“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh. 3:16).

PENDAHULUAN

Ada seorang Bapak, sebut saja namanya Pak Gideon, yang sangat rajin beribadah. Ia taat dalam menjalankan perintah-perintah agama dan menjauhi larangan-larangan- Nya. Dia terlihat sangat saleh dan takut pada Dia Yang Maha Besar. Dari tutur kata dan lakunya, terlihat bahwa dia memang orang yang bertaqwa pada Tuhan Yang Maha Esa.

Menurutnya, tujuan melakukan semuanya itu adalah untuk keselamatan. “Saya mencari keselamatan di akhirat, saya ingin masuk surga!” katanya. Namun demikian, meski sudah melakukan apa yang diyakininya sebagai perintah Tuhan, ternyata dia tidak memiliki kepastian apakah bakal masuk surga kelak. Alasannya, “Saya tidak tidak tahu apakah akan masuk surga atau tidak nantinya, semuanya terserah Dia saja. Saya tidak mau berkata bahwa saat ini saya pasti masuk surga atau neraka. Saya tidak mau mendahului Dia! Saya hanya berusaha, tapi apakah ibadah saya diterima atau tidak, semuanya terserah pada Yang Di Atas!”

Pengalaman Pak Gideon ini sebenarnya merepresentasikan kerinduan semua orang akan keselamatan sejati. Bisa dikatakan bahwa setiap orang menjalankan hidupnya untuk mendapatkan keselamatan (menurut konsepnya masing-masing) , namun tidak semua orang tahu pasti apakah yang dilakukannya itu sungguh memberikan keselamatan. Tentunya wajar jika setiap orang ingin mendapatkan kepastian keselamatannya, kondisi di mana tidak ada lagi pertanyaan atau keraguan apakah akan beroleh hidup kekal atau tidak kelak.

Dalam bulan Natal kali ini saya mau menguraikan satu nats terkenal, yakni Yohanes 3:16. Di dalam ayat ini kita bisa melihat makna natal sesungguhnya, yakni karya kasih Allah bagi keselamatan manusia. Di dalamnya kita bisa melihat hakekat keselamatan sejati, karya Allah dalam menyelamatkan kita, dan tanggung jawab manusia untuk mendapatkan keselamatan itu.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh. 3:16).

HAKEKAT KESELAMATAN

Kehidupan di surga selalu dikaitkan dengan karakteristiknya yang penuh dengan kebahagiaan, ketentraman, kedamaian, kenyamanan, kemewahan dan sebagainya-dan sebagainya. Di sana tidak ada lagi kejahatan, ketidakadilan, dosa, air mata, sakit penyakit, kematian, dan lain sebagainya yang dibenci semua orang.

Pemahaman ini memang tidak salah. Kita Suci menjelaskan bahwa keadaan di surga itu nantinya memang demikian. Namun, pemahaman demikian terlalu berfokus pada pengalaman subjektif penghuni surga. Pengalaman demikian merupakan hasil dari keadaan sesungguhnya atau hakekat dari kehidupan di surga. Apa hakekatnya? Secara positif “kehidupan kekal,” secara negatif “ketidakbinasaan.”

KEHIDUPAN KEKAL

Hakekat kehidupan di surga adalah kehidupan kekal. Maksudnya ini bukanlah kehidupan di bumi yang tidak akan pernah mati-mati. Injil Yohanes biasanya menggunakan istilah bios untuk jenis kehidupan sementara di bumi ini, sedangkan istilah yang digunakan di sini adalah zoe yang lebih menekankan pada kualitas dari kehidupan itu sendiri. Lalu, istilah “kekal” di sini juga tidak mengacu pada dimensi periode waktu kehidupan, sehingga keselamatan di sini tidak terkait dengan panjangnya umur seseorang.

Mengenai arti dari kehidupan kekal, di dalam Yohanes 17:3 Tuhan Yesus menjelaskannya sebagai pengenalan akan Allah dan akan Yesus Kristus. Kata-Nya, sebagaimana Alkitab Terjemahan Baru LAI,

“Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus” (Yoh. 17:3).

Mengenal di sini maksudnya bukan sekedar mengetahui di kepala, tetapi meliputi keseluruhan hidup kita: mengenal secara intelektual, secara emosional, secara spiritual, secara personal, secara sosial, dan lain sebagainya. Septuaginta, Alkitab PL berbahasa Yunani, menggunakan istilah “mengenal” ini untuk hubungan suami isteri antara Adam dan Hawa (dalam Alkitab TB LAI diterjemahkan “bersetubuh.”). Jadi gagasan “mengenal” ini menyangkut hubungan paling dekat yang bisa terjadi.

Dalam hubungan dengan Allah, mengenal Dia berarti memiliki hubungan persekutuan terdekat dengan Dia. Gagasan ini terlihat dari istilah Bapa dan Anak sebagai sebutan untuk pribadi Allah; sebutan yang menunjukkan adanya aspek relasional di dalam diri Allah. Ketika dikatakan bahwa Allah mengasihi dunia, itu berarti Ia ingin membangun hubungan persekutuan dengan manusia. Jadi hakekat dari hidup yang kekal adalah persekutuan dengan Allah.

Persekutuan Personal

Persekutuan yang bisa dimiliki antara Allah dan manusia bersifat personal, hubungan antara pribadi Allah dan pribadi manusia. Artinya kita bisa berkomuniksi langsung secara pribadi Dia. Kita memang butuh perantara atau imam-imam sebagai juru syafaat untuk datang kepada Allah, namun kita sendiri adalah imam-imam yang bisa langsung secara pribadi berkomunikasi dengan-Nya. Ciri personal ini terlihat dari adanya kata sandang di depan kata “Allah” dalam Yohanes 3:16 yang secara sintaksis berarti, karena dikemukakan kepada Nikodemus, bahwa Allah yang dimaksud adalah YAHWEH, nama diri-Nya.

Persekutuan Familial

Persekutuan dengan Allah itu juga bersifat familial. Artinya, Allah menjadi Bapa kita dan kita menjadi anak-anak-Nya (Yoh. 1:12). Kita masuk dalam keluarga Allah; kita memanggil Dia sebagai Bapa. Familial merupakan bentuk hubungan terdekat yang bisa dimiliki antara manusia dengan Allah. Proses menjadi anak Allah itu terjadi lewat adopsi, bukan prokreasi.

Persekutuan Penuh Kasih

Persekutuan dengan Allah itu bersifat kasih. Kasih merupakan sifat yang mendorong dan mengarahkan langkah karya kita agar mengupayakan dan memberikan yang terbaik dengan tanpa pamrih kepada pribadi yang kita kasihi. Hubungan penuh kasih antara kita dengan Allah menjadi alasan mengapa Allah memberikan yang terbaik kepada kita, dan kita juga harus memberikan yang terbaik kepada-Nya dengan tanpa pamrih.

Persekutuan Kudus

Persekutuan dengan Allah bersifat kudus. Artinya, Allah ingin membangun hubungan persekutuan yang bersih dari segala kenajisan, kejahatan, kenistaan, dan dosa. Persekutuan yang kudus menuntut kehidupan yang kudus dari pribadi yang terlibat di dalam persekutuan itu. Karena Allah itu maha kudus, maka kita juga harus kudus.

KETIDAKBINASAAN

Secara negatif, hakekat dari kehidupan di surga adalah ketidakbinasaan. Kebinasaan merupakan kebalikan dari hidup yang kekal. Jika seseorang tidak memiliki hidup yang kekal, maka ia pasti akan mengalami kebinasaan.

Karena merupakan kebalikan dari kehidupan kekal (Yoh. 3:16c), maka kita bisa katakan bahwa kebinasaan berarti keterpisahan absolut dari hadirat Allah. Hukuman kebinasaan bukan merupakan kelenyapan eksistensi (annihilation) , tetapi merupakan kondisi di mana secara absolut tidak ada hubungan persekutuan dengan Allah, sehingga tidak bisa mengalami dan menikmati kebaikan, kemurahan dan kasih Allah.

“Sebab upah dosa ialah maut” (Roma 6:23a).

“Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran- Nya tidak kurang tajam untuk mendengar; tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialh segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikn diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu” (Yesaya 59:1-2).

Sebagai implikasinya, kehidupan binasa tidak memiliki sifat-sifat indah dari kehidupan di surga, sebaliknya yang ada hanyalah penderitaan (Rom. 6:23; Why. 20:14-15).

Kebinasaan merupakan bentuk klimaks penghukuman yang ditimpakan Allah kepada manusia yang menyukai dosa dan kegelapan (Yoh. 3:19). Sekarang, selagi hidup di bumi ini, sebagai akibat segala dosanya, manusia mengalami kutukan, penderitaan, dan kematian fisik (Kej. 3:17-19), manusia ada di bawah murka Allah (Yoh. 5:36b).

Namun demikin, umat manusia masih bisa mengalami dan menikmati karya kebaikan dan pemberian dari Allah seperti udara, air, tumbuhan, dan sebagainya. Bahkan, oleh karena kesabaran-Nya, kini manusia masih diberi kesempatan untuk bertobat dan disucikan dari dosa, untuk diselamatkan (2Pet. 3:15). Namun jika menolak berpaling kepada Allah, maka kutukan dan penghukuman pasti mencapai klimaksnya di api neraka kekal! Di sana tidak ada lagi kebaikan dan kasih Allah, yang ada hanyalah ratap tangis dan kertak gigi (Mat. 24:51b).

KARYA ALLAH DALAM MENYELAMATKAN MANUSIA

Kondisi manusia yang telah berbuat dosa, terkutuk, dan berada di bawah murka Allah menjadikan kebutuhan akan kepastian keselamatan sangat mendesak. Kita tidak ingin berspekulasi dengan keselamatan hidup kita sendiri. Pemahaman akan karya Allah bagi keselamatan manusia amat penting untuk mengetahui kepastian keselamatan kita. Apakah kini kita berkata “Pasti selamat!” atau “Mudah-mudahan selamat!” ditentukan oleh pemahaman ini.

Yohanes 3:16 memperlihatkan tiga karya Allah dalam menyelamatkan manusia, yakni : Allah menghendaki keselamatan manusia; Allah menyediakan jalan keselamatan; dan Allah mengaruniakan jaminan keselamatan.

ALLAH MENGHENDAKI MANUSIA SELAMAT

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini … (Yoh. 3:16a).

Banyak orang yang tidak mengetahui bahwa Allah secara aktif menghendaki dia selamat, menginginkan dia masuk surga. Ini terlihat dari pengalaman seorang Ibu berusia 68 tahun, sebut saja namanya Ibu Susana. Suatu saat, ketika seseorang bertanya kepadanya, “Maaf, kalau nanti meninggal dunia, kemana Ibu akan pergi? Ke surga atau neraka?” Jawabnya, “Wah, saya tidak tahu! Terserah Allah saja, kalau ditempatkan di surga, saya bersyukur; tapi kalau ditempatkan di neraka, ya apa boleh buat nurut saja!”

Dari jawaban terakhir itu, terlihat bahwa Ibu Susana ini tidak mengerti bahwa Allah menghendaki dia selamat masuk surga. Memang, jawaban kepasrahan atau ketundukan itu memberi kesan bahwa Ibu Susana merupakan seorang yang saleh dan penuh ketaatan pada Allah. Sayangnya dia tidak mengerti bahwa Allah menghendaki agar manusia diselamatkan!

Jika memperhatikan apa yang tertulis pada Kitab Suci, khususnya di Yohanes 3:16a, “Allah sangat mengasihi dunia ini,” maka jelas pesannya bahwa Allah menghendaki manusia selamat masuk surga, Dia tidak menghendaki manusia mengalami kebinasaan dan masuk neraka.

Sebagaimana sudah disebut di atas kasih merupakan sifat yang mendorong dan mengarahkan langkah aksi Allah dalam memberikan yang terbaik dengan tanpa pamrih kepada pribadi yang dikasihi-Nya. Karena itu, jika dikemukakan bahwa Allah mengasihi dunia, itu berarti Dia menghendaki dan merindukan yang terbaik bagi manusia berdosa, yakni hubungan persekutuan dengan Dia; selanjutnya, itu juga berarti Dia memikirkan bagaimana caranya menyelamatkan manusia, dan Dia mengupayakan keselamatan manusia dari kebinasaan.

…tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat (2Pet. 3:9).

Jadi, ketika ditanya apakah akan masuk surga atau neraka, kita tidak boleh berkata “Terserah Tuhan saja!” Kehendak Allah sudah jelas: Ia tidak menghendaki kebinasaan kita; Ia tidak menginginkan kita masuk neraka; Ia menghendaki kita selamat, beroleh hidup yang kekal, masuk surga. Posisi Allah sudah jelas: Ia merindukan, menghendaki, mengupayakan, dan menyediakan kepada Anda jalan keselamatan, jalan masuk ke surga, jalan kepada kehidupan persekutuan dengan Allah!

Kalau begitu, apa jalan yang disediakan Allah untuk beroleh kepastian keselamatan?

ALLAH MENYEDIAKAN JALAN KESELAMATAN

… sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, … (Yoh 3:16b)

Wujud dari kasih Allah kepada dunia adalah bahwa Ia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal. Jika memperhatikan klausa selanjutnya, yakni “supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh. 3:16c), maka bisa disimpulkan bahwa tindakan-Nya mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal merupakan tindakan-Nya dalam menyediakan jalan keselamatan kepada manusia.

Apakah maksud dari frase Anak-Nya yang Tunggal itu? Ada banyak perdebatan mengenai isu ini. Namun kita harus akui bahwa istilah “anak” digunakan dalam banyak konteks, tidak hanya dalam konteks keluarga saja, misalnya, “anak kunci,” “anak manusia,” atau “anak mas.” Nah, ternyata yang dimaksud dengan Anak di sini tidak bisa dilihat sebagai anak hasil prokreasi, sebagaimana anak-anak manusia. Alasannya adalah karena istilah “monogenes,” yang diterjemahkan sebagai “tunggal” di sini, tidak berkaitan dengan kata gennao, “melahirkan,” tetapi dengan kata genos, “silsilah, spesies, keluarga.” Arti dari monogenes, “tunggal,” di sini adalah “unik atau satu-satunya dari kelompok atau keluarga.” Dalam hubungan dengan Allah, ungkapan ini berarti Anak-Nya itu merupakan “satu-satunya dari keluarga Allah, dan tidak ada yang lain yang memiliki hubungan unik itu.” Dari sini terlihat bahwa sesungguhnya Anak Allah merupakan
Allah sejati.

Keunikan hubungan ini juga terlihat di Yohanes 1:1c yang menegaskan bahwa “Firman itu adalah Allah.” Tiadanya kata sandang di depan kata “Allah” menunjukkan bahwa kualitas dari Anak sama dengan kualitas dari Allah yang bersama-sama dengan Dia (Yoh. 1:1b), mulai dari esensi atau substansi-Nya hingga sifat-sifat- Nya.

Selanjutnya, keunikan hubungan ini juga terlihat dari fakta bahwa Anak bersama-sama dengan Bapa sejak mulanya (Yoh. 1:1b). Ini berarti antara Bapa dan Anak terdapat persekutuan (communion) kekal. Persekutuan itu amat dekat dan penuh kasih. Dalam Yohanes 1:18 dinyatakan bahwa Anak Tunggal Allah itu ada di pangkuan Bapa, suatu ungkapan yang memperlihatkan betapa dekat dan akrabnya hubungan antara Bapa dan Anak.

Namun demikian, karena begitu besar kasih-Nya akan dunia ini, maka Ia rela mengaruniakan Anak-Nya yang Tunggal. Karena Ia mau menyelamatkan manusia dari bahaya maut, maka Ia rela mengutus Anak-Nya yang dari mulanya bersama-sama dengan Dia. Karena Ia begitu rindu membangun hubungan persekutuan yang kudus dan penuh kasih dengan manusia berdosa, maka Ia rela mengorbankan hubungan dengan Anak-Nya yang duduk di pangkuan-Nya.

Apakah kata Yunani didomi itu diterjemahkan “mengaruniakan,” “mengutus,” “mengorbankan,” atau yang lainnya, secara historis itu berarti salib kematian yang harus dijalani setelah Dia berinkarnasi, menjadi sama dengan manusia (Yoh. 1:14). Itu adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan manusia dari bahaya maut, cara untuk membangun hubungan persekutuan yang kudus dan penuh kasih dengan manusia. Tidak ada cara lain! Tuhan Yesus berkata,

Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal (Yoh. 3:14-15).

Apa aspek karya salib Kristus yang mau disampaikan lewat peristiwa peninggian ular tembaga di padang gurun (Bil. 21:4-9)? Ini terkait dengan kondisi daging yang dikuasai oleh dosa dan yang menyebabkan manusia berada di bawah kutuk oleh karena melanggar Hukum Taurat (Gal. 3:10), sehingga manusia tidak bisa masuk ke dalam kerajaan sorga (Yoh. 3:3, 5; Gal 5:19-21). Dengan mengemukakan ini Tuhan Yesus menunjukkan bahwa peninggian-Nya untuk menanggung kutuk manusia.

Kristus telah menebus kita dari hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: “Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!” (Gal. 3:13).
Pada peristiwa peninggian ular tembaga dalam perjalanan mereka ke Laut Teberau untuk mengelilingi Tanah Edom (Bil 21:4-9), orang Israel marah kepada TUHAN dan Musa oleh karena tidak ada roti dan air, sedangkan dengan manna mereka telah muak (Bil. 21:5). Sebagai akibatnya, TUHAN mengirim banyak ular tedung ke tengah-tengah mereka, sehingga banyak di antara mereka yang mati (Bil. 21:6). Menyadari dosa dan kejahatannya, mereka memohon Musa berdoa mengusir ular-ular itu, namun sebagai jalan keluarnya TUHAN menyuruh Musa membuat ular untuk di taruh di atas tiang; setiap orang yang memandangnya tetap hidup (Bil. 21:6-9).

Ular-ular tedung yang memagut orang Israel itu melambangkan daging manusia yang dikuasai oleh dosa. Ular tembaga buatan Musa yang menyerupai ular-ular tedung itu melambangkan Anak Allah yang diutus dalam daging, yang serupa, tapi tidak sama dengan daging-daging manusia. Perbedaan Anak Allah dengan manusia umumnya adalah bahwa Dia suci tanpa dosa, sedangkan manusia berdosa dan mengalami kutukan sebagai akibat pelanggaran terhadap Hukum Taurat.

Sebab apa yang tidak mungkin dilakukan hukum Taurat karena tak berdaya oleh daging, telah dilakukan oleh Allah. Dengan jalan mengutus Anak-Nya sendiri dalam daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa karena dosa, Ia telah menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam daging, …(Rom. 8:2,3)

Dalam peristiwa peninggian Kristus Yesus di atas kayu salib, segala kutuk akibat pelanggaran terhadap Hukum Taurat ditimpakan pada tubuh Kristus yang tergantung di atas kayu salib. Dia menebus kita dari kutuk Hukum Taurat. Dengan demikian jalan keselamatan telah tersedia di dalam Kristus Yesus, Anak Allah, yang juga bangkit dari kematian mengalahkan maut guna memberi kehidupan kepada kita.

Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yoh. 14:6).

ALLAH MENGARUNIAKAN KESELAMATAN PASTI

… supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. (Yoh. 3:16c).

Selain menghendaki dan menyediakan jalan keselamatan bagi manusia di dalam Kristus, Allah juga mengaruniakan keselamatan yang pasti kepada manusia. Pilihan kata “supaya” untuk menterjemahkan kata Yunani hina sebenarnya kurang tepat, karena menekankan “tujuan” yang masih menyisakan pertanyaan apa peran manusia supaya bisa selamat. Terjemahan yang tepat untuk hina adalah “sehingga,” karena ini menekankan hasil dari kasih Allah dan karya Kristus di salib bagi keselamatan manusia.

Penekanan sebagai “hasil” menunjukkan bahwa keselamatan manusia sepenuhnya merupakan hasil karya Allah dan sudah tersedia dan siap diberikan kepada manusia. Segala usaha manusia seperti perbuatan baik, amal, kegiatan agama, dan lain sebagainya, tidak dapat menyelematkan.

Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada yang memegahkan diri. (Ef. 2:8,9).

TANGGUNG JAWAB MANUSIA

Karena sudah tersedia dan siap diberikan, maka apa yang harus dilakukan manusia agar bisa beroleh kehidupan yang kekal dan terlepas dari kebinasaan hanyalah percaya kepada-Nya, kepada Tuhan Yesus Kristus. “…sehingga setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yoh. 3:16c).

Terjemahan yang tepat untuk frase pisteuo eis sebenarnya bukanlah “percaya,” tetapi “mempercayakan.” Kata “percaya” bisa hanya bermakna pada “persetujuan di kepala” saja, sedangkan “mempercayakan” memiliki makna “penyerahan segenap hidup” kepada-Nya. Seseorang bisa percaya kepada-Nya, tetapi tidak mau mempercayakan diri kepada-Nya, sehingga tidak diselamatkan; seseorang yang mempercayakan diri kepada-Nya, pasti percaya kepada-Nya, dan menyerahkan seluruh hidupnya kepada-Nya.

Sikap para penabung terhadap suatu bank merupakan ilustrasi yang baik. Orang bisa percaya pada iklan dari suatu bank, tetapi belum tentu mau menyimpan uangnya di situ. Jika seseorang mau menyerahkan uangnya untuk disimpan pada suatu bank, itu berarti dia mempercayakan uangnya kepada bank tersebut.

Demikian halnya dengan sikap kita kepada Kristus. Kita memang harus percaya kepada-Nya, namun ini belum cukup. Kita harus mempercayakan seluruh hidup kita kepada-Nya, kepada karya kasih-Nya untuk kita. Dengan demikian kita memenuhi firman-Nya.

Dalam beriman ada tiga aspek pribadi kita, yakni pikiran, perasaan, dan keinginan, terlibat. Dalam mempercayakan diri kepada Kristus Yesus, pikiran kita mengetahui dan menyetujui pada kebenaran akan pribadi dan karya-Nya, yakni bahwa Dia merupakan Allah-Manusia sejati, dan bahwa Ia telah mati di kayu salib untuk menebus kita dari kutuk, serta bangkit dari kematian untuk memberi kehidupan kepada kita.

Perasaan kita menyadari akan keberdosaan diri sendiri dan akan kebutuhan yang kuat pada pribadi dan pertolongan- Nya. Keberdosaan bukan hanya diakui keberadaanya, tetapi juga dirasakan kejijikannya. Sebagai hasilnya, ada kerinduan yang amat kuat akan pertolongan dari-Nya.

Kehendak kita menyerahkan segenap hidup kepada-Nya, sedemikian rupa sehingga kita berkata “… aku hidup, tetapi bukan aku lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku …” (Gal. 2:20a). Penyerahan hidup kita kepada-Nya diwujudkan dengan ketaatan kepada firman-Nya, kepada diri-Nya sendiri.

Bagaimana dengan perbuatan baik? Alkitab menegaskan bahwa perbuatan baik merupakan TUJUAN Allah menyelamatkan kita, karena kita ini dijadikan baru untuk melakukan perbuatan baik dan Allah ingin kita hidup di dalamnya (band. Ef. 2:10). Namun perbuatan baik BUKAN merupakan CARA kita untuk mendapatkan keselamatan. Cara kita adalah hanya dengan beriman kepada-Nya.

Hasil dari mempercayakan diri kepada-Nya maka pada masa yang akan datang, kita tidak akan binasa. Kita pasti luput dari murka Allah. Kita pasti tidak akan dienyahkan dari hadirat Allah. Kita pasti tidak akan terpisah secara absolut selamanya dari hadirat Allah. Kita tidak akan dilemparkan ke tempat penderitaan api neraka di mana hanya ada ratap tangis dan kertak gigi.
Sebaliknya, pada masa kini kita dilahirkan kembali: dilahirkan dari air dan Roh (Yoh. 3:3, 5). Kita memiliki kehidupan baru, kehidupan yang kekal, kehidupan persekutuan dengan Dia. Secara pribadi Allah kini bersama-sama dengan kita. Dia kini menjadi Bapa kita, dan kita kini menjadi anak-anak-Nya. Kita pasti mengalami dan menikmati segala kebaikan, kasih, kemurahan, dan berkat Allah di dalam Kristus yang makin lama makin berlimpah dari sekarang sampai selama-lamanya! Amin.

KESIMPULAN

Kita membutuhkan keselamatan. Untuk mendapatkan keselamatan yang pasti, kita harus mengetahui karya Allah dalam menyelamatkan kita. Yohanes 3:16 mengemukakan bahwa Allah menghendaki agar kita selamat; Dia telah menyediakan jalan keselamatan di dalam Anak-Nya, Yesus Kristus; dan jika kita mempercayakan segenap hidup kita hanya kepada-Nya, maka Dia pasti mengaruniakan kehidupan yang kekal kepada kita, Dia menjadi Bapa kita dan kita menjadi anak-Nya. Dia pasti bersama-sama dengan kita dari sekarang sampai selama-lamanya.

Berikut ini adalah doa untuk beroleh keselamatan:

“Tuhan Yesus, saya telah banyak berbuat dosa! Saya menderita karenanya. Saya amat menyesal, tapi saya tidak bisa mengatasi kuasa dosa dalam diri saya. Selamatkanlah saya! Hanya Engkau yang bisa menyelamatkan aku. Selamatkanlah aku, karena ketidakbinasaan dan kehidupan kekal hanya ada pada Engkau. Saya telah mendengar dan saya percaya Kabar Kesukaan-Mu bahwa Engkau adalah Allah Maha Kuasa yang sangat mengasihi dunia, yang telah telah menjadi manusia untuk mati di kayu salib guna menebus saya dari kutuk dosa, dan yang kini telah bangkit mengalahkan maut, dan hidup selamanya. Ampunilah dan terimalah saya! Sesuai dengan firman-Mu, maka saya mempercayakan hidup saya kepada Dikau, dan menyerahkan segenap hidup saya kepada karya kasih-Mu,sebagai tanggung jawab saya untuk mendapatkan kehidupan kekal yang Engkau janjikan bagi orang yang percaya kepada-Mu. Terima kasih. Amin!”