Penyerangan terhadap Banu Quraiza

Suku Yahudi terakhir yang menjadi korban kedendaman Muhammad adalah Banu Quraiza. Tidak lama setelah Perang Parit (Khandaq) selesai, orang-orang Mekah yang tidak tahan lagi terhadap serangan terus menerus Muhammad terhadap karavan mereka maju ke gerbang kota Madinah untuk menghukumnya. Atas ajuran seorang muslim Persia, mereka menggali parit di sekitar kota itu yang menyulitkan musuh-musuh Muhammad untuk memasuki kota, yang membuat mereka menarik diri. Muhammad menjadikan Banu Quraiza targetnya. Dia mengklaim bahwa malaikat Jibril mengunjunginya dan memintanya mencabut pedangnya dan menuju ke tempat tinggal Banu Quraiza dan memerangi mereka. “Jibril berkata bahwa dirinya dengan pasukan para malaikat akan pergi mengguncangkan pertahanan mereka dan menebarkan ketakutan di hati mereka,” tulis Al-Mubarakpouri. Al-Mubarakpouri berkata lebih lanjut: “nabi Allah langsung memanggil si pengumandang azan dan memerintahkannya untuk mengumumkan perang baru terhadap Banu Quraiza.”
Sangatlah penting dalam mempelajari Islam untuk mengerti bahwa panggilan untuk solat adalah juga panggilan untuk berperang. Kerusuhan-kerusuhan dan penjarahan kaum muslim selalu dimulai di mesjid setelah mereka bersolat. Mereka paling bersemangat di bulan suci Ramadan dan pada hari Jumat. Dalam khotbah peringatan hari kelahiran Muhammad di tahun 1981, Ayatollah Khomeini berkata:

Mehrab (Mesjid)) berarti tempat perang, tempat untuk bertempur. Di luar mehrab, perang harus berlangsung. Seperti halnya semua perang-perang dalam Islam berlangsung terus di luar mehrab. Nabi memiliki pedang untuk membunuh orang. Imam-Imam suci kita cukup militan. Mereka semua adalah pendekar perang. Merka biasa menyandang perang. Mereka biasa membunuh orang. Yang kita perlukan adalah seorang Kalifah yang akan memotong tangan, memenggal leher dan merajam orang, seperti halnya rasul Allah biasanya memotong tangan, memenggal leher dan merajam orang.

Muhammad mengepalai pasukan tentara yang terdiri dari tiga ribu tentara infantri dan tiga puluh tentara beruda dari kalangan orang Ansar dan Muhajirin. Banu Quraiza dituduh bersekongkol dengan orang-orang Quraish melawan kaum Muslim. Pada kenyataannya, sejarahwan-sejarahwan Muslim membantah tuduhan ini dan berkata bahwa orang-orang Mekah menarik diri tanpa berperang karena mereka tidak menerima dukungan dari Banu Quraiza.
Ketika Muhammad mengumumkan niatnya, Ali, sepupunya yang merupakan pendukung utamnya, bersumpah tidak akan berhenti hingga dia berhasil menyerbu benteng mereka atau mati. Pengempungan ini berlangsung selama 25 hari. Akhirnya Banu Quraiza menyerah tanpa syarat. Muhammad memerintahkan kaum lelaki diikat tangannya dan kaum wanita dan anak-anak dikurung. Saat itulah suku Aws yang merupakan sekutu Banu Quraiza datang memohon Muhammad untuk berlembut hati terhadap mereka. Muhammad menyarankan agar Sa‘d bin Mu‘adh, seorang penjahat bengis di antara mereka yang telah terluka berat oleh panah untuk menjatuhkan hukuman terhadap orang-orang Yahudi itu. Sa’d dulunya adalah sekutu Banu Quraiza, tetapi sejak dia masuk Islam hatinya telah berubah melawan mereka. Dia juga menyalahkan mereka terhadap luka yang didapatnya ketika seorang Mekah melontarkan anak panah dalam Perang Parit. Muhammad tahu bagaimana perasaan Sa’d terhadap Banu Quraiza. Sa’d adalah bodyguard (pelindung)nya dan tidur di mesjid.
Vonis Sa’d’s adalah “semua lelaki anggota suku yang bertubuh sempurna harus dibunuh, wanita dan anak-anak dijadikan tawanan dan harta mereka dibagi-bagikan di antara para pendekar Muslim.”
Muhammad sangat senang mendengar vonis kejam itu dan berkata, “Sa‘d telah menghakimi berdasarkan Perintah Allah.” Dia sering memakai nama Allah bagi keputusan-keputusannya sendiri. Kali ini dia memilih Sa’d untuk mewujudkan keinginannya.
Al-Mubarakpouri menambahkan bahwa “Sesungguhnya orang-orang Yahudi itu pantas mendapat hukuman itu karena pengkhianatan mereka terhadap Islam, dan sejumlah besar senjata yang mereka kumpulkan, yang terdiri dari seribu lima ratus pedang, dua ribu tombak, tiga ratus baju pelindung dan lima ratus perisai, yang semuanya jatuh ke tangan kaum Muslim.”
Al-Mubarakpouri lupa menyebutkan bahwa Banu-Quraiza telah meminjamkan senjata-senjata dan juga cangkul-cangkul mereka kepada kaum Muslim sehingga mereka bisa mengali parit dan membela diri mereka. Muslim tidak akan pernah berterima kasih kepada orang-orang yang menolong mereka. Mereka akan menerima pertolonganmu dan akan menikammu dari belakang begitu mereka tidak memerlukan engkau lagi. Akan kita lihat di bab berikutnya psikologi dari penyakit ini.
Sejarawan2 Muslim sangat cepat menjatuhkan tuduhan tak berdasar terhadap Banu Quraiza untuk membenarkan pembantaian mereka. Merka menuduh Banu Quraiza licik, penghasut, pengkhianat dan bersiasat melawan Islam. Namun tidak ada bukti spesifik tentang dosa-dosa itu yang menyebabkan mereka layak menerima hukuman seberat itu dan juga pembantaian total. Parit-parit digali di bazaar di Madinah dan sekitar 600 – 900 orang dipenggal kepalanya dan badan mereka dibuang ke parit-parit itu.
Huyai Ibn Akhtab, kepala suku Banu Nadir yang anak perempuannya yang telah menikah, Safiya, diambil Muhammad sebagai jatah rampasan perangnya ketika dia menyerang Khaibar, termasuk di antara para tawanan itu. Dia dibawa menghadap si pemenang perang dengan tangannya diikat di belakang badannya. Dengan sangat beraninya dia menolak Muhammad dan lebih suka mati daripada menyerah kepada lelaki bengis itu. Dia diperintahkan untuk berlutut dan kepalanya dipenggal di tempat.
Untuk menentukan siapa yang harus dibunuh, anak-anak muda diperiksa. Yang telah tumbuh bulu kelaminnya dikelompokkan dengan para lelaki dewasa dan dipenggal kepalanya. Atiyyah al-Quriaz, seorang Yahudi yang berhasil lolos dari pembantaian itu menceritakan kemudian: “Aku termasuk di antara tawanan Banu Quraiza. Mereka (para Muslim) memeriksa kami, dan mereka yang telah mulai tumbuh bulu kelaminnya dibunuh, dan yang belum tidak dibunuh. Aku termasuk yang belum tumbuh bulu kelamin.”
Muhammad membunuh dan mengusir beberapa suku Yahudi, termasuk di antaranya B. Qainuqa’, B. Nadir, B. Quraiza. B. Mustaliq. B. Jaun dan orang-orang Yahudi dari Khaibar. Di saat sekaratnya, dia memerintahkan para pengikutnya untuk membersihkan Semenanjung Arabia dari semua orang kafir, perintah yang kemudian dilaksanakan oleh Omar, Kalifah kedua. Dia memusnahkan orang-orang Yahudi, Kristen dan pemuja berhala, memaksa mereka masuk Islam, minggat atau dibunuh.
Sekarang, diperkaya dengan harta rampokan, Muhammad dapat lebih bermurah hati kepada orang-orang yang percaya padanya. Anas mengisahkan, “Orang-orang dulunya terbiasa memmberi beberapa dari kurma mereka kepada Nabi (sebagai hadiah), hingga dia menaklukkan Banu Quraiza dan Banu An-Nadir, saat mana dia mulai membayar balik kebaikan mereka.”
Ayat berikut dalam Qur’an berbicara tentang pembantaian Banu Quraiza dan menyetujui penyembelihan Muhammad terhadap kaum lelaki mereka dan menjadikan kaum wanita dan anak-anak sebagai tawanan.

Dan dia menurunkan orang-orang Ahli Kitab (Bani Quraizhah) yang membantu golongan-golongan yang bersekutu dari benteng-benteng mereka, dan Dia memasukkan rasa takut dalam hati mereka. Sebahagian mereka kamu bunuh dan sebahagian yang lain kamu tawan. (Q. 33: 26)