By Ali Sina – 2005/10/08
http://www.faithfreedom.org/oped/sina51007p1.htm

Saya orang nigeria. Saya menemukan situs anda ketika melakukan pencarian dengan google mengenai nabi mohamad dua bulan lalu, sejak saat itu saya sering mengunjungi situs ini.

Saya setuju dengan sebagian besar apa yang anda katakan mengenai nabi mohamad dan sangat menikmati debat-debat anda. Namun saya ingin mengetahui akhir dari debat anda dengan Yamin Zakaria. Saya tanyakan karena jika anda mencari nama yamin melalui google, anda akan menemukan pernyataannya bahwa ia memenangkan debat melawan anda, dan anda gagal merespon argumentasinya.

Akpan

***

Akpan yang terhormat,

Kenyataan bahwa muslim menyatakan kemenangan dalam kekalahan mereka adalah biasa. Untuk melihat siapa pemenang debat sebenarnya adalah dengan membacanya. Sesungguhnya saya menyarankan untuk membaca debat tersebut bagi siapapun yang ingin berdebat dengan saya. Tn. Zakaria, dalam debat tersebut terjebak dalam kesalahan-kesalahan yang sama dengan muslim lain, dan dia telah mendapat semua jawaban. Untuk menghindari pengulangan, saya meminta kepada semua orang yang ingin berdebat dengan saya untuk membaca debat tersebut lebih dahulu. Baca juga tantangan saya.

Tn. Zakaria tidak membantah tuduhan saya terhadap muhamad. Saya menuduh muhamad sebagai seorang pedophile, pembunuh, pemerkosa, pemusnah masal, perampok jalanan, perompak, penipu, di samping berbagai tuduhan lainnya. Bukannya menjawab tuduhan ini, Tn Zakaria malah mempertanyakan validitas Aturan Emas “Tn Sina harus membuktikan legitimasi Aturan Emas atau aturan tersebut hanyalah merupakan asumsi”, tulisnya. Ia bahkan menyebut aturan tersebut sebagai suatu konspirasi dan menyimpulkan bahwa muhamad tidak pantas diadili berdasarkan Aturan Emas. Kutipan langsung, “Aturan Emas tidak bersifat universal, tidak dapat dibuktikan, subjektif, tidak cukup layak, dan tidak bersifat absolut.. penuh kesalahan sebagai prinsip dasar. Secara maksimal, aturan tersebut hanyalan anjuran moral bagi orang-orang yang ingin mempraktekkan pengendalian diri. Karena itu, tuduhan atas nabi terakhir tidak dapat dikabulkan.”

Aturan Emas menyatakan: “Perlakukanlah orang lain sama seperti anda ingin diperlakukan.“ Dengan kata lain, “Berikanlah penghargaan dan penghormatan yang sama kepada orang lain, sama seperti anda ingin dihargai dan dihormati oleh orang lain.” Debat ini cukup panjang dan apa yang dilakukan Tn. Zakaria hanyalah mengatakan bahwa muhamad tidak patut dihakimi dengan aturan ini dan ia tidak perlu tunduk kepada aturan yang dibuat oleh manusia. Ia kemudian menyatakan bahwa apapun yang muhamad lakukan, sekalipun tampak salah di mata kita, muhamad tetap benar karena kita tidak memiliki hak untuk menghakimi seorang utusan tuhan. Menurut Tn. Zakaria, sah-sah saja bagi muhamad untuk memperlakukan orang lain sesuai dengan apa yang dia perbuat semasa hidupnya dimana ia sendiri tidak ingin diperlakukan demikian. Bukannya berusaha membantah tuduhan terhadap muhamad, Tn. Zakaria malah mempertanyakan masalah benar/salah. Ia menyatakan bahwa kita tidak dapat mengatakan muhamad sebagai orang jahat hanya karena ia seorang pedophile, pembunuh atau pemerkosa karena kita tidak dapat benar-benar yakin bahwa kejahatan muhamad itu benar-benar suatu kejahatan. Tn. Zakaria tidak berusaha membela muhamad, tetapi malah mengadili hukum.

Saya telah selesai dengan Tn. Zakaria. Debat saya dengannya merupakan debat yang penting karena sekalipun Tn. Zakaria tidak menyentuh esensi debatnya yaitu kejahatan muhamad, ia malah mengekspose sisi narsistik dari islam. Para penganut narsisme tidak terikat dengan Aturan Emas. Mereka percaya bahwa mereka dapat memperlakukan orang lain semau mereka sementara orang lain tidak boleh berbuat semaunya terhadap mereka. Mereka pikir orang lain harus mematuhi Aturan Emas karena mereka mempercayai hal tersebut, tetapi para narcistik dikecualikan karena tidak memegang aturan tersebut.

Muslim tidak memandang benar dan salah seperti yang lain. Sementara seluruh umat manusia membedakan benar dan salah melalui sudut pandang Aturan Emas, muslim membedakan benar dan salah berdasarkan haram dan halal. Contohnya, anda dan saya percaya bahwa berbohong adalah salah, dan memperkosa itu salah karena kita tidak mau dibohongi, dirampok, dan diperkosa. Tetapi muslim dengan pakaian islam tidak berpikiran demikian. Mereka sama seperti kita tidak mau diperlakukan sembarangan. Mereka tidak mau ditipu, kecurian, atau istri mereka diperkosa. Tetapi mereka tidak memandang salah untuk berbohong kepada non-muslim, merampas harta mereka, memperkosa kaum wanitanya, bahkan membunuhi mereka. Hal ini konsisten dengan ajaran dan perilaku muhamad. Ia sangat melarang muslim saling mencuri dan memperingatkan mereka yang mencuri dari hasil jarahan atas kaum kafir, atau bahkan mengutuki mereka. Tetapi harta jarahan itu halal bagi muslim. Amir Tîmûr-i-lang, (1336-1405) seorang muslim penakluk india mengatakan, “jarahan perang sama sahnya dengan air susu ibu mereka bagi muslim yang memerangi mereka demi iman, dan menikmati hal yang sah itu artinya menikmati karunia.” [Amir Tîmûr-i-lang: The History of My Expedition against Hindustan]

Non-muslim di negara islami tidak memiliki hak yang sama dengan muslim karena agama mereka tidak diperkenan allah. Jika mereka ditolak allah, mengapa harus diperlakukan dengan adil oleh muslim? Muhamad bukan hanya memperbolehkan penganiayaan, dia malah menyatakan perang atas non-muslim, membohongi, merampoki, memperkosa, dan memaksa mereka untuk beralih jadi muslim. Ia sendiri memberikan teladan tersebut. Jadi, sementara kaum narcis menuntut untuk diperlakukan adil dan bahkan diistimewakan, mereka tidak mau melakukan hal yang sama. Mereka ingin orang lain melaksanakan Aturan Emas dan memperlakukan MEREKA dengan wajar karena orang lain menganut Aturan Emas, tetapi mereka sendiri tidak menganut Aturan Emas ini dan tidak mau terikat olehnya.

Muslim memiliki kode etik sendiri yang tidak berdasarkan kepada Aturan Emas tetapi berdasarkan islam. Contohnya Pernyataan Universal Hak Asasi Manusia (PUHAM). PUHAM ini didasarkan kepada Aturan Emas. Muslim tidak mengakui ini, mereka menciptakan PUHAM sendiri yang islami.

Dalam artikel “Islam dan Hak Asasi Manusia” situs internet ntpi.org menyatakan:

“Banyak negara islam kecuali arab saudi yang mengadopsi Pernyataan Universal Hak Asasi Manusia pada tahun 1948, tetapi sebagian besar negara tersebut mengubah isinya. Bagi seorang Abu’l A’la Mawdudi terdapat konflik kepentingan antara hak-hak wanita dalam PUHAM dengan kebutuhan untuk melindungi dan melestarikan tekanan terhadap wanita. Muhammed Naceri, anggota Dewan Cendekiawan Religius Moroko menyatakan:

“PUHAM mengakomodasi persamaan hak antara pria dan wanita. Bagi kami, wanita setara dengan pria dalam hukum, tetapi mereka tidak sama dengan pria, dan mereka tidak boleh berkeliaran dengan bebas di jalan-jalan seperti layaknya binatang.”

Tetapi pria boleh, tentu saja. Kesetaraan hak??

Situs ini juga menjelaskan ada dua versi PUHAM islami pada tahun 1981; satu dalam bahasa arab, dan satu lagi dalam bahasa inggris. Dalam bahasa inggris ada pasal yang menyatakan bahwa versi bahasa arab itu definitif. Namun ada perbedaan substansial antara versi arab dan versi inggris. Versi bahasa inggris ditujukan bagi konsumsi masyarakat barat, sementara versi bahasa arab yang definitif memiliki warna yang lebih konservatif.

PUHAM islami ini tidak hanya membatasi hak-hak wanita, tetapi juga menolak hak-hak non-muslim dan tidak menghargai kebebasan berekspresi dan kebebasan untuk memeluk agama dan kepercayaan.

Muslim percaya bahwa karena muhamad adalah utusan tuhan, ia berada di atas Aturan Emas. Tindakan dan ajarannya diilhami oleh tuhan, menurut mereka, sementara Aturan Emas berasal dari akal sadar manusia. Mentalitas narsistik ini, yang menjadi inti dari pemikiran islami, memberi hak bagi muslim untuk melanggar Aturan Emas, menganiaya non-muslim, atau yang dipandang sesat, dan tidak menghiraukan hak asasi mereka dan bahkan membunuh mereka dengan tenang dan sadar. Sementara mereka tetap meminta diistimewakan di dalam negara non-islami.

Contohnya, pada 23 September 2005, Coning Americans With Islamic Ruse (CAIR), menerbitkan edaran yang memohon muslim dan “orang-orang yang peduli” untuk menulis kepada anggota dewan perwakilan untuk memaksa Kongres Amerika Serikat untuk mengakui islam sebagai “Agama besar di dunia dan layak untuk dihargai sebesar-besarnya.”

Bayangkan kemungkinan para penganut Yahudi, Hindu, Budha, atau bahkan Kristen untuk mengajukan permintaan yang sama!! Mengapa hanya muslim yang membutuhkan konfirmasi orang lain atas kebesaran agama mereka? Bukankah ini pertanda bahwa mereka yang malang ini tidak percaya diri? Bayangkan para penganut hindu, yahudi, atau budha membujuk para politikus untuk menyatakan bahwa agama mereka itu agung! Sangat menggelikan! Tidak mungkin terjadi. Mereka tidak butuh dukungan orang lain untuk meyakini agama mereka sendiri.

Lebih jauh, bukankah amerika menganut pemisahan agama dengan negara? Apakah para muslim ini belum disumpah berdasarkan undang-undang dasar amerika? Mengapa mereka meminta kongres, pemerintah untuk mensahkan agama mereka? Bukankah ini permintaan yang aneh yang bahkan menunjukkan bahwa mereka tidak menghargai UUD amerika? Apa alasan bagi suatu pemerintahan untuk mensahkan dan memuji suatu agama? Sebaliknya, karena islam memiliki ambisi politik, yaitu berusaha untuk menumbangkan pemerintah amerika dan mendirikan khilafah, pemerintah harus menyatakan islam sebagai subversi dan melarangnya. Karena ideologi terorisme islam adalah islam, sudah menjadi tugas pemerintahlah untuk memerangi dan menghabisi islam. Tugas pertama dari pemerintah adalah untuk melindungi UUD. Islam bertujuan menghancurkan UUD.

Permintaan yang keterlaluan ini makin mengejutkan ketika pada saat yang sama mereka minta dipuji, orang-orang kristen di pakistan diperkosa dan dibunuh secara sistematis oleh muslim dan para pelakunya tidak pernah dihukum. Di banglades orang-orang hindu juga dianiaya dan dibunuh. Orang-orang non-muslim di seluruh negara islam tidak memiliki hak asasi sama sekali.

Muslim telah masuk ke dalam gelembung narsistik muhamad, mereka berpikir seperti dia dan menirunya habis-habisan. Mereka tidak merasa bersalah waktu menganiaya non-muslim dan menginjak-injak hak asasi mereka, sementara mereka meminta dihargai dan diistimewakan. CAIR, yang tidak pernah secara tulus mengutuki aksi terorisme islam internasional dan seringkali bahkan mendukung aksi teror serta menuduh dan mempersalahkan para korban terorisme karena tidak memahami muslim, memiliki keberanian untuk meminta kongres amerika untuk mengumumkan bahwa islam itu adalah ‘agama yang besar sedunia dan untuk itu harus dihargai sedalam-dalamnya’. Sangat menarik untuk dicatat bahwa beberapa direktor CAIR menjadi tertuduh dalam keterlibatan aksi teroris.

Yang harus disesalkan adalah bahwa Presiden Amerika Serikat ingin menyenangkan muslim, muslim yang sama yang menyatakan perang terhadap amerika, terlibat dalam pembunuhan orang-orang amerika, dan berusaha menumbangkan pemerintah, menyatakan suatu pujian kepada muslim atas “komitmen mereka terhadap pertumbuhan spiritual dan amal” serta menyambut baik “sumbangan muslim bagi masyarakat amerika.” Tn. Presiden tidak menyebut sumbangan apa. Apakah yang dimaksudkannya adalah 9/11?

Karena ada 2 juta orang muslim yang hidup di amerika dan diantara mereka ada beberapa orang teroris, orang-orang amerika dipaksa untuk mengeluarkan dana ratusan miliar dolar untuk keamanan dalam negeri. Saya tidak tahu pasti berapa biaya yang sebenarnya. Jika anda membayangkan sistem keamanan di seluruh tingkatan pemerintahan dan swasta, angka ini sungguh menakjubkan. Mari kita mencoba konservatif dan mengasumsikan bahwa biayanya hanya $200 miliar per tahun. Saya yakin angka sebenarnya beberapa kali lipat dari itu. (apakah ada yang tahu?) Dengan angka hanya $200 milyar per tahun, muslim beserta seluruh keluarganya membebani para pembayar pajak amerika sebesar $100,000 per tahun. Inilah biaya untuk menerima keberadaan muslim di amerika. Inilah sumbangan nyata dari muslim bagi amerika, Tn. Presiden. Jika semua muslim diusir dari amerika, apakah kita masih perlu mengeluarkan biaya keamanan sebesar ini? Begitu anda menambahkan biaya sebenarnya dari serangan teroris, misalnya bangunan, tanah, dan lainnya, biaya ini membengkak dengan luar biasa. Kita baru berbicara kerugian finansial. Dapatkah kita menghitung kerugian yang harus dibayar oleh keluarga para korban aksi terorisme islam? Hal yang sama bisa diterapkan di seluruh negara yang menerima muslim sebagai pendatang dan sebagai hasilnya menjadi target terorisme islami.

Anggota Dewan Betty McCollum dan Nancy Pelosi juga memberikan pernyataan pujian kepada muslim. Orang-orang amerika yang patriotik seharusnya menulis kepada para wakil rakyat tersebut dan mendidik mereka mengenai tujuan islam di amerika. Mereka harus diingatkan juga bahwa sebagai politikus mereka tidak diperkenankan memberikan pernyataan yang mendukung agama manapun. Jika islam adalah sebuah agama, maka jangan campur adukkan agama dengan pemerintahan. Jika islam adalah politik, perangilah. Apakah para politikus ini akan tetap memberikan pujian dan terima kasih kepada para muslim jika mereka tahu apa yang menjadi rencana muslim bagi amerika dan UUD-nya?

Tn. Zakaria secara fasih menolak Aturan Emas bagi muslim. Kita harus mendengar pernyataannya ketika membantai Aturan Emas. Dia adalah seorang muslim sejati yang memberitakan kebenaran mengenai islam.