“Saya diperkenalkan dengan pria yang akan menjadi suami saya. Saya dibawa ke dalam sebuah ruangan dan diberitahukan bahwa pria yang bernama Muhammad ini adalah orang yang akan saya nikahi. Saya tidak memiliki pilihan lain. Kami pun menikah pada bulan Mei. Segera setelah itu saya memasuki neraka.”

Tidak semua orang yang namanya dimasukkan ke dalam buku ini dilahirkan sebagai Islam. Meskipun begitu, sebagaimana yang akan kita lihat, banyak orang yang memeluk agama ini harus menghadapi banyak masalah. Mary bertumbuh sebagai seorang Kristen di Amerika Serikat dan pada tahun 1991 ia pindah agama menjadi seorang pemeluk Islam. Setelah pindah agama, Mary sangat yakin bahwa sekarang ia sudah menemukan jalan yang lurus. Namun demikian, sama halnya dengan wanita-wanita lain yang tak terhitung banyaknya, sekarang ia bisa ingat bagaimana hidupnya mulai berantakan setelah ia pindah agama Mary menjelaskan kisah mengerikan yang ia alami dan memperingatkan setiap wanita yang bermaksud menjadi pemeluk Islam. Islam tetap menjadi agama yang paling gampang untuk anda masuki, tetapi yang paling sulit adalah untuk meninggalkannya dan tetap hidup; khususnya bagi para wanita. Dan jika Islam pada akhirnya bisa menguasai Barat maupun negara-negara non Muslim, maka tidak hanya Mary, para wanita lainnya pun akan membayar harganya.

Kesaksian Mary
Saya masih ingat kenangan masa kecilku yang terbentuk di sekitar gereja. Aku diajak untuk menghadiri banyak aktivitas-aktivitas gereja sejak masih seorang gadis kecil.

Setelah pindah ketika saya berusia dua belas tahun, kami kembali mulai menghadiri kebaktian di gereja secara regular. Saya gembira saat kembali merasa sebagai bagian dari “keluarga gereja”. Tetapi apa yang tidak saya perhatikan pada waktu itu bahwa gereja ini adalah jenis gereja yang “sangat mengutamakan kesalehan, tetapi menyangkali kuasa yang ada di dalamnya.” Saya menghadiri kebaktian secara regular, meskipun orang tua saya semakin lama semakin jarang hadir di kebaktian. Segera saya menjadi satu-satunya anggota keluarga yang hadir. Saya mendengarkan kisah-kisah mengenai kebaikan dan iman yang disampaikan oleh pendeta, tetapi kisah-kisah itu tak bermakna apa-apa di telingaku, khususnya ketika anggota-anggota jemaat terlibat dalam dusta, menipu satu sama lain, dan saling memperlihatkan siapa yang memiliki uang paling banyak. Saat lulus dari SMA, saya hanya hadir di kebaktian secara sporadis.

Saya meninggalkan kota kami untuk belajar di College pada tahun 1990 dan mulai menjalani hidup saya sebagai seorang agnostik, dan penganut paham feminisme radikal. Saya tidak akan mempercayai agama apa pun yang mengajarkan bahwa wanita harus patuh. Ketika hubunganku dengan seorang pria bubar, saya mulai mencari Tuhan dan agama secara umum. Sekelompok besar mahasiswa Muslim mulai menghadiri universitas di sekitar tahun itu dan saya mulai berbicara dengan mereka melalui cara hidup yang dinamakan Islam. Mereka beritahukan kepadaku bahwa Islam itu adalah sebuah cara hidup, dan bukan hanya sebuah agama. Saya menjadi tertarik pada semua aspek dan semakin tertarik lagi pada fakta bahwa pria-pria Muslim terikat untuk merawat dan menjaga isteri mereka dengan penuh kelemahlembutan. Saya diberitahukan bahwa Nabi Muhammad menyampaikan kepada para pengikutnya bahwa “Yang terbesar diantara kalian adalah yang memperlakukan isterinya paling baik”, tetapi tak seorang pun memberitahukan saya dari Surah bahwa jika isterimu tidak taat, maka engkau bisa memukulnya sampai ia taat. Saya menginginkan seorang suami yang baik yang kelak akan mensupport saya dan memperlakukan saya dengan baik.

Saya menjadi seorang Muslim pada bulan November 1991, dan segera situasi di dalam kehidupanku menjadi kacau. Saya begitu yakin bahwa saya telah menemukan jalan yang benar sehingga saya jadi suka berdebat dengan rekan-rekan kerjaku dan tak lama kemudian saya pun dipecat. Saya mulai mencari pekerjaan lain dan imam memberitahukan padaku bahwa saya harus pulang ke rumah orang tuaku sebab Islam melarang wanita single hidup sendiri. Saya pulang ke rumah bulan Januari 1992. Bisa dimengerti ketika orang tuaku tidak suka melihatku mengenakan pakaian tradisional Muslim dan mereka coba melarangku untuk mengenakannya saat mereka memiliki kesempatan. Tetapi semuanya itu tidak merubah pendirianku, aku tetap mengenakannya. Segera keluarga dan teman-temanku sebelumnya menjadi enggan ada di sekitarku dan aku secara eksklusif menghabiskan lebih banyak waktu dengan orang-orang Muslim.

Bulan Februari 1992, saya diperkenalkan dengan calon suami saya. Saya cuma diajak memasuki sebuah ruangan dan diberitahukan bahwa ia adalah pria yang akan saya nikahi. Namanya Muhammad. Saya tidak punya pilihan lain. Kami pun menikah bulan Mey. Segera saya masuk ke dalam neraka. Saya tidak diijinkan meninggalkan apartemen tanpa seijinnya, dan dilarang menyalakan ac dalam kondisi apa pun. Saya berkeringat selama musim panas yang membuat kulitku menjadi gatal. Muhammad memaksaku untuk mengembalikan mobilku pada orangtua saya, karena itu sejak bulan September saya benar-benar terkungkung di rumah. Hal yang tidak saya mengerti dari suami saya adalah bahwa ia akan menghabiskan waktu berjam-jam di luar rumah dan tak pernah mengajakku pergi dengannya. Kemudian saya segera menyadari bahwa Islam melarang kami mendengarkan musik. Ini pertama kali saya merasa terpukul.

Setelah setahun menikah, ia bersiap-siap untuk kembali ke Maroko (tanpa saya) untuk mengunjungi keluarganya. Sebelum ia berangkat, kami melakukan perjalanan sehari ke Dallas dimana ia tidak mengijinkanku membawa makanan kecuali sekantung kecil keripik. Karena kami tidak punya apa pun untuk dimakan di rumah, maka saya menelepon salah seorang dari teman saya yang tahu bahwa Muhamamad sering meninggalkan aku sendirian di rumah tanpa makanan.

Saya menunggunya untuk membawakanku roti sandwich untuk makan malam, ketika tanpa disangka-sangka Muhamamad pulang ke rumah. Ia telah mendengar telepon itu dan menjadi penasaran. Ia memberitahukan saya untuk mempersiapkan barang-barang saya dan berangkat keesokan harinya. Ia mulai memukuliku dan berteriak kepadaku, hingga memekakkan salah satu gendang telingaku. Saya berlari meminta pertolongan ke rumah seorang teman. Dengan menangis Muhammad datang meminta maaf dan kami pun kembali bersama-sama.

Setelah ia kembali dari Maroko, saya berhasil mendapatkan pekerjaan dan sanggup membayar sejumlah tagihan dan memiliki cukup makanan untuk dimakan (ia membiarkan aku mengambil kembali mobilku dari orang tua aku). Meski demikian saya mulai menyadari bahwa ini bukanlah sebuah pernikahan. Kami hanya sekedar teman satu kamar dan yang satu meneror yang lain.

Saya mulai mempertanyakan sejumlah hal mengenai Islam: kemunafikan dan perkelahian di kalangan tertentu, disamping perlakuan terhadap kaum wanita. Saya diberitahukan untuk tidak menanyakan apa pun dan apa yang harus saya lakukan adalah membaca maka saya akan mengerti. Saya mulai merindukan menjadi seorang wanita yang tidak harus mengenakan pakaian yang berat dan harus menghadapi tatapan yang tidak menyenangkan dari orang lain. Saya dituduh sebagai penyebab terjadinya keguguran ketika saya mencoba dengan sekuat tenaga untuk bisa hamil. Saya menangis kepada Allah mengapa Ia tidak mengijinkan saya menjadi seorang perempuan Muslim yang berhasil menunaikan kewajibannya dengan melahirkan anak. Saya menjadi lebih depresi dan bahwa berdoa kepada Allah agar Ia mengambil nyawaku. Di akhir usia pernikahan kami yang ketiga, Muhammad memutuskan bahwa ia akan berangkat lagi ke Maroko. Ia beritahukan kepadaku bahwa ia tidak perduli kemana aku akan pergi atau apa yang akan aku lakukan; ia akan pulang ke rumahnya. Saya mendapatkan kembali apartemenku dan ketika aku tidak lagi mendengar kabarnya selama satu bulan, maka aku pun mengajukan cerai. Imanku menjadi hancur begitu juga kesehatan dan keuanganku. Setelah banyak menangis, saya kembali mengunjungi sebuah gereja. Hal ini memerlukan waktu berbulan-bulan, tetapi pada akhirnya saya merasa seperti berada di rumah kembali.Kendati demikian, setelah lebih besar, keluarga kami semakin jarang pergi ke gereja, dan segera kami menghabiskan Hari Minggu menonton televisi dan melakukan aktifitas santai lainnya. Ketika berusia 9 tahun, keluarga kami mulai menghadiri sebuah gereja independen kecil dengan doktrin yang berat. Retorika yang biasa disuarakan dari gereja ini adalah keyakinan-keyakinan seperti “singkirkan rotan, manjakan anak,” dan “isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu.” Mereka tak pernah menyebutkan tanggungjawab yang menjadi bagian suami atau orangtua. Sebagai akibatnya, saya menjadi sangat takut ketika saya pergi ke sekolah, ke gereja, dan ke Sekolah Minggu, dan meyakini bahwa saya akan dipukul atau dipermalukan. Mereka tidak akan membiarkan para gadis memimpin pernghormatan kepada bendera atau berdoa karena para gadis dianggap lebih rendah dari anak laki-laki. Kami hanya pergi ke gereja itu selama beberapa bulan, tetapi hal itu memberikan pengaruh yang besar atas kehidupan saya.