PENGANTAR

Berikut adalah empat artikel dari para penulis yang berbeda, namun masih dalam satu tema, yaitu tentang allah-nya islam (baca; auwloh). Tulisan-tulisan berikut ini hanyalah menegaskan bahwa sosok Allah di dalam islam berbeda dengan Allah yang dipercayai dan diyakini oleh non-muslim (terutama Yahudi dan Kristen yang menyebutnya sebagai Yahweh {YHWH}; Allah Abraham, Ishak dan Yakub. Meskipun pada beberapa hal secara teologis, Yahudi dan Kristen mpunyai perbedaan konsep, namun secara `iman’ keduanya mengakui bahwa Yahweh adalah Allah Israel, Allah yang disembah oleh Abraham, Ishak dan Yakub, serta Allah yang sama juga yang disembah oleh orang Kristen. Allah yang diimani oleh Yahudi maupun Kristen sampai kini). Nah, sosok Allah-nya islam bukanlah pribadi Allah sebagaimana yang diimani oleh Yahudi dan Kristen. Allah islam berbeda dengan Allah Yahudi & Kristen. Tentu saja dibutuhkan ulasan yang lebih dalam dan panjang lebar untuk membahasa itu. Namun sebagai introducing awal, inilah empat tulisan singkat tentang hal tersebut. Selamat membaca dan menemukan Kebenaran.

MENGAPA AUWLOH

BUKAN TUHAN

J

ika anda seorang Muslim dan bisa menjelaskan mengapa auwloh itu Tuhan, silahkan baca FAQ (Frequently Asked Questions) saya di –klik-sini-, dan jika anda punya pertanyaan yang tidak terjawab di sana, silahkan hubungi saya. Akan saya jawab pertanyaan anda dan masukkan ke FAQ.

Ada banyak alasan mengapa Allah-nya islam bukan Tuhan.

1) QURAN TIDAK MENUNJUKKAN TANDA-TANDA BUKU DARI TUHAN, KARENA:

a) Tidak ada mukzizat dalam Quran, buku itu bisa saja dibuat seseorang atau sekelompok orang.


b) Quran mengandung kesalahan/error yg fatal dalam science dan moral.


c) Jika Quran benar-benar dari Tuhan, akan ada di dalamnya ilmu pengetahuan yang masih tidak kita kuasai. Adakah sains di dalam Quran? Bacalah sejarah sains dunia sebelum masa Islam, ilmuwan-ilmuwan yang lahir sebelum jaman Islam. Kalau Quran mau menyingkapkan sains, mengapa tidak menunjukkan semua sains yang kita ketahui? Mengapa hanya common sense dan ide-ide yang dicuri dari ilmuwan Yunani? Aku bisa memberi alasan-alasan mengapa Muhammad mencuri dari orang Yunani. Ingatlah, anda tidak perlu berpendidikan tinggi untuk mendengar tentang ilmu pengetahuan dari negara jauh, dan berbohong pada orang-orang sekitarmu bahwa ilmu itu `diwahyukan’ Tuhan. Jadi pernyataan bahwa Muhammad tidak berpendidikan dan karenanya tidak mungkin tahu semua itu adalah pernyataan yang tidak benar.


d) Tuhan yang sesungguhnya (sejati) tidak akan membiarkan pesan-pesan pentingnya disalah-mengerti umat manusia:
Bukankah katanya Quran itu pesan-pesan penting untuk kaum manusia? Kalau Quran itu pesan Tuhan yang sesungguhnya , pasti sang pencipta –dlm derajat ttt- akan memastikan pesannya tidak disalah-pahami. Akan tiba saatnya makin banyak orang yang terbuka matanya dan sadar akan kepalsuan islam dan pada akhirnya membenci Islam. Katakanlah Quran itu dari Tuhan, namun sungguh sangat disayangkan bila kita terlahir di masa sekarang ketika pesan penting dari Tuhan (Quran) itu sangat dibenci.

Pesan dari Tuhan yang sesungguhnya kepada ciptaanNya, pastilah sangat penting dan tidak akan ada seorang pun yang bisa merusak citra pesan itu. Sekarang saja ada banyak orang waras yang mencari kesalahan dalam Quran dan menggunakannya sebagai toilet paper. Akankah Tuhan yang sesungguhnya membiarkan ini terjadi? Tentu saja tidak jika dia merasa pesannya sangat penting.

Tuhan ingin menguji kita? Untuk apa? Apakan kita kelinci percobaan? Tentu saja bukan.


e) Tuhan tidak akan pernah menyatakan pesan-pesan (dalam Kitab Suci) sebelumnya adalah salah, dan hanya pesan yang terakhir (Islam) yang benar. Tuhan tidak pernah mengoreksi pesan-pesan (Firman-Nya) sendiri. Karena dengan demikian Ia pernah berbuat kesalahan, yang berarti bahwa Ia tidak Maha Sempurna, sebab mengoreksi diriNya sendiri.


f) Tuhan yang sejati tidak akan menindas hak kita.

Selain alasan-alasan di atas, ada lagi penjelasan yang masuk akal (logical) mengapa Allah-nya islam bukan Tuhan. Allah adalah “Tuhan” yang sewot jika kamu mencelanya dan tidak taat padanya. Tuhan macam apakah yang selemah itu?

Ini penjelasannya;
1) Tuhan tidak tersinggung ketika manusia menghinaNya.
2) Allah bukan Tuhan sejati.

Akan saya buktikan ini dengan dua cara. Pertama-tama saya akan memakai logika untuk membuktikan Allah bukan Tuhan, lalu akan saya pakai analogi untuk mendukung pendapat saya.

2) SECARA LOGIKA

Tuhan semestinya sangat berkuasa. Tidaklah mungkin ada kekuatan lain yang melampaui Tuhan dan mempengaruhi Tuhan dengan cara apapun. Aku tidak bisa membuat Tuhan marah, tidak dapat pula membuat Dia senang. Jika aku bisa membuat Tuhan senang atau marah, itu artinya aku bisa mengkontrol emosi Tuhan. Jadi aku bisa mengkontrol Tuhan. Tapi Tuhan yang begitu, yang kemarahannya dapat aku kontrol sesuka hatiku, pastilah bukan Tuhan. Kalau beribu-ribu juta blackholes yang dapat membelokkan cahaya karena gaya tarik tidak dapat mempengaruhi Tuhan, bagaimana aku seorang manusia 64 kg bisa? Tidak mungkin. [Artinya; Tuhan yang sejati, tidak akan dapat terpengaruh oleh apapun diluar Diri-Nya. Ciptaan tidak bisa mengontrol Pencipta].

Sekarang mari kita belajar tentang Allah-nya orang Muslim. Muslim diperintahkan untuk menyembah Auwloh dan memuja dia. Allah menciptakan manusia untuk menyembah dia (Q:51.56).
Kita tahu Allah akan menghukum orang yang tidak percaya padanya :
[Al-fat-h 48:13] Dan barang siapa yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya Kami menyediakan untuk orang-orang yang kafir neraka yang bernyala-nyala.

Jadi, jika Tuhan akan menghukum orang yang tidak percaya padanya, dia juga akan menghukum orang yang menghina dia. Tapi jika allah menghukum orang yang menghina dia, artinya allah tersinggung ketika manusia menghinanya. Jadi manusia bisa membuat allah tersinggung dengan tidak mematuhi perintahnya atau dengan menghina dia. Jika manusai bisa membuat allah tersinggung, artinya manusia dapat mengkontrol emosi Allah. Jadi manusia dapat mengkontrol emosi Allah dan karena itu mengkontrol Allah.

Tapi kita tahu dari diskusi di atas, emosi Tuhan tidak bisa dikontrol manusia.

Catatan: Menghina manusia lain adalah persoalan berbeda, karena manusia terpengaruh oleh setiap hal di luar dirinya sendiri, sebab dia tidak punya kekuasaan seperti Tuhan. Jadi masuk akal kalau kita mengatakan jika Tuhan itu ada Dia akan memberikan keadilan kepada semua yang terhina dan diperlakukan semena-mena dan akan menghukum mereka yang memperlakukan manusia semena-mena. Tapi, Tuhan tidak akan marah kepada penjahat. Peranan Tuhan adalah untuk memberi keadilan, tanpa dipengaruhi rasa benci atau marah, yang ditimbulkan orang si penjahat. Jika Allah bisa menjadi marah karena hinaan manusia kepadanya, Allah tidak mungkin menjadi entity yang terkuat. Bila manusia harus menanggung penderitaan sebagai akibat dari perbuatannya, maka itu bukan berarti Tuhan marah atau sewot, tetapi itu berarti konsep keadilan Tuhan sedang berlaku atas orang tersebut.

Kesimpulan: Allah, tuhan orang Muslim, bukanlah Tuhan (Sejati).

Analogy
Seorang laki-laki, katakanlah namanya si `X’ sedang belajar social behaviour (tingkah laku kemasyarakatan) dan mengadakan eksperimen untuk melihat reaksi orang terhadap penghinaan. Dia pun turun ke jalan bertemu orang, dan memilih satu orang, katakanlah si `A’ untuk dipelajari. X pun melontarkan penghinaan terhadap A, tapi A orangnya cool saja dan tidak peduli terhadap penghinaan. Malahan dia berpikir, orang ini (X) mungkin gila. A tidak membiarkan rasa marahnya tumbuh, cuma memandang X dengan heran dan tidak menghiraukannya. X mencatat reaksi A di buku jurnalnya dan mencari orang lain, katakan si `B’ untuk dipelajari. B itu orangnya cepat marah dan darahnya cepat mendidih. Mendapat hinaan dari X, diapun membalas dengan hinaan yang lebih keji lagi dan tampaknya sudah mau meninju muka X, tapi X pun lari menyelamatkan diri.

Jadi siapa yang karakternya lebih kuat? A atau B? Jika kamu mesti memilih salah satu sebagai pemimpin, siapa yang kamu pilih? Kebanyakan orang akan memilih A yang lebih kuat karakternya dan bisa bertahan melawan serangan. Sekarang, bayangkan kalau percobaan ini tentang Tuhan. Misalnya ada dua Tuhan. Salah satunya itu Tuhan `B’ yang gampang marah kalau dihina orang. Ketika orang di bumi menghina Tuhan B, dia pun menjadi marah dan menghukum manusia. Dia lalu berencana untuk membakar manusia itu dan menyakiti dia dengan segala macam siksaan kalau nanti dia mati. Tuhan satunya lagi, Tuhan A, itu sabar penuh kasih dan ketika manusia menghinanya, dia tidak peduli karena dia bukan tipe perasa seperti Tuhan B. Tuhan A mencintai manusia tanpa batas dan untuk selamanya (Unconditional Love). Ketika manusia menghinanya, dia justru datang untuk menjangkaunya, dan dia pun memaafkan manusia itu. Dia tahu penghinaan tidak ada efeknya pada dirinya. Dia masih mencintai manusia dan tahu manusia tidak dapat menyakitinya dengan cara apa pun. Ketika manusia itu mati, dia akan melihat sendiri betapa penuh cintanya Tuhan itu.

Tuhan A berkata pada dirinya sendiri, ” Tidak apa-apa. Dia itu hanya manusia, ciptaanku yang terkasih. Tidak apa-apa lah kalau dia itu mau percaya padaku atau tidak. Kepercayaan dia tidak punya efek padaku karena aku punya kekuasaan yang melebihi apa pun. Satu juta blackhole saja tidak bisa mempengaruhiku, apalagi manusia yang cuma 65 kg, tingginya cuma 5’6″ dan cuma akan hidup 70 tahun.”

Tuhan yang mana, A atau B, yang lebih kuat dan penuh cinta? Tuhan mana yang menurut kamu menguasai dunia?

Kebanyakan orang akan memilih Tuhan A, yang tidak dapat dipengaruhi penghinaan atau cinta manusia, yang mencintai ciptaannya selamanya dan tanpa syarat (uncoditional love). Kalau Allah itu punya kekuatan yang tidak terbatas, kekuatan tak terbatasnya juga termasuk dalam karakternya. Kalau Allah marah karena penghinaan manusia, tentu saja Allah bukan lagi entity yang punya kekuatan karakter tak terbatas.

Kesimpulan:Jika Tuhan itu ada, Dia tidak akan marah kalau manusia menghina Dia. Jadi, Allah, tuhannya orang Muslim, yang gampang marah kalau ada kritik, bukan Tuhan yang sejati.

Sumber:
http://www.indonesia.faithfreedom.org/forum/viewtopic.php?t=1928

http://www.apostatesofislam.com/apostates/abulk/articles/

http://4.bp.blogspot.com/_-PT-ie5sms8/SLWVnsxurpI/AAAAAAAABKk/piwusGAdpLA/s400/Moh79.jpg

THE NARCISSISTIC ALLAH

Konsepsi Islam Ttg

Allah Yg Narsistik

oleh Faiyaz Taffakur

O

rang baik tidak pernah mengharapkan balasan sehabis mentraktir orang lain. Sang pemberi tidak pernah mengharapkan agar sang penerima seumur hidup berterima kasih pada sang pemberi. Apalagi menungging padanya 5 kali sehari. Sang pemberi juga tidak pernah akan mengutuk atau membenci sang penerima kalau tidak mengucapkan terima kasih.

Nah, sekarang pelajarilah konsep Allah dlm Islam. Muhamad mengatakan bahwa Allah berbaik kpd kita dgn menciptakan kita (walau kita tidak pernah memintanya). Lalu IA MENUNTUT agar kita menundukkan badan 5 kali sehari utk menunjukkan terima kasih dan memuaskan egonya dgn mendengung-dengungkan Allahu Akhbar dan tidak ada allah selain dirinya. Ia bukan saja menuntut, tetapi MENGANCAM akan melemparkan anda ke dlm neraka jika anda tidak mematuhinya. Juga, bagi mereka yg tidak mempercayai Allah islam (muslim menyebutnya, Kafir), IA sudah menjamin tempat dlm api nerakanya itu.

Hanya roh jahat yg akan berlaku demikian… menggunakan ancaman dan hukuman dan memaksa orang-orang tak berdaya utk mengulang-ulangi pujian baginya setiap hari. Jika Allah baik, IA akan lebih memikirkan kebahagiaan kita dan tidak memamerkan kekuatanNya dan cintaNya terhdp diri sendiri. Juga, Allah kurang percaya diri karena kalau IA memang memiliki harga diri tinggi, IA tidak akan memaksakan orang lain utk memuja diriNya saja. Pribadi yg benar-benar Maha Baik tidak perlu mengatakan, ini lho AKU maha baik, lho. Pribadi baik juga tidak akan menakut-nakuti agar memujanya dan memuja dirinya saja.

Orang baik tidak akan memuji dirinya sendiri. Ia akan rendah hati bahkan jika kemampuannya dipuja-puja orang. Hanya parasit dan tong kosong yg akan mengumbar-umbar ttg dirinya dan memuja-muja diri dgn mulutnya sendiri. Nah, sekarang kita umpamakan bahwa Quran memang datang dari Allah. Lihat sendiri betapa penuhnya Quran dgn ayat-ayat ttg Allah yg memuja diriNya sendiri. Jika Allah memang benar menyusun Quran, maka ia memang tidak malu-malu memuja diriNya sendiri. Ia menyebut diri sendiri Maha Besar, Maha Kuasa, Maha Pengampun, Maha Pengasih, Sumber Kedamaian, Sumber Rahmat dll. (the Exalted, the Supreme, the Most Compassionate and Merciful, the Sovereign, the One, The Source of Peace). Bukan saja IA memuja diri sendiri, tetapi IA menuntut agar pengikutNya terus menerus meng-komat kamit ayat-ayat Quran sambil membuat bermacam-macam gerakan penghormatan pd diriNya yg ribet dan bertele-tele.

Berdasarkan ini, apakah orang masih bisa mengatakan bahwa Allah-nya islam baik? Ia tidak lebih dari sosok mahluk narsisis, cengeng dan tidak ada gunanya.

Allah islam persis mirip Sadam Hussein, diktator dan bukan mahluk pencipta alam semesta. Apa yg dipusingkan diktator hanyalah kekuasaannya, ia hanya mau agar rakyat menyerahkan kemauan kpd kemauannya, dan rakyat harus memujanya, berterima kasih padanya. Mereka yg menolak, akan dikirim ke ruang siksaan dan disekap disana selama-lamanya.

Allah tidak peduli apakah orang yg nungging-nungging jedotin jidat ke ubin 5 kali sehari dan tidak memuja dewa lain selain Allah adalah orang baik, bermoral dan penuh cinta kasih. Yg paling penting baginya, spt juga bg diktator kejam, adalah bahwa manusia tunduk pd kemauannya, yg lagi pula merupakan esensi kata “Islam” (submission/ penundukkan). Ia juga tidak peduli jika pengikutnya ini adalah orang-orang tidak bermoral dan biadab — pada akhirnya, Ia akan mengijinkan mereka masuk ke surga.

Perhatikan juga bahwa Allah memerintahkan orang agar menyebarkan namanya dgn menyebarkan Islam agar makin banyak orang menungging baginya 5 kali sehari. Ia tidak mengatakan agar mereka saling mencintai atau saling membantu satu sama lain, malah Ia memerintahkan mereka agar mengajak orang masuk Islam, kalau perlu dgn kekerasan. Bahkan Quran sendiri mengatakan bahwa pengikut boleh menggunakan kekerasan. Apa yg penting bagi auwloh adalah bahwa mereka memujanya. Titik.

Inilah inti Islam. Tidak heran kita menyaksikan diterapkannya sensor diujung senapan, kebutuhan utk membunuh orang lain (lihat kasus pembunuhan Theo Van Gogh –kilk-sini-, seorang sutradara film di Holland), atau dijatuhkannya hukuman mati atas mereka yg menguakkan Islam (spt Taslima Nasrin, Salman Rusdie, Ali Sina, Ibn Waraq, dll). Oleh karena itu di Pakistan dan negara-negara Islam lainnya berlaku UU Anti Penghinaan terhdp Islam (termasuk di Indonesia dng UU Penghinaan atau Penodaan Thd Agama). Kenyataannya adalah, kalau memang IA adalah Kebenaran, maka Ia tidak perlu takut akan apa yg dikatakan orang … kalau orang tidak setuju dgnnya toh itu tidak akan mengubah Kebenaran atau Realitas.

yang memburu dan membunuh orang-orang yang mengkritiknya? Yang selalu terancam oleh kritikan sekelompok orang, yang bahkan hanya oleh kritikan dari seorang individu, maka itu akan dapat meruntuhkan keseluruhan sistem agamanya?

Dalam sejarah agama Kristen/Katolik, memang pernah terjadi hal yang demikian, namun itu BUKAN perintah agamanya, tapi kebijakan institusi gereja waktu itu, yang kini telah diakui sebagai sebuah sejarah kelam gereja. Kekristenan bahkan menjadi semakin kuat berdiri dan tangguh karena ia telah membuktikan di depan sejarah peradaban manusia bahwa ia mampu menghadapi para pengkritiknya, setajam dan seganas apapun kritik itu. Sampai detik ini Kekristenan tetap tegak berdiri, tanpa harus memburu dan membunuhi para pengkritiknya. Kebenaran tetaplah Kebenaran, meskipun ia dihujat. Tuhan tetaplah Tuhan meskipun manusia tak mau mengakuinya. KeTuhanan ALLAH (yang sejati), tidaklah bergantung pada kehendak manusia. [-admin].

Sumber:

http://www.faithfreedom.org/oped/FaiyzaTaffakur60106.htm

http://2.bp.blogspot.com/_-PT-ie5sms8/SLWXdB6eqvI/AAAAAAAABK0/qaj8k67DqtI/s400/arabcoke.jpg

Hi Ali Sina,

Ya, saya yg menyamar sbg Shurayh dlm kolom debatmu itu (www.faithfreedom.org). Saya telah tinggalkan Islam sebulan setelah debat itu. Sebenarnya saya sudah meragukan islam dan setelah diyakinkan anda, saya akhirnya melepaskan diri dari agama busuk itu untuk selama-lamanya. AMIN!

Tetapi setelah meninggalkan islam, isteri saya minggat membawa kedua anak kami. Paling tidak sekarang saya sudah menemukan diri saya kembali. Saya sekarang bebas dari tipuan Muhamad.

Saya meninggalkannya pd pada usia 26 thn kini. Jadi saya masih muda dan tidak perlu menyesal. So thank you atas situs ini dan inilah sumbangan (tulisan) saya bagi situsmu ini.


Allah-nya Islam Adalah Idiot!

Ini Alasannya…

By Jassassah (ex-muslim)

2006/02/26

[mohon maaf bila bahasanya vulgar dan terkesan sarkas. Ini hanyalah terjemahan sesuai aslinya. Harap maklum. -adm]

H

adis berikut ini saya kenal benar. Ketika saya masih Muslim, hadis ini menguatkan kepercayaan saya kpd Muhammad. Namun sekarang, saya melihatnya dgn mata berbeda:

Diriwayahkan Anas: Rasulullah menyampaikan kotbah pada hari Jumat dan orang-orang berdiri dan berseru, “Wahai Rasulullah! Sudah lama tidak hujan, pohon-pohon kering dan ternak kami mati semua; mintalah agar Allah menurunkan hujan.” Rasulullah kemudian mengatakan dua kali, “O Allah! Berikan kami hujan.” Ya Allah, tidak ada tanda-tanda hujan di awan namun tiba-tiba langit gelap dan datanglah hujan.

Ketika nabi pulang, hujan masih jatuh sampai hari Jumat berikutnya.
Ketika nabi kembali mulai kotbahnya, orang-orang berseru; “Rumah kami rubuh dan jalan-jalan terputus; tolonglah minta agar Allah menghentikan hujan.” Nabi tersenyum dan berkata, “O Allah! Hentikan hujan.” Dan langit diatas Medinah segera menjadi cerah, sementara diluar Medinah hujan turun tidak henti-hentinya. (Sahih al-Bukhari. Volume 2, Book 17, Number 134).

Nah Muslim, kalian dihadapkan pada dua pilihan;
1. AKUI BAHWA ALLAH MEMANG IDIOT – atau
2. AKUI BAHWA “MUKJIZAT” ini tidak pernah terjadi.

“Mengapa Allah dibilang idiot?!” begitu kan anda berteriak? Karena Allah tidak tahu kapan harus menghentikan hujan. Rakyat harus meminta Muhamad bagi datangnya hujan. Muhamad sembahyang – baru Allah menanggapi.

Bukannya memperbaki keadaan mereka, si Allah tuhannya islam ini malah semakin mempersulit hidup orang dan kemungkinan IA pun terbahak-bahak sambil duduk-duduk di singgasana surga! Ia bahkan sampai membunuhi ternak rakyat. So, Allah yg Al Rahman dan Al Rahim itu, sebenarnya TIDAK TAHU apa yg terjadi sampai harus diwanti-wanti Muhamad.

Lagi-lagi Muslim menghadapi pilihan :
1. Allahnya islam memang tolil alias idiot.
2. Allah menyiksa mereka yg meminta hal-hal utk memperbaiki kehidupan mereka, atau
3. Allah tidak Al-‘Alim (Maha Tahu).

Jelas, mukjizat ini tidak pernah terjadi. Ini hanya isapan jempol para sahabat Muhamad. Muhamad sendiri mengatakan ia tidak dapat menurunkan mukjizat.

So, se-cinta apapun yg kau miliki bagi Muhamad, si budak Allah itu (atau Allah si budak Muhamad?), saya sarankan anda segera melupakannya dan cari kepercayaan lain yg tidak se-idiot ini.

Hadis-hadis lain dari saya menyusul.

Sumber: http://www.faithfreedom.org/oped/jassassah60226.htm
http://2.bp.blogspot.com/_-PT-ie5sms8/SLWVCqfUWCI/AAAAAAAABKc/ODi73Gq_AIw/s400/allahparody.jpg

SATU LAGI MUSLIM YG MERAGUKAN AUWLOH!


A Worthless Deity Who Lied!

AUWLOH, DEWA PENIPU

YG TIDAK ADA NILAINYA

Penulis: Mohammad Asghar

September 2006

T

idak ada masyarakat normal yg suka pembohong. Nenek moyang kita sadar bahwa berbohong hanya akan membawa celaka bagi diri maupun masyarakat mereka sendiri. Ini disebabkan karena fakta bahwa sekali anda berbohong, anda harus menciptakan kebohongan-kebohongan lain utk menutupi kebohongan pertama anda itu.

Disetujui pula bahwa utk menghindari celaka dlm masyarakat, sang pembohong harus dibatasi kelakuan membohongnya. Oleh karena itu setiap negara memiliki UU utk menghindari/menindak orang-orang yg berbohong (Pasal 378 KUHP). Masyarakat Barat misalnya, mewajibkan semua peserta pengadilan utk bersumpah pada Injil agar menghindari mereka berbohong. Di India, para peserta Hindu bersumpah pada kitab Gita. dan di sistem hukum Islam, Muslim diwajibkan utk bersumpah pada Quran.

Dlm sehari-haripun Muslim sering bersumpah ‘DEMI AUWLOH.’ Tapi kalau apa yg disumpahnya itu ditulis oleh pembohong, bgmn menyadarkan para pengikut?

Ini pertanyaan yg saya pusingkan selama beberapa hari dan tidak mendapatkan jawabannya. Mudah-mudahan artikel ini akan mengundang feedback dari pembaca utk menemukan jawaban yg saya cari.

Pemujaan umat manusia terhdp pohon, batu, binatang, patung dan dewa-dewa berubah drastis setelah terbentuknya Islam, 1400 thn yg lalu. Si pencipta agama tidak lain dari Allah sendiri, yg mewajibkan pengikutnya memujanya dgn histeria yg meluap-luap (‘an indescribable frenzy’).

Dewa ini, Allah, melarang semua pemujaan terhdp patung, batu, hewan, matahari dan api dsb dsb. Islam dinyatakan sbg agama yg paling teramat sempura dan bahwa semua manusia yg bernafas diatas bumi ini harus tunduk, membongkokkan diri padanya karena IA adalah MAHA KUAT, MAHA DIMANAPUN DAN MAHA TAU SEGALANYA (Omnipoten, Omnipresent and Omniscient).

Dewa islam yang disebut Allah (baca; auwloh) ini menganggap Muhamad sbg teman terdekatnya. Allah sampai menongkronginya siang malam: mulai dari saat Muhamad makan, sampai saat Muhamad tersayang buang air. Bahkan si Allah itu memposisikan diriNya di tempat tidur Muhamad utk mencari tahu, apa sih yg ia lakukan dgn isteri-isterinya itu, gundik dan budak-budak perempuannya.

Setiap saat, Muhamad cekcok dgn salah seorang isteri, Allah siap dgn fatwaNya; Allah tidak suka isteri-istri yg mbalelo, banyak tanya, banyak mau. Isteri-istri yg membuat pusing Muhamad tersayangnya, selalu diwajibkanNya agar minta ampun. Kalau para isteri itu masih juga bandel, maka Allah memperingatkan mereka:

[66.4] Jika kamu berdua bertobat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan); dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang mukmin yang baik; dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula.

PERTANYAAN PERTAMA: Kalau Allah saja perlu bantuan Jibril + Muslim Mukmin + semua malaikat yg jumlahnya tidak terbatas, utk menghadapi satu atau dua perempuan bandel saja, KEKUATAN APA YG SEBENARNYA DIMILIKI ALLAH? Utk apa kalau begitu Muslim harus menundukkan kepala mereka kpd dewa yg se-impoten Allah ini?

PERTANYAAN KEDUA sehubungan dgn Maha Tahu-nya Allah: IA mengatakan dalam Quran:
[Inilah Quran, yg ditulis dlm sebuah buku yg disimpan (disurga)] (85:21 & 22).

Kebanyakan teolog Islam menafsirkan ayat diatas sbb:
Sebelum menciptakan alam semesta dan segala isinya, Allah menulis isi Quran dlm sebuah buku (‘Tablet’) dan disimpanNya disebuah tempat aman yg dinamakan Baitul Izzat atau Baitul Mamur, yg tempatnya di langit terdekat diatas Ka’abah. Inilah tempat dimana malaikat berkumpul dan berdoa.

Dari sini bisa disimpulkan bahwa Allah pastilah mengunjungi tempat itu dan melihat dgn mata kepalanya sendiri eksistensi Quran yg mengambang diudara itu!

Allah tidak pernah meminjamkan kunci Baitul Izzat itu, shg tiada jin atau manusia pernah sekalipun menyentuh barang wasiatNya itu. Ini rupanya demi menjaga keasliannya. Allah memang bersusah payah membuat Muslim percaya 100% bahwa Quran adalah kata-kata Allah yg tidak berubah sedikitpun selama 1400 tahun.

PERTANYAAN SAYA: Kalau memang Allah begitu Maha Tahu dan tahu apa yg terjadi pada masa lalu, masa kini dan masa depan, UTK APA IA PERLU MENCATATKAN RENCANANYA, KEINGINANNYA DAN PERINTAH-PERINTAHNYA BAGI MANUSIA dlm SEBUAH BUKU (sambil mengambang di atas Kabah pula)?

Apakah IA takut lupa? Kalau gitu, Allah TUKANG LUPA alias PIKUN? Kalau begitu, mana mungkin dewa macam itu bisa MAHA TAHU?

PERTANYAAN KETIGA menyangkut kebohongan Allah: dlm Quran
Allah mengatakan:
[42.51] Dan tidak ada bagi seorang manusia pun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana

Pembaca Yth, saya sarankan anda perhatikan ayat diatas: Allah mengatakan; Ia tidak bicara langsung dgn manusia, tapi harus lewat tabir/tirai. Ini bohong. Buktinya?

[2.259] …Allah bertanya: “Berapa lama kamu tinggal di sini?” Ia menjawab: “Saya telah tinggal di sini sehari atau setengah hari”. Allah berfirman: “Sebenarnya kamu telah tinggal di sini seratus tahun lamanya; dst dst …”

Jelas dari ayat diatas bahwa Allah bisa bicara langsung pada manusia, kalau itu memang demi kepentingan agendaNya. Ia malah mampu berbicara terbuka, tanpa menyembunyikan senyumNya dari belakang tirai. Lagipula, dari mana kita tahu bahwa yg mengoceh dari balik tirai itu adalah Allah dan bukannya Setan?

Jadi, Allah sendiri menunjukkan bahwa IA mampu dan sudi berbicara langsung dgn manusia, tapi kemudian menampik fakta ini dlm 42:51, tidak salah kalau saya mengatakan bahwa Allah = PENIPU yg `big time’ pula?

Kalau Allah berbohong pd satu kesempatan ini, mungkinkah IA juga berbohong pada kesempatan lain? Dan kalau ia tukang bohong, bukankah Muslim harus menolak menganggapnya sbg Pelindung sampai bahkan mengorbankan nyawa mereka utknya bukan?

Terakhir: Haruskah Muslim mencari bantuan dewa yg bukan saja PENIPU, TAPI TIDAK MEMILIKI KEKUATAN APAPUN, dan oleh karena itu TIDAK BERGUNA SAMA SEKALI?

Andalah yang mesti menjawab itu…

Sumber:http://www.news.faithfreedom.org/index.php?name=News&file=article&sid= 422