Berkembangnya budaya Islam adalah Cuma legenda saja. Para muslim menemukan Aljabar, angka nol, dan astrolabe (alat navigasi kuno). Mereka menemukan cara baru dalam pertanian. Mereka memelihara filosofi Aristotle sementara Benua Eropa terpuruk dalam abad kegelapan. Dalam hampir semua bidang, kekaisaran Islam jaman dulu jauh mengalahkan pencapaian para non muslim dijamannya baik di Eropa maupun dimanapun juga.

Betulkah begitu?

Well, ngga juga. Kecuali kalu penjiplakan dihitung.

Tebak?

-Kegemparan mengenai “Jaman Emas”nya budaya islam kebanyakan diilhami oleh non muslim.

– Elemen inti dari kepercayaan islam justru menjadi faktor penghalang yg sangat kuat terhadap kemajuan budaya dan sains.

– Hanya Judaisme dan kekristenan, bukan islam, yg memberikan dasar semangat dalam pencarian sains.

Bagaimana mengenai Seni dan Musik?

Kita dengar hal2 hebat tentang literatur Islam – atau setidaknya banyak hal mengenai penyair Sufi Jalaludin Rumi (1207-1273) dan The Thousand and One Nights (1001 malam). Ada juga penyair Persia Abu Nuwas (762-814), yg pandanganheterodoks (tidak ortodoks) mengenai homoseksualitinya akan dibahas di bab delapan; al-Mutanabbi (915-965), yg nama depannya berarti “seseorang yg berpura-pura jadi Nabi”; Sufi Turki yg Heterodoks, Nesimi (m 1417); dan penyair epik Persia Hakim Abu al-Qasim Mansur Firdowsi (935-1020), yg menetapkan sejarah Persia kedalam syair. Untuk sumber2nya, dia menggunakan catatan kronikel Kristen dan Zoroastrian yg telah lama hilang.

Banyak dari orang2 ini adalah para penghujat Islam secara terbuka; sedikit sekali yg kelihatannya mendapat inspirasi dari Islam itu sendiri, dg perkecualian (mungkin) alegorinya Farid ud-Din Attar, The Conference of the Birds. Mereka meninggalkan banyak karya2 besar, tapi kebanyakan dari karya2 itu dikenal bukan karena karakter Islamiknya, justru malah karena tidak adanya karakter islamiknya. Tapi, utk menghargai kekuatan inspirasinya berasal dari Islam adalah sangat dibesar-besarkan, ini sama seperti menghargai system Pemerintah Uni Sovyet untuk karya2 dari Mandelstam, Sakharov atau bahkan Solzhenitsyn.

Tapi bagaimana mengenai pencapaian Islamik dalam bidang artistik lainnya? Dimana “Beethoven atau Michelangelo” nya Islam? Dimana orang dapat mendengarkan masterpiece musik islam yg sama dg Piano Concerto karya Mozart atau menikmati lukisan setaraf Monalisa atau Pieta tapi versi Islam?

Jangan buang2 waktu mencari hal2 itu. Ada musik dan seni dinegara2 islam, dan ada beberapa muslim yg telah berkarya artistik dan musikal yg mengagumkan, tapi selalu karya2 itu hasil dari kebencian pada islam; tidak ada yg dapat dibandingkan dg perkembangan tradisi musik dan artistik barat, karena hukum islam melarang baik musik maupun artistik untuk berkembang. Dalam musik, tidak ada karya setara dengan `B Minor Mass’nya Bach atau gospel dalam islam, diatas itu semua, kreatifitas musik tidak mendapat tempat dalam agama ini.

Hukum islam menyuruh Muhammad itu sendiri utk melarang instrumen musik, dg mengutip beberapa hadits:

Allah maha tinggi dan kuasa mengirimku sebagai pembimbing dan pengampun pada orang percaya dan memerintahkanku utk menjauhi alat2 musik, flute, alat musik dg senar, crucifix dan masalah2 jaman jahiliah sebelum islam. Dihari Kebangkitan, Allah akan mengucurkan timah panas cair kedalam kuping siapapun yg mendengarkan musik2 itu. Lagu membuat kemunafikan berkembang dalam hati seperti air terhadap tanaman. “Masyarakat ini akan ditelan bumi, mengubah sebagian dari mereka menjadi binatang, dan dihujani oleh batu.” Seseorang bertanya, “Kapankah ini terjadi, O Rasul Allah?” dan katanya, “Ketika alat musik dan penyanyi dan arak2 muncul diijinkan/tidak dilarang.” Kan ada orang2 dalam masyarakatku yg melakukan zinah, memakai sutra, arak dan alat musik diijinkan [1].

Ini semua bukanlah hukum2 jaman kuno yg secara universal telah diabaikan jaman sekarang, seperti peraturan kolonial amerika kuno tentang meludah dipinggir jalan. Ayatollah Khomeini dari Iran berkata dg semangat mengenai setan yg ada dalam musik dan bukan hanya Rock and Roll atau Rap, tapi semua musik:

Musik merusak pikiran anak2 muda kita. Tidak ada perbedaan antara musik dan opium. Keduanya menciptakan kepemalasan dalam banyak cara. Jika kalian ingin negaramu mandiri, maka larang musik. Musik adalah pengkhianatan terhadap bangsa dan anak2 muda kita [2].

Dan Seni? Larangan Islam akan penyajian seni bahkan lebih mutlak lagi. Muhammad berkata: “Malaikat2 tidak akan memasuki rumah yg ada anjing dan gambar2 makhluk hidup (manusia atau binatang dsb).” [3] Ini bukan sebuah kalimat dorongan untuk menciptakan Caravaggio.

Tentu saja, museum2 barat akan bersusah payah menampilkan apa yg mereka mampu dalam bidang porselen atau kaligrafi untuk memberikan hak2 seni islam (dan, tentu saja, arsitektur dan kehebatan artistik bagian dalam mesjid tidak dapat diterapkan dalam hal ini), tapi dibandingkan dg tradisi artistik barat, hanya pelaku budaya multikultural yg butalah yg tidak akan mengakui bahwa sangat sedikit sekali contoh2 artistik dalam islam.

Mitos PC: Islam dulu pernah menjadi dasar dari budaya besar dan perkembangan sains

Kenyataannya, Islam sama sekali tidak pernah menjadi dasar dari budaya yg penting ataupun perkembangan sains. Tidak bisa disangkal bahwa pernah terdapat budaya besar dan perkembangan sains didunia islam pada abad pertengahan, tapi tidak ada indikasi bahwa perkembangan yg disebut2 ini betul2 muncul atas jasa islam itu sendiri. Malah, ada bukti2 yg kuat bahwa semua itu tidak berasal dari Islam, tapi dari para non muslim yg melayani para tuan2 muslim mereka dalam banyak kapasitas.

Desain arsitektur mesjid2, contohnya, sebuah sumber kebanggaan diantara muslim, dijiplak dari bentuk dan struktur gereja2 Byzantine. (dan tentu saja, konstruksi kubah dan lengkungan telah dikembangkan lebih dari seribu tahun sebelum adanya islam.) Dome of the Rock dari abad ke-7, tidak menjiplak dari model Byzantine, tapi dibangun oleh tukang2 dari Byzantine. Inovasi arsitektur islam, menariknya, muncul dari kebutuhan militer. Seorang sejarawan arsitektur dan seni Islam, Oleg Grabar menjelaskan, “Apapun fungsi pribadi dan sosialnya, hampir tidak ada monumen utama dari arsitektur Islam yg tidak menggambarkan kekuasaan dalam bentuk tertentu…Gaya sangat jarang ada dari Arsitektur dan jikapun ada selalu menggambarkan kekuasaan.. Contohnya, di Kairo abad 11 atau Granada abad 14 gerbang2 dibangun dg teknik2 karya ornamental yg berbeda2 dg jumlah yg tidak biasa. Struktur lengkungan atau lurus berdampingan dg penopang2 segitiga utk kubah, barrel vault dg cross vault, lengkung setengah lingkaran sederhana dg ujung runcing atau lengkung sepatu kuda… Adalah mungkin inovasi2 tertentu dalam teknik vaulting ilsam, khususnya elaborasi struktur lengkung dan cross vault, adalah hasil langsung dari kepentingan militer dalam arsitektur, yg mana memperkuat dan mencegah kebakaran, begitu biasa dalam atap2 dan langit2 kayu, yg menjadi objektif utama.” [4].

Terdapat banyak contoh2 lain. Astrolabe dikembangkan, jika tidak disempurnakan, jauh sebelum Muhammad lahir. Avicenna (980-1037), Averroes (1128-1198), dan filsuf2 muslim lain meneruskan karya kaum pagan Yunani, Aristotle. Dan kekristenan memelihara karya2 Aristotle dari perusakan jaman kegelapan seperti ketika pendeta Robus dari Antiokhia diabad ke-5, yg mengenalkan Aristotle kedunia arab. [5]. Huneyn ibn Ishaq (809-873) yg orang kristen menerjemahkan banyak karya2 Aristotle, Galen, Plato dan Hippocrates kedalam bahasa Syria, yg lalu oleh anaknya diterjemahkan kedalam bahasa Arab. [6]. Kaum Jakobit (Syria) Kristen Yahya ibn Adi (893-974) juga menerjemahkan karya filosofi kedalam bahasa Arab dan menulis karyanya sendiri juga; risalatnya The Reformation of Morals telah sering diaku oleh para muslim dijamannya sebagai karya mereka. Muridnya, seorang kristen bernama Abu Ali Isa ibn Zur’a (943-1008), juga membuat terjemahan dari karya Aristotle dan penulis2 yunani lainnya kedalam bahasa syria. Risalat Medis pertama yg berbahasa Arab ditulis oleh seorang pendeta kristen dan diterjemahkan kedalam bahasa arab oleh seorang dokter yahudi ditahun 683. Rumah sakit pertama di Baghdad dimasa kejayaan kalifah Abbasid dibangun oleh seorang Kristen Nestorian, Jabrail ibn Bakhtishu. [7]. Orang2 kristen Assyrian mendirikan sekolah medikal pelopor di Gundeshapur Persia. Universitas pertama didunia bukanlah universitas Al-Azharnya muslim di Kairo, seperti yg sering diaku mereka, tapi Sekolah Assyrian di Nisibis.

Tidak perlu malu dalam hal ini. Tidak ada kebudayaan akan hidup dalam sebuah kevakuman. Setiap kebudayaan dibangun berdasarkan tingkat pencapaian budaya2 lain dan meminjam dari mereka yg berhubungan dg budaya tsb. Tapi catatan sejarah tidak mendukung ide bahwa islam mengilhami sebuah kebudayaan yg melebihi budaya2 lain. Ada saatnya ketika budaya islam melebihi budaya eropa, tapi kelebihan itu berhubungan dengan perioda ketika para muslim mampu menarik keuntungan dan kelebihan2 dari Byzantine dan masyarakat2 lainnya. Lagipula, para penjajah muslim abad ke-7 begitu tidak beradabnya, dibandingkan dg yg mereka jajah, hingga mereka menukar emas (yg belum pernah mereka lihat) dengan perak (yg mereka punya) dan menggunakan kamper, sebuah barang yg sama sekali baru bagi mereka, utk memasak.” Apa kita harus percaya bahwa orang2 kasar ini memasuki dunia baru dg rencana arsitektur dan artistik baru pada kantong2 celana dekil mereka?

Tapi ketika mereka mengambil apa yg mereka bisa ambil dari Byzantium dan Persia, dan sejumlah yahudi dan kristen telah masuk islam atau tunduk, Islam measuk kedalam perioda kemandekan intelektual yg mana hingga sekarang belum juga keluar dari hal itu. Yg lebih menjengkelkan lagi adalah, jika islam sungguh2 telah mencapai level setinggi itu dalam pencapaian budaya, kenapa lalu menukik kejurang terjal dan tetap tinggal disana hingga hari ini.

Apa yg terjadi dengan Jaman Keemasan?

Benar; dunia `muslim’ dulu pernah memimpin dunia dalam pencapaian2 intelektual, terutama matematik dan sains, meskipun itu karena campur tangan orang2 non muslim. Tapi terjadi penurunan setelah “jaman keemasan” hingga jaman itupun hampir tidak ada bekasnya didunia islam sekarang.

Winston Churchill tentang islam:

“Betapa mengerikannya kutukan2 yg dilontarkan para Muhammadan pada pengikutnya! Disamping kefanatikan yg menggila, yg sama bahayanya bagi manusia seperti ketakutan akan air (hydrophobia) bagi anjing, ada apati ketakutan yg fatalistis. Kebiasaan memboros, system pertanian yg ceroboh, metoda perdagangan yg lamban dan tidak amannya kepemilikan ada kemanapun para pengikut nabi itu tinggal atau memerintah. Sebuah penghinaan/perendah an sensualisme mencabut kehidupan ini dari kemuliaan dan kehalusannya; sasaran berikutnya yg akan dicabut adalah harga diri dan kesucian. Fakta bahwa dalam hukum Muhammadan setiap wanita harus jadi milik laki2 sebagai kepemilikan mutlak – baik itu sebagai anak, istri atau selir – pasti akan menunda musnahnya perbudakan sampai iman akan islam berhenti menjadi kekuatan besar diantara umat manusia.

“Para individu2 muslim mungkin menunjukkan kualitas2 yg baik. Ribuan yg menjadi tentara sang Ratu yang berani dan setia: semuanya tahu bagaimana utk mati. Tapi pengaruh dari agama melumpuhkan perkembangan sosial dari mereka yg jadi pengikutnya. Tidak akan ada sebuah kekuatanpun yg bisa bertahan terhadap kemunduran dan tetap bertahan didunia ini. Jauh dari ajal, kaum Muhammadan adalah kaum militan dan sebuah agama yg menarik masuk pengikut lain. Ini sudah menyebar keseluruh Afrika tengah, memunculkan pejuang2 tanpa rasa takut disepanjang jalannya; dan kalau saja bukan kekristenan yg menaungi kekuatan tangan dari sains – sains yg ketika itu sudah bersusah payah bertahan hidup – peradaban Eropa Modern mungkin jatuh, seperti jatuhnya peradaban Roma Kuno.”

Ambil contohnya, sains medis. Para muslim mendirikan farmasi2 pertama dan menjadi yg pertama yg memerlukan standar pengetahuan dan kompetensi dari para dokter dan farmasis, yg diperkuat dengan sebuah penelitian [9]. Pada saat kekalifahan Abbasid kelima, Harun al-Rashid (763-809), rumah sakit pertama didirikan di Baghdad, dan banyak lagi menyusul. Tapi bukanlah orang muslim, tapi seorang ilmuwan dan dokter Belgia, Andreas Vesalius (1514-1564), yg merintis jalan bagi kemajuan medis modern dg menerbitkan penjelasan akurat yg pertama tentang Organ Dalam manusia, De Humani Corporis Fabrica (On the Fabric of the Human Body) di tahun 1543. Kenapa? Karena Vesalius mampu membedah tubuh manusia, sementara praktek itu dilarang dalam Islam. Terlebih lagi, buku Vesalius banyak berisi gambar2 anatomis yg terperinci – tapi artistik penggambaran tubuh manusia juga dilarang dalam Islam.

Dalam Matematik, sama juga. Abu Ja’far Muhammad ibn Musa al-Khwarizmi (780-850) adalah seorang pelopor matematik yg risalatnya tentang aljabar, diterjemahkan kedalam bahasa arab, mengenalkan banyak generasi Eropa akan kenikmatan langka dalam bidang matematik. Tapi kenyataannya, prinsip2 yg dipakai al-Khwarizmi telah ditemukan berabad2 sebelum dia lahir – termasuk angka nol, yg sering disebut2 sebagai penemuan muslim. Bahkan apa yg kita kenal sekarang sebagai “Arabic numeral” tidak berasal dari Arab, tapi dari India masa sebelum islam – dan “arabic numeral’ itu tidak digunakan dalam bahasa Arab sekarang. Meskipun demikian, tidak bisa dibantah bahwa al-Khwarizmi sangat berpengaruh. Kata aljabar itu sendiri berasal dari kata pertama dari judul risalatnya Al-Jabr wa-al-Muqabilah; dan kata algoritma berasal dari namanya. Karya Al-Khwarizmi membuka bidang baru dalam penjelajahan matematik dan sains di Eropa, jadi kenapa karya tsb tidak menciptakan penjelajahan yg sama didunia islam? Hasilnya sudah jelas: Eropa secara mutakhir menggunakan aljabar, dan ini berhubungan dg penemuan2 lainnya, hingga membuat kemajuan teknologi yg signifikan; tapi para muslim tidak begitu. Kenapa?

Muhammad vs Yesus

“Tak seorang pun yang baik selain dari pada Tuhan saja” (Markus 10:1Cool

“Orang-orang Yahudi berkata: “Tangan Allah terbelenggu” , sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu. (Tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka; Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki.” [Quran 5.64]

Ide bahwa tangannya Allah “tidak terbelenggu” adalah sebuah pencerminan dari kebebasan dan kekuasaan absolutnya. Jika Tuhan itu baik, seperti kata Yesus, Kebaikannya mungkin terlihat dari kekonsistenan penciptaanNya; tapi dalam islam bahkan menyebut Allah baik saja akan membuatnya terbelenggu.

Satu jawabannya adalah bahwa Eropa punya tradisi intelektual yg panjang yg membuat inovasi demikian dimungkinkan, sementara dunia islam sama sekali tidak. Hal ini bahkan termasuk dalam penggunaan karya2 arab dg cara yg oleh para muslim itu sendiri juga tidak digunakan; Aristotle, bersama dg komentator muslimnmya Avicenna dan Averroes, belajar diuniversitas Eropa diabad 12, sementara didunia islam karya2 mereka diabaikan dan tentu saja tidak diajarkan disekolah2, yg waktu itu (juga sekarang) dikonsentrasikan sebagian besar dengan menghafal dan belajar Quran. Terdapat juga filsuf2 islam terkenal lain; kenapa Avicenna dan Averroes dibaca dibarat, tapi jadi hal aneh dalam tradisi mereka sendiri? Kenapa filisofi bahkan sampai sekarangpun tidak diajarkan disekolah2 islam?

Yg bertanggung jawab akan semua ini, terutama harus dibebankan pada Sufi Abu Hamid al Ghazali (1058-1128). Meski dia adalah pemikir besar, namun dia menjadi juru bicara pemimpin bagi gerakan anti intelektualisme yg mencekik banyak filosofi islam dan pemikiran2 sains. Beberapa filsuf, catat al-Ghazali, sedikit ragu memeluk kebenaran yg diturunkan dalam Quran: Abu Yusuf Yaqub ibn Ishaq al-Sabbah al-Kindi (801-873), contohnya, menyarankan bahwa agama dan filosofi dijadikan dua jalan yg sejajar dan sama bagi kebenaran [10]. Dg kata lain, para filsuf tidak perlu memperhatikan atau menghormati Quran, beserta nabi swalayan dan Surga bordilnya. Abu Bakr ar-Razi (864-930), dikenal dibarat sebagai Rhazes bahkan bertindak jauh hingga mengatakan bahwa hanya filosofi yg membimbing pada kebenaran tertinggi [11]. Filsuf2 muslim lain mengejar jalur pemikiran yg sama bahayanya.

Dalam karyanya Incoherence of the Philosophers, al-Ghazali menuduh filsuf2 muslim “menyangkal hukum2 dan pengakuan religius yg telah diturunkan” dan “penolakan ajaran sektarian dan rincian religius, mempercaya semua itu sebagai hukum2 buatan manusia dan trik2 yg ditambah2i” [12]. Dia menuduh filsuf2 muslim al-Farabi dan Avicenna telah menantang “prinsip2 utama dari agama” [13].

Akhirnya dalam The Incoherence of the Philosophers, al-Ghazali menyatakan pertanyaan retorik para filsuf: “Apa kalian lalu berkata dg yakin bahwa mereka (para filsuf) adalah para kafir dan bahwa membunuh mereka yg memegang kepercayaan mereka itu sebagai sebuah kewajiban?” [14]. Dia menjawab: “Menyatakan mereka itu kafir adalah perlu karena tiga alasan”: Ajaran2 mereka bahwa dunia itu kekal, bahwa Allah tidak tahu hal2 tertentu, tapi hanya hal2 universal dan bahwa tidak ada kebangkitan tubuh. Dg demikian, dg mengutip hukum islam, membunuh mereka adalah sebuah `kewajiban’. Ini sama sekali bukan sebuah cara yg sehat untuk mendorong perkembangan tradisi filosofi. Banyak ada filsuf2 muslim setelah al-Ghazali, tapi mereka tidak pernah mencapai martabat setingkat Avicenna. Averroes, (juga dipanggil Abul-Wwaleed Muhammad ibn Rushd), menjawab al-Ghazali dalam sebuah buku yg berjudul Incoherence of the Incoherence, berkeras bahwa para filsuf tidak perlu mengambil muka pada para ahli teologi, karena hal ini sudah kepalang rusak. Jaman keemasan dari filosofi islam, jikapun pernah ada, sudah berakhir.

Serangan al-Ghazali pada para filsuf adalah sebuah perwujudan canggih dari sebuah kecenderungan yg selalu menghalangi perkembangan intelektual didunia islam:

Ada sebuah asumsi yg berlaku bahwa Quran adalah kitab yg sempurna, dan tidak perlu ada kitab lain lagi. Dg Quran sebagai kitab yg sempurna dan masyarakat Islam adalah peradaban yg sempurna, terlalu banyak muslim berpikir bahwa mereka tidak perlu pengetahuan yg berasal dari sumber2 lain – apalagi dari orang2 kafir.

Allah membunuh Sains

Tapi pukulan akhir pada sains islam dan filosofi mungkin datang dari Quran itu sendiri. Kitab suci Islam menggambarkan Allah sebagai pihak yg berkuasa secara absolut dan tidak terikat oleh apapun. Kemaha kuasaan ini begitu mutlak hingga menghalangi sebuah asumsi yg menjadi kunci penolong pengembangan sains di Eropa. Yahudi dan Kristen percaya bahwa tuhan itu baik, dan bahwa kebaikannya itu konsisten. Dg demikian, Dia menciptakan jagat raya sesuai dg hukum2 rasional yg dapat ditemukan, ini membuat penyelidikan sains menjadi berharga. Santo Thomas Aquinas menjelaskan:

Karena prinsip2 sains tertentu – Logika, geometri dan Aritmatika, contohnya – dihasilkan secara khusus dari prinsip2 formal, yg mana esensi semua hal tergantung padanya, hal itu menjelaskan bahwa Tuhan tidak dapat membuat pertentangan dalam prinsip2 ini; Dia tidak dapat membuat gen2 tidak didasarkan pada spesies, ataupun garis yg digambar dari pusat lingkarang kepada kelilingnya tidak sama, ataupun tiga sudut dari sebuah segitiga rectilinear tidak sama dg dua sudutnya. [15].

Tapi dalam Islam, Allah bebas secara mutlak. Al-Ghazali dan yg lainnya menelaah persoalan dg ide dasar bahwa terdapat hukum2 alam; bahwa akan menjadi sebuah penghujatan, sebuah penyangkalan akan kebebasan Allah. [16]. Utk berkata bahwa dia menciptakan jagat raya sesuai dg hukum rasional dan konsisten, atau bahwa dia “tidak dapat” melakukan sesuatu – seperti yg Aquinas katakan diatas – adalah akan membelenggu kemahakuasaannya yg absolut. Dia akan mengatur semuanya, tapi hal itu tak dapat diduga-duga.

Dg begitu sains modern dikembangkan dalam kekristenan Eropa bukannya dalam rumahnya Islam. Dalam dunia Islam, Allah malah membunuh sains.

Tapi tidak semua hilang: Ada hal2 yg kita harus berterimakasih pada Islam

Semua ini tidak berarti bahwa Islam tidak dapat diberi penghargaan sama sekali atas intelektual, sains atau pencapaian artistik. Malah, kita bisa memberi penghargaan pada Islam atas dua pencapaian yg menjadi tonggak dunia: Terbukanya dunia Baru dan Renaissance di Eropa.

Setiap anak sekolah tahu, atau pernah tahu, bahwa ditahun 1492 Christopher Columbus berlayar dan menemukan Amerika ketika mencari rute baru menusu Asia lewat laut barat. Dan kenapa dia mencari rute baru ke Asia? Karena jatuhnya Konstantinopel pada para muslim ditahun 1453 dan menutup jalur perdagangan ke Timur. Ini sebuah kehancuran bagai para pedagang Eropa, yg sejak saat itu harus berkelana hingga Asia demi rempah2 dan barang2 lain lewat darat. Perjalanan Columbus adalah utk meringankan beban dari para pedagang dg maksud memutari para muslim dan membuat jalur ke India menjadi mungkin lagi lewat laut. Jadi kesukaan perang dan kekerasan hati islam pada akhirnya membuka Amerika bagi orang2 Eropa.

Akibat lain dari jatuhnya Konstantinopel, dan kematian yg mengenaskan dari kekaisaran Byzantine yg mengikuti kejadian itu, adalah berpindahnya para ilmuwan intelektual Yunani ke Eropa Barat. Ekspansi teritorial Muslim di Byzantine mengorbankan begitu banyak orang2 Yunani yg mencari perlindungan di Barat hingga universitas2 di barat penuh dg para Platonis dan Aristotelian. Hal ini berujung pada ditemukannya kembali filosofi dan literatur klasik, dan berkembangnya budaya dan intelektual yg belum pernah dilihat oleh dunia (dan tidak pernah lagi). Ini mungkin karena penurunan dan kejatuhan Byzantine adalah merupakan sumbangan terbesar dari muslim pada sejarah kehidupan filosofi dan intelektual di dunia barat dibandingkan dengan pemeliharaan karya arabnya Aristotle.

Buku yg tidak seharusnya dibaca

The Rise of Early Modern Science: Islam, China and the West, (Bangkitnya Sains Modern Awal: Islam, China dan Barat), oleh Toby E. Huff; Cambridge; Cambridge University Press, Edisi kedua, 2003. Huff menjelaskan kenapa bukan sebuah kebetulan belaka bahwa sains modern tidak berkembang didunia islam atau China tapi di dunia Barat.

Tentu saja, dua hal ini tidak sungguh2 “pencapaian” islam. Keduanya adalah akibat dari diterapkannya doktrin kekerasan dari Islam yg telah kita telaah sebelumnya. Tapi dalam terminologi efek nyatanya terhadap dunia secara keseluruhan, hal ini berakibat lebih hebat dari sekedar risalat2 filosofi islam dan setumpuk karya kaligrafi.