Islam masuk Indonesia secara damai ?
Jawabanya : Tidak, kata Mochtar Lubis dibawah ini.

————————————————————–

Ceramah Mochtar Lubis tahun 1977 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, berjudul “Situasi Manusia Indonesia kini: Dilihat dari Segi Kebudayaan dan Nilai Manusia” diterjemahkan dalam buku “The Indonesian Dilemma”.

Versi Inggris itu yang saya miliki dan dalam terbitan Graham Bash ini, hal 11 ia mengatakan:
(maaf bahasa Inggris, lihat terjemahan bebasnya dibawahnya)

” Something happened in the historical development of the Indonesian people. From the JAHILYAH era (the turbulent pre-islamic period), when our forefathers lived in a primitive fashion, Indonesians such as Bataks and Lampungs already had written languages. Several social systems existed then, too. Their values might now be considered unsuitable; for example, the Old Batak practice of eating their enemies, killed in battle or the West Irian headhunters.

But labelling those times as JAHILIYAH is not completely accurate. For instance, during the same period, even before the advent of Hinduism, the Javanese had already developed a fairly sophisticated social system. There were villages which were in effect self-governing, small social units which were ruled democratically. Witness the villages system in Minangkabau and the government in Mandailing wher the king was regarded as the father of his subjects. Of course, some charlatans could always be found among those rulers.

Creativity was improved much with the introduction of Hinduism on Sumatera, Java and Bali. The influence of Islam and Christianity came later and drastically curbed that artixsitic creativity – especially with regard to sculpture that had flourished under the ancient Indonesian religions. For example, when the PADERIS ATTACKED THE TAPANULIS IN SUMATERA, BRINGING ISLAM TO THE POINT OF THE SWORD, THEY DESTROYED THE FINEST SCULPTURES IN INDONESIA AND FORBADE THE CREATION OF NEW WORKS.

With the spread of Islam on Java, sectors of the population MOVED TO BALI, taking their old religion and their artistic talents with them. In West Irian also the Christian Church opposed the creation of new sculptures, but several of American missionaries there, who were also talented traders, DID NOT BURN OR DESTROY THE EXISTING SCULPTURES. They shipped them to be sold in America instead. “

TERJEMAHAN :

“Sesuatu terjadi dlm sejarah perkembangan rakyat Indonesia. Pada masa JAHILYAH (masa pra-islam), ketika nenek moyang kami masih hidup secara primitif, orang2 Batak dan Lampung sudah memiliki bahasa tertulis. Berbagai sistim sosial juga sudah eksis.

Memang ada nilai-nilai yg tidak lagi dianggap cocok bagi jaman sekarang. Contoh, praktek Batak Tua, orang Kalimantan dan Irja memakan musuh yg tewas dalam perang.

Tetapi mencap jaman itu sebagai JAHILIYAH juga tidak tepat. Pada saat itu, bahkan sebelum timbulnya Hinduisme, orang Jawa sudah mengembangkan sistim sosial yang ‘sophisticated’. Ada desa-desa yang sudah dapat mengatur diri sendiri dan unit-unit sosial kecil yang diperintah secara demokratis. Juga sudah ada sistim desa di Minangkabau dan pemerintah di Mandailing dimana raja dianggap bapak rakyatnya. Tentu, ada saja orang yang menyelewengkan kekuasaan.

Dengan timbulnya Hinduisme, kreativitas membaik di Sumatera, Jawa dan Bali. Pengaruh Islam dan Kristen (Protestan) yang datang kemudian mengekang kreativitas artistik ini secara drastis – khususnya dlm seni memahat patung yg marak dijaman agama kuno Indonesia. Ketika kaum Paderi MENYERANG orang Tapanuli di Sumatera, MENYEBARKAN ISLAM DENGAN UJUNG PEDANG, mereka MENGHANCURKAN BENDA2 UKIRAN TERINDAH DI INDONESIA DAN MELARANG PEMBUATAN KARYA-KARYA BARU.

Dgn menyebarnya Islam di Jawa, penduduk asli MENGUNGSI KE BALI, membawa agama asli dan bakat-bakat artistik mereka. Di Irian Barat, gereja (protestan) menantang pembentukan patung-patung baru, tetapi misionaris Amerika disitu, yang juga pedagang ulung, TIDAK MEMBAKAR ATAU MENGHANCURKAN PATUNG-PATUNG YANG ADA (berbeda dgn Muslim). Sebaliknya, mereka menjualnya ke AS. “