oleh: Juliet Rix

Maryam Namazie, ketua Konsul Murtadin Inggris, berkata bahwa hak azasi adalah bagi setiap orang, dan bukannya bagi agama atau kepercayaan.

Bayangkan nih, kata Maryam Namazie: “Seorang anak perempuan kecil dikerudungi dari kepala sampai jari kakinya setiap hari. Kecuali bagian muka dan tapak tangan, seluruh tubuh ditutupi karena demi mencegah pria memandangnya dengan nafsu berahi. Di sekolah, gadis cilik ini belajar bahwa derajatnya lebih rendah daripada seorang anak laki. Dia tidak boleh berdansa, berenang, menjemur kulitnya di bawah sinar matahari, atau menikmati angin memilir rambutnya. Hal ini sudah jelas tidak dapat diterima, tapi pada kenyataannya hal ini malah dibiarkan saja terjadi jika dilakukan atas nama agama.”

Namazie adalah pendiri Konsul Murtadin Inggris (Council of Ex-Muslims in Britain (CEMB)) yang mulai aktif sejak pertengahan tahun lalu. Di hari Senin – dalam rangka merayakan seabad Hari Wanita Internasional – dia bicara di sebuah konferensi tentang Islam Politik dan Hak2 Wanita, dan dia menyelenggarakan kampanye menentang Syariah.

Namazie lahir di Iran sebagai Muslim. Sekarang dia berusia 41 tahun, sikapnya ramah, dan tutur perkataannya lembut. Tapi dia tidak ragu2 memilih kata. Dibutuhkan keberanian besar untuk mendirikan organisasi orang2 yang menolak Islam. Menurut hukum Islam, murtad layak dihukum dengan kematian. Namazie menerima ancaman2 terus-menerus, biasanya melalui telepon selularnya: “Satu orang berkata, `Kau akan dipotong-potong’ … Aku lalu pergi ke polisi. Tadinya polisi sangat bersemangat membantu, karena mengira hal ini berhubungan dengan pemboman di Glasgow. Tapi setelah mereka tahu ternyata ini tidak ada hubungannya, mereka pun tidak pernah lagi menghubungiku. ” Apakah dia tidak takut akan keselamatannya? “Ya, tentu saja, seringkali. Aku khawatir apakah aku bisa terus hidup, terutama karena sekarang aku ini seorang ibu. Jika ada orang yang memandangku dengan aneh, aku mulai curiga.” Kenapa Namazie tidak pakai nama palsu saja? “Mereka para Muslim akhirnya bisa tahu siapa dirimu. Lagipula tujuan Konsul Murtadin Inggris adalah untuk berdiri tegak dan dipandang penting.” Namazie tidak suka disebut sebagai eks-Muslim dan lebih memilih tidak dihubungkan dengan julukan yang bersangkutan dengan agama apapun. Dia berkata bahwa hal ini serupa dengan orang2 homoseks yang ke luar dan berani menyatakan dirinya homo 30 tahun yang lalu: jika kau ingin mendobrak taboo, maka kau harus berani mengumumkannya secara terbuka. Saat ini Konsul Murtadin Inggris beranggotakan lebih dari 100 orang dengan dukungan murtadin2 lain yang masih belum berani bergabung. “Beberapa punya kisah2 yang mengerikan, tapi tidak berani mencantumkannya di website kami karena takut.”

Kakek Namazie adalah seorang mullah dan ayahnya dibesarkan dalam adat Muslim yang ketat. Kedua orangtuanya (sekarang hidup di Amerika) masih Muslim. Ketika Namazie memberitahu ayahnya tentang niatnya mendirikan Organisasi Murtadin, dia ingat apa yang dikatakan ayahnya, “Oh, tidak, kakek bakal bangkit dari kubur nih.” “Aku katakan padanya bahwa apa yang kulakukan adalah demi kebaikan para Muslim juga, karena jika kau hidup dalam masyarakat sekuler, kau diperbolehkan jadi Muslim, Sikh, Kristen, atau atheis, dan tetap diperlakukan sama.” Sikap Namazie yang menentang agama adalah juga karena pengalamannya sendiri. Ketika dia berusia 12 tahun, revolusi Iran disabot oleh para Ayatollah dan negaranya sekarang jadi Republik Islam Iran.

“Aku tidak pernah pakai jilbab dan aku berpendidikan di sekolah sekuler. Tiba2 seorang pria aneh muncul di halaman sekolah. Dia berjenggot dan dikirim ke sekolahku untuk memisahkan murid2 wanita dan pria – tapi kami lalu berlarian mengitarinya. ” Namazie masih ingat wajah orang Hezbollah yang menghentikannya di jalanan gara2 dia tidak berjilbab. “Aku saat itu baru berusia 12 atau 13 tahun. Pengalaman itu sangat menakutkan.” Hal yang lebih jelek dialami wanita2 lainnya: “Wanita2 itu dipukuli dan mukanya disiram asam, dan dihukum bunuh setiap hari di tayangan TV,” katanya. Lalu sekolahnya ditutup dengan alasan “Islamisasi” .

Namazi dan ibunya lalu pergi ke India. Mereka hidup di sebuah B&B di Delhi dan Namazie bersekolah di Sekolah Inggris, sedangkan ayah dan adik perempuannya yang berusia 3 tahun tetap tinggal di Teheran, Iran. Tadinya ini hanya untuk sementara saja, tapi tak lama kemudian ayahnya – seorang wartawan – berkeputusan meninggalkan Iran juga. Mereka sekeluarga tinggal setahun di Bournemouth sebelum akhirnya tinggal di AS. Setelah Namazie berusia 17 tahun, mereka mendapat status penduduk tetap di negara tersebut.

Di perguruan tinggi, Namazie bergabung dengan Program Perkembangan PBB dan bekerja bagi para pengungsi Ethiopia di Sudan. “Enam bulan setelah aku datang, Sudan jadi negara Islam. Aku merasa hal ini kok mengikutiku terus-terusan! ” Bersama-sama temannya, Namazie memulai organisasi hak2 azasi manusia yang tidak resmi, dan mereka mengumpulkan informasi tentang apa yang dilakukan Pemerintah. Pihak keamanan Sudah lalu memanggilnya untuk ditanyai. “Aku memang tidak bersikap tunduk dan anggota PBB yang datang bersamaku berkata, `Tak heran jika orangtuamu membawamu ke luar dari Iran.’ Polisi Sudah mengancamku, katanya, `Kau tidak tahu apa yang bakal terjadi padamu. Bisa saja kau ditabrak motor atau mengalami kecelakaan lainnya.'” Pihak PBB diam2 mengirim Namazie keluar Sudan pulang ke rumah dengan pesawat terbang.

Itulah kejadiannya yang mengubah dirinya dari Muslim KTP menjadi atheis. Dua abad kemudian, dia membaktikan hidupnya melawan Islam. Dia sekarang sedang berjuang untuk mengadakan Konferensi Murtadin Internasional pertama, yang akan diselenggarakan di London pada tanggal 10 Oktober, 2008. Dia juga sedang mulai melancarkan kampanye “anti Syariah.”

Aku bertanya, kau tentunya sangat terkejut ketika Kepala Bishop dari Canterbury berkata bahwa beberapa penerapan hukum Syariah di Inggris tidak bisa dihindarkan. Tidak, katanya; dia bahkan tidak merasa heran. “Sudah jelas tujuannya, meskipun dia tidak menduga reaksi keras yang dihadapinya. Yang dilakukan sebenarnya adalah penyerangan terhadap sekularisme. Dia melihat keuntungan jika didirikan sekolah Muslim dan Syariah diterapkan. Jika ini diperbolehkan, maka masyarakat Inggris tidak akan menentang kuat pendirian sekolah2 Kristen dan penerapan aturan agama Kristen dalam masyarakat.”

Tapi Namazie bersikeras bahwa Syariah tidak boleh diterapkan dalam bentuk apapun di Inggris. “Hukum Syariah secara mendasar adalah hukum diskriminasi dan sangat membenci wanita,” katanya dan dia juga menentang jikalau orang boleh memilih antara hukum Syariah dan hukum Negara Sipil. Para wanita akan digilas habis dalam pengadilan Syariah, katanya. “Hukum ini akan menerjang orang2 yang seharusnya sangat membutuhkan perlindungan dari hukum sipil Inggris.”

Namazie yakin bahwa orang2 awam tentang Islam tidak begitu paham makna hak2 azasi manusia. “Hak2 adalah bagi perorangan, dan bukannya bagi agama atau kepercayaan. `Setiap manusia adalah sederajat’ dan ini bukan berarti setiap agama itu sama.” Orang2 Islam menganggap diri mereka sebagai korban, katanya, dan para negarawan Inggris percaya saja akan tipuan ini.” Namazie berkata bahwa Konsul Muratdin Inggris memang bukan wakil bagi masyarakat Muslim Inggris, tapi meskipun demikian dia berani menerima tantangan debat dari pihak Muslim kapan saja. “Murtadin memang dalam posisi yang tepat untuk menantang politik Islam,” katanya. “Kita tidak boleh membiarkan anak2 perempuan kecil atau siapa saja kehilangan hak azasi mereka. Kita tidak bisa menoleransi hak2 yang tidak layak ditoleransi dengan alasan apapun – termasuk agama.”

Council of Ex-Muslims in Britain http://www.ex-muslim.org.uk exmuslimcouncil@ googlemail. com; 07719-166731; http://www.maryamnamazie. com