- Sekapur Sirih

- Serba Onar
- Zaman Sebelum Muhammad
- Kelahiran dan masa kecil Muhammad
- Turunnya Wahyu Kepada Muhammad
- Muhammad Mulai Berkotbah
- Peperangan dan Perampokan
- Pernikahan Muhammad
- Diskriminasi kasat mata pria vs wanita Islam
- Wafatnya Muhammad, 570-632 AD
- Mitos Ismail
- Isra-Miraj, Perjalanan Malam Ke Surga
- Surga
- Al Qur’an
- Total Kontroversial
- Keselamatan Dalam Islam
- Jihad
- Strategi Islam Sedunia
- Tokoh-Tokoh Jihad Dalam Sejarah
- Tokoh-tokoh jihad modern
- PENUTUP: Dialog Antar Budaya
-
Blog Stats
- 758,947 hits
Google Translate
Translate this blog into different languages...
Albanian Arabic Bulgarian Catalan Chinese Simplified Chinese Traditional Croatian Czech Danish Dutch English Estonian Filipino Finnish French Galician German Greek Hebrew Hindi Hungarian Indonesian Italian Japanese Korean Lativian Lithuanian Maltese Norwegian Polish Portuguese Romanian Russian Serbian Slovak Slovenian Spanish Swedish Thai Turkish Ukrainian VietnameseCategories
Archives
-
Top Posts
- Buku SD Bergambar Nabi Muhammad Gegerkan Warga Solo
- YESUS & MUHAMMAD
- MENINGGALKAN ISLAM
- Daftar Muslim yang Meninggalkan Islam
- Video pemenggalan kepala. Jgn dilihat!
- Emir Kuwait Menolak Syariah Islam
- 1000+ Kesalahan Quran
- CABUL di Istana HABIB
- TANYA JAWAB ISLAM-KRISTEN
- KESAKSIAN PELAKU KERUSUHAN MEI 1998
- Cara Islamis Untuk Bisa Berhubungan Seks Dengan Budak
- Allah Benar Benar Menyesatkan CiptaanNya Sendiri
-
Recent Comments
Najis Tralala on Rahmatan lil Alamin: “Qu… Najis Tralala on Cara Islamis Untuk Bisa Berhub… Najis Tralala on Perempuan Ini Dipenjara Karena… Sandra Danika on KEBENARAN MUHAMMAD Sandra Danika on KEBENARAN MUHAMMAD olik on Musik Dilarang Oleh Islam 
ALIEN (@TitisanAlien… on Penyaliban dalam Quran olik on Musik Dilarang Oleh Islam 
ALIEN (@TitisanAlien… on Penyaliban dalam Quran Anissa Devi on KEBENARAN MUHAMMAD 
ALIEN (@TitisanAlien… on Kabar Sukacita 
ALIEN (@TitisanAlien… on Buku SD Bergambar Nabi Muhamma… 
ALIEN (@TitisanAlien… on Penyaliban dalam Quran Najis Tralala on Kabar Sukacita Najis Tralala on Buku SD Bergambar Nabi Muhamma… Blogroll
- FAITH FREEDOM
- ISLAM EXPOSE
- KESALAHAN QURAN
- WIKI ISLAM
- ARTIKEL ISLAM
- MENGENAL ISLAM
- AGAMA PALSU
- ISLAMIC INVASION bhs INDONESIA
- PEDSON
- KOCAK HUMOR
- ISLAM SESAT
- ADA APA DG MUSLIM
- ISLAM EXPOSED
- ISMAIL SAUDARAKU
- ISLAM FOBIA
- MENGENAL MUHAMMAD
- GENSGTER of MOHAMMED
- MENGENAL ISLAM
- MUHAMMAD SAW
- SELAMATKAN MUSLIM
- SAVE-DESTROY ISLAM
- HIDDEN LIES
- ISLAM MENANTI YESUS
- YESUS & MUHAMMAD
- DISKUSI ISMAIL ISHAK
- KESAKSIAN EX-MUSLIM
- SIAPAKAH ALLAH INI
- CHRIST, MUHAMMAD & I
- ISMAIL DIBERKATI
- SIAPAKAH ISA
- ISA DAN ISLAM
- MENJAWAB ISLAM
- MUSLIM BERTANYA
- KABAR BAIK
- MESJID TUHAN
- ANSWERING ISLAM
- DIAN EDEW
- INDEX ISLAM
- ISLAM DAN KRISTEN
- INJIL BAGIMU
- FF INDONESIA
- KRITIK THD ISLAM
- MARK A GABRIEL
- GRATIS AUDIO ALKITAB BHS ARAB
- INFO FOR MUSLIM
- KESAKSIAN EX-MUSLIM 2
- ROD PARSLEY
- SALMAN RUSHDIE
- AYAT-AYAT SETAN
- IBNU WARRAQ
- KONTROVERSI AYAT2 SETAN
- GEERT WILDERS
- MUSLIM YG DICERAHKAN
- MUSLIM JADI KRISTEN
- ROBERT MOREY
- MUSLIM HARUS TAHU
- STOP ISLAMISASI EROPA!
- WAFA SULTAN ON YOU TUBE
- WEB IRSHAD MANJI
- JOELS TRUMPET
- THE QURAN
- FORUM MURTADIN INDONESIA
- INDONESIA EX-MUSLIM FORUM
- DULADI
- ISLAM WATCH
- JIHAD WATCH
- LASKAR MURTADIN
- PROPHET OF DOOM
- RELIGION OF PEACE
- BERITA MUSLIM SAHIH
- PRESTASI MUHAMMAD
- KEBENARAN ISLAM
- PERCAKAPAN DENGAN MUSLIM
- ISLAM VS KRISTEN
- 1000 KESALAHAN QURAN
- EX MUSLIM INGGRIS
- EX MUSLIM JERMAN
- Video Debate Islam-Kristen
- Video Debat Islam-Kristen
- Muslim Journey to Hope
- Arab World Ministries
- 30 Days International
- Baca Alkitab bhs Arab
- Ministry to Muslims
- MORE THAN DREAMS
- MUSLIM HOPE
- DOWNLOAD ARAB BIBLE
- DOWNLOAD ARAB BIBLE MP3
- GOSPEL-INJIL
- Jawaban Sam Shamoun
- ISLAM: AGAMA DAMAI?
- DEBAT ISLAM KRISTEN
- ASAL USUL QURAN
- JIHAD DI BARAT
- In Search of Muhammad
- ARTIKEL2 SAM SHAMOUN
- WHY I AM NOT A MUSLIM
- BUKTI SAKSI
- E-BOOKS ISLAM
- SON OF HAMAS's Blog
- SON OF HAMAS's Web
- SATE MUSLIM
- ARAB BIBLE SOFTWARE FREE
- PUTRA HAMAS
- MY SPEAR
- IJTIHAD INDONESIA
- MUHAMMAD-ZAINAB
- CONVERSATION WITH MUSLIM
- FUCK MUHAMMAD
- Former Muslims United (FMU)
- Women against Shariah
- JELAS NGGAK
- KONTRADIKSI ALKITAB Blog
- FAITHFREEDOM WIKI
- TANYA JAWAB ALKITAB
- KONTRADIKSI ALKITAB-Sarapanpagi.org
- FREE 100 BUKU Dr. Boutros
- SECRET of QURAN
- ALI SINA Blog
- PERTANYAAN MUSLIM TERJAWAB
- CARM Indonesia
- TV ALHAYAT
- RADIO VATICAN
- DAR ALMASIH
- SIARAN ALHAYAT
- ISLAM and The JEWS
- BACA BACA QURAN
- KOMIK MUHAMMAD
- AGAMA BINTANG
- TULISAN MURTAD
- MUHAMMAD and JESUS
- SIAPA YESUS
- Kerudung Yg Terkoyak
- Memahami Kaum Kedar
-
Recent Posts
- Buku SD Bergambar Nabi Muhammad Gegerkan Warga Solo
- Allah Benar Benar Menyesatkan CiptaanNya Sendiri
- Definisi Kecantikan
- Emir Kuwait Menolak Syariah Islam
- Sumpah-Sumpah Celaka dengan Orang Muslim
- Irshad Manji: Para Penyerang Itu Pengecut!
- Musik Dilarang Oleh Islam
- Resensi Buku Irshad Manji: Allah, Liberty and Love
- Peserta Diskusi Irshad Manji di Bantul Dipukuli – Polisi Diam Saja
- Perempuan Ini Dipenjara Karena Diperkosa
- Koordinator Wilayah FPI Tewas Mengenaskan dibacok Geng Motor
- Islam dan Praktik Menyusui Orang Dewasa
- Cara Islamis Untuk Bisa Berhubungan Seks Dengan Budak
- Rahmatan lil Alamin: “Quran Disatu Tangan – Pedang Ditangan Lainnya”
- MENGUNGKAP RAHASIA QURAN
- TAHUKAN KALIAN QURAN = TALMUD YAHUDI VERSI MUHAMMAD
- AGAMA BEJAT
- Wapres: Pengeras Suara Azan Perlu Diatur
- Bersetubuh dengan Mayat Diperbolehkan di Mesir
- Hukuman Seumur Hidup untuk Pemerkosa
- Robert Spencer: Menemukan Muhammad?
- Ancaman Mati untuk Pendeta Palti Panjaitan
- Dituduh Melakukan Sihir, Seorang Wanita Dipenggal Kepalanya di Arab Saudi
- 38 Mati dan jumlah korban bertambah: Serangan Islam Pada Hari Minggu Paskah Gereja Di Nigeria
- Bertobatnya Penulis Situs Answering-Christianity.com
-
Top Clicks
- 4.bp.blogspot.com/-zmhubq…
- esnips.com/doc/4f3f5225-1…
- islammurtad.blogspot.com/…
- muslimharustahu.wordpress…
- wp.me/pIPvH-fP
- translate.googleuserconte…
- whyweleft.blogspot.com/20…
- islammurtad.blogspot.com/…
- mikeplato.myblog.it/media…
- buktidansaksi.com/files/R…
- 4.bp.blogspot.com/-m0Q9bj…
- answering-islam.org/indon…
Twitter Updates
- Takut Karena Semakin Banyak Yang Murtad: Seorang Pendeta Diculik Setelah Membaptis Gadis Muslim wp.me/pILLX-ff 1 day ago
- 10 Nama Allah SWT yang TERLUPAKAN wp.me/pIPvH-fM 5 days ago
- Buku SD Bergambar Nabi Muhammad Gegerkan Warga Solo wp.me/pgOXo-UQ 1 week ago
- Allah Benar Benar Menyesatkan CiptaanNya Sendiri wp.me/pgOXo-UA 1 week ago
- Bukti-bukti Nalar Muhammad seorang Penipu wp.me/pIPvH-fP 1 week ago
- Kelompok Anti-Islam AS Adakan Konferensi Anti-Islam wp.me/pILLX-fc 1 week ago
- Definisi Kecantikan wp.me/pgOXo-Uy 1 week ago
- Emir Kuwait Menolak Syariah Islam wp.me/pgOXo-UJ 1 week ago
Blog at WordPress.com. — Theme: Connections by www.vanillamist.com.
September 4, 2010 at 10:29 am
Pengkhotbah 10:3
Juga kalau ia berjalan di lorong orang bodoh itu tumpul pikirannya, dan ia berkata kepada setiap orang: “Orang itu bodoh!”
Amsal 9:10
Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian.
GBU all my friends,
Salam sejahtera:)
January 25, 2012 at 2:21 pm
Komentar mu sepertinya bodoh
November 7, 2010 at 2:06 pm
Pedang Milik Nabi Muhammad SAW
Ini adalah pedang-pedang yang pernah dipakai oleh Nabi Muhammad SAW semasa hidupnya untuk berjihad, jumlah total pedang yang pernah digunakan ada 9 buah.
1. Al Ma’thur
Foto diambil oleh Muhammad Hasan Muhammad al-Tihami,
Suyuf al-Rasul wa ‘uddah harbi-hi(Cairo: Hijr, 1312/1992).
Juga dikenal sebagai ‘Ma’thur Al-Fijar’ adalah pedang yang dimiliki oleh Nabi Muhammad SAW sebelum dia menerima wahyu yang pertama di Mekah. Pedang ini diberi oleh ayahnya, dan dibawa waktu hijrah dari Mekah ke Medinah sampai akhirnya diberikan bersama-sama dengan peralatan perang lain kepada Ali bin Abi Thalib.
Sekarang pedang ini berada di Museum Topkapi, Istanbul. Berbentuk blade dengan panjang 99 cm. Pegangannya terbuat dari emas dengan bentuk berupa 2 ular dengan berlapiskan emeralds dan pirus. Dekat dengan pegangan itu terdapat Kufic ukiran tulisan Arab berbunyi: ‘Abdallah bin Abd al-Mutalib’.
2. Al ‘Adb
Foto diambil oleh Muhammad Hasan Muhammad al-Tihami, Suyuf al-Rasul wa ‘uddah harbi-hi(Cairo: Hijr, 1312/1992).
Al-’Adb, nama pedang ini, berarti “memotong” atau “tajam.” Pedang ini dikirim ke para sahabat Nabi Muhammad SAW sesaat sebelum Perang Badar. Dia menggunakan pedang ini di Perang Uhud dan pengikut-pengikutnnya menggunakan pedang ini untuk menunjukkan kesetiaan kepada Nabi Muhammad SAW. Sekarang pedang ini berada di masjid Husain di Kairo Mesir.
3. Dhu Al Faqar
Foto diambil oleh Muhammad Hasan Muhammad al-Tihami, Suyuf al-Rasul wa ‘uddah harbi-hi(Cairo: Hijr, 1312/1992).
Dhu Al Faqar adalah sebuah pedang Nabi Muhammad SAW sebagai hasil rampasan pada waktu perang Badr. Dan dilaporkan bahwa Nabi Muhammad SAW memberikan pedang ini kepada Ali bin Abi Thalib, yang kemudian Ali mengembalikannya ketika Perang Uhud dengan bersimbah darah dari tangan dan bahunya, dengan membawa Dhu Al Faqar di tangannya.
Banyak sumber mengatakan bahwa pedang ini milik Ali Bin Abi Thalib dan keluarga. Berbentuk blade dengan dua mata.
4. Al Battar
Foto diambil oleh Muhammad Hasan Muhammad al-Tihami, Suyuf al-Rasul wa ‘uddah harbi-hi(Cairo: Hijr, 1312/1992).
Al Battar adalah sebuah pedang Nabi Muhammad SAW sebagai hasil rampasan dari Banu Qaynaqa. Pedang ini disebut sebagai ‘Pedangnya para nabi‘, dan di dalam pedang ini terdapat ukiran tulisan Arab yang berbunyi :
‘Nabi Daud AS, Nabi Sulaiman AS, Nabi Musa AS, Nabi Harun AS, Nabi Yusuf AS, Nabi Zakaria AS, Nabi Yahya AS, Nabi Isa AS, Nabi Muhammad SAW’.
Gambar ukiran nama-nama para nabi di dalamnya :
Di dalamnya juga terdapat gambar Nabi Daud AS ketika memotong kepala dari Goliath, orang yang memiliki pedang ini pada awalnya. Di pedang ini juga terdapat tulisan yang diidentifikasi sebagai tulisan Nabataean.
Sekarang pedang ini berada di Museum Topkapi, Istanbul. Berbentuk blade dengan panjang 101 cm. Dikabarkan bahwa ini adalah pedang yang akan digunakan Nabi Isa AS kelak ketika dia turun ke bumi kembali untuk mengalahkan Dajjal.Barangkali yg demikian adalah maksud Nabi Isa yg bersabda “Jangan kamu menyangka aku datang membawa damai.Aku datang membawa pedang..”Yg dimaksudkan ialah kedatangannya kali kedua dimana baginda akan berperang utk menghapuskan Dajjal serta sekalian orang-orang kafir dan menegakkan agama Islam.Jika benar pedang itulah yg kan baginda gunakan kelak berarti “sirih pulang ke ganggang” karena asalnya pedang itu adalah kepunyaan nenek moyangnya juga.
5. Hatf
Foto diambil oleh Muhammad Hasan Muhammad al-Tihami,
Suyuf al-Rasul wa ‘uddah harbi-hi(Cairo: Hijr, 1312/1992)
Hatf adalah sebuah pedang Nabi Muhammad SAW sebagai hasil rampasan dari Banu Qaynaqa. Dikisahkan bahwa Nabi Daud AS mengambil pedang ‘Al Battar’ dari Goliath sebagai rampasan ketika dia mengalahkan Goliath tersebut pada saat umurnya 20 tahun.
Allah SWT memberi kemampuan kepada Nabi Daud AS untuk ‘bekerja’ dengan besi, membuat baju baja, senjata dan alat perang, dan dia juga membuat senjatanya sendiri. Dan Hatf adalah salah satu buatannya, menyerupai Al Battar tetapi lebih besar dari itu.
Dia menggunakan pedang ini yang kemudian disimpan oleh suku Levita (suku yang menyimpan senjata-senjata barang Israel) dan akhirnya sampai ke tangan Nabi Muhammad SAW. Sekarang pedang ini berada di Musemum Topkapi, Istanbul. Berbentuk blade, dengan panjang 112 cm dan lebar 8 cm.
6. Al Mikhdham
Foto diambil oleh Muhammad Hasan Muhammad al-Tihami,
Suyuf al-Rasul wa ‘uddah harbi-hi(Cairo: Hijr, 1312/1992).
Ada yang mengabarkan bahwa pedang ini berasal dari Nabi Muhammad SAW yang kemudian diberikan kepada Ali bin Abi Thalib dan diteruskan ke anak-anaknya Ali. Tapi ada kabar lain bahwa pedang ini berasal dari Ali bin Abi Thalib sebagai hasil rampasan pada serangan yang dia pimpin di Syria.
Sekarang pedang ini berada di Museum Topkapi, Istanbul. Berbentuk blade dengan panjang 97 cm, dan mempunyai ukiran tulisan Arab yang berbunyi: ‘Zayn al-Din al-Abidin’.
7. Al Rasub
Foto diambil oleh Muhammad Hasan Muhammad al-Tihami,
Suyuf al-Rasul wa ‘uddah harbi-hi(Cairo: Hijr, 1312/1992).
Ada yang mengatakan bahwa pedang ini dijaga di rumah Nabi Muhammad SAW oleh keluarga dan sanak saudaranya seperti layaknya bahtera (Ark) yang disimpan oleh bangsa Israel.
Sekarang pedang ini berada di Museum Topkapi, Istanbul. Berbentuk blade dengan panjang 140 cm, mempunyai bulatan emas yang didalamnya terdapat ukiran tulisan Arab yang berbunyi: ‘Ja’far al-Sadiq’.
8. Al Qadib
Foto diambil oleh Muhammad Hasan Muhammad al-Tihami,
Suyuf al-Rasul wa ‘uddah harbi-hi(Cairo: Hijr, 1312/1992).
Al-Qadib berbentuk blade tipis sehingga bisa dikatakan mirip dengan tongkat. Ini adalah pedang untuk pertahanan ketika bepergian, tetapi tidak digunakan untuk peperangan.
Ditulis di samping pedang berupa ukiran perak yang berbunyi syahadat:
“Tidak ada Tuhan selain Allah, Muhammad Rasul Allah – Muhammad bin Abdallah bin Abd al-Mutalib.”
Tidak ada indikasi dalam sumber sejarah bahwa pedang ini telah digunakan dalam peperangan. Pedang ini berada di rumah Nabi Muhammad SAW dan kemudian hanya digunakan oleh khalifah Fatimid.
Sekarang pedang ini berada di Museum Topkapi, Istanbul. Panjangnya adalah 100 cm dan memiliki sarung berupa kulit hewan yang dicelup.
9. Qal’a
Foto diambil oleh Muhammad Hasan Muhammad al-Tihami,
Suyuf al-Rasul wa ‘uddah harbi-hi(Cairo: Hijr, 1312/1992).
Pedang ini dikenal sebagai “Qal’i” atau “Qul’ay.” Nama yang mungkin berhubungan dengan tempat di Syria atau tempat di dekat India Cina. Ulama negara lain bahwa kata “qal’i” merujuk kepada “timah” atau “timah putih” yang di tambang berbagai lokasi.
Pedang ini adalah salah satu dari tiga pedang Nabi Muhammad SAW yang diperoleh sebagai rampasan dari Bani Qaynaqa. Ada juga yang melaporkan bahwa kakek Nabi Muhammad SAW menemukan pedang ini ketika dia menemukan air Zamzam di Mekah.
Sekarang pedang ini berada di Museum Topkapi, Istanbul. Berbentuk blade dengan panjang 100 cm. Didalamnya terdapat ukiran bahasa Arab berbunyi: “Ini adalah pedang mulia dari rumah Nabi Muhammad SAW, Rasul Allah.”
Pedang ini berbeda dari yang lain karena pedang ini mempunyai desain berbentuk gelombang.
Inilah bukti yg telah dinubuatkan ke atas baginda di dalam Mazmur Bahwasanya beliau adalah pahlawan yang menyandang pedang
“…kemurahan tercurah pada bibirmu, sebab itu Allah telah memberkati engkau untuk selama-lamanya. Ikatlah pedangmu pada pinggang, hai pahlawan…. (Mazmur 45:2-3)
Wahai orang-orang kafir!Ucapkanlah Tidak ada Tuhan yg berhak disembah melainkan Allah dan nabi Muhammad itu adalah utusan Allah kalian pasti mendapat kejayaan.Jangan tunggu lama-lama nanti nyesel.Akhir kalam dengarlah pantun dari saya:
Hari ini hari Jumaat Hari esok hari Sabtu
Nabi Kita nabi Muhammad Tuhan kita Cuma satu.
Buah pelam di tepi pagar, Isinya sedap sungguh menggiurkan
Agama Islam agama yang benar, Isinya lengkap seluruh kehidupan
Isi lah paku di dalam saku, paku dicari dari seberang.
Cari lah Aku di dalam Aku, Aku ‘bersembunyi’ di dalam terang.
Mari difikir mari bertanya, Agama yang mana punya hakekat
Menjadi kafir apa gunanya, Cuma merana dunia akherat.
January 25, 2012 at 2:23 pm
Bung Ilham, Salut penyajian mu. Melengkapi daftar pustakaku
February 19, 2012 at 11:51 am
Hari ini Minggu besok Isnin, walaupun aku satu, bini dan selingkuhanku (mamad) buanyak. Lho, ngapain si nabi punya banyak pedang?? Mau berdakwah atau ngrampok??
November 20, 2010 at 3:01 am
@ilham,
* esok hari sabtu,lusa adalah minggu
janganlah sok tahu,kalau benar tak tahu
* setelah hari minggu,kemudian hari senin
setelah tuduh kitab palsu,kau ingin cari kebenaran
* Paku didapat, kemudian disebar
setelah diplagiat, tak malu di-syiar
* kayu dipaku dengan pukulan keras
bila hati membeku, janganlah bersikeras
* hari ini khusus, terlambatlah jangan
terimalah Yesus, terimalah keselamatan
November 20, 2010 at 3:45 am
Berikut ini disenaraikan karamah(kemuliaan) yg telah dikurniakan oleh Allah kepada para sahabat Rasulullah yg telah mengisi lembaran sejarah sebagai bukti kegemilangan mereka sebagai pewaris nabi.Sesungguhnya nabi tidak mewariskan harta benda tetapi baginda mewariskan peninggalan berupa ilmu dan sekaligus keimanan yg disertai ketakwaan kepada Allah.Hasil dari ketakwaan para sahabat nabi itu sehingga menampakkan karamah yg terbit dari diri mereka yg merupakan keajaiban-keajaiban dan pertolongan khas utk mereka daripada Allah Taala.
Dalam kitab Al-Thabaqat, Al-Subki menceritakan bahwa Abdullah bin ‘Umar pernah berbicara dengan seekor singa yang mengaum dan menghadang orang-orang di tengah jalan. Singa itu mengibaskan ekornya, lalu pergi. (Dikemukakan dalam kitab Hujjatullah ‘ala al-Alamin)
Riwayat ini juga dikemukakan dalam kitab Thabaqah karya Al-Munawi. Diceritakan bahwa ketika Abdullah bin ‘Umar sedang menempuh suatu perjalanan, ada seekor singa menghalangi orang-orang di tengah jalan. Ia menghentikan untanya, lalu turun menghampiri singa itu, menggosok telinganya, dan menyingkirkannya dari tengah jalan. Abdullah bin `Umar mengatakan bahwa ia pernah mendengar Rasuulah Saw bersabda, “Jika manusia hanya takut kepada Allah, maka tidak ada hal lain yang bisa menguasainya.”
Hal ini juga dinyatakan dalam kitab Al-Risalatal-Qusyairiyyah, “Sesungguhnya yang menguasai manusia adalah sesuatu yang menakutkannya. Jika manusia hanya takut kepada Allah, maka tak ada apa pun yang boleh menguasainya.”
Anas r.a. menceritakan bahwa `Ibad bin Basyar dan Asid bin Hadhir menemui Rasulullah Saw untuk satu keperluan, hingga mereka harus pulang larut malam, padahal malam begitu gelap. Keduanya berjalan dengan memegang tongkat. Salah satu tongkat itu mengeluarkan cahaya yang menerangi jalan mereka. Sewaktu keduanya berpisah jalan, tongkat satunya juga menyala, sehingga masing-masing berjalan diterangi cahaya tongkatnya sampai di rumah. (Riwayat Ibnu Sa’ad dan Al-Hakim yang dianggap sahih oleh Al-Baihayi dan Abu Na’im)
Dalam riwayat lain, Anas r.a menceritakan bahwa ada dua sahabat Nabi Saw keluar pada waktu malam yang gelap gulita. Di tangan mereka ada cahaya terang yang mirip lampu. Sewaktu mereka berpisah jalan, masing-masing berjalan diterangi cahaya itu sampai tiba di rumah.
Mundzir bin Amr menceritakan tentang kisah orang-orang utusan Nabi yang biasa mengajarkan Al-Qur’an dan Sunnah kepada kaumnya. Dalam kisah itu, ia menyebutkan bahwa Amir bin Thufail bertanya kepada Amr bin Umayyah, “Apakah engkau kenal rekan-rekanmu?”‘Amr bin Umayyah menjawab, “Ya.” Lalu Amir bin Thufail mengelilingi jenazah para syahid yang gugur dan menanyakan nasab mereka kepada Amr bin Umayyah, lalu bertanya, “Apakah kamu kehilangan salah scorang dari mereka?” Amr bin Umayyah menjawab,’Aku mencari budak Abu Bakar yang bernama Amir bin Fuhairah.” Amir bin Thufail bertanya lagi, “Bagaimana perilakunya?” Amr bin Umayyah menjawab, “Ia orang yang paling baik di antara kami.”
Amir bin Thufail berkata, “Aku akan memberitahukan keadaan Amir bin Fuhairah. Ia tertusuk tombak di medan perang, lalu tombak itu lepas sendiri. Kemudian jenazahnya diangkat ke langit, hingga, demi Allah, aku tidak bisa melihatnya lagi. Yang membunuhnya adalah seorang laki-laki dari suku Kilab bernama Jabbar bin Salma. Ketika Jabbar berhasil menusuknya, ia mendengar Amir bin Fuhairah berkata, `Demi Allah, aku menang.’
Lalu Mundzir, menemui Dhahhak bin Sufyan al-Kilabi dan menceritakan kisah Amir bin Fuhairah. Mundzir masuk Islam setelah mengetahui kisah Amir bin Fuhairah yang jeenazahnya diangkat ke langit dan tiada satu orang pun yang seperti itu. Dhahhak menulis hadis yang disandarkan kepada Rasulullah Saw. yang menyatakan bahwa para malaikat menguburkan jenazah Amir bin Fahirah dan menempatkan nya di surga yang tertinggi. (Riwayat Al Waqidi dari Mash’ab bin Tsabit dari Abdul Aswad dari `Urwah)
Menurut riwayat Al-Baihaqi, jenazah Amir bin Fuhairah mungkin diangkat ke langit, diletakkan lagi ke bumi, lalu hilang, senada dengan riwayat Bukhari dari jalur `Urwah yang menyatakan bahwa jenazah Amir bin Fuhairah diangkat ke langit, kemudian diletakkan kembali ke bumi, dan sampai saat ini belum ditemukan. Orang-orang mengatakan bahwa malaikat telah menguburkannya.
Al-Baihaqi juga meriwayatkan dari `Urwah yang terhubung dengan `Aisyah dengan redaksi, “Setelah peperangan, aku melihat jenazah Amir bin Fuhairah terangkat ke atas, berada di antara langit dan bumi, sampai aku tidak bisa melihatnya lagi.” Riwayat tersebut tidak menceritakan bahwa jenazahnya diturunkan kembali ke bumi, dan banyak riwayat yang menyatakan bahwa Amir bin Fuhairah dimakamkan di langit.
Ibnu Sa’ad juga meriwayatkan dari Waqidi dari Muhammad bun ‘Abdullah dari Al-Zuhri, dari `Urwah, dari Aisyah r.a. bahwa Amir bin Fuhairah naik ke atas langit, dan tidak dikctemukan jenazahnya. Orang-orang menceritakan bahwa malaikat telah menguburnya di langit.
Dalam kitab Al Aghani li Abi al-Faraj al-Ashbahani, kisah Ala’ bin Hadhrami diceritakan secara panjang lebar berdasarkan riwayat Muhammad bin Jarir. Munjab bin Rasyid (sahabat Rasulullah Saw) menuturkan kisah tersebut sebagai berikut, Abu Bakar mengutus Ala’ bin Hadhrami dan pasukannya unruk mcmerangi orang-orang murtad di Bahrain. Orang-orang muslim yang tidak murtad menyusul pasukan Ala’ sewaktu mereka, berjalan di padang terbuka. Ketika sampai di tengah-tengah padang itu, Allah memperlihatkan kekuasaan-Nya kepada mereka. Ala’ turun dari kendaraannya dan menyuruh pasukannya untuk turun.
Di tengah malam, unta-unta mereka lari ketakutan sampai tak tersisa satu pun, dengan membawa semua perbekalan dan tenda yang belum sempat mereka turunkan dari punggung unta-unta itu. Mereka tidak mengerti sekelompok hewan apa yang menyerang unta-unta itu, tetapi tidak menyerang diri mereka. Mereka saling memperingatkan untuk tetap waspada, lalu pemberi aba-aba menyuruh mereka berkumpul. Ala’ kemudian berkata, “Apa yang telah menyerang dan mengalahkan kalian?” Orang-orang mengadu kepadanya, “Kita terjebak di tengah-tengah padang pasir tanpa air. Jika kita di sini sampai besok meskipun matahari tidak menyengat, maka kita hanya pulang tinggal nama.” Ala’ berkata, “Jangan takut! Bukankah kalian orang-orang muslim? Bukankah kalian berjuang di jalan Allah! Bukankah kalian penolong-penolong agama Allah?” Mereka menjawab, “Ya.” Ala’ berkata lagi, “Bergembiralah! Demi Allah, Allah Yang Maha Suci dan Maha Luhur tidak akan menelantarkan kalian dalam kondisi seperti ini.”
Seorang muazin kemudian mengumandangkan azan shalat subuh ketika fajar terbit. Ala’ shalat bersama pasukannya. Sebagian dari mereka bersuci dengan tayammum, dan sebagian lagi masih dalam keadaan suci. Selesai shalat, Ala’ berlutut diikuti oleh pasukannya.Aa berdoa dengan sungguh-sungguh begitu juga pasukannya. Kemudian mereka melihat fatamorgana. Belum selesai Ala berdoa, mereka melihat fatamorgana lagi. Komandan perang berseru, ‘Air.” Ala’ berdiri dikuti oleh pasukannya. Mereka mendekati air itu, lalu minum dan mandi. Matahari belum begitu tinggi, ketika unta-unta datang dari berbagai arah mendekati mereka. Setiap orang menunggang satu unta, sehingga tak satu pun yang berjalan. Setelah minum, mereka merasa puas dan segar kembali, lalu melanjutkan perjalanan.
Pada waktu itu, Munjab bin Rasyid berjalan bersisian dengan Abu Hurairah. Setelah jauh dari tempat itu, Abu Hurairah bertanya kepada Munjab, “Menurutmu, di mana sumber air yang tadi kita pakai?” Munjab menjawab, “Aku orang yang paling mengetahui daerah ini.” Abu Hurairah berkata, “Kalau begitu, mari kita kembali sampai kau bisa menunjukkan kepadaku sumber air tersebut.” Munjab dan Abu Hurairah kembali ke tempat itu, tetapi keduanya tidak menemukan kolam dan jejak air itu. Munjab berkata kepada Abu Hurairah, “Demi Allah, meski aku tidak melihat kolam air, aku yakin ini tempat kita tadi, dan aku tidak pernah melihat air di tempat ini sebelumnya.” Kemudian Abu Hurairah melihat sekeliling, tiba-tiba ada kantong kulit penuh dengan air. Abu Hurairah berkata, “Hai Sahm, demi Allah, inilah tempat itu. Mari kita isi kembali kantong kulit kita, lalu letakkan di tepi lembah.” Munjab menimpah, “Ini adalah anugerah dan tanda kekuasaan Allah.” Munjab meyakini hal itu, lalu memuji Allah.
Kemudian Ala dan pasukannya melanjutkan perjalanan, hingga tiba di tempat bernama Hijr. Pasukan muslimin berperang dengan orangorang kafir dan berhasil mengalahkan mereka di sana. Orang-orang kafir melarikan diri ke daratan di seberang laut. Mereka menyeberangi laut dengan menggunakan kapal. Allah mengumpulkan mereka di daratan tersebut. Ala’ memerintahkan pasukannya mengejar mereka, dan berkhutbah, ‘Allah Yang Maha Agung dan Perkasa telah membuat kalian nenghadapi pasukan setan dan perang yang berat pada hari ini. Dia telah memperlihatkan tanda-tanda kekuasaan-Nya kepada kalian di daratan, agar kalian bisa mengambil pelajaran darinya untuk bisa menyeberangi laut ini. Bangkitlah untuk melawan musuh kalian, perlihatkan kepada mereka bahwa kalian bisa menyeberangi laut meski tanpa kapal, karena Allah juga telah mengumpulkan mereka di daratan tersebut.” Pasukannya menjawab, “Kami akan melakukannya, kami tidak akan takut. Demi Allah, kami telah berhasil menaklukkan padang sahara tadi maka kami yakin Allah akan menolong kami untuk menaklukkan lautan itu.”
Ala’ dan pasukannya melanjutkan perjalanan, sampai tiba di tepi laut. Mereka melintasi laut itu dengan naik kuda, beserta binatang angkutan, sekawanan unta, bagal, dan ada pula yang berjalan kaki. Ala membaca doa, “Wahai Zat Yang Maha Pengasih di antara Yang Pengasih, Yang Maha Mulia, Yang Maha Bijaksana, tempat berlindung, Yang Maha Hidup, Yang menghidupkan yang mati, Yang Maha hidup lagi Maha menegakkan, dada tuhan selain Engkau, wahai Tuhan kami.”
Mereka melintasi laut itu dengan izin Allah seperti berjalan di atas pasir, dan airnya hanya setinggi tapak kaki kuda. Laut itu biasanya ditempuh selama sehari semalam dengan naik kapal. Pasukan muslimin sampai ke daratan. Mereka tidak membiarkan satu orang musyrik pun lolos, menawan anak-anak, dan mengambil harta rampasan perang. Saat itu, pasukan berkuda kaum muslimin berjumlah 6000 orang dan yang berjalan kaki 2000 orang. Selesai perang, mereka pulang dengan menyeberangi laut seperti sebelumnya.
‘Atiq menyenandungkan syair tentang peristiwa ini:
Tidakkah engkau lihat Allah telah menundukkan laut-Nya
Dan menyerang orang-orang kafir dengan kekuasaan-Nya
Orang yang membelah lautan kembali datang kepada kami
Dengan keajaiban yang lebih mengagumkan daripada membelah lautan
Ala’ dan pasukannya pulang dari daratan itu kecuali orang-orang yang ingin tinggal di sana. Di Hijr, ada seorang rahib yang masuk Islam. Rahib itu ditanya, “Apa yang mendorongmu untuk masuk Islam?” Ia menjawab, ‘Ada tiga keajaiban pasukan muslimin yang telah aku saksikan, yakni munculnya banyak air di padang yang gersang, terbukanya jalan di lautan, dan doa mereka yang kudengar di udara seperti sihir. Setelah menyaksikannya, aku takut Allah akan memperburuk keadaanku bila aku tidak masuk Islam.” Orang-orang bertanya, “Doa apa itu?” Ia menjawab, “Ya Allah, Engkaulah Yang Maha Pcngasih dan Penyayang, tiddatuhan selain Engkau, Yang Menciptakan scgala sesuatu yang sebelumnya tidak ada, Yang Maha Kekal dan tidak pernah lengah, Yang Maha Hidup dan tidak akan mati, Yang menciptakan sesuatu yang terlihat dan tak terlihat. Setiap hari ada karena kehendak-Mu. Ya Allah yang mengetahui segala sesuatu tanpa belajar. Aku yakin kekalahan kaum kafir adalah kehendak dan perintah Allah.” Sahabat-sahabat Rasulullah Saw mendengarkan doa yang diungkapkan seorang rahib dari Hijr itu.
Renungan:Wahai orang-orang kafir sesungguhnya kejayaan manusia dan jin hanyalah di dalam agama sejauh mana mereka dapat mentaati perintah-perintah Allah dan menjauhi laranganNya.Ucapkanlah Tidak ada Tuhan yg berhak disembah melainkan Allah dan sesungguhnya nabi Muhammad itu adalah utusan Allah pastik kalian akan berjaya.Amin Ya Rabbal alamin.
February 19, 2012 at 12:02 pm
Ngapain Ham, bawa cerita dongeng quran dalam diskusi ini? Supaya orang males kunjungi website ini ya, karena tulisanmu yang tidak bermutu. Kita kunjungi website ini mau baca tulisan mantan muslims mengenai islam taoooo, bukan cerita dongeng kau.
November 22, 2010 at 11:02 am
Lagi kemuliaan para sahabat nabi…….
Ibnu Abi Dunya meriwayatkan bahwa ketika `Umar bin Khattab r.a. melewati pemakaman Baqi’, ia mengucapkan salam, “Semoga keselamatan dilimpahkan padamu, hai para penghuni kubur. Kukabarkan bahwa istri kalian sudah menikah lagi, rumah kalian sudah ditempati, kekayaan kalian sudah dibagi.” Kemudian ada suara tanpa rupa menyahut, “Hai `Umar bin Khattab, kukabarkan juga bahwa kami telah mendapatkan balasan atas kewajiban yang telah kami lakukan, keuntungan atas harta yang yang telah kami dermakan, dan penyesalan atas kebaikan yang kami tinggalkan.” (Dikemukakan dalam bab tentang kubur)
Yahya bin Ayyub al-Khaza’i menceritakan bahwa `Umar bin Khattab mendatangi makam seorang pemuda lalu memanggilnya, “Hai Fulan! Dan orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya, akan mendapat dua surga (QS Al-Ralunan [55]: 46). Dari liang kubur pemuda itu, terdengar jawaban, “Hai ‘Umar, Tuhanku telah memberikan dua surga itu kepadaku dua kali di dalam surga.” (Riwayat Ibnu ‘Asakir)
Al Taj al-Subki mengemukakan bahwa salah satu karamah Khalifah ‘Umar al-Faruq r.a. dikemukakan dalam sabda Nabi yang berbunyi, “Di antara umat-umat scbclum kalian, ada orang-orang yang menjadi legenda. Jika orang seperti itu ada di antara umatku, dialah ‘Umar.”
Diceritakan bahwa `Umar bin Khattab r.a. mengangkat Sariyah bin Zanim al-Khalji sebagai pemimpin salah satu angkatan perang kaum muslimin untuk menycrang Persia. Di Gerbang Nihawan, Sariyah dan pasukannya terdesak karena jumlah pasukan musuh yang sangat banyak, sehingga pasukan muslim hampir kalah. Sementara di Madinah, `Umar naik ke atas mimbar dan berkhutbah. Di tengah-tengah khutbahnya, ‘Umar berseru dengan suara lantang, “Hai Sariyah, berlindunglah ke gunung. Barangsiapa menyuruh esrigala untuk menggembalakan kambing, maka ia telah berlaku zalim!” Allah membuat Sariyah dan seluruh pasukannya yang ada di Gerbang Nihawan dapat mendengar suara `Umar di Madinah. Maka pasukan muslimin berlindung ke gunung, dan berkata, “Itu suara Khalifah `Umar.” Akhirnya mereka selamat dan memperoleh kemenangan.
Al Taj al-Subki menjelaskan bahwa ayahnya (Taqiyuddin al-Subki) menambahkan cerita di atas. Pada saat itu, Ali menghadiri khutbah `Umar lalu ia ditanya, “Apa maksud perkataan Khalifah `Umar barusan dan di mana Sariyah sekarang?” Ali menjawab, “‘Doakan saja Sariyah. Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya.” Dan setelah kejadian yang dialami Sariyah dan pasukannya diketahui umat muslimin di Madinah, maksud perkataan `Umar di tengah-tengah khutbahnya tersebut menjadi jelas
Menurut al Taj al-Subki, `Umar r.a. tidak bermaksud menunjukkan karamahnya ini, Allah-lah yang menampakkan karamahnya, sehingga pasukan muslimin di Nihawan dapat melihatnya dengan mata telanjang, seolah-olah `Umar menampakkan diri secara nyata di hadapan mereka dan meninggalkan majelisnya di Madinah sementara seluruh panca indranya merasakan bahaya yang menimpa pasukan muslimin di Nihawan. Sariyah berbicara dengan `Umar seperti dengan orang yang ada bersamanya, baik `Umar benar-benar bersamanya secara nyata atau seolah-olah bersamanya. Para wali Allah terkadang mengetahui hal-hal luar biasa yang dikeluarkan oleh Allah melalui lisan mereka dan terkadang tidak mengetahuinya. Kedua hal tersebut adalah karamah.
Dalam kitab al-Syamil, Imain al-Haramain menceritakan Karamah ‘Umar yang tampak ketika terjadi gempa bumi pada masa pemerintahannya. Ketika itu, ‘Umar malah mengucapkan pujian dan sanjungan kepada Allah, padahal bumi bergoncang begitu menakutkan. Kemudian `Umar memukul bumi dengan kantong tempat susu sambil berkata, “Tenanglah kau bumi, bukankah aku telah berlaku adil kepadamu.” Bumi kembali tenang saat itu juga. Menurut Imam al-Haramain, pada hakikatnya `Umar r.a. adalah amirul mukminin secara lahir dan batin juga sebagai khalifah Allah bagi bumi-Nya dan bagi penduduk bumi-Nya, sehingga `Umar mampumemerintahkan dan menghentikan gerakan bumi, sebagaimana ia menegur kesalahan-kesalahan penduduk bumi.
Imam al-Haramain juga mengemukakan kisah tentang sungai Nil dalam kaitannya dengan karamah ‘Umar. Pada masa jahiliyah, sungai Nil tidak mengalir sehingga setiap tahun dilemparlah tumbal berupa seorang perawan ke dalam sungai tersebut. Ketika Islam datang, sungai Nil yang seharusnya sudah mengalir, tenyata tidak mengalir. Penduduk Mesir kemudian mendatangi Amr bin Ash dan melaporkan bahwa sungai Nil kering sehingga diberi tumbal dengan melempar seorang perawan yang dilengkapi dengan perhiasan dan pakaian terbaiknya. Kemudian Amr bin Ash r.a. berkata kepada mereka, “Sesungguhnya hal ini tidak boleh dilakukan karena Islam telah menghapus tradisi tersebut.” Maka penduduk Mesir bertahan selama tiga bulan dengan tidak mengalirnya Sungai Nil, sehingga mereka benar-benar menderita.
‘Amr menulis surat kepada Khalifah `Umar bin Khattab untuk menceritakan peristiwa tersebut. Dalam surat jawaban untuk ‘Amr bin Ash, ‘Umar menyatakan, “Engkau benar bahwa Islam telah menghapus tradisi tersebut. Aku mengirim secarik kertas untukmu, lemparkanlah kertas itu ke sungai Nil!” Kemudian Amr membuka kertas tersebut sebelum melemparnya ke sungai Nil. Ternyata kertas tersebut berisi tulisan Khalifah ‘Umar untuk sungai Nil di Mesir yang menyatakan, “Jika kamu mengalir karena dirimu sendiri, maka jangan mengalir. Namun jika Allah Yang Maha Esa dan Maha Perkasa yang mengalirkanmu, maka kami mohon kepada Allah Yang Maha Esa dan Maha Perkasa untuk membuatmu mengalir.” Kemudian ‘Amr melempar kertas tersebut ke sungai Nil sebelum kekeringan benar-bcnar terjadi. Sementara itu penduduk Mesir telah bersiap-siap untuk pindah meninggalkan Mesir. Pagi harinya, ternyata Allah Swt. telah mengalirkan sungai Nil enam belas hasta dalam satu malam.
Imam al-Haramain menceritakan karamah `Umar lainnya. ‘Umar pernah memimpin suatu pasukan ke Syam. Kemudian ada sekelompok orang menghalanginya, sehingga ‘Umar berpaling darinya. Lalu sekelompok orang tadi menghalanginya lagi, `Umar pun berpaling darinya lagi. Sekelompok orang tadi menghalangi `Umar untuk ketiga kalinya dan ‘Umar berpaling lagi darinya. Pada akhirnya, diketahui bahwa di dalam sekelompok orang tersebut terdapat pembunuh ‘Utsman dan Ali r.a.
Dalam kitab Riyadh al-Shalihin, Imam Nawawi mengemukakan bahwa Abdullah bin `Umar r.a. berkata, “Setiap kali `Umar mengatakan sesuatu yang menurut prasangkaku begini, pasti prasangkanya itu yang benar.”
Saya tidak mengemukakan riwayat dari Ibnu `Umar tersebut dalam kitab Hujjatullah ‘ala al-’Alamin. Kisah tentang Sariyah dan sungai Nil yang sangat terkenal juga disebutkan dalam kitab Thabaqat al-Munawi al-Kubra. Dalam kitab tersebut juga dikemukakan karamah ‘Umar yang lainnya yaitu ketika ada orang yang bercerita dusta kepadanya, lalu `Umar menyuruh orang itu diam. Orang itu bercerita lagi kepada `Umar, lalu Umar menyuruhnya diam. Kemudian orang itu berkata, “Setiap kali aku berdusta kepadamu, niscaya engkau menyuruhku diam.”
Diccritakan bahwa ‘Umar bertanya kepada seorang laki-laki, “Siapa namamu?” Orang itu menjawab, “Jamrah (artinya bara).” `Umar bertanya lagi, “Siapa ayahmu?” Ia menjawab, “Syihab (lampu).” `Umar bertanya, “Keturunan siapa?” Ia menjawab, “Keturunan Harqah (kebakaran).” ‘Umar bertanya, “Di mana tempat tinggalmu?” Ia menjawab, “Di Al Harrah (panas).” `Umar bertanya lagi, “Daerah mana?” Ia menjawab, “Di Dzatu Lazha (Tempat api).” Kemudian `Umar berkata, “Aku melihat keluargamu telah terbakar.” Dan seperti itulah yang terjadi.Tampaknya lelaki itu coba mempermain-mainkan sayidina Umar.Dan perkataan Umar yg berbunyi “Aku melihat keluargamu telah terbakar” bukanlah merupakan doa atau sumpah hanya menyingkap kejadian yg berlaku.Mungkin kejadian itu berlaku ke atas lelaki tersebut sebagai balasan Allah di atas sikapnya yg mempersenda-sendakan Sayidina Umar yg merupakan sahabat nabi dan seorang yg dikasihi Allah.
Fakhrurrazi dalam tafsir surah Al-Kahfi menceritakan bahwa salah satu kampung di Madinah dilanda kebakaran. Kemudian `Umar menulis di secarik kain, “Hai api, padamlah dengan izin Allah!” ‘Secarik kain itu dilemparkan ke dalam api, maka api itu langsung padam.
Fakhrurrazi menceritakan bahwa ada utusan Raja Romawi datang menghadap `Umar. Utusan itu mencari rumah `Umar dan mengira rumah ‘Umar seperti istana para raja. Orang-orang mengatakan, “‘Umar tidak memiliki istana, ia ada di padang pasir sedang memerah susu.” Setelah sampai di padang pasir yang ditunjukkan, utusan itu melihat `Umar telah meletakkan kantong tempat susu di bawah kepalanya dan tidur di atas tanah. Terperanjatlah utusan itu melihat `Umar, lalu berkata, “Bangsa-bangsa di Timur dan Barat takut kepada manusia ini, padahal ia hanya seperti ini. Dalam hati ia berjanji akan membunuh `Umar saat sepi seperti itu dan membebaskan ketakutan manusia terhadapnya. Tatkala ia telah mengangkat pedangnya, tiba-tiba Allah mengeluarkan dua harimau dari dalam bumi yang siap memangsanya. Utusan itu menjadi takut sehingga terlepaslah pedang dari tangannya. ‘Umar kemudian terbangun, dan ia tidak melihat apa-apa. ‘Umar menanyai utusan itu tentang apa yang terjadi. Ia menuturkan peristiwa tersebut, dan akhirnya masuk Islam.
Menurut Fakhrurrazi, kejadian-kejadian luar biasa di atas diriwayatkan secara ahad (dalam salah satu tingkatan sanadnya hanya ada satu periwayat). Adapun yang dikisahkan secara mutawatir adalah kenyataan bahwa meskipun `Umar menjauhi kekayaan duniawi dan tidak pernah memaksa atau menakut-nakuti orang lain, ia mampu menguasai daerah Timur dan Barat, serta menaklukkan hati para raja dan pemimpin. Jika anda mengkaji buku-buku sejarah, anda tak akan menemukan pemimpin seperti ‘Umar, sejak zaman Adam sampai sekarang. Bagaimana ‘Umar yang begitu menghindari sikap memaksa bisa menjalankan politiknya dengan gemilang. Tidak diragukan lagi, itu adalah karamahnya yang paling besar.
Pada masa pemerintahan `Umar, kaum muslimin ditimpa kekeringan. ‘Umar dan ‘Abbas r.a. keluar rumah untuk shalat istisqa’. ‘Umar berdiri dan mengangkat kedua lengannya ke atas, lalu berdoa, “Ya Allah, kami mendekatkan diri kepada-Mu melalui paman Nabi-Mu. Engkau pernah berfirman dan firman-Mu pasti benar, Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak muda yang yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdoa, sedang ayahnya adalah orang yang saleh (QS Al-Kahfi [18]: 82). Kekayaan itu terjaga karena kesalehan ayah mereka. Oleh karena itu ya Allah, jagalah NabiMu karena pamannya. Kami sungguh-sungguh mendekati-Mu untuk memohon pertolongan dan ampunan dengan perantaraan paman NabiMu.”
Selanjutnya `Umar menghadap kepada orang-orang dan membaca ayat, Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan lebat untukmu. Dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, mengadakan untukmu kebun-kebun dan sungai-sungai. (QS Nuh [71]: 10-12)
‘Abbas merasa sangat sedih, air matanya menetes, jari telunjuknya berputar di atas dadanya, sembari berdoa, “Ya Allah, Engkaulah Pelindung, jangan biarkan kami tersesat. Jangan biarkan kami putus asa, terlantar di dalam rumah. Semua kaumku baik yang besar maupun kecil telah lemah, karena itu mengadu kepada-Mu. Engkau mengetahui rahasia dan hal yang samar. Ya Allah, hujan mereka dengan hujan-Mu. Kaumku mendekatkan diri kepada-Mu melalui perantaraanku karena kedudukanku yang dekat dengan Nabi-Mu Saw.”
Tiba-tiba muncul mendung besar, lalu orang-orang berkata, “Lihatlah! Lihatlah!” Mendung itu semakin menghitam dan digerakkan angin, lalu turunlah hujan lebat. Kaum muslimin tidak juga beranjak dari tempat itu sampai kemudian mereka harus menyingsingkan pakaian karena air telah mencapai lutut. Mereka menggandeng ‘Abbas, mengusap selendangnya, dan berkata, “Semoga kebahagiaan terlimpah untukmu, wahai orang yang menyirami Mekkah dan Madinah, sehingga Allah menyuburkan tanah dan negeri kami, serta mengasihi hamba-hamba-Nya.” (Riwayat Al Taj al-Subki).
Ibnu Atsir menccritakan dalam kitab Usud al-Ghabah bahwa ‘Umar bin Khattab shalat istisqa’ dengan ‘Abbas r.a. ketika kaum muslimin dilanda kekeringan, lalu Allah menurunkan hujan dan menyuburkan bumi kembali karena kemulaan Abbas. ‘Umar berkata, “Demi Allah, ini adalah wasilah kepada Allah.
Hasan bin Tsabit juga menyenandungkan syair:
Mintalah kepada sang imam.
Karena kegersangan telah lama melanda
Mendung mencurahkan hujan berkat kemuliaan Abbas
Paman Nabi dan saudara kandung ayahandanya
Tang mewarisi mendung darn Nabi-Mu untuk umat manusia
Karena ia, Allah menghidupkan negeri ini
Menghijau segenap penjurunya, setelah lama mengering
Wahai orang-orang Kafir!Ucapkanlah Tidak ada Tuhan yg berhak disembah melainkan Allah dan nabi Muhammad itu adalah utusan Allah pasti kalian berjaya.Amin Ya Rabbal alamin.
November 23, 2010 at 5:47 am
Lagi kemuliaan sahabat2 nabi Muhammad….
Jabir menceritakan bahwa ketika ayahnya gugur dalam perang Uhud, bibinya menangis. Kemudian Rasulullah Saw berkata, “Jangan menangisinya, untuk apa kau menangisinya, padahal para malaikat memayungi Abdullah dengan sayap mereka, kemudian mengangkatnya.” (HR Bukhari dan Muslim)
Jabir r.a. berkata, “Pada masa pemerintahan Mu`awiyah, aku membongkar pusara ayahku. Lalu aku mengeluarkan jenazahnya, ternyata masih sama seperti ketika dimakamkan, tidak mengalami perubahan sedikit pun. Akhirnya aku memakamkannya kembali.” (Riwayat Al-Baihaqi)
Dalam riwayat lain Jabir bercerita, “Ketika Mu`awiyah ingin membuat saluran dari mata air di bukit Uhud, kami disuruh menggali makam para pahlawan perang Uhud. Kami mendatangi pemakaman mereka, membongkar makam mereka yang sudah tertutup pohon-pohon kurma selama hampir 40 tahun, dan mengeluarkan jenazah mereka. Kemudian ada sekop seorang penggali yang mengenai kaki Hamzah, ternyata kakinya masih mengucurkan darah.” (Riwayat Ibnu Sa’ad, Al-Baihaqi, dan Abu Na`im )
Versi lain menyebutkan bahwa ketika jenazah Abdullah, ayah Jabir, dikeluarkan dan pusaranya, posisi tangan Abdullah berada di atas luka yang dialaminya ketika perang Uhud. Sewaktu tangannya disingkirkan dari lukanya, luka itu mengucurkan darah, dan ketika dikembalikan ke posisi semula, darah itu berhenti mengalir. Jabir berkata, “Dalam liang lahatnya, aku melihat ayahku seperti sedang tidur. Kain kafan yang membungkus jenazahnya dan dan mantel pendek tanpa lengan yang membalut kakinya sama sekali tidak berubah, padahal sudah terkubur selama 46 tahun. Kemudian ada sekop seorang penggali yang mengenai kaki salah seorang pahlawan perang Uhud, dan mengucurlah darah dari kakinya.” Abu Sa’id Al-Khudri menegaskan cerita di atas bahwa setelah peristiwa itu, orang yang menyangkal karamah sahabat akhirnya mau menerima kebenaran. Para penggali makam mereka mencium harum minyak wangi, setiap kali mereka mencangkul. (Riwayat Al-Baihaqi dari Al Wagidi)
Dalam kitab Kasyfal-Ghummah, Imam Sya’rani juga mengungkapkan karamah Abdullah, ayah Jabir, disertai beberapa tambahan, meskipun sebagian besar sama dengan cerita-cerita sebelumnya. Jabir r.a. bercerita, “Banjir telah menggerus pusara ayahku, juga satu pusara lain yang ada di sampingnya, maka kami mengeluarkan jenazah keduanya. Ternyata keadaaan kedua jenazah masih utuh seperti ketika di semayamkan waktu perang Uhud. Aku melihat posisi tangan ayahku berada di atas lukanya, lalu aku menggeser posisi tangannya tetapi darahnya mengucur, sehingga kukembalikan ke posisi semula, padahal waktu antara perang Uhud dengan terjadinya banjir yang menggerus makam ayahku itu 40 tahun. Jenazah ayahku tidak berubah sedikit pun, hanya ada beberapa bulu jenggotnya yang jatuh ke tanah.”
Imam Sya’rani juga meriwayatkan bahwa Jabir mengeluarkan jenazah ayahnya setelah dikubur selama 6 bulan, karena ia dikuburkan bersama pahlawan perang Uhud lain dalam satu liang lahat. Jabir berkata, “Hatiku baru tenang setelah aku mengeluarkan jenazah ayahku dan memakamkannya kembali dalam liang lahat tersendiri.” Tak satu pun sahabat yang menyangkal ucapan Jabir.
Diceritakan pula bahwa ketika Mu`awiyyah r.a. ingin membuat saluran dari mata air di bukit Uhud, para pekerja memberitahukan bahwa saluran itu hanya bisa dibuat dengan melewati makam para pahlawan perang Uhud. Maka Mu’awiyyah menyuruh mereka menggali makam makam itu. Jabir r.a. berkata, `Aku sungguh-sungguh melihat jenazah para pahlawan perang Uhud yang dipanggul di atas pundak para pekerja seperti orang yang sedang tidur. Kemudian ada sekop yang mengenai bagian tubuh Hamzah r.a., lalu mengucurlah darah darinya.”
Thalhah bin `Ubaidillah r.a. bercerita, “Aku mencari sesuatu di dalarn hutan sampai malam menjelang. Lalu aku singgah di pusara Abdullah bin Amr bin Haram. Aku mendengar bacaan Al-Qur’an yang sangat merdu dari dalam pusaranya dan belum pernah kudengar suara semerdu itu. Kemudian aku menemui Rasulullah Saw dan menceritakan kejadian itu. Beliau berkata, “Itu suara Abdullah. Tahukah kamu bahwa Allah mengambil ruh para syahid, meletakkannya dalam lampu gantung dari zabarjad dan yaqut (sejenis batu mulia), kemudian menggantungnya ditengah-tengah surga. Apabila malam menjelang, Allah melepas ruh-ruh mereka, dan ketika fajar menyingsing, ruh-ruh mereka dikembalikan ke tempat semula.” (Riwayat Ibnu Mandah)
Ibnu ‘Abbas r.a. menceritakan bahwa salah seorang sahabat Nabi Saw membuat kemah di atas sebuah makam karena ia tidak tahu bahwa itu adalah makam. Dari dalam makam itu, terdengar suara orang membaca surah Al-Mulk sampai selesai. Maka ia kemudian menemui Nabi Saw. dan melaporkan kejadian tersebut. Beliau bersabda, “Surah Al Mulk itu berguna untuk menghalangi dan menyelamatkan manusia dari siksa kubur.” (Hadis ini diriwayatkan oleh Tirmidzi yang menganggapnya hasan, Al-Hakim yang menganggapnya sahih, dan Al-Baihaqi)
Setelah Abu ‘Abbas bin Jabbar shalat bersama Rasulullah Saw, ia hendak pulang ke rumahnya di perkampungan Bani Haritsah. Malam itu gelap gulita, ia berjalan dengan cahaya yang keluar dari tongkatnya sampai ia memasuki rumahnya. (Diriwayatkan oleh Al-Hakim, Al-Baihaqi dan Abu Na’im)
‘Aisyah r.a. bercerita, ‘Ayahku (Abu Bakar Shiddiq) memberiku 20 wasaq kurma (1 wasaq = 60 gantang) dari hasil kebunnya di hutan. Menjelang wafat, beliau berwasiat, `Demi Allah, wahai putriku, tidak ada seorang pun yang lebih aku cintai ketika aku kaya selain engkau, dan lebih aku muliakan ketika miskin selain engkau. Aku hanya bisa mewariskan 20 wasaq kurma, dan jika lebih, itu menjadi milikmu. Namun, pada hari ini, itu adalah harta warisan untuk dua saudara laki-laki dan dua saudara perempuanmu, maka bagilah sesuai aturan Al-Qur’an.’ Lalu aku berkata, `Ayah, demi Allah, beberapapun jumlah harta itu, aku akan memberikannya untuk Asma’, dan untuk siapa lagi ya?’ Abu Bakar menjawab, `Untuk anak perempuan yang akan lahir.”‘ (Hadis sahih dari `Urwah bin Zubair)
Menurut Al Taj al-Subki, kisah di atas menjelaskan bahwa Abu Bakar r.a. memiliki dua karamah. Pertama, mengetahui hari kematiannya ketika sakit, seperti diungkapkan dalam perkataannya, “Pada hari ini, itu adalah harta warisan.” Kedua, mengetahui bahwa anaknya yang akan lahir adalah perempuan. Abu Bakar mengungkapkan rahasia tersebut untuk meminta kebaikan hari `Aisyah r.a. agar memberikan apa yang telah diwariskan kepadanya kepada saudara-saudaranya, memberitahukan kepadanya tentang ketentuan-ketentuan ukuran yang tepat, memberitahukan bahwa harta tersebut adalah harta warisan dan bahwa ia memiliki dua saudara perempuan dan dua saudara laki-laki. Indikasi yang menunjukkan bahwa Abu Bakar meminta kebaikan hati ‘Aisyah adalah ucapannya yang menyatakan bahwa tidak ada seorang pun yang ia cintai ketika ia kaya selain `Aisyah (putrinya). Adapun ucapannya yang menyatakan bahwa warisan itu untuk dua saudara laki-laki dan dua saudara perempuanmu menunjukkan bahwa mereka bukan orang asing atau kerabat jauh.
Kctika menafsirkan surah Al-Kahfi, Fakhrurrazi sedikit mengungkapkan karamah para sahabat, di antaranya karamah Abu Bakar r.a. Ketika jenazah Abu Abu Bakar dibawa menuju pintu makam Nabi Saw., jenazahnya mengucapkan “Assalamu alaika ya Rasulullah, Ini aku Abu Bakar telah sampai di pintumu.” Mendadak pintu makam Nabi terbuka dan terdengar suara tanpa rupa dari makam, “Masuklah wahai kekasihku.”
Al-Qadhi Abu Tayyib bercerita, “Ketika kami sedang berdiskusi, datanglah seorang pemuda Khurasan bertanya tentang ternak yang tidak diperah sehingga ambing susunya penuh, dan meminta dalil tentangnya. Ia diberi dalil hadis riwayat Bukhari dan Muslim yang berasal dari Abu Hurairah. Dia yang pengikut Hanafi berkata, `Hadis Abu Hurairah tidak bisa diterima.’ Belum sempat dia menyelesaikan pembicaraannya, tibatiba ada seekor ular jatuh menimpanya sehingga orang-orang lari terbirit-birit. Ular tersebut hanya mengejar pemuda itu, tidak yang lainnya. Lalu ia berkata, ‘Celaka, celaka.’ Ular tersebut kemudian hilang tanpa jejak.” (Dituturkan oleh Al-Munawi dalam kitabAl-Tabagatal-Qubra pada pembahasan tentang biografi Ibnu Najjar dan perjalanan Ibnu Shalah)
Ibnu `Abbas r.a. menceritakan bahwa Nabi Saw mengangkat Abu Musa sebagai pemimpin pasukan laut. Ketika kapal mereka sedang berlayar pada suatu malam, tiba-tiba ada suara memanggil dari atas mereka, “Bukankah aku sudah memberitahu kalian bahwa Allah telah menentukan qadla atas diri-Nya, bahwa barangsiapa dahaga karena Allah pada hari yang panas, maka Allah benar-benar akan memberinya minum pada hari dahaga.” (Diriwayatkan oleh Al-Hakim)
Abu Umamah bercerita, “Rasulullah Saw mengutusku untuk menyeru kaumku masuk Islam. Aku menemui mereka dengan perut lapar, sementara mereka sedang makan darah, lalu mereka berseru kepadaku, `Kemarilah!’ Aku menjawab, `Aku datang untuk melarang kalian memakannya.’ Mereka mentertawakan, mendustakan, dan mengusirku, sementara aku merasa lapar, haus, dan sangat letih. Kemudian aku tertidur. Aku bermimpi didatangi sescorang yang memberiku sebuah wadah susu. Aku mengambilnya, meminumnya, merasa sangat kenyang dan segar kembali, hingga perutku buncit. Sebagian kaumku berkata kepada sebagian yang lain, `Seorang pemimpin mendatangi kalian, tetapi kalian tolak. Temuilah ia, berilah makan dan minum yang ia sukai!’ Kemudian mereka datang membawakan makanan dan minuman. Aku menjawab, Aku tidak membutuhkannya.’ Mereka berkata, `Kami melihatmu sangat membutuhkannya.’ Jawabku, Allah telah memberiku makan dan minum.’ Lalu kuperlihatkan perutku, dan akhirnya mereka masuk Islam.” (Riwayat Al-Baihaqi dan Ibnu ‘Asakir dari Abu Ghalib)
Dalam riwayat lain dari Ibnu ‘Asakir disebutkan bahwa Abu Umamah berkata, “Aku mengajak kaumku untuk masuk Islam, tetapi mereka menolak. Aku lalu berkata, `Berilah aku minum, karena aku sangat haus.’ Mereka menjawab, `Tidak akan kami beri, kami akan membiarkanmu mati kchausan.’ Hari itu terasa sangat panas, kututup kepalaku dengan mantel, lalu tertidur dalam teriknya matahari. Kemudian aku bermimpi didatangi seseorang dengan membawa gelas kaca yang indah yang belum pernah terlihat oleh seorang pun. Di dalamnya ada minuman yang teramat lezat yang belum pernah dirasakan oleh scorang pun, aku meminumnya. Ketika minumanku habis, aku bangun. Demi Allah, aku tidak merasa haus dan lapar lagi, setelah meminumnya.”
Sehari sebelum perang Uhud, ‘Abdullah bin Jahsy berdoa, “Ya Allah, sungguh aku bersumpah kepada-Mu. Jika besok aku berperang melawan musuh, lalu mereka membunuhku, membelah perutku, dan memotong hidung serta telingaku. Kemudian Engkau bertanya mengapa aku melakukan itu, maka aku akan menjawab, `Karena-Mu.’ ”
Ketika perang Uhud berkobar, Abdullah bin Jahsy gugur dan diperlakukan oleh musuh seperti dalam doanya. Laki-laki yang mendengar doanya berkata, “Aku sungguh berharap semoga Allah mengabulkan akhir sumpahnya seperti Dia mengabulkan awal sumpahnya.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad, Al-Hakim, dan Al-Baihaqi, dari Sa’id bin Musayyab)
Anas meiniliki sebidang tanah, penjaganya mengadu bahwa tanahnya kekeringan. Kemudian Anas mengerjakan shalat, lalu bertanya, “Apakah kamu melihat sesuatu?” Penjaga tanahnya menjawab, “Tidak.” Anas shalat lagi, lalu bertanya, “Apakah kamu melihat sesuatu?” Penjaga itu menjawab, “Aku melihat sayap-sayap beterbangan dari awan.”
Anas shalat lagi, lalu berdoa hingga langit menurunkan hujan dan bumi segar kembali. Anas berkata, “Lihatlah, di mana hujan itu turun!” Penjaga itu berkata, “Hanya di atas tanahmu.” (Diceritakan oleh Syaikh ‘Ulwan al-Hamwi dalam kitab Nasamat al-Ashar dan Al-Bazili dalam kitab Ghayat al Maram yang memuat sejarah para periwayat hadis Shahih Bukhari)
Anas r.a. menceritakan bahwa pada perang Uhud pamannya (Anas bin al-Nadhar) berkata, “Demi Zat yang menguasai jiwaku, aku mencium wangi surga di bawah bukit Uhud, sungguh itu benar-benar wangi surga.” Anas bin Nadhar r.a. kemudian mati syahid dalam perang itu. (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim)
Asid adalah orang yang paling merdu bacaan Al-Qur’annya. Ia bercerita, ‘Pada suatu malam aku membaca surah Al-Baqarah, sementara kudaku dalam keadaan terikat, di sampingku terbaring anak laki-lakiku yang masih kecil. Tiba-tiba kudaku berputar-putar, aku berdiri karena mencemaskan anakku. Aku melanjutkan membaca Al-Qur’an, dan kuda itu berputar-putar lagi. Aku kembali bangkit karena mencemaskan anakku. Aku kembali membaca surah Al-Baqarah, kudaku berputar-putar lagi. Maka aku mendongakkan kepalaku, terlihat ada sesuatu seperti bayangan mirip lampu turun dari langit. Kejadian tersebut membuatku takut, lalu aku terdiam. Esok paginya, aku segera menemui Rasulullah dan menceritakan kejadian semalam. Beliau berkata, `Itu malaikat, mereka mendekat karena ingin mendengar suaramu. Seandainya kamu membaca sampai pagi, tentu orang-orang juga akan melihat mereka.”‘ (Diriwayatkan oleh Ibnu Atsir dalam kitab Usud al-Ghabah)
Dalam kitab Al-’Ulum al-Fakhirah fi al-Nazhri fi Umur al-Akhirab, Sayyid `Abdurrahman bin Muhammad al Tsa`labi al-Ja`fari al-Maghribi, yang dimakamkan di Aijazair, mengemukakan riwayat Anas r.a. yang menceritakan bahwa Rasulullah Saw berkata kepada Fari’ah, “Sesungguhnya anak laki-lakimu, Ibrahim, telah mati.” Fari’ah lalu berkata, “Sungguhkah,ya Rasululullah?” Rasul menjawab, “Ya.” Fari’ah lalu berdoa, “Segala puji bagi Allah. Ya Allah, Engkau tahu bahwa aku berhijrah kepadaMu dan kepada Nabi-Mu dengan harapan agar Engkau menolongku dalam setiap kesulitan. Oleh karena itu, jangan Engkau timpakan musibah ini atasku.” Rasulullah membuka penutup wajah anak Fari’ah, kemudian anak itu hidup kembali dan makan bersama kami.
Hikayat ini juga dituturkan oleh Ibnu Qattan dan `Iyadh dari Anas r.a. dengan redaksi, `Ada seorang pemuda dari golongan Anshar meninggal dunia. Ia mempunyai seorang ibu yang lemah dan buta. Kami mengafani jenazahnya dan menghibur hati ibunya agar sabar. Kemudian ibunya bertanya, `Benarkah putraku telah mati?’ Kami menjawab, `Ya.’ Ibunya lalu berdoa, `Ya Allah, Engkau tahu bahwa aku benar-benar berhijrah kepada-Mu dan kepada Nabi-Mu.’ Kisah selanjutnya sama dengan hadis di atas. Riwayat lain dan Ibnu Qattan menceritakan bahwa ketika itu, Allah Swt. menghidupkan anaknya, lalu anak itu makan di hadapan Rasululahh Saw.
Kisah tersebut juga saya kemukakan dalam bab IV kitab Hujjatullah ‘ala al-Alamin. Anas r.a. berkata, “Ketika kami sedang berada di beranda masjid di hadapan Rasulullah Saw, datanglah seorang perempuan tua dan buta yang ikut hijrah membawa putranya yang telah baligh. Tak lama kemudian, putranya terkena penyakit yang scdang mewabah di Madinah. Anak itu sakit beberapa hari, kemudian meninggal dunia. Nabi Saw. menutupkan mata anak itu dan memerintahkan kami untuk mempersiapkan pemakamannya. Ketika kami akan memandikannya, Rasulullah Saw berkata, Anas, panggillah ibunya dan beritahukan kabar ini kepadanya.’ Aku memberitahu ibunya, ia datang lalu duduk di depan kedua kaki anaknya. Ia memegang kedua kaki anaknya, dan bertanya, ‘Benarkah anakku mati?’ Kami menjawab, ‘Ya.’ Ibu itu berdoa, ‘Ya Allah, Engkau tahu aku benar-benar telah menyerahkan diri kepada-Mu dengan sukarela, meninggalkan berhala-berhala dengan sungguh-sungguh, dan berhijrah kepada-Mu karena rasa cinta.Ya Allah, janganlah Engkau masukkan aku ke dalam golongan penyembah berhala, dan janganlah Engkau timpakan musibah yang tidak mampu aku pikul.’ Demi Allah, belum sempat ibu itu menyelesaikan doanya, kedua kaki anaknya bergerak-gerak dan menyibakkan pakaian yang menutupi wajahnya. Kemudian anak itu makan bersama kami dan Rasulullah Saw. Anak itu hidup kembali sampai Nabi Saw dan ibunya wafat.” (HR Ibnu ‘Adiy, Ibnu Abi Dunya, Al-Baihagi, dan Abu Na’im)
Wahai orang-orang kafir!Ucapkanlah Sesungguhnya tidak ada Tuhan yg berhak disembah melainkan Allah dan nabi Muhammad itu adalah utusan Allah pasti kalian berjaya.Amin Ya Rabbal alamin.
February 19, 2012 at 11:54 am
Ini si ilham mikir, orang berkunjung ke situs ini mau baca tulisannya apa??
Aku mengunjungi situs ini mau lihat tulisan dari mantan-mantan muslim, bukan orang yang cetek pengetahuannya.
Udah beberapa kali dibilangin, jangan bawa cerita dongeng quran disini sebagai dasar diskusi. Gak level ah.
February 19, 2012 at 11:55 am
Oalah, lagi2 cerita dongeng quran, yang nulis auloh, dikirim dari langit kepada si mamad.
Males ah!
November 23, 2010 at 2:06 pm
Lagi kemuliaan para sahabat nabi….
Jundub bin Makits al-Jahni bercerita, “Rasulullah Saw mengirim Ghalib bin Abdullah al-Laitsi beserta pasukannya termasuk aku untuk nenyerang Bani al-Muluh di Al-Kadiyah Kami menyerang mereka dan berhasil memperoleh rampasan perang berupa binatang ternak. Tiba-tiba muncullah penolong Bani al-Muluh tanpa kami perkirakan sebeumnya. Kami pun keluar dengan membawa ternak-ternak itu. Kami nenemui Bani al-Muluh hingga mereka dapat melihat kchadiran kami karena kami dan mereka berada di lembah di antara dua gunung. Kami berada di salah satu sisi lembah. Tiba-tiba Allah telah memenuhi kedua isi lembah itu dengan air. Demi Allah, padahal pada hari itu tak ada mendung dan tidak turun hujan. Air itu tiba-tiba datang sehingga tak ada seorang pun yang bisa melaluinya. Mereka hanya bisa diam menatap kami karena terhalang air sehingga tidak dapat mengejar kami.” Pada hakikatnya, kejadian ini adalah tanda-tanda kebenaran agama Islam bukan semata-mata karamah Ghalib. (Riwayat Ibnu Sa’ad)
Hajar bin ‘Adiy r.a.dan sahabat-sahabatnya dimakamkan di desa Adzra’, wilayah Syam (Suriah). Mereka dibunuh pada masa kekhalifahan Mu’awiyyah r.a. Rasulullah pemah meramalkan nasib mereka dalam sabdanya, ‘Di Adzra’ akan terbunuh orang-orang yang dicintai oleh Allah dan para panghuni langit.”
Hajar adalah orang yang selalu menjaga wudhu dan selalu dalam keadaan suci. Sewaktu dipenjara, ia ‘mimpi basah’ (ihtilam), maka ia meminta air kepada sipir untuk mandi. Sipir menjawab, “Aku hanya
punya air untuk minummu.” Hajar berkata, “Berikan padaku! Akan aku gunakan untuk bersuci.” Sipir itu berkata, “Tak akan kuberikan, kalau kamu mati kehausan, atasanku akan membunuhku.”
Selanjutnya Hajar berdoa kepada Allah agar menurunkan hujan. Akhirnya hujan turun, sehingga Hajar dapat bersuci. Para penghuni penjara merajuk kepadanya, “Mintalah kepada Allah agar melepaskan kami dan engkau!” Hajar menegaskan, “Aku tidak suka melakukannya karena aku berada di sini karena kehendak dan takdir-Nya. Aku memohon hujan karena berkaitan dengan ibadah.” Syaikh al-Hifni mengatakan, “Demikianlah perilaku orang-orang yang selalu dekat dengan Allah.” (Dikemukakan oleh Syaikh al-Hifni dalam catatan pinggir atas kitab Al Jami`al-Shagir)
Hamzah al-Aslami berccrita, “Kami melakukan perjalanan jauh bersama Nabi Saw. Pada suatu malam, kami terpisah karena begitu gelapnya. Tiba-tiba jari-jari tanganku mengeluarkan cahaya sehingga para sahabat Nabi Saw. bisa berkumpul kembali mengikuti cahaya itu, dan tak satu pun yang tersesat. Jari-jariku benar-benar telah mengeluarkan cahaya.” (Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab Al-Tarikh, Al-Baihaqi dan Abu Na’im)
`Ubaidah adalah orang yang paling lanjut usianya dari golongan kaum muslimin yang ikut perang Badar. Dalam perang itu, kakinya terpotong. Lalu Rasulullah Saw meletakkan kepala `Ubaidah di pangkuannya. ‘Ubaidah kemudian berkata, “Ya Rasulullah, seandainya Abu Thalib melihatku, tentu ia akan tahu bahwa aku sesuai dengan syair yang dilantunkannya:
Kami akan menyelamatkari Muhammad meski harus memerangi sekitarnya
Melupakan anak dan istri kami”
`Ubaidah kembali bersama Rasulullah Saw daril perang Badar, lalu ia wafat di Shafra’. Ada yang menceritakan bahwa ketika Nabi Saw bersama sahabat-sahabatnya sampai di sana setelah `Ubaidah wafat, para sahabat berkata kepada beliau, “Kami mencium harum minyak wangi.” Beliau berkata, “Kalian pasti menciumnya karena ini adalah pusara Abu Mu’awiyah.” (Riwayat Ibnu Atsir dalam kitab Usud al-Ghabah)
Ketika terbunuh, `Ubaidah berusia 63 tahun, tetapi wajahnya terlihat sangat tampan. (Riwayat Ibnu Mandah, Abu Na’im, dan ‘Umar bin Abdil Barr)
Ketika Aswad al-Ansi yang mengaku sebagai Nabi menguasai Shan`a (ibukota Yaman), Aswad menangkap Dzu’aib bin Kilab lalu melemparkannya ke dalam api karena Dzu’aib mengakui kenabian Muhammad Saw, tetapi api itu tidak membakar Dzu’aib. Nabi menceritakan kejadian itu kepada sahabat-sahabat beliau. Lalu `Umar berkata, “Segala puji hanya bagi Allah yang telah menjadikan salah seorang umat kita seperti Ibrahim, Khalilullah,” (Diceritakan oleh Ibnu Wahab dari Ibnu Lahi’ah). Dalam kitab Al-Shahabat, Abdan mengemukakan bahwa Dzu’aib adalah anak laki-laki Kilab bin Rabi’ah al-Khaulani, penduduk Yaman pertama yang masuk Islam.
Dalam versi lain diceritakan bahwa ada seorang laki-laki dari Khaulan masuk Islam, tetapi kaumnya menghendakinya kafir lagi, maka mereka memasukkannya ke dalam api, tetapi ia tidak terbakar, kecuali anggota badan yang tidak terkena wudhu. Lelaki itu kemudian menemui Abu Bakar dan berkata, Mintalah ampun untukku.” Abu Bakar menjawab, “Engkau lebih patut karena engkau pernah dilemparkan ke dalam api tetapi tidak terbakar.” Kemudian ia mohon ampun kepada Allah. Lalu ia pergi ke Syam. Orang-orang menyamakannya dengan Nabi Ibrahim a.s, (Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dari Abu Basyir Ja’far bin Abi Wahsyiyyah). Kami mengungkapkan kisah Dzu’aib di sini karena ia masuk Islam ketika Nabi Saw masih hidup meskipun tidak pernah bertemu dengan Nabi, seperti Raja Najasyi.
Ketika Aswad al-Ansi yang mengaku sebagai Nabi menguasai Shan`a (ibukota Yaman), Aswad menangkap Dzu’aib bin Kilab lalu melemparkannya ke dalam api karena Dzu’aib mengakui kenabian Muhammad Saw, tetapi api itu tidak membakar Dzu’aib. Nabi menceritakan kejadian itu kepada sahabat-sahabat beliau. Lalu `Umar berkata, “Segala puji hanya bagi Allah yang telah menjadikan salah seorang umat kita seperti Ibrahim, Khalilullah,” (Diceritakan oleh Ibnu Wahab dari Ibnu Lahi’ah). Dalam kitab Al-Shahabat, Abdan mengemukakan bahwa Dzu’aib adalah anak laki-laki Kilab bin Rabi’ah al-Khaulani, penduduk Yaman pertama yang masuk Islam.
Dalam versi lain diceritakan bahwa ada seorang laki-laki dari Khaulan masuk Islam, tetapi kaumnya menghendakinya kafir lagi, maka mereka memasukkannya ke dalam api, tetapi ia tidak terbakar, kecuali anggota badan yang tidak terkena wudhu. Lelaki itu kemudian menemui Abu Bakar dan berkata, Mintalah ampun untukku.” Abu Bakar menjawab, “Engkau lebih patut karena engkau pernah dilemparkan ke dalam api tetapi tidak terbakar.” Kemudian ia mohon ampun kepada Allah. Lalu ia pergi ke Syam. Orang-orang menyamakannya dengan Nabi Ibrahim a.s, (Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dari Abu Basyir Ja’far bin Abi Wahsyiyyah). Kami mengungkapkan kisah Dzu’aib di sini karena ia masuk Islam ketika Nabi Saw masih hidup meskipun tidak pernah bertemu dengan Nabi, seperti Raja Najasyi.
Wahai orang-orang kafir!Ucapkanlah Tidak ada Tuhan yg berhak disembah melainkan Allah dan nabi Muhammad itu adalah utusan allah pasti kalian berjaya.Amin Ya Rabbal alamin.Tidak ada ketinggalan yg terlebih dahsyat dari ketinggalan menyertai kebenaran.Tidak ada penyesalan yg lebih hebat dari sesudah mati dan tidak ada kebutaan yg lebih gelita dari kedegilan.
November 23, 2010 at 10:49 pm
Lagi kemuliaan para sahabat nabi Muhammad saw…..
Ibnu Abbas r.a. menceritakan bahwa Hamzah wafat dalam keadaan junub (belum suci dari hadas), lalu Rasulullah Saw berkata, “Malaikat telah memandikannya.” (HR Al-Hakim)
Hasan menceritakan bahwa ia mendengar Rasulullah Saw berkata, “Aku benar-benar melihat malaikat sedang memandikan Hamzah.” (HR Ibnu Sa’ad)
Fatimah al-Khaza’iyyah bercerita, “Aku menziarahi makam Hamzah, lalu aku mengucapkan `Assalamu ‘alaika, wahai paman Rasulullah.’ Aku mendengar jawaban `Wa ‘alaikumussalam warahmatullah. ” (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dari AI Waqidi)
Diceritakan juga bahwa Syaikh Mahmud al-Kurdi al-Syaikhani singgah di Madinah untuk menziarahi makam Hamzah r.a. Sewaktu ia mengucapkan salam, terdengar jawaban salam dari makam Hamzah dan perintah untuk menamai anaknya dengan nama Hamzah. Kemudian ia memiliki anak, maka ia menamainya dengan Hamzah. Ia juga menceritakan bahwa sewaktu ia mengucapkan salam untuk Nabi Saw di hadapan pusara beliau, Nabi Saw menjawab salamnya. Ia sungguh-sungguh mendengar jawaban salam itunya, tak diragukan sedikit pun. (Dikutip dari kitabAl-Bagiyah al-Shalihat karya Syaikh Mahmud al-Kurdi al-Syaihani)
Syaikh Abdul Ghani al-Nablusi menceritakan dalam Syarhnya atas kitab Shalat al-Ghauts al Jailani, bahwa ia pernah bertemu dengan Syaikh Mahmud al-Kurdi di Madinah pada tahun 1205 H. Ia mengundang Syaikh Mahmud ke rumah, menjamu, dan memuliakannya. Syaikh Mahmud menceritakan kepada Syaikh ‘Abdul Ghani bahwa ia sering bertemu dengan Nabi Saw dalam keadaan terjaga dan Abdul Ghani mempercayainya setelah melihat tanda-tanda kejujurannya. Pembahasan tentang bertemu Nabi Saw dalam keadaan terjaga atau tidur sudah cukup saya (Yusuf bin Ismail An-Nabhani) kemukakan dalam kitab Sa`adatal-Darain fs al-Shalah `ala Sayyid al-Kaunaini.
Qatadah menceritakan bahwa pada perang Uhud, Rasulullah Saw. berkata, ` Hanzhalah akan dimandikan oleh malaikat.” Maka para sahabat bertanya kepada keluarga Hanzhalah, “Apa yang terjadi dengannya?” Qatadah juga bertanya kepada istri Hanzhalah, lalu ia menjawab, “Ketika terdengar seruan perang Uhud, Hanzhalah segera pergi untuk berjihad padahal sedang berhadas besar.” Rasulullah Saw. berkata, “Karena itulah ia akan dimandikan malaikat.” (HR Ibnu Ishaq dari Ashim bin `Umar bin Qatadah)
Dalam kisah lain, Urwah bercerita, “Aku benar-benar melihat malaikat sedang memandikan Hanzhalah di antara langit dan bumi dengan air dari awan dalam sebuah tempat besar terbuat dari perak.” Abu Asid al-Sa`idi lalu berkata, “Kami pergi melihat Hamzah, kepalanya meneteskan air.” (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dan Ibnu Sa’ad dari Hisyam bin Urwah)
Ada seorang laki-laki buang air besar di atas makam Hasan bin Ali r.a., kemudian ia menjadi gila dan menggonggong seperti anjing, lalu mati. Dari dalam kubur orang tersebut terdengar suara gonggongan. (Diceritakan oleh Al-Munawi dalam kitab Al-Tabaqat)
Ibnu Syihab al-Zuhri menuturkan bahwa semua orang yang terlibat dalam pembunuhan Husein mendapat siksa di dunia. Ada yang dibunuh, buta, wajahnya menghitam, atau kehilangan kekuasaan dalam waktu singkat. Di antara yang mengalaminya adalah Abdullah bin Khashin. Ketika pihak Yazid bin Muawiyah dan Husein berperang dan mereka menghalangi Husein untuk mendapatkan air, Abdullah memanggil Husein lalu berkata, “Hai Husein! Tidakkah kamu lihat air itu seolah-olah berada di tengah-tengah langit. Demi Allah, kamu tidak akan merasakan setetes air pun, sampai kamu mati kehausan.” Kemudian Husein berdoa, “Ya Allah, semoga dia mati kehausan.” Lalu Abdullah meminum air itu tanpa henti tetapi dahaganya tidak hilang juga, sampai ia mati kehausan. (Dikemukakan oleh Imam al-Syali Ba’lawi dalam kitab Al Masyru’ al-Marwi )
Dalam kisah lain diceritakan bahwa Husein berdoa ketika hendak meminum air yang dibawanya, tiba-tiba seorang laki-laki yang dikenal sebagai seorang penakut memanah Husein. Anak panah itu mengenai langit-langit rnulut Husein schingga ia tidak bisa minum. Lalu Husein r.a. berdoa, “Ya Allah, berikan rasa haus kepadanya.” Maka orang yang keji itu berteriak-teriak karena perutnya kepanasan dan punggungnya kedinginan. Kemudian di depannya diletakkan es dan kipas, scmentara di belakangnya diletakkan tungku perapian, dia berteriak, “Beri aku minum!” Lalu ia diberi satu wadah besar berisi arak, air, dan susu, yang cukup untuk lima orang. Ia meminumnya, tetapi ia tetap berteriak kehausan. Ia diberi minum lagi dengan ukuran semula, lalu meminumnya sampai perutnya kembung seperti perut unta. (Dituturkan oleh Ibnu Hajar dalam kitabAl-Shawa’iq)
Diceritakan pula bahwa ada seorang tua renta yang terlibat dalam pembunuhan Husein mendengar berita bahwa semua orang yang terlibat dalam pembunuhan itu tidak akan mati kecuali telah mendapat siksa di dunia. Orang tua itu berkata, “Aku ikut menyaksikan pembunuhan itu, tetapi belum pernah ditimpa kejadian tidak mengenakkan.” Kemudian ia berdiri di dekat lampu untuk memperbaikinya, tiba-tiba api berkobar menyambarnya, sehingga ia berteriak-teriak, “Api! Api!” Sampai akhirnya dia tewas terbakar. (Diceritakan oleh Al-Syali)
Al-Syali juga menceritakan bahwa ada seseorang yang hanya menghadiri pembunuhan Husein, lalu ia menjadi buta. Ketika ditanya tentang sebab kebutaannya, ia menceritakan bahwa ia melihat Nabi Saw memegang pedang, dan di depan beliau terhampar tikar dari kulit. Ia juga melihat 10 orang pembunuh Husein disembelih di hadapan Nabi. Nabi mencela dan mencemoohnya karena telah ikut mendukung para pembunuh itu. Kemudian Nabi menempelkan celak dari darah Husein ke matanya, lalu ia menjadi buta.
Dalam kisah lain, Asy-Syali menceritakan bahwa ada seseorang yang menggantung kepala Husein dengan tali pelana kudanya. Beberapa hari kemudian, wajahnya tampak lebih hitam daripada aspal. Ada seseorang yang berkata kepadanya, “Anda adalah orang Arab yang paling hitam wajahnya.” Dia menjawab, “Pada malam ketika aku memegang kepala Husein itu, lewatlah dua orang yang mencengkeram lenganku. Mereka menggiringku ke arah api yang menyala-nyala dan mendorongku masuk ke dalamnya. Aku hanya bisa menunduk lemah, api itu menghanguskan kulitku sehingga hitam legam seperti yang kau lihat.” Akhirnya ia tewas dalam kondisi mengenaskan.
Husein mati syahid pada hari Jumat, bulan Asyura (Muharram), 61 H.
Ibnu `Umar r.a. menceritakan bahwa Ibnu Ummi Maktum selalu menanti fajar dan tidak pernah melewatkannya, padahal ia seorang yang buta. la merupakan salah seorang muadzin pada masa Rasulullah. Orang-orang berselisih tentang nama aslinya, ada yang mengatakan Abdullah atau Amr seperti yang tercantum dalam kitab Usud al-Ghabah.
Suatu hari, Khalid bin Walid singgah di suatu kampung. Orang-orang memperingatkannya, “Waspadalah terhadap racun, jangan minum suguhan orang-orang asing!” Namun Khalid menjawab, “Berikan racun itu kepadaku!” Kemudian ia mengambil minuman beracun itu, lalu meneguknya sambil membaca basmalah, dan tidak terjadi sesuatu pun yang membahayakannya. (Diriwayatkan oleh Abu Ya’la, Al-Baihaqi, dan Abu Na`im dari Abu Safar)
Dalam riwayat lain diceritakan bahwa pada masa kekhalifahan Abu Bakar, Khalid bin Walid pergi ke suatu kampung. Penduduk kampung itu menyuruh Abdul Masih menyambut Khalid dengan membawa minuman yang mengandung racun ganas. Khalid berkata kepada Abdul Masih, “Berikan minuman itu!” Ketika ia istirahat, Khalid mengambil minuman beracun itu lalu berdoa, “Dengan menyebut nama Allah, Tuhan langit dan bumi. Dengan menyebut nama Allah yang tidak akan mencelakakan hamba-Nya, karena nama-Nya mengandung obat.” Kemudian Khalid meneguk minuman beracun itu. Abdul Masih kembali ke kaumnya, lalu berkata, “Hai kaumku, ia telah minum racun ganas itu, tetapi ia tidak apa-apa.” Akhirnya kaum itu berdamai dengan orang-orang muslim. (Dikisahkan oleh Al-Kalbi)
Diceritakan juga bahwa ada seorang laki-laki mendatangi Khalid dengan membawa geriba berisi arak. Khalid lalu berdoa, “Ya Allah jadikanlah arak ini madu.” Lalu arak itu berubah menjadi madu. Dalam versi lain diceritakan bahwa ada seorang laki-laki melewati Khalid dengan membawa geriba berisi arak. Khalid bertanya kepadanya, “Apa ini?” la menjawab, “Cuka.” Kemudian Khalid berdoa, “Ya Allah, jadikan isi geribah ini cuka”. Lalu orang-orang melihat geribah itu berisi cuka, padahal sebelumnya arak. (Riwayat Ibnu Abi Dunya dari Khaitsamah)
Riwayat lainnya menceritakan, Khalid bin Walid mendapat laporan bahwa ada angggota pasukannya yang minum arak. Maka Khalid menginspeksi pasukannya, dan ia menemukan seseorang membawa geriba berisi arak. Khalid bertanya, “Apa ini?” Laki-laki itu menjawab, “Cuka.” Khalid berdoa, “Ya Allah, jadikanlah geriba itu berisi cuka.” Laki-laki itu membuka geriba, dan ternyata isinya telah berubah menjadi cuka, ia lalu berujar, “Ini berkat doa Khalid.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad dari Maharib bin Datstsar)
Wahai orang-orang kafir!Ucapkanlah Tidak ada Tuhan yg berhak disembah melainkan Allah dan nabi Muhammad itu adalah utusan Allah kalian pasti berjaya.Amin Ya Rabbal alamin.
November 24, 2010 at 2:20 pm
Lagi kemuliaan sahabat-sahabat Nabi Muhammad salallahualaihiwasalam….
Maisarah adalah salah satu di antara sembilan utusan Bani Absi yang datang kepada Rasulullah Saw. Ketika Rasulullah Saw menunaikan haji wada’, Maisarah berjumpa dengan beliau, lalu la bertanya, “Wahai Rasulullah, aku sangat ingin menjadi pengikutmu.” Kemudian ia masuk Islam dan keislamannya sangat baik. Maisarah berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkanku dari neraka karena adanya engkau (Muhammad).” Maisarah diberi jabatan bagus oleh Abu Bakar. (Diriwayatkan oleh Ibnu Atsir dalam Usud al-Ghabah)
Maisarah bin Masruq al-’Absi r.a. termasuk salah satu pemimpin tentara di Palestina dan ia meninggal di sana serta dimakamkan dekat daerah Baqah termasuk wilayah Nablus. Makamnya terkenal sebagai tempat ziarah.
Yusuf al-Nabhani bercerita, “Aku menziarahi makam Maisarah bin Masruq al-Absi r.a. kira-kira dua puluh tahun yang lalu. Aku belum mengetahui lokasi makamnya, tetapi ketika aku melewati sebuah jalan di samping makamnya, aku melihat orang-orang berbondong-bondong menziarahinya. Pada waktu itu adalah hari Arafah tahun 1305 H. Kemudian aku bertanya kepada seorang penduduk daerah itu yang ada di sisiku. Penduduk itu memberitahuku bahwa hari Arafah adalah hari yang khusus untuk menziarahi makam Maisarah, karenanya banyak penduduk daerah-daerah sekitar yang datang berziarah saat itu. Sebuah tradisi lama yang berlangsung terus setiap tahun tanpa terputus. Mereka juga melakukan ziarah di hari terakhir bulan Ramadhan.
Pada tahun itu juga, aku pergi ke Beirut untuk tugas pemerintahan negara yang mengharuskanku sampai sekarang menetap di sana. Kurang lebih tiga tahun setelah tinggal di Beirut, yakni 1308 H., aku jatuh sakit yang divonis oleh semua dokter sebagai penyakit ganas lemahnya syaraf pencernaan. Penyakit itu sangat memayahkanku. Ketika aku telah putus asa untuk sembuh, dalam mimpi aku mendengar ada orang menyuruhku menziarahi makam Maisarah. Aku tahu yang dimaksud adalah Maisarah al-Absi, dan dengan menziarahnya aku akan memperoleh obat penyakitku ini. Ketika terbangun, aku berniat kuat untuk menziarahinya. Setelah melewati makamnya tiga tahun lalu, aku sudah melupakan keberadaan Maisarah r.a. sebelum mimpi itu muncul. Oleh karena itu, aku yakin mimpi itu benar.
Aku memantapkan diri uiituk menziarahinya pada hari Arafah 1308 H. Aku memutuskan untuk bermalam di daerah yang dekat dengan makamnya yang bernama Wadi ‘Arah, di rumah ‘Abdul Karim Affandi bin Muhammad Husain Abdul Hadi. Ia sangat menghormatiku sebagai tamunya dan menjamuku dengan sangat baik.
Malamnya, aku merasa sehat kembali lebih dari sebelumnya, padahal selama berbulan-bulan aku minum berbagai macam obat dan mengikuti saran beberapa dokter terkenal. Pagi harinya, aku berangkat untuk berziarah. Aku sampai ke’makamnya di siang hari ketika banyak orang berziarah ke sana. Di makamnya, aku membaca surah-surah pendek dan kitab Dalail al-Khairat. Kemudian aku pulang dengan penuh rasa syukur dan pujian kepada Allah. Secara perlahan-lahan aku sehat kembali, hingga hilanglah penyakitku itu secara total. Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam.”
Maslamah terkenal sebagai penguasa Mesir dan Afrika. Orang pertama yang memerintahkan membangun menara di Mesir untuk mengumandangkan azan. Ia adalah orang yang dikabulkan doanya berkat doa Rasulullah Saw dan memiliki banyak karamah. Di antaranya adalah ketika ia turun ke sebuah lembah yang berada di antara dua gunung dan di sana tidak terdapat air, lalu ia berdoa kepada Allah Swt., maka turunlah hujan seketika itu juga.
Karamahnya yang lain adalah ketika ia memasuki Afrika, ada orang yang berkata kepadanya, “Di lembah ini terdapat binatang-binatang buas dan ular-ular ganas.” Lalu Maslamah berkata, “Keluarlah,” akhirnya binatang-binatang buas dan ular-ular ganas itu keluar dengan membawa anak-anaknya. (Riwayat Al-Munawi)
Al-Sakhawy meriwayatkan dari Abu Ishaq dari Yazid bin Ruman dari’Urwah bahwa Aisyah r.a. berkata, “Ketika Najasyi meninggal dunia, di atas makamnya muncul cahaya tanpa henti.” Saya menceritakan Najasyi pada bab tentang karamah para sahabat Rasulullah Saw., karena ia hidup pada masa Rasulullah Saw dan Rasulullah melakukan shalat gaib untuknya ketika ia meninggal, meskipun ia belum pernah berkumpul dengan Rasulullah sehingga tidak dianggap sebagai sahabat.
Sa’ad bin Abi Waqash r.a. menceritakan bahwa ketika Sa’ad bin Mu’adz wafat setelah perang Khandaq, Rasulullah Saw tergesa-gesa keluar, sampai memutuskan tali sandal seseorang dan tidak membetulkannya, tidak melilitkan kembali selendangnya yang terurai, dan tidak menyapa seorang pun. Orang-orang bertanya, “Ya Rasulullah, mengapa engkau mengabaikan kami?” Beliau menjawab, “Aku khawatir malaikat mendahului kita untuk memandikan jenazah Sa’ad bin Mu`adz, seperti halnya ia mendahului kita memandikan jenazah Hanzhalah.” (Riwayat Abu Na’im)
Dalam riwayat lain diceritakan bahwa pada perang Khandaq, mata Sa’ad bin Mu’adz terkena tombak yang dilemparkan Hayyan bin Arqah. Tenda untuk Nabi Saw. telah dipasang di dalam masjid karena beliau akan segera kembali dari perang. Sewaktu Nabi Saw. pulang dari Khandaq, beliau melepas baju besinya, kemudian mandi. Ketika beliau sedang mengibaskan debu di kepalanya, Jibril datang lalu berkata, “Engkau telah melepas baju besimu. Demi Allah, jangan melepasnya dulu, temuilah mereka!” Nabi Saw bertanya, “Ke mana?” Jibril menunjuk ke arah perkampungan Band Quraizhah. Rasulullah Saw segera menuju ke sana. Mereka bertempur untuk menegakkan keadilan atas Sa’ad. Rasulullah berkata, “Sungguh aku akan menghukum mereka, mengobarkan peperangan, menawan para wanita dan anak-anak, juga membagi harta kekayaan mereka.” Kemudian Sa’ad berdoa, “Ya Allah, Engkau Maha Tahu, tidak satu pun yang begitu ingin aku perangi karena Engkau selain kaum yang mendustakan dan mengusir Rasul-Mu. Ya Allah, aku sungguh yakin bahwa Engkau telah mengobarkan peperangan di antara kami dan mereka. Jika masih ada peperangan dengan kaum Quraisy, beri aku kesempatan untuk memerangi mereka karena Engkau. Jika Engkau mengobarkan peperangan, izinkan aku mengikutinya dan biarkan aku mati di sana.” Malam itu, peperangan dengan Bani Quraizhah berkobar, akhirnya Sa’ad bin Muadz wafat karenanya. (Diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari Aisyah)
Dikisahkan pula bahwa pada saat perang Ahzab (Khandaq), mata Sa’ad bin Mu`adz terkena tombak sehingga mengucurkan banyak darah. Sa’ad berdoa, “Ya Allah, jangan cabut nyawaku agar mataku tetap terbuka sampai di tempat Bani Quraizhah.” Lalu ia menahan pembuluh darah di matanya, tetapi tidak keluar setetes pun darah, sampai kaum muslimin memerangi Bani Quraizhah. Seusai perang, pembuluh darah di mata Sa’ad bin Mu`adz pecah, dan ia menemui ajalnya. (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dari Jabir r.a.)
Rasulullah Saw pernah bersabda tentang Sa’ad bin Mu’adz, “Sa’ad telah menggoncangkan ‘Arsy, dan jenazahnya diantar 70.000 malaikat.” (HR Al-Baihagi dari Ibnu `Umar r.a.)
Dalam riwayat lain diceritakan bahwa Jibril menemui Nabi Saw lalu bertanya, “Siapakah hamba saleh yang wafat sehingga pintu-pintu langit terbuka untuknya dan `Arsy bergetar?” Nabi kemudian keluar, ternyata Sa’ad bin Mu`adz telah wafat. (HR Al-Baihaqi dari Jabir r.a)
Rafi` al-Zargi menceritakan bahwa salah seorang kaumnya memberitahu bahwa Jibril telah mendatangi Nabi Saw di tengah malam dengan mengenakan ikat kepala dari sutra tebal, lalu Jibril bertanya, “Jenazah siapa gerangan yang telah membuka pintu langit dan menggoncangkan Arsy?” Beliau segera berdiri menemui Sa’ad bin Mu’adz dan menemukannya telah gugur. Dalam riwayat lain Hasan Al-Bashri berkata, “Sa’ad bin Mu`adz telah menggoncangkan ‘Arsy Zat Yang Maha Pengasih, karena gembira dengan kedatangan ruhnya.” (Kedua riwayat ini diceritakan oleh Al-Baihaqi)
Muslimah bin Aslam bin Harisy bercerita, “Rasulullah Saw memasuki rumah Sa’ad, tetapi tak ada seorang pun di dalamnya kecuali Sa’ad yang ditutupi kain. Kemudian aku melihat beliau melangkah dan memberi isyarat kepadaku agar berhenti. Aku berhenti dan mundur ke belakang, beliau duduk sebentar lalu keluar. Aku berkata, `Ya Rasulullah, aku tidak melihat seorang pun di sana, namun aku melihatmu melangkah.’ Beliau menjawab, Aku tidak bisa duduk, sampai salah satu malaikat melepaskan salah satu sayapnya.”‘ (HR Ibnu Sa’ad)
Riwayat lain menceritakan hahwa ketika Sa’ad bin Mu’adz wafat, Rasulullah Saw menggenggam kedua lutut Sa’ad lalu berkata, “Malaikat masuk, tetapi tidak mendapatkan tempat duduk, maka aku lapangkan tempat untuknya.” Ketika orang-orang mengusung jenazah Sa’ad bin Mu’adz yang pada masa hidupnya ia adalah orang yang paling besar dan tinggi, salah seorang munafik berkata, “Kami belum pernah mengusung jenazah yang lebih ringan daripada hari ini.” Lalu Nabi Saw bersaada, “Jenazah Sa’ad bin Mu’adz disaksikan 70.000 malaikat yang tidak menginjak bumi sama sekali.” (Riwayat Abu Na’im dari Asy’at bin Ishaq bin Sa’ad bin Abi Waqash)
Diceritakan pula bahwa ketika mengusung jenazah Sa’ad, orang-orang mengatakan, “Ya Rasulullah, kami belum pernah mengusung jenazah yang lebih ringan daripada ini.” Beliau menjelaskan, “Kalian merasa ringan, karena malaikat telah turun tangan, padahal sebelumnya mereka belum pernah ikut mengusung jenazah bersama-sama kalian.” (Riwayat Ibnu Sa’ad dari Mahmud bin Lubaid)
Muhammad bin Syarahbil bin Hasanah menceritakan bahwa pada hari itu, orang-orang mengambil tanah kuburan Sa’ad dan membawanya pulang. Setelah pulang, mereka melihat tanah tersebut telah berubah menjadi minyak wangi. Rasulullah Saw berkata, “Maha Suci Allah, Maha Suci Allah.” Lalu beliau mengusapkan minyak wangi itu ke wajahnya dan berkata lagi, “Segala puji hanya bagi Allah, kalau ada orang yang selamat dari himpitan kubur, Sa’ad lah orangnya. Ia dikenai satu himpitan, kemudian Allah membebaskannya.” (HR Ibnu Sa’ad dan Abu Na’im dari jalur Muhammad bin Munkadir)
Anni Sa’id al-Khudri r.a. berkata, “Aku ikut menghadiri pemakaman Sa’ad. Setiap kami menggali sebongkah tanah kuburnya, kami mencium harum minyak wangi.” (Riwayat Ibnu Sa’ad)
Wahai orang-orang kafir!Ingat perjanjian setiap orang dengan Tuhan bahawa setiap yg hidup pasti akan merasai mati dan akan bertemu dengan Tuhan sekalian alam.Kita akan ditanya apa saja yg telah kita perbuat sewaktu hidup di dunia.Ucapkanlah Tidak ada Tuhan yg berhak disembah melainkan Allah dan nabi muhammad itu adalah utusan Allah pasti berjaya.Amin Ya Rabbal alamin.
November 25, 2010 at 4:42 am
Lagi kemuliaan sahabat-sahabat nabi Muhammad salallahu alaihi wasallam….
Zaid bin Tsabit r.a. menceritakan bahwa pada perang Uhud, Rasulullah Saw menyuruhnya mencari Sa’ad bin Rabi’. Rasulullah Saw berkata, “Kalau kamu bertemu dengannya, sampaikan salamku untuknya dan tanyakan kabarnya.”
Zaid menemukan Sa’ad bin Rabi’ sedang sekarat karena terkena 70 luka tusukan tombak, sabetan pedang, dan lemparan anak panah. Kemudian Sa`ad berkata, “Katakan kepada Rasulullah bahwa aku benar-benar telah mencium wangi surga. Katakan juga kepada kaumku Anshar agar mereka jangan khawatir jika telah mengikhlaskan diri kepada Rasulullah Saw. dan sesungguhnya mereka telah berada di ujung perjalanan.” Akhirnya Sa’ad bin Rabi’ menghembuskan nafas terakhirnya. (HR Al-Hakim dan Al-Baihaqi)
Sejak dulu penduduk D:unaskus telah sepakat bahwa makam Sa’ad bin ‘Ubadah ada di suatu dataran rendah di Damaskus, di sebuah desa berriama Al-Manihah. Syaikh Jalaluddin menjelaskan.bahwa Abu Ishaq Ibrahim bin Abdullah Al-Armawi berziarah ke makam Sa’ad bin `Ubadah r.a. berkali-kali, tetapi seringkali la ragu apakah yang diziarahinya itu betul makam Sa`ad atau bukan. Suatu hari ketika Abu Ishaq berada di makam itu, ia terserang kantuk, tiba-tiba bagian atas makam itu terbelah, lalu muncul seorang laki-laki tinggi, seorang badui yang mengenakan cadar, dan di pinggangnya terselip tombak. Laki-laki itu melihat dari ketinggian seraya berkata, ‘Aku adalah Sa’ad.” Abu Ishaq terbangun, lalu berkata, “Ini benar-benar makamnya.” Kemudian la membaca Al-Qur’an, berdoa, lalu pergi. Dikemukakan oleh Jalaluddin al-Bashri al Dimasyq dalam kitabnya Tubfat al-Anam fi Fadhaili al-Syam)
Sa’ad bin `Utiadah r.a. wafat di Syam pada masa kekhalifahan Abu Bakar tahun 14 H.
‘Urwah bin Zubair menceritakan bahwa Said bin Zaid r.a. pernah diadukan oleh Urwa binti Uwais kepada Marwan bin Hakam. Urwa menuduh Sa’id telah mengambil sedikit tanahnya. Sa’id lalu berkata, “Apakah aku akan mengambil tanahnya setelah aku mendengar sabda Rasulullah Saw?” Marwan bin Hakam kemudian bertanya, “Apa yang kau dengar dari Rasulullah Saw.?” Sa`id menjawab, ‘Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda, Barangsiapa mengambil sejengkal tanah secara zalim, maka yang sejengkal itu akan dikalungkan di lehernya menjadi tujuh lapis bumi.”‘ Marwan berkomentar,’Aku tidak akan memintamu menunjukkan bukti lagi setelah mendengar hadis ini.” Sa’id kemudian berdoa, “Ya Allah, kalau Urwa itu berdusta, maka butakanlah matanya dan matikanlah ia di atas tanahnya.” Urwa meninggal dunia setelah matanya buta, dan sewaktu ia berjalan di tanahnya, dia terperosok ke dalam lubang, lalu mati. (Riwayat Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain diceritakan bahwa Urwa binti Uwais buta, lalu menabrak dinding, seraya berkata, ‘Aku menderita karena doa Sa’id.” Kemudian Urwa binti Uwais melewati sumur di tanah tempat terjadinya sengketa tanah dengan Sa’id bin Zaid, la terperosok dan terkubur dalam sumur itu. (Diriwayatkan oleh Muslim dari Muhammad bin Zaid bin `Abdullah bin Amr)
Jabir r.a. menceritakan bahwa penduduk Kufah mengadukan Sa’ad bin Abi Waqash kepada Khalifah `Umar. ‘Umar lalu mengutus seseorang untuk bertanya tentang Sa’ad kepada orang-orang Kufah. Utusan itu berkeliling dari masjid ke masjid di Kufah dan semua orang yang ditanyainya memberikan penilaian positif terhadap Sa’ad. Akhirnya ia berhenti di sebuah masjid dan bertemu dengan seorang laki-laki yang mengaku bernama Abu Sa’dah. Laki-laki itu berkata, “Kami mengadukan Sa’ad karena ia tidak membagi rampasan secara sama rata, tidak berjalan bersama pasukannya,dan tidak berlaku adil dalam menghukumi sesuatu.” Maka Sa’ad berdoa, “Ya Allah, kalau ia berdusta, maka panjangkanlah umurnya, panjangkan kefakirannya, dan timpakan berbagai fitnah padanya.”
Ibnu Amir menceritakan bahwa ia menyaksikan laki-laki yang mengadukan Sa’ad itu berumur panjang, sampai-sampai alisnya menutupi mata karena saking panjangnya, ia betul-betul ditimpa kemiskinan, dan di sebuah jalan ia pernah bertemu dengan budak-budak perempuan kemudian merabanya, karena itu ia terkena fitnah. Sewaktu ditanya, “Mengapa kamu bisa jadi begini?” Jawabnya, “Aku menjadi tua bangka dan terkena fitnah karena doa Sa’ad.” (Diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, dan Al-Baihaqi dari jalur Abdul Mulk bin Amir)
Dalam riwayat lain dikisahkan bahwa Sa’ad tengah berpidato di hadapan penduduk Kufah, ia bertanya, “Bagaimana kepemimpinanku menurut pandangan kalian?” Seorang laki-laki berseru, “Engkau sungguh tidak adil dalam mengemban tanggung jawab, tidak membagi secara rata, dan tidak ikut berperang bersama pasukan.” Sa’ad berdoa, “Ya Allah, kalau ia berdusta, maka butakanlah matanya, segerakan kefakirannya, panjangkan umumya, dan timpakan fitnah padanya.” Lelaki itu kemudian buta, jatuh miskin sehingga menjadi peminta-peminta, difitnah sebagai orang yang sombong dan pembohong, dan karena itu ia dibunuh. (Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dari jalur Mush’ab bin Sa’ad)
Riwayat lain menceritakan bahwa ada seorang laki-laki muslim mengejek Sa’ad bin Abi Waqash. Kemudian Sa’ad berdoa, “Ya Allah, potonglah lidah dan tangannya dengan kehendak-Mu.” Pada waktu perang Kadisiyah, laki-laki itu terlempar hingga lidah dan tangannya putus. Ia tidak bisa berbicara sepatah kata pun sampai ajal menjemputnya. (Diriwayatkan oleh Al Thabrani, Ibnu `Asakir dan Abu Na’im dari Qabishah bin Jabir)
Dikisahkan pula bahwa ada seorang perempuan yang mempunyai perawakan seperti anak kecil. Orang-orang mengolok-oloknya, “Itu puteri Sa’ad, ia membenamkan tangannya pada tempat bersuci Sa’ad.” Kemudian Sa’ad berdoa, “Semoga Allah menunjukkan kekuatanmu meskipun engkau tidak bisa tumbuh besar lagi.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya dan Ibnu Asakir dari Mughirah)
Dalam riwayat lain diceritakan bahwa ada seorang perempuan terus menerus memperhatikan Sa`ad, Sa’ad menegurnya, tetapi ia tidak mengindahkannya. Suatu hari ketika perempuan itu muncul, Sa’ad berkata, “Buruk sekali wajahmu.” Tiba-tiba wajah pcrempuan itu memuntir ke belakang dan tidak bisa menoleh ke depan. (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya dan Ibnu Asakir dari Mana’ dari Abdurrahman bin Auf)
Qais bertutur, “Ada seorang laki-laki mengejek Ali. Maka Sa’ad berdoa, ‘Ya Allah, laki-laki ini telah mengejek salah seorang walimu. Jangan pisahkan golongan ini, sampai Engkau perlihatkan kekuasaanMu.’ Demi Allah, kami belum berpisah, hingga kudanya terbenam ke dalam lumpur, kemudian ia terlempar di bebatuan, sampai otaknya keluar dan akhirnya mati” (Riwayat Al- Hakim).
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Sa’ad mendoakan buruk untuk seorang laki-laki. Tiba-tiba laki-laki itu tertubruk seekor unta betina hingga ia mati. Kemudian Sa’ad menahan nafas dan bersumpah tidak akan mendoakan buruk untuk seorang pun (Riwayat Al-Hakim dari Mush’ab bin Sa’ad).
Al-Hakim meriwayatkan dari Ibnu Al-Musayyab bahwasanya Marwan pernah berkata, “Harta ini milik kami maka kami berhak memberikannya kepada orang yang kami kehendaki.” Kemudian Sa`ad mengangkat kedua tangannya dan berkata, ‘Aku akan berdoa.” Marwan meloncat, lalu merangkulnya sambil berseru, “Engkau akan berdoa kepada Allah, hai Abu Ishaq. Tolong jangan berdoa, karena harta itu adalah milik Allah.”
Diceritakan pula bahwa Sa’ad bin Abi Waqash pernah berdoa, “Ya Allah, hamba memiliki anak-anak yang masih kecil, maka tangguhkan kematianku sampai mereka dewasa (balig).” Dua puluh tahun kemudian, Sa’ad baru menemui ajalnya, sesudah menderita sakit parah. (Riwayat Al-Baihaqi dan Ibnu Asakir dari Yahya bin Abdurrahman bin Labibah)
Dikisahkan juga bahwa ketika Sa’ad sedang berjalan-jalan, lewatlah seorang laki-laki sambil mencaci maki Ali, Thalhah, dan Zubair. Sa’ad berkata kepada laki-laki itu, “Kamu mencaci-maki para pemimpin yang dianugerahi keunggulan oleh Allah. Demi Allah, kamu harus menghentikan cacianmu kepada mereka atau aku akan mendoakan keburukan untukmu.” Laki-laki itu menjawab, “Kamu menakutiku, seolah-olah kamu ini nabi.” Sa’ad lalu berdoa, “Ya Allah, ia telah mencaci-maki para pemimpin yang telah Engkau unggulkan, maka timpakan malapetaka padanya hari ini.” Tiba-tiba datanglah seorang peramal perempuan sehingga orang-orang berlarian menghindarinya, lalu sang peramal memukul laki-laki itu dengan keras. Orang-orang mengikuti Sa’ad, dan berkata, ‘Allah telah mengabulkan doamu, ya Abu Ishaq.” Doa Sa’ad mustajab, karena Nabi Saw telah mendoakan agar doanya mustajab. (Riwayat Al Thabrani dari Amir bin Sa’ad)
Al-Tirmidzi dan Al-Hakim meriwayatkan dan menyatakan kesahihan hadis Nabi tentang Sa’ad, “Ya Allah, kabulkanlah semua doa yang dipanjatkan Sa’ad!” Hingga setiap doa yang dilantunkan Sa’ad selalu dikabulkan Allah. Dalam hadis lain juga dinyatakan, “Ya Allah, kabulkanlah doa Sa’ad dan tepatkanlah lemparan panahnya!”
Riwayat lain menceritakan bahwa ketika Sa’ad bin Abi Waqash r.a. sampai di sungai Tigris, ia mencari perahu untuk menyeberang, tetapi ia tidak berhasil karena perahu-perahu telah ditambatkan. Sa’ad dan pasukannya tinggal di sana beberapa hari pada bulan Safar. Tiba-tiba datang air pasang. Sa’ad bermimpi melihat sekawanan kuda milik pasukan muslimin menceburkan diri ke sungai, lalu menyeberangi air pasang itu, padahal air pasang sungai Tigris sangat tinggi. Sa’ad menakwilkan mimpinya sebagai petunjuk agar ia menyeberangi sungai itu. Maka ia mengumpulkan pasukannya, lalu berkata, ‘Aku akan menyeberangi sungai ini,” dan mereka menyetujuinya. Sa`ad mempersilakan pasukannya untuk menceburkan diri ke sungai, lalu berkata, “Katakanlah! Kami memohon pertolongan Allah dan bertawakkal kepada-Nya. Cukuplah Allah bagi kami, sebaik-baik Zat tempat memasrahkan diri. Tiada daya dan kekuatan, kecuali milik Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.” Lalu mereka menceburkan diri ke Sungai Tigris, menyeberangi air yang pasang itu, dan terombang-ambing ombak. Sungguh ajaib, mereka terapung di sungai itu sambil berbincang-bincang dan berpasangan, seperti ketika berjalan di daratan. Orang-orang Persia merasa heran dengan hal yang tidak masuk akal tersebut. Pasukan muslimin kemudian menaklukkan Persia dan segera mengumpulkan sebagian besar kekayaan mereka, yaitu kota-kota di Persia. Pada bulan Safar tahun 16 H, kaum muslimin menguasai rumah-rumah peninggalan kerajaan Persia. (Riwayat Abu Na’im dari Ibnu al-Dafili)
Dalam riwayat lain diceritakan bahwa Sa’ad berkata, “Kami menyeberangi sungai Tigris sambil membawa kuda dan binatang piaraan kami, sampai tak seorang pun melihat air dari dua tepinya. Kuda-kuda itu mendatangi pasukanku sambil menghela surainya diiringi ringkikan. Ketika melihat tingkah kuda tersebut, pasukanku segera menyeberangi sungai itu tanpa memedulikan apa pun. Tidak ada sesuatu pun milik pasukanku yang hilang dalam air, hanya sebuah gelas yang pegangannya telah pecah. Gelas itu terjatuh dan hanyut terbawa air. Namun angin dan gelombang menyeretnya ke tepi dan pemiliknya mengambilnya kembali.” (Abu Na’im meriwayatkan kisah ini dari Abu `Utsman al-Nahdi)
Riwayat lain menyebutkan bahwa orang yang berjalan di atas air bersama Sa’ad adalah Salman al-Farisi. Pasukan Sa’ad menyeberangi sungai Tigris sambil terapung beserta kuda-kuda mereka. Sa’ad berkata, “Cukuplah Allah bagi kami, Dialah sebaik-baik Zat tempat memasrahkan diri. Demi Allah, Allah benar-benar akan menolong wali-Nya, memenangkan agama-Nya, dan mengalahkan musuh-Nya, jika dalam diri pasukan tidak ada kejahatan atau dosa yang mengalahkan kebaikan.” Salman berkata kepada Sa’ad, “Sesungguhnya Islam itu baru. Demi Allah, lautan tunduk kepada Sa’ad dan pasukannya seperti halnya daratan tunduk kepada mereka. Mereka menyeberangi sungai, hingga air itu tidak terlihat dari tepian. Sambil terapung di sungai, mereka berbincang-bincang lebih banyak daripada ketika mereka berjalan di daratan. Mereka berhasil melintasinya, tidak ada sesuatu pun yang hilang, dan tidak ada seorang pun yang tenggelam.” (Diriwayatkan oleh Abu Na’im dari Abu Bakar bin Hafsh bin `Umar)
Riwayat lain menceritakan bahwa Sa’ad dan pasukannya menccburkan diri ke sungai Tigris berpasang-pasangan. Salman menjadi pasangan Sa’ad, mereka berdampingan berjalan di atas air. Sa’ad berkata, “Demikianlah ketentuan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” Air sungai Tigris mengapungkan Sa’ad dan pasukannya, sementara kuda mereka menyeberangi sungai sambil berdiri tegak. Bila Sa’ad lelah, di depannya terhampar sebuah gundukan, lalu ia beristirahat di atasnya seolah-olah berada di atas tanah. Tidak ada pemandangan yang lebih menakjubkan selain pemandangan itu, karena itulah hari itu disebut dengan Yaumul Jaratsim. Jika ada yang lelah, maka di depannya terhampar sebuah gundukan tempat untuk istirahat. (Riwayat Abu Na’im dari Amir al-Sha’idi)
Qais bin Abi Hazim berkata, “Kami menundukkan sungai Tigris yang sedang meluap airnya. Meskipun air pasang mencapai puncak ketinggiannya, prajurit berkuda tetap tegak dan air tidak sampai menyentuh ikat perut kudanya,” (Riwayat Abu Na’im).
Dalam riwayat lain diceritakan bahwa ketika kaum muslimin menyeberangi sungai Tigris, penduduk Persia berkata, “Mereka itu jin, bukan manusia,” (Riwayat Abu Na’im dari Habib bin Shahban, dikutip dari kitab Hujjatullah ‘ala al-’Alaamin).
Wahai orang-orang kafir!Ingatlah seringan-ringan azab neraka itu ialah seseorang yg dipakaikan sandal dari neraka lalu panasnya naik ke kepala sehingga kepalanya pecah dan meleleh otak dari kepalanya.Dia merasakan dialah orang yg paling berat sekali azabnya padahal dialah orang yg paling ringan sekali azabnya.Na ‘uu zubillaahi min zaalik!Ucapkanlah Tidak ada Tuhan yg berhak disembah melainkan Allah dan Nabi Muhammad itu adalah utusan Allah.Kalian pasti berjaya.Amin Ya Rabbal alamin.
November 25, 2010 at 5:23 pm
Lagi kemuliaan para sahabat nabi Muhammad sal lallahualaihi wasallam…
Safinah bercerita, “Aku naik perahu, kemudian perahu itu pecah, maka aku naik papan pecahan dari perahu itu sampai ke pantai. Kemudian aku bertemu seekor macan, aku menyapanya, ‘Hai Abul Harits (julukan harimau), aku adalah Safinah, pelayan Rasulullah Saw’. Harimau itu menundukkan kepalanya dan menaikkanku ke atas pundaknya, lalu mengantarku sampai di sebuah jalan. Di jalan itu, ia mengaum. Maka aku paham ia mengucapkan selamat berpisah denganku. (Diriwayatkan oleh Ibnu Atsir dalam kitab Usud al-Ghabah dari Muhammad bin Munkadir)
Salah satu karamah Salman adalah ketika suatu hari ia keluar dari Madain bersama seorang tamu, tiba-tiba ada sekawanan kijang berjalan di padang pasir dan burung-burung beterbangan di angkasa raya. Salman berkata, “Kemarilah wahai burung dan kijang, karena aku kedatangan seorang tamu yang sangat ingin aku muliakan. Maka datanglah seekor burung dan kijang kepadanya. Tamu itu berkata, “Maha Suci Allah.” Kemudian Salman berkata kepadanya, “Apakah engkau heran melihat seorang hamba yang taat kepada Allah, tetapi ia didurhakai oleh sesuatu?” (Kisah ini aku kemukakan dalam kitab Hujjatullah ‘ala al-Alamin dan dikemukakan juga oleh Syaikh Abdul Majid al-Khan al-Dimasyqi dalam kitabnya Al-Hadaiq al- Wardiyyah fi Ajla’i al Tharigah al-Naqsyabandiyyah)
Harits bin Amir melakukan perjalanan sampai di Madain. Ia bertemu seorang laki-laki berpakaian lusuh membawa kulit yang disamak berwarna merah yang digunakan dalam pertempuran. Laki-laki itu menoleh ke arah Harits, lalu berkata, “Tetaplah di tempatmu, ya Abdullah!” Harits bertanya kepada orang di sampingnya, “Siapa orang ini?” Jawabnya, “Salman.”
Lalu Salman masuk ke dalam rumahnya, dan mengenakan baju putih. la menyambut Harits, meraih tangannya, dan menyalaminya. Harits lalu berkata, “Ya Abu Abdullah, engkau belum pernah bertemu denganku sebelumnya, dan aku juga belum pernah bertemu denganmu. Engkau tidak mengenalku, begitu juga aku tidak mengenalmu.” Salman menjawab, “Ya, demi Zat yang menguasai jiwaku. Ruhku telah mengenal ruhmu ketika aku bertemu denganmu. Bukankah engkau Harits bin `Amir?” Harits menjawab, “Ya.” Salman menegaskan,’Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda, `Ruh-ruh itu laksana tentara yang berperang. Tentara yang dikenal adalah kawan dan yang tak dikenal adalah lawan.”‘ (Diriwayatkan oleh Syaikh Abdul Majid dari Abu Na’im)
Karamah ini juga dikemukakan dalam kitab Al Tabaqah karya Imam Munawi.
Mu’awiyah bin Harmal bercerita, “Ada api keluar dari tanah yang tak berpasir. Khalifah `Umar kemudian menemui Tamim al-Dari dan menyuruhnya pergi ke tempat munculnya api itu. Maka Tamim bangkit bersama `Umar, dan aku mengikuti mereka. Keduanya pergi ke tempat api itu. Kemudian Tamim menggiring api itu dengan tangannya, sampai api itu masuk ke sebuah gua, Tamim menyusul di belakangnya. Lalu ‘Umar berkata, `Tidaklah sama antara orang yang menyaksikan hal in dengan yang tidak menyaksikannya,”Umar mengucapkannya tiga kali. (Riwayat Al-Baihaqi dan Abu Na’im)
Dalam riwayat lain dari Abu Na’im diceritakan bahwa Marzuq berkata, “Pada masa ‘Umar, ada api muncul. Tamim al-Dari berusaha menggiring api itu dengan selendangnya, sampai api itu masuk ke sebuah gua. Lalu `Umar berkata kepada Tamim, ‘Seperti inilah, kami pernah menyembunyikanmu.”‘
Abdullah bin `Ubaidillah al-Anshari bercerita, “Aku ikut menguburkan Tsabit bin Qais r.a. yang gugur dalam perang Yamamah. Ia adalah juru bicara kaum Anshar. Nabi Saw. pernah menyatakan bahwa ia termasuk ahli surga. Ketika kami memasukkan jenazah Tsabit ke dalam liang lahat, kami mendengar Tsabit berkata, ‘Muhammad adalah utusan Allah, Abu Bakar itu orang yang tepercaya, ‘Umar itu seorang syahid, dan ‘Utsman itu orang yang baik lagi penyayang.’ Kami mendengar ucapannya secara langsung, padahal ia sudah menjadi mayat.” (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dan pengarang kitab Al-Syifa’)
Tsabit, Abu ‘Imran al-Juni, dan Hisyam bin Hisan menceritakan bahwa Ummu Aiman hijrah dari Mekkah ke Madinah tanpa membawa bekal sedikit pun. Sesampai di Rauha, ia didera haus yang amat sangat. Kemudian ia mendengar desiran yang sangat keras di atas kepalanya. Tiba-tiba ada timba yang menjulur dari langit dengan tali timba berwarna putih. Ia menggapai timba itu dan memegangnya, kemudian minum sampai puas. Ummu Aiman berkata, “Setelah meminumnya, aku berpuasa di hari yang sangat panas. Lalu aku berputar-putar di bawah terik matahari yang bisa membuatku dahaga, tetapi aku tidak merasakan dahaga lagi” (Riwayat Al-Baihaqi). Cerita ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Muni` dalam musnadnya dari jalur sanad yang lain.
Yahya bin Sa’id menceritakan bahwa Ummu Syarik al-Dausiyah berhijrah, di tengah jalan ia berkawan dengan seorang Yahudi. Pada waktu itu, Ummu Syarik al-Dausiyah dalam keadaaan berpuasa. Orang Yahudi itu berkata kepada isterinya, “Jika engkau memberinya minum, aku benar-benar akan marah.” Sampai di penghujung malam, Ummu Syarik al-Dausiyah masih berpuasa karena tidak ada makanan untuk berbuka. Tiba-tiba di atas dada Ummu Syarik ada timba, lalu ia meminumnya. Kemudian orang Yahudi tersebut berkata, “Aku mendengar suara orang minum.” Istri Yahudi itu menyahut, “Demi’Allah, aku tidak memberinya minum.” (Riwayat Ibnu Sa’ad dari `Arim bin al-Fadhl dari Hammad bin Zaid)
Ibnu Sa’ad juga menceritakan bahwa Ummu Syarik al-Dausiyah memiliki wadah lemak sapi yang dianggap jelek oleh orang yang mendatanginya. Ada seseorang mengunjunginya, lalu Ummu Syarik berkata, “Di dalam wadah ini, terdapat apa yang dibutuhkan.” Ia meniup wadah itu dan menjemurnya di panas matahari. Tiba-tiba wadah itu telah penuh dengan mentega. Ada yang berpendapat bahwa wadah lemak sapi Ummu Syarik termasuk tanda-tanda kekuasaan Allah.
Dalam kitab Al-Thabaqat, Taj al-Subki menceritakan bahwa ada seorang laki-laki bertamu kepada ‘Utsman. Laki-laki tersebut baru saja bertemu dengan seorang perempuan di tengah jalan, lalu ia menghayalkannya. ‘Utsman berkata kepada laki-laki itu, “Aku melihat ada bekas zina di matamu.” Laki-laki itu bertanya, “Apakah wahyu masih diturunkan sctelah Rasulullah Saw wafat?” `Utsman menjawab, “Tidak, ini adalah firasat seorang mukmin.” `Utsman r.a. mengatakan hal tersebut untuk mendidik dan menegur laki-laki itu agar tidak mengulangi apa yang telah dilakukannya.
Selanjutnya Taj al-Subki menjelaskan bahwa bila seseorang hatinya jernih, maka ia akan melihat dengan nur Allah, sehingga ia bisa mengetahui apakah yang dilihatnya itu kotor atau bersih. Maqam orang-orang seperti itu berbeda-beda. Ada yang mengetahui bahwa yang dilihatnya itu kotor tetapi ia tidak mengetahui sebabnya. Ada yang maqamnya lebih tinggi karena mengetahui sebab kotornya, seperti ‘Utsman r.a. Ketika ada seorang laki-laki datang kepadanya, `Utsman dapat melihat bahwa hati orang itu kotor dan mengetahui sebabnya yakni karena menghayalkan seorang perempuan.
Artinya, setiap maksiat itu kotor, dan menimbulkan noda hitam di hati sesuai kadar kemaksiatannya sehingga membuatnya kotor, sebagaimana dinyatakan dalam firman Allah, “Sekali-kali tidak demikian, sesungguhnya apa yang mereka kerjakan itu mengotori hati mereka (QS Al-Muthaffifin [83]: 14).
Semakin lama, kemaksiatan yang dilakukan membuat hati semakin kotor dan ternoda, sehingga membuat hati menjadi gelap dan menutup pintu-pintu cahaya, lalu hati menjadi mati, dan tidak ada jalan lagi untuk bertobat, seperti dinyatakan dalam firman Nya, Dan hati mereka telah dikunci mati, sehingga mereka tidak mengetahui kebahagiaan beriman dan berjihad. (QS Al Taubah [9]: 87)
Sekecil apa pun kemaksiatan akan membuat hati kotor sesuai kadar kemaksiatan itu. Kotoran itu bisa dibersihkan dengan memohon ampun (istighfar) atau perbuatan-perbuatan lain yang dapat menghilangkannya. Hal tersebut hanya diketahui oleh orang yang memiliki mata batin yang tajam seperti ‘Utsman bin `Affan, sehingga ia bisa mengetahui kotoran hati meskipun kecil, karena menghayalkan seorang perempuan merupakan dosa yang paling ringan, `Utsman dapat melihat kotoran hati itu dan mengetahui sebabnya. Ini adalah maqam paling tinggi di antara maqam-maqam lainnya. Apabila dosa kecil ditambah dosa kecil lainnya, maka akan bertambah pula kekotoran hatinya, dan apabila dosa itu semakin banyak maka akan membuat hatinya gelap. Orang yang memiliki mata hati akan mampu melihat hal ini. Apabila kita bertemu dengan orang yang penuh dosa sampai gelap hatinya, tetapi kita tidak mampu mengetahui hal tersebut, berarti dalam hati kita masih ada penghalang yang membuat kita tidak mampu melihat hal tersebut, karena orang yang mata hatinya jernih dan tajam pasti akan mampu melihat dosa-dosa orang tersebut.
Ibnu `Umar r.a. menceritakan bahwa Jahjah al-Ghifari mendekati ‘Utsman r.a. yang sedang berada di atas mimbar. Jahjah merebut tongkat ‘Utsman, lalu mematahkannya. Belum lewat setahun, Allah menimpakan penyakit yang menggerogoti tangan Jahjah, hingga merenggut kematiannya. (Riwayat Al-Barudi dan Ibnu Sakan)
Dalam riwayat lain dikisahkan bahwa Jahjah al-Ghifari mendekati `Utsman yang sedang berkhutbah, merebut tongkat dari tangan `Utsman, dan meletakkan di atas lututnya, lalu mematahkannya. Orang-orang menjerit. Allah lalu menimpakan penyakit pada lutut Jahjah dan tidak sampai setahun ia meninggal. (Riwayat Ibnu Sakan dari Falih bin Sulaiman yang saya kemukakan dalam kitab Hujjatullah `ala al-Alamin)
Diceritakan bahwa Abdullah bin Salam mendatangi `Utsman r.a. yang sedang dikurung dalam tahanan untuk mengucapkan salam kepadanya. ‘Utsman bercerita, “Selamat datang saudaraku. Aku melihat Rasulullah Saw dalam ventilasi kecil ini. Rasulullah bertanya, “Utsman, apakah mereka mengurungmu?’ Aku menjawab, `Ya.’ Lalu beliau memberikan seember air kepadaku dan aku meminumnya sampai puas. Rasulullah berkata lagi, `Kalau kau mau bebas.niscaya engkau akan bebas, dan kalau kau mau makan bersama kami mari ikut kami.’ Kemudian aku memilih makan bersama mereka.” Pada hari itu juga, `Utsman terbunuh.
Menurut Jalaluddin al-Suyuthi, kisah ini adalah kisah masyhur yang diriwayatkan dalam kitab-kitab hadis dengan beberapa sanad berbeda, termasuk jalur sanad Harits bin Abi Usamah. Menurut Ibnu Bathis, apa yang dialami ‘Utsman adalah mimpi pada saat terjaga sehingga bisa dianggap karamah. Karena semua orang bisa bermimpi ketika tidur, maka mimpi ketika tidur tidak termasuk kejadian luar biasa yang bisa dianggap sebagai karamah. Hal ini disepakati oleh orang yang mengingkari karamah para wali. (Dikutip dalam Tabaqat al-Munawi dari kitab Itsbat al-Karamah karya Ibnu Bathis).
Renungan:Adalah Rasulullah sal lallahu alaihi wasallam itu sangat banyak berdoa kepada Allah agar diri baginda dikurniakan akhlak yg baik.Maksudnya akhlak baginda itu memang sudah tersedia baik tapi baginda mohon supaya tambah baik..tambah baik dan tambah baik.Baginda sentiasa berdoa yg maksudnya kira-kira “Ya Allah perelokkanlah kejadianku dan akhlakku”(Dikeluarkan oleh Imam Ahmad).Selain itu jga baginda berdoa yg bermaksud kira-kira “Ya Allah jauhilah daku daripada akhlak yg buruk”(Dikeluarkan oleh Tirmizi).Wahai orang-orang kafir!Takutilah Allah dalam urusan agama.Ucapkanlah Tidak ada Tuhan yg berhak disembah melainkan Allah dan nabi Muhammad itu adalah utusan Allah pasti kalian berjaya.Amin Ya Rabbal alamin.
November 26, 2010 at 6:57 am
Lagi kemuliaan para sahabat nabi Muhammad sal lallahu alaihi wasallam….
Ya’la bin Marrah berkata, “Kami bersama Rasulullah melewati pemakaman. Aku mendengar rintihan kesakitan dari dalam suatu makam, lalu aku bertanya, ‘Ya Rasulullah, aku mendengar rintihan kesakitan dari dalam kubur.’ Rasulullah bertanya, `Kamu bisa mendengarnya, Ya`la?’ Aku menjawab, `Ya.’ Kemudian Rasulullah berkata, `Sesungguhnya ia sedang disiksa karena hal yang sepele.’ Aku bertanya, ‘Karena apa?’ Rasulullah menjawab, `Adu domba dan kencing.”‘ (HR Al-Baihaqi)
Zaid bin Kharijah al-Anshari adalah keturunan Bani Harits bin Khazraj. Ia wafat pada masa ‘Utsman. Setelah jenazahnya dibungkus kain kafan, terdengar suara keras dari dalam dadanya, “Terpujilah Muhammad, terpujilah Muhammad dalam lauh mahfuzh. Benarlah Abu Bakar al-Shiddiq, benarlah Abu Bakar al-Shiddiq yang lemah jiwanya tetapi teguh menegakkan perintah Allah, dalam lauh mahfuzh. Benarlah `Umar bin Khattab, benarlah `Umar bin Khattab yang kuat lagi tepercaya dalam lauh mahfuzh. Benarlah `Utsman bin Affan, benarlah `Utsman bin Affan yang mengatur sistem mereka. Enam tahun setelah ini akan muncul berbagai fitnah, yang kuat memangsa yang lemah, tanda-tanda kiamat muncul, dan akan datang dari pasukan kalian, berita tentang sumur Aris (sebuah sumur di Madinah).” Kemudian ada seorang lakilaki dari Bani Khathmah meninggal. Jenazahnya dikafani dengan bajunya, lalu terdengar suara keras dari dalam dadanya, “Benarlah, benarlah apa yang telah dikatakan oleh Zaid dan Bani Harits bin Khazraj.” (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dari Sa’id bin Musayyab)
Al-Baihaqi menjelaskan cerita tentang sumur Aris, “Nabi Saw membuat sebuah cincin kemudian memakainya, lalu cincin itu dipakai Abu Bakar, disusul `Umar, dan terakhir `Utsman, sampai kemudian cincin itu jatuh ke sumur Aris pada tahun keenam pemerintahan `Utsman. Sejak saat itu, kinerja Utsman berubah dan sebab-sebab fitnah muncul, seperti yang telah dikatakan jenazah Zaid bin Kharijah enam tahun sebelumnya.”
Ada pendapat lain yang menyatakan bahwa sahabat rasulullah yang mampu berbicara setelah meninggal dunia adalah Kharijah bin Zaid, sebagaimana diceritakan oleh Nu’man bin Basyir. Kharijah bin Zaid adalah salah seorang pemimpin kaum Anshar. Suatu hari, ketika ia melewati sebuah jalan di Madinah antara waktu zuhur dan asar, mendadak ia jatuh, lalu wafat. Mendengar berita wafatnya Kharijah, kaum Anshar mengetahui mendatanginya dan membawanya ke rumahnya, mengafaninya dengan pakaian dan dua buah selendang. Kaum Anshar baik laki-laki maupun perempuan menangisi kematiannya. Jenazah Kharijah dibiarkan terbungkus kain kafan dalam waktu lama, karena orang-orang meratapi kematiannya yang mendadak, sehingga mereka tidak menyegerakan pemakamannya. Pada waktu antara magrib dan isya, orang-orang mendengar suara mengatakan, “Diamlah kalian semua! Diamlah kalian semua!” Mereka mencari asal suara itu, ternyata suara itu muncul dari bawah pakaian yang ditutupkan ke jenazah Kharijah. Lalu mereka membuka penutup wajahnya, tiba-tiba jenazah Kharijah berkata, “Muhammad adalah urusan Allah, seorang nabi yang ummi, penutup para nabi yang tidak ada nabi setelahnya. Sebagaimana yang ditetapkan dalam lauh mahfuzh.” Lalu berkata lagi, “Benarlah, benarlah.” Lalu berkata, “Ini adalah utusan Allah, semoga keselamatan, rahmat, dan barakah Allah senantiasa dilimpahkan atasmu ya Rasuullah, begitu juga rahmat dan barakah Allah.” Kemudian ia wafat kembali seperti semula. (Riwayat Al Thabrani).
Riwayat ini dikutip dari kitab saya (penulis), Hujjatullah `ala al-’Alamin. Dalam kisah itu, seolah-olah Kharijah bin Zaid melihat ruh Nabi Saw hadir di sampingnya. Ia hanya menyebutkan tiga khalifah setelah Rasulullah Saw. wafat dan memuji mereka, tetapi tidak menyebutkan Ali, karena ketika itu Ali belum menjabat khalifah. Kemudian aku mengecek hal tersebut dalam kitab Usud al-Ghabah karya Ibnu Atsir pada bab tentang biografi Kharijah bin Zaid al-Khazraji. Saya melihat ada perbedaan pendapat tentang tokoh dalam kisah ini, apakah Kharijah bin Zaid atau Zaid bin Kharijah. Di akhir pembahasannya, Ibnu Atsir mengatakan bahwa pendapat yang benar adalah Zaid bin Kharijah.
Sayyidah Zainab Ummu Kultsum adalah putri Sayyidina All bin Abi Thalib dari Sayyidah Fatimah al-Zahra’ r.a., juga istri `Umar bin Khatthab r.a. Dalam kitab Al-Isyarat fi Amakin al-Ziyarat, Ibnu Haurani mengemukakan bahwa `Umar menikahi Sayyidah Zainab dengan mahar 40.000. Sayyidah Zainab melahirkan Zaid yang bergelar Dzul Hilalain dan hanya sebentar mendampingi `Umar. Ia wafat di Ghauthah, daerah di Damaskus, setelah peristiwa pembunuhan saudara laki-lakinya, Husain r.a. Ia dimakamkan di daerah yang bernama Rawiyah, selanjutnya daerah tersebut dinamai dengan nama Sayyidah Zainab Ummu Kultsum, yang sekarang terkenal dengan sebutan Makam Al-Sittu.
Syaikh Abu Bakar al-Maushili bercerita, “Aku menziarahi makam Sayyidah Zainab satu kali bersama sekelompok sahabatku. Aku tidak masuk ke makamnya, tetapi hanya menghadap ke arah makamnya. Kami menundukkan pandangan sebagaimana ditetapkan para ulama bahwa peziarah sebaiknya menghormati mayit sebagaimana ketika ia masih hidup. Ketika aku sedang menangis dengan khusyuk dan rendah hati, tiba-tiba aku melihat sosok perempuan bertubuh besar, terhormat, dan berwibawa. Orang tidak akan mampu memandangnya karena begitu menghormatinya. Kemudian perempuan itu menoleh ke arahku dan berkata, ‘Hai anakku, semoga Allah menambahkan penghormatan dan kesopanan kepadamu. Tahukah kamu bahwa kakekku adalah Rasulullah Saw dan para sahabatnya selalu menziarahi Ummu Aiman, karena ia perempuan terhormat. Sampaikan kabar gembira kepada umat bahwa kakekku, para sahabat, dan anak cucunya mencintai umat ini, kecuali orang yang murtad dari agama ini karena mereka membencinya.’ Aku gelisah memikirkan ucapan perempuan itu yang bagiku merupakan misteri. Ketika aku sadar sepenuhnya, perempuan itu tak tampak lagi. Akhirnya, aku rajin menziarahi makam Sayyidah Zainab sampai sekarang.” Ibnu Asakir mengatakan bahwa di sebelah barat makam Sayyidah Zainab r.a. terdapat makam Sayyid Mudrik al-Shahabi. (Diceritakan oleh Ibnu Haurani)
Ibnu al-Atsir telah menulis biografi tentang Sayyidah Zainab r.a. dalam kitab Usud al-Ghabah, dan menuturkan bahwa Sayyidah Zainab r.a. dilahirkan sebelum Rasulullah Saw wafat. Setelah dinikahi `Umar, ia menikah lagi dengan putra pamannya yaitu ‘Aun bin Ja’far, sesuai perintah ayahandanya. Sayyidah Zainab dan anak laki-lakinya Zaid, wafat pada waktu yang sama. Abdullah bin `Umar menshalati jenazahnya atas perintah saudara laki-laki Zainab r.a. yaitu Hasan r.a.
‘Urwah menceritakan bahwa Abu Bakar r.a. memerdekakan tujuh orang di antara budak-budak yang disiksa tuannya karena beriman kepada Allah dan masuk.Islam. Di antaranya adalah Zanirah yang menjadi buta karena disiksa. Orang-orang musyrik mengatakan bahwa yang menyebabkan Zanirah buta hanyalah Lata dan `Uzza. Maka Zanirah menyangkalnya, “Sama sekali tidak, demi Allah bukan Lata dan ‘Uzza yang membuatku buta.” Kemudian Allah mengembalikan penglihatannya. (Riwayat Al-Baihaqi)
Ketika Abdullah bin Zubair disalib oleh Hajjaj (tokoh kafir dari Syam), orang-orang yang menyaksikannya mencium harum minyak wangi dari tubuhnya, sehingga penduduk Syam tertarik hatinya. (Dikemukakan oleh Syaikh `Ulwan al-Hawi dalam kitab Nasamat al-Ashar)
Sid bin Musayyab menceritakan bahwa ia dan para sahabat menziarahi makam-makam di Madinah bersama `Ali. All lalu berseru, “Wahai para penghuni kubur, semoga dan rahmat dari Allah senantiasa tercurah kepada kalian, beritahukanlah keadaan kalian kepada kami atau kami akan memberitahukan keadaan kami kepada kalian.” Lalu terdengar jawaban, “Semoga keselamatan, rahmat, dan berkah dari Allah senantiasa tercurah untukmu, wahai amirul mukminin. Kabarkan kepada kami tentang hal-hal yang terjadi setelah kami.” All berkata, “Istri-istri kalian sudah menikah lagi, kekayaan kalian sudah dibagi, anak-anak kalian berkumpul dalam kelompok anak-anak yatim, bangunan-bangunan yang kalian dirikan sudah ditempati musuh-musuh kalian. Inilah kabar dari kami, lalu bagaimana kabar kalian?” Salah satu mayat menjawab, “Kain kafan telah koyak, rambut telah rontok, kulit mengelupas, biji mata terlepas di atas pipi, hidung mengalirkan darah dan nanah. Kami mendapatkan pahala atas kebaikan yang kami lakukan dan mendapatkan kerugian atas kewajiban yang yang kami tinggalkan. Kami bertanggung jawab atas perbuatan kami.” (Riwayat Al-Baihagi)
Dalam kitab Al-Tabaqat, Taj al-Subki meriwayatkan bahwa pada suatu malam, `Ali dan kedua anaknya, Hasan dan Husein r.a. mendengar seseorang bersyair:
Hai Zat yang mengabulkan doa orang yang terhimpit kezaliman
Wahai Zat yang menghilangkan penderitaan, bencana, dan sakit
Utusan-Mu tertidur di rumab Rasulullab sedang orang-orang kafir mengepungnya
Dan Engkau Yang Maha Hidup lagi Maha Tegak tidak pernah ttdur
Dengan kemurahan-Mu, ampunilah dosa-dosaku
Wahai Zat tempat berharap makhluk di Masjidil Haram
Kalau ampunan-Mu tidak bisa diharapkan oleh orang yang bersalah
Siapa yang akan menganugerahi nikmat kepada orang-orang yang durhaka.
`Ali lalu menyuruh orang mencari si pelantun syair itu. Pelantun syair itu datang menghadap Ali seraya berkata, “Aku, ya Amirul mukminin!” Laki-laki itu menghadap sambil menyeret sebelah kanan tubuhnya, lalu berhenti di hadapan All. Ali bertanya, “Aku telah mendengar syairmu, apa yang menimpamu?” Laki-laki itu menjawab, “Dulu aku sibuk memainkan alat musik dan melakukan kemaksiatan, padahal ayahku sudah menasihatiku bahwa Allah mcmiliki kekuasaan dan siksaan yang pasti akan menimpa orang-orang zalim. Karena ayah terus-menerus menasihati, aku memukulnya. Karenanya, ayahku bersumpah akan mendoakan keburukan untukku, lalu ia pergi ke Mekkah untuk memohon pertolongan Allah. Ia berdoa, belum selesai ia berdoa, tubuh sebelah kananku tiba-tiba lumpuh. Aku menyesal atas semua yang telah aku lakukan, maka aku meminta belas kasihan dan ridha ayahku sampal la berjanji akan mendoakan kebaikan untukku jika Ali mau berdoa untukku. Aku mengendarai untanya, unta betina itu melaju sangat kencang sampai terlempar di antara dua batu besar, lalu mati di sana.”
`Ali lalu berkata, “Allah akan meridhaimu, kalau ayahmu meridhaimu.” Laki-laki itu menjawab, “Demi Allah, demikianlah yang terjadi.” Kemudian ‘Ali berdiri, shalat beberapa rakaat, dan berdoa kepada Allah dngan pelan, kemudian berkata, “Hai orang yang diberkahi, bangkitlah!” Laki-laki itu berdiri, berjalan, dan kembali sehat seperti sedia kala. `Ali berkata, “Jika engkau tidak bersumpah bahwa ayahmu akan meridhaimu, maka aku tidak akan mendoakan kebaikan untukmu.”
Fakhrurrazi yang hanya sedikit memasukkan cerita-cerita tentang karamah para sahabat dalam kitabnya, juga meriwayatkan bahwa seorang budak kulit hitam penggemar `Ali mencuri. Budak itu diajukan kepada Ali dan ditanya, “Betulkah kau mencuri?” la menjawab, “Ya,” maka `Ali memotong tangannya. Budak itu berlalu dari hadapan `Ali, kemudian berjumpa dengan Salman al-Farisi dan Ibnu al-Kawwa’. Ibnu al-Kawwa’ bertanya, “Siapa yang telah memotong tanganmu?” Ia menjawab, “Amirul mukminin, pemimpin besar umat muslim, menantu Rasullah, dan suami Fatimah.” Ibnu al-Kawwa’ bertanya, “la telah memotong tanganmu dan kamu masih juga memujinya?” Budak itu menjawab, “Mengapa aku tidak memujinya? Ia mcmotong tanganku sesuai dengan kebenaran dan berarti membebaskanku dari neraka.”
Salman mendengarkan penuturan budak itu, lalu menceritakannya kepada All. Selanjutnya Ali memanggil budak hitam itu, lalu meletakkan tangan yang telah dipotong di bawah lengannya, dan menutupnya dengan selendang, kemudian Ali memanjatkan doa. Orang-orang yang ada di sana tiba-tiba mendengar seruan dari langit, “Angkat selendang itu dari tangannya!” Ketika selendang itu diangkat, tangan budak hitam itu tersambung kembali dengan izin Allah.
Wahai orang-orang kafir!Ucapkanlah Tidak ada Tuhan yg berhak disembah melainkan Allah dan nabi Muhammad itu adalah utusan Allah pasti kalian berjaya.Amin Ya Rabbal alamin.
November 27, 2010 at 5:39 am
Lagi kemuliaan sahabat-sahabat nabi Muhammad sal lallahu alaihi wasallam…
Dalam kitab Al-I`tibar, Usamah bin Munqidz mengemukakan kisah yang didengamya dari Syihabuddin Abu al-Fath, pelayan Mu’izuddaulah bin Buwaihi di Mosul pada tanggal 18 Ramadhan 566 M. Diceritakan bahwa ketika Syihabuddin berada di dalam Masjid Shunduriyah di pinggir kota Anbar daerah Tepi Barat, Khalifah Al-Muqtafi datang berkunjung bersama salah seorang menterinya. AI-Mugtafi memasuki masjid tersebut, yang dikenal dengan sebutan Masjid Amirul Mukminin Ali, dengan memakai baju biasa dan menyandang pedang yang hiasannya dari besi. Tak seorang pun mengetahui bahwa ia adalah seorang khalifah, kecuali orang-orang yang telah mengenalnya. Pengurus masjid mendoakan sang menteri. Lalu sang menteri berkata, “Celaka, doakanlah khalifah!”
Kemudian Khalifah Al-Mugtafi berkata kepada menterinya, “Tanyakan sesuatu yang bermanfaat pada pengurus masjid itu. Katakan padanya bahwa dulu pada masa pemcrintahan Maulana Al-Mustazhhir, aku melihat la menderita sakit di wajahnya. Wajahnya penuh bisul schingga jika mau makan, bisulnya harus ditutup dengan sapu tangan, agar makanan bisa masuk ke mulutnya.”
Pengurus masjid itu menjelaskan, “Seperti Anda ketahui, aku berulang kali datang ke masjid ini dari Anbar. Suatu hari, ada seseorang menemuiku dan berkata, `Kalau engkau berulang kali menemui si Fulan setiap datang dari Anbar, seperti engkau berulang kali datang ke masjid ini, niscaya si Fulan akan memanggilkan tabib untukmu yang bisa menghilangkan penyakit di wajahmu.’ Perkataan orang itu merasuk ke hatiku dan menghimpit dadaku. Lalu aku tertidur pada malam itu dan bermimpi bertemu amirul mukminin Ali bin Abi Thalib yang tengah berada dalam masjid tersebut seraya bertanya, `Lubang apa ini?’ Maksudnya adalah sebuah lubang di tanah. Kemudian aku mengadukan penyakit yang menimpaku tetapi `Ali berpaling dariku. Maka aku kembali mengadukan penyakitku dan perkataan yang diucapkan oleh lelaki yang menemuiku di masjid tadi. All berkata, `Engkau termasuk orang yang menginginkan dunia.’ Kemudian aku terbangun, dan tiba-tiba bisul-bisul di wajahku lenyap.”
Khalifah Al-Mugtafi berkata, “Ia benar,” lalu menoleh ke arah Syihabuddin dan berkata, “Bicaralah pada pengurus masjid itu, cari tahu apa yang la minta, tuliskan permintaannya disertai tanda tangannya, dan berikan padaku untuk kutandatangani.”
Selanjutnya Syihabuddin berbincang-bincang dengan pengurus masjid itu, dan pengurus masjid itu bercerita, “Aku memiliki istri yang sedang menyusui anak dalam keadaan hamil dan beberapa anak perempuan. Setiap bulan, aku membutuhkan 3 dinar.” Syihabuddin menuliskan permintaan pengurus masjid Ali itu beserta alamatnya dan Al-Mugtafi menandatanganinya.
Al-Mugtafi kemudian menyuruh Syihabuddin untuk menyampaikan permintaan pengurus masjid itu ke dewan keuangan. Syihabuddin membawa berkas permintaan pengurus masjid itu ke dewan keuangan dan dewan menandatanganinya tanpa membacanya serta mengambil bagian tulisan khalifah Al-Mugtafi. Ketika sekretaris dewan membuka tulisan itu untuk dipindahkan, ia menemukan tulisan khalifah Al-Mugtafi di bawah tanda tangan pengurus masjid Ali yang berbunyi, “Seandainya ia meminta lebih dari itu, tentu akan diberi.”
Kisah lainnya menceritakan bahwa Nabi Muhammad Saw menyuruh Abu Dzar memanggil Ali. Sesampai di rumah Ali, Abu Dzar melihat alat penggiling sedang menggiling gandum padahal tidak ada seorang pun di sana. Kemudian Abu Dzar menceritakan hal tersebut kepada Nabi Saw Beliau berkata, “Hai Abu Dzar! Tahukah kau bahwa Allah memiliki malaikat-malaikat yang berjalan-jalan di bumi dan mereka diperintahkan untuk membantu keluarga Nabi Muhammad Saw.” (Dikemukakan olch Al-Shubban dalam kitab Is`af al-Raghibin dan Al Mala’ dalam kitab Sirahnya)
Abu Hurairah r.a. menceritakan bahwa Rasulullah Saw pernah mengirim pasukan yang dipimpin oleh Ashim bin Tsabit. Mereka berangkat, dan ketika tiba di daerah antara Asfan dan Mekkah, mereka teringat akan caci-maki suku Hudzail. Ternyata suku Hudzail membuntuti pasukan muslimin dari jarak dekat sejauh 100 lemparan anak panah. Suku Hudzail mengikuti jejak pasukan muslimin sampai kemudian berhasil menyusul mereka. Ashim dan pasukannya berada di Fad-Fad, sebuah tempat yang cukup tinggi. Namun suku Hudzail berhasil mengepung pasukan muslimin, dan mengadakan perjanjian, “Kalian harus berjanji bahwa jika kalian turun, maka kami tidak akan membunuh seorang pun dari kalian.” Ashim menjawab, “Kami tidak akan turun untuk meminta perlindungan orang kafir. Ya Allah, kabarkanlah keadaan kami kepada Nabi-Mu!”
Suku Hudzail dengan liciknya memanah pasukan muslimin sehingga berhasil membunuh Ashim dan tujuh orang lainnya, yang tersisa adalah Khabib, Zaid bin Ditsnah, dan seorang lainnya. Akhirnya, tiga orang ini mau membuat perjanjian dan kesepakatan dengan suku Hudzail. Mereka turun, tetapi suku Hudzail melepaskan tali busur dengan bengis, lalu mengikat mereka. Ditsnah berkata, “Mereka melanggar perjanjian.” Ditsnah menolak tunduk kepada suku Hudzail, maka mereka menarik dan memaksanya untuk tunduk kepada mereka, tetapi ia tetap tidak mau, akhirnya suku Hudzail membunuhnya.
Suku Hudzail membawa Khabib dan Zaid lalu dijual sebagai budak di Mekkah. Keturunan Harits bin ‘Amir bin Naufal membeli Khabib, padahal Khabiblah yang membunuh Harits pada waktu perang Badar. Khabib menjadi tawanan mereka sampai ada kesepakatan mereka untuk membunuhnya.
Khabib meminjam pisau cukur dari salah seorang anak perempuan Harits, perempuan itu meminjamkannya. Perempuan itu berkata, “Aku lupa anakku ada di mana.” Khabib mencari anak itu sampai menemukannya, lalu memangku anak itu di atas pahanya. Ketika perempuan itu melihat Khabib, ia betul-betul kaget karena Khabib juga menggenggam pisau cukur. Khabib bertanya, “Apakah kau takut aku akan membunuhnya? Insya Allah aku tidak akan melakukannya.” Perempuan itu berkomentar, “Aku belum pernah melihat tawanan sebaik Khabib. Aku pernah melihatnya makan anggur yang baru saja dipetik, padahal ketika itu di Mekkah tidak musim buah-buahan dan ia masih terikat rantai besi. Itu tak lain rezeki dari Allah.”
Ketika keturunan Harits membawa Khabib keluar dari Mekkah untuk dibunuh, Khabib meminta waktu untuk shalat dua rakaat. Ia melakukan shalat, lalu berdoa, “Ya Allah, lemparilah mereka terus menerus dengan kerikil, bunuhlah mereka semua, hingga tiada seorang pun yang tersisa.”
Dalam riwayat lain, Khabib mengucapkan doa, “Ya Allah, aku tidak menemukan utusan untuk mengabarkan keadaan kami kepada RasulMu. Sampaikan salamku untuknya!” Jibril kemudian menemui Nabi Saw untuk memberitahukan keadaan Khabib dan menyampaikan salamnya. Para sahabat melihat Rasulullah Saw yang saat itu sedang duduk berkata, “Salam kembali untuknya. Khabib telah dibunuh suku Quraisy.” (HR Al-Baihaqi dan Abu Na`im dari jalur Musa bin Uqbah, dari Ibn Syihab, dari `Urwah)
Allah telah mengabulkan doa `Ashim sebelum ia dibunuh yang memohon kepada Allah untuk mengabarkan keadaan pasukannya kepada Rasulullah. Hari itu juga, di lain tempat Rasulullah Saw memberitahukan keadaan mereka kepada kaum muslimin. Suku Quraisy mendatangi jenazah Ashim untuk mengambil bagian tubuhnya yang mereka inginkan, karena ‘Ashim telah membunuh salah seorang pembesar suku Quraisy pada waktu perang Badar. Akan tetapi Allah mengirim sekawanan lebah untuk melindungi dan mengamankan jenazah `Ashim, sehingga suku Quraisy tidak bisa memotong sedikit pun bagian tubuh Ashim. (Riwayat Bukhari)
Riwayat lainnya menceritakan bahwa ketika suku Hudzail berhasil membunuh `Ashim bin Tsabit, mereka menginginkan kepalanya untuk dijual kepada Sullafah binti Sa’ad, karena ia pernah bernadzar sewaktu anak laki-laki satu-satunya terbunuh, bahwa jika ia bisa memenggal kepala `Ashim bin Tsabit, sungguh ia akan meminum arak dari tulang tengkorak kepala `Ashim. Akan tetapi sekawanan lebah yang dikirim Allah untuk melindungi jenazah Ashim membuat mereka tidak bisa memenggal kepalanya. Karena sekawanan lebah itu menghalangi suku Hudzail mendekati jenazah `Ashim, mereka berkata, “Biarkan saja dulu sampai lebah itu pergi sehingga kita bisa mengambil jenazah Ashim.” Namun Allah memerintahkan lembah untuk menelan Ashim dan membuatnya lenyap. Ashim telah berjanji kepada Allah bahwa ia tidak akan menyentuh orang musyrik dan tidak akan disentuh oleh mereka selama hidupnya, maka Allah menjaga `Ashim agar tidak disentuh orang musyrik ketika wafat sebagaimana semasa hidupnya.” (Diceritakan oleh Al-Baihaqi dari jalur Ibnu Ishaq dari `Ashim bin `Umar bin Qatadah)
Kisah lainnya menyebutkan bahwa Rasulullah Saw. mengutus Ashim bin Tsabit menemui orang-orang kafir. Kemudian mereka ingin memenggal kepalanya untuk diserahkan kepada Sullafah. Akan tetapi Allah mengutus sekawan lebah untuk menjaganya hingga mereka tidak bisa memenggal kepalanya. Adapun tentang Khabib disebutkan bahwa ia berdoa, “Ya Allah aku tidak mendapatkan seseorang untuk menyampaikan salamku kepada Rasul-Mu, maka sampaikanlah salamku untuknya.” Saat itu juga di tempat yang lain, para sahabat melihat Rasulullah berkata, “Salam kembali untuknya.” Para sahabat bertanya, “Untuk siapa ya Nabi?” Beliau menjawab, “Untuk saudara kalian, Khabib, yang telah terbunuh.” (HR Baihaqi dan Abu Na’im dari Buraidah bin Salman Aslami)
Amr bin Umayyah al. Dhamri bercerita, “Rasullah Saw menyuruhku mengambil jenazah Khabib sendirian. Aku menghampiri sepotong kayu yang digunakan orang-orang kafir untuk menyalib Khabib, setelah ia dibunuh. Aku menaiki kayu itu sambil mengedarkan pandangan karena takut ada musuh yang melihat. Aku melepaskan Khabib dan meletakkannya di atas tanah, lalu aku beranjak dari sana sedikit. Ketika aku menoleh lagi, jenazah Khabib sudah tidak ada, seolah-olah ditelan bumi. Hingga kini jenazah Khabib tidak diketahui keberadaannya.” (Riwayat Ibnu Ahi Syaibah dan Al-Baihaqi Ja’far bin `Amr bin Umayyah al-Dhamri)
Riwayat yang lain menceritakan bahwa Rasulullah Saw. menyuruh Migdaq dan Zubair untuk menurunkan Khabib dari kayu salib. Mereka berdua sampai di daerah Tan’im, dan menemukan di sekitar Khabib ada 40 orang sedang memanggang sate. Lalu mereka menurunkan Khabib, dan Zubair membawanya ke atas kudanya. Jenazah Khabib masih segar dan tidak berubah sedikit pun. Orang-orang musyik mengejar mereka berdua. Ketika mereka berhasil menyusul, Zubair melemparkan jenazah Khabib, dan tiba-tiba jenazahnya lenyap ditelan bumi. Oleh karena itu, Khabib disebut ‘orang yang tertelan bumi’. (Diriwayatkan oleh Abu Yusuf dalam kitab Al-Lathaif dari Al-Dhahhak)
Renungan:Rasulullah saw bersabda Allah memberikan dunia ini kepada sesiapa saja samada orang yg dikasihiNya atau orang yg dimusuhiNya.Namun kebahagiaan akherat hanya diberi kepada orang yg dikasihinya sahaja.Wahai orang-orang kafir!Ucapkanlah Tidak ada Tuhan yg berhak disembah melainkan Allah dan Nabi Muhammad itu adalah utusan Allah pasti kalian akan berjaya.Amin Ya Rabbal alamin.
November 28, 2010 at 8:09 am
Ulama terdahulu, tidak hanya menjalankan tugas mereka sebagai penyebar ilmu atau pembimbing umat. Lebih dari itu, mereka juga berfungsi sebagai alat kontrol terhadap kebijakan para penguasa.
Tugas ini mustahil bisa dilakukan jika mereka sendiri menjadi kroni atau bahkan menggantungkan kehidupan kapada penguasa. Oleh sebab itu, para ulama saat itu selalau menjaga agar mereka senantiasa bersikap obyektif, tidak membedakan panguasa atau rakyat jelata dan tidak pula menerima imbalan serta hadiah dari para penguasa.
Tak jarang, para ulama yang berani mengingatkn penguasa harus berhadapan dengan hukuman yang bisa mengancam nyawa mereka. Akan tetapi, mereka menghadapi â€ancaman†itu dengan penuh ketegaran dan kesabaran.
Kisah-kisah itulah yang kita â€suguhkan†kepada pembaca saat ini, mudah-mudahan ketegasan dan keberanian mereka bisa menjadi suri tauladan bagi kita semuanya. Selamat membaca.
Ulama: “Jangan Dekati Pintu Penguasa!â€
Karena sangat berhati-hati, para ulama terdahulu enggan mendatangi penguasa, walau hanya untuk mengajar, dan menerima pemberian penguasa bagi mereka adalah sebuah aib
Imam Malik (179 H ) diminta oleh Khalifah Harun Ar Rasyid untuk berkunjung ke istana dan mengajar hadits kepadanya. Tidak hanya menolak datang, ulama yang bergelar Imam Dar Al Hijrah itu malah meminta agar khalifah yang datang sendiri ke rumah beliau untuk belajar,â€Wahai Amiul Mukminin, ilmu itu didatangi, tidak mendatangi.â€
Akhirnya, mau tidak mau, Harun Ar Rasyidlah yang datang kepada Imam Malik untuk belajar. Demikianlah sikap Imam Malik ketika berhadapan dengan penguasa yang adil sekalipun semisal Ar Rasyid. Ia diperlakukan sama dengan para pencari ilmu lainnya walau dari kalangan rakyat jelata. Selain itu, para ulama menilai, bahwa kedekatan dengan penguasa bisa menimbulkan banyak fitnah. Kisah ini termaktub dalam Adab As Syari’iyah (2/52).
Tidak hanya Imam Malik, yang memperlakukan Ar Rasyid demikian, para ulama lainnya pun memiliki sikap yang sama. Suatu saat Ar Rasyid pernah meminta kepada Abu Yusuf, qadhi negara waktu itu, untuk mengundang para ulama hadits agar mengajar hadits di istananya.
Tidak ada yang merespon undangan itu, kacuali dua ulama, yakni Abdullah bin Idris 92 H) dan Isa bin Yunus (86 H), mereka bersedia mengajarkan hadits, itupun harus dengan syarat, yakni belajar harus dilaksanakan di rumah mereka, tidak di istana. Akhirnya kedua putra Ar Rasyid, Al Amin dan Al Makmun mendatangi rumah Abdullah bin Idris. Di sana mereka berdua mendapatkan seratus hadits. Setelah itu, mereka berangkat menuju rumah Isa bin Yunus. Sebagai â€ucapan terima kasihâ€, Al Makmun memberikan 10 ribu dirham. Tapi Isa bin Yunus menolak, dan mengatakan,â€Hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, tidak untuk mendapatkan apa-apa, walau hanya segelas air untuk minumâ€
Sedangkan Abu Hazim (140 H), ulama di masa tabi’in, pernah menyatakan, bahwa di masa sebelum baliau, jika umara mengundang ulama, ulama tidak mendatanginya. Jika umara memberi, ulama tidak menerima. Jika mereka memohonnya, mereka tidak menuruti. Akhirnya, para penguasa yang mendatangi ulama di rumah-rumah mereka untuk bertanya. (Riwayat Abu Nu’aim).
Kedekatan ulama dengan penguasa merupakan seuatu hal yang dianggap sebagai aib oleh para ulama saat itu.Bahkan Abu Hazim mengatakan,â€Sebaik-baik umara, adalah mereka yang mendatangi ulama dan seburuk-buruk ulama adalah mereka yang mencintai penguasa.â€
Selain Abu Hazim, Wahab bin Munabih (110 H), ulama dari kalangan tabi’in juga pernah menyatakan agar para ulama menghindari pintu-pintu para penguasa, karena di pintu-pintu mereka itu ada fitnah, â€Kau tidak akan memperoleh dunia mereka, kecuali setelah mereka membuat mushibah pada agamamu.†(Riwayat Abu Nu’aim).
Para ulama bersikap demikian, karena keakraban dengan penguasa bisa menyebabkan sang ulama kehilangan keikhlasan, karena ketika mereka mendapatkan imbalan dari apa yang mereka berikan kepada penguasa, maka hal itu bisa menimbulkan perasaan ujub, atau kehilangan wibawa di hadapan penguasa. Ujung-ujungnya, mereka tak mampu lagi melakukan amar ma’ruf nahi mungkar, jika para penguasa melakukan kesalahan.
Inilah yang sejak awal sudah diperingatkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam (SAW), beliau telah bersabda, â€Barang siapa tinggal di padang pasir, dia kekeringan. Barang siapa mengikuti buruan ia lalai. Dan barang siapa yang mendatangi pintu-pintu penguasa, maka ia terkena fitnah. (Riwayat Ahmad).
Beramai-Ramai Menolak Pemberian Penguasa
Suatu saat Muhammad bin Rafi’ An Naisaburi (245 H), ulama hadits semasa Imam Bukhari menerima seorang utusan dari Amir Thahir bin Abdullah Al Khuza’i, seoarang penguasa pada waktu itu. Utusan itu menemui Muhammad bin Rafi’ yang sedang makan roti dengan menyodorkan uang lima ribu dirham. Sekantong uang itu diletakkan di samping Muhammad.
Utusan itu menjelaskan bahwa Amir Thahir mengirimkan uang ini untuk belanja kaluarga Muhammad. â€Ambil, ambillah harta itu untukmu. Saya tidak membutuhkan. Saya telah berumur 80 tahun, sampai kapan saya akan terus hidup?†Jawab Muhammad.
Akhirnya, utusan itu pergi dengan sekantong uang dirham. Namun, setelah utusan itu pergi, putra Muhammad muncul dari dalam rumah, â€Wahai Ayah, malam ini kita tidak memiliki roti!†serunya, sebagaimana dikisahkan Ad Dzahabi dalam Thabaqat Al Huffadz (2/510).
Ada pula sebuah kisah menarik lainnya, tentang Imam Al Auza’i (157 H). Setelah memberi nasehat kepada Khalifah Al Manshur, beliau meminta izin kepada khalifah, untuk pergi meninggalkannya demi menjenguk anaknya di negeri lain. Al Manshur merasa bahwa Al Auza’i telah berjasa kepadanya, karena nasehat-nasehat yang telah disampaikan kepadanya. Akhirnya, ia ingin memberi â€bekal perjalanan†untuk ulama ini. Namun apa yang terjadi? Sebagaimana disebutkan dalam Al Mashabih Al Mudzi` (2/133,134), Imam Al Auzai menolak. â€Saya tidak membutuhkan itu semua, saya tidak sedang menjual nasehat, walau untuk seluruh dunia dan seisinya.†Ucap beliau dengan tegas.
Ada beberapa ulama lain, yang juga tegas menolak pemberian para penguasa. Adalah Kamal Al Anbari (513 H), dalam Thabaqat As Syafi’iyah Al Kubra (7/155), disebutkan bahwa beliau adalah ulama nahwu yang memiliki harta pas-pasan. Hidupnya hanya mengandalkan sewa kedai, yang dalam sebulan cuma menghasilkan setengah dinar.
Namun keadaan itu tidak mempengaruhi sikap beliau. Suatu saat khalifah Al Mustadhi’ mengirimkan utusan kepadanya, dengan membawa uang 500 dinar, untuk diberikan kepadanya. Akan tetapi Al Anbari menolak. Sehingga utusan tersebut mengatakan, â€Kalau engkau tidak mau, berikanlah harta ini kepada anakmuâ€.
Al Anbari menjawab,â€Jika aku yang menciptakannya, maka akulah yang memberinya rezekiâ€
Perkataan Al Anbari menunjukkan bahwa Allah telah mengatur rizki anaknya, hingga ia tidak perlu menerima dan memberikan hadiah itu kepada anaknya.
Abu Hasan Al Karkhi (410 H) termasuk bagian dari deretan para ulama yang menolak pemberian penguasa. Saat beliau menderita sakit keras, 4 sahabatnya menjenguk, merasa iba dengan keadaan Al Karkhi. Akhirnya mereka berunding mengenai biaya pengobatan, karena tidak ingin memberatkan umat Islam, mereka bersepakat untuk meminta penguasa waktu itu, Saif Ad Daulah agar memberikan bantuan.
Setelah dilaksanakan, mereka mengabarkan hal itu kepada Al Karkhi. Bukan malah senang, Al Karkhi malah menangis, dan berdoa, â€Ya Allah, jangan Engkau jadikan rezeki untukku, kacuali apa yang biasa Engkau berikanâ€
Doa Al Karkhi terkabul, beliau telah wafat terlebih dahulu, sebelum bantuan itu sampai. Barulah setelah itu, surat dari Saif Ad Daulah berserta sepuluh ribu dirham tiba, dan disebut dalam surat, bahwa penguasa berjanji, siap memberikan uang sebesar itu pula suatu saat nanti.
Menjauhi Mereka yang Dekat dengan Penguasa
Tidak hanya menjauhi penguasa atau menolak hadiah dari mereka. Orang atau bahkan ulama yang dekat dengan penguasa akan dijauhi oleh ulama lain. Ini tercermin dari sikap Al Karkhi. Beliau menjauhi sahabatnya dekatnya, setelah ia mendadak kaya, karena dekat dengan penguasa.
Sahabatnya itu bernama Abu Al Qasim At Tanukhi. Diketahui, setelah ia menjabat hakim negara, tiba-tiba kehidupannya berubah. â€Sekarang tiap hari yang dimakan berdinar-dinar, dan saya belum mengetahui kalau ia mendapat warisan atau sukses dalam berdagang. Tidak tahu dari mana asalnya harta ituâ€. Ucap Al Karkhi. Mulai saat itu, beliau tidak pernah satu majelis dengan At Tanukhi, sebagaimana dicatat Al Kautsari dalam Al Maqalat (386)
Enggan Makan dari Makanan Penguasa
Adalah Syaikh Jamaluddin Al Hashiri (636 H), ulama madzhab Hanafi di Mesir.Di saat bulan Ramadhan tiba, baliau mengunjungi Istana untuk menemui Sultan Malik Adil. Datang ke istana bukan karena undangan, akan tetapi beliau ingin mengetahui alasan Malik Adil melarang Syaikhul Islam Izzuddin bin Abdissalam untuk berfatwa, padahal beliau adalah orang yang pantas untuk berfatwa, menurut pandangan para ulama.
Disebutkan dalam Thabaqat As Syafi’iyah (8/237) bahwa saat adzan Maghrib berkumandang, pelayan istana membawa minuman, Sultan meminumnya dan menawarkan juga kepada Al Hashiri. “Saya datang ke sini bukan untuk menikmati makan dan minum dari Anda.†Jawabnya. Al Hashiri tidak menyentuh cawan itu.
Diperingatkan Allah Setelah Bangga â€Dihormati†Penguasa
Setelah Sultan Khawarizmi Syah usai melakukan pertempuran melawan kekuasaan kafir, dan berhasil membunuh rajanya, Imam Ar Rafi’i menemui Sang Sultan dan mencium tangannya.â€Saya mendengar, bahwa anda telah membunuh pemimpin kafir dengan tangan anda sendiri, saya ingin mencium tangan itu.†Sebaliknya, sultan enggan, malah ia yang mencium tangan Imam Ar Rafi’i.
Setelah peristiwa itu terjadi, Imam Ar Rafi’i berlalu dengan kendaraannya. Namun, tidak lama kemudian, tunggangannya terpeleset dan jatuh, dan tangan beliau terluka. â€Subhanallah, sultan telah mencim tangan ini, dan seketika itu aku merasakan kebanggaan, maka Allah telah menghukumku saat ini juga dengan kecelakaan ini.†Ucap Ar Rafi’i, sabagaimana termaktub dalam Thabaqat As Syafi’iyah Al Kubra (8/284).
Wahai orang-orang kafir!Ucapkanlah Tidak ada Tuhan yg berhak disembah melainka Allah dan nabi Muhammad itu adalah utusan Allah pasti kalian berjaya.Amin Ya Rabbal alamin.
November 29, 2010 at 5:20 am
Lagi kemuliaaan para ulama umat nabi Muhammad saw….
Para ulama terdahulu berani mengingatkan penguasa yang berbuat salah. Tak jarang karena enggan diajak kompromi, mereka akhirnya berhadapan dengan â€siksaan†. Dan itu semua dihadapi dengan penih ketegaran
Dengan menjaga jarak terhadap penguasa, para ulama tidak terbebani, ketika harus melakukan amar ma’ruf nahi mungkar kepada mereka. Bahkan kerap kali para ulama harus berhadapan dengan resiko yang besar, ketika melakukan hal itu, akan tetapi, mereka tidak pernah gentar.
Di Afrika, di zaman pemerintahan Muhammad bin Muqatil Al Akki, ada seorang ulama sahabat Imam Malik yang terkenal dengan sebutan Imam Al Buhlul Al Qairawani (183 H). Beliau tergolong para ulama yang tidak takut terhadap resiko beramar ma’ruf nahi mungkar terhadap penguasa. Suatu saat ia memperoleh kabar bahwa penguasa Afrika waktu itu setuju ketika diminta oleh pengusa Kafir Isbaniyol (kini Eropa) untuk mengirim besi, tembaga serta senjata. Tentu sikap yang diambil penguasa ini amat berbahaya bagi umat Islam, karena bahan-bahan itu digunakan untuk memerangi kaum Muslim. Al Buhlul tidak bisa tinggal diam, ia mengatakan kepada Al Akki bahwa perbuatannya bisa menyebabkan orang-orang kafir lebih mudah menguasai kaum Muslim.
Akan tetapi nasehat itu tidak direspon dengan baik, Al Akki marah dan memerintahkan utusannya untuk â€mengambil†Al Buhlul dan membawanya, untuk menghadap Al Akki.
Akan tapi rakyat berpihak kepada Al Buhlul, mereka melindungi ulama ini. Keadaan ini menyebabkan kemarahan penguasa semakin memuncak. Maka, dikirimkanlah bala tentara. Setelah mampu melumpuhkan rakyat, mereka memerintahkan agar Al Buhlul melepaskan pakaian dan mencambuknya. 20 cambukan mendera tubuh ulama ini. Tidak hanya terkena sasaran cambuk, Al Buhlul juga dipenjara setelah itu.
Setelah bebas dari jeruji besi, luka cambukan ternyata masih belum sembuh, malahan semakin parah. Luka itulah yang menyebabkan wafatnya ulama madzhab Maliki ini. Kisah mengharukan ini disebutkan dalam Tartib Al Madarik (3/98-101).
Imam Bukhari (256 H) juga pernah mendapat perlakuan kejam dari penguasa. Dalam Hadyu As Sari (226) disebutkan, ketika beliau memasuki Bukhara, semua mata manusia tertuju kepadanya, termasuk penguasa negeri itu, Khalid bin Ahmad bin Khalfah bin Thahir. Akhirnya ia meminta Imam Bukhari datang ke istana dan mengajarkan Shahih dan Tarikh Al Bukhari. Tentu Imam Bukhari menolak. Bukan hendak menutup pintu ilmu bagi mereka, akan tetapi beliau tidak mau mengajar kaum bangsawan, dengan meninggalkan para pencari ilmu dari kalangan rakyat jelata.
Dalam riawayat yang lain disebutkan bahwa Imam Bukhari mengatakan, kepada utusan Sultan,â€Katakan kepadanya, saya tidak akan merendahkan ilmu, dan membawanya ke pintu-pintu istana, jika ia membutuhkan suatu darinya (ilmu) maka datanglah ke masjid atau rumahku.â€
Sikap Imam Bukhari ini membuat penguasa marah dan mengusir ulama hadits ini dari Bukhara. Di sebuah desa kecil di wilayah Samarkand beliau memutuskan untuk tinggal. Di desa itu pula, sebulan kemudian beliau wafat.
Keberanian Imam An Nawawi (676 H) dalam menolak kebijakan penguasa, juga terlalu penting untuk dilewatkan. Saat Dhahir Bebres usai menghadapi pasukan Tatar di Syam, ia meminta fatwa para ulama wilayah itu tentang bolehnya mengambil pajak dari rakyat guna membantu peperangan. Para Fuqaha Syam pun membolehkan.
“Masih tersisa ada ulama lain?†Tanya Dhahir.
â€Iya, tinggal Syaikh Muhyiddin An Nawawi†Jawab salah satu dari mereka
Akhirnya Imam Nawawi diminta datang. Setelah itu, Dhahir meminta agar beliau ikut menulis fatwa yang isinya sama seperti ulama yang lain. Tapi apa yang terjadi? Ternyata Imam Nawawi menolak.
Beliau malah mengingatkan Dhahir, bahwa ia memiliki seribu budak, tiap budak membawa emas serta dua ratus budak perempuan, masing-masing mengenakan gelang emas. “Jika engkau telah gunakan itu semua, dan tinggal para budak laki-laki dan budak perempuan yang masih lengkap dengan pakaian tanpa gelang. Maka saya baru akan memfatwakan boleh mengambil pajak dari rakyat.†Tutur An Nawawi.
Seelah mendengar jawaban Imam Nawawi, Dhahir marah, â€Kaluar dari negeriku!†Perintahnya kepada Imam Nawani.
â€Saya mendengar dan mentaati.†Jawab ulama besar ini. Kemudian, penulis ktab Al Adzkar ini keluar dari kota Damaskus menuju desa Nawa.
Setelah peristiwa itu, para ulama merasa kehilangan, mereka menyatakan kepada Dhahir,â€Nawawi termasuk orang shalih dan ulama besar kami, yang kami jadikan tauladan, kembalikan dia ke Damaskus.â€
Kamudian, Imam Nawawi diminta kembali, tapi beliau enggan dan menjawab,â€Saya tidak akan masuk Damaskus, selama Dhahir masih di sana.†Setelah itu, satu bulan kemudian, Imam Nawawi wafat.
Syeikh Nuruddin Al Bakri (727H) adalah ulama Mesir, yang juga istiqamah melakukan amar ma’ruf nahi mungkar. Pernah sekali ia berhadapan dengan penguasa waktu itu, yakni, Sultan Ibnu Qalawun, disebabkan perbuatan beberapa orang Nasrani.
Awalnya, orang-orang Nasrani meminjam beberapa lampu masjid Amru bin Ash. Bukan untuk keperluan pribadi, tapi untuk menerangi gereja mereka. Ini yang membuat umat Islam merasa dilecehkan, sehingga berkumpullah umat Islam dalam jumlah yang besar, mereka kemudian menyerang gereja.
Orang-orang Nasrani Qibthi juga tidak diam, mereka mengadu kepada Ibnu Qalawun, hingga keluarlah perintah agar perkara ini diselesaikan lewat pengadilan. Al Bakri, setelah mendengar hal ini, mendatangi Ibnu Qalwanun dengan mengatakan,â€Seafdhal-afdhalnya jihad, adalah mengatakan haq kepada sultan yang bodoh.â€
“Saya bodoh?†Tanya Ibnu Qalawun.
“Iya, Anda telah membiarkan orang-orang Qibthi, memiliki kekuasan terhadap umat Islam.†Jawab Al Bakri.
Ibnu Qalawun marah, hingga keluarlah perintah untuk memotong lidah Syaikh Al Bakri. Akan tetapi, perintah itu tidak terlaksana, karena Syeikh Shadruddin bin Al Murahhil mendatangi Sultan, dan memohon agar melepaskan Al Bakri. Akhirnya ulama mazhab Syafi’i ini terbebas. Kisah ini disebutkan dalam Thabaqat As Syafi’iyah ( 9/1399).
Yang dialami Bunan Al Hammal Al Baghdadi (257 H) tidak kalah mengerikan. Sebagaimana disebutkan dalam Tarikh Al Baghdadi (7/101), suatu saat, beliau mengkritik Ibnu Thulun, tapi penguasa Mesir itu tidak menerimanya dan hal itu malah membuatnya murka. Hingga ia memerintahkan para prajurit untuk memasukkan Bunan Al Hammal ke dalam kandang singa.
Tapi, peristiwa aneh terjadi. Singa yang sebelumnya tampak buas hanya mengendusnya saja, dan enggan melukainya, dan itu berlangsung lama, hingga akhirnya ia dibebaskan. Masyarakat terheran-heran, hingga mereka bertanya kepada Bunan, â€Bagaimana perasaan Anda saat singa itu mengendus badan Anda?â€
â€Saat itu saya berfikir, mengenai khilaf para ulama tentang hukum liur binatang buas, najis atau tidak.†Jawab Bunan.
Wahai orang-orang kafir!Ucapkanlah Tidak ada Tuhan yg berhak disembah melainkan Allah dan Nabi Muhammad itu adalah utusan Allah pasti kalian berjaya.
November 30, 2010 at 5:16 am
Salah seorang sahabat yg paling rapat dengan nabi Muhammad saw dan paling mengetahui hadis dan sunnah-sunnah nabi ialah Anas bin Malik.Ini ialah karena Beliau telah berkhidmat menjadi pelayan nabi Muhammad saw selama 1o tahun.Beliau juga merupakan sahabt yg berusia panjang dan sempat hidup sehingga zaman beberapa orang khalifah Bani Umayyah.Adalah dikatakan bahawa Malik bin Anas ra pengasas mazhab maliki yg juga guru kepada Imam Syafii sempat bertemu beliau dan belajar langsung dari beliau.Berikut adalah riwayat hidup Anas bin Malik kami datangkan secara khusus.
Nasab beliau
Beliau adalah Anas bin Malik bin Nadzor bin Dhomdom bin Zaid bin Harom bin Jundub bin Amir bin Ghanam bin Adi bin An Najjar, Abu Hamzah Al Ansori Al Khazraji. Dia termasuk kerabat Rasulullah n dari jalur istri. Ia juga muridnya, pengikutnya dan sahabat yang terakhir meninggal dunia.
Ia adalah pambantu Rasulullah n seorang yang banyak meriwayatkan hadits darinya. Ibunya adalah Ummu Sulaim Malikah binti Milhan bin Kholid bin Zaid bin Harom, istri Abi Tholhah Zaid bin Sahl Al Ansori. Ketika nabi saw datang ke Madinah, Anas berumur 10 tahun. Dan ketika itu juga, ibunya datang kepada nabi saw dan berkata kepadanya: “Ini adalah Anas anak yang pandai yang akan menjadi pembantumu”. Maka nabi pun menerimanya.
Lahir beliau
Ketika Rasul datang ke Madinah, Anas berumur 10 tahun, dan ketika beliau wafat Anas berumur 20 tahun. Jadi Anas lahir 10 tahun sebelum tahun hijriyah atau bertepatan dengan tahun 612 Masehi. Ibunya juga seorang yang pandai dan telah masuk Islam, sehingga Anas pun dari kecil telah memeluk agama Islam.
Gelar beliau
Rasulullah saw. memberikan gelar kepadanya dengan Abu Hamzah (Singa).
Keilmuan dan Periwayatan Hadits
Ia adalah seorang Mufti, Qori, Muhaddits, Perowi Islam. Dia mendapatkan banyak ilmu dari Rasulullah n , Abu Bakar, Umar, Usman, Mu’ad, Usaid Al Hudair, Abi Tholhah, Ibunya sendiri Ummu Sulaim putri Milhan, Bibinya Ummu Haram dan suaminya Ubadah bin Shamit, Abu Dzar, Malik bin Sha’sha’ah, Abi Hurairah, Fatimah dan masih banyak lainnya.
Darinya juga banyak mencetak orang-orang penting, diantaranya adalah Al Hasan, Ibnu Sirin, Asy Sya’bi, Abu Kilabah, Makhul, Umar bin Abdul Aziz, Tsabit Al Banani, Bakar bin Abdillah Al Mazani, Az Zuhri, Qotadah, Ibnul Munkadir, Ishak bin Abdillah bin Abi Tholhah, Abdul Aziz bin Shuhaib, Syuaib bin Al Habhab, Amru bin Amir al Kufi, Sulaiman At Taimi, Hamid At Thowil, Yahya bin Sa’id Al Ansori, Katsir bin Salim, Isa bin Thohman dan Umar bin Syakir.
Dan para sahabat beliau yang tsiqoh lebih dari 150 orang, sedang yang lemah sekitar 190 sahabat. Selebihnya adalah orang – orang yang tidak tsiqoh bahkan hadits dari mereka secara global dibuang. Seperti : Ibrahim bin Hadbah, Dinar bin Abu Makis, Khorrosy bin Abdillah, Musa At Tahwil. Mereka hidup setelah 200 tahun, mereka tidak dianggap.
Anas menemani Nabi saw dengan sempurna. Ia benar-benar sempurna dalam bermulazamah kepada beliau sejak beliau hijrah, sampai meninggal. Dia juga banyak mengikuti peperangan bersama beliau, juga berbaiat di bawah pohon (Bai’at Ridwan).
Anas jika berbicara tentang hadits Rasulullah n , maka setelah selasai ia mengatakan “Sebagaimana yang dikatakan Rasulullah n ”
Musnad Anas sebanyak 2.286, yang disepakati Bukhari dan Muslim sebanyak 180 hadits, dan yang hanya dalam riwayat Bukhari 80 hadits dan Muslim 90 hadits.
Do’a Rasul terhadap Anas
Ibunya datang kepada Rasulullah n dan berkata : “Wahai Rasulullah n ini adalah Anas, anak yang cerdas mau menbantumu”. Kemudian Anas diserahkan kepada Rasulullah n dan beliau pun menerimanya. Ibunya pun memohon kepada Rasulullah n untuk mendoakan Anas, maka Rasul pun berdoa untuknya,
• اللهم أكثر ماله وولده وأدخله الجنة
• اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالَهُ وَوَلَدَهُ وَأَطِلْ عُمُرَهُ وَاغْفِرْ ذَنْبه .
“Ya Allah perbanyaklah anak dan hartanya, serta masukkanlah dia ke dalam surga” dalam riwayat lain, “Ya Allah perbanyaklah harta dan anaknya, panjangkanlah umurnya dan ampunilah dosanya”
Anas berkata, “Demi Allah hartaku sangat melimpah, sampai kurma dan anggurku berbuah dua kali dalam setahun. Jumlah anak-anak dan cucuku – cucuku mencapai seratus.” dalam riwayat lain seratus enam. Dalam riwayat lain juga disebutkan dari anak perempuannya Aminah, mengabarkan tentang anak beliau yang mati dan dikuburkan saja itu mencapai 120 anak, selain cucunya, itu pada saat Hajjaj berkuasa di Basrah.
Berkat do’a Rasulullah saw. ia menjadi sahabat yang paling banyak anaknya serta paling panjang umurnya, dan paling akhir meninggal dunia.
Penjaga Rahasia Rasulullah saw.
Suatu hari Anas melayani Rasulullah saw. sampai selesai, kemudian dia berkata: ” Nabi sedang tidur siang”, kemudian dia pergi dan didapatinya anak-anak pada bermain. Kemudian ia berdiri dan melihat permainan mereka. Tiba-tiba nabi datang, dan memberi salam kepada mereka. Terus memanggil Anas dan mengutusnya untuk suatu urusan. Sepertinya ini adalah perintah rahasia, hingga dia mendatangi ibunya dengan pelan. Ibunya bertanya “Ada apa denganmu”? Anas menjawab, “Nabi mengutusku untuk suatu urusan. Ibunya bertanya lagi, “Urusan apa itu?” Anas menjawab, “Ini adalah rahasia nabi”. Maka ibunya berkata, ” Jagalah rahasia Rasulullah saw. Maka Anas tidak menceritakan kepada siapapun.
Akhlah Rasulullah saw. terhadap Anas.
Pada suatu hari Rasulullah n mengutus anas untuk suatu hajat, kemudian dia berkata, Demi Allah saya tidak akan pergi! Dalam hatiku aku akan pergi kalau nabi menyuruhku. Kemudian dia pergi dan melintasi anak-anak yang sedang bermain di pasar. Maka tiba-tiba Rasulullah n memegang tengkuknya dari belakang. Kemudian dia melihat kepada beliau, ternyata beliau tersenyum dan berkata, “Wahai Unais, pergilah sesuai apa yang aku perintahkan! Maka anas menjawab : Baik Rasulullah n saya akan pergi. Anas berkata ” Demi Allah saya telah menjadi pembantu beliau selama 9 tahun, saya tidak mendapatkan beliau komentar apa yang aku kerjakan” Kenapa kamu berbuat sepert ini dan begini? Atau sesuatu yang aku tinggalkan, ” Kenapa kamu tidak berbuat seperti ini?”
Anas telah menjadi pembantu Rasulullah saw. bertahun-tahun tapi beliau tidak pernah mencelanya sama sekali, tidak pernah memukul, tidak pernah menghardik, tidak pernah bermuka masam, tidak pernah menyuruhnya dan dia malas kemudian Rasulullah n mencelanya. Maka jika salah satu keluarganya mencelanya, beliau berkata, ” Biarkanlah apa yang dia kerjakan!”
Tsabit bertanya kepada Anas “Apakah tanganmu pernah bersentuhan dengan telapak tangan Rasulullah saw? Ia menjawab, Ya, pernah. Ia mengulurkannya padaku, dan aku menyambutnya.
Candanya Rasul kepada Anas
Rasulullah n juga pernah bercanda dengan Anas. Beliau berkata padanya : ياذا الأذنين ) ) “Wahai yang punya dua telinga”
Makan beliau
Abu Ja’far berkata, “Anas itu berbelang, dan sangat jelas sekali. Dan sya melihat dia makan dengan suapan besar”
Abu Ayub berkata, ” Anas lemah dalam mengerjakan puasa, maka ia membuat makanan, kemudian memanggil 30 orang miskin dan memberi makan mereka.
Cincin Anas
Ibnu Sirin berkata, ” Di cincin Anas terdapat lukisan srigala” Sedang menurut Az Zuhri, dari Anas, bahwa cincinnnya bertuliskan “Muhammad Rasulullah” Jika mau ke kamar mandi, ia melepasnya.
Keutamaan Anas
Nabi saw talah mengkhususkan Anas dengan sebagian ilmu. Diantaranya adalah sabda beliau kepada Anas, bahwasanya beliau mampu mendatangi sembilan isrinya pada waktu dhuha dengan sekali mandi.
Rasulullah saw. mempersaudarakan antara Muhajirin dan Ansor di rumah Anas, dan mereka berjumlah 90 orang. Setengah dari Muhajirin dan setengahnya lagi dari Ansor. Rasulullah saw mempersaudarakan mereka atas persamaan diantara mereka, saling mewarisi setelah meninggal tanpa ada hubungan rahim, sampai terjadinya perang Badar. Ketika turun ayat:
{ وأولو الأرحام بعضهم أولى ببعض في كتاب الله } [ الأحزاب 6 ]
Maka setelah itu, saling mewarisi harus karena hubungan rahim, bukan ikatan persaudaraan.
Kata mutiara
لايتقي ( الله ) عبد حتى يخزن من لسانه
“Seorang hamba tidak dikatakan betakwa kepada Allah, sampai dia bisa menjaga lisannya”
Ibadah beliau
Abu Hurairah berkata, : “Saya tidak pernah melihat seorang sahabatpun yang mirip dengan sholatnya Rasulullah saw selain daripada ibnu Ummu Sulaim (Anas bin Malik ). Ibnu Sirin berkata, “Anas adalah sahabat yang sholatnya paling bagus, baik di rumah maupun pada waktu safar.”
Tsumamah berkata, “Anas sholat sampai kedua kakinya bengkak mengeluarkan darah, karena sholatnya sangat panjang. Semoga Allah meridhoinya.
Anas berkata, : “Ambillah (Al Qur’an dan As Sunnah) dariku, karena saya mengambilnya langsung dari Rasulullah saw, dan Rasulullah n dari Allah swt. Kamu tidak akan mendapatkan kabar yang lebih kuat, kecuali dariku”
Anas juga tahu benar ibadah Rasulullah saw. Dan tidak ada satu malampun dia melihat Rasulullah kecuali beliau menangis.
Al Hariri berkata: Anas mulai ihram dari Dzat Iraq, saya tidak mendengar sesuatupun darinya kecuali dzikir kepada Allah, sampai dia tahalul. Kemudian ia berkata padaku “Wahai keponakanku (ibn akhi) beginilah ihram.”
Pada hari Jum’at, Anas menemui Sholih bin Ibrahim yang sedang berbincang-bincang di salah satu rumah istri nabi, lalu dia berkata “Mah” Ketika selesai sholat, dia berkata, : “Saya benar-benar takut kalau-kalau sholat Jum’atku batal, gara-gara perkataanku pada kalian “Mah”.
Rasa takut beliau
Ketika Az Zuhri masuk ke rumah Anas di Dimsiq (Irak), dia melihat Anas menangis. Kemudian ditanya, “Apa yang menyebabkan engkau menangis? Dia menjawab, “Saya tidak tahu apapun kecuali apa yang telah dilakukan oleh Rasulullah n dan para sahabatnya tentang masalah shalat. Dalam masalah sholat ini telah dihilangkan ( diakhirkan dari waktunya ). Pada masa itu ( Bani Umayyah ) masalah sholat diakhirkan, kecuali pada masa Umar bin Abdul Aziz.
Jihad beliau
Anas mulai ikut berjihad mulai dari kecil. Dikatakan kepada Anas: Apakah engkau menyaksikan perang Badar? Ia menjawab ” Laa umma laka! Kemanakah saya kalau sampai tidak hadir.”
Muhammad bin Abdullah berkata ” Anas keluar bersama Rsulullah ketika terjadi perang Badar, ia adalah seorang anak yang membantu Rasulullah.
Musa mengabarkan bahwa Anas mengikuti peperangan sebanyak delapan kali.
Karamah Anas
Ibnu Abi Dunya berkata “Ketika Tsabit sedang bersama Anas, tiba-tiba datang Qohromanah dan berkata, “Wahai Abu Hamzah, talah datang musim kemarau, sehingga tanah kami kering” Kemudian Anas langsung berdiri dan mengambil air wudhu, lalu keluar menuju tanah tadi dan melakukan sholat sebanyak dua rakaat. Setelah itu dia berdo’a. Maka tiba-tiba awan mendung dan turunlah hujan, sampai airnya meluap. Ketika hujan reda, Anas memanggil sebagian keluarganya dan berkata ” Lihatlah langit itu”. Maka setelah itu tanahnya menjadi subur.
Menjadi Amir
Abu Bakar dan Umar telah mengangkat Anas sebagai amir di Bahrain, keduanya pun berterima kasih kepadanya.
Setelah dari Rasulullah saw, Anas pergi ke Basrah. Di sana dia sampai mengalami empat masa, dan mendapatkan perlakuan yang kasar ketika masa Hajjaj dikarenakan fitnah dari Ibnu Asy’ats. Hajjaj mengira bahwa Anas ikut campur dalam masalahnya kemudian dia berfatwa mengenai hal tersebut. Hingga Hajjaj menunjukan lehernya dan berkata, ” Nih… lehernya Hajaj!” Kemudian Anas mengadu pada Abdul Malik. Maka ketika Abdul Malik mendapat laporan seperti itu dia langsung mengancam Hajjaj, sehingga dia merasa takut dan berbuat baik sama Anas.
Anas pernah menjadi utusan Abdul Malik pada masa kepemerintahannya, sekitar tahun 92. Dia membangun semua kota Dimsiq. Ketika Anas bergegas menuju masjid Dimsiq, Makhul bertanya padanya, “Apakah wajib berwudlu ketika selesai mengurus jenazah? Beliau menjawab “Tidak usah wudlu”
Ketika Anas menghadap Walid, dia bertanya, “Apa yang telah engkau dengar dari Rasul perihal hari kiamat? Anas menjawab, “Saya mendengar Rasulullah n bersabda “Kalian dan hari kiamat seperti dua ini –jari telunjuk dan jari tengah-”
Zuhud dan Ketawakalan beliau
Ketika seorang amir datang untuk memberikan fa’i kepada Anas, dia mengatakan apakah anda mau mengambil 1/5? Dia menjawab, “Tidak” Ia tidak menerimanya.
Ketika Anas sakit, ditawarkan kepadanya agar didatangkan seorang dokter, tapi Anas malah menjawab ” Seorang dokter malah menyakitiku”
Syafaat Rasul untuk Anas
Imam Ahmad berkata : Anas meminta syafaat kepada Rasulullah n pada hari kiamat. Maka rasul menjawab, “Ya pasti saya akan penuhi permohonanmu.” Anas bertanya, “Di manakah saya memohonnya pada hari kiamat nanti, wahai nabiyallah?” Rasul menjawab “Mintalah padaku sesuatu yang pertama kamu minta padaku yaitu di atas sirat.” Tanya Anas, “Jika aku tidak ketemu engkau di situ?” Jawab rasul, “Maka kalau tidak ketemu di sana berarti saya berada di Mizan. Jika tidak ketemu di Mizan, maka saya ada di Telaga, saya tidak salah tentang tiga tempat tersebut pada hari kiamat”
Harapan Anas
Anas adalah pemilik sandal dan kantong kulit Rasulullah saw. Anas berkata, : Aku sangat mendambakan akan bertemu dengan Rasulullah saw dan berkata ” Wahai Rasulullah saw aku adalah pembantu kecilmu”
Wafatnya beliau
Dikatakan kepada Anas, “Engkau adalah sahabat Rasulullah n yang paling terakhir yang masih hidup.” Anas menjawab, Kaum Arab masih tersisa, adapun dari sahabat beliau, maka saya adalah orang yang paling akhir yang masih hidup. Ketika Anas sakit, ditawarkan kepadanya agar didatangkan seorang dokter, tapi Anas malah menjawab ” Seorang dokter menyakitiku” dan dia memohon agar dia ditalkin ‘Laa ilaha illallh, karena dia (Malaikat) telah datang. Dia senantiasa mengatakannya, sampai Malaikat pencabut nyawa mencabut nyawanya. Di sisi dia ada tongkat kecil punya Rasulullah saw. yang kemudian dikubur bersamanya.
Ketika Anas wafat, beliau berumur 107 tahun. Berkata Waqidi dan lainnya” Anas adalah sahabat di Basrah yang paling terakhir wafatnya.” Para ahli sejarah selisih dalam menentukan kematian beliau, ada yang mengatakan wafat pada tahun 90, 91, 92 dan ada pula yang mengatakan tahun 93, dan inilah yang mashur menurut jumhur. Imam Ahmad berkata : Anas bin Malik dan Jabir bin Zaid wafat bersamaan pada hari Jum’at, tahun 93.
Qotadah berkata : Ketika Anas wafat, Muariq al ‘Ajli berkata, Hari ini telah pergi / hilang setengah dari pada ilmu. Dia ditanya, kenapa bisa demikian wahai Abu Mu’tamar? Ia menjawab : Jika ada orang-orang pengikut hawa nafsu menyelisihi kita hadits dari Rasulullah n kita katakan pada mereka : “Mari kita kembalikan pada orang yang mendengar (Anas) darinya (Rasul).”
Wallahu a’lam bishowab
Refrensi :
Al Bidayah Wan Nihayah, Ibnu Katsir, Maktabah Ash Shofa, cet 1, 1423 H – 2003 M.
Siyar A’lam An Nubala, Imam Adz Dzahabi, Darul Fikr, cet 1, 1417 H – 1997 M.
Hayah Ash Shohabah, Muhamad Yusuf Al Kandahlawi, Darul Qolam, cet 1, 1406 H – 1987 M.
Al Ishobah, Ibnu Hajar Al Asqolani
Zadul Ma’ad, Ibnu Qoyyim Al Jauziyah, Muasasah Ar Risalah, cet 3, 1421 H – 2000 M.
Renungan:Hasil kajian ulama kalimah Laa ilaaha il lallaah Muhammadur Rasuulullaah itu ditulis dengan huruf Arab yg kesemuanya tidak bertitik.Ini adalah isyarat bahawa seseorang yg mengucapkan kalimah tersebut haruslah suci hati dari titik-titik dosa dan noda.Atau boleh juga dikatakan mengucapkan kalimah tersebut ssebanyak-banyaknya dapat mensucikan hati dari sebarang dosa dan noda.Kemudia huruf-hurufnya mengandungi 24 huruf menyamai bilangan jam dalam sehari semalam yaitu 24 jam.Ini adalah isyarat bahawa kalimah tersebut hendaklah diucapkan terus menerus dan menyungguh-nyungguhkan maknanya sentiasa setiap hari selagi hayat dikandung badan.Wahai orang-orang kafir ucapkanlah Tidak ada Tuhan yg berhak disembah melainkan Allah dan Nabi Muhammad itu adalah utusan Allah pasti kalian berjaya.Amin Ya Rabbal alamin.
November 30, 2010 at 10:06 pm
Imam Syafi’i yang dikenal sebagai pendiri madzhab Syafi’i memiliki nama lengkap Muhammad bin Idris As Syafi’i Al Quraisy. Beliau dilahirkan di daerah Ghazzah, Palestina pada tahun 150 H di bulan Rajab.
Nasab Imam Syafi’i
Beliau bernama Muhammad bin Idris bin Abbas bin Utsman bin Syafi’i bin Saib bin Abdu Yazid bin Hasyim bin Abdullah bin Abdu Manaf. Kun-yah (panggilan kehormatan) beliau adalah Abu Abdullah (bapaknya Abdullah) dikarenakan salah seorang anak beliau yang bernama Abdullah. Nasab Imam Syafi’i bertemu dengan nasab Rasulullah Shalallahu alahi wa salam (SAW) pada Abdu Manaf. Sedangkan Hasyim kakek Imam Syafi’i bukanlah kakek dari Rasulullah SAW.
Diriwayatkan bahwa ketika beberapa hari setelah ibunda Imam Syafi’i melahirkan terdengar kabar dari Baghdad tentang meninggalnya Imam Abu Hanifah. Tatkala diteliti dengan seksama ternyata hari meninggalnya Imam Abu Hanifah bertepatan dengan saat lahirnya Imam Syafi’i. Para ulama waktu itu mengisyaratkan bahwa Muhammad yang baru lahir kelak akan mengikuti derajat keilmuan Imam Abu Hanifah.
Hadits Rasulullah SAW yang mengisyaratkan kedatangan Imam Syafi’i
Para ulama telah menelaah sejumlah hadits dari Rasulullah SAW berkenaan dengan kegembiraan Rasulullah SAW kepada Imam Syafi’i.
Hadits dari Ibnu Mas’ud beliau berkata: “Rasulullah SAW telah bersabda: janganlah kamu mencaci-maki Quraisy karena orang alim Quraisy itu ilmunya akan memenuhi bumi. Ya Allah, Engkau telah memberi siksaan pada awal Quraisy, maka berilah anugerah pada akhir Quraisy.”
Hadits dari Ali bin Abi Thalib beliau berkata: “Rasulullah SAW telah bersabda: jangan kamu mengimami orang Quraisy dan bermakmumlah kamu pada mereka. Jangan mendahului Quraisy akan tetapi dahulukanlah mereka. Jangan kamu mengajari Quraisy tetapi belajarlah dari mereka karena ilmu orang alim Quraisy akan menyebar ke seluruh dunia,”
Kesungguhan Imam Syafi’i dalam menuntut ilmu
Meskipun dibesarkan dalam keadaan yatim dan kondisi keluarga yang miskin, tidak menjadikan beliau rendah diri apalagi malas. Sebaliknya, keadaan itu membuat beliau makin giat menuntut ilmu. Pada umur 9 tahun beliau telah hafal Al Quran seluruhnya. Beliau banyak berdiam di Masjid al-Haram dimana beliau menuntut ilmu pada ulama-ulama dalam berbagai bidang ilmu. Beliau mencatat ilmu-ilmu yang telah diperolehnya pada kertas-kertas, kulit dan tulang binatang. Hingga pada suatu hari kamar tempat istirahatnya penuh oleh kertas, kulit dan tulang. Maka seluruh catatan pada benda-benda itu dihafal oleh Imam seluruhnya, lalu setelah itu benda-benda tersebut dibakarnya.
Kekuatan hafalan Imam Syafi’i sangat mencengangkan. Sampai-sampai seluruh kitab yang dibaca dapat dihafalnya. Ketika beliau membaca satu kitab beliau berusaha menutup halaman yang kiri dengan tangan kanannya karena khawatir akan melihat halaman yang kiri dan menghafalnya terlebih dahulu sebelum beliau hafal halaman yang kanan.
Mengenai hal ini beliau bercerita: bahwa beliau pernah bermimpi bertemu Rasulullah SAW dan Rasulullah SAW berkata kepadanya: “Siapa kamu hai anak muda?” Imam Syafi’i berkata. : “aku termasuk umatmu, ya Rasulullah” Rasul berkata: “mendekatlah padaku.” Imam Syafi’i lalu mendekat kepada Rasulullah SAW, lalu Rasul mengambil air liurnya dan meletakkan air liur itu ke dalam mulut dan bibir Imam Syafi’i. setelah itu Rasulullah SAW berkata padanya: “ berangkatlah, semoga Allah memberkahimu.” Setelah mimpi itu beliau tak pernah merasa kesulitan dalam menghafal ilmu.
Beliau juga telah mencapai kemampuan berbahasa yang sangat indah. Kemampuan beliau dalam menggubah syair dan ketinggian mutu bahasanya mendapat pengakuan dan penghargaan yang sangat tinggi oleh orang-orang alim yang sejaman dengan beliau.
Demikian tinggi prestasi-prestasi keilmuan yang telah beliau capai dalam usia yang masih sangat belia, sehingga guru-gurunya membolehkan beliau untuk berfatwa di Masjid al-Haram. Ketika itu beliau bahkan baru mencapai usia 15 tahun.
Kepergian Imam Syafi’i ke Madinah
Imam Syafi’i hidup sejaman dengan Imam Malik bin Anas, seorang ulama besar pendiri madzhab Maliki. Imam Malik bin Anas juga dikenal sebagai Ahli Hadits. Beliau menghimpun hadits-hadits nabi dalam kitab beliau yang berjudul Muwattha’. Imam Syafi’i pernah meminjam kitab Muwattha’ pada salah seorang penduduk Mekkah dan menghafalnya dalam waktu singkat. Imam Syafi’i rindu untuk melihat Imam Malik di Madinah Al Munawwarah dan berharap dapat mengambil manfaat dari ilmu beliau.
Maka pada suatu hari berangkatlah Imam Syafi’i ke Madinah dengan niat untuk menuntut ilmu. Dalam perjalanan dari Mekkah menuju Madinah beliau mengkhatamkan bacaan Al Qur’an sebanyak 16 kali. Malam satu kali khatam dan siangnya satu kali. Pada hari ke delapan beliau tiba di Madinah setelah shalat ashar. Beliau shalat di Masjid Nabawi dan berziarah terlebih dahulu ke makam Rasulullah SAW. Setelah itu baru beliau menuju kediaman Imam Malik bin Anas.
Ketika Imam Syafi’i menghadap Imam Malik, beliau berkata: “mudah-mudahan Allah selalu memberimu kebaikan. Aku adalah seorang penuntut ilmu. Kondisi dan ceritaku begini dan begini…”
Mendengar perkataan itu Imam Malik merasa kasihan dan bertanya kepadanya: “siapa namamu?” Imam Syafi’i menjawab: “Muhammad.” Imam Malik berkata kepadanya; “wahai Muhammad, bertaqwalah kepada Allah, hindarilah maksiat. Aku melihat di hatimu ada cahaya. Karena itu janganlah kamu padamkan cahaya itu dengan maksiat. Sesungguhnya cahaya itu akan menjadikanmu dibutuhkan oleh manusia. “ Imam Syafi’i menjawab: “ya.” Imam Malik lalu berkata: “kalau besok kamu masih ada, kami akan mengajarkanmu kitab Muwattha’.”
Imam Syafi’i berkata: “wahai tuanku, aku telah membaca kitab Muwattha’ sampai hafal.” Imam Malik berkata: “bacalah!” lalu Imam Syafi’i membaca dan Imam Malik menyimaknya. Ketika Imam Syafi’i khawatir Imam Malik lelah, maka beliau berhenti. Dan Imam Malik lalu berkata: “teruskan wahai anak muda, aku akan memperbaiki bacaanmu.” Demikianlah, maka aktivitas harian Imam Syafi’i adalah membaca kitab Muwattha’ dibawah bimbingan Imam Malik.
Beliau pun selalu hadir di majlis ilmu Imam Malik yang menerangkan tentang hadits-hadits Rasulullah SAW. Imam Malik memuji kuatnya hafalan dan keluasan pemahaman Imam Syafi’i terhadap ilmu yang dipelajarinya. Seringkali sehabis membacakan kitabnya, Imam Malik meminta Imam Syafi’i untuk menyampaikannya kepada orang lain. Imam Malik juga sering memberikan hadiah kepada sang murid sebagai wujud rasa cinta dan perhatian beliau kepadanya.
Demikian juga Imam Syafi’i begitu mencintai gurunya dengan sepenuh hati. Beliau berkata: “Malik bin Anas adalah guruku. Dari beliau aku belajar dan tidak ada orang yang aku percaya kecuali Malik bin Anas. Dan aku menjadikan Malik bin Anas sebagai hujjah (saksi) antara aku dan Allah.”
Kepergian Imam Syafi’i ke Iraq
Pada waktu Imam Syafi’i telah menyelesaikan pelajarannya pada Imam Malik, beliau mendengar kabar tentang Abu Yusuf dan Muhammad bin Hasan yang adalah murid sekaligus sahabat Imam Abu Hanifah yang sedang berada di Iraq yaitu di kota Kufah. Beliau ingin sekali bertemu dengan mereka berdua. Maka Imam Syafi’i lantas memohon izin kepada Imam Malik untuk pergi ke Iraq. Imam Malik memberi tambahan bekal kepada beliau dan menyewakannya hewan tunggangan menuju kota Kufah.
Di Kufah, begitu berjumpa dengan Abu Yusuf dan Muhammad bin Hasan, mereka berdua sangat gembira dengan kedatangan Imam Syafi’i. Mereka bertanya kepada beliau tentang Imam Malik bin Anas. Beliau berkata: “aku telah datang kepadanya.” Salah satu dari keduanya berkata: “apakah kamu melihat kitab Muwattha’?” Imam Syafi’i menjawab: “aku telah menghafal kitab tersebut dalam lubuk hatiku.”
Itu semua telah membuat Muhammad bin Hasan dan Abu Yusuf menaruh hormat kepada Imam Syafi’i. Muhammad bin Hasan lalu bertanya kepada beliau tentang masalah thaharah, zakat, jual beli, dan masalah lainnya yang dijawab dengan jawaban yang sangat bagus oleh Imam Syafi’i. Bertambah kagumlah Muhammad bin Hasan pada beliau. Kemudian ia mengajak Imam Syafi’i ke rumahnya dan mengizinkan Imam Syafi’i untuk menyalin kitab apa saja yan dia inginkan yang ada di perpustakaan miliknya.
Selama di Kufah, Imam Syafi’i menjadi tamu Muhammad bin Hasan. Ketika beliau telah selesai mempelajari kitab-kitab di perpustakaan Muhammad bin Hasan, beliau lantas mohon izin untuk meneruskan perjalanan menuju Persia dan kota-kota disekitarnya.
Kembali ke Madinah
Ketika beliau di kota Romlah ada serombongan orang Madinah datang. Beliau bertanya tentang keadaan guru beliau, Imam Malik bin Anas. Mereka menjawab bahwa Imam Malik dalam keadaan sehat. Imam Syafi’i merasa rindu dan ingin sekali berjumpa dengan guru yang sangat dicintainya itu. Maka beliau pun mempersiapkan diri untuk perjalanan menuju ke Madinah.
Sampai di Madinah, setelah berziarah ke makam Rasulullah SAW, beliau lantas menuju pengajian Imam Malik. Ketika Imam Malik mengetahui kehadiran Imam Syafi’i, beliau memanggilnya dan memeluknya dengan penuh kerinduan. Murid-murid Imam Malik yang lain merasa terharu melihat peristiwa ini. Imam Malik lalu membawa Imam Syafi’i duduk disisinya. Beliau berkata: “ajarilah ini, wahai Syafi’i.” Setelah menyelesaikan pelajaran itu, Imam Malik mengajak Imam Syafi’i ke rumahnya.
Imam Syafi’i tinggal selama beberapa tahun di Madinah. Selama itu beliau senantiasa mendapat perlakuan yang istimewa dan sangat diperhatikan oleh gurunya. Pada bulan Rabi’ul awwal tahun 179 H Imam Malik bin Anas wafat dan dimakamkan di pemakaman Baqi’ di kota Madinah. Seluruh penduduk Madinah tenggelam dalam duka cita karena meninggalnya Imam yang sangat alim dan mulia ini.
Setelah wafatnya Imam Malik, Imam Syafi’i masih tinggal beberapa lama di Madinah. Beliau kemudian pergi ke Yaman, menetap dan mengajarkan ilmunya di sana.
Berita tentang keluasan ilmu beliau segera saja menyebar ke seluruh negeri. Orang berduyun-duyun datang untuk menyimak pelajaran yang beliau sampaikan. Ketinggian ilmu dan ma’rifahnya, baik itu dibidang fiqh, hadits, filsafat, kedokteran, ilmu falak dan lain-lain membuat khalifah Harun al-Rasyid mengundang beliau dan meminta beliau untuk mengajar di kota Baghdad. Sejak saat itu beliau dikenal secara luas dan lebih banyak lagi orang yang datang menuntut ilmu padanya. Pada waktu itulah madzhab beliau mulai dikenal. Imam Syafii mengajar banyak orang yang kelak sebagian dari mereka menjadi ulama-ulama yang besar pula. Diantara murid-murid beliau yaitu Imam Ahmad bin Hanbal yang kelak dikenal sebagai salah seorang Imam madzhab juga.
Semua orang, baik dari kalangan pejabat maupun rakyat sangat mencintai dan mengagungkan kedudukan Imam Syafi’i. Demikian pula murid-murid beliau begitu menaruh hormat padanya. Ini terbukti ketika Imam Ahmad bin Hanbal sakit dan Imam Syafi’i membesuknya. Waktu beliau sampai di rumahnya, Imam Ahmad bin Hanbal langsung turun dari tempat tidurnya dan meminta Imam Syafi’i untuk duduk di tempat itu. Sedangkan Imam Ahmad bin Hanbal duduk di tanah dan sewaktu-waktu beliau bertanya pada Imam Syafi’i.
Ketika Imam Syafi’i hendak pulang, Imam Ahmad bin Hanbal menaikkan beliau ke hewan tunggangannya. Lalu Imam Ahmad bin Hanbal naik ke tunggangannya -beliau dalam kondisi sakit- dengan menerobos jalan dan pasar-pasar Baghdad, sampai ia bisa mengantar Imam Syafi’i tiba di rumahnya.
Pulang ke Mekkah
Setelah beberapa waktu berada di Baghdad, beliau bermaksud pulang ke Mekkah. Memakan waktu perjalanan beberapa hari akhirnya beliau sampai di Mekkah. Waktu itu tahun 181 H. Sebelum masuk kota Mekkah, beliau mendirikan kemah di luar kota. Penduduk Mekkah keluar untuk menyampaikan salam dan menyambutnya. Beliau lalu membagi-bagikan seluruh emas dan perak yang beliau miliki kepada mereka. Hal itu dilakukan untuk melaksanakan wasiat ibunya ketika beliau datang ke Mekkah. Begitulah, Imam Syafi’i masuk ke kota Mekkah dalam keadaan tidak membawa apapun, sama seperti ketika beliau keluar dari Mekkah dalam keadaan tidak membawa benda apapun.
Beliau tinggal di Mekkah selama 17 tahun. Selama berada disana beliau mengajarkan ilmu pada manusia. Madzhab Imam Syafi’i tersebar di antara jamaah haji dan mereka membawa madzhab tersebut ke tempat asal mereka masing-masing.
Selama 17 tahun tinggal di Mekkah beliau mendengar wafatnya Abu Yusuf dan Muhammad bin Hasan yang dahulu pernah ditemuinya di kota Kufah. Setelah itu wafat pula Harun al-Rasyid.
Setelah sekian lama tinggal di Mekkah beliau lantas kembali ke kota Baghdad. Disana beliau melanjutkan kegiatan mengajar selama beberapa waktu. Setelah itu beliau bermaksud hendak pergi ke Mesir. Ketika penduduk Baghdad mendengar akan kepergian orang mulia ini, maka mereka keluar untuk perpisahan dengan beliau. Di tengah-tengah penduduk ini ada Imam Ahmad bin Hanbal. Maka diwaktu itu Imam Syafi’i memegang erat tangan Imam Ahmad bin Hanbal dan berkata: “sungguh aku rindu akan bumi Mesir. Selain Mesir adalah bumi yang tandus. Demi Allah, aku tidak tahu untuk kemuliaan atau untuk kaya aku pindah ke Mesir. Atau pindah ke kubur?”
Seakan-akan Imam Syafii merasa akan wafat di Mesir dan kuburannya akan berada di negeri itu. Lalu beliau menangis. Imam Ahmad bin Hanbal dan semua orang yang menyaksikan perpisahan itu menangis semua. Imam Ahmad bin Hanbal pulang sambil bercucuran airmata dan berkata pada para penduduk Baghdad: “ sungguh ilmu fiqh telah tertutup, lalu Allah membukakan ilmu itu dengan kedatangan Imam Syafi’i.”
Menetap di Mesir
Di negeri Mesir segera saja penduduknya jatuh hati pada Imam Syafi’i. Para ulama negeri itu juga memuliakannya dan meminta beliau untuk mengajar di masjid Amru bin Ash. Beliau mengajar sehabis subuh sampai zhuhur. Imam Syafi’i adalah orang pertama yang mengajar ilmu hadits di Mesir sampai zhuhur. Setelah itu beliau melanjutkan pelajaran di rumahnya.
Para ulama dan orang-orang jenius terpelajar lainnya datang menyimak pelajaran yang beliau sampaikan baik di masjid maupun di rumah. Di antara orang-orang yang belajar pada beliau yang kelak menjadi ulama terkenal adalah Muhammad bin Abdullah bin Hakam, Abu Ibrahim bin Ismail bin Yahya Al-Muzani, Abu Yaqub Yusuf bin Yahya Al-Buwaiti, Rabi’ Al-Jizi dan lain sebagainya.
Ketika di Mesir ini pula Imam Syafi’i banyak menulis kitab yang berisi madzhab beliau. Di antara kitabnya adalah Al-Umm, Imla’ al-Shaghir, Jizyah, Ar-Risalah dan lain sebagainya.
Sebagian dari akhlak Imam Syafi’i
Imam Syafi’i adalah seorang yang taqwa, zuhud dan wara’. Beliau juga sangat santun dalam memberi peringatan kepada orang yang melakukan kesalahan. Hatinya sangat lembut dan dermawan terhadap harta.
Baihaqi meriwayatkan dari Hasan bin Habib. Dia berkata: “Aku melihat Imam Syafi’i menunggang kuda melewati pasar sepatu. Tiba-tiba cambuknya jatuh dan mengenai salah seorang pedagang sepatu. Lalu pedagang sepatu itu mengusap cambuk untuk membersihkannya dan memberikan cambuk itu pada beliau. Imam Syafi’i lalu menyuruh budaknya untuk memberikan uangnya pada pedagang itu.”
Tiada hari yang dilewati beliau tanpa bershadaqah. Siang dan malam beliau selalu bershadaqah, Apalagi di bulan Ramadhan. Beliau juga sering mengunjungi fakir miskin dan menjamin kebutuhan-kebutuhan mereka. Untuk menafkahi keluarganya beliau berdagang.
Imam Syafi’i sangat baik dalam memperlakukan kerabat-kerabatnya. Beliau menghormati mereka dan tidak menyombongkan dirinya. Beliau menghormati orang sesuai posisinya. Imam Syafi’i pernah berkata: “Paling zhalimnya orang adalah ia yang menjauhi kerabatnya, tidak mau tahu terhadap mereka, meremehkan dan sombong pada orang yang memiliki keutamaan.”
Beliau juga senantiasa memaafkan orang yang berbuat kesalahan kepadanya. Beliau membalas kejahatan dengan kebaikan dan tidak pernah menyimpan dendam kepada seseorang.
Pujian Ahmad bin Hanbal kepada Imam Syafi’i
Sewaktu di Baghdad, Imam Syafi’i selalu bersama Imam Ahmad bin Hanbal. Demikian cintanya pada Imam Syafi’i, sehingga putra-putri Imam Ahmad merasa penasaran kepada bapaknya itu. Putri Imam Ahmad memintanya untuk mengundang Imam Syafii bermalam di rumah untuk mengetahui perilaku beliau dari dekat. Imam Ahmad bin Hanbal lalu menemui Imam Syafi’i dan menyampaikan undangan itu.
Ketika Imam Syafi’i telah berada di rumah Ahmad, putrinya lalu membawakan hidangan. Imam Syafi’i memakan banyak sekali makanan itu dengan sangat lahap. Ini membuat heran putri Imam Ahmad bin Hanbal.
Setelah makan malam, Imam Ahmad bin Hanbal mempersilakan Imam Syafi’i untuk beristirahat di kamar yang telah disediakan. Putri Imam Ahmad melihat Imam Syafi’i langsung merebahkan tubuhnya dan tidak bangun untuk melaksanakan shalat malam. Pada waktu subuh tiba beliau langsung berangkat ke masjid tanpa berwudhu terlebih dulu.
Sehabis shalat subuh, putri Imam Ahmad bin Hanbal langsung protes kepada ayahnya tentang perbuatan Imam Syafi’i, yang menurutnya kurang mencerminkan keilmuannya. Imam Ahmad yang menolak untuk menyalahkan Imam Syafi’i, langsung menanyakan hal itu kepada Imam Syafi’i.
Mengenai hidangan yang dimakannya dengan sangat lahap beliau berkata: “Ahmad, memang benar aku makan banyak, dan itu ada alasannya. Aku tahu hidangan itu halal dan aku tahu kau adalah orang yang pemurah. Maka aku makan sebanyak-banyaknya. Sebab makanan yang halal itu banyak berkahnya dan makanan dari orang yang pemurah adalah obat. Sedangkan malam ini adalah malam yang paling berkah bagiku.”
“Kenapa begitu, wahai guru?”
“Begitu aku meletakkan kepala di atas bantal seolah kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW digelar di hadapanku. Aku menelaah dan telah menyelesaikan 100 masalah yang bermanfaat bagi orang islam. Karena itu aku tak sempat shalat malam.”
Imam Ahmad bin Hanbal berkata pada putrinya: “inilah yang dilakukan guruku pada malam ini. Sungguh, berbaringnya beliau lebih utama dari semua yang aku kerjakan pada waktu tidak tidur.”
Imam Syafi’i melanjutkan: “Aku shalat subuh tanpa wudhu sebab aku masih suci. Aku tidak memejamkan mata sedikit pun .wudhuku masih terjaga sejak isya, sehingga aku bisa shalat subuh tanpa berwudhu lagi.”
Dilain kesempatan Imam Ahmad bin Hanbal pernah berkata: “aku tidak pernah shalat sejak 40 tahun silam kecuali dalam shalatku itu aku berdoa untuk Imam Syafi’i.”
Abdullah, putranya lantas bertanya: “wahai ayahku, seperti apa sih Syafi’i, sehingga ayah selalu
berdoa untuknya?” Imam Ahmad bin Hanbal menjawab: “wahai anakku, Imam Syafi’i bagaikan matahari bagi dunia dan seperti kesehatan bagi tubuh. Lihatlah anakku, betapa pentingnya dua hal itu.”
Abdul Malik bin Abdul Hamid al-Maimuni berkata: “Aku berada di sisi Ahmad bin Hanbal dan beliau selalu menyebut Imam Syafi’i. Aku selalu melihat beliau mengagungkan Imam Syafi’i.”
Wafatnya Imam Syafi’i
Beliau wafat pada malam jum’at akhir dari bulan Rajab tahun 204 H setelah mengalami sakit selama beberapa waktu. Setelah isya ruh beliau yang suci kembali ke Rahmatullah di pangkuan murid beliau, yaitu Rabi’ al-Jizi. Jenazah beliau dimakamkan dengan iringan tangis dan rintih duka cita dari segenap penduduk Mesir.
Wahai orang-orang kafir ucapkanlah Tidak ada Tuhan yg berhak disembah melainkan Allah dan NabiMuhammad itu adalah utusan Allah pasti kalian berjaya.Amin Ya Rabbal alamin.
December 1, 2010 at 8:06 am
Biografi Imam Bukhori
Salah seorang ulama dari kalangan umat nabi Muhammad sal lallaahu alaihi wasallam yg termasyhur dengan kepakarannya di bidang hadis ialah Imam Bukhari.Kitabnya Sahih Bukhari hingga sekarang menempati nomor dua sahih selepas Al Quran.Berikut serba ringkas tentang riwayat hidup beliau.
Pertumbuhan beliau
Nama:Â Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin al Mughirah bin Bardizbah.
Kuniyah beliau: Abu Abdullah
Nasab beliau:
1. Al Ju’fi; nisabah Al Ju’fi adalah nisbah arabiyyah. Faktor penyebabnya adalah, bahwasanya al Mughirah kakek Bukhari yang kedua masuk Islam berkat bimbingan dari Al Yaman Al Ju’fi. Maka nisbah beliau kepada Al Ju’fi adalah nisbah perwalian
2. Al Bukhari; yang merupakan nisbah kepada negri Imam Bukhari lahir
Tanggal lahir: Beliau dilahirkan pada hari Jum’at setelah shalat Jum’at 13 Syawwal 194 H
Tempat lahir: Bukhara
Masa kecil beliau: Bukhari dididik dalam keluarga yang berilmu. Bapaknya adalah seorang ahli hadits, akan tetapi dia tidak termasuk ulama yang banyak meriwayatkan hadits, Bukhari menyebutkan di dalam kitab tarikh kabirnya, bahwa bapaknya telah melihat Hammad bin Zaid dan Abdullah bin Al Mubarak, dan dia telah mendengar dari imam Malik, karena itulah dia termasuk ulama bermadzhab Maliki. Ayahnya wafat ketika Bukhari masih kecil, sehingga dia pun diasuh oleh sang ibu dalam kondisi yatim. Akan tetapi ayahnya meninggalkan Bukhari dalam keadaan yang berkecukupan dari harta yang halal dan berkah. Bapak Imam Bukhari berkata ketika menjelang kematiannya; “Aku tidak mengetahui satu dirham pun dari hartaku dari barang yang haram, dan begitu juga satu dirhampun hartaku bukan dari hal yang syubhat.”
Maka dengan harta tersebut Bukhari menjadikannya sebagai media untuk sibuk dalam hal menuntut ilmu.
Ketika menginjak usia 16 tahun, dia bersama ibu dan kakaknya mengunjungi kota suci, kemudian dia tinggal di Makkah dekat dengan baitulah beberapa saat guna menuntut ilmu.
Kisah hilangnya penglihatan beliau: Ketika masa kecilnya, kedua mata Bukhari buta. Suatu ketika ibunya bermimpi melihat Khalilullah Nabi Ibrahim ‘Alaihi wa sallam berujar kepadanya; “Wahai ibu, sesungguhnya Allah telah memulihkan penglihatan putramu karena banyaknya doa yang kamu panjatkan kepada-Nya.” Menjelang pagi harinya ibu imam Bukhari mendapati penglihatan anaknya telah sembuh. Dan ini merupakan kemuliaan Allah subhanahu wa ta’ala yang di berikan kepada imam Bukhari di kala kecilnya.
Perjalan beliau dalam menuntut ilmu
Kecerdasan dan kejeniusan beliau
Kecerdasan dan kejeniusan Bukhari nampak semenjak masih kecil. Allah menganugerahkan kepadanya hati yang cerdas, pikiran yang tajam dan daya hafalan yang sangat kuat, sedikit sekali orang yang memiliki kelebihan seperti dirinya pada zamannya tersebut. Ada satu riwayat yang menuturkan tentang dirinya, bahwasanya dia menuturkan; “Aku mendapatkan ilham untuk menghafal hadits ketika aku masih berada di sekolah baca tulis.” Maka Muhammad bin Abi Hatim bertanya kepadanya; “saat itu umurmu berapa?”. Dia menjawab; “Sepuluh tahun atau kurang dari itu. Kemudian setelah lulus dari sekolah akupun bolak-balik menghadiri majelis hadits Ad-Dakhili dan ulama hadits yang lainnya. Ketika sedang membacakan hadits di hadapan murid-muridnya, Ad-Dakhili berkata; ‘Sufyan meriwayatkan dari Abu Zubair dari Ibrahim.’ Maka aku menyelanya; ‘Sesungguhnya Abu Zubair tidak meriwayatkan dari Ibrahim.’ Tapi dia menghardikku, lalu aku berkata kepadanya, ‘kembalikanlah kepada sumber aslinya, jika anda punya.’ Kemudian dia pun masuk dan melihat kitabnya lantas kembali dan berkata, ‘Bagaimana kamu bisa tahu wahai anak muda?’ Aku menjawab, ‘Dia adalah Az Zubair. Nama aslinya Ibnu ‘Adi yang meriwayatkan hadits dari Ibrahim.’ Kemudian dia pun mengambil pena dan membenarkan catatannya. Dan dia pun berkata kepadaku, ‘Kamu benar.’ Maka Muhammad bin Abi Hatim bertanya kepada Bukhari; “Ketika kamu membantahnya berapa umurmu?”. Bukhari menjawab, “Sebelas tahun.”
Hasyid bin Isma’il menuturkan: bahwasanya Bukhari selalu ikut bersama kami mondar-mandir menghadiri para masayikh Bashrah, dan saat itu dia masih anak kecil. Tetapi dia tidak pernah menulis (pelajaran yang dia simak), sehingga hal itu berlalu beberapa hari. Setelah berlalu 6 hari, kamipun mencelanya. Maka dia menjawab semua celaan kami; “Kalian telah banyak mencela saya, maka tunjukkanlah kepadaku hadits-hadits yang telah kalian tulis.” Maka kami pun mengeluarkan catatan-catatan hadits kami. Tetapi dia menambahkan hadits yang lain lagi sebanyak lima belas ribu hadits. Dan dia membaca semua hadits-hadits tersebut dengan hafalannya di luar kepala. Maka akhirnya kami mengklarifikasi catatan-catatan kami dengan berpedoman kepada hafalannya.
Permulaannya dalam menuntut ilmu
Aktifitas beliau dalam menuntut ilmu di mulai semenjak sebelum menginjak masa baligh, dan hal itu di tunjang dengan peninggalan orang tuanya berupa harta, beliau berkata; ‘aku menghabiskan setiap bulan sebanyak lima ratus dirham, yang aku gunakan untuk pembiaan menuntut ilmu, dan apa yang ada di sisi Allah itu lebih baik dan lebih eksis.’
Dia bergegas mendatangi majelis-majelis ilmu, ketika dia sudah menghafal Al qur`an dan menghafal beberapa karya tulis para ulama, dan yang pertama kali karya tulis yang beliau hafal adalah buku Abdullah bin Al Mubarak, buku Waki’ bin al Jarrah dalam masalah Sunan dan zuhud, dan yang lainnya. Sebagaimana beliau juga tidak meninggalkan disiplin ilmu dalam masalah fikih dan pendapat.
Rihlah beliau
Rihlah dalam rangka menuntut ilmu merupakan bagian yang sangat mencolok dan sifat yang paling menonjol dari tabiat para ahlul hadits, karena posisi Bukhari dalam masalah ilmu ini merupakan satu kesatuan pada diri seorang ahlul hadits, maka dia pun mengikuti sunnah para pendahulunya dan dia pun meniti jalan mereka. Dia tidak puas dengan hanya menyimak hadits dari penduduk negrinya, sehingga tidak terelakkan lagi bagi dirinya untuk mengadakan dalam rangka menuntut ilmu, dia berkeliling ke negri-negri Islam. Dan pertama kali dia mengadakan perjalanannya adalah pada tahun 210 hijriah, yaitu ketika umurnya menginjak 16 tahun, pada tahun kepergiannya dalam rangka menunaikan ibadah haji bersama dengan ibundanya dan saudara tuanya.
Negri-negri yang pernah beliau masuki adalah sebagai berikut;
1. Khurasan dan daerah yang bertetangga dengannya
2. Bashrah
3. Kufah
4. Baghdad
5. Hijaz (Makkah dan Madinah)
6. Syam
7. Al Jazirah (kota-kota yang terletak di sekitar Dajlah dan eufrat)
8. Mesir
Bukhari menuturkan tentang rihlah ilmiah yang dia jalani; ‘Aku memasuki Syam, Mesir dan al Jazirah sebanyak dua kali, ke Bashrah sebanyak empat kali, dan aku tinggal di Hijaz beberapa tahun, dan aku tidak bisa menghitung berapa kali saya memasuki kawasan Kufah dan Baghdad bersama para muhadditsin.
Guru-guru beliau
Imam Bukhari berjumpa dengan sekelompk kalangan atba’ut tabi’in muda, dan beliau meriwayatkan hadits dari mereka, sebagaimana beliau juga meriwayatkan dengan jumlah yang sangat besar dari kalangan selain mereka. Dalam masalah ini beliau bertutur; ‘ aku telah menulis dari sekitar seribu delapan puluh jiwa yang semuanya dari kalangan ahlul hadits.
Guru-guru imam Bukhari terkemuka yang telah beliau riwayatkan haditsnya;
1. Abu ‘Ashim An Nabil
2. Makki bin Ibrahim
3. Muhammad bin ‘Isa bin Ath Thabba’
4. Ubaidullah bin Musa
5. Muhammad bin Salam Al Baikandi
6. Ahmad bin Hambal
7. Ishaq bin Manshur
8. Khallad bin Yahya bin Shafwan
9. Ayyub bin Sulaiman bin Bilal
10. Ahmad bin Isykab
Dan masih banyak lagi
Murid-murid beliau
Al Hafidz Shalih Jazzarah berkata; ‘ Muhammad bin Isma’il duduk mengajar di Baghdad, dan aku memintanya untuk mendektekan (hadits) kepadaku, maka berkerumunlah orang-orang kepadanya lebih dari dua puluh ribu orang.
Maka tidaklah mengherankan kalau pengaruh dari majelisnya tersebut menciptakan kelompok tokoh-tokoh yang cerdas yang meniti manhaj, dintara mereka itu adalah;
1. Al imam Abu al Husain Muslim bin al Hajjaj an Naisaburi (204-261), penulis buku shahih Muslim yang terkenal
2. Al Imam Abu ‘Isa At Tirmizi (210-279) penulis buku sunan At Tirmidzi yang terkenal
3. Al Imam Shalih bin Muhammad (205-293)
4. Al Imam Abu Bakr bin Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah (223-311), penulis buku shahih Ibnu Khuzaimah.
5. Al Imam Abu Al Fadhl Ahmad bin Salamah An Naisaburi (286), teman dekat imam Muslim, dan dia juga memiliki buku shahih seperti buku imam Muslim.
6. Al Imam Muhammad bin Nashr Al Marwazi (202-294)
7. Al Hafizh Abu Bakr bin Abi Dawud Sulaiman bin Al Asy’ats (230-316)
8. Al Hafizh Abu Al Qasim Abdullah bin Muhammad bin Abdul ‘Aziz Al Baghawi (214-317)
9. Al Hafizh Abu Al Qadli Abu Abdillah Al Husain bin Isma’il Al Mahamili (235-330)
10. Al Imam Abu Ishaq Ibrahim bin Ma’qil al Nasafi (290)
11. Al Imam Abu Muhammad Hammad bin Syakir al Nasawi (311)
12. Al Imam Abu Abdillah Muhammad bin Yusuf bin Mathar al Firabri (231-320)
Karakter imam Bukhari
Meskipun Imam Bukhari sibuk dengan menuntut ilmu dan menyebarkannya, tetapi dia merupakan individu yang mengamalkan ilmu yang dimilikinya, menegakkan keta’atan kepada Rabbnya, terpancar pada dirinya ciri-ciri seorang wali yang terpilih dan orang shalih serta berbakti, yang dapat menciptakan karismatik di dalam hati dan kedudukan yang mempesona di dalam jiwa.
Dia merupakan pribadi yang banyak mengerjakan shalat, khusu’ dan banyak membaca al Qur`an.
Muhammad bin Abi Hatim menuturkan: ‘dia selalu melaksanakan shalat di waktu sahur sebanyak tiga belas raka’at, dan menutupnya dengan melaksanakan shalat witir dengan satu raka’at’
Yang lainnya menuturkan; ‘ Apabila malam pertama di bulan Ramadlan, murid-murid imam Bukhari berkumpul kepadanya, maka dia pun meminpin shalat mereka. Di setiap rak’at dia membaca dua puluh ayat, amalan ini beliau lakukan sampai dapat mengkhatamkan Al qur`an.
Beliau adalah sosok yang gemar menafkahkan hartanya, banyak berbuat baik, sangat dermawan, tawadldlu’Â dan wara’.
Persaksian para ulama terhadap beliau
Sangat banyak sekali para ulama yang memberikan kesaksian atas keilmuan imam Bukhari, diantara mereka ada yang dari kalangan guru-gurunya dan teman-teman seperiode dengannya. Adapun periode setelah meninggalnya bukhari sampai saat ini, kedudukan imam Bukhari selalu bersemayam di dalam relung hati kaum muslimin, baik yang berkecimpung dalam masalah hadits, bahkan dari kalangan awwam kaum muslimin sekali pun memberikan persaksian atas keagungan beliau.
Diantara para tokoh ulama yang memberikan persaksian terhadap beliau adalah;
1. Abu Bakar ibnu Khuzaimah telah memberikan kesaksian terhadap Imam Bukhari dengan mengatakan: “Di kolong langit ini tidak ada orang yang lebih mengetahui hadits dari Muhammad bin Isma’il.”
2. ‘Abdan bin ‘Utsman Al Marwazi berkata; ‘aku tidak pernah melihat dengan kedua mataku, seorang pemuda yang lebih mendapat bashirah dari pemuda ini.’ Saat itu telunjuknya diarahkan kepada Bukhari
3. Qutaibah bin Sa’id menuturkan; ‘aku duduk bermajelis dengan para ahli fikih, orang-orang zuhud dan ahli ibadah, tetapi aku tidak pernah melihat semenjak aku dapat mencerna ilmu orng yang seperti Muhammad bin Isma’il. Dia adalah sosok pada zamannya seperti ‘Umar di kalangan para sahabat. Dan dia berkata; ‘ kalau seandainya Muhammad bin Isma’il adalah seorang sahabat maka dia merupakan ayat.
4. Ahmad bin Hambal berkata; Khurasan tidak pernah melahirkan orang yang seperti Muhammad bin Isma’il.
5. Abu Bakar bin Abi Syaibah dan Ibnu Numair menuturkan; kami tidak pernah melihat orang yang seperti Muhammad bin Ism’ail
6. Bundar berkata; belum ada seorang lelaki yang memasuki Bashrah lebih mengetahui terhadap hadits dari saudara kami Abu Abdillah. (Maksudnya Bukhari)
7. Abu Hatim ar-Razi berkata: “Khurasan belum pernah melahirkan seorang putra yang hafal hadits melebihi Muhammad bin Isma’il, juga belum pernah ada orang yang pergi dari kota tersebut menuju Irak yang melebihi kealimannya.”
8. Muslim (pengarang kitab Sahih) berkata ketika Bukhari menyingkap satu cacat hadits yang tidak di ketahuinya; “Biarkan saya mencium kedua kaki anda, wahai gurunya para guru dan pemimpin para ahli hadits, dan dokter hadits dalam masalah ilat hadits.”
9. al-Hafiz Ibn Hajar yang menyatakan: “Andaikan pintu pujian dan sanjungan kepada Bukhari masih terbuka bagi generasi sesudahnya, tentu habislah semua kertas dan nafas. Ia bagaikan lautan tak bertepi.”
Hasil karya beliau
Diantara hasil karya Imam Bukhari adalah sebagai berikut :
- Al Jami’ as Sahih (Sahih Bukhari)
- Al Adab al Mufrad.
- At Tarikh ash Shaghir.
- At Tarikh al Awsath.
- At Tarikh al Kabir.
- At Tafsir al Kabir.
- Al Musnad al Kabir.
- Kitab al ‘Ilal.
- Raf’ul Yadain fi ash Shalah.
- Birru al Walidain.
- Kitab al Asyribah.
- Al Qira`ah Khalfa al Imam.
- Kitab ad Dlu’afa.
- Usami ash Shahabah.
- Kitab al Kuna.
- Al Hbbah
- Al Wihdan
- Al Fawa`id
- Qadlaya ash Shahabah wa at Tabi’in
- Masyiikhah
Wafat beliau
Imam Bukhari keluar menuju Samarkand, Tiba di Khartand, sebuah desa kecil sebelum Samarkand, ia singgah untuk mengunjungi beberapa familinya. Namun disana beliau jatuh sakit selama beberapa hari. Dan Akhirnya beliau meninggal pada hari sabtu tanggal 31 Agustus 870 M (256 H) pada malam Idul Fitri dalam usia 62 tahun kurang 13 hari. Beliau dimakamkan selepas Shalat Dzuhur pada Hari Raya Idul Fitri. Semoga Allah selalu merahmatinya dan ridla kepadanya.
Wahai orang-orang kafir ucapkanlah Tidak ada Tuhan yg berhak disembah melainkan Allah dan nabi Muhammad itu adalah utusan Allah pasti kalian berjaya.Amin Ya Rabbal alamin.
December 1, 2010 at 9:06 am
Jemaah haji asal Indonesia yang MATI KONYOL di Arab Saudi akibat berdesak-desakan dan terinjak-injak jumlahnya semakin banyak dan tidak lagi bisa dikendalikan.
Hingga hari ini, yang TEWAS MENGENASKAN sudah mencapai 331 orang.
Innalillahi waina ilahi rod steward…
Slims….Slims….bego koq dipelihara terus sih???!!!
Mati konyol karena terinjak-injak ente bilang MATI SYAHID…
Wallahuallam…
December 1, 2010 at 9:16 am
Yg mati itu bukan karena naik haji.Karena memang udah ajalnya.Kalau udah ajal,jangan kata pergi haji.Duduk duduk sambil ngobrol ama teman juga bisa mati.Kalau memang belum ajal,biar pergi haji,biar ke kutub utara sono,biar jatuh dari pesawat,biar ditabrak mobil gak bakalan mati karena memang belum sampe ajal.Jangan karena takut mati kita sampai ninggalkan kewajiban dan tanggungjawab.Biar mati saat sedang menjalankan kewajiban daripada mati dalam keadaan meninggalkan kewajiban.Mereka yg mati ketika melakukan haji itu tandanya Allah sayang sama mereka.Mereka diambil dalam keadaan husnul khatimah yakni mati dengan kesudahan yg baik.Mudah-mudahan kita semua begitu.Amin.
December 1, 2010 at 1:50 pm
Nah…inilah begonya Anda.
Wong matinya karena berdesak-desakan dan terinjak-injak, Anda bilang mereka mati karena Allah sayang ame mereka…
Pake otak dong Mas….
December 1, 2010 at 3:25 pm
Pantess anda ngomong gitu.Sebab anda kafir.Nggak percaya sama takdir.Anda pikir kalau gak pergi haji gak mati.Ha ha ha …
December 2, 2010 at 2:46 pm
Apa Tuhan menakdirkan anda MATI KONYOL karena berdesak-desakan dan terinjak-injak??????!!!!!!
Mas….pake akal sehat dong!
December 2, 2010 at 7:23 pm
Bukannya insiden mati karena terinjak-injak itu karena infrastruktur yang tidak memadai, bukan karena ajaran hajinya? Setelah infrastruktur memadai, apa terdengar ada orang mati terinjak-injak?
Mas … pake akal sehat dong!
December 2, 2010 at 10:35 pm
Nah loh….sekarang infrastrukturnya yang disalahin…
Supaya ente tahu ya, seperti yang gue bilang di banyak kesempatan – Allah swt itu adalah si Khairul Makareen = si Penipu Daya Agung…
Ente-ente para Muslimin dan Muslimat dikibulin ame Dia – supaya datang ke Mekah berbondong-bondong – yaitu SUPAYA BANYAK DI ANTARA ENTE YANG AKHIRNYA MATI KONYOL KARENA TERINJAK-INJAK DAN BERDESAK-DESAKAN…
Dalam kebodohan kalian, kalian pikir kalian masuk surga kalau mati di Mekah – padahal yang benar KALIAN YANG MATI DI MEKAH ITU SEMUANYA PASTI AKAN MASUK KE NERAKA!!!
Mengapa?
Karena Khairul Makareen itu sebenarnya adalah IBLIS ITU SENDIRI!!!
Slims….pakailah akal sehat ente – dengan menjadi pengikut Islam – sebenarnya kalian itu menjadi PENGIKUT AGAMANYA SETAN LAKNATULLAH…
Wallahuallam…
December 2, 2010 at 11:04 pm
Belajar logika lagi dah lo Deng, soalnya tanpa logika yang bagus, penjelasan lo terkesan cuma taqiya saja.
Lo bilang Allah itu Si Penipu Daya Agung, nipu muslim supaya mati terinjak injak gara-gara datang ke Mekah. Klo memang itu adalah tipuan, masa tipuan Allah bisa dikalahkan oleh balasan tipuan pemerintah Arab yang membangun infrastruktur yang memadai sehingga muslim tidak mati terinjak-injak di mekah. Kalo memang lo fikir Allah adalah Penipu ulung, tidak mungkin Dia dikalahkan pemerintah Saudi. Jika dikalahkan, berarti Allah yang lo maksud bukan Allah nya muslim. Apalagi semua manusia yang otaknya lebih encer dari pada lo faham dan bahkan sudah dibahas di tv ramai-ramai saat insiden itu terjadi, bahwa penyebab insiden adalah kekurangan dari sisi infrastruktur.
HANYA IBLIS YANG MENGANGGAP MAKAR TUHAN BISA DIKALAHKAN OLEH MAKAR CIPTAANNYA …
Wallahualam…
December 2, 2010 at 2:55 pm
Gila dah….edan Cing….
Jemaah haji yang MATI KONYOL nambah lagi 13 orang.
Sekarang yang Tewas sudah jadi 344 orang….
Ampun…ampun dah Slims…..
Tolol…..tolol…..
Elu…elu…mau amat sih dikadalin ame Muhammad???
Naik haji cuma ngantar nyawa doang…
December 2, 2010 at 10:40 pm
Jemaah haji asal Indonesia yang MATI KONYOL nambah lagi menjadi 350 orang…
Duh Gusti….kasihan buanget gue lihat saudara-saudari gue para Muslimin dan Muslimat….
Mohon Gusti…. celikkanlah mata rohani mereka – supaya mereka bisa menjadi eling (sadar) bahwa sebenarnya mereka itu tengah mengikuti AJARAN dan AGAMANYA Setan Laknatullah…
Sadarkanlah mereka bahwa selama ini mereka sudah ditipu oleh Setan…
http://internasional.kompas.com/read/2010/12/02/20024715/350.Jemaah.Haji.Meninggal.di.Arab.Saudi
December 2, 2010 at 11:09 pm
Yang MATI KONYOL itu manusia yang faham dirinya akan diadili oleh Tuhan, tetapi hingga matinya dia tidak bisa menggunakan akalnya untuk melepaskan diri dari kebodohan sehingga tidak bisa membedakan mana yang lebih utama antara mati dalam ibadah dengan mati dalam maksiat.
Duh Gusti…, kasihan buanget gue lihat Adeng Hudaya
Mohon Gusti…, celikanlah mata rohani dia – supaya dia bisa menjadi eling (sadar) bahwa sebenarnya dia itu tidak punya NALAR yang cukup dan diperalat oleh Setan laknatullah…
Sadarkanlah dia bahwa selama ini dia sudah ditipu oleh Setan…
December 12, 2010 at 1:47 pm
adeng itu goblok pisan euy otaknya mah taro di dengkul, otaknya mah isinya tai semua pantesan kalau ngomong or nulis sampai bau kemana mana dasar manusia paling rendah pantesan goblooook piusan ngebanggain ajaran yang salah, ajarannya mah kaga masuk otak oeang orang pinter kaya kita mah cukup ngurut dada aja anggap aja orang gila lagi ngomong ….
December 12, 2010 at 7:22 pm
Dia happy tampil bodoh seperti itu, hendak nunjukin ma muslim, dia lebih keren dari muslim dengan otak yang menurut pengakuannya “encer”. Siapa sih yang mau ngikutin manusia kayak dia, masuk agama yang bikin dia seperti itu? Naudzubillah!!!
March 12, 2012 at 11:53 pm
ngomongin MATI KONYOL…
ada loh… yang mati buat nebus dosa orang lain. tapi orang lain yang ditebus dosanya itu malah asik-asik aja ma dosanya. maksiat jalan terus… dia pikir “kan udah ada yang nanggung”
bukankah kematianya itu konyol. kalo si penebus dosa itu tau yang ditebus dosanya malah asik-asik aja ama dosanya…. dia akan berkata…. “SIAL… KEMAREN GUE MATI KONYOL DONG… UDAH GUE TEBUS DOSANYA MALAH SEMAKIN NAMBAH TERUS….”
eeehhhhh….. ada yang nyeletuk… “Mati aja lagi bos…. tentu saja yang konyol ya bos…”
Salam Damai…
December 22, 2010 at 6:18 pm
TELAAH KRITIS TERHADAP KAEDAH KESAHIHAN SANAD HADIS
Diarsipkan di bawah: Hadis — muhtadi ridwan @ 3:14 am
Oleh : A. Muhtadi Ridwan
A. Latar Belakang Masalah
Penelitian hadis merupakan kegiatan ilmiah untuk membuktikan kebenaran suatu berita dan bagian dari upaya membenarkan yang benar dan membatalkan yang batil. Umat Islam sangat besar perhatiannya dalam segi ini, baik dipakai sebagai penetapan suatu pengetahuan atau pengambilan suatu dalil (dasar hukum). Apa lagi jika hal tersebut berkaitan dengan riwayat hidup Nabi Muhammad SAW., -ucapan, perbuatan, dan ketetapan yang disandarkan kepada beliau-. Usaha ini hanya mempunyai satu tujuan, yaitu mengikuti jejak Nabi Muhammad SAW., dengan berjalan di atas sunnah beliau, dalam rangka mencapai keridlaan Allah SWT. dan mendapatkan kecintaannya.
Sudah sejak lama para pendahulu kita berusaha memelihara peninggalan Nabi ini, dan menjaganya dari persangkaan negatif dan pemalsuan yang ternyata banyak dilakukan oleh berbagai kalangan.[1] Usaha pemeliharaan pusaka Nabi Muhammad tersebut dimulai dengan pembukuan secara umum tentang hadis dan secara terus menerus diadakan penelitian melalui proses yang sangat ketat berdasarkan metodologi dan standart yang diciptakan secara sendiri-sendiri oleh masing-masing peneliti.[2] Hasil usaha para ulama peneliti hadis di atas, antara lain adalah penetapan lima persyaratan keshahihan hadis Nabi; tiga berkenan dengan sanad dan dua berkenaan dengan matan. Lima kaidah kesahihan hadis itu adalah:
1. Sanadnya bersambung.
2. Seluruh periwayatan dalam sanad bersifat adil.
3. Seluruh periwayat dalam sanad bersifat dhabith.
4. Terhindar dari syadz (kejanggalan).
5. Terhindar dari illat (cacat).[3]
Kajian ini mencoba mentelaah konstruksi teori penelitian yang dilakukan oleh Prof. Dr. M. Syuhudi Ismail dalam desertasinya yang berjudul “KAEDAH KESHAHIHAN SANAD HADIS (Telaah kritis dan tinjauan dengan Pendekatan Ilmu Sejarah).” Dari judul disertasi ini jelas bahwa titik berat kajiannya tentang kaedah keshahihan hadis seperti uraian di atas, khususnya yang berkaitan dengan sanad dengan pendekatan ilmu sejarah.
Ada empat hal yang mendorong dan melatarbelangi penelitian ini dilakukan, yaitu :
Mengingat kedudukan kualitas hadis erat sekali kaitannya dengan dapat atau tidaknya suatu hadis dijadikan sebagai hujjah atau dalil agama. Dengan demikian penelusuran secara historis sesuatu yang dikatakan sebagai hadis Nabi itu, apakah benar-benar dapat dipertanggungjawabkan tingkat validitas dan akurasinya berasal dari Nabi Muhammad SAW. Kajian hadis dengan pendekatan historis menjadi sangat penting karena usaha penghimpunan hadis baru dilakukan sekitar satu abad setelah wafatnya Nabi SAW sebagai sumber utamanya. Dalam tenggang waktu yang cukup panjang ini, sangat mungkin ada usaha-usaha, baik sengaja atau tidak, yang dapat memperngaruhi tingkat akurasi dan validitas riwayatnya. Hal ini bisa dilihat dari realitas keanekaragaman redaksi matan yang terhimpun dalam berbagai macam koleksi hadis yang juga banyak dan beraneka ragam. Kadang justru antara satu dengan lainnya terdapat hadis tentang suatu hal yang sama tetapi berbeda redaksi dan justru kandungan isinya juga bertentangan.[4]
Sebagaimana beliau kutip menurut ulama hadis, suatu hadis yang sanadnya sahih, tidak dengan sendirinya maka hadis itu juga berkualitas sahih.[5] Kesenjangan ini menimbulkan pertanyaan apakah sebenarnya penyebab perbedaan kualitas itu. Apakah kaedah keshahihan sanad hadis (lima syarat) masih belum akurat atau ada sebab-sebab yang lain, misalnya peluang dominan riwayat bil-makna atau peran hadis yang bersifat duniawi.
Mengingat keadaan kesahihan sanad hadis merupakan salah satu acuan umum yang mendasar untuk meneliti dan menentukan kualitas suatu hadis maka keadaan tersebut perlu ditelaah secara kritis.[6] Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh para ulama Mutaqaddimin, yang menyatakan bahwa sanad menduduki posisi strategis dalam kualitas hadis, juga dikatakan sebagai bagian dari agama. Kajian ini diharapkan bisa dapat diketahui relevansinya antar unsur-unsur yang terdapat dalam kaedah tersebut, sehingga dibuat sebagai acuan untuk menentukan kesahihan hadis, baik dari segi sanad atau matannya.
Melihat kenyataan hadis nabi di satu sisi merupakan fakta sejarah, dan dalam ilmu sejarah telah dikenal adanya kritik sumber, maka kaedah kesahihan sanad hadis perlu dikaji melalui pendekatan ilmu sejarah.[7]
Berdasar latar belakang di atas, kajian ini diharapkan dapat dibuktikan tingkat akurasi kaedah kesahihan sanad hadis. Jika hal ini bisa terjadi, maka penelusuran berikutnya diarahkan pada faktor-faktor lain yang menyebabkan terjadinya perbedaan kualitas sanad dan kualitas matan suatu hadis tertentu. Dan apabila kaedah kesahihan hadis itu sejalan dengan kritik sumber yang dikenal ilmu sejarah, maka kaedah tersebut merupakan suatu metode ilmiah yang perlu dikembangkan dalam kajian hadis.
B. Fokus Pembahasan
Fokus kajian penelitian ini adalah sebagai berikut :
Karena cakupan kaedah kesahihan sanad hadis sangat luas, yakni meliputi sanad dan matan hadis, maka pembahasan dibatasi hanya yang berkenaan dengan kaedah kesahihan sanad saja. Sedang kaedah yang berkenaan dengan kesahihan matan tidak dibahas secara khusus.
Hadis Nabi saw. adalah sumber hukum dalam Islam setelah al-Qur’an. Sebagian besar dari hadis tersebut berkualitas ahad (tidak mutawatir), sehingga diperlukan kecermatan dalam pemakaiannya. Yang ingin dikaji dalam penelitian ini adalah kecermatan ulama hadis dalam menetapkan kualitas sanad hadis.
Ulama hadis dalam meneliti hadis telah menetapkan berbagai kaedah. Kajian ini berusaha menguji secara kritis kaedah kesahihan sanad hadis dengan pendekatan ilmu sejarah.
C. Studi Kepustakaan
Studi kepustakaan ini dimaksudkan untuk mentelaah hubungan antar topik penelitian yang dilakukan dalam buku di atas dengan penelitian sejenis yang pernah dilakukan para peneliti sebelumnya. Sebelum membahas hubungan antara keduanya, maka disampaikan beberapa kajian dan penelitian tentang sanad hadis, baik yang dilakukan ulama salaf atau ulama pada abad ke 20 ini, seperti:[8]
Al-Muhaddis al-Fashil Baina al-Rawiy Wa al-Wa’iy, karya Abu Muhammad al-Hasan Bin Abd al-Rahman Bin Khalad al-Ramaharmuziy (Wafat tahun 360 H/971 M).
Ma’rifatu Ulum al-Hadis, karya Abu Abdillah Muhammad bin al-Hakim al-Naisaburiy (wafat tahun 405 H/1014 M).
Al Kifayah Fi ‘ilmu al-Riwayah, karya abu Bakar Ahmad Bin Ali bin Tsabit al-Kitab al-Baghdadyi (wafat tahun 463 H/1245 M).
Ulum al-Hadis, karya Abu Bakar Amr Usman bin Abd. al-Rahman ibn al-Shaleh (Wafat tahun 634 H/ 1245 M).
Al-Taqrib Ii al-Nawawy Fan Ushul al-Hadis, karya Abu Zakariya Yahya ibn Syaraf al-Nawawi (tahun 676 H/1277 M).
Tahdzib al-Tahdzib, karya ahmad bin Aliy bin Hajar al-Asqalaniy (852 H/ 1449 M).
Tadrib al-Rawiy fi Syarh al-Nawawiy, karya Jalal al-Din abd. al-Rahman bin Abiy Bakar al-Suyuthy (wafat tahun 911 H/1505 M).
Ulum al-Hadis Wa Mushthalahuhu, karya Shubhiy al-Shalih (wafat tahun 1406 H/ 1986 M).
Adhwa ala al-sunnah al-Muhammadiyah wa Difa’ ’an al-Hadis, karya Mahmud Abu Rayyah.
10. Difa’ `an al-Sunnah wa Radd Syubah al-Mustasyriqin Wa al-Kutub al Mu’ashirin, karya Muhammad abu Syuhbah.
11. Al-Madkhal ila `Ulum al-Hadis, karya Nuru al-Dien `Itr.
12. Studies in Hadith Methodology and Literatur, dan “Manhaj al-Naqd `in al- Muhaddisin” Karya Muhammad Mustafa al Azamy.
13. Ushul al-Hadis, ‘Ulumuhu Wa Musthalahuhu, karya Muhammad `Ajjaj al-Khatib.
Dari sekian banyak kajian yang berkaitan dengan sanad hadis di atas, menurut peneliti, pembahasannya masih terlalu umum, artinya tidak khusus menguji secara kritis terhadap kaedah yang telah ada. Walaupun ada kajian secara kritis, seperti yang dilakukan oleh Muhammad Mushthafa al-Azamiy tetapi tidak dilakukan secara komprehenship. Penelitian dalam buku ini berbeda dengan yang dilakukan para peneliti di atas, baik dilihat dan totalitas kaedah sanad yang ditelaahnya, pengujian argumen yang ditempuhnya, maupun metode yang digunakannya.
C. Konstruksi Teori.
Teori yang dipergunakan untuk penelaahan unsur-unsur kaedah kesahihan sanad hadis adalah argumen-argumen naqliy, aqliy, sejarah dan ilmu sejarah, penerapaan dari argumen-argumen tersebut dikemukakan sebagai berikut :
Argumen-argumen yang mendasari unsur sanad bersambung adalah sejarah, naqliy (hadis Nabi SAW) dan logika.
Argumen-argumen yang mendasari unsur beragama Islam (unsur minor dari unsur periwayat bersifat adil) dalil naqliy dan aqliy (logika) atau dalil al-badihiy (aksioma).
Argumen yang mendasari unsur berstatus mukallaf (unsur minor dari periwayat bersifat adil), adalah dalil aksioma juga.
Argumen yang mendasari unsur melaksanakan ketentuan agama, adalah naqliy, logika dan kejiwaan.
Argumen yang mendasari unsur terhindar dari syadz dan unsur terhindar dari illat adalah argumen methodologis.
Karena pendekatan kajiannya adalah pendekatan sejarah, maka pembahasan berikut ini ditekankan pada konstruksi teori yang berkaitan dengan sejarah. Menurut pengertiannya, metode sejarah sebagaimana disampaikan oleh para ahli penelitian sejarah, ada yang bersifat khusus dan ada yang bersifat umum. Yang bersifat khusus tidak memasukkan histografi sebagai bagian dari metode sejarah.[9] sedang yang bersifat umum memasukkannya sebagai metode sejarah.
Metode penelitian sejarah, baik yang bersifat khusus maupun yang bersifat umum sama-sama menganggap pentingnya dokumentasi. Hal ini sebagaimana diungkap oleh Sartono Kartodirdjo dengan menekankan bahwa dalam penelitian yang berprespektif atau berorientasi sejarah, maka bahan dokumentasi memiliki peranan metodologis yang sangat penting.[10]
Metode sejarah yang ketentuan-ketentuannya digunakan sebagai pendekatan dalam penelitian ini adalah dibatasi pada pengertian metode dalam arti khusus. Pengertian metode ini seperti dikemukakan oleh Louis Goots Chalk, bahwa metode sejarah dinilai sebagai metode yang bersifat ilmiah, apabila memenuhi dua syarat yaitu (1) bila metode itu mampu menentukan fakta yang dapat dibuktikan, dan (2) bila fakta itu berasal dari suatu unsur yang diperoleh dari hasil pemeriksaan yang kritis terhadap dokumen sejarah.[11] Selanjutnya dikatakan bahwa metode sejarah merupakan proses penelitian dan analisis secara kritis terhadap rekaman dan peninggalan masa lampau.[12]
Sebagaimana telah disebutkan di atas bahwa dokumentasi mempunyai peranan sangat penting dalam penelitian yang berorientasi sejarah. dokumentasi di sini berarti proses pembuktian fakta sejarah, baik yang bebentuk tulisan, lisan, gambar ataupun arkeologi. Pengertian ini berarti sinonim dengan sumber, baik tertulis atau tidak, resmi atau tidak resmi, primer atau bukan primer.[13] Dilihat dari obyeknya, penelitian yang berorientasi sejarah sama dengan penelitian hadis, yaitu sama-sama meneliti sumber dengan tujuan memperoleh data yang otentik dan akurat.
Sanad hadis adalah merupakan sumber riwayat, karena didalamnya terdapat beberapa saksi, baik langsung atau tidak langsung, yang terdiri dari kalangan sahabat dan generasi-generasi beikutnya sampai perawi terakhir atau para mukharrij (kolektor hadis). Perawi dari kalangan sahabat disebut sebagai sumber primer, sedangkan generasi berikutnya disebut sebagai sumber sekunder. Keadaan yang demikian selaras dengan sumber data menurut ilmu sejarah. Dalam ilmu sejarah, yang disebut sumber primer adalah saksi mata atau indera lainnya atau alat mekanis, sedangkan sumber sekunder adalah kesaksian dari orang yang tidak hadir pada peristiwa yang disaksikannya.[14] Dilihat dari obyeknya, penelitian hadis dapat diarahkan pada dua sisi, yaitu sanad dan matan. Kritik yang ditujukan kepada sanad merupakan kritik ekstern (al-Naqd al-Kharijiy), sedang kritik yang ditujukan kepada matan merupakan kritik intern (al-Naqd al Dakhiliy). Ini juga sejalan dengan teori sejarah, yakni penelitian sumber data ditujukan kepada kritik ekstern dengan maksud membuktikan otentik tidaknya suatu dokumen, menelusuri kredibilitas pembuatnya dan asal-usul sumber. Kritik intern untuk membuktikan akurasi isi sumber, bisa diterima tidaknya sebagai fakta historis, bahasanya dan tujuannya.[15]
Dalam hubungan ini, karena titik berat penelitiannya hanya berkenaan dengan penelitian sanad, maka pendekatannya adalah memakai ketentuan-ketentuan metode sejarah yang berkaitan dengan kritik ekstern.
D. Metodologi Penelitian
Berdasarkan uraian di atas, jelas bahwa penelitian ini (menurut penulis), memakai model penelitian sejarah. Pilihan metode ini dirasa sangat tepat karena adanya titik temu antara sejarah dan hadis, di mana hadis merupakan fakta sejarah yang berkenaan dengan perkataan, perbuatan, ketetapan dan hal-hal lain yang bersumber dari Nabi Muhammad SAW. Fakta sejarah tersebut melalui proses transmisi beruntun yang dibawah oleh perawi-perawi dari generasi ke generasi mulai sahabat sampai perawi terakhir. Perawi-perawi tadi merupakan sumber primer dan sekunder yang bertanggung jawab atas akurasi dan orisinalitas riwayat (hadis).
Jadi metode yang dipakai adalah metode historis yang dititik beratkan pada kritik sumber eksternal, karena sasarannya adalah sanad yang juga sebagai sumber eksternal dalam hadis. Karena tidak nampak penerapan metode terseebut pada penelitian ini, maka dalam kesempatan ini belum bisa dikemukakan bagaimana prosedur ini dilakukan. Yang terlihat sebenarnya perbandingan antara metode tadi dengan proses penentuan sahih tidaknya hadis dengan mendasari kaedah kesahihan sanad yang dirasa mirip dengan pengujian fakta sejarah.
E. Analisis
Sebagaimana diungkap pada latarbelakang penelitian tentang “Kaedah Kesahihan Sanad Hadis” ini pendekatan yang digunakan adalah pendekatan ilmu sejarah. Menurut penulis pendekatan ilmu tersebut digunakan sebagai acuan, sebab ilmu ini telah diakui oleh para ilmuan sebagai ilmu sosial.
Untuk itu, sebelum menganalisis tingkat orisinalitas penelitian dalam di atas dikaitkan dengan konstruksi teori yang digunakan, perlu dikaji secara krisis beberapa hal lain yang masih terkait dengan bahasannya, antara lain :
Tentang pemanfaatan ilmu sejarah sebagai pendekatan penelitian hadis pada dasarnya bisa dispakati, namun hal ini harus dibatasi pada segi prosedurnya saja, yakni proses kegiatan kritik, baik yang bersifat eksternal (sanad hadis) ataupun yang bersifat internal (matan hadis). Sebab, walaupun sasaran antara penelitian hadis dan penelitian lain yang berorientasi sejarah sama berupaya meneliti sumber dalam rangka memperoleh data yang otentik dan dapat dipercaya, tetapi dari sisi ukuran/kriteria sebagai alat uji yang dipakai kedua model penelitian tersebut, jelas berbeda, bahkan sangat prinsip. Jika dilihat perbandingannya, alat uji yang dipakai dala penelitian kredibilitas hadis lebih cermat dan sangat ketat, karena ada beberapa hal prinsip yang tidak ada dalam ilmu sejarah. Maklum karena antara keduanya ada perbedaan status. Sekedar contoh bisa dikemukakan antara lain :
Besambungnya sanad, sebagai salah satu syarat keshahihan hadis. Artinya masing-masing perawi dalam sanad hadis terbukti menerima hadis dari riwayat terdekat sebelumnya, keadaan ini berlangsung ssampai akhir sanad (perawi sahabat). Perawi-perawi tersebut sebagai saksi riwayat yang mempertanggungjawabkan kualitas riwayat. Para perawi itu terdiri dari saksi primer (Sahabat) dan saksi sekunder (semua perawi setelah sahabat sampai perawi terakhir). Syarat ini tidak ditemui dalam ilmu sejarah. Demikian juga syarat-syarat yang lain, seperti perawi harus beragama Islam (bagian dari syarat adil), tidak cacat muru’ahnya dan melaksanakan agama (Islam) dengan baik (tidak fasiq) juga bagian dari syarat adil.
Berkaitan dengan hal di atas, dalam penelitian ini terlihat ada analogi yang kurang pas (terbalik), yaitu apabila ternyata kaedah kesahihan sanad dimaksud memiliki kesejalanan dengan kritik sumber yang terdapat dalam ilmu sejarah, maka ia merupakan suatu metode ilmiah yang tetap perlu dikembangkan dalam rangka penelitian hadis. Walaupun ilmu sejarah telah diakui sebagai disiplin ilmu social, namun jika dilihat dari sisi substansi dan sasaran penelitiannya, jelas berbeda. Dengan demikian, ilmu sejarah dengan ketentuan-ketentuannya tidak bisa sepenuhnya dipakai sebagai pendekatan kajian hadis, termasuk sanad hadis. Bukanlah sudah banyak model-model penelitian hadis yang telah dilakukan para ulama terdahulu, walaupun masih terlihat adanya perbedaan, sehingga menghasilkan kesimpulan yang berbeda. Sebab-sebab perbedaan inilah sebetulnya yang perlu mendapatkan perhatian, mungkin ada fenomena lain yang bisa dilacak, sehingga hadis yang merupakan sumber pokok ajaran Islam itu betul-betul orisinal.
Tentang obyek penelitian sanad, khususnya yang berkaitan dengan perawi di kalangan sahabat, nampaknya penulis sepakat dengan pendapat ulama yang ditengarai sebagai pendapat secara ijma’ yaitu tentang kredebilitas sahabat yang dinilai sebagai perawi yang adil, berdasarkan argumentasi naqliy dan aqliy. Secara umum bisa disepakati, bahwa generasi sahabat adalah baik atau lebih baik dari generasi berikutnya. Akan tetapi dalam kenyataannya, sejarah membuktikan lain, artinya ada beberapa sahabat perlu dicurigai kredebilitasnya, seperti :
- al-Walid bin Uqbah, walaupun dikenal seebagai seorang pemberani dan penyair yang baik, namun beliau pernah berbohong, justru perbuatan tersebut menjadi sebab turunnya salah satu ayat al-Qur’an, ayat al-Hujurat; 6 yang dinyatakan sebagai perbuatan fasiq. Pada masa khalifah Usman menghukumnya dengan cambukan dan memecatnya. Jelas sifat tersebut tidak terpuji dan tidak patut dikatakan sebagai orang yang adil. Beliau pernah menerima riwayat hadis, baik langsung dari Nabi atau melalui Usman, dan para perawi sempat meriwayatkannya.[16]
- al-Asy’as bin Qais bin Ma’diykarb al-Kindy juga ditengarai pernah murtad, kemudian masuk Islam lagi. Beliau pernah menerima riwayat dari Umar bin al-Khaththab, dan para perawi sempat meriwayatkannya.[17]
Demikian juga terbukti dalam sejarah, bahwa pada masa sahabat pernah terjadi peristiwa, justru sering terjadi sengketa yang mengakibatkan perang saudara, yang dikenal dengan timbulnya fitnah kubra. Demi kemurnian dan keaslian hadis, para sahabat masih perlu diteliti kredebilitasnya. Untuk meneliti sahabat tersebut sudah banyak bahan yang ditulis oleh para peneliti hadis terdahulu.
Selanjutnya tentang orisinalitas penelitian di atas, perlu dikritisi berkaitan dengan terapan metode ilmu sejarah yang dipakai sebagai pendekatan kaedah kesahihan sanad. Berkaitan dengan hal tersebut, dalam buku ini belum terlihat terapan metode yang dimaksud. Yang nampak hanya kutipan atau ungkapan hasil-hasil penelitian yang pernah dilakukan oleh para ulama. Bukti ini bisa dilihat, ketika menulis membahas (meneliti) unsur-unsur kaedah kesahihan sanad, mulai halaman 105 sampai dengan 196 (halaman sebelum kesimpulan). Walaupun begitu studi ini masih patut mendapat perhatian, karena hasil penelitian ini terpapar secara komprehensif dan komparatif. Dan dari sini sebenarnya dapat diformulasikan model-model penelitian agama, khususnya yang berkaitan dengan penelitian hadis, dan ini menjadi tugas kita. Kalau bisa saya simpulkan, bahwa pembahasan (penelitian) dalam buku ini bersifat penelitian kepustakaan yang merupakan studi banding antara pendekatan penelitian hadis dengan pendekatakan penelitian sejarah. Untuk mengetahui model-model penelitian hadis di luar buku ini, kiranya perlu ditawarkan beberapa model penelitian, sebagaimana akan diungkap berikut ini.
F. Tawaran Model-model Penelitian
Memusatkan penelitian pada hadis dengan berbagai obyek material dan formal tidak terlepas dan jati dirinya sebagai sumber doktrin agama Islam yang sifat kebenarannya transendental. oleh sebab itu pendekatan masalah dalam penelitian hadis selalu terikat pada metode doktriner yang normatif dan dogmatis hadis. Realitas hadis sebagai doktrin dikaji lewat dokumen (Studi Literer) dengan memanfaatkan tehnik analisa kualitatif. Bila obyek kajian diarahkan kepada hal-hal yang aktual maka pendekatan masalahnya perlu penggabungan (sintesa) antara metode doktriner dengan metode penelitian ilmiah (A. Mukti Ali, 1989: 47-48). Misalnya dengan metode sosiologis, historis, psikologis, etnografis, studi kasus dan lain-lain. Sekiranya kesimpulan yang dihasilkan perlu terukur dengan olah data kebenaran sensual (teramati indera) setara kemauan penelitian empirisme dan kebenaran logik (berdasarkan penalaran) seperti kecenderungan penelitian rasionalisme, maka pengembangan metodenya memanfaatkan tehnik analisis kuantitatif. Langkah analisis data tersebut diproses melalui sajian data hasil survey lapangan.
Dengan mempertimbangkan karakteristik objek formal penelitian hadis, berikut ini ditawarkan ragam pilihan methode :
(1) Methode historis dengan melalui tahapan-tahapan sebagai berikut:
(a) Kritik sumber (eksternal) atau sanad hadis ;
(b) Kritik materi hadis (internal) ;
(c) Mengupayakan data pendukung sanad dan matan sebagai pembanding melalui prosedur i’tibar guna menemukan data syahid atau mataba’ hadis.
Apabila target yang ingin dicapai lewat penelitian historis faktual terhadap satuan hadis itu mencakup nilai kehujjahan, maka langkah prosedur penelitian dilanjutkan guna menguji terap signifikansi satuan hadis yang bersangkutan dengan data sikap kesediaan atau penolakan Ulama ilmu syari’at dalam mendayagunakan hadis tersebut sebagai polulasi pengembangan tata pikir syari’at (aqidah, ahkam, akhlaq dan penafsiran Al-Qur’an).
Prosedur penelitian historis faktual di atas bila ditujukan pada objek material kitab koleksi hadis, langkah kerjanya menjadi lebih sederhana, yaitu :
Pertama : Pengujian validitas hadis yang dihimpun dengan mengamati seberapa dominan mutu keshahihan hadis dan keunggulan norma seleksinya (i’tibar as-shihah), dan
Kedua : Pengujian singkat popularitas kitab di kalangan ulama syar’i (i’tibar as-syuhrah). Detil prosedur dan operasional metode tersebut dapat mempedomani teori syeikh Waliyullah Ad-Dihlawi dalam Hujjatullah al-Balighah.
(2) Methode komperatif dengan cara membandingkan dua/lebih pandangan, presepsi, tradisi, pemikiran tokoh ulama atau kelompok aliran keagamaan terhadap hadis secara keseluruhan atau persial.
(3) Methode deskriptif yang bertujuan menggambarkan secara mendalam segala aspek yang melekat pada satuan hadis dan mempertegas hipotesa atau teori klasik tentang hadis.
(4) Methode thematik (tipologi) dengan memilih thema sentral berasal dari gugus ajaran universal Islam, dicarikan landasan konsepsinya dalam perbendaharaan hadis (sunnah) guna membangun sebuah konsep universal milik Islam. Konsep tersebut mencerminkan refleksi pemikiran yang sistematik.
(5) Methode verifikatif yang bertujuan menguji dan menilai suatu thesis tentang keandalan norma seleksi hadis yang dikembangkan oleh pakar hadis. Model penelitian ditunjang oleh data respon dan reaksi ulama Muhaddisin periode sama atau sesudahnya guna mengukur efektifitas norma seleksi tersebut. pada posisi yang sama diujicobakan seleksi norma seleksi yang sudah menjadi standar buku ulama Muhaddisin.
(6) Methode eksplanatif yang mencermati hubungan antar variabel ke-hadis-an dengan variabel realitas sosial. Pengembangan model penelitian ini mencontoh prosedur penelitian empiric yang koreladional.
G. Kesimpulan
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa:
Walaupun terdapat kesamaan antara model penelitian sejarah dan penelitian hadis, karena kesamaan sasaran, akan tetapi pendekatan ilmu sejarah tidak dapat diterapkan sepenuhnya dalam penelitian hadis, termasuk sanad hadis. Pertimbangannya, karena alat ukur yang dipakai kedua pendekatan tersebut terdapat perbedaan yang sangat prinsip.
Model penelitian dalam buku ini tampak tidak jelas, walaupun dikatakan memakai pendekatan ilmu sejarah, namun belum terlihat terapan ilmu tersebut. Sehingga bisa disimpulkan bahwa kajian dalam buku ini sebenamya memakai metode analogi perbandingan, karena faktanya adalah hanya membanding, baik antara beberapa pendapat ulama dalam kaitannya dengan penentuan kualitas sanad, ataupun antara metode yang dipakai ulama-ulama tersbut dengan metode ilmu sejarah.
Tawaran metode yang terungkap, bertujuan memenuhi model studi yang komprehensif tentang hadis, sehingga diharapkan tidak terjadi perbedaan antara kualitas sanad dan matan, sebagaimana dikembangkan para ulama, bahwa sanad hadis yang shahih tidak dengan sendirinya matannya shahih.
Catatan kaki :
[1] Usaha ini secara resmi dan massal telah dilakukan berdasarkan instruksi dinas khalifah Umar Bin Abdul Azis, dilakukan sejak zaman sahabat, berupa catatancatatan pribadi seperti ali bin Abu thalib, amir Bin Ash dan lain-lain. Lihat Misalnya Subhiy al-Shaleh, Ulum al-Hadis wa Musthalahuhu, hal. 24-30, dan hal. 44-45, Muhammad Zahw, al-Hadis Wa al-Muhaddisun, hal. 244-245, Muhammad abdul al Aziz, al Kulliy, Miftah al sunnah wa-Tarikh funun al-Hadis, hal. 21.
2Al-Nu’man Abdul al-Muta’al, al-Hadis al-Syarif riwayat wa Dirayat, hal. 77-80.
3 Ibnu al-Shalah, Ulum al-Hadis, hal. 10, dan al-Nawawi, al-Tagrib ii al-Nawawiy Fann Ushul al-Hadis, hal. 1.
4 M. Syuhudi Ismail, Kaedah Kesahihan Sanad (Telaah Kritis dan Tinjauan dengan Pendekatan Ilmu Sejarah), hal.3-4.
5 Ibid, hal. 7 Ibn al-Shalah, Op. cit, hal.11, dan Shubkiy al-Shahih, Op.cit, hal. 154.
6 M. Syuhudi Ismail, Ibid, hal.7.
7 M. Syuhudi Ismail, Loc cit.
8 Ibid, hal.10-11, dan Mahmud al Thahhan, Taisir Mushthalah al-Hadis, hal.26.
9 Yang dimaksud dengan historiografi adalah keseluruhan prose-proses intelektual, kritis dan konstruksi dan merupakan alas dasar sejarah itu ditulis, Abdurrahman Suryomiharjo, Pembinaan Bangsa dan Masalah Histografi, hal.3.
10 Sartono Kartodirdjo, Metode Penggunaan Dokumen, dalam Koentjaraningrat (Redaktur), Metode-metode penelitian Massyarakat, hal. 62.
11 Ouis Goots Chalk, Understanding History; A Promer of Historical Metode, hal. 193.
12 Ibid, hal. 48.
13 Ibid, hal. 53-54
14 Sartono Kartodirdjo, Op. cit, hal. 76, dan hal. 83-84.
15 al-Asqalaniy, Kitab al-Ishabahfi Tamiz al Sahabah, jilid III, hal. 637-638.
16 al-Asqalaniy, Fath al-Bariy, Juz VIII, hal.4 dan Tandzib al-Tandzib, Juz I, hal.359.
17 Mahmud al-Thahhan, Op cit, hal. 170-171.
Daftar Pustaka
Taufiq Abdullah, “Kata Pengantar” dalam Abdurrahman Surjomihardjo, Pembinaan Bangsa dan Masalah Historiografi, cet. II, Idayu, Jakarta, 1979.
Muhammad Muhammad Abu Zahw, al-Hadis wa al-Muhaddisun, Dar Mathba’ah Mishr, Mesir, tt.
Ibnu Hajar al-Asqalaniy, Fath al-Bariy, Dar al-Fikr wa Maktabat Salafiyah, tt.
Ibnu Hajar al-Asqalaniy, Tahdzib al-Tahdzib, Majlis Da’irat al-Ma’arif al-Nidhamiyah, India, tt.
Louis Gottschalk, Understanding History : A Primer of Historical Method, cet. IV, Alfred A Knoph, New York, 1956.
Nur al-Din “itr, al-Madkhal ila Ulum al-Hadis, al-Maktabat al-Ilmiyah, cet. II, Madinah, 1972.
Sartono Kartodirdjo, Metode Penggunaan Dokumen, dalam Koentjoroningrat (redaktur), Metode-metode Penelitian Masyarakat, cet. II, Gramedia, Jakarta, 1977.
Muhammad Ajjaj al-Khatib, Ushul al-Hadis wa Mushthalahuhu, Dar al-Fikr, cet. III, Beirut, 1975.
Al-Nawawy, Shahih Muslim bi Syarh al-Nawawy, juz I, al-Mathabaat al-Mishriyah, Mesir, 1924.
Al-Nawawy, al-Taqrib li al-Nawawy, Fann Ushul al-Hadis Abd. Rahman Muhammad, Kairo, tt.
Shubhiy al-Shalih, Ulum al-Hadis wa Musthalahuhu, cet. IX, Dar al-Ilm li Malayin, Beirut, 1977.
Mahmud al-Thahhan, Taisir Musthhalah al-Hadis, cet. II, Dar al-Qur’an Beirut, 1979.
——————————————————————————–
[1] Usaha ini secara resmi dan massal telah dilakukan berdasarkan instruksi dinas khalifah Umar Bin Abdul Azis, dilakukan sejak zaman sahabat, berupa catatancatatan pribadi seperti ali bin Abu thalib, amir Bin Ash dan lain-lain. Lihat Misalnya Subhiy al-Shaleh, Ulum al-Hadis wa Musthalahuhu, hal. 24-30, dan hal. 44-45, Muhammad Zahw, al-Hadis Wa al-Muhaddisun, hal. 244-245, Muhammad abdul al Aziz, al Kulliy, Miftah al sunnah wa-Tarikh funun al-Hadis, hal. 21.
[2] Al-Nu’man Abdul al-Muta’al, al-Hadis al-Syarif riwayat wa Dirayat, hal. 77-80.
[3] Ibnu al-Shalah, Ulum al-Hadis, hal. 10, dan al-Nawawi, al-Tagrib ii al-Nawawiy Fann Ushul al-Hadis, hal. 1.
[4] M. Syuhudi Ismail, Kaedah Kesahihan Sanad (Telaah Kritis dan Tinjauan dengan Pendekatan Ilmu Sejarah), hal.3-4.
[5] Ibid, hal. 7 Ibn al-Shalah, Op. cit, hal.11, dan Shubkiy al-Shahih, Op.cit, hal. 154.
[6] M. Syuhudi Ismail, Ibid, hal.7.
[7] M. Syuhudi Ismail, Loc cit.
[8] Ibid, hal.10-11, dan Mahmud al Thahhan, Taisir Mushthalah al-Hadis, hal.26.
[9] Yang dimaksud dengan historiografi adalah keseluruhan prose-proses intelektual, kritis dan konstruksi dan merupakan alas dasar sejarah itu ditulis, Abdurrahman Suryomiharjo, Pembinaan Bangsa dan Masalah Histografi, hal.3.
[10] Sartono Kartodirdjo, Metode Penggunaan Dokumen, dalam Koentjaraningrat (Redaktur), Metode-metode penelitian Massyarakat, hal. 62.
[11] Ouis Goots Chalk, Understanding History; A Promer of Historical Metode, hal. 193.
[12] Ibid, hal. 48.
[13] Ibid, hal. 53-54
[14] Sartono Kartodirdjo, Op. cit, hal. 76, dan hal. 83-84.
[15] al-Asqalaniy, Kitab al-Ishabahfi Tamiz al Sahabah, jilid III, hal. 637-638.
[16] al-Asqalaniy, Fath al-Bariy, Juz VIII, hal.4 dan Tandzib al-Tandzib, Juz I, hal.359.
[17] Mahmud al-Thahhan, Op cit, hal. 170-171.
*Pernah dimuat di Jurnal STAIN Malang, No. 4 Tahun 1997, ISSN: 1410-0592
Sumber:http://blog.uin-malang.ac.id/muhtadiridwan/2010/06/14/telaah-kritis-terhadap-kaedah-kesahihan-sanad-hadis/
Wahai orang-orang kafir kalian akan masuk neraka jika tidak bertobat.Ucapkanlah Tidak ada Tuhan yg berhak disembah melainkan Allah dan nabi Muhammad itu adalah utusan Allah pasti kalian berjaya.Amin ya Rabbal alamin.
December 23, 2010 at 5:55 am
Seringkali kita mendengar kisah para pejuang Islam seperti As-Syahid Hassan Al-Banna, Jamaludin Al-Afghani, Ahmed Deedat, Zakir Naik, Rasyid Redha dan sebagainya. Pada kali ini, saya ingin berkongsi dengan sahabat semua mengenai seorang lagi pejuang Islam dan beliau adalah seorang wanita yang pada mulanya adalah seorang wanita Kristian yang amat teguh pegangannya pada agama ini dan pada masa yang sama merupakan anak kepada ketua paderi terkenal di Cordova satu masa dahulu. Ikuti sejarahnya..
PENYEBARAN ISLAM DI SEPANYOL
Sebenarnya idea penyebaran Islam di tanah Sepanyol berlaku seawal zaman khalifah Usman bin Affan lagi. Seorang ketua tentera di zaman pemerintahan Yazid bin Muawiyah iaitu Uqbah bin Nafi’ al-Fihri telah bertindak menyebarkan Islam ke Afrika Utara hingga ke bandar Tangier pada tahun 683M. Namun, usaha ini terhenti apabila Uqbah sendiri telah syahid dalam salah satu siri peperangan jihadnya. Pusat pemerintahan kerajaan Islam pada masa itu terletak di Damsyik, Syria di bawah pimpinan khalifah al-Walid dari dinasti Umawi. Beliau telah melantik Musa bin Nusair sebagai wakil khalifah di bahagian Utara Afrika. Pada tahun 708M pula, Musa bin Nusair telah menghantar anaknya Abdullah untuk membuka pulau Mallorca dan pulau Menorca. Kedua-dua pulau ini terletak di bahagian Tenggara Sepanyol.
Musa bin Nusair sebenarnya adalah gabenor kerajaan Islam Umawi yang berpusat di Damsyik, Syria. Musa bin Nusair juga telah membina hubungan dengan Julian wakil kerajaan Sepanyol di Bandar Ceuta yang terletak di persisiran pantai utara bahagian Benua Afrika. Beliau juga mula mengadakan hubungan dengan Witiza raja Sepanyol yang telah digulingkan setahun sebelum pembukaan Islam di Sepanyol.
Selain itu panglima Tariq Ziad yang dihantar Musa bin Nusair ke Sepanyol adalah seorang yang berjasa dalam menyebarkan Islam di Sepanyol. Beliau bersama tenteranya pada asalnya datang untuk membantu Putera Julian anak kepada seorang Gabenor di Sepanyol untuk memerangi Raja Roderick yang telah menzalimi rakyat Sepayol ketika itu. Selain datang dengan niat untuk membantu Tariq Ziad juga datang dengan niat untuk menyebarkan risalah Islam. Tariq Ziad bersama armada lautnya berlabuh di Pelabuhan Gibraltar.
Ketika berlaku serangan hendap selepas meyelidik Negara Sepanyol Tariq Ziad bertindak membakar kapal-kapal miliknya. Ianya bertujuan menaikkan semangat jihad tenteranya agar tidak lari dari menghadapi musuh kerana tujuan mereka datang adalah untuk menyebarkan risalah Islam di Sepanyol. Dengan kekuatan dan kesabaran mereka berjaya menumpaskan musuh dalam setiap peperangan sehinggalah tiba satu peperangan yang dikenali dengan nama Perang sehinggalah tiba satu peperangan yang dikenali dengan nama Perang Wadi Barabat. Perang yang berlangsung selama 8 hari berakhir dengan kemenangan Islam dan terkorbannya Raja Roderick.
Selepas kematian Raja Roderick, tenteranya dipimpin pula oleh panglimanya dan akhirnya berlaku satu lagi peperangan dan dalam peperangan itu Islam sekali lagi telah menang namun Putera Julian terkorban dalam peperangan tersebut ketika bergelut dengan panglima Kristian Sepanyol. Tariq bin Ziad akhrinya berjaya membuka beberapa buah wilayah dan menyebarkan Islam di Sepanyol. Kejayaan demi kejayaan yang dikecapi mendorong Musa bin Nusair datang ke Sepanyol untuk melihat perkembangan Islam dan membantu Tariq Ziad. Selepas itu Sepanyol menjadi pusat Islam yang terulung di dunia dan permulaan penyebaran Islam di Eropah.
Pemerintahan Tariq Ziad dan Musa Nusair tamat di Sepanyol apabila khalifah Damsyik al-Walid bin Ibnu Malik memanggil pulang kedua tokoh tersebut. Ini kerana beliau bimbangkan keselamatan tentera Islam dan kekurangan reputasi tentera Islam di Damsyik. Pemeintahan Islam di ambil alih oleh Abdul Aziz bin Musa bin Nusair. Bermulalah pemerintahan gabenor Islam di Sepanyol sepanjang kegemilangan Islam sehinggalah kejatuhan Islam di Sepanyol pada 1501 Masihi oleh Raja Fernando yang licik membeli maruah pembesar-pembesar Islam.
Logged
“Alang-alang hidup, hiduplah sebagai da’ie. Alang-alang mati, matilah sebagai syuhada”.
ISABELLA TOKOH PERBANDINGAN AGAMA ISLAM DAN KRISTIAN SEPANYOL
LATAR BELAKANG ISABELLA
Isabella ialah nama yang tidak asing lagi dalam sejarah perkembangan Islam di Sepanyol terutamanya dalam bidang perbandingan agama Islam dan Kristian di Bandar Cordova iaitu bandar sejarah Sepanyol dan merupakan bandar tercantik di Sepanyol. Terdapat banyak tinggalan bersejarah di Cordova seperti istana al-Hamra, Qasrul Syuhada (makam para syuhada), masjid Cordova dan jug ataman tercantik di Sepanyol iaitu Rabat Yamani.
Isabella hidup pada zaman kegemilangan Islam di Sepanyol iaitu selepas zaman pengembangan Islam yang dibawa oleh Tariq Ziad dan Musan bin Nusair. Isabella pada asalnya ialah seorang penganut Kristian yang taat dan patuh pada agamanya. Beliau merupakan anak kepada seorang ketua paderi di Cordova. Penganut Kristian pada masa itu sangat bencikan Islam dan menanggap penganut Islam sebagai kafir dan syaitan. Penganut Kristian di Cordova pada waktu itu berpegang pada doktrin Trinity iaitu dotrin 3 Tuhan iaitu Tuhan Bapa. Tuhan Anak dan Roh Kudus.
Isabella pada usia mudanya sentiasa mempelajari dan mengkaji tentang agamanya iaitu Kristian. Beliau sentiasa cuba untuk mencari kebenaran dalam agama Kristian dan berusaha menghayati prinsip-prinsip agama Kristian. Ketika kebenaran Islam terbentang di hadapannya maka dia memilih Islam sebagai agama baru. Isabella dengan berani menentang kehendak ayahnya agar kembali kepada Kristian meskipun dirinya dan diseksa bukan sahaja oleh bapanya malah oleh seluruh umat Kristian Cordova.
Selepas mengharungi ranjau yang pedih sebagai muslim. Beliau akhirnya menjadi seorang tokoh perbandingan agama yang ulung bahkan seorang muhaddisah iaitu ahli hadis di Cordova. Beliau juga telah mengasaskan Institut Pengajian al-Quran di kediamannya sendiri. Umur Isabella ketika memeluk Islam tidak diketahui dengan jelas tetapi seorang tokoh penulisan Islam iaitu Maulana Saeed Dehlvi yang berketurunan Pakistan dan mengkaji sejarah Isabella mengatakan bahawa umur Isabella ketika memeluk Islam ialah 22 tahun dan menjadi tokoh perbandingan agama yang mahsyur pada usia 34 tahun.
MENDAPAT HIDAYAH
Isabella memeluk Islam setelah tertarik dengan kebenaran Islam setetlah menghakimi sebuah majlis perdebatan Islam dan Kristian di antara para pelajar Ziad bin Umar iaitu seorang ilmuan Islam tersohor pada waktu itu. Pihak Islam telah menghantar beberapa murid tersohor Ziad bin Umar dan antaranya ialah Umar Lahmi dan Muaz al-Andalusi. Manakala di pihak Kristian pula terdiri daripada paderi-paderi terkenal dan antara mereka ialah guru agama Kristian Isabella iaitu Father Michael dan Father Peter. Perdebatan itu diadakan di sebuah gereja besar di Cordova.
Perdebatan ini berlaku selepas Isabella menghantar surat kapada Umar Lahmi dan rakan-rakannya untuk berdebat dengan paderi-paderi Cordova mengenai kebenaran prinsip-prinsip agama Islam dan Kristian. Isabella mencabar Umar Lahmi dan rakan-rakannya selepas mendengar mereka mempersoalkan kebenaran agama Kristian. Antara perkara dasar yang diperdebatkan ialah konsep Trinity, dosa warisan, dan inti sari agama Kristian yang lain. Namun ternyata kebenaran berpihak kepada Umar Lahmi dan rakan-rakannya, setiap hujah paderi-paderi Cordova dipatahkan oleh para pelajar Islam yang diketuai oleh Umar Lahmi.
Keadaan ini menyebabkan para paderi bertindak dengan lebih agresif dengan mencerca agama Islam sebagai agama keganasan dan lain-lain lagi. Isabella yang menjadi juri hakim bagi majlis perdebatan tersebut memberi keputusan yang berpihak kepada Umar Lahmi dan menyebabkan kemarahan paderi Cordova terhadap dirinya.
Antara peristiwa yang berlaku di dalam majlis perdebatan itu ialah Isabella pengsan sebaik sahaja mendengar bacaan al-Quran oleh Umar Lahmi. Keadaan yang terdesak itu menyebabkan ayah Isabella iaitu ketua paderi Cordova turun berdebat dengan Umar Lahmi tetapi perdebatan itu tidak lagi berlaku di gereja sebaliknya di rumah Isabella dengan dihadiri beberapa orang tertentu.
Bagaimanapun, cahaya Islam tidak pernah padam biarpun cuba dipadamkan oleh orang kafir melalui lisan sepertimana firman Allah dalam al-Quran surah as-Saff ayat 8 :
“Mereka sentiasa berusaha hendak memadamkan cahaya Allah (agama Islam) Dengan mulut mereka, sedang Allah tetap menyempurnakan cahayaNya, sekalipun orang-orang kafir tidak suka (akan yang demikian)”
Biarpun ayah Isabella seorang yang berpengetahuan luas dalam agama Kristian tapi ternyata dia tidak mampu menewaskan kebenaran Islam yang dibawa oleh Umar Lahmi malah bertindak menghalau Umar Lahmi dan pelajar Islam keluar dari rumahnya.
Kecewa dengan sikap paderi yang bercakap besar mampu menumbangkan pihak Islam dan sikap ayahnya yang bertindak menghalau pihak Islam keluar dari rumahnya maka Isabella mangkaji agama Islam dan dari situlah dia secara sembunyi memeluk Islam. Isabella diislamkan oleh Ziad bin Umar. Turut memeluk Islam ialah beberapa orang rakannya yang mengikuti perdebatan tersebut dan antaranya ialah Mirano St Michael iaitu anak kepada paderi Father Michael, guru agama Kristian Isabella. Melalui Ziad bin Umar dan Umar Lahmilah Isabella mempelajari agama Islam dan juga perbandingan antara Islam dan Kristian.
Wahai orang-orang kafir!Ucapkanlah kalian akan masuk neraka jika tidak bertobat.Ucapkanlah Tidak ada Tuhan yg berhak disembah melainkan Allah dan Nabi Muhammad itu adalah utusan Allah pasti kalian berjaya.Ya..berjaya seperti berjayanya Isabella.
December 23, 2010 at 9:22 am
MUHAMMAD NABI CABUL… I JIJAY DAH.islam is terrorist
December 23, 2010 at 7:08 pm
BIBLE KITAB CABUL… I JIJAY DAH. Christian is Anti Christ
February 15, 2011 at 4:45 am
February 15, 2011 at 8:51 am
February 19, 2011 at 9:06 am
February 28, 2011 at 6:09 pm
March 1, 2011 at 12:40 am
Pembunuhan Asma bint Marwan.
Ketika Asma bint Marwan seorang ibu Yahudi dari Bani Khatma yang punya lima anak laki-laki yang masih kecil mendengar hal ini, dia merasa sangat marah, lalu menulis puisi mengutuk orang-orang Medinah yang mengijinkan Muhammad memecah belah mereka dan membiarkan dia membunuh orang tua tak berdaya.
Sekali lagi Muhammad datang kepada orang-orangnya dan mengeluh: “Siapa yang mau mengenyahkan anak perempuan Marwan dari hadapanku?”. Umayr bin Adiy al-Khatmi orang buta yang saat itu ada di situ mendengarnya. Dia masih sesuku dengan Asma, bersumpah akan membunuh perempuan itu. Di malam gelap gulita dia merangkak ke dalam rumah dimana Asma tidur bersama anak-anaknya. Dengan diam-diam dia memisahkan anaknya yang menyusu dan menancapkan pedangnya ke dada perempuan itu sampai menembus punggungnya dan menjepitnya ke dipan.
Pagi berikutnya ketika sembahyang di mesjid, Umayr memberi tahu Muhammad yang telah mengetahui kejadian itu. Muhammad berpaling kepada orang-orang yang berdiri dan berkata: “Lihatlah seorang laki-laki yang telah menolong Allah dan nabiNya. Jangan sebut dia buta tetapi panggillah dia si Umayr’ Basir’ yang melihat”. (J Murdoch, “Arabia and Its Prophet”, Madras, India 1922, p.20 from Guillaume’s translation of Sirat Rasul Allah.)
Setelah dipuji Muhammad karena membunuh Asma bint Marwan, sang pembunuh yaitu Umayr, pergi menemui anak-anak Asma bint Marwan dan berkata: “Aku telah membunuh Asma bint Marwan wahai putra Khatma. Lawan aku jika kau berani; jangan biarkan aku menunggu”.
Setelah pembunuhan-pembunuhan ini, para Muslim Medinah menjadi semakin sombong karena mereka telah membuat orang-orang non-Muslim menjadi ketakutan. Muhammad ingin menyampaikan pesan bahwa bagi semua orang yang berani mengeritiknya, hal ini berarti kematian.
Ini adalah pondasi terorisme dan sekaligus modus operandi yang persis sama yang dipakai para Muslim sampai saat ini dimana ancaman, teror dan pembunuhan-pembunuhan perlu dilaksanakan. Mereka mengikuti model dan contoh yang dilakukan nabi mereka, yang mereka anggap sebagai ahli “strategi terbesar”. Mereka menciptakan ketakutan agar mereka bisa mendirikan supremasi mereka melalui teror. Muhammad sendiri mengakui: “Aku telah dimenangkan karena teror” (Bukhari, 4.52.220).
Bagi teroris-teroris Muslim strategi pembunuhan, memang sangat mujarab karena dampaknya “menimbulkan rasa takut di hati kafir” ini adalah cara pasti untuk menang.
Akan kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu. Tempat kembali mereka ialah neraka; dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang lalim” (Qs 3:151)
Cara ini sangat berhasil di Spanyol ketika para teroris Muslim membunuh dua ratus orang, dengan meledakkan kereta api bawah tanah pada tanggal 11 Maret 2004. Sebagai akibatnya, dalam pemilu masyarakat Spanyol memberikan suara untuk memilih seorang pemimpin sosialis yang dengan segera menerapkan banyak kebijakan yang sangat menguntungkan para Muslim.
Karena keberhasilan yang ditunjukkan Muhammad dan ajaran ideologinya, para teroris Muslim yakin bahwa strategi teror yang tepat akan berhasil dimana pun dan kapan pun. Mereka tidak akan berhenti sampai seluruh dunia ditaklukkan atau mereka ternyata salah karena dunia insaf dan menyatukan kekuatan bersama yang lebih besar untuk melawan mereka. Dunia Islam adalah dunia yang sakit dan penyebab sakitnya adalah Islam itu sendiri. Hampir setiap kejahatan yang dilakukan Muslim, dihalalkan berdasarkan perkataan dan perbuatan Muhammad.
Orang-orang Cina Tangerang banyak yang pindah agama, memeluk Islam karena ketakutan setelah peristiwa pembakaran, perkosaan pada bulan Mei 1998.
March 1, 2011 at 12:42 am
Ini adalah pondasi terorisme dan sekaligus modus operandi yang persis sama yang dipakai para Muslim sampai saat ini dimana ancaman, teror dan pembunuhan-pembunuhan perlu dilaksanakan. Mereka mengikuti model dan contoh yang dilakukan nabi mereka, yang mereka anggap sebagai ahli “strategi terbesar”. Mereka menciptakan ketakutan agar mereka bisa mendirikan supremasi mereka melalui teror. Muhammad sendiri mengakui: “Aku telah dimenangkan karena teror” (Bukhari, 4.52.220).
March 1, 2011 at 12:43 am
Muhammad sendiri mengakui: “Aku telah dimenangkan karena teror” (Bukhari, 4.52.220).
March 23, 2011 at 1:03 pm
Di antara aspek yang menjadi sasaran fitnahan orang-orang yang coba menjatuhkan Islam adalah tentang isu bahawa Islam mengizinkan perhambaan.
perbudakan sekali-kali bukanlah merupakan bagian dari sistem sosial dalam Islam!
Ketika Islam datang, perbudakan telah menjadi permasalah global di seluruh dunia.
Artinya, perbudakan adalah sesuatu yang wajar dilakukan pada masa itu. Memperbudak
tawanan perang telah menjadi aturan umum dari negara-negara yang ada di masa itu
(bahkan budak saat itu tidak cuma bisa didapat dari perang, orang yang diculik pun bisa
serta merta menjadi budak bagi orang yang menculiknya).
Maka Islam yang saat itu sedang menjalani perang dengan negara-negara tersebut tentu tidak bisa menghapuskan sistem tersebut secara sepihak.
Akan sangat tidak menguntungkan apabila kaum muslimin yang tertawan menjadi budak di tangan musuh-musuh Islam sedangkan tawanan perang dari musuh dibebaskan begitu saja.
Karenanya Islam berusaha menutup dan mengeringkan segala sumber perbudakan, kecuali perbudakan tawanan perang,hingga tiba saatnya diletakkannya sistem universal yang melarang perbudakan.
Dari sinilah datangnya tawanan wanita ke dalam kaum muslimin. Sebagai konsekuensi
logis dari perlakuan musuh Islam yang menjadikan tawanan dari kaum muslimin sebagai
budak, maka tawanan wanita inipun menjadi budak dalam Islam
Mengenai pembebasan budak, Islam telah memberikan banyak jalan untuk mendorong
sebanyak mungkin pembebasan budak. Diantaranya menjadikan kaffarat dari beberapa
hukum Islam berupa pemerdekaan budak, seperti dalam QS. An Nisa’:92 (tentang
pembunuhan), QS. AL Ma’idah:89 (tentang melanggar sumpah), QS. Al Mujadilah:3
(tentang zihar) dan masih banyak yang lain. Bahkan beberapa ayat juga memotivasi
pemerdekaan budak bukan sebagai kaffarat, tapi karena semata-mata itu adalah kebaikan,
seperti dalam QS. Al Balad:11-13, atau QS. At Taubah:60 & QS. Al Baqoroh:117. Dalam
ayat yang lain, menjadikan seorang tawanan perang atau budak itu hanyalah pilihan dan
bukan kewajiban untuk menjadikannya budak (QS. Muhammad:4).
Dalam Islam juga diberikan begitu banyak jalan yang mudah bagaimana seorang budak
bisa bebas dari tuannya. Diantaranya, jika seorang budak melahirkan anak bagi tuannya
lalu si tuan meninggal, maka budak wanita itu merdeka. Jika seorang budak meminta
untuk menebus dirinya dengan sejumlah uang tertentu yang ia serahkan berangsurangsur,
maka ia merdeka saat terpenuhinya sejumlah uang tersebut dan tidak boleh
ditunda-tunda (disebut sistem mukatabah). Hal ini dijelaskan dalam QS: An Nur: 22.
Dalam ayat tersebut juga diberikan anjuran bagi si mantan pemilik untuk memberikan
sebagian hartanya bagi budak yang telah merdeka itu sebagai modal hidup barunya. Atau
bahkan jika seorang budak dipukul oleh tuannya di bagian wajah, maka itu sudah cukup
menjadi alasan bagi kemerdekaannya.
Semasa dalam perbudakan pun, kaum muslimin tidak diperbolehkan memperlakukan
mereka seenaknya, justru ada perintah untuk berbuat baik (ihsan) pada mereka yang
disetarakan dengan perbuatan baik kepada ibu, bapak dan kaum kerabat (QS. An
Nisa’:36). Jika ada seseorang ingin menikahi budak orang lain, maka ia pun berkewajiban
membayar mahar, statusnya sama seperti pernikahan dengan wanita merdeka,
sebagaimana tertulis dalam QS. An Nisa’:25. Ayat ini menyebut ’pemilik’ budak tersebut
sebagai ’keluarga’ untuk menghilangkan perasaan rendah diri dari budak yang akan
dinikahi tersebut. Demikianlah Islam, dalam masalah perbudakan pun telah mengangkat
derajad budak, yang dulunya disetarakan dengan barang tak bernyawa menjadi lebih
manusiawi.
*……………Kesimpulannya ;
Islam telah menutup jalan untuk melakukan perbudakan dari sebab-sebab
selain perang dan membuka jalan seluas-luasnya untuk memerdekakan budak. Sedangkan dalam perang, perbudakan adalah suatu tindakan darurat sebagai balasan terhadap perlakuan yang sama dari musuh Islam di saat seluruh dunia menganut sistem itu. Sekali lagi, perbudakan sekali-kali bukanlah merupakan bagian dari sistem sosial dalam Islam!
Wahai orang-orang kafir!Kalian semua akan ke neraka yang sangat panas dan kekal abadi di dalamnya jika mati tanpa sempat bertobat.Ucapkanlah Tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah dan Nabi Muhammad itu adalah utusan Allah agar beroleh kejayaan.
March 23, 2011 at 1:38 pm
AISHA – PENGANTIN CILIK MUHAMMAD
Memikirkan syahwat dari seorang lelaki tua terhadap kanak-kanak adalah hal yang sangat mengganggu. Istilah satu-satunya untuk hal ini adalah pedofilia – salah satu kejahatan paling kotor yang bisa dibayangkan.
Semua manusia dan hewan pada dasarnya melindungi anak-anak. Tangisan minta tolong dari anak-anak – setiap anak, termasuk dari spesies yang berbeda – akan membuat hati binatang melunak.
Para pedofil termasuk orang-orang yang paling rusak, sebab mereka menafikan kepercayaan anak-anak.
Sangat sulit melihat kenyataan bahwa Nabi Islam, seorang yang praktis disembah dan dijadikan teladan oleh semiliar jiwa-jiwa dalam kegelapan, ternyata adalah seorang pedofil yang menjijikkan.
Muhammad mengawini Aisha tatkala ia baru berumur 6 tahun, dan menyetubuhinya (baca “memperkosanya”) disaat ia berumur 9. Dan dia sendiri 54 tahun.
Kenyataan adalah terang benderang, sebab hal ini dilaporkan oleh Aisha sendiri dalam lusinan Hadis, dan tidak ada Muslim yang mempertanyakan hal tersebut sampai akhir-akhir ini dimana orang baru mulai mengernyitkan bulu matanya.
Harap dicatat bahwa sikap orang-orang Muslim selama ini tidak ada yang merasa malu terhadap kenyataan bahwa nabi mereka adalah seorang pedofil. Soalnya, mereka sendiri juga telah mempraktekkan tindakan yang tercela ini selama rentang waktu seribuan tahun lebih, dan bahkan juga sedang mempraktekkannya sampai sekarang! Mereka hanya rikuh ketika dunia mempertanyakan hal ini kepada mereka. Namun bukti-bukti telah melimpah ruah.
Sahih Muslim, buku 008, no.3310:
Aisha (ra) melaporkan: Rasul Allah (saw) mengawini saya ketika saya berumur 6 tahun, dan saya masuk ke rumahnya saat saya berumur 9 tahun.
Baca selanjutnya di:
http://indonesian.alisina.org/?p=201
March 23, 2011 at 1:53 pm
Hmmm….
March 23, 2011 at 5:41 pm
Al Ghazali, sang Hujjatul Islam
Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali ath-Thusi asy-Syafii atau lebih dikenal dengan nama Imam Al-Ghazali adalah salah seorang tokoh Muslim terkemuka sepanjang zaman. Ia dikenal sebagai seorang ulama, filsuf, dokter, psikolog, ahli hukum, dan sufi yang sangat berpengaruh di dunia Islam.
Selain itu, berbagai pemikiran Algazel–demikian dunia Barat menjulukinya–juga banyak mempengaruhi para pemikir dan filsuf Barat pada abad pertengahan.
Pemikiran-pemikiran Al-Ghazali sungguh fenomenal. ”Tak diragukan lagi bahwa buah pikir Al-Ghazali begitu menarik perhatian para sarjana di Eropa,” tutur Margaret Smith dalam bukunya yang berjudul Al-Ghazali: The Mystic yang diterbitkan di London, Inggris, tahun 1944.
Salah seorang pemikir Kristen terkemuka yang sangat terpengaruh dengan buah pemikiran Al-Ghazali, kata Smith, adalah ST Thomas Aquinas (1225 M-1274 M). Aquinas merupakan filsuf yang kerap dibangga-banggakan peradaban Barat. Ia telah mengakui kehebatan Al-Ghazali dan merasa telah berutang budi kepada tokoh Muslim legendaris itu. Pemikiran-pemikiran Al-Ghazali sangat mempengaruhi cara berpikir Aquinas yang menimba ilmu di Universitas Naples. Saat itu, kebudayaan dan literatur-literatur Islam begitu mendominasi dunia pendidikan Barat.
Perbedaan terbesar pemikiran Al-Ghazali dengan karya-karya Aquinas dalam teologi Kristen, terletak pada metode dan keyakinan. Secara tegas, Al-Ghazali menolak segala bentuk pemikiran filsuf metafisik non-Islam, seperti Aristoteles yang tidak dilandasi dengan keyakinan akan Tuhan. Sedangkan, Aquinas mengakomodasi buah pikir filsuf Yunani, Latin, dan Islam dalam karya-karya filsafatnya.
Al-Ghazali dikenal sebagai seorang filsuf Muslim yang secara tegas menolak segala bentuk pemikiran filsafat metafisik yang berbau Yunani. Dalam bukunya berjudul The Incoherence of Philosophers, Al-Ghazali mencoba meluruskan filsafat Islam dari pengaruh Yunani menjadi filsafat Islam, yang didasarkan pada sebab-akibat yang ditentukan Tuhan atau perantaraan malaikat. Upaya membersihkan filasat Islam dari pengaruh para pemikir Yunani yang dilakukan Al-Ghazali itu dikenal sebagai teori occasionalism.
Sosok Al-Ghazali sangat sulit untuk dipisahkan dari filsafat. Baginya, filsafat yang dilontarkan pendahulunya, Al-Farabi dan Ibnu Sina, bukanlah sebuah objek kritik yang mudah, melainkan komponen penting buat pembelajaran dirinya.
Filsafat dipelajar Al-Ghazali secara serius saat dia tinggal di Baghdad. Sederet buku filsafat pun telah ditulisnya. Salah satu buku filsafat yang disusunnya, antara lain, Maqasid al-Falasifa (The Intentions of the Philosophers). Lalu, ia juga menulis buku filsafat yang sangat termasyhur, yakni Tahafut al-Falasifa (The Incoherence of the Philosophers).
Al-Ghazali merupakan tokoh yang memainkan peranan penting dalam memadukan sufisme dengan syariah. Konsep-konsep sufisme begitu baik dikawinkan sang pemikir legendaris ini dengan hukum-hukum syariah. Ia juga tercatat sebagai sufi pertama yang menyajikan deskripsi sufisme formal dalam karya-karyanya. Al-Ghazali juga dikenal sebagai ulama Suni yang kerap mengkritik aliran lainnya. Ia tertarik dengan sufisme sejak berusia masih belia.
Kehidupan Al-Ghazali
Dilahirkan di Kota Thus, Provinsi Khurasan, Persia (Iran), pada tahun 450 Hijriyah atau bertepatan dengan tahun 1058 Masehi. Al-Ghazali berasal dari keluarga ahli tenun (pemintal). Ayahnya adalah seorang pengrajin sekaligus penjual kain shuf (yang terbuat dari kulit domba) di Kota Thus.
Namun, sang ayah menginginkan Al-Ghazali kelak menjadi orang alim dan saleh. Karena itu, menjelang wafat, ayahnya mewasiatkan pemeliharaan kedua anaknya kepada temannya dari kalangan orang yang baik. Dia berpesan, ”Sungguh, saya menyesal tidak belajar khath (tulis menulis Arab) dan saya ingin memperbaiki apa yang telah saya alami pada kedua anak saya ini. Maka, saya mohon engkau mengajarinya, dan harta yang saya tinggalkan boleh dihabiskan untuk keduanya,” ungkapnya pada pengasuh Al-Ghazali dan saudaranya.
Imam Al-Ghazali memulai belajar di kala masih kecil dengan mempelajari Bahasa Arab dan Parsi hingga fasih. Karena minatnya yang mendalam terhadap ilmu, Al-Ghazali mulai mempelajari ilmu ushuluddin, ilmu mantiq, usul fikih, dan filsafat. Selepas itu, ia berguru kepada Syekh Ahmad bin Muhammad Ar-Radzakani di Kota Thus untuk mempelajari ilmu fikih. Kemudian, ia berangkat ke Jurjan untuk menuntut ilmu dengan Imam Abu Nashr Al-Isma’ili.
Selepas menuntut ilmu di Jurjan, Al-Ghazali pergi mengunjungi Kota Naisabur untuk berguru kepada Imam Haramain Al Juwaini. Selama di Naisabur, ia berhasil menguasai dengan sangat baik fikih mazhab Syafii, ilmu perdebatan, ushuluddin, mantiq, hikmah, dan filsafat. Selain itu, ia berhasil menyusun sebuah tulisan yang membuat kagum gurunya, Al-Juwaini.
Setelah sang guru wafat, Imam Al-Ghazali pergi meninggalkan Naisabur menuju ke majelis Wazir Nidzamul Malik. Majelis tersebut merupakan tempat berkumpulnya para ahli ilmu. Di sana, Al-Ghazali menantang debat para ulama dan berhasil mengalahkan mereka.
Lalu, karena ketinggian ilmu yang dimiliki Imam Al-Ghazali, Nidzamul Malik mengangkatnya menjadi guru besar di Madrasah Nizhamiyah (sebuah perguruan tinggi yang didirikan oleh Nidzamul Malik) di Baghdad pada tahun 484 H. Saat itu, usia Al-Ghazali baru menginjak 30 tahun. Di sinilah, keilmuan Al-Ghazali makin berkembang dan menjadi terkenal serta mencapai kedudukan yang sangat tinggi.
Sebagai pimpinan komunitas intelektual Islam, Al-Ghazali begitu sibuk mengajarkan ilmu hukum Islam di madrasah yang dipimpinnya. Empat tahun memimpin Madrasah Nizamiyyah, Al-Ghazali merasa ada sesuatu yang kurang dalam dirinya. Batinnya dilanda kegalauan. Ia merasa telah jatuh dalam krisis spiritual yang begitu serius. Al-Ghazali pun memutuskan untuk meninggalkan Baghdad.
Kariernya yang begitu cemerlang ditinggalkannya. Setelah menetap di Suriah dan Palestina selama dua tahun, ia sempat menunaikan ibadah Haji ke Tanah Suci, Makkah. Setelah itu, Al-Ghazali kembali ke tanah kelahirannya. Sang ulama pun memutuskan untuk menulis karya-karya serta mempraktikkan sufi dan mengajarkannya.
Apa yang membuat Al-Ghazali meninggalkan kariernya yang cemerlang dan memilih jalur sufisme? Dalam autobiografinya, Al-Ghazali menyadari bahwa tak ada jalan menuju ilmu pengetahuan yang pasti atau pembuka kebenaran wahyu kecuali melalui sufisme. Itu menandakan bahwa bentuk keyakinan Islam tradisional mengalami kondisi kritis pada saat itu.
Keputusan Al-Ghazali untuk meninggalkan kariernya yang cemerlang itu, sekaligus merupakan bentuk protesnya terhadap filsafat Islam. Al-Ghazali wafat di usianya yang ke-70 pada tahun 1128 M di kota kelahirannya, Thus. Meski begitu, pemikiran Al-Ghazali tetap hidup sepanjang zaman.
Karya-karya Sang Sufi
Selama masa hidupnya (70 tahun), Imam Al-Ghazali banyak menulis berbagai karya dalam sejumlah bidang yang dikuasainya. Mulai dari fikih, tasawuf (sufisme), filsafat, akidah, dan lainnya.
Dalam kitab Mauqif Ibn Taimiyyah min al-Asya’irah dan Thabawat Asy-Syafi’iyyah karya Abdurrahman bin Shaleh Ali Mahmud, Imam Al-Ghazali dikenal sebagai penulis produktif. Sejumlah karyanya kini tersebar ke seluruh penjuru dunia.
Bidang Ushuluddin dan Akidah
1. Arba’in Fi Ushuliddin merupakan juz kedua dari kitabnya, Jawahir Alquran.
2. Qawa’id al-’Aqa`id yang disatukan dengan Ihya` Ulumuddin pada jilid pertama.
3. Al Iqtishad Fil I’tiqad.
4. Tahafut Al Falasifah berisi bantahan Al-Ghazali terhadap pendapat dan pemikiran para filsuf, dengan menggunakan kaidah mazhab Asy’ariyah.
5. Faishal At-Tafriqah Bayn al-Islam Wa Zanadiqah.
Bidang Usul Fikih, Fikih, Filsafat, dan Tasawuf
1. Al-Mustashfa Min Ilmi al-Ushul
2. Mahakun Nadzar
3. Mi’yar al’Ilmi
4. Ma’arif al-`Aqliyah
5. Misykat al-Anwar
6. Al-Maqshad Al-Asna Fi Syarhi Asma Allah Al-Husna
7. Mizan al-Amal
8. Al-Madhmun Bihi Ala Ghairi Ahlihi
9. Al-Ajwibah Al-Ghazaliyah Fi al-Masa1il Ukhrawiyah
10. Ma’arij al-Qudsi fi Madariji Ma’rifati An-Nafsi
11. Qanun At-Ta’wil
12. Fadhaih Al-Bathiniyah
13. Al-Qisthas Al-Mustaqim
14. Iljam al-Awam ‘An ‘Ilmi al-Kalam
15. Raudhah ath-Thalibin Wa Umdah al-Salikin
16. Ar-Risalah Al-Laduniyah
17. Ihya` Ulum al-din
18. Al-Munqidzu Min adl-Dlalal
19.Al-Wasith
20. Al-Basith
21. Al-Wajiz
22. Al-Khulashah
23. Minhaj al-’Abidin
Masih banyak lagi karya Imam Al-Ghazali. Begitu banyak karya yang dihasilkan, menunjukkan keluasan ilmu yang dimiliki oleh Al-Ghazali. Ia merupakan pakar dan ahli dalam bidang fikih, namun menguasai juga tasawuf, filsafat, dan ilmu kalam. Sejumlah pihak memberikan gelar padanya sebagai seorang Hujjah al-Islam.
Ihya ‘Ulum al-Din; Magnum Opus Al-Ghazali
Salah satu karya Imam Al-Ghazali yang sangat terkenal di dunia adalah kitab Ihya` Ulum al-din. Kitab ini merupakan magnum opus atau masterpiece Al-Ghazali. Bahkan, kitab ini telah menjadi rujukan umat Islam di seluruh dunia, termasuk Indonesia dalam mempelajari ilmu tasawuf. Di dalamnya, dijelaskan tentang jalan seorang hamba untuk menuju ke hadirat Allah.
Saking luas dan dalamnya pembahasan ilmu tasawuf (jalan sufi) dalam karyanya ini, sejumlah ulama pun banyak memberikan syarah (komentar), baik pujian maupun komentar negatif atas kitab ini.
Syekh Abdullah al-Idrus
”Pasal demi pasal, huruf demi huruf, aku terus membaca dan merenunginya. Setiap hari kutemukan ilmu dan rahasia, serta pemahaman yang agung dan berbeda dengan yang kutemukan sebelumnya. Kitab ini adalah lokus pandangan Allah dan lokus rida-Nya. Orang yang mengkaji dan mengamalkannya, pasti mendapatkan mahabbah (kecintaan) Allah, rasul-Nya, malaikat-Nya, dan wali-wali-Nya.”
Imam an-Nawawi
”Jika semua kitab Islam hilang, dan yang tersisa hanya kitab al-Ihya`, ia dapat mencukupi semua kitab yang hilang tersebut.”
Imam ar-Razi
”Seolah-olah Allah SWT menghimpun semua ilmu dalam suatu rapalan, lalu Dia membisikkannya kepada Al-Ghazali, dan beliau menuliskannya dalam kitab ini.”
Wahai orang-orang kafir!Kalian akan masuk neraka yang sangat panas jika mati tidak sempat bertobat.Ucapkanlah tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah dan Nabi Muhammad itu adalah utusan Allah agar kalian mendapat kejayaan.
April 15, 2011 at 8:16 pm
bom lagiiii……bom lagiiiii….sekarang di cirebon…….capeee deeeeeh……siapakah pelakunya????????
April 25, 2011 at 3:59 pm
“Kalau sekiranya Kami turunkan malaikat kepada mereka, dan orangorang yang telah mati berbicara dengan mereka dan Kami kumpulkan (pula) segala sesuatu ke hadapan mereka, niscaya mereka tidak (juga) akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki,tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui (QS AL AN’AM : 111).
August 5, 2011 at 6:52 am
Paul Pendiri Agama Kristen
Menurut Hart, penghargaan terhadap pendiri Kristen harus dibagi antara Yesus dan St. Paul. Hart percaya bahwa sebenarnya Paul-lah yang mendirikan Kristen. Saya tidak bisa berargumentasi dengan Hart. Dari total 27 Kitab Perjanjian Baru, lebih setengahnya ditulis oleh Paul. Jika kamu memperhatikan apa yang disebut A red letter Bible (huruf bertinta merah dalam Bibel) kamu akan menemukan bahwa setiap kata-kata yang berasal dari ucapan Yesus ditulis dengan tinta merah sedang yang bukan dengan tinta hitam biasa. Jangan heran kalau kamu menemukan bahwa dalam “Injil” yang merupakan Kitab Suci Yesus, sembilan puluh persen lebih dari 27 Kitab Perjanjian Baru ditulis dengan tinta hitam. Ini merupakan pengakuan terus terang dalam Injil. Bahkan Misionaris Kristen mengakui bahwa sebenarnya 100% berasal dari Paul.
Tak Seorang pun Mengikuti Yesus
“Yesus berkata, ‘Jika kamu mengasihi aku, kamu akan menuruti segala perintahku’?” (John 14: 15). Dia berkata lebih lanjut: Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkan-nya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam kerajaan surga. (Matthew 5: 19).
Setiap orang Kristen yang kamu tanyai “Apakah kamu mengikuti hukum dan Firmannya?” Mereka akan menjawab, “Tidak!” Jika kamu tanyakan lagi, “Mengapa tidak?” Bila ia adalah orang yang tidak taat pada Bibel maka ia akan menjawab, “Hukum tersebut sudah kuno dan dibuang. Kita hidup dalam zaman modern sekarang”.
Setiap kali kamu ingatkan dia dengan apa yang dikatakan Tuhan Yesus-nya, dia akan mendebatmu dengan kata-kata dari Corinthian, Galathian, Ephisian, Philippian dan lain-lain. Jika kamu tanyakan, “Siapa mereka?” Mereka menjawab, “Paul, Paul, Paul”.
Kamu bertanya lagi, “Siapa Tuhanmu?” Dia akan menjawab, “Yesus”. Tapi dia akan segera membantah bahwa Yesus adalah sama dengan Paul.
Tak seorang pun umat Kristen yang memperdebatkan kenyataan bahwa pendiri sebenarnya dari agama Kristen adalah St. Paul
October 12, 2011 at 9:03 am
ITULAH UMAT KRISTEN KHATOL BINGUNG.PANDAINYA PENDETA BERSILAT LIDAH KARENA UANG.YANG PAHAM DAN IKHLAS PENDETA2 PADA KEMBALI KE ISLAM SEPERTI DR YAHYA WALONI.
KRISTEN AGAMA BUATAN NYEMBAH YUDAS SI PENGKHIANAT, ANAK MANUSIA YANG ASLI AKAN MENYABIT ANDA SERTA KETURUNAN ANDA KALAU TIDAK KEMBALI KE ISLAM.
BACA BAIK2 AL KITAB ANDA JANGAN DENGAR PENDETA YANG DICEKOKI GEREJA.
cerita FITNAH IRI DAN dengki dari yahudi PENYEBAR FITNAH YANG MEMBODOHI KRISTEN KHATOL SERTA SELURUH MANUUSIA.
DI INJIL ALLAH TELAH MEMBERI ISYARAT JELAS TENTANG ANGGUR ASAM YANG TIDAK BERMANFAAT .
kemudian ALLAH BERI PADA BANGSA ARAB (AGAMA ISLAM).
YESAYA 5:
(4) Apatah lagi yang harus diperbuat untuk kebun anggur-Ku itu, yang belum Kuperbuat kepadanya? Aku menanti supaya dihasilkannya buah anggur yang baik, mengapa yang dihasilkannya hanya buah anggur yang asam?
(7) Sebab kebun anggur TUHAN semesta alam ialah kaum Israel, dan orang Yehuda ialah tanam-tanaman kegemaran-Nya; dinanti-Nya keadilan, tetapi hanya ada kelaliman, dinanti-Nya kebenaran tetapi hanya ada keonaran.
MATIUS 20:
(14) Ambillah bagianmu dan pergilah; aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu.
(15) Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?
TS(16) Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir.”
BS(16) Lalu Yesus berkata lagi, “Begitu juga orang-orang yang terakhir akan menjadi yang pertama, dan orang-orang yang pertama akan menjadi yang terakhir.”
DASAR YAHUDI NGGA TAU DIRI.
LEBIH PARAH DITANGAN RUMAWI DAN GEREJANYA PENDETA KRISTEN KHATOL NGGA TAHU DIRI MENGAJAK MANUSIA MENGIKUTI AGAMA BUATAN YAHUDI.
AYAT DI BAWAH INI JELAS ALLAH BERI PADA BANGSA ARAB
YESAYA 42
(10) Nyanyikanlah nyanyian baru (QURAN)bagi TUHAN dan pujilah Dia dari ujung bumi! Baiklah laut bergemuruh serta segala isinya dan pulau-pulau dengan segala penduduknya
(11) Baiklah padang gurun (PARAN/ARABIA TEMPAT KETURUNAN NABI ISMAIL ANAK NABI IBRAHIM))menyaringkan suara dengan kota-kotanya dan dengan desa-desa yang didiami Kedar! Baiklah bersorak-sorai penduduk Bukit Batu, baiklah mereka berseru-seru dari puncak gunung-gunung!
(16) Aku mau memimpin orang-orang buta di jalan yang tidak mereka kenal, dan mau membawa mereka berjalan di jalan-jalan yang tidak mereka kenal. Aku mau membuat kegelapan yang di depan mereka menjadi terang dan tanah yang berkeluk-keluk menjadi tanah yang rata. Itulah hal-hal yang hendak Kulakukan kepada mereka, yang pasti akan Kulaksanakan.
(8) Aku ini TUHAN, itulah nama-Ku; Aku tidak akan memberikan kemuliaan-Ku kepada yang lain atau kemasyhuran-Ku kepada patung
MENGAPA ANDA MEMULIAKAN PATUNG JESUS?DARIMANA ANDA DAPAT AJARAN ITU???WAHAI KRISTEN KHATOL?
bani israil kebun anggur ALLAH.AGAMA YANG DAHULU ALLAH BERIKAN KHUSUS PADA BANI ISRAIL KEMUDIAN ALLAH BERIKAN PADA BANGSA ARAS(SAUDARA BANI ISRAIL) karena mereka sama2 keturunan nabi Ibrahim(Abraham).
KEMBALILAH KE ISLAM ANDA AKAN SELAMAT
October 17, 2011 at 4:26 pm
Kisah nyata
Sepenggal kesaksian seorang TKI
FPI GENDENG,GOBLOK TUR JAHAT
(PREMAN YANG MENGATASNAMAKAN AGAMA DALAM MENJALANKAN AKSI-AKSINYA YANG BENGIS, SADIS DAN BRUTAL)
Kompasiana.com – Apakah pekerjaan sebenarnya dari kebanyakan anggota FPI, ada yang tahu? Seandainya betul dugaan ane, emangnya dugaan ente apa? Dugaan ane mungkin saja karena mereka belom punya kerjaan alias pengacara (pengangguran banyak acara), makanya mereka cari kesibukan dengan bergabung jadi FPI..orang yang punya kerjaan apalagi yang kerjaanya banyak/sibuk mana mungkinlah gabung sama FPI… itu hanya sekedar dugaan, bisa bener bisa salah (99% responden mengatakan benar).
Kita berandai-andai saja kalo dugaan itu bener..hehehe supaya gampang? Nah, daripade Antum sekalian ngerazia rumah makan, warung dan fasilitas umum lainnya bahkan sampai ngobrak-ngabrik dan merusak rejeki orang, mending Antum sekalian jadi TKI aja deh..kaya ane dan ane doakan Antum sekalian keterima di Dubai, Arab Saudi..
Di sini rumah makan tetep aja buka selama ramadan tapi emang enggak vulgar banget sich, ya cuma ditutupi sedikit, tapi orang-orang masih tahu kalo itu rumah makan buka. Apakah ada Razia dari aparat atau dari gerombolan Preman seperti Antum-antum? Kagak ada la yauw,hehehe… padahal ini negeri Arab-loh, di mana Antum sekalian suka sekali sama pakaiannya..bukankah Antum doyan pake sorban? Orang Arab kemana-mana pake sorban hatta nonton bola juga pake sorban..beda kan sama Antum yang pake sorbannya ketika mau ngadain razia, mengobrak abrik, merusak dan membuat kerusuhan …
Ok, deh, ane ngerti niat Antum bagus..mencegah kemungkaran..menurut ilmu dakwah…menyeru kepada kebaikan itu lebih gampang dibandingkan mencegah kemungkaran..kalo nyuruh orang berbuat baik paling-paling kita cuma berhadapan dengan orang-orang yang kepalanya manggut-manggut, enggak tahu karena ngerti atau karena sebel huahahaha. Tapi coba kalo mencegah kemungkaran? Kita berhadapan dengan orang-orang yang bisa mencelakan kita..misalnya kita mencegah sebuah aksi perampokan(coba klo brani)…
FPI dan Pentungan
Karenanya Antum bawa pentungan karena Antum merasa dalam berdakwah Antum akan menghadapi orang-orang yang Antum anggap temannya SAITON minimal teman jauhlah SAITON..pertanyaanya, benarkah para ibu-ibu yang berdagang makanan itu CS nya SAITON? Bukankah mereka melakukan itu untuk menafkahi keluarga dan anak-anak mereka. Klo gak berjualan emang keluarga dan anak-anaknya mau makan ape Tum? Apa Antum yang ngasih makan? Jika Antum kasih duit segepok lalu Antum suruh ibu-ibu itu untuk menutup dagangannya ane HAQUL YAKIN mereka akan membubarkan diri dengan senang hati.
Antum selama ini bukan jadi solusi dari permasalahan bangsa, justru Antum menjadi benalu (penyakit masyarakat dan sampah masyarakat) yang memperumit dan menambah pusing aparatur negara …gimana aparat enggak pusing? Mau tegas Antum melawan (sok jadi jagoan)…dibiarin Antum sekalian tambah beringas (sok jadi pahlawan kesiangan)…Jika Antum mengatakan Antum bergerak karena aparat cuek-cuek aja…emang Antum itu siapa? Bukankah Antum itu enggak jauh beda statusnya dengan kami ini yang warga biasa? Kalo Antum merasa punya hak untuk ngobrak-ngabrik dagangan ibu-ibu, ketahuilah Antum semua sudah ‘Gila Segila Gilanya’ dan ‘Ter..La..Lu..’sampai ane gak habis pikir perbuatan Antum-Antum sekalian itu sungguh ‘Teganya..Teganya..Teganya..’(kate bang haji Roma Irama)….Negara ini punya aturan dan hukum Tum…dan bukan pake aturan Embahnya Antum…
Ok, lah jika Antum melakukan ini semua karena Tuhan..tapi apakah Tuhan akan menerima amalan orang-orang yang bikin susah rakyat kecil? Udah Tum jangan munafik dan jangan sok jadi pahlawan, hidup Antum sendiri belum tentu benar di mata Aolloh SWT, daripada Antum sibuk ngurusin orang lain mending Antum urus diri Antum sendiri dan cari kerjaan yang lebih jelas…misalnya jadi TKI kayak ane, he..he..he..he..he..Gini-gini ane bisa ngidupin kelurga ane. Mereka bisa hidup layak sebagaimana orang kebanyakan,tiap bulan ane ngirim uang ke rumah yang jumlahnya melebihi kebanyakan gaji pegawai negeri..apakah ane sekolah tinggi hingga gaji ane gede?
Kagak Tum, ane cuma tamatan SMK, kuliah juga enggak…mungkin ada di antara Antum yang sarjana, misalnya SE(Sarjana Edan), ST(Sarjana Teler), SH(Sarjana Haram), dll ..mengapa pula sarjana bawa pentungan? (dasar Sarjana Goblok)
Ala kulli hal, semoga Antum selalu sehat, cepat sembuh dan dapet kerjaan yang benar …jadi Antum enggak perlu lagi bikin susah banyak orang…oh ya terakhir, kalo mau jadi TKI datangi aja depnaker tapi satu pesen ane…jangan bawa pentunganloh, bisa-bisa Antum kagak dapet kerja tapi malah masuk bui…hua..ha..ha..ha..ha..hu..hu..hu..hu..hu..hi..hi..hi..hi..hi..ho..ho..ho..ho..ho..he..he..he..he..he..he..
Assalamualaikum..wallaikumsallam..bismillah..astafirrulloh allazim..aollohhuakbar..!
Merdeka atoe Matioooooooooo
mari kita lihat bersma kekejaman dan kbrutalan FPI, klik:
http://theync.com/media.php?name=1381-never-before-seen-video-shows-a-young-boy-behead-an-allegded-spy.-uncensored
http://islaminlightofhistory.wordpress.com/2011/03/13/bagian-vi-bab-2-tawaran-nan-keji/
January 25, 2012 at 2:35 pm
Komentarmu dimana-mana hanya tertawa aja, kau ke psikiater dulu ya !
November 14, 2011 at 1:05 pm
Ilham, kau itu benar-2 idiot, bebal.
January 25, 2012 at 2:38 pm
Ndak terbalik ? Orang pandai kau bilang Idiot , Orang idiot kau bilang pandai ! Orang kan jadi tau sampe dimana level engkau !
December 6, 2011 at 1:58 am
I am extremely inspired together with your writing talents and also with the structure to your weblog. Is that this a paid subject matter or did you customize it your self? Either way stay up the nice high quality writing, it’s uncommon to see a nice weblog like this one today..
December 6, 2011 at 9:52 am
Wow, wonderful blog format! How lengthy have you ever been blogging for? you made running a blog look easy. The total glance of your web site is fantastic, let alone the content material!
December 8, 2011 at 8:53 am
Hello there, just become alert to your blog through Google, and located that it’s really informative. I’m going to watch out for brussels. I’ll appreciate if you proceed this in future. A lot of people shall be benefited out of your writing. Cheers!
I care for such information much. I was seeking this particular info for a long time. Thank you and best of luck.
It’s appropriate time to make a few plans for the longer term and it’s time to be happy. I’ve read this submit and if I may just I wish to suggest you some fascinating things or suggestions. Maybe you could write next articles regarding this article. I want to learn even more things approximately it!
Great post. I was checking continuously this blog and I’m impressed! Extremely helpful information specifically the remaining part
hello there and thank you to your information ? I’ve certainly picked up anything new from right here. I did alternatively experience several technical points the use of this site, as I skilled to reload the web site a lot of occasions previous to I could get it to load correctly. I were considering in case your web hosting is OK? Not that I’m complaining, but slow loading instances times will often impact your placement in google and can damage your high-quality score if ads and marketing with Adwords. Well I’m including this RSS to my email and could glance out for much more of your respective intriguing content. Make sure you update this once more soon..
Magnificent items from you, man. I’ve consider your stuff prior to and you’re simply extremely magnificent. I really like what you have received here, certainly like what you’re stating and the way wherein you assert it. You’re making it enjoyable and you continue to care for to stay it wise. I can not wait to read much more from you. This is actually a wonderful website.
Very great post. I just stumbled upon your weblog and wished to mention that I’ve truly enjoyed browsing your blog posts. After all I’ll be subscribing on your rss feed and I hope you write once more soon!
I like the valuable information you provide in your articles. I’ll bookmark your weblog and take a look at again right here regularly. I am fairly certain I’ll be informed a lot of new stuff proper here! Good luck for the next!
I believe this is among the such a lot significant info for me. And i am satisfied studying your article. But should observation on some general things, The website style is wonderful, the articles is really nice : D. Excellent job, cheers
We’re a bunch of volunteers and opening a brand new scheme in our community. Your website provided us with valuable info to work on. You have done an impressive task and our whole group shall be grateful to you.
Unquestionably believe that which you said. Your favorite justification appeared to be on the internet the easiest thing to have in mind of. I say to you, I certainly get annoyed even as people consider concerns that they just don’t recognise about. You managed to hit the nail upon the highest and defined out the entire thing with no need side-effects , other folks could take a signal. Will likely be again to get more. Thanks
This is very interesting, You are an overly skilled blogger. I’ve joined your feed and sit up for in quest of extra of your wonderful post. Additionally, I’ve shared your site in my social networks
Hey There. I found your blog the usage of msn. That is an extremely well written article. I will be sure to bookmark it and return to learn extra of your helpful info. Thank you for the post. I’ll certainly return.
I liked as much as you will obtain carried out right here. The comic strip is tasteful, your authored material stylish. however, you command get bought an impatience over that you wish be delivering the following. in poor health surely come further formerly once more as precisely the same just about a lot ceaselessly inside of case you defend this increase.
Hello, i think that i noticed you visited my web site so i got here to go back the desire?.I’m attempting to in finding things to enhance my site!I suppose its ok to use a few of your ideas!!
Simply wish to say your article is as surprising. The clarity for your submit is just cool and i can think you are knowledgeable on this subject. Well together with your permission let me to clutch your feed to keep up to date with drawing close post. Thank you one million and please continue the rewarding work.
Its such as you read my thoughts! You seem to grasp a lot about this, like you wrote the book in it or something. I feel that you just could do with some p.c. to force the message home a little bit, but instead of that, this is magnificent blog. A great read. I’ll certainly be back.
Thank you for the auspicious writeup. It actually used to be a entertainment account it. Glance complicated to far brought agreeable from you! However, how could we be in contact?
Hi there, You have performed an excellent job. I’ll certainly digg it and individually recommend to my friends. I’m sure they will be benefited from this site.
Fantastic beat ! I wish to apprentice whilst you amend your site, how can i subscribe for a blog website? The account aided me a applicable deal. I had been a little bit acquainted of this your broadcast provided brilliant clear concept
I am really inspired along with your writing skills as smartly as with the format in your blog. Is that this a paid subject or did you modify it yourself? Either way stay up the nice quality writing, it is uncommon to look a nice weblog like this one today..
Attractive component to content. I simply stumbled upon your blog and in accession capital to say that I acquire actually enjoyed account your weblog posts. Any way I’ll be subscribing in your feeds or even I achievement you access persistently quickly.
My brother recommended I may like this website. He was entirely right. This publish truly made my day. You can not imagine just how a lot time I had spent for this information! Thank you!
I don’t even know how I ended up right here, however I believed this put up was once good. I don’t recognise who you might be however certainly you’re going to a famous blogger in case you aren’t already. Cheers!
Heya i’m for the primary time here. I found this board and I in finding It truly useful & it helped me out a lot. I’m hoping to provide one thing again and aid others such as you helped me.
I used to be recommended this blog by means of my cousin. I am not positive whether this publish is written by him as nobody else understand such designated about my problem. You’re incredible! Thank you!
Nice blog here! Additionally your site loads up very fast! What web host are you using? Can I am getting your associate link to your host? I want my site loaded up as fast as yours lol
Wow, wonderful blog structure! How lengthy have you been blogging for? you make blogging look easy. The overall look of your web site is wonderful, as well as the content material!
I am no longer positive where you are getting your information, but good topic. I must spend some time finding out more or figuring out more. Thank you for great information I used to be in search of this info for my mission.
You really make it appear really easy with your presentation but I in finding this matter to be actually something which I think I would never understand. It sort of feels too complicated and extremely broad for me. I’m taking a look forward on your next publish, I will try to get the grasp of it!
I have been surfing online greater than three hours today, but I by no means discovered any interesting article like yours. It is pretty value enough for me. In my opinion, if all web owners and bloggers made good content material as you probably did, the net will probably be a lot more useful than ever before.
I do trust all of the concepts you have presented on your post. They’re very convincing and can certainly work. Nonetheless, the posts are too short for beginners. May you please extend them a little from next time? Thanks for the post.
You could definitely see your skills within the paintings you write. The sector hopes for even more passionate writers like you who are not afraid to say how they believe. All the time follow your heart.
I’ll right away seize your rss feed as I can’t to find your email subscription link or newsletter service. Do you’ve any? Kindly let me understand so that I may just subscribe. Thanks.
Someone necessarily assist to make significantly posts I’d state. That is the very first time I frequented your web page and up to now? I amazed with the research you made to create this actual put up incredible. Fantastic process!
Great web site. Plenty of helpful info here. I am sending it to a few pals ans also sharing in delicious. And of course, thank you in your sweat!
hi!,I love your writing very much! share we be in contact more about your article on AOL? I require an expert on this area to resolve my problem. Maybe that is you! Taking a look ahead to see you.
Tremendous issues here. I’m very glad to see your post. Thanks so much and I’m looking ahead to contact you. Will you kindly drop me a mail?
I simply couldn’t go away your web site before suggesting that I actually enjoyed the standard info a person provide on your visitors? Is going to be again frequently in order to investigate cross-check new posts
You are truly a good webmaster. The site loading pace is amazing. It kind of feels that you’re doing any unique trick. Moreover, The contents are masterpiece. you’ve done a great job in this matter!
Thanks a lot for sharing this with all people you really know what you’re talking about! Bookmarked. Please additionally discuss with my web site =). We may have a link exchange contract among us
Great work! That is the kind of information that are meant to be shared around the net. Disgrace on Google for no longer positioning this post higher! Come on over and discuss with my web site . Thanks =)
Helpful info. Lucky me I found your web site unintentionally, and I am stunned why this coincidence did not took place in advance! I bookmarked it.
I’ve been exploring for a little for any high-quality articles or weblog posts on this sort of area . Exploring in Yahoo I finally stumbled upon this website. Studying this info So i’m glad to show that I have a very just right uncanny feeling I found out just what I needed. I most indisputably will make certain to do not overlook this website and provides it a glance regularly.
Woah this blog is fantastic i like studying your posts. Stay up the good work! You understand, a lot of people are looking around for this info, you could aid them greatly.
I delight in, lead to I found just what I used to be looking for. You have ended my 4 day long hunt! God Bless you man. Have a nice day. Bye
Thanks for another magnificent post. Where else could anybody get that type of information in such a perfect means of writing? I’ve a presentation subsequent week, and I am on the look for such info.
It’s actually a great and useful piece of info. I’m glad that you simply shared this helpful information with us. Please keep us up to date like this. Thanks for sharing.
Excellent post, very informative. I ponder why the opposite experts of this sector do not realize this. You should proceed your writing. I am sure, you have a huge readers’ base already!|What’s Going down i am new to this, I stumbled upon this I have discovered It positively helpful and it has aided me out loads. I hope to contribute & help other users like its aided me. Good job.
Thank you, I have recently been searching for information approximately this topic for ages and yours is the greatest I’ve found out till now. But, what in regards to the conclusion? Are you sure about the supply?|What i don’t realize is in reality how you are now not actually much more well-preferred than you may be right now. You are so intelligent.
You realize therefore significantly when it comes to this topic, made me for my part imagine it from so many various angles. Its like men and women aren’t fascinated except it is something to accomplish with Woman gaga! Your personal stuffs great. All the time take care of it up!
Usually I don’t read post on blogs, but I would like to say that this write-up very compelled me to take a look at and do it! Your writing taste has been surprised me. Thank you, quite great post.
Hello my family member! I wish to say that this article is amazing, nice written and come with approximately all important infos. I would like to look extra posts like this .
of course like your website but you have to check the spelling on several of your posts. Several of them are rife with spelling problems and I in finding it very troublesome to tell the reality however I will definitely come back again.
Hello, Neat post. There is a problem together with your web site in web explorer, could check this? IE still is the market chief and a good part of folks will leave out your great writing because of this problem.
I have learn several just right stuff here. Certainly worth bookmarking for revisiting. I surprise how so much effort you set to make any such fantastic informative web site.
Whats up very cool site!! Man .. Beautiful .. Superb .. I will bookmark your website and take the feeds also?I am happy to seek out a lot of helpful information here within the publish, we need develop more strategies in this regard, thank you for sharing. . . . . .
It is truly a nice and helpful piece of info. I’m happy that you simply shared this helpful info with us. Please stay us informed like this. Thanks for sharing.
Fantastic issues altogether, you simply gained a emblem new reader. What might you suggest in regards to your post that you just made a few days in the past? Any positive?
Thank you for some other informative website. Where else may just I get that type of information written in such a perfect way? I have a undertaking that I am simply now operating on, and I have been on the look out for such info.
Hello there, I found your web site by the use of Google whilst looking for a similar subject, your website came up, it seems to be great. I have added to my favourites|added to my bookmarks.
January 22, 2012 at 8:57 am
Warisan Muhammad……..?
Nih……..
1.Kebencian terhadap yahudi dan Nasrani
Saat seorang mualaf otomatis dia menerima warisan kebencian terhadap yahudi dan Nsarani.
2.Poligami
3.Takiya ( bohong untuk kebajikan )
4.Sistim pemerintahan syariah yang otoriter dan tidak berperikemanusiaan
Dibanyak negara islam hukum rajam sampai mati msih ada.
Saya belum melihat negara islam yg berdasarkan syariah yang lebih baik dari negara non islam.
Justru di negara – negara yg berdasarkan islam pendududknya byk yg Exodus.Why……….??????????????????
January 22, 2012 at 9:14 am
warisan kristen;
1.menyetujui pembantaian yesus dan membenci yg membenci kebohongan (nasrani dan yahudi)
2.anti kawin/melanggar kodrat
3.kebajikan untuk kebohongan(kasih yg menyesatkan )
4.menghapus ayat tentang rajam (menentang tuhan)
saya melihat dunia sebelum islam yg pada saat itu sudah ada kristen : anak perempuan dibunuh,wanita dan pria seperti hewan telanjang,kecurangan meraja rela,zinah dimana 2,membedakan warna kulit,dll
January 25, 2012 at 2:19 pm
Hebat !!! dari mana kau dapat data ???
February 19, 2012 at 12:00 pm
Tepat tuch, kalo exodus maunya kenegara Kristen. Ada banyak orang arab/irak yang naik kapal mau exodus ke australia, tapi kapalnya nyasar ke indonesia. Mereka ditampung sementara di Indonesia, karena tidak mau minta suaka ke indonesia, katanya negaranya miskin, hidupnya susah, Tapi katanya Ukhuwah Islamiyah????
Subhanallah!