Sebelum mulai, adalah penting mengkaji ulang sejumlah fakta-fakta dasar dan istilah-istilah mengenai Islam dan struktur otoritasnya. Kitab Suci pertama dan yang terutama mengenai Islam tentu saja Qur’an. Qur’an dapat dianggap sebagai Alkitabnya Islam dan ini adalah kitab suci utama dari Islam. Qur’an seluruhnya diberikan oleh Muhammad, pendiri dan “Nabi” Islam. Makna kata “Qur’an” dalam bahasa Arab adalah “pembacaan” atau “pengajian”. Kitab ini terdiri dari 114 pasal yang disebut Surah.

Meskipun demikian, Qur’an bukanlah satu-satunya sumber tradisi suci atau yang diinspirasikan dalam Islam. Oleh karena jika ia disebut sebagai satu-satunya teks Islam yang dianggap sebagai kata-kata literal dari Allah maka Sunna juga dianggap setara nilainya bagi seluruh Muslim. Kebanyakan Sunna ditemukan dalam sejumlah koleksi tradisi yang dikenal sebagai Hadis. Ingatlah kata itu, sebab ia akan banyak dipakai di seluruh buku ini. “Sunna” dalam bahasa Arab secara literal artinya “jalan yang jelas atau seimbang”. Kata ini menunjuk pada apa yang dikatakan oleh Muhammad, yang ia lakukan, hal-hal yang ia maafkan atau kutuki. Ini adalah catatan mengenai perkataan-perkataan Muhammad, kebiasaan-kebiasaan, ajaran-ajaran atau contoh-contoh yang ia tinggalkan kepada semua Muslim untuk mereka ikuti. Muslim memandang Muhammad sebagai contoh sempurna dari seluruh mahluk hidup. Doktrin ini dinyatakan dengan jelas dalam Qur’an:

Jika engkau mengasihi Allah, maka ikutlah Aku (Muhammad)

Surah 3:31

Apa pun yang dikatakan atau dilakukan oleh Muhammad, menjadi dasar yang harus ditiru oleh seluruh orang beriman. Sunna sama pentingnya dengan Qur’an sebab ia mengintepretasikan Qur’an. Tanpa Sunna, maka Qur’an tidak akan bisa dipahami dengan tepat. Pada kenyataannya, banyak aspek dan praktek dari agama Islam tidak disebutkan dalam Qur’an tetapi hanya ditemukan dalam Sunna. Sebab itu, Qur’an dan Sunna bersama-sama membentuk dasar bagi keyakinan dan praktek-praktek yang harus dilakukan oleh Muslim dimana pun mereka berada. Dalam hal ini, Qur’an dan Sunna diyakini sebagai kitab yang diinspirasikan dan otoritatif. Saat dikonfrontasikan dengan sejumlah aksi kekerasan atau pengajaran-pengajaran dasar maupun praktek-praktek Islam, kebanyakan apologis Muslim akan mengajukan pertanyaan: “Dimana hal itu dikatakan dalam Qur’an?” Ini adalah sebuah usaha yang sengaja mereka lakukan untuk menyesatkan si penanya. Sebab, sebagaimana dikatakan di atas, apakah ajaran itu ditemukan dalam Qur’an atau hanya ditemukan dalam Sunna, tetapi itu semua adalah sebuah aspek esensial dari Islam.