Pembuatan kapal, diselamatkannya semua binatang, banjir besar, semuanya yg ditulis dalam Quran sebagian diambil dari Genesis (Kitab Kejadian). Ketika kesadaran akan kemustahilan2 kisah ini muncul, orang kristen tidak lagi menganggap kisah ini secara harafiah; kecuali, tentusaja para fundamentalis, yang masih banyak berkeliaran setiap tahun mencoba mencari sisa puing2 kapal nabi nuh. Kaum muslim, dilain pihak, sepertinya kebal dari pemikiran rasional, dan menolak mencari bukti2 utk ini. Saya akan mengeluarkan pendapat yg menunjukkan kemustahilan legenda ini, meski kelihatannya saya seperti berusaha memaparkan kebohongan dari sesuatu yang sudah jelas bohongnya tapi saya harap akan lebih banyak orang berusaha seperti saya ini dan semakin sering lagi melakukannya.Nuh diminta utk membawa kedalam kapalnya sepasang binatang dari semua spesies (Surah 11.36-41). Para ahli hewan[58] memperkirakan mungkin ada 10 juta spesies utk serangga saja; apa mereka semua masuk kedalam kapal? Benarkah serangga saja tidak menghabiskan tempat kapal? Mari kita fokus pada spesies yang lebih besar ukurannya: reptil ada 5.000 spesies; burung 9.000 spesies; lalu 4.500 spesis kelas mamalia (hal 239). Semuanya dalam data ‘phylum chordata’ (jenis2 binatang menengah) ada sekitar 45.000 spesies (hal.236). Seberapa besar kapal itu hingga bisa membawa sekitar 45.000 spesies binatang? Masing2 sepasang, jadi ada sekitar 90.000 ekor binatang ukuran sedang, mulai dari ular sampai gajah, burung sampai kuda, kuda nil sampai badak. Bagaimana bisa Nuh mengumpulkan mereka secepat itu? Berapa lama dia menunggu dua ekor Sloth yang beringsut secara pelahan dari amazon ketempatnya? Bagaimana kanguru bisa keluar dari benua australia yang berupa pulau? Bagaimana beruang kutub tahu lokasi kapalnya nuh? Seperti Robert Ingersoll tanyakan[59] “adakah kemustahilan yang lebih hebat dari ini?” Misal jika kita menerima kisah ini tidak secara harafiah, atau kita memelesetkan dengan jawaban yang samar2, seperti: “Bagi Tuhan semuanya itu mungkin”. Kenapa Tuhan memilih cara yang sulit, penuh komplikasi dan makan waktu (setidaknya utk Nuh) ini? Kenapa tidak selamatkan saja Nuh dan orang2 yang saleh dengan mukjijat yg cepat daripada usaha yang berpanjang2 ini?

Tidak ada bukti geologis yang mengindikasikan pernah terjadi Banjir Besar. Memang ada bukti2 banjir lokal tapi bukan yang menutupi seluruh muka bumi, bahkan menutupi timur tengah saja tidak ada. Kita sekarang tahu bahwa kisah Air Bah dalam bible, dimana Quran mencurinya, berasal dari legenda Mesopotamia: “Tidak ada bukti apapun yang merunut terjadinya air bah yg sama dalam kisah2 Mesopotamian dan Yahudi; Fiksi Yahudi kemungkinan berkembang dan berasal dari legenda Mesopotamia. Kisah2 ini adalah fiksi bukan sejarah.”[60]

Daud dan Mazmur

Quran juga meminta muslim utk percaya bahwa Daud ‘menerima’ wahyu bernama/dinamai Mazmur/Zabur sama persis seperti cara Musa menerima Torah (Surah 4.163-65). Tapi sekali lagi scholar bible meragukan Daud menulis sebanyak itu. Daud mungkin hidup sekitar tahun 1.000 SM, tapi kita tahu bahwa Mazmur/Zabur digabungkan belakangan pada perioda post-exilic (setelah pengasingan) , yaitu sekitar 539 SM:

Kitab Mazmur terdiri dari lima kumpulan himne, kebanyakan ditulis utk dipakai pada kuil kedua (Kuil Zerubbabel). Meski puisi2nya yg sangat kuno itu mungkin diadaptasi dalam beberapa kesempatan, tapi kumpulan2 ini muncul dalam satu kesatuan, atau hampir dalam satu kesatuan, ketika post-exilian (setelah pengasingan/ pembuangan) . Mungkin tidak ada satupun Mazmur harus disebut berasal dari Daud. Beberapa diantaranya, yg memuji-muji kerajaan yang sangat ideal, sepertinya ditulis sebagai penghormatan bagi salah satu raja Hasmonean (142-63 SM).[61]

Adam dan Evolusi, Kosmologi Penciptaan dan Modern

 

Banyak muslim belum bisa menerima fakta evolusi… Kisah Adam dan Hawa… tidak punya tempat dalam catatan sains mengenai asal muasal umat manusia.
– Watt[62]
Quran memberi kita cerita yg kontradiksi tentang penciptaan, hingga menimbulkan masalah besar bagi para penafsirnya.

 

[50.38] Dan sesungguhnya telah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, dan Kami sedikit pun tidak ditimpa keletihan.[41.9-12] Katakanlah: “Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagi-Nya? (Yang bersifat) demikian itulah Tuhan semesta alam”. Dan Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni) nya dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya. Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa”. Keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati”. Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.

Dua hari utk menciptakan bumi, empat hari utk makanan, dan dua hari utk tujuh langit, total jadi delapan hari (Surah 41), dimana dalam surah 50 kita diberitahu bahwa penciptaan terjadi dalam enam hari saja. Ini semua ada diluar jangkauan para komentator/penafsir hingga mereka tidak mampu menerapkan sulap jungkir balik agar bisa menjelaskan dan keluar dari kebodohan pertentangan ini.

Langit bumi dan makhluk2 didalamnya adalah bukti dari keberadaan Tuhan dan KekuasaanNya (Levy, R. The Social Structure of Islam. 2 vols. Cambridge, 1957, hal 2, 4); [21.16] “Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya dengan bermain-main.” Manusia dan Jin telah ditetapkan kewajiban spesial utk menyembah Tuhan, dan meski kepatuhan pada hukum Tuhan pertama-tama ditawarkan pada langit dan bumi dan gunung2, tapi manusialah yang menerimanya setelah langit bumi dan gunung menolaknya (Surah 33.72) (Levy, R. The Social Structure of Islam. 2 vols. Cambridge, 1957, hal 2,4)

Bagaimana pendapat kita tentang doktrin aneh ini? Langit, bumi dan gunung2 dianggap sebagai makhluk, dan terlebih lagi sebagai makhluk yang punya keberanian utk menolak dan tidak patuh pada Tuhan! Tuhan Maha Kuasa yang menciptakan jagat raya bertanya, apa mereka (langit, bumi dan gunung) mau menerima ‘kepercayaan’ atau ‘iman’, dan ciptaanNya sendiri itu ternyata menolak menerima beban ini.

Penciptaan dilakukan oleh perkataan Allah, “Jadilah,” karena segala sesuatu adalah atas kehendakNya. Sebelum penciptaan singgasanaNya mengambang diatas air dan surga dan bumi masih berupa satu kumpulan (air). Allah memisahkan mereka, langit dibangun dan dibentangkan sebagai atap yang melindungi, tanpa cacat, yang dia angkat keatas bumi dan diam diatas sana tanpa tiang2, sementara bumi dibentangkan dan gunung2 dipasang pada permukaannya sebagai pasak agar mencegah bumi bergerak ketika makhluk2 hidup bergerak diatasnya, karena dunia terdiri dari tujuh bumi. Juga dua lautan dilepas bersisian satu sama lain, satu air tawar yang lain air garam, tapi dengan sebuah penghalang diantaranya hingga mereka tidak bisa bersatu. (Levy, R. The Social Structure of Islam. 2 vols. Cambridge, 1957, hal 2, 5)

Bumi yg diciptakan pertama, lalu langit. Bulan diberi sinarnya sendiri (Surah 10.5), dan padanya dicanangkan “agar berubah seperti batang palem yang melipat dan menua, agar manusia bisa mengetahui jumlah tahun dan menghitung darinya” (Levy, R. The Social Structure of Islam. 2 vols. Cambridge, 1957, hal 2, 5).

Sedang mengenai Adam, “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani dalam tempat yang kokoh. Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang lain. Maka Maha Suci lah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.” [Surah 23.12-14]

Kisah lain menceritakan pada kita bahwa manusia diciptakan dari sperma (cairan hina) (Surah 77.22), dan lagi versi lainnya bahwa semua makhluk hidup diciptakan dari air seperti juga seluruh isi jagat raya ini (21.30, 25.54, 24.45). Binatang diciptakan khusus bagi umat manusia; manusia adalah tuan dari para binatang ini: “Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakan binatang ternak untuk mereka yaitu sebahagian dari apa yang telah Kami ciptakan dengan kekuasaan Kami sendiri, lalu mereka menguasainya? Dan Kami tundukkan binatang-binatang itu untuk mereka, maka sebagiannya menjadi tunggangan mereka dan sebagiannya mereka makan. Dan mereka memperoleh padanya manfaat-manfaat dan minuman.” [Surah 36.71-73]

Jin diciptakan dari api, sebelum manusia diciptakan dari tanah. Mereka hidup dibumi bersama manusia.

Para penafsir muslim tidak punya masalah mengenai kontradiksi yg jelas ini, seorang pembaca sains modern dan terpelajar bahkan tidak akan cape2 mencari kebenaran sains kisah penciptaan samar dan membingungkan itu. Malah, kesamaran itulah yang membuat orang bisa mencari apapun yang dia ingin temukan dalam mitos2, legenda2 dan takhyul2nya. Jadi, banyak muslim percaya pada seluruhan ‘pengetahuan’ yang ada dalam Quran atau hadis. Seperti kata Ibn Hazm, “Fakta apapun itu yang bisa dibuktikan dengan akal, ada dalam Quran atau dalam perkataan sang Nabi, semuanya jelas2 dimaksudkan utk itu.”

Setiap kali ada penemuan sains baru, misal fisika, kimia atau biologi, para pembela muslim akan berlomba-lomba meneliti Quran utk mencari dan membuktikan bahwa penemuan tersebut sudah pernah ada dituliskan didalamnya; segala sesuatu mulai dari listrik hingga teori relativitas (Ascha, Ghassan. Du Status inferieur de la Femme en Islam. Paris, 1989. hal.14). Para muslim ini menunjuk tulisan Quran mengenai asal muasal makhluk hidup yang berasal dari air (surah 21.31), dan ide baru2 ini di bidang biologi yg menyatakan bahwa hidup dimulai, dengan meminjam perkataan Darwin, dalam “sebuah kolam kecil yang hangat.” Dugaan penemuan sains lainnya dirasa telah ada dalam Quran termasuk penyerbukan tanaman oleh angin (surah 15.22) dan cara hidup lebah (surah 16.69). Tak ragu lagi ketika mereka mendengar seorang ahli kimia Glasgow, A.G. Cairns-Smith yang menyatakan bahwa jawaban teka-teki asal muasal kehidupan mungkin ada pada tanah lempung biasa, para pembela muslim langsung loncat mengiyakan dan melompat-lompat gembira merasa menang dan menunjuk pada doktrin Quran bahwa Adam diciptakan dari tanah lempung (Dawkins, Richard. “A Deplorable Affair.” Dalam New Humanist, vol.104, London, May 1989. hal 148-165).

Karena para muslim masih juga memakai kisah2 Quran secara literal, saya jadi punya kewajiban utk menunjukkan bagaimana hal itu tidak sejalan dengan pendapat sains modern mengenai asal muasal jagat raya dan kehidupan di bumi. Bahkan dalam memakai istilahnya sendiri kisah Quran tidaklah konsisten dan penuh kemustahilan. Kita telah catat pertentangan mengenai lamanya penciptaan. Katanya Allah hanya bilang “Jadilah,” dan kehendakNya langsung terwujud, tapi kok butuh waktu enam hari utk mencipta langit. Juga, gimana bisa ada ‘hari/masa’ sebelum penciptaan bumi dan matahari, padahal ‘hari/masa’ itu adalah pewaktu yang kita pakai berdasarkan perputaran bumi pada sumbunya? Kita juga diceritakan bahwa sebelum penciptaan, singgasana Tuhan mengambang diatas ‘air’. Darimana ‘air’ ini muncul sebelum penciptaan? Keseluruhan gagasan tentang singgasana Tuhan ini melulu berkarakter manusia tapi dipakai begitu saja oleh orang2 ortodoks. Lalu kita punya beberapa cerita tentang penciptaan Adam. Menurut Quran, Allah menciptakan bulan dan fase2nya agar manusia tahu jumlah tahun (Surah 10.5). Lagi-lagi ini hanya gagasan bagi orang arab yang primitif, karena semua kemajuan peradaban Babylonia, Mesir, Persia, China dan Yunani saat itu juga sudah memakai matahari utk menunjukkan waktu mereka.

Mari kita berpaling pada kisah modern mengenai asal muasal jagat raya.

Ditahun 1929, Edwin Hubble mempublikasikan penemuannya bahwa galaksi2 terjauh ternyata menjauh dari bumi dengan kecepatan yg proporsinya sama dengan jauhnya mereka dari bumi. Hukum Hubble menyatakan bahwa kecepatan resesional, v, dari sebuah galaksi berhubungan dengan jaraknya, r, dari bumi dengan persamaan:

V = Ho . r, dimana Ho adalah konstanta Hubble.

Dengan kata lain, hukum Hubble mengatakan bahwa jagat raya ini membesar/mengembang . Seperti Kaufmann katakan[63]: “Jagat raya telah mengembang selama milyaran tahun, jadi pastinya ada satu saat dimasa lalu dimana semua materi dijagat raya dikonsentrasikan dalam sebuah keadaan padat yang tak terbatas. Mestinya ada semacam ledakan kolosal yang pasti memulai mengembangnya jagat raya ini. Ledakan ini yg biasa disebut Big Bang menandai dimulai terciptanya jagat raya ini.” Umur Jagat raya ini telah dihitung ada sekitar lima belas sampai dua puluh milyar tahun.

Sebelumnya, sekitar 10 detik setelah terjadinya Big Bang, biasa disebut Waktu Planck, jagat raya ini begitu padatnya hingga hukum fisika tidak berlaku utk menjelaskan gerak laku ruang, waktu dan materi. Selama jutaan tahun pertama, materi dan energi membentuk sebuah plasma padat (disebut bola api primordial), terdiri dari foton energi-tinggi yang bertumbukkan dengan proton dan elektron. Sekitar satu juta tahun setelah Big Bang, proton dan elektron akan bergabung membentuk atom hidrogen. Tapi kita harus menunggu sekitar 10 milyar tahun sebelum sistem tata surya kita ada terbentuk. “Sistem tata surya kita dibentuk dari materi yang diciptakan dalam bintang2 yang menghilang milyaran tahun lalu. Matahari adalah bintang yang relatif muda, hanya berumur lima milyar tahun. Semua elemen2 selain dari hidrogen dan helium dalam sistem tata surya kita tercipta dan dibentuk oleh bintang2 kuno selama 10 milyar pertama keberadaan galaksi kita. Kita sebenarnya tercipta dari debu bintang.” (Kaufmann, W.J., III. Universe. New York, 1985. hal 110). Sistem Tata Surya dibentuk dari sebuah awan gas dan debu, yang disebut Solar Nebula, yang bisa dijelaskan sebagai sebuah “piringan berputar yang terbuat dari sesuatu yg seperti kepingan salju dan es yang dibungkus oleh partikel debu.” Planet2 dalam, Mercurius, Venus, Bumi dan Mars dibentuk lewat pertumbuhan dari partikel2 debu hingga ukurannya menjadi seukuran planet (planetesimal) dan lalu menjadi protoplanet yang lebih besar. Planet2 luar, Yupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus dan Pluto, dibentuk dari pemisahan nebula luar menjadi cincin gas dan es terbungkus debu yang bersatu menjadi protoplanet raksasa. Matahari terbentuk dari tumbuhnya titik pusat nebula. Setelah sekitar 100 juta tahun, temperatur dari pusat protosun (matahari muda) telah cukup tinggi utk memicu reaksi termonuklir. (Kaufmann, W.J., III. Universe. New York, 1985. Hal 116).

Cerita2 ini, parahnya, sama sekali berbeda dengan kisah yang dituliskan dalam Quran. Bumi tidaklah, seperti kata Quran (surah 41.12), diciptakan sebelum langit; kita telah catat bahwa matahari dan sistem tata surya dibentuk jutaan tahun setelah Big Bang, jutaan bintang lainnya juga sudah dibentuk sebelum matahari kita. Terlebih lagi, istilah ‘langit’ sangatlah samar; apa ini artinya sistem tata surya kita? Galaksi kita? Jagat raya? Jungkir balik gimanapun tidak akan bisa mengerti kisah Quran mengenai penciptaan langit dalam enam, delapan atau dua hari. Sinar bulan, tentu saja, bukanlah sinarnya sendiri (surah 10.5), tapi pantulan sinar matahari. Bumi mengorbit matahari dan bukan sebaliknya.

Mereka yang tergoda utk mencari dalam Quran segala macam ayat yang nyerempet2 Big Bang harusnya sadar bahwa kosmologi dan fisika modern umumnya didasarkan pada matematik. Tanpa pengembangan dalam bidang matematik, khususnya di abad 17 (kalkulus misalnya), kemajuan dan pengertian tidaklah mungkin tercapai. Sebaliknya dari kesamaran isi Quran, Big Bang dalam formula kosmologi modernnya menyatakan dengan sangat teliti memakai matematik tingkat tinggi; tentu saja sangatlah tidak mungkin menyatakan gagasan2 demikian dalam pernyataan yang dangkal tanpa kehilangan ketelitiannya.

Asal Muasal Kehidupan dan Teori Evolusi

Bumi terbentuk sekitar 4.5 milyar tahun lalu, dan mungkin kurang dari 1 milyar tahun kemudian kehidupan muncul diatasnya utk pertama kali setelah perioda evolusi kimia terjadi. Seorang ahli biokimia Rusia, Oparin, berpendapat dalam buku The Origin of Life (1938) bahwa bumi primitif terdiri dari elemen2 kimia yang bereaksi terhadap radiasi luar angkasa dan juga energi yang bersumber dari terestrial (bumi itu sendiri). “Hasil dari aktivitas fotokimia yang lama, campuran inorganik membangkitkan senyawa organik (termasuk amino acid yang menjadi struktur pembentuk molekul protein makhluk). Seiring waktu dan proses pemilihan kimia, sistem organik ini lalu bertambah stabil dan kompleks, menjadi makhluk hidup pelopor dari segala makhluk.”[64] (Birx, H. Art. “Evolution and Unbelief”. Dalam Encyclopaedia of Unbelief, volume 1. hal 417-418). Sejak jamannya Oparin, banyak ilmuwan (Miller, Fox, Ponnamperuma) berhasil memproduksi senyawa organik dari benda non organik di laboratorium.

Kontroversi masih mengitari penjelasan biokimia mengenai asal muasal kehidupan diplanet bumi, khususnya tentang apakah sesuatu yang mirip dengan molekul DNA/RNA muncul terlebih dulu atau malah mungkin amino acid dasar yang dibutuhkan bagi sintesa protein yang lebih dulu ada. Makhluk hidup muncul ketika sistem organic mulai mempunyai kemampuan untuk melakukan metabolisme dan reproduksi; perkembangan dari sintesa inorganik dari evolusi kimia merintis jalan bagi evolusi biologi dan berikutnya kemampuan adaptasi menjadi semakin kompleks dan mengalami perubahan bentuk. (n.d., hal 419)

Ditahun 1859, Darwin mempublikasikan karyanya “In the Origin of Species by Means of Natural Selection, or the Preservation of Favoured Races in the Struggle for Life”. Dalam kata pendahuluannya Darwin[65] menulis:

Dalam mempertimbangkan asal-usul Spesies, sangat mungkin seorang naturalis memakai pemikiran mengenai daya tarik menarik mutual antara makhluk2 hidup, dalam hubungan embriologinya, distribusi geografiknya, suksesi geologisnya dan fakta2 lain, ini mungkin akan sampai pada kesimpulan bahwa tiap spesies tidaklah secara tersendiri atau khusus diciptakan tapi merupakan hasil penurunan, seperti juga keanekaragaman spesies2 lain. Namun, kesimpulan demikian, meskipun misalnya punya dasar, masihlah tidak memuaskan sampai bisa ditunjukkan betapa spesies2 yang tak terhitung banyaknya ini telah termodifikasi, hingga mendapatkan struktur dan ko-adaptasi sempurna yang membuat kita kagum.

Jawaban Darwin utk pertanyaannya sendiri “Bagaimana evolusi itu terjadi” tentunya adalah Seleksi Alam. Spesies adalah hasil dari proses panjang seleksi alam yang bertindak mengubah atau/dan mempertahankan “variasi2 warisan, random dan yang sering muncul”.[66] Darwin mengatakannya demikian:

Seiring banyaknya spesies terlahir dan bertahan hidup; akibatnya ada pergumulan yang selalu muncul utk bagaimana agar bisa bertahan hidup, ini semua mengikuti sebuah pola bahwa makhluk apapun meski dari spesies yang sama, jika berbeda sedikit saja, berbeda dalam arti yang menguntungkan baginya dibanding spesies aslinya, menguntungkan dia dalam mengarungi kondisi hidup yang kompleks dan kadang berbeda, maka ia akan mempunyai kesempatan hidup yang lebih baik dari yang lainnya, dengan demikian makhluk unik itu adalah hasil dari seleksi alam. Dari prinsip keturunan, keberbedaan yang dipilih alam itu cenderung akan meneruskan bentuk barunya yg sudah lebih baik itu.[67]

Implikasi dari teori evolusi pada posisi manusia di alam sudah jelas. Darwin sendiri mencatat bahwa “Kesimpulan bahwa manusia adalah keturunan dari spesies lain yang lebih purba, lebih rendah dan bentuk yg sudah punah dalam tingkat apapun bukanlah hal baru. Lamarck jauh2 hari sudah menyimpulkan demikian, belakangan dipertahankan oleh beberapa naturalis dan filsuf terkenal; contohnya, Wallace, Huxley, Lyell, Vogt, Lubbock, Buchner, Rolle &c., dan khususnya Haeckel.”

Di abad 18 de Lamettrie telah mengklasifikasikan manusia sebagai binatang dalam L’Homme Machine (1748). Linnaeus (1707-1778) telah mengklasifikasikan manusia dengan kera yg mirip manusia seperti Anthropomorpha. T.H. Huxley dalam karya terkenalnya “Man’s Relations to Lower Animal,”[68] memulai penuturannya dengan melihat pada perkembangan indung telur seekor anjing lalu menyimpulkan bahwa.

 

Sejarah perkembangan binatang vertebrata lainnya, Kadal, Ular, Katak, atau ikan, semuanya mengungkapkan hal yg sama. Selalu dimulai dari sebuah indung telur yg punya struktur penting sama seperti pada anjing: – bagian kuning telurnya selalu mengalami pembelahan atau segmentasi, ..… produk mutakhir dari segmentasi itu merupakan materi pembangun tubuh binatang2 muda; dan ini dibangun dari awal yang primitif, dari dasar dimana notochord (tulang rawan pembentuk kerangka) dikembangkan. Lalu ada perioda dimana masa bayi dari binatang2 ini mirip satu sama lain, tidak hanya dari bentuk luar tapi dari struktur2 pentingnya, begitu mirip hingga perbedaannya kadang tidak terlihat, sementara dalam perkembangan berikutnya mereka mulai menunjukkan perbedaan satu dari yang lainnya.Dg demikian studi perkembangan ini memberi sebuah ujian yang jelas akan dekatnya struktur pertalian keturunan dan kita jadi mulai bertanya apa hasil yang didapat dari studi tentang Manusia ini? Apa manusia sama sekali berbeda? Apa asal usul manusia sama sekali berbeda dari Anjing, Burung, Katak dan Ikan, hingga membenarkan mereka yang mengatakan bahwa kita tidak berasal dari alam dan tidak punya pertalian keturunan dengan dunia binatang yang lebih rendah? Atau benarkah kita berasal dari sel yang sama, yang diturunkan lewat proses panjang dan pelahan – yg tergantung pada nutrisi dan proteksi dan akhirnya memasuki dunia sebagai manusia lewat mekanisme yang sama? Jawabannya tidaklah meragukan utk sementara ini, dan juga tidak meragukan selama puluhan tahun belakangan ini. Tanpa ragu lagi tahap asal muasal dan perkembangan manusia identik dengan binatang yang berada ditingkat bawahnya – tanpa ragu pula, manusia jauh lebih dekat pada monyet dibandingkan monyet pada anjing.

Ada banyak alasan utk menyimpulkan bahwa perubahan (ovum manusia) mengalami proses yang sama dengan yang dialami oleh ovum dari binatang bertulang belakang lainnya; karena materi pembentuk bahan dasar tubuh manusia dalam kondisi paling awalnya, seperti yang telah diteliti, sama dengan binatang2 lainnya.

Tapi, persis disana jugalah perkembangan manusia berbeda dari anjing, manusia lebih mirip dengan monyet, dimana monyet punya yolk-sac yang spheroid (bulat) dan placenta yang discoid (seperti disc).

Jadi hanya tahap selanjutnya saja yang membuat manusia berbeda dari monyet, sementara monyet sangat jauh berbeda perkembangannya dari anjing, seperti juga manusia terhadap anjing.

Mungkin ini mengejutkan, tapi telah didemontrasikan dan terbukti benar dan itu saja cukup bagi saya utk menyimpulkan tanpa ragu akan kesamaan struktur manusia dengan binatang2 diseluruh dunia, khususnya dan paling dekat dengan monyet.

Bukti utk teori evolusi datang dari banyak disiplin bidang ilmu sains: sistematis, geopaleontologi, biogeografi, studi perbandingan biokimia, serology, immunology, genetika, embryologi, parasitologi, morphology (anatomi dan fisiologi), psikologi, dan ethologi.

Bukti2 ini menunjuk arah yang sama yaitu manusia, seperti juga makhluk hidup lainnya, adalah hasil dari proses evolusi dan keturunan dari nenek moyang mirip monyet dan tentunya bukanlah hasil dari Penciptaan Khusus. Dalam konteks ini, membicarakan tentang Adam dan Hawa seperti yang ada dalam Bible dan Quran tidak ada artinya. Manusia, utk sekarang ini, diklasifikasikan kedalam ordo primata, bersama-sama dengan pemanjat pohon lainnya seperti: Tikus pohon, Lemur, Loris, Monyet dan Kera. Jadi, bukan hanya monyet dan kera saja, tapi Lemur dan tikus pohon juga harus diakui oleh kita sebagai sepupu jauh. Seperti J.Z. Young nyatakan, “Tetap saja sulit utk dibayangkan bahwa nenek moyang kita bertalian darah langsung seperti ayah kepada anak dengan seekor tikus tanah, dan dari sana mungkin berpisah menjadi semacam kadal, ikan bahkan mungkin semacam bunga-laut.”[69]

Tuhan Sang Pencipta

 

Apakah kisah terkenal yang ada diawal Bible sungguh2 dimengerti? Kisah ketakutan Tuhan akan sains? .. Manusia sendiri ternyata telah menjadi kesalahan Tuhan Terbesar; Dia menciptakan saingan buat diriNya sendiri; sains membuat Tuhan – berakhir sudah para ulama dan tuhan2 ketika manusia menjadi makin sains.. Pengetahuan, emansipasi ulama, terus berkembang.
– Nietzsche, The Antichrist[70]
Tak pernah, dalam menelaah asal usul jagat raya dan asal usul kehidupan serta teori evolusi saya pernah bersandar pada “campur tangan Ilahi” sebagai penjelasan. Tentunya, utk menjelaskan segalanya dengan memakai istilah ketuhanan sama saja dengan tidak menjelaskan apapun – sama seperti mematikan semua pertanyaan, mencekik keingintahuan intelektual, membunuh kemajuan sains. Utk menjelaskan keaneka ragaman menakjubkan dan kompleksnya organisme sebagai sebuah “mukjijat” sama sekali tidak membantu, setidaknya dalam semua penjelasan sains. Mengutip Dawkins, “Menjelaskan asal muasal mesin protein/DNA dengan menceritakan takhyul sama saja dengan tidak menjelaskan apa-apa, karena hanya menyisakan ketidak jelasan asal usul pencipta itu sendiri. Anda harus mengatakan sesuatu seperti “Tuhan selalu ada disana,” dan jika anda mau lepas dari masalah dg cara malas seperti itu, lebih baik bilang saja “DNA selalu ada disana,” atau “Kehidupan selalu ada disana.’ Selesai.”[71]

Darwin menyatakan hal yang sama tentang teorinya dalam surat pada Sir Charles Lyell, geolog terkenal: “Jika saya diyakinkan bahwa saya butuh penambahan (mukjijat) seperti itu dalam teori Seleksi Alam, saya akan menolaknya sebagai sampah…saya malah jadi tidak akan menambahkan apapun dalam teori Seleksi Alam, jika benar butuh penjelasan mukjijat dalam tiap tahap keturunannya.” Mengenai surat diatas, Dawkins berkomentar: “Ini bukan masalah sepele. Dalam pendapat Darwin, tujuan dari teori evolusi oleh seleksi alam adalah bahwa hal itu memberikan hal ‘non mukjijat’ dalam keberadaan adaptasi kompleksnya. Ini juga menjadi tujuan dari keseluruhan buku ini (The Blind Watchmaker). Bagi Darwin, evolusi apa saja yang ditolong oleh Tuhan bukan evolusi namanya. Itu omong kosong belaka.”

Sedang mengenai Big Bang dan kosmologi modern, Stephen Hawking[72] membuat pendapat yang sama. Pihak gereja mencoba menebus dosa atas perlakuan yang mereka berikan pada Galileo, karenanya Vatican mengorganisir sebuah konferensi dimana para kosmolog terkenal diundang.

Pada akhir konferensi, para partisipan diberi kehormatan bertemu muka dengan Paus. Dia (Paus) bilang tidak apa-apa mempelajari evolusi jagat raya setelah Big Bang, tapi kita seharusnya jangan mempertanyakan Big Bang itu sendiri karena itu adalah saat2 Penciptaan dg demikian itu adalah Pekerjaan Tuhan. Saya (Hawking) senang sekali mengetahui bahwa dia (Paus) tidak tahu tentang subjek yang saya bicarakan tadi waktu konferensi – subjek tentang kemungkinan ruang-waktu itu terbatas tapi tidak ada lingkupnya, berarti tidak punya awal dan berarti tidak ada saat2 Penciptaan itu. (Hawking, S. A Brief History of Time. London, 1988, hal.122)

Dihalaman lain dalam buku Bestsellernya, A Brief History of Time, Hawking mengamati bahwa:

Teori Kuantum Gravitasi telah membuka kemungkinan baru, yang mana tidak ada lingkupan bagi ruang-waktu dan dg begitu tidak perlu menetapkan polah yang terjadi pada lingkupan itu. Tidak akan ada singularitas dimana hukum2 sains dilanggar dan tidak ada ujung dari ruang-waktu dimana orang harus merunut pada Tuhan atau hukum yang baru utk menetapkan kondisi lingkupan bagi ruang-waktu. Orang bisa berkata: “Kondisi lingkup dari jagat raya adalah bahwa tidak punya lingkupannya.” Jagat raya sepenuhnya mewadahi sendiri dan tidak dipengaruhi oleh apapun diluar dirinya. Tidak diciptakan ataupun dihancurkan. Hanya ada.

Belakangan, Hawking bertanya, “Lalu dimana tempat bagi sang pencipta?”

Einstein mengamati bahwa “orang yang sangat yakin mengenai operasi universal dari hukum sebab akibat tidak dapat, meski sebentar saja, menerima gagasan akan sesuatu yang ikut campur dalam kejadian2 tsb.. Dia tidak butuh agama yang memupuk rasa takut.”[73]

Serupa dg itu, baru-baru ini, Peter Atkins berpendapat “bahwa jagat raya ada tanpa campur tangan, dan tidak perlu menyebutkan gagasan adanya makhluk Maha Segala dalam segala bentuk perwujudannya.”[74]

Teori yang menjelaskan bahwa yang dimaksud Big Bang adalah Tuhan, tidak menjawab pertanyaan sains manapun. Mereka mendorong pertanyaan2 tentang Asal Muasal ini satu langkah lebih mundur lagi, menanyakan asal Muasal Tuhan. Seperti Feuerbach[75] katakan, “Dunia itu tidak ada artinya bagi agama – dunia, yang dalam kenyataannya adalah gabungan seluruh realitas, katanya diciptakan dalam kemegahannya hanya dengan teori. Kenikmatan berteori adalah kenikmatan intelektual termanis dalam hidup; tapi agama tidak mengenal kenikmatan berpikir, penelaah alam, para artis2nya. Gagasan jagat raya adalah bahwa ia tidak memiliki hal tsb, tidak memiliki kesadaran akan hal tak terbatas, kesadaran para spesies.”

Hanya para ilmuwan yang merasa takjub, yang merasa bahwa kerumitan hebat seperti itu perlu penjelasan, yang lalu mengajukan hipotesa sains teruji dan tak dapat disangkal, yang mencoba mengungkap hal2 yang disebut sebagai misteri jagat raya. Orang religius cukup puas dengan pendapat tak teruji dan tak menarik yang mengatakan bahwa ‘itu semua’ diciptakan oleh Tuhan. Titik.

Banjir, Kelaparan dan Kemarau

Sayang sekali Quran memberi contoh elemen2 yang katanya menjadi pertanda kemurahan hati tuhan dalam bentuk2 yang justru menyebabkan banyak penderitaan bukannya kebahagiaan. Hujan, disebutkan dalam surah 7.56, adalah pertanda kemurahan hati Tuhan. Tapi banjir akibat hujan mengambil nyawa ribuan orang yg ironisnya dari sebuah negara muslim, Bangladesh. Angin putting beliung tahun 1991, 200 km/jam, hasilnya adalah banjir yang mengakibatkan 100.000 orang mati dan 10 juta kehilangan rumah. Meski banyak air dimana-mana, Bangladesh tetap saja menderita kekeringan dari October sampai April tahun itu. Hingga, populasi besar dari salah satu penduduk termiskin didunia ini mendapatkan banjir sekaligus kekeringan. Semuanya pekerjaan dari Tuhan, seperti surah 57.22 katakan : “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lohmahfuz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.”

Tentunya, semua bencana alam mulai dari gempa bumi sampai tornado sulit dihubungkan dengan dengan Tuhan yang Maha Baik, khususnya karena bencana2 itu mendatangi orang2 yang miskin, dan malah seringnya pada negara2 muslim. Ketika gempa bumi di Lisbon tahun 1755, ribuan orang meninggal, banyak orang2 itu meninggal ketika berdoa di gereja, dan kematian ini punya efek besar di abad 18, khususnya pada penulis seperti Voltaire: “Kenapa begitu banyak orang tak bersalah terbunuh? Kenapa tempat pelacuran tidak kena, sementara orang2 saleh dihukum?”

Mukjijat

Teisme pada abad 18, membesar-besarkan rasionalitas (masuk akal) nya Islam, mereka mengemukakan fakta bahwa Muhammad tidak pernah melakukan mukjijat apapun. Ini benar: dalam Quran Muhammad berkata dia hanya manusia biasa yg tidak bisa melakukan mukjijat, dia hanya utusan Allah belaka (surah 29.49, 13.27-30, 17.92-97). Meski Muhammad menyangkal, tapi kok empat kali Quran mengatakan bahwa Muhammad telah melakukan mukjijat.

1. Bulan dibelah: [54.1-2] “Telah dekat (datangnya) saat itu dan telah terbelah bulan. Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat sesuatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata: “(Ini adalah) sihir yang terus menerus”.

2. Bantuan bagi para muslim ketika perang Badar: [3.123-125] Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya. (Ingatlah), ketika kamu mengatakan kepada orang mukmin: .”Apakah tidak cukup bagi kamu Allah membantu kamu dengan tiga ribu malaikat yang diturunkan (dari langit)?” ya (cukup), jika kamu bersabar dan bertakwa dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu Malaikat yang memakai tanda.”

3. Perjalanan Isro-Mi’raj: [17.1] “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidilharam ke Al Masjidilaksa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

4. Quran, bagi Muslim tetap menjadi mukjijat terbesar dari Islam : [29.50-51] “Dan orang-orang kafir Mekah berkata: “Mengapa tidak diturunkan kepadanya mukjizat-mukjizat dari Tuhannya?” Katakanlah: “Sesungguhnya mukjizat-mukjizat itu terserah kepada Allah. Dan sesungguhnya aku hanya seorang pemberi peringatan yang nyata”. Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya Kami telah menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur’an) sedang dia dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya dalam (Al Qur’an) itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman.”

Hadis2 juga penuh dengan mukjijat2 dari Muhammad, menyembuhkan orang sakit, memberi makan ribuan orang dari makanan satu orang anak kecil, dll.

Seiring dengan bertambahnya pengetahuan kita akan alam, ada penurunan yang sebanding akan kepercayaan pada mukjijat. Kita tidak lagi gampang berpikir bahwa Tuhan ikut campur dalam urusan2 manusia dengan cara menahan atau mengubah gejala2 alam yg normal, yang sudah menjadi hukum alam. Begitu kepercayaan kita akan penemuan hukum2 alam bertambah, kepercayaan kita akan mukjijat jadi menurun.

David Hume berpendapat sbb[76]:

 

Mukjijat adalah pelanggaran terhadap hukum2 alam; pengalaman2 yang pasti dan tidak tergoyahkan yg telah menetapkan hukum2 ini, bukti2 yang berlawanan dengan mukjijat, bukti dari fakta2 alam itu sendiri, adalah argumen yang tidak bisa terbantahkan lagi. Kenapa masih menganggap mungkin semua manusia pasti mati; bahwa timah tidak bisa mengambang diudara dengan sendirinya; .. kecuali bahwa kejadian2 ini seiring sejalan dengan hukum2 alam, dan dibutuhkan pelanggaran tertentu terhadap hukum2 alam ini, dengan kata lain butuh mukjijat utk itu? Tidak ada hal yang dinilai sebagai mukjijat, jika terjadinya masih dalam batas2 alami belaka.. tapi disebut mukjijat jika orang mati hidup kembali; karena tidak pernah terjadi/teramati kejadian demikian dijaman manapun dinegeri manapun. Makanya haruslah ada pengalaman yang sama pada setiap kejadian2 mukjijat itu, karena kalau jika tidak pastilah tidak layak disebut mukjijat. Dan pengalaman sama ini harus ada buktinya, bukti langsung dan secara penuh teramati.Konsekwensi yang jelas adalah “bahwa tidak ada kesaksian yang pantas utk menetapkan bahwa kejadian tertentu tsb sebuah mukjijat, kecuali kesaksian itu sedemikian sehingga kebohongannya itu sendiri sudah merupakan sebuah mukjijat, lebih dari fakta yang akan dipastikan itu.”

Dan dalam setiap dugaan adanya mukjijat, lebih masuk akal dan sesuai dengan pengalaman2 kita utk menyangkal bahwa ‘mukjijat’ pernah terjadi. Orang2 yg dibohongi dan ditipu, cenderung membesar-besarkan dan punya kebutuhan kuat utk percaya; atau seperti kata Feuerbach, sebuah mukjijat adalah “sihir imajinasi, yang memuaskan tanpa bertentangan dengan keinginan2 hatinya.” Mukjijat2 Quran muncul dahulu kala, dan kita sekarang tidak berada dalam posisi utk membenarkan/ mengujinya.

Mungkin satu dari banyak argumen penting akan mukjijat, adalah argumen yang sering terliwat oleh banyak orang yg seperti dinyatakan oleh Hospers:

Kita percaya bahwa kebanyakan mukjijat itu dalam beberapa segi sebenarnya tidak pantas bagi Tuhan Maha Ada. Jika Tuhan ingin orang2 percaya padaNya, kenapa dia hanya melakukan Mukjijat disebuah daerah yang terpencil dimana hanya sedikit orang saja yang menyaksikannya? .. Kenapa tidak menyembuhkan semua penderita, bukannya menyembuhkan sedikit orang saja,? kenapa tidak mengakhiri pembantaian besar-besaran di perang dunia I, atau mencegah terjadi perang itu langsung, bukannya melakukan mujijat di Fatima (dusun di Portugis dimana tiga anak melihat penampakan “Our Lady of the Rosary”) ditahun 1917?[77]

———— –

[58] Margulis, Lynn, and K.V. Schwartz. Five Kingdoms. San Fransisco, 1982. Hal.224-239
[59] Ingersoll, R. Some Mistakes of Moses. Amherst, N.Y., 1986. Hal.149
[60] Fox, R.L. The Unauthorised Version. London, 1991. Hal.218
[61] Howell Smith, A.D. In Search of the Real Bible. London, 1943. Hal.75
[62] Watt, W. Montgomery Muslim-Christian Encounters. London, 1991. Hal.134-135
[63] Kaufmann, W.J., III. Universe. New York, 1985. Hal.110-116
[64] Birx, H. Art. “Evolution and Unbelief”. Dalam Encyclopaedia of Unbelief, volume 1. Hal.417-418
[65] Darwin, C. The Origin of Species. London, 1872. Hal. Introduction
[66] Ruse, hal.47
[67] Darwin, C. The Origin of Species. London, 1872. Hal. Introduction
[68] Huxley, T.H. Man’s Place in Nature and Other Essays. London, 1914. Hal.52-62
[69] Young, J.Z. An Introduction to the Study of Man. Oxford, 1974. Hal.402
[70] Nietzsche. The Portable Nietzsche. Ed. W. Kaufmann. New York, 1974. Hal.628
[71] Dawkins, Richard. The Blind Watchmaker. London, 1988. Hal.141, 249
[72] Hawking, S. A Brief History of Time. London, 1988. Hal.122, 143-149
[73] Einstein, A. Ideas and Opinions. Delhi, 1989. Hal.39
[74] Atkins, P. Creation Revisited. Oxford, 1992. Hal.vii. Preface
[75] Feuerbach, Ludwig. The Essence of Christianity. Amherst, N.Y., 1989. Hal.195-196
[76] Hume, David. Essential Works of Davide Hume. New York, 1965. Hal.114-115
[77] Hospers, John. An Introduction to Philosophical Analysis. London, 1973. Hal.454

____________ _____
Para Muslim tidaklah bodoh. Mereka bisa melihat bahwa Islam adalah salah. Mereka tahu ayat2 Quran bertentangan satu sama lain. Mereka tahu Islam bertentangan dengan kecerdasan manusia dan tidak masuk akal, tapi mereka begitu terjebak di dalamnya sehingga mereka tidak bisa meninggalkannya. Mereka memaksa diri mereka untuk percaya, karena tanpa itu, mereka bagaikan tersesat.
– Ali Sina