Muhammad tidak ragu lagi adalah salah satu orang terbesar sejarah, dalam pengertian jika dia tidak ada maka jalan sejarah umat manusia mungkin akan berbeda. Tapi kata Popper[1] “Jika peradaban kita ingin bisa bertahan, kita harus patahkan kebiasaan ‘menghormati’ orang2 besar tsb. Orang2 besar membuat kesalahan yang luarbiasa besar pula.”Meski dogma islam menggambarkan Muhammad sebagai orang tanpa dosa, Muhammad sendiri tidak pernah mengklaim dirinya sempurna atau tak bisa salah. Seperti Tor Andrae katakan, ini adalah salah satu karakteristik yang disukai darinya; dia selalu sadar akan kekurangannya dan mampu mengritik dirinya sendiri.

Muhammad adalah orang dengan pesona luar biasa. Lebih dari satu sumber menceritakan senyumnya yang sangat menarik dan karismanya yang hebat yang mampu menimbulkan rasa setia dan sayang pada para pengikutnya. Dia juga seorang pemimpin militer yang jenius dan kepala negara dengan kekuatan bujukan dan diplomasi yang hebat. Apa saja yang telah dia capai? Montgomery Watt, salah seorang scholar barat yang kagum pada Muhammad hingga seakan memujanya merangkum pencapaiannya sbb:[2] “Pertama-tama dia memiliki kemampuan seperti seorang peramal. Dia mengerti dan sadar akan akar2 religius yang mengakar dalam2 pada masyarakat sosial di Mekah dan dia mengeluarkan sekumpulan gagasan yang, dengan menempatkan perselisihan2 yang terjadi di Mekah kedalam gambaran yang lebih besar, membuat hal itu bisa mendamaikan mereka hingga tingkat tertentu.”

Kita berhenti dulu disini dan menelaah apa yang diklaim Watt ini. Kita sudah mengacu pada teorinya Bousquet dan Crone yang menyangkal pendapat bahwa Mekah saat itu berada pada krisis spiritual. Disini saya akan mengutip Margoliouth[ 3] yang juga mengantisipasi argumen punya Watt sekitar lima puluh tahun sebelumnya, argumen yang bisa dikatakan menyangkal argumen Watt itu sendiri. Margoliouth menunjukkan bahwa kepercayaan2 orang Arab jaman sebelum islam sudah jauh lebih cukup untuk kebutuhan2 spiritual mereka, dan tidak ada bukti apapun mengenai adanya krisis sosial:

Tapi pernyataan bahwa kepercayaan orang2 Arab dulu tidak cukup bagi kebutuhan2 religius mereka, tidaklah disertai dengan bukti2. Tuhan adalah makhluk khayal yang bisa bertindak baik atau merusak; dan segala yg ada saat itu menunjukkan bahwa orang2 Arab yang tidak pernah melihat dunia yg luas ini sangat yakin bahwa dewa2/tuhan2 mereka atau dewi2 mereka bisa melakukan keduanya. Sejauh sentimen religius perlu dipuaskan, tidak ada bukti2 yang menunjukkan bahwa paganisme gagal memuaskan kebutuhan spiritual mereka. Kita mengumpulkan prasasti2 dari kaum pagan arab bahwa sejumlah besar pengabdian dan rasa terima kasih diberikan pada dewa2 dan patron2 mereka.

Professor Watt melanjutkan[ 4]: “Gagasan yang dia nyatakan pada akhirnya memberikan dia posisi kepemimpinan, dengan otoritas yang tidak didasarkan pada status kesukuan tapi pada agama. Karena posisi dan sifat otoritasnya ini, suku2 dan klan2 yang menjadi saingan dalam masalah sekular semuanya menerima dia sebagai pemimpin. Hal ini berujung pada terciptanya sebuah komunitas dimana para anggotanya hidup damai satu sama lain.”

Disini, pertama kali saya merasa bahwa Watt tidak adil mengenai pencapaian Muhammad yang sebenarnya dan keliru mengartikan teori dengan praktek. Seperti Goldziher[5] katakan, “Muhammad adalah orang pertama dari kelompok mereka yang berkata pada orang2 Mekah dan tuan2 penguasa gurun arab bahwa pengampunan bukanlah sebuah kelemahan tapi sebuah kebaikan dan utk memaafkan sesuatu yang tidak adil yang dilakukan pada diri seseorang tidaklah bertentangan dengan norma2 kebaikan tapi merupakan Kebaikan tertinggi – dinamakan berjalan dijalan Allah.”

Dengan berkeras pada pengampunan inilah Muhammad mampu membujuk suku2 dan klan2 agar menerima gagasan bahwa mulai dari sekarang Islamlah bukannya kesukuan yang akan menjadi prinsip pemersatu masyarakat. Sebelum itu, suku2 terpecah selama berabad-abad dengan pertikaian berdarah, pembunuhan dendam, balas membalas dan permusuhan. Muhammad mengajarkan kesetaraan bagi semua orang percaya dihadapan Allah. Sialnya, teori adalah satu hal dan praktek hal yang lain lagi. Pertama-tama, Muhammad sendiri tidak mempraktekkan yang dia khotbahkan. Sering sekali dalam kelakuannya terhadap orang Yahudi, orang Mekah dan musuh2nya, Muhammad menyalurkan kecenderungan sifat kejinya, tanpa ada tanda2 pengampunan sedikitpun. Bukhari[6] memberi contoh kekejaman Muhammad:

Anas berkata “beberapa orang dari suku Ukl atau Uraina datang ke Medinah dan memeluk islam; tapi iklim di sana tidak cocok untuk mereka dan mereka ingin pergi dari sana. Jadi sang nabi menyuruh mereka untuk pergi ke gembala unta untuk meminum susu dan kencing (sebagai obat) agar mereka sembuh. Jadi mereka pergi ke arah yang ditunjukkan dan setelah itu mereka menyatakan keluar islam, membunuh gembala sang nabi dan membawa lari untanya. Berita itu sampai ke sang nabi pada pagi hari dan dia mengirim (orang) untuk mengejar dan mereka tertangkap dan dibawa ke Medinah saat sore. Kemudian sang nabi menyuruh orang memotong kaki dan tangan mereka sebagai hukuman untuk pencurian dan kemudian mata mereka dicungkil keluar dan mereka di taruh di “al-harra” (gurun) dan saat mereka meminta air, tidak ada air yang diberikan, mereka mati. Abu Qilaba berkata, “orang2 itu mencuri dan membunuh, menjadi orang tak beriman setelah memeluk islam dan melawan allah dan nabinya.”

William Muir[7] merangkum banyaknya kekejaman yang ditulis dan diriwayatkan oleh – ingat-ingat dengan baik – orang muslim sendiri, otoritas muslim terkenal seperti Ibn Ishaq dan al-Tabari serta yang lainnya:

Keluhuran budi, kemurahan hati ataupun sikap normal tidak terlihat menjadi keistimewaan dalam tindakan2 Muhammad terhadap musuh2nya. Diatas mayat2 Quraish yang dibantai di Badar dia bersuka ria dengan kepuasan biadabnya; dan beberapa tawanan, yang tidak bersalah atas kejahatan apapun kecuali karena skeptis terhadap Muhammad dan menjadi musuh politiknya, dengan sengaja dieksekusi atas perintahnya. Pangeran Khaibar, setelah disiksa secara tidak manusiawi demi mengorek keterangan harta sukunya yang konon dia sembunyikan, bersama sepupunya dihukum mati dengan tuduhan telah curang menyembunyikan harta tsb, lalu istrinya ditangkap dan dibawa utk dikeloni dikemah sang nabi. Hukuman pengusiran dipaksakan Muhammad dengan sangat kejam terhadap dua suku Yahudi di Medinah; dan suku yang ketiga bernasib seperti tetangganya, wanita dan anak2 mereka jadi budak utk diperkosa dan dijual sementara kaum prianya sekitar 900 orang dipancung dengan darah dingin dihadapan mata keluarganya.

Akhirnya kita lihat, Watt menciptakan sebuah gambaran yang tidak masuk akal mengenai keharmonisan antar suku dibawah kepemimpinan Muhammad. Contoh2 yang sudah diberikan tentang kekejaman Muhammad bisa menjadi penjelasan fakta bahwa tidak semua suku menerima kepemimpinannya. Lagi, Goldziher menunjukkan bagaimana persaingan antar suku terus memanjang setelah islam yang katanya telah menghilangkan dan mengutuk hal tsb. Karena saya sudah mendiskusikan tentang persaingan Arab lawan Arab, saya tidak akan menyebutkannya lagi disini. Muhammad pastinya tidak meninggalkan sebuah negara yang bersatu ketika ia mati. Semua ini menghasilkan perang2 suksesi: kalifah kedua, ketiga dan keempat semuanya mati terbunuh. Pembunuhan Usman tahun 656 berujung pada kekacauan dan anarki berdarah, dan karenanya hal itu dikenal sebagai ‘al-Bab al-Maftuh,” (pintu telah terbuka menuju perang sipil).

Seperti kata Margoliouth: “Sang nabi tak diragukan lagi berharap membuat kehidupan para muslim menjadi suci didalam dunia muslim itu sendiri seperti pada sistem kesukuan lama dimana hidup orang2 sesuku dianggap suci didalam sukunya sendiri; tapi dalam hal ini dia gagal, karena pengikut pertamanya ternyata saling berperang satu sama lain dan dalam sejarah Islam, korban pembantaian muslim sering adalah orang muslim itu sendiri dan kebanyakan dilakukan oleh orang2 yang mengaku sebagai keturunan sang nabi.”[8]

Watt[9] melanjutkan: “utk mencegah energi ‘kepingin perang’ merusak kedalam komunitasnya sendiri, konsep Jihad mengarahkan energi ini keluar, kearah non muslim.”

Bukan Watt saja yang kagum akan ekspansi Arab dan bangkitnya kerajaan islam. Imperialisme, sekarang ini sudah bukan jamannya,tapi tak seorangpun peduli utk mengkritik islam yang melakukan hal demikian dan mengakibatkan banyak kematian dan kehancuran, ini dijelaskan dalam bab sebelumnya. Bagaimana Watt menganggap Jihad, yang mana tujuan utamanya adalah memusnahkan penyembahan berhala, membunuh kafir dan merebut tanah dan harta milik orang lain lewat jalan militer agar masuk islam, sebagai sebuah pencapaian moral besar yang harus dikagumi, masih menjadi misteri buat saya.

Kejujuran Muhammad

Sejumlah besar tinta telah ditumpahkan secara tak berguna untuk pertanyaan tentang kejujuran Muhammad. Apa dia itu penipu atau dia sungguh2 tulus percaya bahwa semua “wahyu2nya” yg menjadi kitab Quran berasal dari komunikasi langsung dengan Tuhan? Bahkan misalnya jika kita mengakui Muhammad sungguh2 jujur, saya tidak bisa melihat apakah hal itu berpengaruh dengan penilaian kita tentang moral karakternya. Orang bisa saja sungguh2 tulus percaya pada kepercayaan yang sebenarnya palsu. Yang lebih penting lagi, orang bisa sungguh2 tulus percaya pada sesuatu yang tidak bermoral atau tidak pantas dihargai. Orang2 rasis dengan tulus percaya bahwa orang Yahudi harus dimusnahkan. Lalu apa ketulusan mereka itu mempengaruhi pengutukkan kita akan kepercayaan tersebut? Sepertinya kata “tulus percaya” disini punya peran yang sama dengan “mengaku salah karena alasan sakit jiwa” yang dibuat di pengadilan2 oleh para pengacara dg harapan bisa membebaskan klien2 jahat mereka.

Utk pertanyaan ini, yang paling mungkin dijadikan pembelaan bagi Muhammad adalah bahwa dia “tertipu sendiri”, sesuatu yang bahkan oleh Watt[10] juga diakui: “Harusnya jelas bahwa, jika hal ini benar, fakta bahwa wahyu2 Muhammad sesuai sekali dengan hasrat2 Muhammad dan memenuhi kesenangan dan keinginan pribadinya, tidaklah menunjukkan bahwa Muhammad tidak jujur; ini hanya menunjukkan bahwa Muhammad bisa saja tertipu sendiri.” Dengan kata lain, jika dia orang yg sungguh2 jujur dan tulus, maka mestilah dia ‘tertipu sendiri’ secara habis-habisan, jika dia orang tidak jujur, maka dia itu jelas seorang penipu. Para pembela islam yg berpendapat bahwa Muhammad adalah seorang politisi lihay, seorang realistis, negarawan brilian, jago menilai karakter orang, pembuat undang2 yang bijak dan diplomat luar biasa, sangat waras dan tidak terserang ayan/epilepsi, tidak bisa membuat pembelaan akan tuduhan bahwa Muhammad juga sebenarnya bisa saja ‘tertipu sendiri’. Jadi kesimpulan yg kemudian ‘memaksa’ masuk kedalam logika kita adalah bahwa dalam fase kedua hidupnya dia secara sadar telah ‘mengarang wahyu2’, sering utk kenyamanan dirinya sendiri, untuk membereskan masalah2 domestiknya. Disaat yang sama orang yakin setuju dengan banyak scholar2 lain bahwa di Mekah, Muhammad sungguh2 tulus dan jujur dalam pengakuannya yang telah berkomunikasi dengan tuhan. Tapi dalam hal apapun tidak bisa disangkal bahwa di Medina, kelakuan dan sifat2 alami dari wahyu2nya berubah hebat. Muir[11] dengan baik merangkum perioda kehidupan Muhammad sbb:

Pesan2 surga dengan enaknya diturunkan utk membenarkan tingkah laku politis, dengan cara yang persis sama seperti menanamkan rasa cinta ajaran2 religius. Peperangan dilakukan, eksekusi diperintahkan dan teritori diperluas, dibawah samaran perintah ilahi. Bahkan kesenangan2 pribadi pun bukan saja dibolehkan malah didukung dan dianjurkan oleh perintah Surga. Ijin khusus keluar, yg membolehkan sang Nabi memiliki banyak istri; selingkuh dengan sang pembantu, menggagahi Maria orang Koptik, semua disetujui dan dituliskan dalam Surat tertentu; juga hasrat birahi kepada mantu (istri anak angkatnya) sendiri serta pada teman2nya dijadikan subjek dari wahyunya, keberatan2 sang nabi akan kelakuan buruknya sendiri ditolak oleh Auloh sebagai sebuah kesalahan, perceraian diijinkan dan perkawinan dengan pihak yang dihasratkannya dilangsungkan. Jika kita bilang “wahyu2” demikian dipercaya oleh Muhammad dengan tulus sebagai benar wahyu dari Tuhan, maka itu hanya bisa terjadi jika perasaan kita sudah sama anehnya dan termodifikasi seperti dia. Pastinya dia harus bertanggung jawab utk hal yang dia percayai itu; dan utk itu dia telah melakukan banyak kekejian dalam penilaian dan prinsip sifat2 aslinya.

Cara kasual yg Muhammad lakukan ketika mengeluarkan wahyu dalam fase akhir hidupnya digambarkan dalam anekdot berikut. Umar, kalifah kedua masa depan, menemui sang nabi dan memprotesnya karena telah berdoa bagi musuhnya, Abdallah Ibn Ubbay. Umar sempat berpikir apakah dia tidak berlebihan mengkritik sang nabi, tapi sang nabi lalu mengeluarkan wahyu, “Jangan berdoa bagi mereka yang bisa saja mati setiap saat jangan juga berdiri diatas kuburan mereka.”

Bagi Umar wahyu kebetulan sama ini tidak semerta menimbulkan kecurigaan; bagi kita wahyu yang muncul ini tidak lain hanyalah persetujuan formal akan pendapat yang disarankan oleh Umar, dimana sang nabi memang seharusnya mewakili opini publik. Dalam kesempatan lain adalah ketika Umar punya ide tentang Seruan/ajakan utk sholat (Adzan) yang berbeda agar tidak dituduh meniru cara orang Yahudi dan kristen, lalu dia menyampaikan idenya ini pada sang nabi, hebatnya setelah itu ternyata sang nabipun katanya telah diberi wahyu yang sama oleh malaikat Jibril. Dalam tiga kesempatan lain Umar mengaku ternyata dia punya pemikiran yang sama dengan Allah, setelah dia menyampaikan ide2nya kepada sang nabi lagi-lagi ide2nya itu ternyata ‘telah’ diwahyukan pada sang nabi, persis seperti yang telah dia nyatakan. “Kebetulan2” yang menakjubkan ini membuatnya bangga tapi ajaibnya Umar tidak curiga. Para pengikut lainnya mungkin tidak sesederhana (baca: sebodoh) dia tapi mereka sadar akan bahayanya mengejek Quran. Perselisihan sering muncul diantara para muslim mengenai fakta bahwa Quran telah mengulang beberapa kali ayat yang sebenarnya telah diwahyukan sebelumnya dalam bentuk lain dan masing2 mengklaim bahwa versi yang mereka dengarlah yang paling benar: sang nabi, yg tak pernah kehilangan aka, mengakui bahwa ayat yang sama dalam Quran tidak pernah diturunkan kurang dari tujuh ayat.[12]

“Salah satu delusi (penipuan diri) yang paling menarik dan paling berbahaya bagi manusia dan bangsa2 adalah membayangkan dirinya sendiri menjadi alat khusus “Kehendak Tuhan”, tulis Russell[13]. Sialnya, baik Muhammad maupun para muslim menderita sakit delusi semacam ini. Hanya muslim yang dijamin keselamatannya – keselamatan diluar islam tidaklah mungkin. Tuhan telah memilih mereka utk menyebar luaskan pesan2nya pada umat manusia.

Reformasi Moral

Muhammad dikatakan telah melenyapkan kebiasaan lama yang suka mengubur bayi perempuan hidup2. Tapi apakah dia memperbaiki kondisi umum para wanita sulit utk diamati benar2 karena tidak ada bukti dan pengetahuan akan praktek2 yang dilakukan sebelum jaman islam. Meski demikian sebagian scholar telah mengamati bahwa wanita dibawah islam mestinya jauh lebih buruk dibanding sebelum islam. Perron dalam karya klasiknya “Femmes Arabes Avant et Depuis L’Islamisme” menyatakan bahwa posisi wanita sejak islam telah menurun secara serius, dan mereka telah kehilangan posisi moral dan intelektual yang sebelumnya mereka miliki:[14]

Hak prerogatif tertentu yang tadinya memberi kaum wanita kuasa yang lebih besar dalam hal kebebasan berpendapat dan bertindak telah dihilangkan islam, hilangnya hak2 ini lalu menjadi hal yg alami bagi kaum wanita. Wanita Pagan Arab dulu punya kebebasan diri, memilih jodoh; mencari calon suami yang dia sukai berdasarkan simpati, intelektual ataupun kelebihan2 lainnya.

Tapi tidak adil jika tidak menyebutkan juga bahwa sebagian scholar lain seperti Bousquet percaya bahwa Muhammad telah berusaha semampu dia utk memperbaiki kondisi wanita tapi tidak bertindak cukup jauh; seperti Lane Poole katakan, “Muhammad sebenarnya bisa bertindak lebih baik lagi.” Yang pasti dalam hal kepemilikan wanita islam sebenarnya bisa sejajar dengan pria. Kenyataannya dalam segala hal wanita lebih rendah dari laki-laki.

Tapi Bousquet juga menyatakan contoh2 mengerikan yang ditetapkan oleh Muhammad dalam pernikahannya dengan Aisha, ketika aisha hanya berumur 9 tahun. Kebiasaan perkawinan anak ini bertahan hingga jaman modern dan berujung pada akibat yg tragis. Tapi para muslim ragu dan takut utk mengkritik kebiasaan yang ditetapkan oleh nabinya.

Muhammad juga mengenalkan institusi lain yang berujung pada kengerian dan kejahatan serius, contoh saja, ditetapkannya kompensasi dari sumpah.

Pada Surah 16.94 “(Dan janganlah kamu jadikan sumpah-sumpahmu sebagai alat penipu di antaramu, yang menyebabkan tergelincir kaki (mu) sesudah kokoh tegaknya, dan kamu rasakan kemelaratan (di dunia) karena kamu menghalangi (manusia) dari jalan Allah: dan bagimu azab yang besar)” ada sebuah perintah utk memegang sumpah tapi dalam surah 5.89 (juga 2.225) “(Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kafarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Barang siapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kafaratnya puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kafarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). Dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum- Nya agar kamu bersyukur (kepada-Nya) )” pelanggaran sumpah ini bisa digantikan dengan semacam kompensasi. Dan dalam surah 3.77 hal ini dipastikan lagi dan diterapkan pada suatu kasus dimana sang Nabi sendiri terlibat. Hal ini berpengaruh sangat serius bahwa sepertinya tidak ada mode yang bisa dipercaya dalam hukumnya Muhammad mengenai sebuah sumpah, sumpah yang harusnya mengikat secara legal; karena bukan saja Quran sejara jelas menyatakan bahwa tindakan amal tertentu bisa menggantikan tindakan lainnya, tapi sang Nabi juga mengenalkan perumpamaan yang menjelaskan jika seorang yang telah bersumpah melakukan sesuatu tapi ketahuan tidak melakukannya malah melakukan hal yang sebaliknya maka dia harus melakukan amal lain sebagai gantinya.[15]

Sebaliknya, kehidupan Muhammad malah penuh dengan kontradiksi, ini menunjukkan bahwa dia seringkali siap utk berkompromi terhadap prinsip2nya demi mendapatkan keuntungan politik atau kekuasaan, seperti ketika dia setuju utk menghapus gelar “Rasul Allah” dari sebuah dokumen karena menghalangi diratifikasinya sebuah perjanjian. Dia mengejek dan menista penyembahan berhala tapi memasukkan banyak praktek2 kaum berhala Arab kedalam ibadah haji – seperti mencium batu hitam. Dia menghilangkan judi panah yang dianggapnya sebagai takhyul, tapi dia sendiri banyak menceritakan takhyul tentang kakek2 moyang bangsanya – dia menggantungkan kepentingan2 yg besar pada pertanda2, khususnya yang berhubungan dengan nama-nama. Dia sungguh2 percaya pada ‘mata setan’ dan menghindarinya dg memakai jimat.

Orang tua dihormati tinggi2 dalam surah2 awal, tapi ketika generasi muda bergabung dengan Muhammad tanpa persetujuan orang tua, pengabdian pada orang tua jadi dianggap menghalangi dan tidak dia inginkan, karenanya mendadak anak2 muda dilarang utk mendoakan orang2 tua mereka. Dorongan2 Muhammad utk mengucurkan darah kerabat juga punya pengaruh mengerikan pada para pengikutnya. Sementara Quran mengkhotbahkan sikap sederhana dalam segala hal, tapi makin kedepan menjadi makin tidak toleran Pembunuhan2 terhadap musuh2 Muhammad, sialnya, malah dijadikan teladan dalam hadis dan dipakai dijaman modern sekarang juga oleh para pembela Khomeini yang membela seruannya utk membunuh Rushdie. Dalam pernyataan margoliouth[ 16]

“Pengalaman2 dari kehidupan sang nabi, pertumpahan darah terus menerus yang menandai karirnya di medina sepertinya malah berkesan dihati para pengikutnya dan menimbulkan kepercayaan amat dalam akan nilai pertumpahan darah sebagai pembuka gerbang ke surga.” Sulit utk mengerti bagaimana begitu banyak gubernur muslim, kalifah, para ulama dan muslim seperti Hajjaj atau Mahmud dari Ghazni mengacu tindakan2 Muhammad utk membenarkan pembunuhan2, perampokan dan penghancuran yang mereka lakukan – “Bunuh, Bunuh orang kafir dimanapun kau temui.” Margoliouth mengatakan, “Kita tidaklah mungkin tidak bisa menemukan hal paling menyakitkan dalam Islam ini (pertumpahan darah) sepanjang sejarahnya dalam pembantaian2 musuh2 sang nabi, dan dalam teori Quran bahwa pertumpahan darah yang banyak adalah merupakan karakteristik seorang nabi sejati pada tahap tertentu karirnya.” Para free thinker barat seperti Russell melihat Yesus Kristus kurang bisa dikagumi dibandingkan dengan Socrates atau Buddha. Mereka bilang mereka tidak bisa mengerti kenapa Yesus mengutuk pohon ara dan membuatnya mati, sementara para pembela islam, baik orang barat ataupun muslim mencoba jungkir balik mencari alasan2 pembunuhan2 yang dilakukan Muhammad. Saya sendiri pastinya tidak bisa mensejajarkan Muhammad dalam bidang moral yang sama dengan Socrates, Buddha, Confucius atau Yesus Kristus.

Mungkin warisan terjelek dari Muhammad adalah kekeras kepalaannya yang tetap mengatakan bahwa Quran adalah Perkataan Tuhan Langsung, dan benar utk segala jaman, dg demikian hal itu menutup segala kemungkinan bagi ide2 intelektual baru dan kebebasan berpikir serta berpendapat yang menjadi satu-satunya jalan bagi dunia islam utk maju masuk kedalam abad 21.

———— —

[1] Popper, K.R. The Open Society and its Enemies. 2 vols. London, 1969. Vol.1 Pendahuluan
[2] Artikel “Muhammad” dalam Cambridge History of Islam, vol.1A, hal.55
[3] Margoliouth, D.S. Mohammed and the Rise of Islam. London, 1905. hal.24-25
[4] Artikel “Muhammad” dalam Cambridge History of Islam, vol.1A, hal.55
[5] Goldziher, Ignaz. Muslim Studies. 2 vol. terjemahan C.R. Barber dan S.M. Stern. London, 1967-71. Vol.1, hal.25
[6] Dikutip dalam Dictionary of Islam, hal.63-64
[7] Muir, Sir W. The Life of Muhammad. Edinburgh, 1923. Hal.497-498
[8] Margoliouth, D.S. “Muhammad” dalam Encyclopaedia of Religion and Ethics, vol.8. hal.877
[9] Cambridge History of Islam Vol.1A, hal.55
[10] Watt, W. Montgomery. Muhammad at Medina. Oxford, 1956. Hal.325
[11] Muir, Sir W. The Life of Muhammad. Edinburgh, 1923. Hal.660
[12] Margoliouth, D.S. Mohammed and the Rise of Islam. London, 1905. Hal.218-219
[13] Russell, Bertrand. Unpopular Essays. New York, 1950. Hal.161
[14] Perron, hal.105
[15] Margoliouth, D.S. The Early Development of Mohammedanism. London, 1914. Hal.48-49
[16] Ibid., hal.56-60

____________ _____
Para Muslim tidaklah bodoh. Mereka bisa melihat bahwa Islam adalah salah. Mereka tahu ayat2 Quran bertentangan satu sama lain. Mereka tahu Islam bertentangan dengan kecerdasan manusia dan tidak masuk akal, tapi mereka begitu terjebak di dalamnya sehingga mereka tidak bisa meninggalkannya. Mereka memaksa diri mereka untuk percaya, karena tanpa itu, mereka bagaikan tersesat.
– Ali Sina