Kita akan Menelaah 6 Racun nan islami yang ditanamkan kepada MUALLAF :

1. Penetapan kekufuran Yahudi dan Nashrani serta Bantahan terhadap Orang-Orang yang Berpandangan, “Tidak Boleh Mengkafirkan Mereka”

2 .Orang kafir bukan saudara bagi orang islam

3 Sedekah kepada Non Muslim

4. Memperingati Hari-Hari Libur Yahudi dan Nashrani Tidak Boleh

5.Hukum Salam kepada Orang-Orang Kafir

6.Hukum Bercampur baur dengan Orang Kafir.

Fatwa Fatwa untuk Mualaf (Edisi Indonesia) Penulis : Abu Anas Ali bin husain Abu Lux Muhammad Nashir Ath-thawil Pernerjemah : M.Nur Yasin Wafi Marzuki,Lc Korektor Terjemah : Ainul Haris , Lc M.Ag Website : http://www.pustakaelba.com cet 1, juli 2006 Dibaca dan dikoreksi kembali oleh Center Of Arabic Translation Anda Islamic Science Image

Hlm :101 Penetapan kekufuran Yahudi dan Nashrani serta Bantahan terhadap Orang-Orang yang Berpandangan, “Tidak Boleh Mengkafirkan Mereka” Pertanyaan: Di salah satu masjid di Eropa, ada salah seorang pemberi nasihat yang memandang bahwa tidak boleh mengkafirkan Yahudi dan Nashrani. Sebagaimana Syaikh ketahui -hafizhakumullah- sebagian besar orang yang mendatangi masjid-masjid di Eropa masih sangat sedikit ilmunya. Maka dikhawatirkan hal semacam ini akan menyebar. Karenanya kami mengharap penjelasan untuk meluruskan masalah ini. Jawaban: Saya katakan, “Perkataan yang keluar dari orang semacam ini adalah sesat, dan bahkan bisa menjadi sebab kekafiran. Karena Yahudi dan Nashrani telah dikafirkan oleh Allah, sebagaimana dalam firman-Nya, “Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putera Allah” dan orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putera Allah”. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dila`nati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling? Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS.At-Taubah: 30-31}

Ini menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang musyrik. Allah menjelaskan dalam ayat-ayat lain secara lebih jelas tentang kekufuran mereka, “Sungguh telah kafir orang-orang yang mengatakan, ‘Sesungguhnya Allah adalah salah satu dari yang tiga.” (QS. Al-Maidah 17) “Sungguh telah kafir orang-orang yang mengatakan, “Allah adalah Al-Masih putra Maryam. ” (QS. Al-Maidah: 73) “Dilaknat orang-orang kafir dari ibani Israil dengan lisan Daud dan ha putra Maryam.” (QS. Al-Maidah: 78}

“Sesungguhnya orang-orang kafir dari ahli kitab dan orang-orang musyrik berada di Neraka Jahannam. Mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (QS. Al-Bayyinah: 6) Ayat-ayat dan hadis-hadis dalam masalah ini banyak sekali. Maka barangsiapa yang mengingkari kekufuran Yahudi dan Nashrani, yang tidak mengimani Muhammad & dan mendustakannya, maka la telah mendustakan Allah . Mendustakan Allah adalah kafir. Barangsiapa yang ragu-ragu akan kekufuran mereka, maka tidak diragukan lagi ia telah kafir. Subhanallah!!

•Bagaimana seseorang rela mengatakan, “Tidak boleh mengkafirkan orang-orang Yahudi dan Nashrani.” Padahal mereka itu mengatakan, “Sesungguhnya Allah adalah salah satu dari yang tiga”? Dan yang menciptakan mereka juga telah mengkafirkan mereka?

•Bagaimana seseorang tidak rela untuk mengkafirkan orang-orang yang mengatakan,”Al-Masih adalah putra Allah,” “Tangan Allah terbelenggu,” “Sesungguhnya Allah fakir, sementara kami adalah kaya”?

• Bagaimana seseorang tidak rela untuk mengkafirkan orang-orang yang telah distempel “kafir”? Dan mereka mensifati tuhan mereka dengan sifat-sifat jelek yang semuanya adalah aib, mengolok-olokdan mencaci-maki? Saya mengajak orang tersebut untuk bertaubat kepada Allah dan agar dia membaca firman Allah “Maka mereka mengharap supaya kamu bersikap lunak, lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu).” (QS. Al-Qalam: 9) Janganlah dia mencari muka kepada orang-orang Yahudi dan Nashrani di dalam kekufuran mereka dan hendaknya diterangkan kepada setiap orang bahwa mereka adalah Kuffar dan calon-calon penghuni Neraka. Nabi bersabda, “Demi jiwa Muhammad yang berada di Tangan-Nya, tidaklah mendengarkan (dakwah)ku orang Yahudi atau Nashrani dari umat ini, (maksudnya umat dakwah) kemudian ia tidak mengikuti apa yang aku, kecuali dia adalah termasuk penghuni Neraka.” (HR, Muslim) Kepada orang yang mengatakan hal ini, ber-taubatlah kepada Allah dari perkataan yang membuat gaduh ini. Lalu anda hendaknya mengumumkan, bahwa mereka adalah kafir dan penghuni Neraka. Yang wajib bagi mereka adalah mengikuti Nabi Muhammad Sesungguhnya Nabi Muhammad dikenal di kalangan Yahudi dan Nashrani. Mereka mengenalnya sebagaimana mengenal anak-anak mereka sendiri. Allah berfirman, “(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma`ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung. .” (QS. Al-A’raf: 157)

Saya katakan, “Setiap orang yang berpandangan bahwa di muka bumi ini ada agama yang diterima oleh Allah selain Islam, maka dia kafir yang tidak diragukan lagi kekufurannya. Allah berrfirman, “Barangsiapa mencari agama selain Islam, maka tidak akan diterima darinya dan di Akhirat termasuk orang-orangyang rugi.” (QS. Ali-Imran: 85) “Sesungguhnya agama yang diterima di sisi Allah adalah Islam.” (QS. Ali-Imran: 19) “pada harl Ini telah Aku sempurnakan baglmu agamamu dan telah Kusempurnakan baglmu nlkmat-Ku, dan Aku telah ridha Islam sebagal agamamu.” (QS.Al-Maidah:3) Dengan demikian, saya ulangi untuk ketiga kalinya, agar orang yang mengatakan hal ini segera bertaubat kepada Allah , dan agar menjelaskan kepada manusia bahwa Yahudi dan Nashrani adalah kafir, karena hujjah telah ditegakkan atas mereka, juga risalah pun telah sampai kepada mereka, tetapi mereka tetap ingkar dan membangkang. Yahudi telah disifati bahwa mereka adalah “golongan yang dlmurkai”, karena mereka menge-tahui yang hak, tetapi menyelisihinya. Nashrani telah disifati bahwa mereka “golongan yang sesat”, karena mereka menghendaki kebenaran, tetapi tersesat darinya. Adapun sekarang, rnereka semua mengetahui hak, tetapi menyelisihinya. Oleh karena itu, mereka semua kini masuk dalam “golongan yang dimurkai”.

Saya mengajak orang-orang Yahudi dan Nashrani untuk beriman kepada Allah dan semua Rasul-Nya, serta mengikuti Nabi Muhammad . Karena kepada inilah mereka diperintahkan, sebagaimana yang terdapat dalam kitab-kitab mereka. Allah berfirman, “Dan tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia ini dan di akhirat; sesungguhnya kami kembali (bertaubat) kepada Engkau. Allah berfirman: “Siksa-Ku akan Kutimpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami”. (Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma`ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung. Katakanlah: “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk”. ” (QS. Al-A’raf: 156-158) Suruhlah mereka mengambil pahala dari dua bagian, sebagaimana sabda Rasulullah, “Ada tiga golongan yang mendapatkan dua pahala, (di antaranya) seseorang dari ahli kitab yang beriman kepada Nabinya dan beriman kepada Muhammad &” (HR. Bukhari) Kemudian setelah apa yang saya sampaikan di atas, saya meneliti perkataan penuiis kitab Al-Iqnaa; , dalam bab hukum keluar dari Islam beliau berkata, “…atau tidak mengkafirkan orang yang beragama selain Islam seperti Nashrani, atau ragu-ragu dengan kekafiran mereka atau membenarkan cara beragama mereka, maka dia telah kafir. “

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Barang siapa yang berkeyakinan bahwa gereja-gereja adalah rumah-rumah Allah yang dipakai untuk beribadah kepada-Nya, bahwa apa yang dilakukan oleh Yahudi dan Nashrani adalah ibadah kepada Allah dan bentuk ketaatan kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya, atau mencintai dan rela terhadap hal yang demikian, menolong mereka untuk melakukannya dan untuk menegakkan agama mereka, kemudian berpan-dangan bahwa itu semua adalah bentuk pendekatan (ibadah kepada Allah) dan ketaatan, maka dia adalah orang kafir.” Di tempat lain Syaikhul Islam berkata, “Barang-siapa berkeyakinan bahwa kepergian ahli dzimmah ke gereja mereka adalah bentuk ibadah kepada Allah, maka ia telah murtad (keluar dari Islam).” Perkataan Syaikhul Islam di atas memperkuat apa yang kita sebutkan di permulaan jawaban, Inilah perkara yang tidak ada kerancuan di dalamnya. Allah lah tempat meminta pertolongan. Syaikh Ibnu Utsaimin , Fatawa Islamiyyah, 1/87 ===

Hlm : 118 Orang kafir bukan saudara bagi orang islam

Pertanyaan: Saya tinggal di suatu daerah yang mayoritas penduduknya adalah saudara-saudara Nashrani. Kami makan dan minum bersama dengan sebagian mereka, maka apakah shalat saya batal? Apakah keberadaan saya bersama mereka dilarang? Jawaban: Sebelum menjawab pertanyaan anda, saya ingin menyebutkan satu peringatan dan saya ber-harap apa yang keluar dari lisan anda tidaklah disengaja, yaitu ketika anda berkata, “Saya tinggal bersama saudara-saudara Nashrani.” Karena tidak ada persaudaraan antara kaum muslimin dan kaum Nashrani selamanya. Persaudaraan adalah karena iman. Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara.” (QS. Al-Hujurat: 10) Jika kekerabatan nasab menjadi hilang karena perbedaan agama, bagaimana mungkin anda menetapkan persaudaraan dengan orang-orang yang berlainan agama dan tidak ada hubungan famili? Allah berfirman tentang Nuh dan anaknya, ketika Nuh berkata, “Dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku, termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya.” 046. Allah berfirman: “Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatannya) perbuatan yang tidak baik ” (QS. Hud: 45-46) Tidak ada persaudaraan antara mukmin dan kafir, selamanya. Wajib bagi mukmin untuk tidak menjadikan orang kafir sebagai teman setia. Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, .” (QS. Al-Mumtahanah: 1) Siapakah musuh-musuh Allah? Musuh-musuh Allah adalah orang-orang kafir. Allah berfirman, ” Barangsiapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir. ” (QS. Al-Baqarah: 98} “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS.Al-Maidah:51) Tidak halal bagi seorang muslim untuk mensifati orang kafir -apapun jenis kekufurannya; Nashrani, Yahudi, Majusi ataupun ateis- dengan sifat “saudara”, selamanya. Hati-hatilah dengan ungkapan seperti ini.wahai saudaraku!!! Adapun jawaban tentang pertanyaan anda, maka saya katakan bahwa seyogyanya anda menjauh dari bercampur baur dengan non muslim, Karena bercampur baur dengan mereka akan meng-hilangkan semangat keagamaan dari dalam diri anda dan mungkin bisa menyebabkan anda mencintai mereka. Pertanyaan : Salah seoarang nasrani tingal bersamaku dan berkata “Wahai saudaraku,kita adalah bersaudara” Dia makan dan minum bersama kami.maka apakah sikap ini dibolehkan atau tidak? Jawaban: Orang kafir bukanlah saudara bagi orang Islam. Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara.” (QS. Al-Hujurat: 10) Nabi bersabda, “Orang Islam adalah saudara bagi orang Islam lainnya.” (HR. Bukhari Muslim)

Orang kafir -Yahudi, Nashrani, Majusi, Komunis dan yang lainnya- bukanlah saudara bagi orang Islam. Karena itu tidak boleh menjadikannya sebagai teman atau sahabat. Tetapi jika makan bersamanya kadang-kadang, dengan tidak menjadikannya teman atau sahabat, seperti di resepsi umum, maka hal itu tidaklah mengapa. Namun jika sampai menjadikannya sahabat, teman duduk atau teman makan, maka hal ini tidak boleh. Karena Allah telah memutus perwalian dan persahabatan antara kaum muslimin dan kaum kafirin. Allah berfirman, “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja .” (QS.Al-Mumtahanah:4) “Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. ” (QS. Al-Mujadaiah: 22) Syaikh Muhammad bin Utsaimin , Fatawa islamiyyah, 1/123 ************************************************************

Hlm : 136 Sedekah kepada Non Muslim

Pertanyaan: Apakah boleh bersedekah kepada non muslim?

Jawaban: Tidak boleh memberikan zakat kepada orang kafir. Dan makruh hukumnya memberikan sedekah sunnah kepada non muslim. Karena hal itu akan membantu di dalam kekufuran mereka. Allah berfirman, “Dan janganlah kamu saling tolong-menolong di dalam dosa dan permusuhan.'” (QS. Al-Maidah: 2) Tetapi jika diharapkan ia masuk Islam, maka hal itu dibolehkan, agar lebih memotivasinya masuk Islam. Dan jika dikhawatirkan mati kelaparan bila tidak dibantu, maka boleh menyelamatkannya dari kernatian, sehingga dia mengetahui kebaikan- kebaikan Islam. Syaikh Abdullah bin Jibrin – hfizhahullah, Fatawa – Islamiyah, 1/125 **

Hlm : 137 Memperingati Hari-Hari Libur Yahudi dan Nashrani Tidak Boleh Pertanyaan: Sebagian kaum muslimin memperingati hari-hari libur Yahudi dan Nashrani. Sehingga ketika tiba hari raya Yahudi dan Nashrani mereka meliburkan sekolah-sekolah Islam karena bertepatan dengan hari raya mereka. Tetapi jika datang hari raya Islam mereka tidak meliburkan sekolah-sekolah Islam dan mengatakan, “Sesungguhnya memperingati hari-hari libur Yahudi dan Nasrani adalah sebagai upaya agar mereka masuk agama Islam”. Kami mengharap-kan penjelasan hukum terse but. Jawaban: 1) Yang sunnah adalah menampakkan syiar agama Islam di antara kaum muslimin dan mening-galkan apa yang bertentangan dengan petunjuk Rasulullah . Beliau bersabda, “Wajib atas kalian untuk mengikuti sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yangteiah mendapat petunjuk. ” (HR. Abu Daud, Tirmidzi dan Ibnu Majah) 2) Orang Islam tidak boleh bergabung dengan orang-orang kafir di dalam hari-hari raya rnereka, tidak boleh menampakkan kegembiraan dan kebahagiaan dalam kesempatan tersebut, atau melibur-kan pekerjaan, baik urusan agama atau dunia. Karena hal itu merupakan salah satu bentuk tasyabbuh (penyerupaan) dengan musuh-musuh Allah yang diharamkan.. Rasulullah bersabda, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.” (HR. Ahamd dan Abu Daud) Kami nasihatkan anda untuk merujuk kitab “Iqtidha’us Shirathal Mustaqim” karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Kitab tersebut sangat ber-manfaat dalam penjelasantentangbabini. Lajnah Da’imah, Fatawa Islamiyah, 1/120

Hlm :130 Hukum Salam kepada Orang-Orang Kafir Pertanyaan: Dengan apa kita menjawab orang-orang kafir yang mengucapkan salam kepada kita? Jawaban: Rasulullah & bersabda, “Janganhh kalian memulai mengucapkan salam kepada Yahudi dan Nashrani. Apabila kalian bertemu dengan mereka di jalan, maka desaklah mereka sampai ke tempat yang sempit” (HR. Muslim) Diriwayatkan oleh Imam Muslim di dalam Shahih-nya, Rasulullah bersabda, “Jika ahlul kitab mengucapkan salam kepada kalian, maka ucapkanlah, ‘Wa’alaikum'” (Muttafaq Alaih) Ahlul kitab adalah Yahudi dan Nashrani. Hukum golongan-golongan kafir lainnya dalam perkara ini adalah sebagaimana orang-orang Yahudi dan Nashrani. Karena tidak adanya dalil tentang golongan-golongan lain, sepanjang yang kami ketahui. Kita tidak boleh memulai mengucapkan salam kepada orang kafir secara mutlak. Ketika dia mulai mengucapkan salam, maka kita wajib menjawabnya dengan ucapan ‘Wa’alaikum’, sebagaimana perintah Rasulullah. ***

Hlm :123 Hukum Bercampur baur dengan Orang Kafir.

Pertanyaan: Apa hukum bercampur baur dan bergaul dengan orang-orang kafir dengan ramah dan lemah lembut, karena kita berharap agar dia masuk Islam? Jawaban: Tidak diragukan lagi, bahwa seorang muslim wajib membenci musuh-musuh Allah dan berlepas diri dari mereka. Inilah jalan yang ditempuh para Rasul dan pengikut mereka. Allah berfirman, “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. ” ” (QS. Al-Mumtahanah: 4} “Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.” (QS. Al-Mujadaiah: 22) Karena itu, tidaklah halal bagi seorang muslim jika di hatinya terdapat rasa cinta dan kasih sayang kepada musuh-musuh Allah. Mereka adalah musuh Allah di dalam realita. Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu…” (QS. Al-Mumtahanah: 1) Adapun jika seorang muslim bergaul dengan mereka secara ramah dan lemah lembut, karena berharap agar mereka masuk Islam dan beriman, maka tidaklah mengapa. Karena hal itu termasuk mendekatkannya kepada Islam. Akan tetapi, apabila tidak bisa diharapkan masuk Islam maka berikanlah hak-hak pergaulan yang menjadi hak mereka. Masalah ini dibahas secara rinci di dalam kitab-kitab para ulama, terutama di dalam kitab Ahkamu Ahlidz Dzimmah karya Ibnul Qayyim .

Syaikh Ibnu Utsaimin , Fatawa Lil Musafirin Wal Mughtaribin ***