Kisah pertemuan Ratu Saba (Balqis) dengan Nabi Sulaiman ditulis panjang lebar dalam Qur’an. Kisah yang sama kita temukan di kitab Targum Ester yang jelas menjadi sumber cerita Muhammad. Dalam Qur’an, tokohnya adalah Nabi Sulaiman dan Ratu Saba atau Balqis, sedangkan Targum menyebutnya sebagai Raja Salomo dan Ratu Sheba.
Berikut adalah kisah pertemuan Ratu Saba dan Nabi Sulaiman yang tercantum dalam Surah Semut (Q 27:20-44)
(20) Dan dia memeriksa burung-burung lalu berkata: “Mengapa aku tidak melihat hud-hud, apakah dia termasuk yang tidak hadir. (21) Sungguh aku benar-benar akan mengazabnya dengan azab yang keras atau benar-benar menyembelihnya kecuali jika benar-benar dia datang kepadaku dengan alasan yang terang”. (22) Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata: “Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini. (23) Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar. (24) Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk, (25) agar mereka tidak menyembah Allah Yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi dan Yang mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. (26) Allah, tiada Tuhan Yang disembah kecuali Dia, Tuhan Yang mempunyai ‘Arsy yang besar”. (27) Berkata Sulaiman: “Akan kami lihat, apa kamu benar, ataukah kamu termasuk orang-orang yang berdusta. (28 ) Pergilah dengan (membawa) suratku ini, lalu jatuhkan kepada mereka, kemudian berpalinglah dari mereka, lalu perhatikanlah apa yang mereka bicarakan” (29) Berkata ia (Balqis): “Hai pembesar-pembesar, sesungguhnya telah dijatuhkan kepadaku sebuah surat yang mulia. (30) Sesungguhnya surat itu, dari SuIaiman dan sesungguhnya (isi)nya: “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (31) Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri”. (32) Berkata dia (Balqis): “Hai para pembesar berilah aku pertimbangan dalam urusanku (ini) aku tidak pernah memutuskan sesuatu persoalan sebelum kamu berada dalam majelis(ku)” . (33) Mereka menjawab: “Kita adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan (juga) memiliki keberanian yang sangat (dalam peperangan), dan keputusan berada ditanganmu: maka pertimbangkanlah apa yang akan kamu perintahkan” . (34) Dia berkata: “Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina; dan demikian pulalah yang akan mereka perbuat. (35) Dan sesungguhnya aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan (membawa) hadiah, dan (aku akan) menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh utusan-utusan itu”. (36) Maka tatkala utusan itu sampai kepada Sulaiman, Sulaiman berkata: “Apakah (patut) kamu menolong aku dengan harta? maka apa yang diberikan Allah kepadaku lebih baik daripada apa yang diberikan-Nya kepadamu; tetapi kamu merasa bangga dengan hadiahmu. (37) Kembalilah kepada mereka sungguh kami akan mendatangi mereka dengan balatentara yang mereka tidak kuasa melawannya, dan pasti kami akan mengusir mereka dari negeri itu (Saba) dengan terhina dan mereka menjadi (tawanan-tawanan) yang hina dina”.(38 ) Berkata Sulaiman: “Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri”. (39) Berkata ‘Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin: “Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya”. (40) Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari AI Kitab: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”. Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: “Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan ni’mat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”. (41) Dia berkata: “Robahlah baginya singgasananya; maka kita akan melihat apakah dia mengenal ataukah dia termasuk orang-orang yang tidak mengenal(nya) “. (42) Dan ketika Balqis datang, ditanyakanlah kepadanya: “Serupa inikah singgasanamu? ” Dia menjawab: “Seakan-akan singgasana ini singgasanaku, kami telah diberi pengetahuan sebelumnya dan kami adalah orang-orang yang berserah diri”. (43) Dan apa yang disembahnya selama ini selain Allah, mencegahnya (untuk melahirkan keislamannya) , karena sesungguhnya dia dahulunya termasuk orang-orang yang kafir. (44) Dikatakan kepadanya: “Masuklah ke dalam istana”. Maka tatkala dia melihat lantai istana itu, dikiranya kolam air yang besar, dan disingkapkannya kedua betisnya. Berkatalah Sulaiman: “Sesungguhnya ia adalah istana licin terbuat dari kaca”. Berkatalah Balqis: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam”.

Begitulah kisah versi Qur’an mengenai Ratu Saba. Singgasana yang disebut dalam Qur’an berbeda sedikit dengan yang disebut dalam Targum. Dalam Targum dikatakan bahwa singgasana tersebut milik Salomo, dan tidak ada seorangpun di dunia yang memiliki singgasana semewah itu. Terdapat tangga emas enam tingkat untuk menuju ke atas singgasana, di setiap tingkat terdapat 12 patung singa emas, dan sekelilingnya terdapat 12 elang emas. Dua puluh empat elang lainnya menaungi sang Raja dengan bayangan mereka, dan jika Raja berpindah tempat, maka elang2 perkasa ini akan mengangkat singgasana ke manapun Raja menentukan. Jadi elang2 dalam Targum ini melakukan hal yang yang seperti para Jin lakukan dalam Qur’an.

Isi cerita tentang Ratu Saba, kunjungannya kepada Sulaiman, surat yang dikirim Sulaiman pada Ratu Saba merupakan hal2 yang sama terdapat baik dalam Qur’an dan Targum. Perbedaannya hanyalah Qur’an menyebut burung hud, sedangkan Targum menyebut ayam jantan merah. Inilah versi dari Targum:
Pada suatu waktu, ketika hati Salomo girang setelah minum anggur, dia memerintahkan binatang2 daratan, burung2 di udara, binatang2 menjalar di tanah, dan makhluk2 halus dari atas dan jin2 untuk datang ke hadapannya, agar mereka menari di sekelilingnya, agar raja2 yang lain melihat kebesarannya. Semua bangsawan dipanggil; kecuali mereka yang jadi tawanan dan yang menjaga mereka. Pada saat itu sang ayam jantan merah tidak datang dan Raja Salomo berkata bahwa ayam itu harus ditangkap dan dibawa dengan paksa, dan dia harus dibunuh karenanya. Tapi saat itu pula sang ayam muncul di hadapan Raja dan berkata: Wahai Yang Mulia, Raja dunia! Dengarlah perkataanku. Tiga bulan yang lalu aku bersumpah untuk tidak makan rempah roti sedikitpun, tidak minum setetes air sekalipun sampai aku melihat seluruh dunia dan terbang di atasnya, untuk mencari setiap kota dan kerajaan yang tidak tunduk padamu, wahai Rajaku. Lalu aku menemukan kota berbenteng kuat Qitor di dataran Timur dan kota ini dikelilingi batu2 emas dan perak, jalanannya penuh batu2 rubi, pohon2 dari awal bumi ditanamkan, dan sungai2 mengairinya, mengalir ke luar dari taman Eden. Banyak orang mengenakan karangan bunga dari taman yang tak jauh dari situ. Mereka melontarkan panah2, tapi tidak bisa menggunakan busur. Mereka dipimpin oleh seorang wanita yakni Ratu Sheba. Sekarang jikalau kau berkenan wahai Rajaku, pelayanmu, setelah menahan diri, akan berangkat menuju benteng Qitor di Sheba, dan “mengikat Raja2 mereka dengan rantai dan bangsawan2 mereka dengan tali besi,” dan membawa mereka ke hadapanmu. Usul ini disukai sang Raja, dan ia menulis surat panggilan yang lalu diletakkan di bawah sayap burung, dan burung itu terbang tinggi ke angkasa. Ia terbang dikelilingi kumpulan burung2, dan akhirnya ia tiba di Benteng Sheba. Pada pagi itu kebetulan Ratu Sheba sedang berada di luar untuk menyembah sang laut; dan udara lalu menjadi gelap karena banyaknya jumlah burung yang datang, dia jadi panik dan lalu merobek pakaiannya dengan rasa takut dan tertekan. Pada saat itu, sang ayam jantan hinggap padanya dan dilihatnya sebuah surat di bawah sayapnya yang terbentang dan surat ini berisi sebagai berikut: “Raja Sulaiman menyampaikan padamu salamnya, dan berkata, Yang Maha Tinggi dan Suci telah memberiku kuasa atas binatang2; dan raja2 dari empat penjuru datang untuk memohonkan kebahagiaanku. Sekarang jika kau berkenan datang dan memohonkan kebahagiaanku, aku akan menempatkan dirimu lebih tinggi daripada yang lain. Tapi jika kau tak berkenan, aku akan mengirim raja2 dan tentara2 untuk melawanmu; -binatang2 di daratan adalah miliku, burung2 di udara adalah tungganganku, makhluk2 halus dan jin2 adalah musuhmu, – untuk memenjarakanmu, untuk membunuhmu dan memakanmu.” Ketika Ratu Sheba mengetahui hal ini, dia kembali merobek pakaiannya, dan memanggil para penasehatnya untuk minta nasehat. Mereka tidak mengenal Salomo, tapi menasehatinya untuk mengirim kapal2 lewat laut, penuh dengan hiasan dan batu2 mulia, juga 6000 anak laki dan perempuan berpakaian ungu, yang semuanya lahir di waktu yang bersamaan; juga sebuah surat janji berkunjung di akhir tahun. Akan makan waktu tujuh tahun untuk sampai di tujuan, tapi dia berjanji untuk datang dalam waktu tiga tahun. Pada saat akhirnya dia datang, Sulaiman mengirim utusan yang mengenakan pakain berkilauan seperti matahari terbit untuk menjumpainya. Sewaktu mereka berjumpa, dia (Ratu Sheba) ke luar dari keretanya. “Mengapa kau lakukan itu?” tanya sang utusan. “Apakah kau bukan Salomo?” tanya Ratu Sheba. “Bukan, aku adalah pelayan yang berdiri di hadapanmu.” Sang Ratu seketika menyampaikan pujian baginya pada para pengikutnya, dan sang utusan kemudian membawanya ke Istana. Salomo yang mendengar bahwa Ratu Sheba telah tiba, bangkit dan duduk di Istana kaca. Ketika Ratu Sheba melihat ini, dia mengira kaca tersebut adalah air, sehingga dia mengangkat bajunya untuk melewatinya. Ketika Salomo melihat bulu kaki Ratu Sheba, dia berkata: Kecantikanmu adalah kecantikan wanita, tapi bulumu seperti bulu pria; bulu tubuh baik bagi pria, tapi tidak bagi wanita. Mendengar hal ini Ratu Sheba berkata: Yang Mulia, aku punya tiga teka-teki bagimu. Jika kau dapat menjawab semuanya, maka aku akan yakin bahwa kau adalah orang yang bijaksana, tapi jika tidak, maka kau hanyalah orang biasa saja. Ketika Raja Salomo menjawab ketiga teka-teki tersebut, Ratu Sheba terpesona dan berkata: Terpujilah Tuhanmu, yang menempatkanmu di singgasana di mana kau memerintah dengan kebenaran dan keadilan. Dan dia memberi Salomo banyak emas dan perak; dan Salomo pun memberikan apapun yang diinginkan Ratu Sheba.

Dalam versi Yahudi, kita baca bahwa sang Ratu mengajukan tiga teka-teki pada Salomo untuk dijawab, tapi hal ini tidak disebutkan dalam Qur’an, sedangkan Hadis (Muslim tradition) menyebutnya. Tentang bulu kaki sang Ratu tertulis dalam Arâish al Majâlis sebagai berikut:
Ketika sang ratu akan masuk Istana, dia mengira lantai kaca adalah air, sehingga dia memperlihatkan kakinya, untuk menuju Salomo, dan tampak kaki2nya dipenuhi bulu; ketika Salomo melihatnya, dia memalingkan muka dan berkata bahwa lantai terbuat dari kaca.

Sekarang bagaimana kita tahu bagian cerita mana yang berupa kenyataan dan mana yang hanyalah dongeng belaka, baik dalam versi Qur’an maupun versi Targum. Mari kita lihat Kisah Raja2 I 10:1-10
(1) Ketika ratu negeri Syeba mendengar kabar tentang Salomo, berhubung dengan nama TUHAN, maka datanglah ia hendak mengujinya dengan teka-teki. (2) Ia datang ke Yerusalem dengan pasukan pengiring yang sangat besar, dengan unta-unta yang membawa rempah-rempah, sangat banyak emas dan batu permata yang mahal-mahal. Setelah ia sampai kepada Salomo, dikatakannyalah segala yang ada dalam hatinya kepadanya. (3) Dan Salomo menjawab segala pertanyaan ratu itu; bagi raja tidak ada yang tersembunyi, yang tidak dapat dijawabnya untuk ratu itu. (4) Ketika ratu negeri Syeba melihat segala hikmat Salomo dan rumah yang telah didirikannya, (5) makanan di mejanya, cara duduk pegawai-pegawainya, cara pelayan-pelayannya melayani dan berpakaian, minumannya dan korban bakaran yang biasa dipersembahkannya di rumah TUHAN, maka tercenganglah ratu itu. (6) Dan ia berkata kepada raja: “Benar juga kabar yang kudengar di negeriku tentang engkau dan tentang hikmatmu, (7) tetapi aku tidak percaya perkataan-perkataan itu sampai aku datang dan melihatnya dengan mataku sendiri; sungguh setengahnya pun belum diberitahukan kepadaku; dalam hal hikmat dan kemakmuran, engkau melebihi kabar yang kudengar. (8 ) Berbahagialah para isterimu, berbahagialah para pegawaimu ini yang selalu melayani engkau dan menyaksikan hikmatmu! (9) Terpujilah TUHAN, Allahmu, yang telah berkenan kepadamu sedemikian, hingga Ia mendudukkan engkau di atas takhta kerajaan Israel! Karena TUHAN mengasihi orang Israel untuk selama-lamanya, maka Ia telah mengangkat engkau menjadi raja untuk melakukan keadilan dan kebenaran.” (10) Lalu diberikannyalah kepada raja seratus dua puluh talenta emas, dan sangat banyak rempah-rempah dan batu permata yang mahal-mahal; tidak pernah datang lagi begitu banyak rempah-rempah seperti yang diberikan ratu negeri Syeba kepada raja Salomo itu.

Kitab Kisah Raja2 merupakan bagian dari kitab suci Yudaisme yang ditulis oleh para Nabi Yahudi. Targum merupakan bagian dari catatan tradisi dan budaya bangsa Yahudi yang ditulis oleh para rabi atau ketua agama Yahudi. Dengan demikian, kitab suci Yudaisme lebih tinggi kedudukannya dibandingkan catatan tradisi Talmud. Dalam kitab Kisah Raja2 tertulis fakta bahwa sang Ratu memang datang berkunjung menghadap Raja Salomo. Di luar fakta tersebut, kisah2 yang lain seperti burung hud atau ayam jantan, lantai kaca yang dikira air, singgasana yang bisa terbang, memanggil jin, bicara dengan binatang2, adalah karangan atau dongeng belaka. Kaum Yahudi sekalipun juga mengakui akan hal ini.

Qur’an menyebutkan Nabi Sulaiman berkuasa atas makhluk halus dan para jin. Kisah ini jelas diambil persis dari Targum. Para Yahudi terpelajar mengungkapkan bahwa sebenarnya kata jin atau makhluk halus ini merupakan kesalahan yang terjadi akibat penyatuan tak sengaja dua kata Ibrani yang berarti “wanita dan wanita2″ ((ש”×¢) ×’×`רת, ×�ישה; לייהי) seperti yang terdapat di Pengkotbah 2:8) digabung menjadi satu sehingga berubah arti menjadi kata “jin” atau “makhluk halus”.

Kisah penuh keajaiban tentang proses pertemuan Raja Sulaiman dan Ratu Sheba dalam Targum Yahudi hanyalah dongeng belaka seperti banyak dongeng lain yang bisa kita temukan dalam kisah “1001 Malam”. Tapi anehnya, Muhammad tidak menyadari akan hal ini. Begitu dia mendengar kisah ini dari kaum Yahudi, dia tampaknya mengira kisah fantasi ini terdapat dalam kitab suci Yudaisme, sehingga akhirnya dia pun memasukkannya ke dalam Qur’an.