Tentang Arak (minuman keras, beralkohol)

Khushwant Singh, penulis india dan salah seorang novelis india menulis hasil kunjungannya ke Pakistan, dikutip oleh Ibn Warraq dalam bukunya:
“Larangan2 di Pakistan sama konyolnya seperti di Morardi Desai, India. Orang yang suka minum bisa menemukan minuman keras pada fatamorgana2 di gurun sahara. Di Pakistan memang tidak mengalir alkohol sebanyak air di sungai Ravi, tapi dirumah2 orang Pakistan kaya, mereka tidak pernah kehabisan minuman. Kau bisa menemukan whisky dalam poci teh dan meminumnya dari perangkat teh porselen. Harganya dua kali lebih mahal dari di India tapi rasanya juga dua kali lebih nikmat karena dibumbui dengan rasa dosa.”[1]

Belakangan Singh menonton debat televisi antara tiga orang Mullah dan Mentri Informasi Pakistan. Malam besoknya, Singh mendapati dirinya duduk disebelah mentri tsb pada sebuah jamuan makan malam resmi. Sang mentri membaca pidato sambutan untuk Singh dan delegasi India lainnya. Sebagai jawaban, Singh berdiri dan memberitahu sang Menteri kalau lain kali dia bertemu para mullah, dia harusnya membacakan ayat berikut:

Mullah, jika sholatmu punya kekuatan Coba goyangkan mesjid!
Jika tidak, minum beberapa gelas arak
Dan perhatikan mesjid bergoyang sendiri.

Terdengar tepuk tangan dan sambutan riuh penuh tawa, juga dari sang mentri. Lalu dia berbisik: “Jika orang2 ini (para mullah) berhasil, mereka akan mewajibkan team hockey putri kita main pake burqa.’”

Hanif Kureishi, penulis inggris yang ayahnya asli Pakistan, pernah ikut beberapa pesta di Karachi, Pakistan. Pada salah satu pesta yang dihadiri oleh para “pemilik tanah, diplomat, pebisnis, dan politisi,” Kureishi melihat

mereka minum arak sampai berbotol2. Tiap orang Inggris tahu, anda bisa dicambuk jika minum arak di Pakistan. Tapi sejauh ini, tak satupun borjuis Inggris dicambuk. Mereka masing2 punya seorang penyelundup arak favorit. Sekali waktu saya masuk kekamar mandi sang tuan rumah dan melihat bak mandi yang penuh botol whiski, yg sengaja direndam agar labelnya mudah dilepas, dgn seorang pelayan duduk pada bangku melepaskan label2nya.[2]

Charles Glass menulis dalam Times Literary Supplement (22 April 1994), ia menceritakan sebuah kemunafikan di Arab Saudi:
“Kepemilikan alkohol itu ilegal, tapi saya ditawari arak dirumah2 pangeran saudi, mentri2 kabinet dan duta2 besar, whisky2 (yang paling jadi favorit adalah Johnny Walker Black Label). Saya melihat seorang pangeran yang minum whisky bersama saya malam itu. Besoknya dia menghukum penjara seseorang karena kejahatan minum arak.”

Diseluruh dunia Islam, tidak ada satupun negara yang tidak menyediakan minuman beralkohol, dan tidak ada Muslim yang tidak melanggar larangan islam akan anggur dan arak. Sementara orang2 kaya meminum whisky atau gin selundupan mereka, orang miskin meramu sendiri arak atau minuman beralkohol lainnya dari kurma, palem dan gula alam. Ini didasarkan pada pengalaman saya sendiri di Aljazair pada bulan suci ramadhan tahun 1990; baik tempat pelacuran maupun toko2 alkohol tetap buka.

Nabi Muhammad dalam salah satu ayatnya dalam Quran (16.69) memuji arak sebagai salah satu tanda kebesaran Allah utk umat manusia. Tapi ketika para sahabat nabi sering mabuk, Muhamad berkewajiban utk memperlihatkan ketidaksetujuannya (Surat 2.216; 4.46), sampai akhirnya dalam Surat 5.92 Dia benar-benar melarangnya langsung:

[5.92] “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.”

Orang Arab dijaman Muhamad merasa sulit memeluk Islam karena adanya larangan minuman keras dan pembatasan hubungan seks. Bagi orang Arab, dua hal ini adalah kenikmatan tiada tara “alatyaban”. Puisi2 sebelum islam[3] penuh dengan penyebutan kenikmatan mabuk diwarung2 minuman. Bahkan pada saat munculnya Islam, pujian akan arak tetap menjadi bagian integral dalam puisi2 arab selama berabad-abad. Malah, tidak ada karya sastra lain yang begitu banyak dipenuhi dengan koleksi puisi tentang arak, atau “Khamriyya” dalam bahasa Arab. Sekali lagi, seiring dengan perkembangan sains dan filosofi islam, sastra tetap berkembang meski ditekan islam.

Pada pengadilan2 Kalifah dimana perlindungan dari keluarga kalifah dipandang cukup utk melindungi para pelanggar dari hukuman 80 cambukan, arak mengalir bebas pada pesta2. Bahkan rakyat biasa (Arab) juga menolak melepaskan arak meski bisa kena hukuman. Kita bisa mengutip Abu Mihjan, yang ditahan lalu dikucilkan oleh Kalifah Umar karena terus menerus memuji2 arak:

Give me, o friend, some wine to drink; though I am
well aware of what God has revealed about wine.
Give me pure wine to make my sin bigger because only
when it is drunk unmixed is the sin complete
Though wine has become rare and though we have been
deprived of it and though Islam and the threat of
punishment have divorced us from it:
Nevertheless I do drink it in the early morning hours
in deep draughts, I drink it unmixed and from time to
time I become gay and drink it mixed with water.
At my head stands a singing girl and while she sings she flirts;
Sometimes she sings loudly, sometimes
softly, humming like flies in the garden.

(Beri aku, o teman, minuman arak, meski aku sadar akan apa yg Allah turunkan tentang Arak.
Beri aku arak murni agar dosaku lebih besar karena hanya saat aku mabuk arak murni dosaku jadi lengkap
Meski arak jadi langka dan meski kita dilarang meminumnya dan meski Islam dan hukuman memisahkan kita darinya:
Namun saya minum arak banyak2 dipagi hari , kuminum tanpa dicampur dan dari waktu ke waktu aku menjadi gembira dan meminumnya dengan dicampur air.
Dikepalaku berdiri wanita penyanyi dan sambil bernyanyi dia menggoda juga;
Kadang dia menyanyi dengan kencang, kadang pelahan, bergumam seperti lalat ditaman.)

Abu Mihjan tidak tahan hidup tanpa arak dan utk itu dia menyusun ayat2 berikut:

When I die bury me by the side of a vine so that my
bones may feed on its juices after death.
Do not bury me in the plains because I am afraid that then
I cannot enjoy wine when I am dead.[4]

(Jika aku mati, kubur aku disamping tanaman anggur agar tulangku makan dari sarinya jika aku mati Jangan kubur aku didataran biasa karena aku takut tidak bisa menikmati arak lagi jika mati.)

Tradisi lagu arak ini berlangsung sampai jaman Umayyad yang sama sekali tidak bisa membungkam semuanya. Arti yang lebih luas dari pertentangan ini telah dengan halus dianalisa oleh Goldziher[5] , yang menulis: “Undang2 Umayyad tidak siap utk membungkam lagu2 tentang arak, karena berisi semangat oposisi terhdp kesolehan Medinah, yang bertentangan dengan gaya hidup orang Arab kuno. Dg demikian tradisi memuji2 arak tidak menghalangi puisi2 arab dan jarang sekali ada orang yang mengangkat suara menentang minuman arak. Jadi kita lihat fenomena dari puisi2 rakyat yg selama berabad2 hidup dan memprotes agamanya sendiri.”

Khamriyya atau puisi arak dg begitu jadi sebuah alat protes dan pemberontakan menentang bukan saja prinsip Quran, tapi seluruh budaya yang berusaha utk membelenggu dengan pembatasan2 yang sewenang-wenang akan semangat kebebasan dalam berpuisi, yang membenci segala bentuk kedisiplinan.

Dalam abad pertama muslim, kita punya penyair seperti Ibn Sayhan, al-Ukayshir dan Ibn Kharidja membawakan kenikmatan cinta, musik dan arak. Al-Ahwas malah bertindak lebih jauh lagi dengan menulis tentang penolakan agama dan rejim politik saat itu, sebuah penolakan yang membuat dia digantung dimuka umum.

Diabad kedua, kita punya Walid b. Yazid yang terkenal dan dikelilingi oleh sekelompok besar penyair yang melantunkan puji2an akan arak dan hidup hedonistik/bersenan g-senang. Kita juga punya sekelompok penyair yang oleh Bencheikh[6] disebut “Kaum Merdeka dari Kufa:”

“Disinilah, dan dalam masa puncaknya, Bacchisme muncul sebagai ungkapan pemberontakan, dan para penyair bersikap lebih subversif. Pemberontakan ini secara spektakuler diarahkan utk melawan prinsip2 agama; bukan kebetulan bahwa kebanyakan penyair ini dikenakan tuduhan zandaka, dan bahkan beberapa dari mereka membayar dengan nyawanya demi menolak pembatasan terhdp sistem sosio-kultural.”

Nama2 lain seperti Bakr b. Kharidja, yang banyak menghabiskan waktunya diwarung2 minum, dan Ziyad al-Harithi, yang suka melakukan pesta seks sambil minum dengan temannya Muti b. Iyas.

Dibawah pemerintahan Abbasid, kita juga perlu menyebut langganan warung minum lainnya spt budak kulit hitam Abu Dulama[7], yang juga seorang penyair, macam Eddie Murphynya orang Arab. Dia juga dengan bebas meledek islam dan hukum islam dengan sangat berani.

Penyair2 arak lainnya tak terhitung, semuanya hidup bersenang-senang, pindah2 dari satu tempat minum ketempat minum lain, & masih punya cukup waktu utk menulis puisi2. Arak juga memainkan peranan penting dalam penulisan mistik2, dimana mistik menjadi salah satu lambang ecstasy (kenikmatan) .

Abu Nawas adalah penyair arak terbesar – dan mungkin penyair terbesar – dalam bahasa Arab. Dia muncul dibanyak episode2 komik dalam kisah 1001 malam, dimana ia sering ditemani oleh Harun al-Rashid. Banyak yang menilai dia sebagai penyair terbesar arab. Dia lahir di Ahwaz tahun 747. Kita hanya tahu sedikit tentang orang tuanya, tapi Abu Nawas selalu menganggap dirinya lebih Persia daripada Arab. Dia menghabiskan masa mudanya di Basra dan Kufa, mempelajari filologi dan puisi. Dia akhirnya berhasil masuk kekerajaan Harun al-Rashid di Baghdad. Nicholson[8] menjelaskan dirinya sebagai “karakter yg paling tidak peduli dan secara terbuka menunjukkan imoralitas, mabuk2an, dan penghujatan, sampai membuat marah sang kalif sampai sang kalifah sendiri mengancam utk membunuhnya, dan memenjarakannya berkali2.”

Abu Nuwas mampu menulis dalam beberapa gaya, tapi sumber inspirasi dari puisi2nya adalah arak dan cinta. Ketika dia tidak melantunkan pujian tentang bocah2 lelaki cantik, dia menyusun puisi2 arak yang tidak tertandingi, yang jarang melebihi empat belas baris. Contohnya:

Ho! a cup, and fill it up, and tell me it is wine,
For I will never drink in shade if I can drink in shine!
Curst and poor is every hour that sober I must go,
But rich am I whene’er well drunk I stagger to and fro.
Speak, for shame, the loved one’s name, let vain disguise alone:
No good there is in pleasure o’er which a veil is thrown.[9]

Setidaknya Abu Nuwas tidak bisa dituduh munafik. Dia juga menyarankan perbuatan yang berlebih2an, disarankannya bahwa, pada akhirnya, orang akan diampuni oleh Tuhan yang maha pengampun:

Accumulate as many sins thou canst:
The Lord is ready to relax His ire.
When the day comes, forgiveness thou wilt find
Before a mighty King and gracious Sire,
And gnaw thy fingers, all that joy regretting
Which thou didst leave thro’ terror of Hell-fire!

Penyair terbesar setelah Abu Nuwas adalah Ibn al-Mu’tazz (dipancung tahun 908) yang juga dipuji2 karena pantun araknya dan deskripsi tentang tradisi minum.

Faiz Ahmed Faiz (1911-1984) sering dianggap penyair nasional Pakistan. Dia meneruskan tradisi pantun arak dalam sastra islami. Singh menjelaskan kunjungannya pada Faiz : “Ketika aku kekamarnya pagi2, dia sedang minum (biasanya Scotch). Aku makan pagi dan lalu pergi… ketika aku kembali siang harinya, dia minum lagi. Aku makan siang dan tidur sebentar. Belakangan disore hari aku bergabung dengannya utk minum beberapa gelas dan makan malam. Dia terus minum, sampai subuh hari.”

Faiz adalah seorang komunis, setidaknya pada satu perioda hidupnya, tapi, menurut Singh, “Dari konsumsi satu hari untuk minuman Scotch dan rokok impornya, dia bisa memberi makan satu keluarga selama satu bulan.”[10]

Faiz menulis :

There will be no more war.
Bring the wine and the glasses
champagne and goblets
Bloodletting is a thing of the past: so is
weeping.[11]

Tentang Babi dan Daging Babi

Di tahun 1968, ketika dia di Karachi, Pakistan, Salman Rushdie membujuk televisi Karachi utk memproduksi karangan Edward Albee: The Zoo Story. Rushdie mengambil ceritanya:

“Karakter yang saya mainkan punya monolog panjang yang menjelaskan serangan beruntun dari anjing sang empunya tanah. Dalam usahanya utk menjinakkan si anjing, dia membeli setengah lusin hamburger. Sang anjing menolak hamburger dan menyerang lagi. “Aku tersinggung,” harusnya aku berkata. “Ini ada enam hamburger enak yang sempurna, penuh daging babi sampai membuatnya benar2 menjijikan”

“Daging Babi (Pork),” kata seorang eksekutif TV, “adalah kata empat huruf yang disensor.” Sama dgn kata “sex,” dan “homosexual.” Tapi kali ini saya membantahnya. Teks yg saya susun ini justru mendukung kejijikan babi. Pork, dalam pandangan sang pengarang (Albee), membuat hamburgernya begitu menjijikan hingga anjingpun tidak mau. Ini propaganda anti babi yang hebat. Harus dipakai. “Kau tidak tahu,” sang eksekutif bilang, …”kata pork tidak boleh diucapkan ditelevisi Pakistan.” Titik.”[12]

Buku Animal Farm karya George Orwell dilarang dinegara2 islam karena karakter utamanya adalah seekor babi, meski babi2 itu ditunjukkan sebagai tiranis dan paling kejam.

Dari waktu ke waktu, dinegara2 muslim, polisi religius menggeledah toko mainan utk memeriksa bentuk2 mainan seperti karakter Miss Piggy dalam film the Muppet, yg jika ditemukan akan dihancurkan dimuka umum.

“Tahu nggak,” kata penulis Paul Theroux, “kau sadar kau berada dlm rumah kaca (baca : dunia aneh) ketika kau berada dinegara dimana karakter Miss Piggy dipandang sebagai perwujudan jahat.”

Ketidaksukaan islam bahkan terhadap huruf ‘pig’ itu sendiri membuat para muslim kehilangan kenikmatan kisah2 P.G. Wodehouse dgn cerita ttg Lord Emsworth dan babinya yg paling berharga, the Empress of Blandings. Muslim kemungkinan juga benci Winnie the Pooh dan temannya Piglet.

Kejijikan dan kebencian mutlak yg ada dalam benak para muslim karena membayangkan akan memakan “makhluk paling jijik’ ini mengarah pada fanatisme yg pantas utk di-psikoanalisa. John Stuart Mill[13] jelas melihat sifat khusus dan penting dari kebencian ini:

“Tak ada ajaran atau praktek Kristen yang lebih meracuni kebencian Muslim selain fakta bahwa mereka memakan daging babi. Ada beberapa tindakan muslim yang dianggap jijik oleh Kristen tapi tidak berpengaruh dalam kehidupan mereka sehari2. arak juga dilarang agama mereka, dan meminum arak dianggap dosa oleh muslim, tapi tidak membuat mereka jijik akan arak. Kejijikan mereka akan daging babi, “makhluk kotor’ ini, sebaliknya, lebih mirip naluri antipati akan ‘kotoran’, yang sekali masuk dalam perasaan, membangkitkan perasaan yang luarbiasa, bahkan pada Muslim yang hidupnya sangat jorok sekalipun. Ini adalah contoh yang mengherankan …”

Quran jelas melarang babi:

“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah..” (Q 5.3)

Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi, karena sesungguhnya semua itu kotor atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah.” (Q 6.145, Lihat juga 2.173; 16.115)

Dalam surat 6.145, alasan larangan ini adalah bahwa daging babi adalah “kotor”. Setidaknya, Yusuf Ali, Arberry, dan Sale menerjemahkan kata Arab “rijas” sebagai “abomination” sebagai terjemahan yang tepat; tapi Dawud dan Rodwell menerjemahkannya sebagai “unclean, tidak bersih”. Kita akan kembali kembali ke poin ini nanti.

Sikap atas larangan makanan dll dalam Quran dapat dimengerti hanya jika kita melihatnya sebagai usaha2 Muslim utk mendefinisikan diri sendiri, khususnya jika dibandingkan dengan Yudaisme. Aturan Quran dikembangkan dalam sebuah lingkungan pergaulan “yang mana tiap komunitas religius dikenal dari aturan khusus mereka masing2 tentang makanan.”[14]

Jadi dlm surat 2.168, 5.87, 6.118 dan 7.32, Quran mempertanyakan mereka yang terlalu memberatkan orang dgn larangan makanan ketimbang malah bersyukur atas kelimpahan yg diberikanNya. (2. 286. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. )

Ayat2 ini jelas ditujukan pada para kristen dan kaum berhala yang baru2 itu memeluk Yudaisme dan mengadopsi prinsip2 aturan larangan makanan ini. Belakangan, “hal itu menjadi penting sebagai hal yang membedakan Islam dengan Yudaisme.”

Muhamad bukanlah seorang pemikir sistematis, dan sia-sia saja utk mencari aturan2/prinsip yang bertalian secara logis dengan hal ini dalam Quran. Muhamad mengatasi masalah sesuai dgn apa yg dihadapkan padanya dan kita bisa melacak latar belakang setiap aturan yang ditulis dalam Quran. Dg demikian kita sering temukan konflik dan bahkan kontradiksi dalam Quran ttg hukum larangan ttg makanan ini; semua ini oleh Cook[15] dinamakan kecenderungan liberal dan restriktif.

Contoh, mari kita lihat kecenderungan liberal, mungkin dihasilkan dari polemik kristen terhadap orang yahudi. Banyaknya larangan2 yahudi membuat Muhamad mengkritik mereka yang memaksakan larangan2 berlebihan itu pada diri mereka, karena tuhan tidak bermaksud membebani orang2 beriman dengan begitu banyak aturan yg tidak berguna dan sewenang-wenang mengenai makanan (Surat 2.286).

Larangan Yahudi bahkan seakan sebagai hukuman ilahi utk dosa2 orang yahudi (4.158, 16.119). Mirip dengan itu adalah kegigihan dari hukum yang muncul dari pihak lawan orang Samaritan dan praktek Yudeo Kristen.

Kecenderungan restriktif mungkin berasal dari orang yahudi. Quran dan semua sekolah hukum islam melarang Babi. Rodinson menunjukkan bahwa larangan ini ditemukan juga diantara kaum pagan yahudi dan juga terdapat dalam Judeo-Kristen tertentu. Mungkin lewat jalan inilah pelarangan itu diadopsi di Arab.

Jika ditanya kenapa dia tidak makan babi, kebanyakan muslim akan menjawab, “karena dilarang dalam Quran”. Itu cukup buat dia, tak perlu penjelasan lebih lanjut. Pada orang2 kelas menengah yg berpendidikan, kemungkinan jawabannya adalah “karena babi adalah binatang kotor, dan dinegara yang berudara panas mudah menjadi penyakit.” Semakin mereka berpendidikan mungkin mereka akan menyebut nama2 penyakit yang ditemukan dalam babi atau yang ditularkan oleh babi pada manusia, seperti trichinosis.

Alasan2 higienis pelarangan babi ini jauh lebih tua dari yang kita semua bayangkan, namun tetap saja salah. Contohnya, Maimonides (1135-1204) bilang: “Semua makanan yang dilarang Torah utk dimakan punya efek jelek dan merusak pada tubuh… alasan prinsipil kenapa hukum melarang daging babi ditemukan dalam kebiasaannya dan makannya yang sangat jorok dan menjijikan.”[16]

Babi tidak dikenal, atau hampir tidak dikenal orang2 Arab sebelum Islam[636]. Pliny dalam Sejarah Alam-nya menyatakan bahwa tidak ada babi di Arab. Kita tahu dari Sozomenus (Abad 5M) bahwa kaum pagan Arab tertentu berpantang babi dan mengamati upacara2 yahudi lainnya. Jika benar ini kasusnya, kenapa Muhammad melarang seekor binatang yang mungkin tidak ada di Arab, jangankan lagi utk dimakan? Pelarangan ini semakin masuk akal jika kita melihatnya sebagai sesuatu yang diadopsi belakangan ketika orang2 Arab melakukan kontak dengan orang Samaritan dan Yahudi di Palestina dan mulai membentuk identitas religius mereka sendiri dengan meniru.

Quran menjelaskan daging babi itu sbg ‘abomination, sangat dibenci”, dan bukan sebagai “unclean, tidak bersih.” Para muslim mengambil alih pelarangan ini dari orang Yahudi dan Samaritan. Ini mendorong pertanyaan satu tingkat lebih jauh lagi. Kenapa kelompok yang belakangan muncul jadi melakukan pelarangan itu?

Antropologis sosial modern ragu utk menetapkan sumber kepercayaan dan kebiasaan, tapi sejauh yang saya tahu, tidak ada antropolog modern yang menerima pandangan bahwa babi dilarang karena alasan higienis, meski sejarawan, teolog dan arkeolog tertentu menerimanya. Mari kita lihat alasan2 kenapa penjelasan higienis tidak bisa diterima.

Trichinosis[ 17] adalah sebuah penyakit yang disebabkan oleh parasit cacing nematode yg kecil, Trichinella spiralis, yang diteruskan kepada manusia jika dagingnya tidak dimasak, daging yg busuk, daging itu hampir selalu daging babi. Ini adalah penyakit serius yang jarang terjadi, tapi komplikasi bisa saja timbul. Gejala2nya termasuk demam, sakit otot, mata panas dan tidak enak badan. Tak seorangpun mereka yg membaca bible di timur tengah tahu tentang T. Spiralis, atau hubungan parasit ini pada babi atau manusia. Hanya ditahun 1835 lah parasit ini ditemukan pertama kali dalam otot manusia, tapi, saat itupun tetap dianggap tidak berbahaya. Tidak sampai tahun 1859, dua puluh empat tahun kemudian, disadari bahwa parasit ini bisa berpindah pada manusia lewat daging babi yang dimakan dan dikenal bahwa parasit ini bisa menyebabkan penyakit. Terlebih lagi, gejala2nya tidak mudah dideteksi. Di Amerika dikatakan terdapat 350.000 orang yang terinfeksi setiap tahun, tapi hanya 4.5 persen saja yang menunjukkan gejala ini.

Banyak orang menunjuk pada udara panas timur tengah sebagai penyebab utama parasit yang ada dalam babi.

Tapi trichinosis adalah sebuahpenyakit daerah berudara dingin, dg demikian akan lebih banyak terjadi di Eropa dan Amerika daripada dekat atau di Timur Tengah.

Hewan ternak, sapi dan kambing juga bertanggung jawab menularkan penyakit2 tertentu pada manusia. Demam turun naik bisa berasal dari penanganan ternak atau dari susunya; Demam Malta ditularkan pada manusia dari kambing; anthrax, penyakit yang sangat serius, ditularkan pada manusia dari kambing dan sapi dan bisa menimbulkan gejala seperti demam dan membuat timbulnya cairan kuning dan luka2.

Kebiasaan kotor apa yang tersohor dari babi itu? Babi tidak lebih parah dari ayam dan kambing yang juga sama2 makan tahi. Buffalo/sapi berkubang dalam air kotor, lumpur. Diantara orang2 Melanesia Barat Laut, seperti yang diterangkan oleh Malinowski, anjing dianggap jauh lebih jorok dari babi.[18]

Jadi, jika kebiasaan2 babi memang betul menimbulkan kejijikan yang luar biasa, kenapa babi diternak secara domestik ? Kita tahu babi diternakkan di Asia Tenggara sekitar 9.000 SM dan 6.000 SM, dan menjadi elemen penting dalam pola makan orang Sumeria. Herodotus menyatakan terdapat sekelompok babi yang dimiliki oleh masyarakat kelas atas di Mesir. Tapi jika benar ada sekelompok babi peliharaan maka pastinya ada kebutuhan akan daging babi. Jika orang yahudi sadar akan penyakit yang disebabkan karena makan daging babi yang dimasak tidak baik, kenapa pengetahuan ini tidak dimiliki juga oleh kelompok lain yang tidak makan babi? Malah, Hippocrates mengklaim bahwa makan daging babi memberinya kekuatan.

Orang2 Kristen menyebarkan pemakaian daging babi, tapi orang Kristen permulaan adalah orang2 yahudi. Kalau pertimbangan higienis benar2 jadi alasan larangan daging babi, maka pastilah mereka akan meneruskan kebiasaan larangan ini dan orang2 Kristen akan mengadopsi larangan ini juga.

Istilah seperti “menjijikan” dan “kotor” sangatlah subjektif. Ini dapat dilihat dari fakta bahwa sekolah2 Yurisprudensi Islam mengijinkan binatang2 tertentu utk dimakan yang mungkin akan membuat orang2 Eropa merasa jijik. Contohnya[19] , tiga dari empat sekolah utama kaum Sunni dan ahli Hukum Ibn Hazm, mengijinkan memakan kadal. Pastilah tidak ada binatang yang lebih menjijikan daripada Hyena, yang memakan daging2 mayat yang bau dan busuk; tapi Ibn Hazm, dan Hambali, orang yang pada keadaan normalnya tidak toleran, mengijinkan Hyena utk dimakan. Kaum Maliki, Shafi’I dan Ibn Hazm juga mengijinkan landak utk dimakan. Semua sekolah, tanpa kecuali, mengijinkan unta dan belalang utk dimakan.

Kalau begitu apa alasan sebenarnya utk tabu memakan daging babi? Menurut Robertson Smith[20], orang Yahudi kuno punya ritual tertentu utk babi, dagingnya dilarang sebagai makanan biasa, namun boleh dimakan hanya dalam peristiwa tertentu saja. Diantara orang Syria, daging babi itu tabu, “tapi tetap tidak jelas apa ini karena binatang ini suci atau karena ‘tidak bersih’.” Ide kesucian dan ketidakbersihan belum lagi bisa dibedakan. Menurut Frazer[21], orang yahudi juga punya sikap mendua akan babi, apa mereka memuja atau membenci? Frazer menyarankan bahwa:

Orang Yahudi mengkeramatkan babi, dan kita tahu bahwa sebagian orang Yahudi mengadakan pertemuan rahasia ditaman2 utk memakan daging babi dan tikus dalam upacara ritualnya. Sangat mungkin ini adalah upacara yang sangat kuno, kembali kemasa ketika babi dan tikus dianggap keramat, dan ketika daging mereka diambil sbg sakramen dalam peristiwa sakral dan jarang sebagai tubuh dan darah dari tuhan. Dan pada umumnya ini mungkin bisa dikatakan bahwa yang disebut binatang ‘tidak bersih’ sebenarnya adalah keramat; alasan tidak memakannya adalah karena binatang itu keramat.

Situasi yang sama juga berlaku di Mesir.

Penjelasan ini, meski memadai menyangkut perihal babi, tetap tidak cukup utk menjelaskan semua perincian larangan dalam Perjanjian Lama, berikut sistem klasifikasinya. Baik Frazer maupun Robertson Smith tidak bisa menjelaskan kenapa binatang2 tertentu mendapatkan status keramat.

Semua penjelasan modern tentang larangan dalam Perjanjian Lama dimulai dari diskusi yang ada dalam karya Mary Douglas “Purity and Danger” (1966) dan “Implicit Meanings” (1975).

Intinya, Douglas melihat “tabu makanan” dalam terma pertalian kategori, batas dan karenanya juga anomali serta kemenduaan yang tidak sesuai dengan batas2 itu. Menurut Douglas[22], binatang dikira mempunyai keistimewaan fisik yang penting yang sesuai dengan habitat mereka, dengan keistimewaan cara bergerak mereka yg juga penting.” Jadi, ternak harus punya kuku belah, burung harus terbang dan ikan harus punya sirip. Tikus dilarang karena gerakan mereka yang tidak tentu.” Klasifikasi bible “menolak makhluk2 yang menyimpang dari biasanya, baik yang hidup didua dunia atau punya keistimewaan utk dua dunia, atau tidak bisa dipastikan berada didunia yang mana.” “Kekeramatan membutuhkan individu tsb menyesuaikan diri pada kelas yang mana mereka diklasifikasikan. . perbedaan kelas ini adalah hal2 yang tidak akan membingungkan.”

“Binatang berkuku belah, pemakan rumput adalah model makanan yang diterima bagi penghuni padang atau pedusunan” : jadi babai, yang berkuku belah tapi bukan pemamah biak tidak termasuk, dan tidak ada disebut-sebut tentang kebiasaan kotor babi dalam Perjanjian Lama. “Karena babi tidak menghasilkan susu, kulit ataupun bahan pakaian (wol), tidak ada alasan utk memelihara mereka kecuali daging mereka. Dan jika orang israel tidak memelihara babi maka mereka tidak tahu akan kebiasaan kotor dari babi.”

Edwin Firmage[23] melihat tesisnya douglas ada yang kurang dalam banyak hal. Saya hanya memberikan penuturan yang samar akan kritiknya dan pendapatnya utk solusi akan hal ini. Cara bergerak bukan faktor prinsip pemersatu yang ada dibelakang persepsi ‘ketidak bersihan’ (kenapa kuku belah bukan kuku saja?). “Kenapa fakta kelainan membuat binatang ini jadi dianggap kotor dan tidak bisa dimakan?”

Firmage malah menyediakan jawabannya sendiri:

Pengaruh yang kuat… mesti jadi alasan kenapa Israel disebut bangsa suci. Urusan suci ini menjadi urusan utama para pemuka agama agar tetap terpelihara, pertama-tama dalam tempat2 keagamaan mereka lalu juga diantara orang2nya. Para pemuka agama ini harus mengajarkan apa yang dimaksud dengan ketidak-sucian, dan bagaimana menghilangkannya. Para pemuka agama ini malah bertindak lebih jauh ketika mereka menetapkan hukum larangan makanan.. Jauh melewati batasan2 kesucian pribadi, didalamnya membedakan bukan orang yang tidak suci dan yang suci, tapi bangsa Israel dengan bangsa2 lain. Ketika para pemuka agama ini menyadari bahwa Larangan inipun harus memenuhi syarat2 perintah kekudusan, mereka sudah punya model2 hewan yang boleh dikorbankan dalam ritual kurban.. Hal ini juga bisa dipakai utk menentukan daging hewan apa yang boleh dikonsumsi mereka. Tapi meski hewan2 yang dijadikan kurban adalah juga hewan yang disukai sebagai makanan tetap saja makanan manusia lebih bervariasi dalam jenis2 hewan yang mereka makan. Pertanyaan bagi para pemuka agama ini adalah, lalu: daging yang mana yang sesuai dengan paradigma ‘daging yg pantas’ yang juga ditetapkan sebagai kurban? Ada beberapa hewan yang cocok utk dikurbankan pada altar, yang diterima secara bersama sebagai hewan kurban sejak awalnya, yang juga memberikan ‘kondisi bersih’ pada hewan tsb. Para pemuka agama menarik kesamaan antara Larangan jenis makanan utk bangsa Israel dengan yang ditentukan oleh YHWH, dimana jenis hewan kurbannya menjadi ukuran ‘kebersihan’ bagi hewan2 lain dalam Larangan Israel ini.

Ketika akan diterapkan perbandingan standar ini, hanya binatang2 yang mirip dengan hewan kurbanlah yang diperbolehkan dimakan.

Tapi para pemuka agama harus memberikan semacam petunjuk bagi orang2 awam, dan mereka mengambil contoh2 kemiripan yang mereka percaya bisa dg mudah diterapkan dalam kasus2 yang sulit. “Kriteria yang mereka sebutkan itu dg demikian tidaklah harus persis sama. Tapi hanya mengindikasikan kriteria umum dan mendasar akan perbedaan dengan paradigma2 yang dipakai sebagai hewan kurban. Dengan dasar inilah terbentuk Larangan Jenis Hewan yang boleh dimakan berasal.”

Kelemahan dari argumennya Firmage ada pada gagasan“Ada beberapa hewan yang cocok utk dikurbankan pada altar, yang diterima secara bersama sebagai hewan kurban sejak awalnya”. Dengan kata lain, orang2 israel punya gambaran hewan mana yang sesuai utk dijadikan kurban. Hal ini tentunya tidaklah cukup utk menjelaskan kenapa hewan tertentu dari awalnya sudah diterima. Ini adalah pertanyaan yang muncul – kriteria apa yang mereka pakai sampai mereka menetapkan ada beberapa hewan yang cocok utk dikorbankan? Orang2 Israel mengambil contoh hewan kurban sebagai paradigma mereka, tapi darimana mereka mendapatkan paradigma ini awalnya?

Kita mungkin bisa menelaah solusi yang ditawarkan oleh Marvin Harris[24] dan Simoons. Haris memberikan penjelasan ekologis utk pelarangan babi sebagai kurban. Bagi asalnya dipelihara melulu utk dagingnya – sebagai sumber protein hewani. Dalam habitat hutannya, babi hidup dari memakan akar2, umbi2 dan buah2an. Ketika hutan menghilang babai harus makan biji2an, dan dengan demikian bersaing dengan sumber makanan utk manusia. Jadi babi menjadi terlalu mahal utk dipakai sebagai sumber daging. Larangan utk memakan babi adalah sebuah cara utk meyakinkan para petani agar tidak punya keinginan utk memeliharanya, karena jika tidak hal ini akan berakibat buruk pada komunitas saat itu. Teori ini, meski masuk akal, menimbulkan pertanyaan lain. Jika babi dipelihara memakai makanan marjinal (seperti kata Firmage), maka pastilah babi tidak akan menjadi ancaman bagi sumber2 makanan komunitas tsb. Juga timbul pertanyaan mengenai seberapa besar kerusakan hutan yang timbul didaerah tsb. De Planhol[25] penulis besar mengenai Geografi dan Islam, menunjukkan bahwa:larangan memakan Babi-lah yang menyebabkan kerusakan2 hutan. Larangan ini berujung pada diternakkannya kambing dan domba digunung2 berhutan, dan pastinya mempercepat menghilangnya hutan yang lalu membuat bencana dinegara2 kering dan semi kering ini.” De Planhol memberi contoh Albania: Jika kita meliwati pedusunan dari bagian penduduk muslim ke bagian Kristen, hutan2 dari kosong (bagian muslim) jadi makin banyak (bagian kristen).

Bagi masih tetap dapat menjadi binatang yang berguna setelah perusakan hutan.

Menurut Simoons[26] prasangka buruk terhadap babi dan daging babi berkembang diantara orang2 yang hidup di padang rumput daerah kering/gersang dan semi kering. Babi2 tidak cocok utk hidup di padang rumput, tapi tersebar luas diantara orang2 yang hidup bertani. Ada konflik antara dua bangsa dan dua gaya hidup. Babi melambangkan gaya hidup satu kelompok, sementara kebencian terhadap babi menjadi simbol dari kelompok lain. Jelas ada sesuatu dalam hal ini, tapi banyak yang tidak akan menemukan hal ini sebagai sesuatu yang bisa diterima karena tidak menjelaskan tentang semua larangan2 memakan babi ini.

Banyak scholar berpaling lagi pada gagasan kesetiaan dan pengabdian. Contohnya, Edmund Leach berkata:[27]

Dihampir semua masyarakat makanan adalah satu pengenal dimana kelas2 sosial orang2nya dibedakan. Kita makan ini, mereka makan itu. Yang kita makan itu ‘baik’, ‘prestisius’, ‘bersih’; yang mereka makan ‘jelek’, ‘mencemarkan’, ‘najis’. Dimana populasi2 yang bercampur agamanya hidup berdampingan dalam sebuah lokalitas, satu cara utk menandai kelas sosial/kasta/ agama mereka adalah dengan menetapkan aturan2 yang berbeda tentang makanan yg tabu. Ini persisnya yang terjadi di India dimana orang bisa menemukan kombinasi larangan yang mungkin dalam kasta2 yang hidup berdampingan.

Utk tujuan kita ini, penjelasan2 diatas sudah cukup utk menerangkan kenapa Muhammad memilih larangan2 demikian – yaitu sebagai alat utk menarik garis batas dari agama-agama lain, dan utk mendapatkan identitas muslimnya. Larangan makan babi tidak ada hubungannya dengan kebiasaan kotor babi atau penyakit2 yang bisa ditularkan pada manusia; babi dan kebiasaannya tidaklah dikenal orang Arab.

Setelah menegaskan kebencian universal islam terhadap daging babi, saya sekarang akan memberikan contoh[28] perkecualian dari aturan itu. Sepertinya baik Avicenna maupun Haly Abbas (al-Majusi) suka makan babi karena adanya kualitas2 pengobatan dalam dagingnya. De Planhol menyebutkan contoh sang heretik Ghomara Riffian dari abad pertengahan yang mengijinkan daging babi betina utk dimakan. Berber dari Iherrushen dan Ikhuanen di Gzennaya Utara, Maroko, memelihara babi sampai saat ini. Orang cenderung merahasiakan hal ini di Maroko, meski menurut Westermarck, para penghuni disana suka makan hati babi hutan utk meningkatkan kekuatan. Di China, para muslim akan makan babi tapi menyebutnya sebagai “daging domba”. Kaum Druse (di Lebanon dan Syria) juga makan daging babi.

Pujian utk Babi

Babi modern yg tak berbulu, yg kita kenal saat ini turunan dari Sus scrofa vittatus, yang dibiakkan di Cina sejak jaman Neolithic, tapi mencapai Eropa diabad 18. Charles Lamb menyanyikan pujian bagi babi di abad 19, dan berikut penjelasan filsuf modern akan kebaikan2 babi:

Pastilah babi diciptakan utk dihidangkan. . Babi juga mirip makanan: bulat, gemuk, pantas pada tusukan kayu, selalu siap kapan saja utk kehilangan individualitasnya dan menuruni tangga metafisik dari binatang menjadi makanan. Terlebih lagi, rasanya uenak, dan bisa lebih uenak lagi jika kau mengolahnya dengan tepat. Bisa jadi daging yang didinginkan, seni mengolah makanan cita rasa paling tinggi yang jauh melampaui keberanian dan kemahiran apapun yang orang Yahudi atau muslim mampu capai lewat pantangan mereka… Dg begitu, terpikirkan oleh saya, maksud Tuhan sepertinya tidak benar2 disimak oleh para penulis Kitab Imamat (dan Quran) dan saya cenderung berpandangan bahwa dalam masalah babi, ada rasa tidak tahu berterima kasih, bahkan penghujatan karena telah menolak memakannya.[ 29]

Homoseksualitas
Toleran yang besar akan homoseksual didunia islam telah diakui sejak lama. Dari abad 19 sampai sekarang, banyak orang barat berpindah ke daerah muslim Afrika Utara utk berpetualang homoseks dimana oleh masyarakatnya dikecam.

Pada bagian awal novel homoseksnya Compton Mackenzie, Thin Ice, yang diterbitkan tahun 1956, sang narator dan temannya Henry Fortescue berangkat ke Maroko dimana Henry terangsang oleh kuli barangnya, Ali. Henry berangkat ke Desanya Ali utk menyusul, sementara konsul Inggris meyakinkan sang narator bahwa tidak berbahaya melakukan perjalanan demikian, kondisinya tidak sejelek yang mereka bayangkan. Dan sang konsul menambahkan: “Heran. Terlintas dibenak saya kemarin temanmu agak menyimpang demikian. Well, tak seorangpun didunia Muslim, dari Tangier sampai Khyber Pass akan mengkritik seleranya.”[30]

Mari kita telaah situasi di Khyber Pass. Kaisar Babur[31] (1483-1530) melalui Khyber Pass dan akhirnya menjadikan India sebagai rumahnya. Dalam otobiografinya, Babur menceritakan dengan nikmatnya bagaimana dia jatuh cinta pada seorang anak lelaki:

Dihari2 luang itu saya temukan diri saya punya selera menyimpang. Tidak! Seperti syair katakan, “Aku jengkel dan menyebabkan jadi demikian” terhadap seorang anak laki-laki di bazaar perkampungan. Namanya, Baburi, cocok sekali.. dari waktu ke waktu Baburi selalu menghadapku tapi karena rasa malu dan kesopanan, aku tidak pernah menatapnya langsung; lalu bagaimana aku bisa berbincang dan bercerita? Dalam gejolak perasaan gembira aku tidak berterima kasih padanya (karena telah datang); bagaimana bisa aku mendekatinya jika dia pergi? Kuasa apa yang kupunya utk memerintahkan pelayanan wajib bagiku sendiri? Satu hari, aku sedang terbakar birahi seperti biasanya ketika bepergian dengan seorang teman dan mendadak bertemu dengannya, aku menjadi sangat bingung hingga hampir saja aku lari. Menatapnya atau berkata-kata sangat sulit dan tidak mungkin. Dalam birahi yang memuncak dan dibawah tekanan kebodohan masa muda, aku suka keluyuran, tanpa penutup kepala (semacam topi), telanjang kaki, dijalan2 dan pedesaan, kebun buah dan kebun anggur.

Sir Richard Burton memastikan toleransi islam akan homoseksualitas, khususnya di Khyber Pass:

Kota2 di Afghanistan dan Sind dipenuhi oleh homoseks dan orang2 itu bernyanyi:

Nilai ‘anu wanita’ orang2 Afghan tahu
Kabul lebih suka yang satunya lagi “Pilih!”

Orang2 Afghan adalah pedagang2 dalam jumlah besar dan setiap karavan ditempati oleh sejumlah bocah dan remaja yg berpakaian seperti wanita dengan mata bermaskara dan muka dimerahi, rambut panjang dan kuku serta jari yang lentik. Mereka itu disebut Kuch-i-safari atau istri2 perjalanan.[ 32]

Burton memberi contoh2 dari penyimpangan ini, mulai dari Persia hingga Maroko ada dalam karya “Terminal Essay,” saya akan memberi contoh akan lazim dan toleransinya islam terhadap homoseksual dari karya seorang etnografik Cline, ditulis tahun 1936, tentang karya lapangannya di Mesir Barat dekat oasis Siwah:

“Semua pemuda dan bocah Siwan normal melakukan sodomi. Diantara mereka orang pribumi tidak malu akan hal ini; mereka membicarakannya secara terbuka seperti mereka membicarakan tentang cinta pada wanita, dan banyak, perkelahian timbul dari masalah persaingan homoseksual ini.”[33] Bahkan pernikahan antara lelaki dan lelakipun diselenggarakan dengan pesta besar; uang mahar utk anak lelaki sampai lima belas kali lebih mahal dari mahar wanita.

Meski sebagian scholar melihat sikap Quran itu negatif atau bahkan mendua, saya pikir jelas dari referensi berikut bahwa bisa dianggap Quran mengutuknya:

Surah 4.16 “Dan terhadap dua orang yang melakukan perbuatan keji di antara kamu, maka berilah hukuman kepada keduanya,”

Perbuatan keji yang dimaksud adalah perbuatan tidak sopan.

Surah 7.80-81: “Dan (Kami juga telah mengutus) Lut (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada kaumnya: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelummu?” Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas.”

Surah 26.165-166: “Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia, dan kamu tinggalkan istri-istri yang dijadikan oleh Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas”

Surah 27.55: “Mengapa kamu mendatangi laki-laki untuk (memenuhi) nafsu (mu), bukan (mendatangi) wanita? Sebenarnya kamu adalah kaum yang tidak mengetahui (akibat perbuatanmu) “

Kita tahu dari hukuman yang dijatuhkan pada kaumnya Lot (Kemudian Kami binasakan yang lain. 26.172) bahwa sodomi dilarang. Tapi, kemenduaan ada dalam ayat2 Quran yang menjelaskan tentang nikmatnya surga:

Surah 52.24: “Dan berkeliling di sekitar mereka anak-anak muda untuk (melayani) mereka, seakan-akan mereka itu mutiara yang tersimpan.”

Surah 56.17: “Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda,”

Surah 76.19: “Dan mereka dikelilingi oleh pelayan-pelayan muda yang tetap muda. Apabila kamu melihat mereka kamu akan mengira mereka, mutiara yang bertaburan.”

Apakah anak2 muda ini disana utk melayani secara seksual atau hanya utk melayani saja?

Jika Quran mendua dalam poin ini, hadis sebaliknya sangat jelas dan keras menentang praktek sodomi. Nabi melihat sodomi menjijikan dan pantas dihukum mati – kedua pelakunya.

Ulama2 berbeda pendapat tentang hukuman bagi orang homoseks. Ibn Hambali dan pengikutnya berkeras menghukum rajam, sementara yang lain dengan cambukan, biasanya seratus kali. Tapi sepertinya hukuman2 ini tidak pernah diterapkan karena toleransi akan homoseks seakan telah ditetapkan secara tidak tertulis sejak awalnya.

Kita punya cukup bukti2 sejarah dan bahasa2[34] utk menunjukkan bahwa homoseks dikenal di arab sebelum islam. Bukti kita lebih banyak lagi ketika abad ke-7. Kalifah pertama menghukum homoseks dengan kejam – dirajam, bakar dan dilempar dari menara mesjid, dll. Selama periode Abbasid banyak kalifah yang justru homoseksual: al-Amin (memerintah tahun 809); al-Mutasim (833); Aghlabid Ibrahim (875); di Cordoba, Abd al-Rahman (912); dan Saladin (Salah al-Din, 1169) yg terkenal akan perlawanannya terhadap tentara Salib. Sedang bagi muslim spanyol di abad sebelas, Henri Peres mengatakan “Sodomi dipraktekkan istana Muluk al-Tawaif. Cukup bukti utk mengatakan rasa cinta al-Mutamid kepada Ibn Ammar dan Saif; al-Mutawakkil pada tentara2 mudanya; Rafi al-Dawla, anak dari Mustakin terhadap bawahannya (namanya tidak diketahui); al-Mutamin dari saragossa terhadap seorang kristen.”

Homoseksualitas sudah biasa dalam segala bidang masyarakat, dari sekolah2 sampai persaudaraan religius. Pada Hamam (sauna2 di Turki), dekorasinya penuh dengan gambar2 tidak islami, mosaic, lukisan atau patung2 erotis dan menjadi pertemuan para homoseksual. Prostitusi lelaki juga sudah biasa dikota2 besarnya; sering anak lelaki menawarkan dirinya pada para turis dihotel2.

Bukti terbesar kita akan lazim dan tolerannya islam terhadap homoseksual tentu saja berasal dari puisi2. Beberapa penyair besar berbahasa arab mengagungkan cinta homoseksual, sering dalam bahasa yang jelas dan terus terang. Disini sekali lagi nama Abu Nawas menonjol. Inilah puisi yang dikarangnya dalam Perfumed Garden:[35]

O nikmatnya sodomi!
kalian orang Arab jadilah pesodomi
Jangan berpaling darinya
– ada kenikmatan besar disana
Ambilah bocah imut pemalu
berambut ikal didahi
Dan genjoti dia waktu dia berdiri seperti rusa
Yg siap utk pasangannya
Bocah yang anunya terlihat
Tidak seperti wanita pelacurmu yang harus dikerudungi
Raihlah bocah berwajah mulus
Genjoti semampumu
Karena wanita adalah tunggangan setan.

Ada beberapa puisi seperti itu yang diciptakan oleh Abu Nawas dalam Perfumed Garden dan The Thousand and One Night, yang dipenuhi dengna kisah2 perjalanan homoseksual yang memalukan.

Meski saya berkonsentrasi pada homoseksualitas pria, ada juga bukti yang menyatakan bahwa lesbianisme juga ada, dan sama juga ditoleransi. Perfumed Garden punya bab tentang Lesbian dimana puisi2 berikut memuji kebaikan2 dari lesbian:

Wanita yang ramping
tidak kikuk maupun gendut
bisa mengajar membelai dan memijat
Jadi datanglah cepat dan nikmati jangan buang waktu
Baru kau tahu yang kukatakan
kenikmatan lesbian adalah benar
Betapa tidak enak dan sebalnya vagina yang ditusuk penis!
Kehilangan semua kenikmatan yg bisa wanita berikan
Dan memikul keburukan dan rasa malu
Pada wanita2 yang tidur dengan pria.[36]

Apapun alasan biologis, sosiologis atau psikologis akan lazimnya homoseksualitas dalam masyarakat muslim, tidak ragu lagi bahwa hal itu ditoleransi hingga hal2 yang oleh orang2 Kristen barat tidak terbayangkan.

———— ——–
[1] Singh, Khushwant. Sex, Scotch and Scholarship. Delhi, 1992. Hal.122
[2] Kureishi, Hanif. My Beautiful Laundrette and the Rainbow Sign. London, 1986. Hal.16
[3] Artikel “Khamriyya,” dalam Encyclopaedia of Islam, edisi baru
[4] Goldziher, Ignaz. Muslim Studies. 2 vol. terjemahan C.R. Barber dan S.M. Stern. London, 1967-71. Hal.32-33 Vol.1
[5] Ibid., hal.35
[6] Artikel Khamriyya dalam Encyclopaedia of Islam, edisi baru
[7] Artikel Abu Dulama dalam Encyclopaedia of Islam, edisi pertama
[8] Nicholson, R.A. Literary History of the Arabs. Cambridge, 1930. Hal.293
[9] Ibid., hal.295
[10] Singh, Khushwant. Sex, Scotch and Scholarship. Delhi, 1992. Hal.76-77
[11] Faiz Ahmed Faiz. The True Subject. Terjemahan Naomi Lazard. Lahore, 1988. Hal.123
[12] Rushdie, Salman. Imaginary Homelands. London, 1991. Hal.38
[13] Mill, J.S. Utilitarianism. Liberty, Representative Government. London, 1960. Hal.141
[14] Artikel “Ghidha,” dalam Encyclopaedia of Islam, edisi baru
[15] Cook, M. “Early Islamic Dietary Law.” Dalam Jerusalem Studies in Arabic and Islam 7, 1964, hal.242f
[16] Dikutip dalam Encyclopaedia Judaica, edisi New English, Vol.6 hal.43
[17] Lihat Simoons secara umum utk keseluruhan section ini
[18] Malinowski, The Sexual Life of Savages in North Western Melanesia, London, 1982, hal.400
[19] Cook, M. “Early Islamic Dietary Law.” Dalam Jerusalem Studies in Arabic and Islam 7, 1964, hal.242.
[20] Robertson Smith, The Religion of the Semites, hal.153
[21] Frazer, J.G. The Golden Bough. London, 1959. Hal.472
[22] Douglas, Mary. Purity and Danger. London, 1966 Hal.54-55
[23] Firmage, E. “The Biblical Dietary Laws and the Concept of Holiness.” Dalam Studies in the Pentateuch (1990), edit oleh J.A. Emerton. Hal.177-208
[24] Didiskusikan dalam Firmage, hal.194
[25] Artikel “The Geographical Setting,” dalam Cambridge History of Islam
[26] Simoons, F.J. Eat Not This Flesh. Madison, 1961.
[27] Personal Communication
[28] Dikutip dalam Simoons, F.J. Eat Not This Flesh. Madison, 1961.
[29] Scruton R. “The Higher Meaning of Food.” Times Literary Supplement, Sept 30, 1994
[30] Mackenzie, Compton. Thin Ice. London, 1956. Hal.38
[31] Babur. Memoirs (Babur-Nama) . Diterjemahkan oleh A. Beveridge. Delhi, 1979. Hal.120
[32] Burton, Richard. The Book of the Thousand Nights and a Night. 17 vols. London, n.d. Hal.236, vol.x
[33] Dikutip dalam Leach, Edmund. Social Anthropology. London, 1982 Hal.210
[34] Artikel “Liwat,” dalam Encyclopaedia of Islam, edisi baru
[35] Nefzawi, Shaykh. The Perfumed Garden. London, 1963. Hal.37-39
[36] Ibid., hal.24
____________ _____
Para Muslim tidaklah bodoh. Mereka bisa melihat bahwa Islam adalah salah. Mereka tahu ayat2 Quran bertentangan satu sama lain. Mereka tahu Islam bertentangan dengan kecerdasan manusia dan tidak masuk akal, tapi mereka begitu terjebak di dalamnya sehingga mereka tidak bisa meninggalkannya. Mereka memaksa diri mereka untuk percaya, karena tanpa itu, mereka bagaikan tersesat.
– Ali Sina