Imam Arab Saudi paling senior menjelaskan bahwa perang bukanlah pilihan utama Muhammad: “Dia memberi tiga pilihan: menerima Islam, atau menyerah dan bayar pajak jizya dan mereka boleh tetap tinggal di tanah mereka dan melakukan ibadah mereka di bawah perlindungan Muslim.” Pak Mufti Agung memang benar. Kekerasan terhadap non-Muslim memang merupakan pilihan terakhir, jika non-Muslim tidak mau memeluk Islam atau menyerah kepada tentara Islam. Ini bukan aturan asli ciptaan Muhammad. Perampok2 bersenjata lain juga tidak melakukan kekerasan jika korban mereka menyerah dan tak melawan. Memang para kriminal biasanya menggunakan kekerasan hanya jika korbannya melawan.

Aku melakukan perdebatan di internet melawan Pak Javed Ahmed Ghamidi, yang dipandang sebagai ahli Islam Pakistan paling terkemuka. Melalui muridnya yang bernama Dr. Khalid Zaheer, Pak Ghamidi menulis: “Pembunuhan yang dinyatakan di Qur’an ditujukan bagi mereka yang bersalah melakukan pembunuhan, atau melakukan kekacauan di bumi, atau mereka yang tidak layak hidup di dunia karena menolak pesan Tuhan yang sudah jelas disampaikan dan dimengerti.” Pak Ghamidi adalah Muslim moderat. Akan tetapi, dia tahu sekali agamanya dan yakin mereka yang menolak Islam “tidak layak hidup di dunia lagi” dan harus dibunuh.

Penyerangan

Orang Muslim biasanya bangga untuk membicarakan “peperangan” Muhammad. Kebanggaan ini tiada dasarnya. Muhammad menghindari perang sebenarnya. Dia lebih memilih penyergapan atau penyerangan mendadak sehingga dia bisa mengalahkan korban2nya yang kaget dan membantainya sewaktu mereka tidak siap dan tidak bersenjata.
Di sepanjang sepuluh tahun hidupnya, setelah hijrah ke Medina dan merasa kuat di tengah2 pengikutnya, Muhammad melalukan 74 penyerangan. Beberapa dari penyerangan ini adalah pembunuhan2 atas perorangan saja, dan penyerangan lainnya melibatkan ribuan orang. Dia ikut dalam 27 usaha penyerangan dan ini disebut ghazwa. Penyerangan2 yang diperintahkannya tapi dia sendiri tidak ikut menyerang disebut sebagai sariyyah. Baik ghazwa maupun sariyyah berarti serangan mendadak atau penyergapan.
Jikalau Muhammad ikut menyerang, dia selalu berada di bagian belakang tentaranya, dilindungi tentara khususnya. Tiada keterangan manapun dalam biografi Muhammad yang menuliskan dia sendiri bertarung melawan musuh.
Di salah satu perang yang dikenal sebagai Perang Fijar yang terjadi di Mekah, Muhammad ikut perang diantara paman2nya. Saat itu Muhammad berusia dua puluh tahun, dan usahanya adalah mengumpulkan panah2 musuh sewaktu gencatan senjata dan menyerahkannya kepada paman2nya. Muir menulis: “Sikap berani dan mahir bersenjata adalah hal yang tidak dimiliki Muhammad dalam sepanjang karirnya sebagai nabi.”
Muhammad dan pengikutnya menyerang kota2 dan desa2 tanpa peringatan, melawan orang2 sipil tak bersenjata, dengan pengecut membacoki mereka sebanyak mungkin yang bisa dilakukan, mengambil jarahan perang berupa hewan2 ternak, senjata2 dan semua harta benda korban, termasuk istri2 dan anak2 mereka. Pihak penyerang Muslim kadangkala menyandera para istri dan anak ini dengan tuntutan tebusan uang atau menyimpan/menjual mereka sebagai budak. Berikut adalah contoh kejadian penyerangan yang tercatat dalam sejarah Islam:

Sang Nabi tiba2 menyerang Bani Mustaliq tanpa peringatan ketika mereka sedang tidak siap dan ternak mereka sedang minum di tempat2 pengambilan air. Orang2 yang melawan dibunuh dan para wanita dan anak2 mereka ditawan; sang Nabi mendapatkan Juwairiya di hari itu. Nafi berkata bahwa Ibn Omar memberitahukan kisah itu padanya dan Ibn ‘Omar adalah salah satu dari tentara tersebut.

Di perang ini, kata penyampai berita Muslim, “600 orang ditawan oleh tentara Muslim. Diantara barang jarahan terdapat 2.000 unta dan 5.000 kambing.”
Dunia kaget ketika teroris2 Muslim membunuh anak2, lalu apologis Muslim dengan cepat mengumumkan pembunuhan anak2 dilarang Islam. Tapi sebenarnya Muhammad memperbolehkan pembunuhan anak2 di malam2 penyerangan.

Dilaporkan berdasarkan wewenang dari Sa’b B. Jaththama bahwa sang Rasul Allâh s.a.w., ketika ditanya tentang para wanita dan anak2 pagan yang dibunuh di malam penyerangan, berkata: Mereka adalah salah satu dari mereka.

Tujuan penyerangan Muhammad adalah untuk menjarah. Beberapa sumber yang diakui oleh semua Muslim membenarkan agar bisa menang, sang Nabi menyerang secara tiba2:

Ibn ‘Aun melaporkan: Aku menulis pada Nafi’ untuk bertanya padanya apakah perlu menawarkan kafir untuk masuk Islam sebelum diperangi. Dia menulis jawaban padaku hal ini penting di masa awal Islam. Rasul Allâh s.a.w. menyerang Banu Mustaliq ketika mereka sedang tidak siap dan memberi minum ternaknya di tempat pengambilan air. Dia membunuh mereka yang melawan dan menawan lainnya. Di hari yang sama dia menangkap Juwairiya bint al-Harith. Nafi’ berkata kisah ini disampaikan padanya oleh Abdullah b. Omar yang termasuk diantara tentara yang menyerang..

Untuk mengesahkan serangan2 biadab terhadap orang2 sipil, sejarawan Muslim seringkali menuduh pihak korban berencana melawan Islam. Akan tetapi, tiada alasan untuk mempercayai adanya suku Arab yang mencoba menyerang Muslim yang pada saat itu adalah gerombolan bandit yang kuat. Sebaliknya, banyak suku yang berdamai dengan Muslim dengan menandatangani perjanjian damai dengan Muhammad agar tidak diserang. Perjanjian2 damai ini nantinya dilanggar sendiri oleh Muhammad ketika dia sudah merasa kuat secara militer.
Jarahan tidak hanya memperkaya gerombolan rampoknya. Tapi jarahan juga termasuk budak2 seks. Juwairiya adalah seorang wanita muda yang suaminya dibunuh, dan dia jatuh ke tangan seorang Muslim. Aisha, istri Muhammad yang paling disayangi dan yang termuda (yang menurut sumber Muslim berusia enam tahun ketika dikawini Muhammad yang saat itu berusia lima puluh satu tahun dan disetubuhi ketika berusia sembilan tahun) menemani Muhammad dalam penyerangan ini dan kemudian menyampaikan:

Ketika sang Nabi – semoga damai menyertainya – membagi-bagi tawanan Banu Al-Mustaliq, dia (Juwairiya) jatuh ke tangan Thabit ibn Qyas. Juwairiya menikah dengan sepupunya, yang dibunuh dalam perang. Dia bersedia memberi Thabit uang sembilan keping emas untuk kemerdekaannya. Dia adalah wanita yang sangat cantik. Dia mempesona setiap pria yang melihatnya. Dia datang meminta tolong kepada Nabi. Begitu aku melihatnya di pintu kamarku, aku tidak suka padanya, karena dia (Nabi) akan melihatnya sama seperti aku melihatnya. Dia (Juwairiya) masuk dan berkata padanya tentang siapa dirinya, yakni anak dari al-Harith ibn Dhirar, yang adalah kepala suku bangsanya. Dia berkata: “kau tahu masalahku. Aku jatuh ke tangan Thabit, dan berjanji membayar tebusan, dan aku meminta tolong padamu.” Dia berkata: “maukah kau yang lebih baik dari itu? Aku bebaskan utangmu, dan menikahimu.” Dia berkata: “Ya” “Kalau begitu jadilah!” jawab Rasul Allâh.

Penjelasan ini menjawab semua sangkalan alasan Muhammad sebenarnya atas tindakannya mengawini banyak wanita. Dia dan orang2nya membunuh suami Juwairiya dalam penyerangan tiba2 tanpa sebab. Juwairiya adalah anak suku Bani Mustaliq dan seorang putri bangsawan. Dari bangsawan lalu dijadikan budak dan dimiliki oleh salah seorang bandit pengikut Muhammad. Akan tetapi, karena dia cantik, maka sang Nabi suci menawarkan “kemerdekaan” baginya dengan syarat kawin dengan sang Nabi. Apakah ini kemerdekaan? Punya pilihan apakah Juwairiya? Bahkan jika Muhammad benar2 memerdekakannya, hendak pergi ke mana dia?

Apologis Muslim bersikeras bahwa kebanyakan istri2 Muhammad adalah kaum janda. Orang awam bisa menyangka Muhammad mengawini mereka karena ingin menolong. Yang tidak disampaikan Muslim adalah para wanita yang “janda” ini ternyata muda dan cantik, dan para suami mereka dibunuh Muhammad. Juwairiya berusia 20 tahun dan Muhammad 58 tahun.
Sejarawan2 Islam mengaku bahwa Muhammad tidak mau menikahi wanita kecuali jika mereka itu muda, cantik, dan tidak punya anak. Perkecualian adalah Sauda yang berusia sekitar tiga puluh tahunan ketika Muhammad menikahinya agar dia bisa mengurus anak2 Muhammad. Berdasarkan sebuah hadis, Muhammad berhenti tidur dengannya ketika dia memiliki istri2 yang lebih cantik dan muda, semua istri2nya berusia remaja atau awal dua puluh tahunan dan dia sendiri berusia sekitar lima puluh dan enam puluh tahunan. Sejarawan Tabari mengisahkan bahwa Muhammad meminta Hind bint Abu Talib, sepupunya sendiri, untuk menikah dengannya tapi ketika Hind mengatakan dia punya anak, Muhammad tidak mau lagi. Muhammad juga meminta wanita lain bernama Zia’h bint Aamir untuk menikah dengannya, tapi ketika Zia’h menyebut umurnya, Muhammad berubah pikiran.
Seorang Muslim bernama Jarir ibn Abdullah mengisahkan suatu kali Muhammad bertanya padanya, “apakah kau telah menikah?” Dia mengiyakan. Muhammad lalu bertanya, “Perawan atau janda?” Dia menjawab, “Aku menikahi seorang janda.” Lalu Muhammad berkata, “Mengapa tidak menikah dengan perawan saja agar kau bisa bermain dengannya dan dia denganmu?”
Bagi Muhammad, wanita tidak lebih daripada obyek seks belaka. Wanita tidak lebih daripada barang kepunyaan. Fungsi wanita adalah untuk menyenangkan suami2 mereka dan melahirkan anak2nya.

Perkosaan
Muhammad mengijinkan tentaranya untuk memperkosa para wanita yang ditawan dalam penyerangan2 yang dilakukan Muslim. Akan tetapi, setelah menangkap para wanita itu, para Muslim menghadapi dilema. Mereka ingin berhubungan seks dengan mereka tapi lalu ingin mendapat uang tebusan sandera dan tidak ingin membuat wanita2 itu hamil. Beberapa dari wanita2 ini sudah menikah. Suami2 mereka ada yang berhasil menyelamatkan diri ketika tiba2 diserang dan mereka masih hidup. Tentara Muslim berpikir untuk melakukan azl atau coitus interruptus (mengeluarkan sperma di luar tubuh wanita). Karena tidak yakin apa yang harus dilakukan, mereka datang kepada Muhammad untuk minta nasehat. Ini yang dilaporkan Bukhari:
Abu Saeed berkata: “Kami pergi bersama Rasul Allâh ke Ghazwa tempat Banu Al-Mustaliq dan kami menerima tawanan2 diantar tawanan2 Arab dan kami berhasrat pada wanita2 dan sukar untuk tidak berhubungan seks dan kami senang melakukan azl. Maka ketika kami hendak melakukan azl, kami berkata, ‘Bagaimana kami bisa melakukan azl sebelum bertanya pada Rasul Allâh yang ada diantara kita?’ Kami lalu bertanya padanya dan dia berkata, ‘Lebih baik jangan lakukan itu, karena jikalau sebuah jiwa (sampai hari kiamat) telah ditakdirkan akan ada, maka jiwa itu akan tetap ada.”
Perhatikan bahwa Muhammad tidak melarang memperkosa wanita yang ditangkap dalam penyerangan. Sebaliknya, dia malah menjelaskan jika Allâh berniat menciptakan sesuatu, maka tiada yang dapat mencegahnya. Dengan kata lain, tanpa sperma sekalipun wanita dapat hamil. Jadi Muhammad memberi tahu orang2nya bahwa melakukan azl/coitus interruptus itu percuma saja karena itu bagaikan melawan niat Allâh yang tak dapat dicegah. Muhammad tidak mengatakan sepatah katapun yang melarang pemaksaan persemaian seksual terhadap tawanan2 wanita itu. Sebaliknya, dengan mengritik azl, dia malah mendukung pemaksaan persemaian lewat hubungan seks.
Dalam Qur’an, tuhannya Muhammad menghalalkan untuk berhubungan seks dengan budak2 wanita, yang disebut sebagai “yang dimiliki tangan kanan,” bahkan sekalipun wanita2 itu telah menikah sebelum ditawan.

Penyiksaan
Ibn Ishaq mengisahkan penaklukkan Khaibar. Dia melaporkan bahwa Muhammad tanpa peringatan apapun menyerang benteng2 kota ini yang dihuni kaum Yahudi dan membunuh banyak orang2 tak bersenjata ketika mereka melarikan diri. Seorang yang tertawan bernama Kinana. Ibn Ishaq menulis:
Kinana al-Rabi, yang menyimpan harta masyarakat Banu Nadir dibawa menghadap kepada sang Rasul yang menanyakan tentang harta itu. Dia (Kinana) menyangkal mengetahui di mana harta itu. Seorang Yahudi datang (sejarawan Tabari menulis “dibawa menghadap”), kepada sang Rasul dan berkata bahwa dia melihat Kinana pergi ke suatu reruntuhan setiap subuh. Sang Rasul berkata kepada Kinana, “Kau tahu jika kami menemukan harta itu, aku akan membunuhmu?” Dia berkata, “Ya.” Sang Rasul memerintahkan reruntuhan itu dibongkar dan beberapa harta ditemukan. Lalu Rasul bertanya padanya di mana harta yang lain, dan dia tidak mau menjawab, sehingga Rasul memberi perintah kepada al-Zubayr Al-Awwam, “Siksa dia sampai mengaku.” Maka dia menyalakan api dengan batu percik dan besi di atas dada Kinana sampai dia hampir mati. Lalu sang Rasul menyerahkan Kinana kepada Muhammad b. Maslama yang lalu memancung kepalanya, sebagai tindakan balas dendam atas kematian saudara lakinya Mahmud.

Di hari yang sama Muhammad menyiksa sampai mati pemuda Kinana, dia juga mengambil istri Kinana yang bernama Safiya yang berusia tujuh belas tahun ke dalam sebuah tenda untuk disetubuhi. Dua tahun sebelumnya, sang Nabi memancung kepala ayah Safiya dan juga seluruh kaum pria Yahudi Bani Qurayza yang telah tumbuh bulu kemaluan. Ibn Ishaq menulis:
Sang Rasul menguasai benteng2 Yahudi satu demi satu, kemudian mengambil tawanan2. Diantara para tawanan terdapat Safiya, istri Kinana yang adalah kepala masyarakat Khaibar, dan dua wanita saudara sepupu; sang Rasul memilih Safiya untuk dirinya sendiri. Tawanan2 lainnya dibagi-bagikan diantara para Muslim. Bilal membawa Safiya kepada sang Rasul, dan mereka melewati beberapa mayat Yahudi dalam perjalanan itu. Kawan2 wanita Safiya menangis dan menabur debu di atas kepala mereka. Ketika Rasul Allâh melihat hal ini, dia berkata, “Singkirkan wanita iblis ini dari hadapanku.” Tapi dia memerintahkan Safiya untuk tetap tinggal, dan menyelubungkan jubahnya kepada Safiya. Dengan ini para Muslim tahu bahwa Muhammad memilih Safiya bagi dirinya sendiri. Sang Rasul menegur Bilal, “Sudah hilangkah belas kasihanmu sehingga kau bawa wanita2 ini melalui mayat2 suami mereka?”

Bukhari juga mencatat beberapa hadis tentang penaklukan Muhammad terhadap Khaibar dan tindakan perkosaannya terhadap Safiya.
Anas berkata, ‘Ketika Rasul Allah menyerang Khaibar, kami melakukan sembahyang subuh ketika hari masih gelap. Sang Nabi berjalan menunggang kuda dan Abu Talha berjalan menunggang kuda pula dan aku menunggang kuda di belakang Abu Talha. Sang Nabi melewati jalan ke Khaibar dengan cepat dan lututku menyentuh paha sang Nabi. Dia lalu menyingkapkan pahanya dan kulihat warna putih di pahanya. Ketika dia memasuki kota, dia berkata, ‘Allahu Akbar! Khaibar telah hancur. Ketika kita mendekati suatu negara maka kemalangan menjadi pagi hari bagi mereka yang telah diperingatkan.’ Dia mengulangi kalimat ini tiga kali. Orang2 ke luar untuk bekerja dan beberapa berkata, ‘Muhammad (telah datang)’ (Beberapa kawan kami berkata, “Dengan tentaranya.”) Kami menaklukkan Khaibar, menangkap para tawanan, dan hartabenda rampasan dikumpulkan. Dihya datang dan berkata, ‘O Nabi Allah! Berikan aku seorang budak wanita dari para tawanan.’ Sang Nabi berkata, ‘Pergilah dan ambil budak mana saja.’ Dia mengambil Safiya bint Huyai. Seorang datang pada sang Nabi dan berkata, ‘O Rasul Allah! Kauberikan Safiya bint Huyai pada Dihya dan dia adalah yang tercantik dari suku2 Quraiza dan An-Nadir dan dia layak bagimu seorang.’ Maka sang Nabi berkata,’Bawa dia (Dihya) beserta Safiya.’ Lalu Dihya datang bersama Safiya dan ketika sang Nabi melihatnya (Safiya), dia berkata pada Dihya,’Ambil budak wanita mana saja lainnya dari para tawanan.’ Anas menambahkan: sang Nabi lalu membebaskannya dan mengawininya.”
Thabit bertanya pada Anas,”O Abu Hamza! Apa yang dibayar sang Nabi sebagai maharnya?” Dia menjawab, “Dirinya sendiri adalah maharnya karena dia telah membebaskannya (dari status budak) dan lalu mengawininya.” Anas menambahkan, “Di perjalanan, Um Sulaim mendandaninya untuk (upacara) pernikahan dan malam ini Um Sulaim mengantar Safiya sebagai pengantin sang Nabi.