dia berusaha melanjutkan usahanya ke Hungaria. Akan tetapi, kerusakan telah terjadi; kabar pembantaiannya tersebar ke Timur Tengah dan mengakibatkan banyak kaum Yahudi yang bersekutu dengan kaum Muslim dan berperang melawan tentara Salib ketika mereka tiba. Lima puluh tahun kemudian, kelompok tentara lain di Rhineland untuk Perang Salib II juga mulai membunuhi orang2 Yahudi lagi.

Semua tindakan ini tidak dapat diterima, dan juga merupakan keputusan yang sangat salah. Tentara Salib seharusnya lebih bersikap bijaksana dan melihat kaum Yahudi, yang juga dijadikan warga dhimmi oleh Muslim, sebagai sekutu mereka dalam memerangi jihad Islam. Kaum Muslim memperlakukan orang2 Yahudi dan Kristen dengan cara buruk. Sayangnya, orang2 Yahudi dan Kristen tidak melihat pihak lain sebagai sekutu dalam penderitaan diperlakukan sebagai dhimmi dan bekerja sama melawan penindas. Akan tetapi, bahkan di jaman modern saat ini, delapan abad setelah Perang Salib terakhir, pemikiran seperti itu sangatlah langka, jadi mungkin tidaklah adil untuk mengharapkan sikap seperti itu dari tentara Salib.

Tapi apakah penindasan terhadap Yahudi merupakan ciri utama dari tentara Salib secara keseluruhan? Ternyata tidak demikian menurut catatan sejarah. Panggilan Paus Urban untuk membentuk tentara Salib di Konsul Claremont tidak mengatakan apapun tentang orang Yahudi, dan para ketua gereja adalah musuh utama Emicho. Malah Paus Urban sendiri mengutuk pembantaian yang dilakukan Emicho. Bernard dari Clairvaux adalah salah satu ketua Perang Salib II, dan dia pergi ke Rhineland dan mencegah penindasan terhadap orang2 Yahudi dengan mengumumkan ini: “Tanya siapapun yang mengetahui Alkitab tentang apa yang ditulis di kitab Mazmur tentang orang2 Yahudi. Tertulis di situ `Aku tidak berdoa bagi kehancurannya. ‘” [17] Para Paus dan bishop berulangkali meminta penindasan terhadap kaum Yahudi dihentikan.
[17] Ibid, hal. 54.

Tapi bahkan setelah penaklukan Yerusalem dan pembantaian terhadap orang2 Yahudi, selama terjadi Perang Salib kaum Yahudi ternyata lebih memilih hidup di daerah2 yang dikuasai orang2 Frank, meskipun orang2 Kristen Eropa tidak menyukai mereka.[18] Kaum Yahudi tahu bahwa hidup di bawah penguasa Islam lebih tidak menyenangkan.
[18] Jonathan Riley-Smith, The Oxford Illustrated History of the Crusaders (Oxford: Oxford University Press, 1997), 116.

Pandangan PC: Tentara Salib Lebih Haus Darah Dibandingkan Tentara Jihad Islam

Tentara Salib membantai di Yerusalem; Saladin dan tentara Muslimnya tidak melakukan hal itu. Ini jadi kesan utama dari tentara Salib. Sedangkan tentara Muslim memang menyerang, tapi penduduk daerah itu menyambut mereka dengan senang hati. Tentara Muslim adil dan murah hati terhadap umat non-Muslim di daerah2 tersebut. Sebaliknya, tentara Salib, haus darah, kasar, dan tidak ampun.

Kita sudah membaca bahwa pandangan di atas salah sama sekali. Saladin tidak membantai penduduk Yerusalem karena alasan praktis, dan penguasa2 Muslim dengan mudah menyamai dan malah mengungguli kekejaman tentara Salib di Yerusalem di berbagai kejadian. Penguasa Muslim tidak disambut baik, tapi malah terus-menerus ditentang dan pihak penentang ditindas dengan kebrutalan berlebihan. Begitu Muslim berkuasa, mereka menetapkan aturan2 yang menekan kaum non-Muslim.

Apakah Paus Meminta Maaf Atas Terjadinya Perang Salib?

Kau mungkin berkata, “Baiklah, tapi apapun yang kaukatakan, tentara Salib tetap saja merupakan noda dalam sejarah budaya Barat. Apalagi Paus Yohanes Paulus II minta maaf atas terjadinya Perang Salib. Buat apa dia melakukan hal itu jikalau Perang Salib dianggap sebagai tindakan yang salah hari ini?”

Memang banyak dugaan bahwa Paus Yohanes Paulus II minta maaf atas terjadinya Perang Salib. Ketika dia meninggal, koran Washington Post mengingatkan para pembaca “dalam masa kerjanya yang lama, Paus Yohanes Paulus II minta maaf pada orang2 Muslim atas terjadinya Perang Salib, pada kaum Yahudi atas terjadinya anti semitisme, pada Kristen Orthodox karena jatuhnya Konstantinopel, pada orang2 Italia karena Vatikan dituduh berhubungan dengan Mafia dan para ilmuwan karena pembunuhan terhadap Galileo.” [20]
[20] Alan Cooperman, “For Victims, Strong Words Were Not Enough,” Washington Post, April 3, 2005

Daftar minta maaf yang panjang, tapi Paus Yohanes Paulus II tidak pernah minta maaf bagi pembentukan tentara Salib. Pesan terdekat akan hal ini dikatakannya di tanggal 12 Maret, 2000, di “Hari Maaf.” Sewaktu berkhotbah, dia berkata, “Kami tidak luput mengingat pemurtadan terhadap Injil yang dilakukan saudara2 kami, terutama di millenia kedua. Marilah kita meminta maaf atas perpecahan yang terjadi dalam Kristen, atas kekerasan yang digunakan untuk melayani kebenaran dan sikap curiga dan bermusuhan yang terkadang dilakukan terhadap umat agama lain.” [21] Ini jelas bukan permintaan maaf atas dibentuknya tentara Salib. Bagaimanapun juga, jika melihat sejarah sebenarnya tentara Salib, maka tidak ada permintaan maaf seperti itu.
[21] Paus Yohanes Paulus II, “Homily of the Holy Father: `Day of Pardon,’” March 12, 2000. http://www.vatican. va/holy_father/ john_paul_ ii/homilies/ 2000/documents  /hf_jp-ii_hom_ 20000312_ pardon_en. html

Tentara Salib tidak layak mendapat penghargaan dunia, tapi layak menerima terima kasih dunia. Hal ini akan kita lihat di bab selanjutnya.

Jangan Baca Buku Ini

The Crusaders: The World’s Debate by Hilaire Belloc; 1937, diterbitkan kembali oleh Tan Books, 1992. Belloc menulis nubuat yang menarik:
“Dalam masalah yang terutama yakni agama, kita sudah mundur dan Islam masih tetap menjaga iman agamanya … Kita terpecah-belah dalam menghadapi dunia penganut aliran Muhammad, terpecah dalam segala hal – terpecah oleh persaingan antar negara, oleh perang antara yang punya dan yang tidak punya – dan perpecahan ini tidak bisa disembuhkan karena perekat yang tadinya mempersatukan budaya kita, yakni perekat Kristen, telah runtuh. Mungkin sebelum kalimat2 ini dicetak, keadaan yang berkembang cepat di daerah Timur Dekat akan mengalami perubahan besar. Mungkin perubahan ini akan tertunda, tapi tetap saja akan terjadi secara terus-menerus dan besar. Tidak tampak ada kemungkinan bahwa di akhir perubahan, terutama jika terus berlangsung untuk waktu lama, Islam akan kalah.” [19]
[19] Hilaire Belloc, The Crusaders: The World’s Debate (Rockford, IL: Tan, 1992), 248-50.

Muhammad vs. Yesus

“Diberkatilah mereka yang murah hati, karena mereka akan memperoleh pengampunan… Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain?”
Yesus (Matius 5:7, 46-47)

“Muhammad adalah Rasul Allah. Mereka yang mengikutnya berlaku kejam terhadap kafir tapi mengasihi sesama Muslim.”
(Qur’an 48:29)

Sama Seperti Jaman Sekarang: Standard Moral Ganda

Bill Clinton mengatakan bahwa kejatuhan Yerusalem di tahun 1099 oleh tentara Salib adalah sebab utama terjadinya serangan 11 September. Tapi penyerangan yang dilakukan Muslim terhadap Konstantinopel di tahun 1453 tidak diingat siapapun. Tiada satu presiden pun yang menunjuk peristiwa itu sebagai akar terorisme di jaman modern. Kejatuhan Konstantinopel tidak diingat, malah yang selalu diingat adalah satu kejadian yang dilakukan tentara Salib yang menyimpang di tahun 1204.

Ini adalah satu contoh standard moral ganda yang aneh, tidak mau diakui oleh orang2 PC jikalau menelaah kelakuan orang2 Barat dan non-Barat: Pembantaian dan perusakan apapun yang dilakukan orang2 non-Barat, non-kulit putih, non-Kristen dapat selalu dimaafkan, tapi kesalahan2 yang dilakukan oleh orang2 Kristen (atau bahkan paska setelah jaman Kristen) Barat tetap terkenang dalam sejarah dunia. Skandal penjara Abu Ghraib dikecam di seluruh dunia di tahun 2004 dan 2005, oleh orang yang sama yang tidak mengindahkan kejahatan2 yang lebih kejam yang dilakukan Saddam Hussein, Osama bin Laden, dan Hamas. Perbedaan penilaian dan sikap PC ini terbentuk karena Kristen dianggap mengajarkan standard moral yang lebih tinggi daripada Islam, dan karenanya orang2 Kristen diharapkan berlaku lebih bermoral oleh para pengamat Kristen dan juga orang2 yang yang menjunjung tinggi prinsip2 moral karena hidup di masyarakat yang menerapkan prinsip moral tersebut.