Kenapa kehidupan Muhammad, nabinya Islam, jadi penting saat ini? 14 abad telah berlalu sejak dia lahir. Jutaan orang2 muslim telah hidup dan mati sejak saat itu dan banyak para pemimpin bangkit membimbing orang2 percaya, termasuk keturunan2 sang nabi itu sendiri. Pastilah Islam, seperti juga agama2 lain, telah berubah selama 1400 tahun ini.

Ini jawabnya kenapa kehidupan Muhammad jadi punya penting artinya : Bertentangan dg apa yg para sekularis ingin utk kita percaya, bahwa agama2 tidak sepenuhnya ditentukan (atau disesatkan) oleh para pengikutnya seiring berlalunya waktu. Kehidupan dan perkataan dari para pendirinya tetap jadi pusat utama, tidak jadi masalah diabad berapa jaman dahulu mereka hidup. Gagasan darimana orang2 percaya membentuk sebuah agama malahan dihasilkan dari filosofi dekonstruksionisme yg menjadi mode ditahun 1960an, yg mengajarkan bahwa perkataan tertulis tidak punya arti lain selain apa yg diberikan pada mereka oleh pembacanya. Hal yg sama pentingnya (dan tentu saja bukan sebuah kebenaran religius); Arti yg dimiliki oleh seseorang sama dg arti yg dimiliki orang lain. Akhirnya, menurut teori dekonstruksionisme, kita semua menciptakan versi `kebenaran’ kita sendiri, yg tidaklah lebih baik atau lebih buruk dari versi orang lain.

Tapi bagi orang yg religius dijalan2 kota Chicago, Roma, Yerusalem, Damaskus, Kalkuta, dan Bangkok, kalimat2 dari Yesus, Musa, Muhammad, Krishna dan Buddha punya arti yg jauh lebih besar dibanding arti2 yg dimiliki oleh para individu yg membaca karya2 atau tulisan2 tentang mereka. Dan bahkan bagi pembaca yg kurang imannya, perkataan2 dari para guru besar religius ini jelas masing2 tidak sama pengertiannya.

Itu sebabnya saya tempatkan sebuah sidebar “Muhammad vs. Jesus” ditiap bab utk menegaskan fallacy dari mereka yg mengklaim bahwa Islam dan kristen – dan semua agama2 tradisi lainnya, dalam masalah itu – pada dasarnya mempunyai kemampuan yg sama utk mengilhami kebaikan atau kejahatan. Ini juga berarti utk menegaskan bahwa Barat, yg dibangun atas dasar kekristenan, layak dibela, meskipun jika kita hidup dijaman yg disebut era post-kristen. Selanjutnya, melalui kata2 dari Muhammad dan Yesus, kita dapat menarik sebuah perbedaan antara prinsip utama yg membimbing muslim dan kristen. Prinsip2 ini penting. Para pengikut Muhammad membaca perkataannya dan meniru perbuatan2nya, yg mengarah pada pengungkapan iman yg sangat berbeda dari kristen. Orang tidak perlu melihat jauh2 utk melihat bahwa kehidupan dalam sebuah negara islam berbeda dari kehidupan di amerika atau inggris. Perbedaannya dimulai dg Muhammad. Saat ini ketika begitu banyak perkataan dan perbuatan2 Muhammad dipakai utk membenarkan tindakan2 kekerasan dan pertumpahan darah, adalah penting utk terbiasa dg figur penting ini.

Bagi banyak orang di Barat, Muhammad tetap menjadi mister daripada figur2 agama lainnya. Banyak orang tahu bahwa Musa menerima 10 Perintah di Gunung Sinai, bahwa Yesus mati di kayu salib di Cavalry dan dibangkitkan dari kematian, dan mungkin tahu Budha duduk dibawah sebuah pohon dan menerima pencerahan. Tapi sedikit yg tahu tentang Muhammad, dan bahkan itupun masih diperdebatkan. Oleh karena itu, yg berikut ini akan diambil melulu dari kitab2 Islam.

Fakta dasar pertama: Muhammad ibn Abdallah ibn Abd al-Muttalib (570-632), nabi Islam, adalah Orang yg suka perang. Dia ajarkan para pengikutnya utk bertempur bagi agama barunya. Dia bilang bahwa tuhan mereka, Allah, memerintahkan mereka utk angkat senjata. Dan Muhammad, katanya tidak hanya duduk dibelakang meja, telah bertempur dalam banyak pertempuran. Fakta2 ini penting bagi siapapun yg sungguh2 ingin mengerti apa penyebab Perang salib berabad2 lalu atau, dijaman kita, apa yg menyebabkan kebangkitan gerakan Jihad Global.

Dalam rangkaian perang2 ini, Muhammad mengucapkan banyak prinsip2 yg diikuti para muslim jaman sekarang. Dg begitu, sangat penting utk mencatat hal2 penting dalam perang2nya Muhammad, yg dapat memberikan pengertian mendalam pada Judul2 Muka koran2 saat ini – wawasan yg terus, sedihnya, gagal dimengerti oleh para analis dan para ahli.

Muhammad Sang Perampok

Muhammad telah berpengalaman sebagai pejuang perang sebelum dia mengambil peran nabi. Dia ikut dalam dua perang lokal antara sukunya Quraish melawan rival tetangganya Banu Hawazin. Tapi peran uniknya sebagai nabi-pejuang akan muncul belakangan. Setelah menerima wahyu2 dari Allah melalui malaikat Jibril ditahun 610, dia mulai mengkhotbahi sukunya agar menyembah satu tuhan dan menerima posisinya sebagai nabi. Tapi dia tidak diterima dg baik oleh saudara2 sesukunya Quraish di Mekah, yg bereaksi menghina pada panggilan kenabiannya dan menolak membuang tuhan2 mereka. Frustasi dan kemarahan Muhammad muncul, ketika pamannya sendiri, Abu Lahab, menolak pesan2nya, Muhammad mengutuk dia dan istrinya dalam bahasa kasar yg disimpan dalam ayat Quran, kitab suci Islam: Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut. (Quran 111:1-5)

Pada akhirnya, Muhammad merubah kalimat2 kekerasan menjadi perbuatan2 yg sama kerasnya. Ditahun 622, dia akhirnya melarikan diri dari kampung halamannya Mekah ke kota terdekat, Medina, dimana sekelompok pejuang suku menerima dia sebagai nabi dan menyatakan setia padanya. Di Medina, para muslim baru ini mulai merampoki karavan kaum Quraish, dg Muhammad sendiri yg memimpin banyak perampokan2 ini. Perampokan ini membuat munculnya gerakan muslim terbantu dan menolong membentuk teologi islam – seperti satu kejadian yg terkenal keji ketika sekelompok muslim merampok karavan Quraish di Nakhla, sebuah persinggahan tidak jauh dari Mekah. Para perampok menyerang karavan disaat bulan suci Rajab, dimana pertempuran dilarang. Ketika mereka kembali ke kemah muslim penuh dg barang rampasan, Muhammad menolak membagi barang rampasan tsb atau tidak mau disangkut pautkan dg perbuatan itu, dia hanya berkata, “Aku tidak memerintahkan kamu utk bertempur dibulan suci.” [1]

Sama seperti saat ini : Membunuh orang sipil.

Ketika Osama bin Laden membunuh sipil tak bersalah di WTC pada 11 Sept 2001, dan kemudian teman2 religiusnya menangkap dan memancung sandera2 di Irak, Pembicara muslim Amerika menyatakan bahwa menjadikan orang2 tak bersalah menjadi sasaran itu dilarang oleh Islam. Hal ini menjadi perdebatan, karena beberapa otoritas hukum islami mengijinkan membunuh rakyat sipil jika terlihat mereka membantu musuh2 islam dalam perang [2]. Tapi, bahkan jika prinsip ini betul, ini akan memberi jalan bagi pembenaran yg terjadi dalam perampokan di Nakhla: “penolakan/penindas an jauh lebih buruk dari pembunuhan.” Dan dg begitu, utk bertempur melawan penindasan para muslim, dg cara apapun, adalah kebaikan tertinggi.

Tapi kemudian sebuah wahyu baru datang dari Allah, menjelaskan bahwa perlawanan kaum Quraish terhadap Muhammad adalah perbuatan yg jauh lebih buruk daripada pelanggaran di Bulan Suci. Dg kata lain, perampokan itu dibenarkan. “Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: “Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidilharam dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah. Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh. Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barang siapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (Quran 2.214). Dosa apapun yg dilakukan perampok di Nakhla ditutupi oleh penolakan kaum Quraish terhadap Muhammad.

Ini adalah wahyu yg sangat penting, karena ini membawa pada sebuah prinsip islamik yg terus berulang sepanjang jaman. Kebaikan jadi diartikan pada apapun yg berakibat baik bagi muslim, tanpa memandang apa hal itu melanggar moral atau hukum2 lain. Nilai2 moral yg ditanamkan dalam 10 Perintah, dan ajaran2 lain agama2 besar sebelum Islam, dikesampingkan demi sebuah prinsip yg jauh menjangkau dalam hal kemanfaatan.

Perang Badr

Segera setelah Nakhla, muncul peperangan besar pertama yg dijalani para muslim. Muhammad mendengar bahwa sekelompok besar karavan Quraish, penuh dg barang dan uang, datang dari Syria. “Ini karavan Quraish yg penuh berisi harta mereka,” dia katakan pada para pengikutnya. “Pergi dan serang, mungkin tuhan memberi ini sebagai mangsa.” [3] Dia berangkat kearah Mekah utk memimpin perampokan. Tapi kali ini kaum Quraish telah siap menghadapinya, mereka keluar menemui 300 pasukan Muhammad dg kekuatan hampir 1000 orang. Muhammad sepertinya tidak menduga jumlah sebanyak ini dan berteriak pada Allahnya dg gelisah, “O Allah, jika gerombolan ini mushan hari ini Engkau tidak akan dipuja lagi.” [4].

Meski jumlah besar mereka, Kaum Quraish dipukul mundur. Beberapa tradisi muslim mengatakan bahwa Muhammad sendiri ikut bertempur. Yg lain bilang bahwa dia menyemangati pasukannya dari pinggir. Dalam peristiwa apapun, menjadi sebuah kesempatan bagi dia utk melihat bertahun2 rasa frustasi, dendam dan kebencian terhadap kaumnya, yg menolaknya, terbalaskan. Salah satu pengikutnya belakangan menceritakan sebuah kutukan yg Muhammad ucapkan kepada pemimpin Quraish: “Nabi berkata, `O Allah! Hancurkan pemimpin2 Quraish, O Allah! Hancurkan Abu jahl bin Hisham, Utba bin Rabi’a, Shaiba bin Rabi’a, Uqba bin Abi Mu’ait, Umaiya bin Khalaf (atau Ubai bin Kalaf).” [5]

125). Wahyu lain dari Allah menegaskan bahwa karena kesalehan bukan kekuatan militer, yg membawa kemenangan di Badar: “Sesungguhnya telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu (bertempur). Segolongan berperang di jalan Allah dan (segolongan) yang lain kafir yang dengan mata kepala melihat (seakan-akan) orang-orang muslimin dua kali jumlah mereka. Allah menguatkan dengan bantuan-Nya siapa yang dikehendaki- Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati. (Q 3.13). Ayat Quran lain menyatakan bahwa para muslim hanyalah alat pasif pada perang Badar: “Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin itu untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang (yang sabar) di antaramu, mereka dapat mengalahkan seribu daripada orang-orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti. (Q 8.65).

Allah memberi pahala mereka yg diberinya kemenangan di Badar: Banyak sekali harta rampasan – begitu banyak, hingga hal itu menjadi benih pertikaian. Begitu memecah belah hal ini jadinya hingga Allah sendiri berkata tentang ini dalam sebuah Suratnya dalam Quran yg didedikasikan seluruhnya untuk penggambaran perang Badar: bab 8 yg berjudul Al Anfal, “Jarahan Perang”. Allah memperingatkan para muslim agar jangan menganggap harta rampasan yg dimenangkan dalam perang Badar adalah milik seseorang kecuali Muhammad: “Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah: “Harta rampasan perang itu kepunyaan Allah dan Rasul, sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah perhubungan di antara sesamamu, dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman”. (Q 8.1). Pada akhirnya, Muhammad membagikan harta rampasan diantara para muslim dg jumlah yg sama, ia menyimpan seperlima untuk dirinya sendiri: “Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnusabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan.” (Q 8.41). Allah menegaskan bahwa ini adalah pahala akan kesetiaan padaNya: “Maka makanlah dari sebagian rampasan perang yang telah kamu ambil itu, sebagai makanan yang halal lagi baik, dan bertakwalah kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q 8.69).

Dari sebuah komunitas kecil dan dibenci, para muslim sekarang adalah sebuah kekuatan yg oleh kaum Pagan di Arab harus diperhitungkan – dan mereka mulai menanamkan teror dihati para musuhnya. Muhammad mengklaim sebagai nabi terakhir dari Satu Tuhan, Tuhan asli yg muncul mensahkan dg sebuah kemenangan didalam perang yg kemungkinan menangnya sangat kecil. Dg kemenangan ini, sikap2 dan asumsi tertentu yg ditanamkan dalam pikiran2 para muslim, tetap ada dalam benak mereka hingga saat ini. Hal ini termasuk:

Allah akan memberi kemenangan bagi pengikutnya melawan musuh yg jauh lebih banyak dalam jumlah atau persenjataan, selama mereka tetap beriman pada perintah2nya.

Kemenangan membolehkan para muslim utk dg sah memiliki harta musuh sebagai rampasan perang.

Pembalasan dendam berdarah terhadap musuh tidak hanya dimiliki oleh Tuhan, tapi juga dimiliki mereka yg tunduk padaNya dibumi. Itulah arti dari kata Islam : tunduk.

Tahanan perang boleh dibunuh atas petunjuk pemimpin2 muslim.

Mereka yg menolak Islam adalah “makhluk seburuk-buruknya” (Q 98.6) dan dg begitu tidak layak diampuni.

Siapapun yg menghina atau bahkan melawan Muhammad atau pengikutnya layak mati dg cara memalukan – dg dipancung jika mungkin. (Ini sesuai dg perintah Allah utk “memotong tengkuk” dari “kafir” (Q 47.4)).

Diatas semua itu, perang Badar adalah contoh praktis pertama dari apa yg kemudian dikenal dalam islam sebagai doktrin Jihad – sebuah doktrin yg menjadi kunci pengertian dari Perang Salib dan juga konflik berdarah saat ini.

Pembunuhan dan Penipuan

Ibn Warraq tentang islam:
“Teori dan praktek Jihad tidak dibuat di Pentagon .… tapi diambil dari Quran, Hadits dan tradisi Islam. Para Liberal Barat khususnya para humanis, sulit mempercayai hal ini…sangat luar biasa begitu banyak jumlah orang yg menulis tentang 11 September tapi tidak menyebut-nyebut tentang Islam. Kita harus serius dg apa yg dikatakan para Islamis utk mengerti motivasi mereka, (bahwa) hal itu adalah menjadi kewajiban dan takdir ilahi bagi semua muslim utk bertempur dalam arti sebenarnya sampai hukum buatan manusia digantikan oleh hukum Tuhan, Syariat dan hukum Islam dan menaklukan seluruh dunia…Utk setiap teks yg dihasilkan para muslim liberal, para mullah akan menggunakan lusinan contoh2 yg berlawanan, (yg) secara tafsir, filosofi, dan sejarah jauh lebih absah.”

Dipenuhi kemenangan, Muhammad menaikan operasi perampokannya. Sikapnya juga makin keras kearah suku2 Yahudi didaerah itu, yg bertahan dalam kepercayaan mereka dan menolak Muhammad sebagai nabi tuhan. Dg penolakan ini, Panggilan kenabian Muhammad pada orang yahudi menjadi makin keji, dg menekankan penghukuman didunia yg sekarang (bukan dunia berikutnya). Dg melangkah kepusat keramaian pasar Banu Qaynuqa, sebuah suku yahudi yg mana telah menandatangani kontrak perjanjian gencatan senjata dgnya, dia mengumumkan kearah keramaian, “O yahudi, Berhati-hatilah jika tidak tuhan akan menurunkan azabnya seperti yg telah dia turunkan pada kaum Quraish dan menjadikan mereka muslim. Kalian tahu bahwa aku seorang nabi yg diutusnya – kalian akan temukan hal itu dalam kitab2mu dan perjanjian tuhan dg mu.” [11] Orang Yahudi Banu Qaynuqa tidak terbujuk, sehingga membuat sang nabi lebih frustasi. Dia mengepung mereka hingga mereka menawarkan diri utk menyerah tanpa syarat.

Bahkan setelah itupun kemarahan Muhammad tidak reda. Dia menemukan fokus baru utk hal itu dalam sebuah puisi Yahudi, Ka’b bin Al-Ashraf, yg, menurut penulis biografi Muhammad yg pertama, Ibn Ishaq, “menyusun ayat2 cinta yg berisi penghinaan akan sifat alami wanita2 muslim.” [12]. Muhammad bertanya pada para pengikutnya, “Siapa yg mau membunuh Ka’b bin al-Ashraf yg telah menyakiti Allah dan rasulnya?” [13]

Dia temukan seorang sukarelawan muslim muda yg bernama Muhammad bin Maslama: “O rasul allah! Maukah engkau jika aku yg membunuhnya? ” Setelah nabi menjawab, “Ya,” Muhammad bin Maslama meminta ijin dia utk berbohong untuk menipu K’ab bin Al-Ashraf agar masuk kedalam perangkapnya dan bisa disergap [14]. Nabi memberi ijinnya dan Muhammad bin Maslama menipu dan membunuh K’ab. [15]

Setelah pembunuhan K’ab, Muhammad menerbitkan sebuah perintah umum: “Bunuh yahudi manapun yg jatuh kedalam kekuasaanmu. ” Ini bukan perintah militer: korban pertama adalah seorang pedagang Yahudi, Ibn Sunayna, yg punya “hubungan bisnis dan sosial” dg para muslim. Sang pembunuh, Muhayissa, dimarahi karena pembunuhan ini oleh saudaranya Huwayissa, yg belum masuk islam. Muhayissa tidak menyesal. Dia bilang pada saudaranya, “Kalau saja yg memerintahkan saya membunuh dia memerintahkan saya utk membunuhmu akan saya potong kepalamu.”

Muhammad vs. Yesus.

“Cintai musuhmu dan berdoalah bagi mereka yg menganiayamu. ” Yesus (Matius 5.44)

Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan). ” Quran 8:60

Huwayissa terkesan: “Demi tuhan, sebuah agama yg dapat membuatmu sehebat ini!” Dia menjadi seorang muslim. [15] Dunia masih menyaksikan kehebatan2 seperti ini saat ini.

Pembalasan dendam dan Dalih2

Setelah dipermalukan di Badar, kaum Quraish menginginkan pembalasan. Mereka menyiapkan 3.000 pasukan melawan 1.000 muslim di Uhud. Muhammad memakai dua baju besi dan mengacungkan pedang, memimpin para muslim dalam peperangan. Tapi kali ini mereka dikalahkan. Nabi sendiri wajahnya berdarah dan sebuah giginya tanggal; desas desus bahkan beredar disekitar medan perang bahwa dia telah terbunuh. Ketika dia menemukan air utk mencuci darah diwajahnya, Muhammad bersumpah utk membalas: “Kemarahan tuhan sangat dasyat terhadap dia yg membuat wajah nabiNya berdarah.” [17] Ketika Abu Sufyan, pemimpin Quraish, mengejek para muslim, Muhammad tetap tidak mau menyerah dan menegaskan perbedaan yg tajam antara orang percaya dan orang kafir. Dia bilang pada letnannya Umar utk menjawab: “Allah maha tinggi lagi maha besar. Kita tidak sama. Kematian membawa kita ke surga; kematian kalian keneraka.” [18].

Sama seperti hari ini: Dalih2

Pola lain telah ditetapkan di Uhud dan dimainkan sepanjang sejarah: para muslim akan melihat penyerangan manapun sebagai alasan utk balas dendam, tidak peduli jika mereka yg memulai lebih dahulu. Dg pengertian licik tentang bagaimana utk menggeser opini publik, para pejihad dan sekutu mereka PC pada American Left hari ini mengunakan kejadian2 sekarang sebagai dalih utk membenarkan apa yg mereka lakukan : Lagi dan lagi mereka menggambarkan mereka seakan hanya bereaksi atas provokasi memilukan dari musuh2 islam. Dg ini mereka dapat dukungan dan menggeser opini publik.

Kebijakan konvensional diantara spektrum politik yg herannya sangat luas saat ini menyatakan bahwa gerakan jihad global adalah sebuah jawaban bagi provokasi2 atau lainnya: penyerangan ke Iraq, pendirian negara Israel, penggulingan Mossadegh Iran – atau serangan yg lebih umum seperti “Neo Kolonialisme America” atau “hasrat akan minyak.” Mereka yg khususnya lupa akan sejarah menyalahkan pada epifenomena baru seperti skandal penjara Abu Ghraib, yg menimbulkan bayang2 diatas kehadiran Amerika di Irak tahun 2004. Tapi para pejihad telah bertempur jauh lebih lama sebelum Abu Ghraib, Irak, Israel atau kemerdekaan Amerika. Tentu saja, mereka telah bertempur dan mencontoh nabi pejuang mereka sejak abad ke-tujuh, berdalih bahwa tindakan2 mereka adalah jawaban atas kejahatan dari musuh2nya sejak Muhammad menemukan tubuh terpotong2 pamannya.

Muhammad bersumpah utk balas dendam lagi ketika dia temuka tubuh pamannya Hamza. Hamza terbunuh di Uhud dan tubuhnya terpotong-potong dg sangat mengerikan oleh seorang wanita, Hind bint `Utba, yg memotong hidung, telinga dan memakan sebagian dari hati Hamza. Dia melakukan ini utk membalas kematian ayahnya, saudara, paman dan anak tertuanya di Badar. Nabi tidak tergerak hatinya dg kenyataan bahwa wanita itu melakukan ini semua karena membalas dendam: “Jika tuhan memberiku kemenangan atas Quraysh dimasa depan,” dia berkata, “aku akan memotong-motong 30 orang mereka.” Tersentuh oleh duka dan kemarahannya, para pengikutnya bersumpah yg sama: “Demi Allah, jika dia memberi kemenangan atas mereka dikemudian hari kami akan memotong-motong tubuh mereka dimana tidak ada seorang Arabpun yg pernah melakukan pemotongan yg demikian.” [19].

Dalam kemenangan dan Kekalahan, islam lagi

Kalah di Uhud, sementara itu, tidak membuat iman muslim goyah atau hilang semangat. Allah mengatakan mereka akan memberi kemenangan lain jika mereka mematuhi Dia: “Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai. Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan di antara kamu ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka untuk menguji kamu; dan sesungguhnya Allah telah memaafkan kamu. Dan Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas orang-orang yang beriman.” (Q 3.152).

Sama seperti saat ini : Tsunami memanggil lebih banyak islam

Setelah tsunami menghancurkan Pasifik selatan pada 26 Dec 2004, Australia dan Amerika sendiri mengucurkan lebih dari satu miyar dollar bantuan. Negara2 Arab yg basah oleh minyak bumi – Arab Saudi, Qatar, UAE, Kuwait, Algeria, Bahrain dan Libya – digabungkan memberi bantuan kurang dari sepersepuluh jumlah ini. Satu alasannya adalah: guru2 islam menghubungkan tsunami pada dosa2 yg dilakukan oleh para kafir dan muslim di Indonesia yg mayoritas muslim. Seperti yg dikatakan petinggi Saudi, “ini terjadi dihari natal ketika para pezinah dan orang2 korup dari seluruh dunia datang utk merayakan perzinahan dan penyimpangan seksual.” [21]

Disini lagi lagi sebuah pola dibentuk: Ketika sesuatu berubah jadi buruk bagi para muslim, ini adalah hukuman karena tidak sungguh2 beriman pada Islam. Ditahun 1948, Sayyid Qutb, penyusun teori ternama dari Persaudaraan Muslim, yg membuat perbedaan dg menjadi kelompok teroris islam modern pertama, mengumumkan kepada dunia islam: “Kita hanya perlu mencari untuk melihat bahwa situasi sosial kita seburuk ini.” Tapi “kita terus mengesampingkan warisan spiritual kita, sumbangan intelektual kita, dan semua solusi2 yg mungkin saja akan diungkapkan hanya dg melihat sekilas akan hal ini; kita kesampingkan prinsip dan doktrin fundamental kita dan kita bawa masuk demokrasi, sosialisme atau komunisme.” [20] Dg kata lain, islam sendiri menjamin sukses dan utk mengabaikannya akan membawa kegagalan.

Hubungan teologi antara kemenangan dan kepatuhan serta kekalahan dan ketidak patuhan diperkuat lagi setelah para muslim menang dalam peperangan Parit ditahun 627. Muhammad lagi menerima sebuah wahyu yg menghubungkan kemenangan ini dg keterlibatan supernatural dari Allah: “Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikaruniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya. Dan adalah Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan.” (Q 33.9).

Mitos PC: Kita bisa negosiasi dg orang2 ini

Prinsip kunci islam lainnya diformulasikan dg kejadian2 yg mengelilingi perjanjian Hudaybiyya. Ditahun 628, Muhammad mendapat penglihatan yg mana dia melakukan ziarah ke Mekah – sebuah kebiasaan kaum Pagan yg dia ingin jadikan bagian dari Islam, tapi sejauh ini tidak bisa karena penguasaan kaum Quraish atas kota itu. Dia arahkan para muslim utk melakukan ziarah ke Mekah, dan maju menuju kota itu bersama 1.500 orang. Kaum Quraish menemuinya diluar kota, dan kedua pihak memutuskan sebuah perjanjian (hudna) utk 10 tahun masa berlakunya, perjanjian Hudaybiyya.

Para muslim setuju utk kembali kerumah tanpa melakukan ziarah, dan kaum Quraish akan mengijinkan mereka melakukan ziarah haji tsb ditahun berikutnya. Muhammad mengejutkan pengikutnya dg setuju akan syarat2 yg kelihatannya sangat tidak menguntungkan bagi para muslim: Mereka yg lari dari kaum Quraish dan mencari perlindungan dari para muslim oleh muslim akan dikembalikan pd kaum Quraish, sementara yg melarikan diri dari muslim dan mencari perlindungan dari Quraish tidak akan dikembalikan kepada muslim. Seorang perunding Quraish, Suhayl bin Amr, bahkan memaksa Muhammad agar tidak menyebut dirinya sebagai “Muhammad, Rasul Allah.” Kata Suhayl, “Jika aku menyaksikan sendiri bahwa kau Rasul Allah aku tidak akan melawanmu. Tulis namamu dan nama ayahmu.” Dg kekecewaan pengikutnya, Muhammad melakukan ini.

Sebuah buku yg seharusnya tidak anda baca

A. Guillaume, The Life of Muhammad: A Translation of ibn Ishaq’s Sirat Rasul Allah, Oxford University Press, 1955. Sebuah terjemahan inggris dari biografi awal dari Muhammad – ditulis oleh seorang muslim saleh. Hampir setiap halamannya berisi hal2 yg membantah mitos PC tentang Muhammad yg damai dan bersih.

Lalu, berlawanan dari semua yg jelas kelihatan, dia berkeras bahwa para muslim telah menang, dan mengeluarkan wahyu dari dari Allah: “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata,” (Q 48.1). Dia berjanji bahwa para pengikutnya akan mendapat banyak harta rampasan: “Sesungguhnya Allah telah rida terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dengan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya). Serta harta rampasan yang banyak yang dapat mereka ambil. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Allah menjanjikan kepada kamu harta rampasan yang banyak yang dapat kamu ambil, maka disegerakan- Nya harta rampasan ini untukmu dan Dia menahan tangan manusia dari (membinasakan) mu (agar kamu mensyukuri-Nya) dan agar hal itu menjadi bukti bagi orang-orang mukmin dan agar Dia menunjuki kamu kepada jalan yang lurus. (Q 48:18-20).

Jika satu dari para pengikutnya masih skeptis, rasa takut mereka segera akan dihilangkan. Seroang wanita Quraish, Umm Kulthum, bergabung dg para muslim di Medina; dua saudaranya menemui Muhammad, meminta Umm Khultum kembali, “sesuai dg persetujuan antara dia dan kaum Quraish di Hudaybiya.” [22] Muhammad menolak karena Allah melarangnya. Dia memberi Wahyu baru baginya: “Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu

perempuan-perempuan yang beriman, maka hendaklah kamu uji mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka; maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada orang-orang kafir. (Q 60.10).

Dengan menolak mengembalikan Ummi Kulthum kekaum Quraish, Muhammad berarti melanggar perjanjian. Meski para pembela muslim mengklaim sepanjang sejarah bahwa Quraishlah yg pertama melanggarnya, insiden ini terjadi sebelum pelanggaran perjanjian oleh kaum Quraish dilakukan. Lagipula, melanggar perjanjian menegaskan prinsip bahwa tak ada hal yg baik kecuali apa yg menguntungkan bagi Islam, dan tak ada hal yg jahat kecuali apa yg menghalangi Islam. Sekali perjanjian secara formal dilanggar, para ahli hukum islam mengucapkan prinsip bahwa, pada umumnya, gencatan senjata ditanda tangani utk tidak lebih dari 10 tahun dan hanya dilakukan demi tujuan memberi waktu agar kekuatan muslim yg lemah menjadi kuat.

Kejadian2 berikutnya menggambarkan akibat yg buruk dari prinsip2 ini.