Terdapat puluhan ribu kisah/riwayat pendek tentang Muhammad. Kebanyakan adalah karangan/dibuat-buat, sebagian lainnya lemah dan diragukan kesahihannya, tapi sisanya dipercaya sebagai Hadits (tradisi/kisah/riwayat dari mulut kemulut) yang Sahih (otentik, benar). Dengan membaca Hadits Sahih ini, sebuah gambaran konsisten yang jelas dari Muhammad muncul dan dimungkinkan utk membuat evaluasi yang kurang lebih tepat mengenai karakternya dan keadaan psikologinya.

Gambar yang muncul adalah gambaran seorang yang narsistik. Dalam bab ini saya akan mengutip sumber-sumber berwenang dalam hal narsisisme dan kemudian akan mencoba menunjukkan bagaimana Muhammad cocok sekali dengan profil tersebut.

Para akademisi dan ilmuwan yang melakukan riset dalam hal ini telah dibatasi karena para muslim tidak mau dan tidak akan mengijinkan penyelidikan objektif kedalam Quran atau kehidupan Muhammad. Tapi, apa yang ditulis mengenai dia tidak hanya konsisten dengan definisi narsisme, tapi juga bisa dilihat dalam banyak tindakan aneh yang mirip, yang dilakukan oleh para muslim itu sendiri di seluruh dunia. Dengan demikian, penyakit kepribadian/jiwa dari satu orang telah ditularkan seperti sebuah warisan kepada para pengikutnya, dimana sakit kejiwaan dari satu orang, yang luar biasa dalam hal keasyikan-terhadap-dirinya-sendiri, telah menyebar dan menulari jutaan para pengikutnya, membuat mereka bertindak sama berbahaya, irasional dan asyik-sendiri.

Adalah melalui pengertian dari psikologi Muhammad, kekejamannya dan etika situasionalnya yang begitu penting bagi karakternya inilah, kita mulai untuk mengerti kenapa para muslim begitu tidak toleran, begitu suka kekerasan dan begitu paranoid. Kenapa mereka melihat diri sendiri sebagai korban ketika mereka sendirilah yang menjadi penyerang dan penyebab adanya korban!

Apa itu Narsisisme?
The Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM/Buku petunjuk Statistik dan Diagnosa dari Penyakit Jiwa) memberi definisi dari narcissistic personality disorder (NPD/Penyakit kepribadian Narsisistik) sebagai “sebuah pola penyebaran perasaan hebat (dalam khayalan atau tingkah laku), kebutuhan untuk dikagumi atau dipuja-puja dan kurangnya empati, biasanya dimulai dari awal masa dewasa dan ada dalam konteks yang bermacam-macam.” (reference 80, p. 61)

Terjemahan bebasnya, seorang narsisistik adalah ciri khas seseorang yang secara obsesif mencari-cari kepuasan, dominasi dan ambisi diri secara berlebihan. Mereka cenderung melebih-lebihkan kemampuan mereka, bakat mereka dan prestasi-prestasi mereka.

Seorang narsisis adalah seorang pembohong yang alami dan patologis. Mereka akan memandangmu tajam-tajam, bersumpah dalam nama Tuhan dan mengatakan kebohongan terbesar yang pernah kau dengar. Mereka akan mengatakan bahwa mereka tidak akan melakukan hal itu, sementara yang sebenarnya adalah mereka merencanakan untuk melakukan hal yang dikatakannya tidak akan mereka lakukan itu.

Edisi ketiga dan keempat dari Diagnostic and Statistic Manual (DSM) tahun 1980 dan 1994 dan European ICD-10 menjelaskan NPD dalam bahasa yang identik:

Sebuah pola penyebaran perasaan hebat (dalam khayalan atau tingkah laku), kebutuhan utk dikagumi atau dipuja-puja dan kurangnya empati, biasanya dimulai dari awal masa dewasa dan ada dalam konteks bermacam-macam.

Lima (atau lebih) kriteria berikut harus ada:

1. Merasa hebat dan penting (misalnya, membesar-besarkan prestasi dan bakat hingga terdengar mustahil/bohong, menuntut dikenali sebagai seorang yang superior/lebih tinggi meski tanpa prestasi yang pantas).

2. Terobsesi oleh fantasi-fantasi sukses yang tidak ada batasnya, ketenaran, kekuatan menakutkan atau, kepintaran yang tak ada tandingannya (narsisis cerebral), keindahan tubuh atau kemampuan seks (narsisis somatic) atau cinta/birahi yang menuntut taklukan, kekal dan ideal.

3. Benar-benar merasa yakin bahwa dia itu unik dan spesial, hanya dapat dimengerti oleh, hanya mesti diperlakukan dengan, atau dihubung-hubungkan dengan, orang (atau institusi) lain yang juga spesial, unik atau punya status tinggi.

4. Membutuhkan untuk dikagumi dengan berlebihan, dipuja-puja, diperhatikan dan diiyakan, jika tidak, ia berharap untuk ditakuti dan dikenal karena kejahatannya (narsisis supply).

5. Merasa berhak. Mengharap untuk diprioritaskan dalam hal perlakuan baik dan spesial atau tidak masuk akal. Menuntut dipenuhi secara otomatis dan benar-benar sesuai dengan harapannya.

6. Sangat memanfaatkan hubungan antar manusia, yakni, memperalat orang lain untuk mencapai tujuan-tujuannya.

7. Tidak punya empati. Tak mampu atau tak rela utk mengenali atau mengakui perasaan dan kebutuhan orang lain.

8. Terus-menerus cemburu terhadap orang lain atau percaya bahwa orang lain mempunyai perasaan cemburu yang sama terhadapnya.

9. Sangat arogan, kelakuan atau sikap sombongnya digabung dengan kemurkaan jika merasa frustasi, ditentang atau dilawan [1]

Semua ciri ini ada dalam diri Muhammad. Diluar dari pemikiran dia adalah utusan Tuhan dan Nabi penutup, (Q.33:40) Muhammad menganggap dirinya sebagai Khayru-l-Khalq “Ciptaan paling baik,” “Suri Tauladan,” (Q.33:21) dan secara tegas dan mutlak mengisyaratkan sebagai “lebih tinggi beberapa derajat dibanding nabi-nabi lain.” (Q.2:253) Dia mengklaim sebagai “nabi yang lebih disukai,” (Q.17:55) dikirim sebagai “rahmat bagi semesta alam,” (Q.21:107) diangkat “ke tempat yang terpuji,” (Q.17:79) sebuah posisi/tempat yang mana kata dia tak seorangpun kecuali dia yang mendapatkannya dan itu adalah menjadi perantara/intersesi disebelah kanan Tuhan yang maha kuasa disebelah singgasana-Nya. Dengan kata lain, dia akan menjadi orang yang memberi nasihat pada Tuhan siapa yang harus dikirim ke Neraka dan siapa yang dimasukkan ke Surga. Ini baru sedikit saja dari klaim-klaim yang dinyatakan sang Megalomania Muhammad tentang posisi tingginya, seperti yang dilaporkan dalam Quran.

Berikut ini adalah dua ayat yang mengungkapkan dengan jelas rasa ‘pentingnya diri’ dan ‘kebesaran’ Muhammad.

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (Q.33.56).

“Supaya kamu sekalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkanNya, membesarkan-Nya. Dan bertasbih kepada-Nya di waktu pagi dan petang.” (Q.48.9)

Ia begitu terkesan dengan dirinya sendiri, hingga dia taruh kalimat berikut ini kedalam mulut Makhluk Allah bonekanya:

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung” (Q 68.4) dan “untuk jadi cahaya yang menerangi.” (Q 33.46).

Ibn Sa’d melaporkan Muhammad berkata:

“Diantara semua bangsa didunia Tuhan memilih bangsa Arab. Dari antara bangsa Arab Dia memilih Kinana. Dari Kinana dia memilih Suku Quraish (sukunya Muhammad). Dari suku Quraish Dia memilih Bani Hashim (klannya). Dan dari Bani Hashim Dia memilih Aku.” [2]

Yang berikut adalah beberapa klaim dari Muhammad yang dia katakan sendiri dalam Hadits.

· Hal pertama yang dibuat Allah Maha Kuasa adalah jiwaku.
· Pertama dari segala hal, Allah menciptakan jiwaku.
· Aku dari Allah, dan orang-orang percaya adalah dariku. [3]
· Seperti Allah menciptakanku agung, dia juga memberiku karakter Agung.
· Kalau bukan karena kau, [O Muhammad] Aku tidak akan menciptakan jagat raya. [4]

Bandingkan itu dengan perkataan Yesus, yang ketika seseorang memanggilnya “guru yang baik,” dia keberatan dan berkata, “Kenapa kau panggil aku baik? Tak ada seorangpun yang baik – kecuali Tuhan saja.” [5] Hanya seorang narsisis patologis yang bisa begitu terpisah dari kenyataan hingga mengaku jagat raya diciptakan karena dia saja.

Bagi orang biasa, seorang narsisis mungkin kelihatan begitu percaya diri dan terampil. Dalam kenyataan dia menderita kekurang percayaan diri yang sangat besar dan butuh suplai pujian, pujaan dan kemuliaan dari luar.

Dr. Sam Vaknin adalah penulis Malignant Self-Love (Cinta Diri Sendiri yang membahayakan). Dia sendiri mengaku sebagai seorang narsisis dan mungkin karenanya, dapat dianggap sebagai otoritas akan subjeknya. Vaknin menjelaskan:

Setiap orang adalah seorang narsisis, sampai tahap tertentu. Narsisisme adalah sebuah fenomena yang sehat. Hal itu membantu perjuangan hidup.
Perbedaan antara narsisisme patologis/penyakit dan yang sehat adalah, tentu saja, dalam ukurannya. Narsisisme Patologis… dicirikan dengan sangat kurangnya rasa empati. Orang narsisis menganggap dan memperlakukan orang lain sebagai objek utk dieksploitasi. Dia gunakan mereka untuk mendapatkan suplai narsisistiknya. Dia percaya bahwa dia berhak untuk diperlakukan dengan spesial karena dia mengandung banyak khayalan agung tentang dirinya. Orang narsisis TIDAK sadar diri. Kesadaran/pengertiannya dan emosinya menyimpang…Orang narsisis berbohong pada dirinya sendiri dan pada orang lain, memproyeksikan “ketidak tersentuhan,’ kekebalan emosional dan perasaan tak terkalahkan… Bagi seorang narsisis segala hal lebih besar daripada kehidupan itu sendiri. Jika dia bersikap sopan, maka dia melakukannya dengan sangat…sangat… sopan. Janji-janjinya sangat aneh, kritikannya mengandung kekerasan dan tak menyenangkan, kemurahan hati sama sekali tidak ada… Orang narsisis adalah ahli menyamar/menyembunyikan sesuatu. Dia seorang yang memikat hati, aktor berbakat, pesulap dan seorang sutradara baik bagi dirinya maupun bagi lingkungannya. Sangat sulit sekali utk membuka kedoknya pada pertemuan pertama. [6]

Cult (aliran pemujaan) dari Seorang Narsisis
Seorang narsisis membutuhkan pengagum. Dia menarik lingkaran khayal disekeliling dirinya, dimana dia menjadi pusatnya. Dia kumpulkan para fans dan pengikutnya ke dalam lingkaran tersebut, menghadiahi mereka dan mendorong mereka untuk menjadi seorang penjilat terhadap dirinya. Mereka yang jatuh keluar lingkaran, dia anggap sebagai musuhnya. Vaknin menjelaskan:
Seorang Narsisis adalah guru/pemimpin spiritual pada pusat sebuah pemujaan (cult). Seperti guru-guru lainnya, dia menuntut kepatuhan total dari jemaahnya: istrinya, anaknya, anggota keluarga lainnya, teman-teman dan kolega-kolega. Dia merasa berhak untuk dipuja dan diperlakukan spesial oleh para pengikutnya. Dia menghukum orang yang tidak patuh dan domba-domba yang tersesat. Dia paksakan disiplin, ketaatan pada ajaran-ajarannya dan tujuan-tujuannya. Semakin kurang prestasi yang dia capai dalam kenyataan – semakin keras penguasaannya dan semakin meresap pencucian otaknya.

Kontrol dari orang-orang narsisis didasarkan pada kemenduaan, pendirian yang tidak dapat ditebak, ketidakjelasan dan penyalahgunaan situasi. [7] Tingkahnya yang berubah-ubah secara eksklusif mendefinisikan benar lawan salah, yang diinginkan dan yang tidak diinginkan, apa yang harus dicapai dan apa yang harus dihindarkan. Dia sendiri menetapkan apa yang benar dan kewajiban-kewajiban dari para pengikutnya dan mengubah-ubah mereka semau dia.

Orang narsisis adalah seorang manajer mikro. Dia memaksa untuk mengatur semua rincian yang detil dan segala tindak-tanduk. Dia menghukum dengan kejam dan menganiaya mereka yang menahan informasi dan mereka yang gagal untuk memenuhi harapan dan tujuannya.

Orang narsisis tidak menghormati batas-batas dan privasi dari para pengikutnya yang terpaksa. Dia mengabaikan harapan-harapan mereka dan memperlakukan mereka sebagai objek atau alat untuk kepuasan diri. Dia berusaha untuk mengontrol baik situasi maupun orang-orangnya secara paksa.

Dia dengan keras tidak menyetujui otonomi dan kemandirian orang lain. Bahkan aktivitas yang tidak berbahaya, seperti bertemu teman atau mengunjungi keluarga perlu mendapat ijinnya dulu. Perlahan, dia mengisolasi mereka yang dekat dengannya sampai mereka sepenuhnya tergantung pada dia secara emosional, seksual, finansial dan sosial.

“Dia berlaku dalam sebuah cara seakan menjadi pelindung dan sekaligus merendahkan dan sering mengkritik. Dia berpindah-pindah dari menekankan kesalahan-kesalahan detil (merendahkan) dan melebih-lebihkan bakat-bakat, perlakuan-perlakuan dan kemampuan-kemampuan dari anggota cultnya. Dia tidak realistis dalam pengharapan-pengharapannya, lalu mengabsahkan penganiayaan setelahnya. [8]

Muhammad menciptakan sebuah kebohongan besar yang oleh para pengikutnya dipercaya sebagai kebenaran yang mutlak. Bahayanya adalah bahwa mereka, seperti juga orang-orang yang percaya pada kebohongan Hitler, adalah para pengikut yg ikut secara sukarela.

Dalam bab sebelumnya, dimana kita baca pengenalan pada Muhammad, kita lihat bagaimana dia pisahkan para pengikutnya dari keluarga-keluarga mereka dan tahap kontrol yang dia paksakan pada kehidupan pribadi mereka. Situasi ini tidak berubah banyak bahkan setelah 1400 tahun. Saya telah menerima banyak kisah menyedihkan dari orang tua yang bilang anak mereka masuk Islam dan sekarang dikelilingi oleh muslim yang membujuk mereka agar jangan mengunjungi orang tua mereka.

Pesan/Alasan sang Narsisis

Orang narsisis tahu bahwa mengiklankan diri mereka secara langsung akan terlihat sebagai hal yang menjijikan dan akan ditolak. Makanya, dia menyajikan diri mereka sebagai orang yang sederhana, sebagai orang yang hampir tidak menonjolkan diri, orang yang melayani Tuhan, kemanusiaan atau alasan, apapun kasusnya. Di belakang semua kedok ini terdapat sebuah tipu daya yang jelas.

Orang narsisis ‘memberkati’ para pengikutnya sebuah ALASAN/PESAN, yang begitu besarnya, begitu agung hingga mereka tidak bisa jadi apa-apa tanpa itu. Melalui muslihat dan manipulasi, pesan ini jadi begitu penting daripada nyawa orang-orang yang akan menjadi para pemercaya. Begitu dicuci otaknya mereka hingga mereka rela mati dan tentu saja, rela membunuh untuk itu.

Orang narsisis mendorong pengorbanan – semakin banyak, semakin baik. Lalu dia munculkan dirinya sebagai poros dari pesan itu. Pesan-pesan ini berputar-putar di sekeliling dia. Adalah dia saja, yang bisa membuatnya terjadi dan yang akan memimpin para pengikutnya ke Tanah Perjanjian. Pesan kolosal ini tidak dapat hidup tanpa si narsisis. Dia, dengan demikian menjadi orang yang paling penting sedunia.

Begitulah caranya pemimpin cult yang narsisis memanipulasi para pengikutnya. Pesan itu hanya sebuah alat untuk tujuan akhir mereka. Bisa apa saja. Bagi Jim Jones, orang yang mengajak 911 orang melakukan bunuh diri masal di Guyana, ‘keadilan sosial’ adalah pesannya, dan dia adalah mesias bagi pesan itu.

Hitler memilih sosio-nasionalisme sebagai pesannya. Dia tidak secara terbuka memuji-muji dirinya sendiri, tapi malah memakai pesan arianisme dan superioritas bangsa Jerman. Dia, tentu saja, adalah seorang pengilham yang tidak tergantikan dan fuehrer bagi pesan itu.

Bagi Stalin pesannya adalah komunisme. Siapapun yang tidak setuju dengannya sama dengan menentang proletariat dan harus dibunuh.

Muhammad tidak meminta para pengikutnya untuk memuja dia. Malah dia mengklaim ‘hanya utusan saja.” Sebagai gantinya dia menuntut kepatuhan, dengan tangkasnya meminta para pengikutnya untuk taat pada “Allah dan UtusanNya.” Dalam sebuah ayat Quran, dia taruh perkataan berikut dalam mulut Allahnya:

“Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah: “Harta rampasan perang itu kepunyaan Allah dan Rasul, sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara sesamamu, dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman” (Q 8.1)

Karena Allah tidak perlu barang-barang curian dari sekelompok orang Arab, semua harta rampasan perang itu secara otomatis harus masuk kepada wakilnya, sang utusan. Karena tidak ada seorangpun yang bisa melihat atau mendengar Allah, semua kepatuhan adalah kepada Muhammad. Dialah yang harus ditakuti karena hanya dia satu-satunya perantara dari Tuhan yang paling ditakuti ini yang mana telah dia peringatkan hal ini pada orang-orangnya. Allah sangat perlu bagi Muhammad utk mendominasi. Tanpa percaya pada Allah, maukah para pengikutnya yang dungu mengorbankan nyawa mereka, membunuh orang, termasuk keluarga mereka sendiri, menjarah orang, dan memberikan semuanya pada dia?

Allah khayalannya ini adalah alat dominasi bagi Muhammad. Allah adalah pribadi lain dari Muhammad sendiri, sebuah alat yang enak. Ironisnya Muhammad berkhotbah tentang larangan mempersekutukan Allah, ketika, dalam kenyataannya, dia bersekutu dengan Allah dalam cara yang membuat mereka secara logika dan praktek tidak bisa dipisahkan.

Orang narsisis perlu sebuah alasan untuk mengekang pengikut-pengikut mereka. Orang Jerman tidak berperang bagi Hitler. Mereka melakukannya karena alasan yang Hitler jejalkan pada mereka.

Dr. Sam Vaknin menulis: “Orang narsisis memakai apa saja yang bisa mereka ambil dalam usaha mendapatkan suplai narsisistik mereka. Jika Tuhan, kepercayaan, gereja, iman, dan agama yang resmi dapat memberi mereka suplai narsisis ini, mereka akan menjadi taat. Mereka akan meninggalkan agama jika hal itu tidak memberi mereka suplai ini.” [9]

Islam adalah sebuah alat utk mendominasi. Setelah Muhammad, orang-orang lain memakai cultnya untuk tujuan yang persis sama. Para muslim menjadi boneka ditangan para pemimpin mereka yang menyebut-nyebut Islam.

Mirza Malkam Khan, (1831-1908) seorang Armenia yang masuk Islam dan bersama dengan Jamaleddin Afghani meluncurkan ide sebuah “Islamic Renaissance” (An-Nahda/Kebangunan kembali ilsam), punya sebuah slogan sinis yang tak ada tandingannya: “Katakan pada para muslim apa saja yang berasal dari Quran, dan mereka akan bersedia mati bagimu.”

Orang Narsisis ingin meninggalkan Warisan

Menjelang matinya, Muhammad meminta para pengikutnya agar jangan diam saja, dan memaksa mereka terus mendesak dan meneruskan jihad untuk menaklukkan.

Genghis Khan memberikan perintah yang sama pada anaknya ketika menjelang kematian. Dia mengatakan bahwa dia ingin menaklukkan dunia, tapi karena dia tidak bisa melakukannya lagi, merekalah yang harus memenuhi mimpinya. Orang Mongol saat itu, seperti para muslim, adalah para peneror. Bagi orang narsisis, yang penting adalah menang. Mereka tidak punya hati nurani. Bagi mereka, nyawa manusia itu murah.

Pada tahun 1940, Hitler diumur 51 th, menyadari adanya tremor di tangan kirinya. Dia biasa menyembunyikannya dengan memasukkan tangan kiri ke saku bajunya, dengan memegang benda, atau dengan mengepalkan tangan kiri ke tangan kanannya. Ketika penyakit itu bertambah parah, dia menjauh dari khalayak ramai. Dia sadar kematiannya sudah dekat. Dia menjadi makin tegas, melancarkan serangan-serangannya dengan pengertian baru yang seakan diburu waktu, tahu bahwa dia berpacu dengan waktu. Orang narsisis selalu ingin meninggalkan warisan.

Salah sekali jika berpikir islam sebagai sebuah agama. Aspek spiritual atau religius dari Islam diciptakan belakangan oleh filsuf-filsuf muslim dan mistik-mistik yang memberi tafsir esoterik pada perkataan-perkataan yg dangkal dari Muhammad. Para pengikutnya membentuk agama sesuai dengan keinginan mereka, dan seiring berlalunya waktu, tafsir-tafsir itu mewarisi segel antik dan dengan demikian juga kredibilitas.

Jika Islam adalah sebuah agama, maka begitu juga dengan nazisme, komunisme, satanisme, Heaven’s Gate, People’s Temple, Branch Davidian, dll. Jika kita memikirkan agama sebagai sebuah filosofi kehidupan untuk diajarkan, untuk mengeluarkan potensi manusia, untuk mengangkat jiwa, untuk merangsang secara spiritual, untuk menyatukan hati dan mencerahkan umat manusia, maka Islam pastinya gagal dalam ujian-ujian tersebut sepenuhnya, dan dengan demikian Islam adalah, memakai ukuran ini, tidak seharusnya, tidak bisa dianggap sebagai sebuah agama.

Orang Narsisis ingin jadi Tuhan

Bagi orang narsisis, yang paling penting adalah kekuasaan. Dia ingin dihormati, dikenal, dan tidak diabaikan. Orang narsisis adalah orang yang kesepian, tidak merasa aman dan merasa malu. Hasrat terbesar mereka adalah untuk memuaskan kebutuhan mereka akan rasa hormat dan perhatian yang mereka terima sebagai penyampai dari pesan-pesan yang mulia. Pesannya itu sendiri tidaklah penting. Pesan itu hanya alasan saja. Orang narsisis menciptakan tuhan-tuhan khayalan dan pesan-pesan palsu yang menempatkan diri mereka sendiri sebagai wakil resmi dari pesan-pesan tersebut. Semakin mereka mengagungkan tuhan palsu mereka, semakin besar kekuasaan yang mereka dapatkan bagi mereka.

Allah bagi Muhammad adalah sebuah alat yang nyaman untuk memanipulasi orang. Melalui dia, dia bisa mendapat wewenang tak terbatas terhadap para pengikutnya. Dia menjadi tuan atas nyawa mereka. Hanya ada satu tuhan, maha kuasa, ditakuti, juga murah hati dan pengampun, dan dia, Muhammad, adalah satu-satunya yang menjadi penghubung antara Dia dan manusia. Ini membuat Muhammad menjadi wakil Allah. Meski kepatuhan seharusnya untuk Allah turun kepada dia, dalam kenyataannya, selalu Muhammad dan setiap tingkahnyalah yang berharap untuk dipuaskan oleh para pengikutnya. Dr. Vaknin menjelaskan:

Menjadi Tuhan adalah yang paling diinginkan oleh seorang Narsisis: maha kuasa, maha tahu, ada dimana-mana, dipuja, dibicarakan, dan membangkitkan rasa hormat. Menjadi Tuhan adalah mimpi basahnya orang narsisis, khayalan terhebatnya. Tapi Tuhan berguna dalam banyak hal juga.

Narsisis berubah-ubah, mengidealkan dan meremehkan figur otoritas.

Dalam fase idealisasi, dia berusaha menyamai mereka, dia mengagumi mereka, meniru mereka (sering secara menggelikan), dan membela mereka. Mereka tidak bisa salah atau boleh salah. Orang narsisis menganggap mereka lebih besar dari hidup itu sendiri, sempurna, lengkap dan brilian. Tapi ketika harapan-harapan sang narsisis yang tidak realistis dan kempes menghadapi kegagalan, dia mulai meremehkan bekas idolanya itu.

Sekarang mereka menjadi “manusia” (bagi sang narsisis ini adalah sebuah hal yang hina). Mereka makhluk kecil, rapuh, mudah salah, penakut, kejam, bodoh dan biasa-biasa saja. Sang narsisis menjalani siklus yang sama dalam hubungannya dengan Tuhan, figur otoritas tauladannya.

Tapi seiring, bahkan ketika kekecewaan dan keputus-asaan tentang penyembahan muncul, – sang narsisis terus berpura-pura cinta pada Tuhan dan masih mentaati-Nya. Sang narsisis mempertahankan penipuan ini karena posisinya sebagai wakil Tuhan membuat dia punya wewenang. Para pendeta, pemimpin jemaah, pengkhotbah, penginjil, aliran pemuja, politisi, kaum intelektual, semua memperoleh wewenang dari yang katanya ‘hubungan khusus mereka dengan Tuhan’.

Otoritas religius membuat sang narsisis menuruti keinginan sadisnya dan untuk menjalankan misogyny (kebenciannya terhadap wanita) secara terbuka dan bebas… Sang Narsisis, yang sumber wewenangnya adalah religi, mencari para budak yang patuh dan tidak banyak tanya yang mana kemudian dia jalankan keahlian tipu dan keinginannya itu pada mereka. Sang narsisis bahkan bisa mengubah sentimen religius murni dan tidak berbahaya menjadi sebuah ritual pemujaan dan hirarki yang berbahaya. Dia memangsa orang-orang yang mudah dibujuk. Para pengikutnya sekaligus jadi sanderanya.

Otoritas religius juga mengamankan ‘Suplai narsisistik’ sang narsisis. Para pengikutnya, anggota jemaahnya, para pemilihnya, para pendengarnya – semua diubah menjadi Sumber Suplai Narsisistik yang setia dan stabil. Mereka mematuhi perintah-perintahnya, memperhatikan tegurannya, mengikuti syahadatnya, mengagumi pribadinya, memuji sifat-sifatnya, memuaskan kebutuhannya (kadang bahkan kebutuhan seksualnya), memuja dan mengidolakannya.

Selain itu, menjadi bagian dari “Hal yang Lebih Besar” sangat memberi kepuasan secara narsisistikal. Menjadi partikel Tuhan, menjadi satu dengan keagungan-Nya, mengalami sendiri kekuasaan dan berkat-Nya langsung, hidup bersama Dia – semuanya adalah Sumber Suplai Narsisistik yang tak ada habisnya. Sang narsisis menjadi Tuhan dengan memperhatikan perintah-perintah-Nya, mengikuti Instruksi-Nya, mencintai-Nya, mematuhi-Nya, mengalah pada-Nya, menyatu dengan-Nya, berkomunikasi pada-Nya – atau bahkan dengan menantang-Nya (semakin besar musuh sang narsisis – semakin merasa lebih pentinglah sang narsisis).

Seperti juga hal lain dalam kehidupan sang narsisis, dia mengubah Tuhan menjadi semacam kebalikan dari si narsisis. Tuhan menjadi sumber suplainya yang dominan. Dia bentuk hubungan pribadi dengan entitas lebih kuasa dan lebih melimpah ini – untuk melimpahi dan menguasai yang lain. Dia menjadi Tuhan itu sendiri, dengan menjadi wakil-Nya. Dia mengidealkan Tuhan lalu meremehkan Dia, kemudian menganiaya-Nya. Ini adalah sebuah pola narsisistik yg klasik dan bahkan Tuhan sendiri tidak akan bisa lolos dari hal ini. [10]

Orang narsisis tidak secara langsung mempromosikan diri mereka sendiri. Mereka bersembunyi dibelakang lapisan kesederhanaan, sementara mereka mengangkat Tuhan mereka, ideologi, pesan atau agama, yang dalam kenyataannya adalah alter ego dia sendiri. Mereka mungkin menyebut mereka sendiri sebagai ‘cuma utusan’, sederhana, rendah hati, tanpa penonjolan diri, dari Tuhan yang Maha Kuasa, atau pesan yang sangat berpengaruh, tapi mereka membuat sangat jelas bahwa mereka sajalah yang tahu pesan-pesan-Nya dan sangat tidak toleran dan tanpa maaf bagi orang yang ingkar dan melawan.

Orang narsisis sangat kejam, tapi tidak bodoh. Mereka sangat sadar akan rasa sakit yang mereka sebabkan. Mereka menikmasi sensasi kuasa yang mereka dapatkan dengan menyakiti orang lain. Mereka menikmati jadi Tuhan – menentukan siapa yang diberi hadiah dan siapa yang dihukum – siapa yang hidup siapa yang mati.

Narsisisme Patologis menjelaskan segala hal yang ada dalam diri Muhammad – kekejamannya, pengakuan maha hebatnya, kelakuan murah hatinya yang dilakukan utk membuat terkesan mereka yang takluk padanya dan dengan demikian membangun superioritas dia, keyakinan dirinya, juga pribadi karismatik dan keranjingannya.

Apa yang menyebabkan Narsisisme?

Pertanda dari seorang narsisis adalah berkembangnya penyakit superioritas sebagai respon akan perasaan rendah diri. Hal ini melibatkan pembesar-besaran prestasi seseorang dan merendahkan orang lain yang dianggap ancaman bagi sang narsisis.

Kesalahan asuh orang tua menjadi penyebab terbesar adanya penyakit narsisistik ini dalam seorang anak. Contohnya, orang tua yang serba membolehkan, yang memberi pujian berlebih-lebihan pada sang anak, terlalu menurutkan dan memanjakan sang anak, gagal menerapkan disiplin, dan mengidealisasi si anak menjadi faktor-faktornya. Hasilnya, sang narsisis secara umum merasa tidak siap untuk masa dewasa, setelah dibesarkan dalam pandangan hidup yang tidak realistik. Sebaliknya, seorang anak yang tidak menerima dukungan dan dorongan yang cukup bisa juga mengidap penyakit narsisistik.

Kita tahu bahwa Muhammad ketika bayi diberikan dan dibesarkan oleh orang lain. Apakah ibunya tidak tertarik padanya? Kenapa dia tidak pernah berdoa di kubur ibunya bahkan sampai dia sudah berumur 60 tahun lebih? Apakah dia masih benci pada ibunya?

Halima tidak mau mengurus bayi Muhammad karena dia adalah anak yatim dari seorang janda miskin dan penghasilan dia kecil. Apa ini mempengaruhi cara dia atau keluarga memperlakukan Muhammad? Anak-anak bisa sangat kejam. Menjadi anak yatim di jaman itu adalah sebuah aib, seperti juga sekarang masih menjadi aib di Negara-negara Islam. Kondisi masa kecil Muhammad tidak kondusif untuk membentuk rasa menghargai diri sendiri yang sehat.
Jon Mardi Horowitz, penulis dari Stress Response Syndromes,menjelaskan: “Ketika kepuasan narsisistik yang jadi kebiasaan karena seringnya dipuji, diberikan perlakuan khusus dan mengagumi diri sendiri terancam, hasilnya mungkin adalah depresi, sedih tanpa alasan, gelisah, malu, merusak diri sendiri atau kemarahan yang diarahkan pada orang yang bisa jadi sasaran kesalahan atas situasi tersebut. Anak-anak bisa belajar untuk menghindari kondisi emosi menyakitkan ini dengan belajar memproses informasi narsisistik ini.” [11]

Muhammad, tentunya, punya masa kecil yang sulit. Dalam surat 93 atau 3-8, (dikutip pada awal bab satu buku ini) dia dengan halus mengingat masa yatimnya yang penuh kesepian dan meyakinkan dirinya bahwa Allah akan baik padanya dan tidak akan meninggalkan dia. Ini menunjukkan betapa ingatan akan masa kecil yang banyak itu menyakitkannya. Fakta bahwa Muhammad menciptakan dunia khayalan untuk lepas dari kenyataan, begitu hidup khayalan itu hingga menakuti orang tua angkatnya, adalah petunjuk lain bahwa masa kecilnya tidaklah menyenangkan sama sekali. Muhammad mungkin tidak ingat rincian apa yang terjadi pada tahun pertama kehidupannya, tapi jelas dia mendapat luka psikologis sepanjang hidupnya. Bagi dia, dunia khayalan yang dia ciptakan itu nyata. Menjadi pengungsian yang aman baginya, sebuah tempat menyenangkan untuk mengundurkan diri dan lepas dari kenyataan. Dalam dunia khayalannya, dia bisa dicintai, dihormati, dikagumi, berkuasa, penting dan bahkan ditakuti. Dia bisa menjadi apapun yang dia inginkan dan mengimbangi kekurang perhatian yang dia dapatkan dari dunia diluarnya.

Menurut Vaknin, “penyebab yang sebenarnya dari Narsisisme tidak sepenuhnya dimengerti tapi jelas dimulai dari awal masa kecil (sebelum umur 5 tahun). Hal itu dipercaya disebabkan oleh kegagalan yang berulang-ulang dan serius pada pihak Objek Primer sang anak (orang tua atau pengasuh). Orang Narsisis dewasa sering berasal dari rumah tangga dimana salah seorang atau kedua orang tuanya mengabaikan dia atau menganiaya sang anak… SEMUA anak (sehat atau tidak) ketika mereka tidak diijinkan untuk melakukan sesuatu oleh orang-tuanya kadang akan memasuki kondisi narsisistik dimana mereka melihat diri mereka sendiri dan bertindak seakan mereka begitu berkuasa/sangat kuat. Ini alamiah dan sehat karena hal ini membuat kepercayaan diri pada sang anak untuk berkaca dari penolakan orang tua. [12]

Anak-anak yang diabaikan menyerap sebuah perasaan kekurangan. Mereka jadi percaya bahwa mereka itu tidak pantas diperhatikan dan dicintai. Sebagai reaksi terhadap hal itu, mereka cenderung membela ego mereka dengan membanggakan diri secara berlebihan. Mereka melihat kelemahan diri mereka dan merasa bahwa jika orang lain melihat hal itu, mereka tidak akan dicintai, dikagumi dan dihormati. Jadi mereka berbohong dan menciptakan kisah-kisah fantastik, menyombongkan diri mereka sendiri, betapa penting diri mereka. Kekuatan khayal mereka sering berasal dari sumber diluar diri mereka. Bisa ayah mereka atau teman yang kuat. Narsisisme jenis ini pada anak-anak adalah normal, tapi jika mereka mempertahankan pemikiran ini hingga mereka dewasa, hal itu akan berkembang menjadi penyakit kepribadian narsistik.

Pada Muhammad, sumber kekuatan luarnya tidak lain adalah Allah, yang paling kuat, paling ditakuti dan maha kuasa. Dengan menghubungkan dirinya dengan Allah dan menyajikan dirinya sebagai perantara tunggal, dia mendapatkan kuasa Allah itu sendiri.

Setelah kematian ibunya, ketika Muhammad berumur enam tahun, dia ada di bawah didikan dari kakeknya yang sudah tua, yang memanjakan dia. Dalam beberapa hadits ditunjukkan, Abdul Muttalib terlalu penurut dan selalu membolehkan cucu yatimnya itu. Muhammad kecil akan duduk pada tikar sebelah sang kakek sementara paman-pamannya mengelilingi mereka.

Pengakuannya bahwa Abdul Muttalib berkata pada pamannya Abu Talib, “Biarkan dia karena dia punya nasib yang besar, dan akan menjadi pewaris sebuah kerajaan,” atau berkata pada perawatnya, “Berhati-hatilah jangan sampai dia jatuh ketangan orang Yahudi atau Kristen, karena mereka mencari-cari dia dan bermaksud melukainya!”, jelas-jelas cuma isapan jempolnya belaka. Itu semua adalah kebohongan yang dia karang dan mungkin juga jadi dipercayainya. Ini adalah ciri khas khayalan seorang narsisis, yang berpikir bahwa diri mereka begitu pentingnya hingga mereka percaya orang lain memburu untuk melukainya karena cemburu. Meskipun demikian, jelas bahwa Abdul Muttalib membuat Muhammad merasa spesial. Dia manjakan dan cintai cucu yatimnya itu. Sang kakek memanjakannya karena kasihan. Tapi, Muhammad menafsirkan perhatian ekstra ini sebagai konfirmasi dari angan-angan maha hebatnya. Bayangan yang dia ciptakan mengenai dirinya sendiri dalam sebuah dunia fantasi dimasa kecil dengan demikian diperparah oleh pemanjaan berlebihan dari kakeknya. Dia seakan lebih dipastikan lagi sebagai orang spesial, unik dan luar biasa.

Setelah kematian Abdul Muttalib, pamannya yang baik hati, Abu Talib, juga memperlakukannya berbeda dari yang lain. Statusnya sebagai yatim, tanpa orang tua atau saudara, mengundang rasa simpati. Baik kakek maupun pamannya terlalu memanjakan dan menurut pada dia. Mereka gagal menerapkan disiplin yang cukup padanya. Semua keluarbiasaan ini memberikan sumbangan pada perkembangan pribadi narsisistiknya. Pakar psikologi J. D. Levine dan Rona H. Weiss menulis:

Seperti kita ketahui, dari sudut pandang fisiologi, bahwa seorang anak perlu diberi makanan secukupnya, yang dia perlukan untuk melindungi dari temperatur yg ekstrim, dan bahwa atmosfir yang dia hirup harus berisi oksigen yang cukup, jika tubuhnya mau menjadi kuat dan ulet, jadi kita juga tahu, dari sudut pandang psikologi yang lebih dalam, bahwa dia memerlukan suasana yang empatik, khususnya, sebuah suasana yg menjawab (a) kebutuhan agar keberadaannya diakui dalam semangat kesenangan orang-tuanya dan (b) kebutuhan untuk bersatu ke dalam ketenangan yang meyakinkan dari orang dewasa yg lebih kuat, jika dirinya mau menjadi teguh dan ulet. [13]

Muhammad mendapat pengalaman diabaikan dan disia-siakan pada enam tahun pertama kehidupannya, dan pemanjaan yang berlebihan setelah itu. Keadaan dia ini dengan demikian membuatnya matang dan kondusif untuk menjadi seorang narsisis.

Muhammad tidak pernah membicarakan ibunya. Jika dia pernah membicarakannya, pastilah ada tercatat dalam hadits. Dia kunjungi makam ibunya setelah menaklukan Mekah, tapi dia menolak untuk berdoa baginya. Apa tujuan dari kunjungannya itu? Mungkin ini adalah usaha utk memulihkan nama baiknya, sebuah cara untuk membuktikan pada ibunya bahwa meski dia disia-siakan, dia telah berhasil. Dilain pihak dia ingat kakeknya, yang menghujaninya dengan cinta dan memberinya kelimpahan pujian bagi jiwa narsisisnya, dengan penuh sayang.

Para psikolog mengatakan pada kita bahwa lima tahun pertama kehidupan seorang anaklah yang membentuknya atau merusaknya. Kebutuhan emosional Muhammad di masa lima tahun pertama kehidupannya tidak dipenuhi. Dia membawa kenangan menyakitkan akan tahun-tahun kesepian karena diabaikan dan disia-siakan ke dalam masa dewasa dan masa tua. Dia tumbuh dengan kegelisahan dan punya rasa pengertian terhadap dirinya sendiri yang berfluktuasi, sebuah kelemahan yang dia coba sembunyikan dengan melebih-lebihkan kesombongan lewat pertumbuhan rasa punya hak, keagungan, kekurangan empati dan ilusi superioritas.

Muhammad memilih Tuhan sebagai pasangannya. Sekutu khayalannya ini maha kuasa dan maha kuat. Ini membuat dirinya kuat tanpa batas. Dia satu-satunya yang punya akses langsung ke Allah dan dialah satu-satunya penguasa dibumi. Agar yakin tak seorangpun merampas posisinya, dia juga mengklaim sebagai nabi terakhir. Kekuasaannya, dengan demikian, menjadi mutlak dan kekal.

Pengaruh Khadijah terhadap Muhammad

Peran Khadijah dalam Islam belum sepenuhnya dihargai. Pengaruhnya pada Muhammad tidak dapat ditekankan secara berlebihan. Khadijah harusnya dianggap sebagai partnernya Muhammad dalam kelahiran Islam. Tanpa dia, mungkin, Islam tidak akan pernah ada.

Kita tahu bahwa Khadijah memuja suami mudanya. Tidak ada laporan bahwa Muhammad pernah bekerja setelah menikahi Khadijah. Setelah pernikahan, bisnis Khadijah kelihatannya menurun tajam. Ketika dia meninggal, keluarganya menjadi melarat.

Muhammad tidak mengurus anak-anaknya juga. Ditolak oleh dunia nyata, dia habiskan waktunya sendiri dalam gua-gua, mengundurkan diri ke dunia khayalan dan renungan. Kadang dia membawa makanan untuk persediaan berhari-hari, dan kembali hanya ketika makanan sudah habis. Lalu dia akan menuju ke kota, mengambil bekal lagi dan kembali ke gua.

Khadijah tinggal dirumah mengurus kesepuluh anak dia sendirian. Tapi dia tidak mengeluh. Dia tidak saja mengurus anak-anaknya dan rumah tapi juga suami mudanya, yang bertingkah-laku seperti anak kecil yang tidak bertanggung jawab. Tapi Khadijah senang berkorban. Kenapa?

Ini adalah pertanyaan yang penting. Jawabannya adalah bahwa Khadijah sendiri punya kelainan kepribadian. Dia punya penyakit yang di jaman kita sekarang disebut co-dependent (ketergantungan). Pengetahuan ini akan menolong kita untuk mengerti kenapa dia berdiri di samping suaminya dan mendorong dia melanjutkan karir kenabiannya.

The National Mental Health Association (NMHA) mendefinisikan co-dependency sebagai: “Kelakuan yang dipelajari yang bisa diturunkan dari satu generasi ke generasi lain. Hal ini adalah sebuah kondisi perangai dan emosi yang mempengaruhi kemampuan seorang individu untuk mendapat hubungan yang memuaskan kedua belah pihak dan sehat. Juga dikenal sebagai “relationship addiction” (ketagihan hubungan) karena orang dengan co-dependency sering membentuk atau mempertahankan hubungan yang satu pihak saja, yang secara emosional merusak dan/atau menghina. Penyakit ini pertama kali diidentifikasi sekitar 10 tahun lalu dari hasil bertahun-tahun mempelajari hubungan-hubungan antar manusia dalam keluarga alkoholik. Kelakuan Co-dependent dipelajari dengan mengamati dan meniru anggota keluarga lain yang menunjukkan kelakuan tipe ini.” [14]

Khadijah adalah seorang wanita yang menarik. Dia anak perempuan favorit dari ayahnya Khuwaylid. Malah Khuwaylid bergantung padanya, melebihi ketergantungan terhadap anak laki-lakinya. Khadijah adalah “anak sang ayah.” Dia telah menolak tawaran orang-orang kuat di Mekah. Tapi ketika dia melihat anak muda ini yang tak dimiliki siapapun, Muhammad yang butuh uang, dia jatuh cinta padanya dan mengirim pembantu untuk memintanya melamar dia.

Pada permukaan kelihatannya bahwa Muhammad punya pribadi yang memikat yang membuat wanita berkuasa terpukau. Ini, betapapun, adalah sebuah pengertian yang dangkal mengenai dinamika kompleks.

Tabari menulis: “Khadijah mengirim pesan pada Muhammad, mengundangnya untuk mengambil dia. Dia memanggil ayah untuk datang ke rumahnya, memberinya arak hingga mabuk, memberi parfum, memakaikan pakaian pesta padanya dan lalu memotong seekor sapi. Lalu dia undang Muhammad dan pamannya. Ketika mereka datang, ayahnya menikahkan Muhammad dengannya. Ketika dia sadar dari mabuknya, dia berkata “daging apa ini, parfum ini dan pakaian ini?” Dia menjawab, “kau telah menikahkanku pada Muhammad bin Abdullah”. “Aku tidak melakukan itu,” katanya. “Akankah kulakukan ini ketika orang-orang terhebat di Mekah memintamu dan aku tidak setuju, kenapa aku berikan kau pada seorang gelandangan?” [15]

Pihak Muhammad menjawab dengan marah bahwa persekutuan ini telah diatur oleh anak perempuannya sendiri. Orang tua itu marah dan menarik pedang dan kerabat Muhammad juga menarik pedang mereka. Darah akan mengalir jika saja Khadijah tidak menyatakan cintanya pada Muhammad agar diketahui banyak orang dan mengaku telah mengatur semua ini. Khuwaylid lalu menenangkan diri, sampai akhirnya dia menyerah telah di fait accompli dan rekonsiliasipun terjadi.

Khadijah adalah seorang wanita berhasil yang pesolek. Dia telah menolak lamaran dari banyak orang Quraish yg terkenal. Bagaimana orang menjelaskan seorang wanita yang kelihatan sukses dan berpikiran sehat mendadak jatuh cinta pada anak muda miskin yang 15 tahun lebih muda? Kelakuan aneh ini mengungkapkan adanya kelainan pribadi dalam diri Khadijah.

Bukti-bukti menandakan bahwa ayahnya Khadijah adalah seorang pemabuk. Khadijah mestinya tahu kelemahan ayahnya ini hingga dia merancang rencana yang begitu berani. Orang yang ketagihan alkohol cenderung lepas kontrol dan mabuk. Orang yang bukan pecandu alkohol minum secukupnya dan tahu kapan harus berhenti. Ketika Khuwaylid mabuk, pestanya belum dimulai dan para tamu belum lagi datang. Hal ini memberitahukan kita bahwa dia bukanlah peminum musiman saja tapi benar-benar peminum berat. Sekarang, kenapa hal ini jadi masalah? Karena ini adalah petunjuk lain untuk mendukung spekulasi bahwa Khadijah seorang yang mempunyai kecenderungan co-dependent. Anak seorang alkoholik sering mengembangkan co-dependency.

Ayahnya Khadijah terlalu melindungi anak perempuannya dan punya harapan-harapan yang tinggi baginya. Dari reaksinya akan pernikahan anaknya yang berumur 40 tahun dengan seorang yang biasa-biasa saja dan dari perkataannya “orang-orang terhebat di Mekah memintamu dan aku tidak setuju,” jelas bahwa Khadijah adalah mutiara di matanya. Khuwaylid punya anak-anak yang lain juga, termasuk beberapa anak lelaki, tapi terlihat jelas bahwa anak perempuannya inilah yang menjadi kebanggaan dan kebahagiaannya. Anak ini satu-satunya yang berhasil.

Anak-anak yang dipuji dan ditempatkan di tempat tinggi oleh orang tua yang memujinya tumbuh dalam bayang-bayang mereka. Mereka sering mengembangkan ‘codependency personality disorder’. Mereka menjadi terobsesi oleh ayah mereka (atau ibu mereka) dan melihat fungsi mereka untuk membuat orang tua mereka terlihat hebat dimata orang lain. Mereka diharapkan jadi semacam ‘wunderkind’ (orang sukses).

Di bawah tuntutan yang terus menerus meminta kemampuan lebih baik, sang anak menjadi tidak mampu mengembangkan pribadi mandirinya. Dia mencari pemenuhan untuk memuaskan kebutuhannya dari orang tua narsisis dan perfeksionis. Dia tidak merasa dicintai APA ADANYA, tapi dicintai karena dilihat BAGAIMANA prestasinya. Orang tua yang alkoholik mengeluarkan semua muatan emosinya pada sang anak, khususnya yang punya potensi. Dia mengharap anak itu untuk cemerlang dalam segala hal dan menggantikan kekurangan dan kegagalan dia sendiri.

Co-dependent tidak dapat menemukan kepuasan dan kebahagiaan dari hubungan emosional yang normal dan sehat yang biasa terjadi diantara orang-orang sederajat. Hanya dalam kapasitas pemberi kesenangan dan menjadi penyenanglah orang codependent menemukan kebahagiaan mereka. Pasangan yang “cocok dan tepat” bagi orang codependent adalah seorang narsisis yang sangat butuh pemuasan.

Khadijah menolak para pelamarnya yang lebih dewasa dan sukses, jatuh cinta pada anak muda miskin yang sangat butuh baik uang maupun emosional. Codependent keliru mengartikan rasa cinta dan rasa kasihan. Mereka punya kecenderungan untuk ‘mencintai’ orang yang seharusnya mereka kasihani dan bisa mereka selamatkan.

Vaknin memakai istilah “self effacing” (tidak menonjolkan diri sendiri) atau “inverted narcissism” (narsisisme terbalik), untuk istilah co-dependency. Inilah apa yang dia katakan tentang hubungan codependent-narsisis: “Orang narsisis invert dikondisikan dan diprogram dari awal utk menjadi teman sempurna bagi sang narsisis – utk memberi makan Ego mereka, utk secara murni menjadi kepanjangan tangan mereka, utk mencari pujian dan pengelu-eluan dan jika hal itu menghasilkan pujian dan pemujaan yang lebih besar kepada sang narsisist.” [16]

Hal diatas menjelaskan kenapa seorang wanita sukses dan cantik seperti Khadijah tertarik pada seorang narsisis dan butuh uang seperti Muhammad. Meski orang ‘narsisis invert’ cenderung sukses dalam bisnisnya, hubungan mereka sering tidak sehat. Vaknin lebih lanjut menjelaskan: “dalam sebuah hubungan, narsisis invert berusaha utk menciptakan kembali hubungan orangtua-anak. Sang narsisis invert berkembang dengan meniru/bercermin pada ‘kehebatan khayal’ sang narsisis dan ketika melakukannya sang narsisis invert itu sendiri mendapatkan suplai bagi ego narsisistiknya SENDIRI (ketergantungan sang narsisis pada sang invert akan suplai narsisistik sekundernya). Sang invert mesti punya bentuk hubungan sedemikian dengan sang narsisis demi merasa lengkap dan terpenuhi. Sang invert akan sudi bertindak sejauh yang dibutuhkan untuk meyakinkan bahwa sang narsisis itu merasa bahagia, merasa disayangi, merasa dipuja dengan cukup, karena dia pikir hal itu sudah menjadi hak sang narsisis. Sang invert memuliakan sang narsisis, menempatkannya di tempat tinggi, memikul semua pengorbanan bagi sang narsisis dengan ketenangan hati dan tahan penghinaan sang narsisis. [17]

Perkawinan Muhammad dan Khadijah kelihatannya cocok sekali. Muhammad adalah seorang narsisis yang haus untuk dipuji terus menerus, diperhatikan dan dikagumi. Dia seorang miskin, yatim dan secara emosional membutuhkan banyak hal. Dia seorang dewasa tapi jiwanya masih seperti anak-anak yang butuh perhatian. Dia membutuhkan seseorang yang merawatnya dan menafkahinya, seseorang untuk diperalat dan dimanfaatkan, seperti bagaimana anak kecil memperalat dan memanfaatkan ibunya.

Kedewasaan emosional seorang narsisis berhenti pada masa anak-anak. Kebutuhan pada masa kanak-kanaknya tidak pernah terpuaskan. Dia terus menerus mencoba memuaskan kebutuhan kanak-kanaknya tersebut. Semua bayi adalah narsisis dan itu diperlukan bagi tahap pertumbuhan mereka. Tapi jika kebutuhan narsisis mereka tidak dipuaskan ketika masa anak-anak, kedewasaan emosi mereka akan berhenti pada tahap ini. Mereka mencari perhatian yang mereka tidak dapatkan ketika kecil dalam hubungan dengan pasangan dan dengan yang lainnya, termasuk dengan anak-anak mereka.

Hasrat Muhammad akan cinta diungkapkan olehnya dalam banyak kejadian. Ibn Sa’d mengutip perkataannya bahwa keluarga-keluarga Quraish semuanya punya hubungan padaku dan meski jika mereka tidak mencintaiku karena pesan yang aku bawa pada mereka, mereka seharusnya mencintaiku karena kekerabatanku dengan mereka. [18] Dalam Quran Muhammad berkata: “Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upah pun atas seruanku kecuali cinta dari keluarga terdekat.” [19] Perkataan ini jelas merupakan jeritan putus asa dari seseorang yang butuh cinta dan perhatian.

Khadijah, dilain pihak, adalah seorang narsisis invert yang memerlukan objek untuk diperhatikan, seseorang untuk membuat khayalan-khayalannya sendiri sebagai seorang pemberi kesenangan. Orang co-dependent bukan saja rela diperalat, malah dia menikmati hal itu.

Vaknin menulis: “Narsisis invert hidup dan menggantungkan diri dari narsisis utama dan inilah suplai narsisistiknya. Jadi dua buah tipe narsisis ini dapat, pada pokoknya, menjadi saling mendukung, sistem yang simbiosis. Namun dalam kenyataannya, baik sang narsisis maupun sang invert perlu sadar akan dinamika hubungan mereka jika ingin hubungan mereka sukses dan awet.” [20]

Pakar psikologi Dr. Florence W. Kaslow, menjelaskan simbiosis ini dengan mengatakan bahwa kedua pihak masing2 punya kelainan kepribadian (Personality Disorder/PD) – tapi keduanya berada pada kedua ujung berlawanan dari spektrum ini hingga bisa saling mengisi. “Mereka nampak memiliki ‘ketertarikan maut’ (fatal attraction) satu sama lain dimana pola kepribadian mereka saling bertentangan tapi saling mengisi – itu sebabnya, jika mereka sampai bercerai, mereka akan tertarik pada pasangan yang mirip mantan pasangan mereka.” [21]

Hubungan simbiosis antara Sang Narsisis Muhammad dan Sang Narsisis Invert Khadijah memang bekerja sempurna. Muhammad tidak lagi harus bekerja setelah menikahi Khadijah yang kaya raya. Dia habiskan waktunya menggelandang di gua-gua dan tempat sepi sambil menikmati fantasinya yg subur, dunia yang menyenangkan dan baik padanya, dimana dia menjadi seorang yang paling disayang, paling dipuja, paling dihormati dan paling ditakuti. Khadijah jadi begitu sibuk dengan si suami yang narsisis ini dan memenuhi semua kebutuhan-kebutuhannya hingga dia mengabaikan urusan dagangnya. Bisnisnya kemudian jadi menurun dan kekayaannya menyusut drastis. Dia mestinya sudah berusia sekitar 50 tahunan ketika melahirkan anaknya yg paling muda. Ia tinggal di rumah sementara sang suami kebanyakan tidak pernah di rumah, menyendiri di gua-guanya, baik gua sebenarnya maupun gua mentalnya.

Menurut Vaknin, “Sang invert ini mematikan keberadaan dirinya, penuh pengorbanan, bahkan berpura-pura manis dalam hubungan-hubungan dengan orang lain dan akan menghindari bantuan dari orang lain itu dengan segala cara. Dia hanya bisa berinteraksi dengan orang lain jika dia bisa dilihat sebagai orang yang memberi, mendukung dan menghabiskan usaha-usaha yang tak biasa untuk membantu.” [22]

Dia juga menjelaskan co-dependent sebagai “orang yang menggantungkan diri pada orang lain untuk memberi kepuasan emosional dan hasil dari Ego atau fungsi sehari-hari lainnya.” Dia bilang “mereka butuh dukungan emosional, penuh tuntutan dan patuh. Mereka takut diacuhkan, sangat bergantung dan menunjukkan kelakuan tidak dewasa dalam usaha-usahanya untuk mempertahankan “hubungan” dengan pasangan yang dia jadikan tempat bergantung tsb.” [23]

Melody Beattie, penulis “Codependent No More” (Tidak Lagi Codependent) menjelaskan bahwa orang codependent secara tak sadar memilih pasangan yang bermasalah dengan maksud agar punya tujuan, merasa diperlukan dan merasa dipuaskan.

Orang waras manapun akan mengartikan pengalaman aneh Muhammad sebagai sakit jiwa atau “kerasukan setan,” seperti yang biasa dikatakan pada jaman itu. Bahkan Muhammad sendiri pikir dia telah menjadi seorang Kahin (penyihir) atau kerasukan setan. Seperti yang kita baca dalam Qur’an, orang-orang yang memakai akal di Mekah pikir Muhammad telah jadi majnoon, yang arti harafiahnya adalah kerasukan jin dan diartikan sebagai gila. Tapi pikiran demikian tidak kuat ditanggung Khadijah yang mengejar pemuasan dan kebahagiaan dengan cara memuaskan kebutuhan-kebutuhan sang suami. Dia harus bergantung pada sang Narsisis miliknya apapun akibatnya. Sebagai seorang Codependent (Narsisis Inverted), Khadijah merasa harus maju menolong, memberi saran dan menyelamatkan sumber utama suplai narsisistiknya.

Sang narsisis sering menuntut pengorbanan dari orang-orang di sekelilingnya dan mengharapkan mereka untuk menjadi ‘codependent’ bagi dia. Mereka juga hidup diatas kode-kode moral yang ada. Mereka terlalu tinggi untuk taat pada moralitas atau aturan apapun.

John de Ruiter adalah orang yang menyatakan diri Mesias dari Alberta, Canada. Para pengikutnya memuja dia seperti Tuhan. “Satu hari kami duduk di dapur merokok,” kata Joyce, istrinya, yang sekarang cerai, selama 18 tahun, dalam sebuah wawancara. “Dia membicarakan kematian saya. Ia mengakui bahwa saya telah melalui banyak kematian, yang katanya itu bagus. Saya harus melepaskan 95% dari hidup yang harus saya lepaskan. Tapi katanya saya tidak membiarkan diri saya lepas sepenuhnya. Dia bilang bahwa ‘kematian akhir’ saya akan terjadi jika dia mengambil dua orang istri lagi.” Joyce bilang dia pikir John bercanda. Ternyata tidak. Ia mengangkat masalah ini kedua kalinya, dan meminta Joyce apakah ia merasa tiga orang istri bisa hidup dalam satu rumah.” [24]
Untungnya Joyce belum sampai pada tahap co-dependent berat sehingga ia tidak sudi menerima penghinaan ini, dan meninggalkan suami narsisisnya. Seorang codependent asli akan melakukan apapun untuk menyenangkan pasangan narsisisnya. Hubungan antara codependent dan narsisisnya adalah hubungan Sadomasochisme (kecenderungan praktek psikologi/seksual yang dicirikan dengan gabungan kesadisan dan kepuasan karena siksaan).

Sialnya bagi umat manusia, Khadijah adalah seorang Co-dependent Sejati, yang sudi mengorbankan apapun bagi sang narsisis tercinta. Dialah yang mendorong Muhammad untuk mengejar ambisi kenabiannya dan memacunya ke arah itu. Ketika Muhammad tidak lagi mengalami ‘ayan’ dan tidak lagi melihat ‘para malaikat’, dia kecewa. Ibn Ishaq menulis: “Setelah itu, Jibril tidak datang padanya selama beberapa waktu dan Khadijah berkata, “kupikir Tuhan mestinya benci padamu.” [25] Hal ini menunjukkan betapa berhasratnya dia agar sang narsisis tercinta menjadi seorang nabi.

Kenapa Muhammad tidak mengambil istri lain selama Khadijah masih hidup? Karena, dia hidup dari uangnya dan di rumahnya. Lagipula, mayoritas orang Mekah mengejeknya. Dia disebut orang Gila. Tak seorangpun mau menikah dengannya meski misalnya dia punya uang sendiri dan Khadijah tidak jadi masalah. Di Mekah, para pengikutnya hanya segelintir budak dengan hanya sedikit wanita diantara mereka – tak seorangpun memenuhi hasratnya utk dinikahi. Kalau saja Khadijah masih hidup dan menyaksikan peningkatan kekuasaan suaminya, kemungkinan besar dia akan menelan penghinaan dimadu oleh wanita yang jauh lebih muda dan cantik.

Setelah kematian Khadijah, Muhammad tidak pernah menemukan co-dependent lain untuk mengurusi kebutuhan emosionalnya seperti yang pernah dilakukan Khadijah. Malahan, dia cari pemenuhan kepuasan tersebut dengan menjadi seorang playboy seksual. Hanya sebulan setelah kematian istrinya, Muhammad meyakinkan teman dan pengikut setianya, Abu Bakr, untuk mentunangkan dia dengan anak perempuannya yang berumur 6 tahun, Aisha. Abu Bakr terkejut. Dia mencoba menolaknya dengan halus, dengan berkata “tapi kita ini masih saudara.” Muhammad meyakinkan dia mereka hanya saudara dalam iman dan bahwa pernikahannya dengan anak kecil itu tidaklah haram. [26]

Dia lebih lanjut mengatakan padanya bahwa Aisha telah ditunjukkan padanya dua kali dalam mimpi; dimana dia melihat seorang malaikat membawa Aisha kecil yang dibungkus kain. “Aku bilang (pada diriku sendiri), ‘Jika ini dari Allah, maka ini harus terjadi.’” [27] Sekarang Abu Bakr tidak punya pilihan lain kecuali meninggalkan Muhammad, orang yang telah dia beri banyak pengorbanan, mencela dia, menyebut dia pembohong, kembali ke orang-orangnya sendiri dan mengakui pada mereka bahwa dia selama ini telah bodoh, atau, melakukan apapun yang Muhammad minta. Ini sering jadi pilihan yang sulit bagi para pemeluk aliran pemujaan (cult). Mereka terjebak dan setelah mengorbankan begitu banyak untuk mengikuti guru mereka; balik kembali jadi pilihan yang lebih menyakitkan dibanding tunduk akan keinginan dan tuntutan pemimpin mereka. Abu Bakr memohon pada Muhammad untuk menunggu tiga tahun lagi sebelum melaksanakan pernikahan (yakni meniduri si bocah). Muhammad setuju, tapi sementara menunggu itu, dia menikahi Sauda dulu beberapa hari kemudian.

Muhammad menciptakan sebuah harem yang terdiri dari banyak wanita. Dia mencoba menggantikan hilangnya ‘ibu penyenang’nya dengan setumpuk wanita muda. Dia terus menambah koleksi istri dan selirnya tapi tak satupun memenuhi kebutuhan kekanakannya seperti yang dilakukan oleh Khadijah. Dia butuh seorang ibu untuk mengurus ‘jiwa kekanak-kanakannya, sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh ‘istri-istri remaja’ bagi seorang lelaki yang sebenarnya patut jadi kakek mereka.

Advertisements