oleh Barbara G Baker,  Compass Direct News Service, 29 Mei 2008

www.CWN.org – Polisi di selatan Iran, di kota Shiraz, pada bulan ini memberangus Muslim yang diketahui murtad ke Kristen, yaitu menahan anggota dari tiga keluarga Kristen dan menyita buku dan komputer mereka.

Penahanan dimulai pada jam 5 pagi, tanggal 11 Mei , menjelang dua pasangan Murtad tersebut naik pesawat di bandara internasional Shiraz dan langsung dipenjara. Keempat orang diinterogasi berjam-jam, tentang iman mereka dan kegiatan persekutuan gereja mereka, info ini diperoleh Compass dari seorang Iran.

Murtadin/ah Kristen yang ditahan diketahui bernama Homayon Shokohie Gholamzadeh, 48 dan istrinya Fariba Nazemiyan Pur, 46 dan Amir Hussein Bab Anari, 25 dan istrinya Fatemeh Shenasa, 25.

Meskipun istri-istri telah dibebaskan langsung dihari saat penahanan, Anari tetap ditahan hingga 14 Mei, sedang Gholamzadeh baru dilepaskan minggu berikutnya.

Dua jam setelah penahanan pada 11 Mei, Polisi menggerebek rumah Hamid Allaedin Hussein, 58 menahannya dan ketiga anaknya yang telah dewasa, Fatemah, 28, Muhammed Ali, 27, dan Motjaba, 21.

Semua buku, CD, komputer dan printer milik keluarga Hussein disita pula.

Hussein, putrinya dan seorang putranya dilepaskan hari itu juga, tapi anaknya yang bungsu, Motjaba tetap ditahan.

Dua hari berikutnya polisi kembali menahan dua murtadin yang terkait dalam kegiatan persekutuan gereja di Shiraz, saat para murtadin tsb sedang berbincang di taman kota, kedua lelaki itu, Mahmood Matin dan Arash, masih dibui.

Penahanan lain juga terjadi bulan lalu di Iran Utara, di kota Amol, Propinsi Mazandaran dekat Laut Kaspia. Dua orang mantan muslim yang murtad ke kristen, satunya adalah Murtadinah yang hamil, masih ditahan, tanpa ada kabar beritanya.

menjamurnya persekutuan gereja di rumah-rumah selama dua tahun ini, diikuti dengan penahanan, pelecehan dan tekanan oleh rezim shiah Iran terhadap lusinan warganya yang terlibat di pergerakan Kekristenan.

Salah satu pergerakan, bulan lalu melaporkan bahwa kelompok orang-orang asli Iran yang murtad ke kristen meningkat dua kali lipat setiap enam bulan.

Murtad dari islam secara rutin diikuti dengan perlakuan tak semestinya baik fisik maupun psikologi saat ditahan untuk beberapa hari atau beberapa bulan, biasanya di sel isolasi. Dibutuhkan uang jaminan tinggi untuk pelepasannya, dengan ancaman penahanan kembali atau tuntutan kriminal jika diketahui melakukan ibadah atau mengabarkan iman mereka.

Tumbuhnya Orang-Orang Iran yang dalam jumlah besar memeluk Kristen dihubungkan dengan beberapa radio dan saluran televisi Kristen via satelit, yang dipancarkan dalam lima tahun ini, dengan bahasa Farsi ke selama 24 jam ke Iran.

Seorang analis dari Tehran mengatakan—dikutip di US News & World Report, 8 Mei—menuduh Saluran TV Kristen via satelit secara emosional merekayasa pemirsa Iran untuk murtad.

“Iranian mencari penyejuk, dan penghasut memakainya sebagai keuntungan,” kata analis misterius tsb.

Tetapi Iranian Kristen yang murtad—baik di dalam/luar negeri—membantahnya. Mereka berkata bahwa rezim Islam yang tidak populer tsb telah menyesatkan warganya dengan Islam. Saat ini ribuan Iranian rela menempuh risiko ditahan, didera, dan bahkan dimatikan demi untuk menemukan kedamaian dan tujuan hidup mereka.

Di Januari tahun ini, parlemen Iran mengajukan rancangan pengenaan perbuatan kriminal dengan ganjaran hukuman mati bagi mereka yang murtad ke agama lain.

Dengan hukum tsb, murtad menjadi satu dari beberapa kejahatan yang dapat dijatuhi hukuman dengan eksekusi, meskipun hakim pengadilan islam tidak memerintahkan hukuman mati.

Iranian Kristen terakhir yang murtad dari islam dan dikenai dakwaan resmi dengan pasal kemurtadan dibebaskan pada Mei 2005. Tapi Hamid Pourmand menjalani 22 bulan hukuman dari tiga tahun vonisnya dengan dakwaan yang direkayasa sebelum akhirnya dia dilepaskan, tapi dengan menjalani tahanan rumah pada Juli 2006