Para jurubicara muslim di USA bekerja keras untuk menampilkan pandangan2 islam sebagai ramah, terbuka dan menerima – jauh sekali dari apa yg ditunjukkan oleh Osama bin Laden dan antek2nya. Anjing Penjaga (watchdog) PC, baik itu orang muslim maupun non muslim, sebenarnya telah membuang semua perbedaan pendapat yg saling membantah ide bahwa Islam itu cinta damai, ramah dan toleran hingga ketahap dimana tidak akan muncul masalah apapun bagi masyarakat barat. Mereka menggambarkan islam punya hubungan kekerabatan dg Judaisme dan Kekristenan dan, seperti kedua agama tsb, bisa “dibajak” (tanpa kesalahan agama itu sendiri) oleh para “garis keras”. Kebanyakan orang amerika sekarang menerima ini sebagai aksiomatis (yg sudah jelas kebenarannya) – dan banyak anggapan yg menolak hal itu sebagai tindakan “rasisme”, meski terdapat fakta bahwa islam bukanlah sebuah ras dan kebanyakan orang muslim didunia sekarang bukanlah anggota dari sebuah kelompok etnis yang mana sering diindetifikasi sebagai orang Arab.

– Hukum islam menetapkan status kelas dua bagi orang yahudi, kristen dan orang non muslim lain yang tinggal dalam masyarakat Islam.

– Hukum2 ini tidak pernah dinasakhkan (digantikan) atau direvisi oleh otoritas islami.

– Mitos bahwa orang yahudi mendapatkan biaya2 yg lebih murah ditanah2 islam dibanding tanah2 kristen di eropa adalah salah.

Mitos PC: Islam adalah agama yg toleran

Yahudi dan Kristen, begitu kata PC, hidup harmonis bersama kaum muslim diera kekaisaran Islam dulu. Ketika pejihad teroris membom Madrid tgl 11 Maret 2004, para komentator bermanis-manis muka mengingatkan dunia bahwa ketika para muslim menguasai Spanyol, spanyol menjadi mercusuarnya toleransi dimana para muslim, yahudi dan kristen hidup bersama dg damai dan harmonis. Ketika pejihad membom sinagog di Istanbul tgl 15 Nov 2003, para komentator melagukan nyanyian bahwa pemboman itu sangat menyakitkan hati karena khususnya terjadi di kota yg begitu lama mengenal ketenangan antara muslim, yahudi dan kristen.

Dogma toleransi Islam yg tidak dipertanyakan ini punya pengaruh politik yg penting. Hal itu mengurangi niat para penyelidik anti-teroris di Eropa dan Amerika untuk memonitor aktivitas di mesjid2. Hal ini menolong menghidupkan terus menerus kesalahan pemikiran bahwa teroris islam berasal dari ketidak seimbangan sosio ekonomis dan keluhan2 politis. Pemerintah eropa dg populasi muslimnya yg bertumbuh pesat menggunakan hal ini untuk meyakinkan diri mereka sendiri bahwa dalam Al-Andalus (nenek moyang bangsa andalusia) kuno, hegemoni islamik tidaklah terlalu jelek. Politisi Eropa dan Amerika serta para pemimpin religius merayu komunitas islam dinegaranya, mencoba memenangkan dukungan politis mereka dan mengasumsikan bahwa mereka akan dengan mudah berasimilasi dan bersikap damai, serta menjadi partisipan aktif dalam proses politik. Kenapa tidak? Islam itu toleran dan mengajarkan pluralisme. Fondasi apa yg lebih baik bagi keikutsertaan dalam demokrasi barat?

Ide akan islam yg toleran telah mengambil hati Perserikatan Bangsa Bangsa. Harian Turki Zaman melaporkan pada Maret 2005 bahwa pada sebuah seminar PBB, “Melawan Islamophobia: Pendidikan bagi toleransi dan pengertian,” “toleransi yg Ottoman tunjukkan bagi orang2 dg agama yg berbeda dipakai sebagi contoh untuk diadopsi bahkan disaat ini juga” dan dipuji sebagai sebuah “model sosial yg mana perbedaan agama dan bangsa hidup dibawah satu atau selama beratus-ratus tahun” [1].

Tidak pernah muncul dipihak PBB bahwa ketika perbedaan agama tinggal satu atap, yang satu menjadi tuan dan yg lain hidup sebagai warga kelas dua yg dipandang rendah.

Dhimma

Quran menyebut yahudi dan kristen sebagai “ahli kitab (People of the book)” Hukum islam menyebut mereka sebagai Dhimmi, yg artinya orang2 yg “dilindungi” atau “bersalah” – kata arabnya berarti keduanya. Mereka `dilindungi’ karena, sebagai ahli kitab, mereka telah menerima wahyu yg asli (“Kitab”) dari Allah dan dg begitu status mereka berbeda dari kaum pagan dan penyembah berhala seperti hindu dan buddha. (Secara sejarah, dua kelompok yg belakangan ini diperlakukan jauh lebih buruk oleh islam penakluk, meski untuk praktisnya mereka (para tuan muslimnya) pada akhirnya memberi mereka status dhimmi juga). Yahudi dan kristen “bersalah” karena mereka tidak saja menolak Muhammad sebagai nabi, tapi juga merusak wahyu sah yg mereka terima dari Allah. Karena kesalahan itu, hukum islam mendiktekan bahwa orang yahudi dan kristen boleh tinggal dinegara islam, tapi tidak sejajar dg para muslim. Seorang ahli hukum muslim menjelaskan bahwa sang kalifah harus “melakukan jihad terhadap mereka yg menolak islam setelah mereka itu diundang masuk islam, sampai mereka tunduk atau menerima utk tinggal sebagai komunitas dhimmi – agar hak2 Allah (swt), dijadikan yg tertinggi diantara semua agama2 lain” (Quran 9:33) [3]. Sementara yahudi, kristen dan non muslim lain diijinkan utk mempraktekan agama2 mereka, tapi mereka harus melakukan itu dibawah syarat2 yg sangat ketat yg akan mengingatkan akan status kelas dua mereka pada tiap gerak mereka.

Status lebih rendah ini pertamanya diutarakan oleh Umar ibn al-Khattab, yg jadi Kalifah dari 634 s/d 644. Menurut Ibn Kathir, orang2 kristen membuat pakta dg Umar yg berbunyi:

“Kami tetapkan syarat2 bagi kami sendiri bahwa kami tidak akan pernah mendirikan biara, gereja atau perlindungan utk rahib didaerah kami, tidak juga memperbaiki tempat beribadah yg rusak ataupun menggunakan tempat2 itu utk tujuan menentang para muslim.” [3]

Ini tentu saja, diijinkan oleh otoritas islam utk memudahkan mereka merampas gereja2 kapanpun mereka mau. Karena kesaksian orang kristen tidak dihitung dan tidak diperbolehkan dalam banyak kasus, sering kejadian satu orang muslim saja bisa melontarkan tuduhan bahwa gereja digunakan utk tujuan “melawan para muslim” dan kemudian mereka sita.

Persetujuan kristen dg kalifah umar ini berlanjut: “Kami tidak akan mencegah muslim mana saja utk beristirahat digereja2 baik siang ataupun malam… Para muslim tsb yg datang sebagai tamu akan menikmati penginapan dan makanan selama tiga hari” [4]. Perjanjian in ijuga memandatkan sejumlah aturan memalukan agar para dhimmi merasa “takluk” sesuai dg Quran 9:29. Orang2 Kristen ini berjanji:

Kami tidak akan… mencegah orang2 dari pihak kami utk memeluk islam, jika mereka memilih itu. Kami akan menghormati muslim, pindah dari tempat kami duduk jika mereka ingin duduk ditempat itu. Kami tidak akan mengikuti cara mereka berpakaian, bertopi, turban, sendal, gaya rambut, berbicara, nama panggilan dan nama kebesaran, atau berkendara memakai sadel, membawa senjata, mengumpulkan atau pun membawa senjata jenis apapun.. kami tidak akan mengubah cap kami dalam bahasa arab, atau menjual minuman keras. Kami akan memotong bagian depan rambut kami, memakai baju adat kami dimanapun, memakai ikat pinggang, menahan diri untuk mendirikan salib2 diluar gereja2 kami dan mempertunjukkan salib dan kitab2 kami dimuka umum, dipasar2 muslim dan jalan2. Kami tidak akan membunyikan lonceng digereja, kecuali dg pelahan sekali, atau bersuara dg keras ketika membaca kitab suci kami digereja ketika ada hadirin orang muslim.

Setelah semua ini dan aturan2 lainnya dg lengkap disetujui, persetujuan ditanda tangani:

“Ini adalah syarat2 yg kami tetapkan bagi kami sendiri dan pengikut2 dari agama kami sebagai bayaran bagi keamanan dan perlindungan yg diberikan kepada kami. Jika kami melanggar janji2 ini, maka Dhimmah kami (Janji Perlindungan) akan putus dan anda boleh melakukan apa yg seharusnya dilakukan terhadap orang yg menentang dan memberontak” [3].

Semua ini masih menjadi bagian dari Syariat saat ini. “Orang yg menjadi subjek,” menurut manual hukum Islam, harus “membayar pajak kafir (jizya)” dan “harus dibedakan dari orang muslim dalam berpakaian, pemakaian ikat pinggang besar (zunnar); tidak disapa dg `as-Salamu’alaykum’ ; harus berjalan dipinggiran jalan; tidak membangun gedung lebih tinggi atau sama dg gedung yg dimiliki muslim, meski jika mereka memperoleh rumah yg tinggi, rumah itu tidak akan diruntuhkan; dilarang mempertontonkan secara terbuka arak dan babi..dilarang membaca Taurat atau injil keras2, atau melakukan pawai terbuka bagi pemakaman atau hari libur mereka; dan dilarang utk membangun gereja baru.” Jika mereka melanggar syarat2 ini, hukum selanjutnya menetapkan bahwa mereka boleh dibunuh atau dijual sebagai budak2 atas kebijaksanaan pemimpin muslim.

Sama seperti sekarang: Para pemimpin Muslim menyerukan mengembalikan Dhimmi

Benar, orang Yahudi dan Kristen hidup sebagai dhimi2 dalam kekaisaran Islam dulu, tapi itu adalah masa lalu, benar? Tidak ada muslim yg ingin mengembalikan status dhimmi bagi mereka saat ini, benar? Tentu saja salah, mereka ingin itu. Sheikh Omar Bakri Muhammad, seorang pemimpin Muslim kontroversial di Inggris yg pro Osama menulis dibulan Oktober 2002, bahwa meski tidak ada kalifah didunia islam sekarang, itu tidak berarti para muslim dapat membunuh kafir begitu saja. Dia memastikan bahwa mereka tetap harus ditawarkan dulu pilihan utk hidup bersubjek pada para muslim: “Kami tidak dapat begitu saja bilang bahwa karena tidak ada kekalifahan kami bisa membunuh kafir mana saja, malah sebenarnya, kami harus tetap memenuhi dhimmah mereka.” [8]

Demikian juga, Sheikh Yussef Salameh, Otoritas palestina, pada May 1999 “Terpujilah ide bahwa orang2 kristen harus menjadi dhimmmi dibawah undang2 muslim dan saran demikian telah menjadi umum sejak intifada kedua dimulai oktober 2000” [9]

Dalam khotbah jumat di mesjid Mekah, Sheikh Marzouq Salem Al-Ghamdi menjelaskan aturan Syariat bagi para dhimmi:

“Jika kafir tinggal diantara muslim, sesuai syarat yg ditetapkan nabi tidak menjadi masalah selama mereka membayar pajak Jizya pada islam. Syarat2 lain adalah.. merkea tidak boleh merenovasi gereja atau biara, jangan membangun lagi gereja dan biara yg dihancurkan, mereka harus memberi makan selama tiga hari muslim mana saja yg mengunjungi rumah mereka… mereka harus berdiri jika seorang muslim mau duduk ditempat mereka, mereka tidak meniru cara berpakaian dan berkata muslim, tidak naik kuda, atau memiliki pedang, atau mempersenjatai diri; tidak menjual anggur, memperlihatkan salib, tidak membunyikan lonceng gereja, tidak bicara kencang selama berdoa, mencukur bagian depan rambut (jenggot, kumis) agar mudah dikenali, jangan menghasut siapapun utk melawan muslim dan jangan memukul muslim. Jika mereka melanggar syarat2 ini, mereka tidak akan dilindungi lagi” [10].

Para dhimmi juga dg sangat dilarang, dg ancaman mati, utk menarik masuk para muslim kedalam agama mereka – sebuah larangan dan ancaman mati yg juga berlaku bagi para muslim yg meninggalkan islam. Dua hal ini beserta ketentuan2 dhimmi lainnya, tetap jadi bagian dari hukum islam saat ini.

Hukum2 ini secara umum mengatur hubungan antara para muslim dan non muslim dalam sebuah negara islam selama berabad-abad, sampai tekanan bangsa barat membuat kekaisaran Ottoman melemah dipertengahan abad 19 dan berujung pada emansipasi dari para dhimmi. Disana sini aturan itu melunak dan diabaikan utk beberapa perioda, tapi tetap akan selalu ada dalam kitab2 mereka dan siap untuk diberlakukan lagi oleh penguasa islam manapun yg berkehendak demikian.

Dan dari piagam gerakan Perlawanan Islamik, yg dikenal dg Hamas, muncul sebuah kesadaran baru tentang bagaimana memanipulasi mitos2 akan toleransi Islam: “Dibawah bayang2 Islam, dimungkinkan para pengikut dari tiga agama: Islam, Kristen dan Judaisme utk hidup aman dan terlindung. Keamanan dan perlindungan hanya dapat berlaku dibawah bayang Islam, dan sejarah dulu dan sekarang menjadi saksi akan hal itu.. Islam menerapkan hak2nya bagi siapa saja yg punya hak dan mencegah serangan terhadap hak2 orang lain” [7]. Tapi Hamas tidak mengatakan tentang hilangnya hak2 yg mengikuti kehidupan “dibawah bayang2 Islam,”

Sheikh Abdullah Azzam (1941-1989), salah seorang pendiri al-Qaeda, juga mengasumsikan bahwa negara islam yg dia perjuangkan akan mengumpulkan pajak jizya dari para dhimmi. Dalam bukunya Defence of the Muslim Lands dia mendiskusikan beberapa kategori jihad. Sesuai dg teologi tradisi islam, dia menjelaskan bahwa jihad ofensif adalah sebuah kewajiban dari masyarakat islam, dan tambahnya, “Dan para Ulama telah menyebutkan bahwa tipe jihad ini adalah untuk mempertahankan pembayaran jizya” [11].

Mitos PC: Dilihat dari sejarah Dhimma tidaklah jelek

Tapi pada prakteknya, sungguh2 tidak demikian, ya kan? Pembela Islam Stephen Schwartz, yg seorang mualaf, membantah hal itu sebagai kenyataan, dhimmitude tidaklah sejelek itu dan berkeras bahwa kengerian2 tsb hanya dibesar-besarkan: “Dhimma sekarang dipegang oleh sebuah elemen demagogik Barat sebagai lambang menakutkan akan dominasi islam.” [12] Dan hal itu sungguh2 benar bahwa tidak ada hukum yg pernah secara universal dipaksakan dg ketelitian dan kefanatikan yg rata. Dalam abat ke-9, Theodosius, seorang patriarch dari Yerusalem, menulis bahwa para muslim “adil dan tidak menyalahi kita ataupun menunjukkan sikap kekerasan.” [13] Tapi status hukum dari orang kristen dan yahudi masih saja tetap dalam bahaya. Sejarawan A.S. Tritton mencatat:

Satu waktu para dhimmi seakan bagai cacing yg dianiaya yg sepenuhnya tak berarti, dan diwaktu lainnya keluhan akan pengaruh jahat terhadap para muslim disekitarnya diajukan. Hukum2 dibuat, diamati utk satu waktu, dan kemudian dilupakan hingga sesuatu hal membuatnya muncul kembali sebagai peringatan bagi yg berwenang…Orang merasa bahwa jika kejadian2 ditentukan oleh logika, Islam pasti tetap akan menelan subjek2 agama tsb; tapi mereka (subjek2) bertahan, makin semangat meski terluka. [14]

Terluka, betul itu. Penghinaan mengambil banyak bentuk, tapi selalu ada. Sejarahan Phillip Hitti mencatat satu contoh terkenal dari abad 9: “Kalifah al-Mutawakkil ditahun 850 dan 854 menetapkan bahwa orang kristen dan yahudi harus menambahkan gambar2/patung2 kayu setan dirumah2 mereka, membuat kuburan2 mereka rata dengan tanah, memakai pakaian berwarna kuning, memakai dua tambalan warna kuning pada pakaian budak2 mereka.. dan hanya mengendarai keledai memakai sadel kayu yg ditandai oleh gambar dua delima” [15].

Belakangan, orang kristen dikekaisaran Ottoman, menurut sejarawan Steven Runciman, “tidak boleh lupa bahwa mereka adalah orang2 yg menjadi subjek” [16]. Ini meluas hingga pada pemberian/derma yg diberikan ketempat2 suci mereka oleh orang2 yg ditaklukan itu: Ketika orang turki mengambil alih konstantinopel ditahun 1453, menurut Hoca Sadeddin, guru Sultan Murad III dan Mehmed III diabad 16, “Gereja2 yg ada didalam kota dikosongkan dari patung2 sembahan mereka dan dibersihkan dari najis2 dan ketidak sucian akibat penyembahan berhala dan perusakan dari gambar2 serta pendirian tempat sholat islam dan mimbar.. banyak biara dan kapel menjadi tempat2 islam yg indah” [17].

Di abad 14, sosiologis pelopor Ibn Khaldun menjelaskan pilihan2 bagi orang kristen: “Pilihan bagi mereka adalah masuk islam, membayar pajak jizyah, atau mati” [18].

Kesengsaraan pembayar pajak

Membayar pajak spesial bagi non muslim, Jizya, tidaklah semudah mengisi/membayar pajak jaman sekarang. Kepala Syrian Orthodox Michael (1126-1199), mencatat betapa menghancurkannya beban ini bagi para kristen dijaman Kalifah Marwan II (744-750).

Yang menjadi perhatian utama dari Kalifah Marwan adalah untuk mengumpulkan emas dan beban ini ditanggungkan pada penduduk negara itu. Pasukannya menimbulkan banyak kesengsaraan pada penduduk: pukulan2, penjarahan, kebiadaban dan perkosaan pada wanita2 dihadapan suami2 mereka” [19].

Marwan tidak sendiri. Salah satu penerusnya, al-Mansur (754-775), menurut Michael, “mengeluarkan segala macam pajak bagi penduduk disemua tempat. Dia gandakan setiap jenis pajak itu bagi orang2 kristen” [20].

Pembayaran jizya sering dilakukan dg cara yg aneh dan menghina, dimana pegawai pajak muslim memukul para dhimmi dikepala atau dibelakang leher. Tritton menjelaskan, “Para dhimmi harus merasa bahwa dia adalah orang yg lebih rendah derajatnya waktu membayar, jangan diperlakukan dg hormat.” [21]. Ini untuk memastikan bahwa dhimmi itu merasa `takluk’, seperti yg dititahkan dalam Quran 9.29. Komentator Quran abad 12 Zamakhshari bahkan mengarahkan bahwa jizya harus dikumpulkan “dg cara meremehkan dan menghina” [22]. Ahli hukum Shafi’I abad 13 an-Nawawi mengarahkan bahwa “kafir yg mau membayar pajaknya harus diperlakukan dg hina oleh pengumpul pajaknya: sang pengumpul pajak tetap duduk dan kafir tetap berdiri didepannya, kepala tertunduk dan punggung membungkuk. Kafir itu sendiri yang harus menaruh uang pada timbangan, yg mana sang pengumpul lalu menarik janggutnya dan menampar kedua pipinya” [23].

Menurut sejarawan Bat Ye’or, pukulan ini sebagai bagian dari proses pembayaran “proses ini tetap bertahan dan tidak berubah hingga awal abad 20, dan secara ritual dilakukan dinegara2 Arab Muslim, seperti Yaman dan Maroko, dimana pajak itu terus berlanjut sebagai pemerasan dari orang2 Yahudi” [24].

Non muslim banyak yg masuk islam untuk menghindari pajak ini: Itu sebabnya kenapa populasi kristen yg besar di Afrika Utara dan Timur Tengah pada akhirnya menjadi sangat sedikit, menjadi minoritas yg telah diruntuhkan moralnya. Menurut pengelana Eropa abad 17 Jean-Baptiste Tavernier, di Cyprus tahun 1651 “lebih dari empat ratus orang Kristen menjadi pengikut Muhammad karena mereka tidak mampu membayar kharaj (pajak tanah yg juga dibebankan pada non muslim, kadang bersamaan dg Jizya), upeti kepada Tuan Tanah yg dipungut dari orang2 kristen dinegaranya. ” Tahun berikutnya di Baghdad, ketika orang kristen “harus membayar kharaj mereka. Mereka terpaksa harus menjual anak2 mereka ke orang turki utk membayar itu” [25].

Tetapi ditempat lain, masuk islam dilarang bagi para dhimmi, karena dg begitu akan menghancurkan pengumpulan pajak ditempat itu.

Terlalu keras dipaksa

Pada akhirnya, semua penindasan2 ini menimbulkan reaksi. Sejarawan Apostolos E. Vacalopoulos menjelaskan sekumpulan instruksi yg dibuat utk keadaan tertentu disekitar Yunani pada awal abad 19, utk berjuang bagi kemerdekaan:

Revolusi 1821 tidak lain adalah fase besar terakhir dari perlawanan orang2 yunani terhadap dominasi Ottoman; sebuah perang yg tidak diumumkan terlebih dahulu, sebuah perang yg sangat keras, yg sudah dimulai ditahun pertama. Kebrutalan rejim otokratik, yg ditunjukkan oleh penjarahan ekonomi, pembusukan intelektual dan kemuduran kebudayaan, secara pasti menimbulkan oposisi. Pembatasan segala hal, pajak yg tidak manusiawi, buruh2 yg dipaksa, penganiayaan, kekerasan, penahanan, kematian, penculikan anak2 gadis dan anak lelaki dan penahanan mereka utk dijadikan harem dan segala macam kekejian dan kekerasan seks, bersamaan dg banyaknya penganiayaan2 yg – semua ini menjadi tantangan terus menerus terhadap insting pertahanan hidup dan mereka menentang semua perbuatan sopan umat manusia. Orang2 yunani dg pahit marah terhadap semua penghinaan ini dan kemarahan serta rasa frustasi mereka mendorong mereka untuk mengangkat senjata memberontak. Tidak ada hal yg dibesar2kan dalam pernyataan yg dibuat oleh gubernur Ottoman di Arta, ketika dia diminta menjelaskan keganasan perlawanan para pemberontak. Katanya: “Kami telah berbuat salah pada para dhimmi (orang2 kristen) dan menghancurkan baik kekayaan maupun kehormatan mereka; mereka menjadi putus asa dan mengangkat senjata. Ini baru permulaan dan pada akhirnya akan berujung pada kehancuran dari kekaisaran kita.” Penderitaan orang yunani dibawah pemerintahan Ottoman dg demikian menjadi dasar penyebab perlawanan; rangsangan psikologis diberikan oleh keadaan. [27]

Sekarang para teroris jihad mengeluh bahwa barat telah menghancurkan kekayaan dan kehormatan mereka; tapi, seraya mereka terus melakukan tindakan kekerasan terhadap orang2 tak bersalah – seperti kejadian 11 September 2001 dan banyak lagi serangan lain – keluhan ini hanya omong kosong belaka. Bahkan ada kemungkinan bahwa tindakan kekerasan yg terus dilakukan ini pada akhirnya akan membangkitkan perlawanan terhadap islamisasi secara langsung dan jauh lebih kuat daripada yg selama ini kita lihat.

Mitos PC: Orang2 Yahudi dulu tinggal ditanah Muslim jauh lebih baik daripada orang Kristen Eropa

Para juru bicara PC menegaskan setiap hari bahwa bahkan jika dhimma itu benar menjadikan orang yahudi dan kristen subjek terhadap diskriminasi dan gangguan, hal itu sebenarnya tidaklah seburuk perlakuan orang2 kristen eropa yg terhadap orang2 yahudi. Sejarawan Paul Johnson menjelaskan: “Teorinya .. status dhimmi orang yahudi dibawah pemerintahan muslim jauh lebih buruk dibanding ketika ada dibawah pemerintahan kristen, karena adalah hak mereka untuk mempraktekan agama mereka, dan bahkan juga hak mereka untuk hidup, bisa setiap waktu dicabut. Tapi dalam prakteknya, para pejuang Arab yg menaklukan setengah dunia beradab dg begitu cepat di abad ke-7 dan 8 tidak punya keinginan untuk memusnahkan komunitas orang yahudi yg menjadi pengusaha dan terpelajar yg memberi mereka pemasukan pajak yg besar dan melayani mereka dalam banyak cara.” [28].

Muhammad vs. Yesus

“dan Ia mengirim beberapa utusan mendahului Dia. Mereka itu pergi, lalu masuk ke suatu desa orang Samaria untuk mempersiapkan segala sesuatu bagi-Nya. Tetapi orang-orang Samaria itu tidak mau menerima Dia, karena perjalanan-Nya menuju Yerusalem. Ketika dua murid-Nya, yaitu Yakobus dan Yohanes, melihat hal itu, mereka berkata: “Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?” Akan tetapi Ia berpaling dan menegor mereka.” Lukas 9:52-55

“Diceritakan ibn Abbas: Ketika ayat “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat,” [Q 26.214] diturunkan, Rasul keluar dan lalu dia turun dari gunung As Safa, dia berteriak, `Ya Sabahah!” orang2 berkata, “Siapa itu?” lalu mereka berkumpul mengelilinginya, dimana dia berkata, “Kalian lihat tidak? Jika aku beritahukan padamu bahwa pasukan berkuda sedang maju disisi gunung, akankah kalian percaya?” Mereka berkata, “Kami belum pernah mendengarmu bohong.” Lalu dia berkata, “Aku pembawa peringatan bagimu akan azab hukuman yg akan datang.” Abu Lahab berkata, “Musnahlah kau! Kau kumpulkan kami hanya untuk ini?” Lalu Abu Lahab pergi. Jadi Surat Al-Masad: “Binasalah kedua tangan Abu Lahab!” diturunkan.” Surat al-Masad adalah surat Quran nomor 111: Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut. (Quran 111.1-5)

Tentu saja dalam terminologi pembatasan hukum, hukum2 muslim jauh lebih ganas bagi orang yahudi dibanding pemerintahan kristen. Ditahun 1272, Paus Gregory X mengulang apa yg ditetapkan oleh Paus Gregory I ditahun 598: Yahudi “tidak boleh menderita kekurangan apapun dalam keistimewaan yg telah diberikan pada mereka.” Gregory X juga mengulang mandat paus sebelumnya yg melarang pemaksaan agama (seperti juga dalam hukum islam) dan memerintahkan bahwa “orang2 kristen tidak boleh menyita, menawan, melukai, menyiksa, memotong, membunuh atau melakukan kekerasan pada mereka; terlebih lagi, tidak seorangpun boleh, kecuali dg tindakan pengadilan yg berwenang dinegara tsb, mengubah kebiasaan2 baik ditanah mereka tinggal hanya dg tujuan utk mengambil uang atau harta mereka.”

Sejauh ini, hal ini mirip dg `perlindungan’ islamik yg ditujukan pada mereka. Tapi lalu Gregory menambahkan. “Sebagai tambahan, tak seorangpun boleh mengganggu mereka dg cara apapun dalam penyelenggaraan festival2 mereka, baik siang ataupun malam, dg pentungan atau batu atau apapun.” Ini jelas membedakannya dari larangan Syariat terhadap perayaan festival2 religius mereka dimuka umum. Juga, melihat fakta bahwa seorang kesaksian yahudi tidak berarti terhadap seorang kristen, paus juga melarang kristen utk bersaksi terhadap orang yahudi – sementara syariat melarang seorang dhimmi utk bersaksi terhadap seorang muslim, tapi tidak melarang muslim yg bersaksi terhadap seroang dhimmi. [31]

Ini tidak bilang bahwa tidak terjadi penganiayaan. Perlindungan akan orang yahudi, seperti yg ditetapkan oleh Gregory X, sering diterapkan dalam praktek. Tapi juga bukan sebuah kebetulan bahwa diawal jaman modern, mayoritas besar orang yahudilah yg tinggal dibarat, bukan dalam pemerintahan islam. Alasan2 untuk ini mungkin karena ditanah orang kristenlah mereka, meskipun tidak sempurna diterapkannya, dihargai kesamaan hak dan derajat semua orang – sebuah ide yg bertentangan dg teologi islam dan Quran dan ide yg tidak pernah sekalipun berakar didunia islam.

Mitos PC: Dhimmitude adalah perihal dimasa lalu

Tapi pastinya semua ini adalah sebuah pertanyaan tentang sejarah, bukan? Para pembela islam telah bertahan bahwa tak seorangpun meminta dikembalikannya sistem dhimma saat ini. Kami lihat hal itu tidak benar. Salah juga asumsi yg menyebar bahwa dhimmitude itu tidak ditemukan didunia islam saat ini. Karena Syariat tidak sepenuhnya diterapkan dimanapun kecuali di Arab Saudi (dimana non muslim tidak boleh mempraktekan agama mereka sama sekali) dan Iran, hukum2 tentang dhimma tidak sepenuhnya punya efek didunia islam. Tapi, elemen2nya tetap ada dalam buku2 ditiap negara2 muslim. Didunia islam saat ini tak ada non muslim yg menikmati kesetaraan hak sepenuhnya dg muslim.

Kejadian yg baru dan menggambarkan hal tersebut adalah dari Mesir:

– Murtad – meninggalkan agama – adalah tindakan yg terancam hukuman mati dalam hukum islam. Pegawai mesir menangkap 22 orang kristen, banyak diantara mereka asalnya muslim yg dg diam2 beralih masuk kristen, Oktober 2003. Mereka ditanya dan disiksa; pihak berwenang curiga beberapa dari antara mereka mencoba membawa orang2 muslim agar masuk kristen [32].

– Desember 2003, Gereja Assiout dirusak, dg ijin pihak berwajib, agar anggota gereja tsb membangun gedung baru. Tapi sebelum mereka membangun yg baru, ijin bangunannya dicabut – dg menyebut larangan dhimmi untuk memperbaiki gereja atau membangun gereja baru. [33]

– 25 November 2003, Boulos Farid Rezek-Allah Awad, seorang kristen koptik yg menikah dg seorang islam yg masuk kristen, ditangkap ketika berusaha meninggalkan negaranya dan ditahan selama 12 jam. Ketika polisi Mesir bertanya mengenai istrinya, Rezek-Allah bilang istrinya telah keluar mesir. Mungkin sadar akan hukuman mati bagi murtad, polisi itu menjawab, “Akan kubawa kembali istrimu dan kupotong2 jadi kecil dihadapanmu. ” [36] Beberapa bulan kemudian, Rezek Allah diijinkan meninggalkan Mesir dan menetap di Kanada.

Dari Pakistan:

– November 2003, Polisi Pakistan menangkap Anwar Masih, seorang kristen, dg tuduhan penghujatan. Menurut harian Daily Times Pakistan, Masih mulai mendikusikan islam dg seorang tetangga muslimnya, Naseer. “Selama diskusi, Masih marah dan menghujat. Naseer menceritakan diskusi itu pada ibunya, Attaullah dan Younas Salfi. Ketiga orang itu kemudian mengumpulkan orang2 lain dan menimpuki rumah Masih, ketika polisi sampai mereka tidak mengacuhkan penimpukan ini dan menangkap Masih.” [36]

– Bulan berikutnya, sebuah gereja di dusun Dajkot, Pakistan diserang ketika kebaktian oleh sekelompok muslim yg berteriak, “Kafir, berhenti memuja dan terimalah Islam!” menurut harian Pakistan Christian Post, massa “memasuki gereja dan memukuli orang2 disana. Para muslim merusak kitab2 suci dan menghancurkan apapun dalam gereja itu.” Tapi, polisi “menolak menulis laporan tentang ini,” dan dirumah sakit, doktor muslimpun mengacuhkan luka2 orang kristen karena diperintahkan oleh ulama setempat. [37].

-Mei 2004, seorang kristen lain dituduh atas penghujatan, Samuel Masih, dipukuli hingga meninggal memakai palu oleh polisi muslim ketika dia terbaring dirumah sakit karena menderita tbc [38].

Dan dari Kuwait:

Hussein Qambar Ali, seorang kuwait, masuk kristen dari islam tahun 1990. Meski undang2 Kuwait menjamin kebebasan beragama dan tidak menyatakan apapun tentang larangan tradisi islam akan pindah agama, dia ditangkap dan diadili utk pemurtadan. Selama pengadilan, penuntut mengumumkan bahwa Syariat berlaku atas kode hukum sekular di Kuwait: “Dg sedih saya harus katakan bahwa hukum kriminal kita tidak termasuk hukuman mati bagi murtad. Fakta bahwa undang2, dalam pendapat saya yg rendah, tidak dapat memaksakan hukuman mati bagi murtad seperti apa yg Allah kita dan utusanNya putuskan. Yang harus menetapkan keputusan mengenai murtad adalah: Kitab kita, Sunna, perjanjian nabi dan undang2 yg diberikan Allah” [39].

Mitos PC: Islam menghargai budaya pra-islam dinegara2 muslim

Islam tidak hanya mencemarkan dan tidak menghargai non muslim, tapi juga menuntun para muslim untuk menjelekan dan merendahkan budaya2 negara mereka sebelum islam masuk. “Ditahun 637 SM.,” kata penulis pemenang Nobel V.S. Naipaul, “Hanya lima tahun setelah kematian nabi, orang2 Arab mulai menerjang Persia, dan semua masa lalu Persia yg besar, masa2 sebelum islam, dinyatakan sebagai jaman kekelaman” [40].

Tidak ada yg aneh dalam hal ini. Ini adalah sebuah pemandangan yg telah berulang-ulang terjadi sepanjang sejarah islam. Teologi islam begitu merendahkan kafir hingga tidak ada tempat dalam budaya islam untuk kelonggaran dalam pencapaian2 mereka. Para muslim menyebut jaman sebelum islam masuk, dinegara mana saja yg mereka masuki, sebagai jaman Jahiliyah, atau kebodohan. Naipaul menjelaskan bahwa “jaman sebelum islam adalah jaman kegelapan: itu jadi bagian dari teologi muslim. Sejarah harus melayani teologi.” Sebuah contoh dari ini adalah bagaimana Pakistan merendahkan situs arkeologi terkenal di Mohenjo Daro, melihat nilai2 disitu hanya sebagai kesempatan utk mengajarkan islam:

Sama seperti saat ini: Muslim merendahkan situs2 kuno dari agama lain

Para muslim di Cyprus Utara yg diduduki Turki berusaha merubah sebuah biara abad ke-4 di San Makar menjadi sebuah Hotel. Di Libya, Kolonel Qaddafi merubah katedral katolik Tripoli menjadi sebuah mesjid. Dan di Afghanistan, tentu saja, pemerintah Taliban mendinamit patung Buddha terkenal di Bamiyan pada Maret 2001. Mungkinkah monumen2 kristen di Eropa bernasib sama?

Jika para pejuang jihad, yg lebih berenergi sekarang dibanding dulu2, bisa merintis jalan kesana, mereka pasti akan merusak monumen2 itu. Edward Gibbon, penulis dari The Decline and Fall of the Roman Empire, meneliti bahwa jika serbuan para muslim abad-8 ke Perancis sukses, “mungkin Tafsir Quran sekarang diajarkan di sekolah2 Oxford dan lulusan2nya mungkin berdemontrasi kepada orang2 yg disunat kesucian dan kebenaran wahyunya Muhammad.” [42]

Hari itu mungkin bisa datang

Sebuah surat dari Harian Dawn menawarkan ide2nya utk situs itu. Ayat2 dari Quran, kata penulisnya, harus diukir dan dipasang di Mohenjo Daro pada “tempat yg tepat”: “Katakanlah (pada mereka, O Muhammad):
Katakan (O Muhammad, pada kaum kafir): Perjalanan ditanah ini dan melihat akibat alam terhadap mereka yg datang sebelum kamu. Mereka sekalian adalah penyembah berhala” [41].