“Motif dari para Islamis adalah Islam – bukan terorisme, bukan Irak, bukan Afghanistan. Terorisme hanyalah sebuah alat yang dipakai, tetapi motivatornya adalah Al Quran, dan goal akhirnya adalah Islam. Tidak akan ada pesan yang lebih jelas daripada ini. Peradaban dunia tengah berada dalam peperangan – sebuah perang dengan Islam.

Setiap hari dalam keputusasaan orang-orang terpelajar dan para politisi menawarkan rangkuman yang tak habis-habisnya mengenai apa yang sedang terjadi dalam dunia Islam. Mengikuti berita pembunuhan Benazir Bhutto di Pakistan, debat mengenai al-Qaeda terjadi sekali lagi. Tetapi tampaknya hanya sedikit yang memiliki solusi bagaimana menghentikan Islam radikal. Sebenarnya, kebanyakan agen-agen keamanan internasional berpendapat bahwa masalahnya bukan apakah serangan teror besar lainnya akan terjadi atau tidak, melainkan kapan itu akan terjadi. Abul Kasem percaya bahwa ia memiliki sebuah solusi.

Kita hanya bisa mengerti tentang Islam jika kita mengerti teks-teks Islamik. Dengan membaca teks-teks ini, kita yang ada di Barat tidak akan terkejut dengan kekerasan yang kita saksikan dalam dunia. Islam tidak menyangkali hakekatnya yang sesungguhnya, jika demikian mengapa kita harus menyangkalinya? Abul meninggalkan Islam untuk alasan ini dan mendesak orang-orang lain pun untuk menjauhi Islam.

Kesaksian Abul

Saya menuliskan kesaksian ini sebab inilah saatnya bagi kita untuk sepenuhnya memahami luasnya masalah yang tengah kita hadapi. Saya tidak memiliki agenda politik atau teologi. Tetapi saya sangat menaruh perhatian dengan masa depan dunia yang bebas – dunia yang kita lihat tengah terkoyak selama beberapa tahun terakhir ini karena ektremisme Islam. Karena hal ini saya membagikan pada anda pengalaman saya dengan Islam.

Saya selalu mempertanyakan apa pentingnya agama dalam hidup kita dan praktek-praktek yang tidak manusiawi dan tak logis yang ada dalam banyak agama, termasuk Islam. Anda mungkin terheran-heran apa yang memicu ketidaksukaan saya pada agama. Hal ini dimulai sejak saya masih sekolah, yaitu ketika saya menyaksikan sendiri pembunuhan terhadap seorang teman dekat saya yang beragama Hindu (bersama dengan seluruh anggota keluarganya) di Chandpur, Bangladesh. Saya tidak akan pernah menghapus kenangan itu dari pikiranku. Tak diragukan lagi, itu adalah sebuah pengalaman yang menghancurkan.

Lebih mengejutkan bahwa banyak Muslim yang gembira dengan pembantaian itu, dan bahkan mereka lebih jauh lagi mendukung ide bahwa kami (orang-orang Muslim) seharusnya membunuh lebih banyak lagi orang Hindu, sebab orang-orang Muslim di India pun dibunuh oleh Hindu. Para rohaniwan Muslim juga mendeklarasikan bahwa membunuh orang Hindu adalah sebuah tindakan jihad dan karena itu, mereka yang berpartisipasi dalam jihad akan dihadiahi Surga. Dalam usia yang masih rapuh seperti itu, saya hanya tahu sangat sedikit mengenai Islam dan tak ada yang saya ketahui mengenai agama-agama lain. Meski begitu, hati nurani kecil di dalam saya memberitahukan saya bahwa apa yang dilakukan dan dipraktekkan bukanlah hal yang benar. Walaupun demikian, saya tidak punya daya untuk merubah peristiwa-peristiwa yang telah terjadi.

Insiden lainnya melibatkan diri saya sendiri. Saya hampir tewas ketika tentara-tentara Pakistan dan para suporter fanatik menyerang aula tempat tinggal universitas saat malam buta pada tanggal 25 Maret, 1971. Saya masih belum tahu bagaimana saya bisa lolos dari maut sementara kebanyakan rekan-rekan universitas saya tewas dalam kejadian itu. Ditemukan peluru dimana-mana. Untungnya saya berhasil melompati tembok tinggi, yang saya yakin tidak mungkin bisa saya lakukan lagi. Ada banyak kejadian-kejadian lain selama periode itu dan tepat sebelum kemerdekaan negara kami, kembali saya berhasil meloloskan diri dari kematian yang hampir merenggut nyawa saya yang dilakukan oleh para pengikut fanatik Islam. Semua kejadian itu menumbuhkan benih ketidakpercayaan yang dalam terhadap agama Islam di pikiran saya. Pada saat itu, banyak juga teman-teman saya yang membagikan kepada saya pandangan yang sama. Dan secara natural, saya merasa sangat gembira bahwa akhirnya kami berhasil melalui tirani religius.

Namun celaka! Sesuatu yang aneh terjadi sekarang, dimana banyak teman-teman dekat ketika saya masih di universitas dulu yang sekarang malahan menjadi para pengikut fanatik Islam. Saya bertemu dengan mereka kebanyakan di luar negeri. Mereka mempunyai kehidupan yang bagus di Timur Tengah. Mereka secara terbuka mendukung sejumlah aksi yang dilakukan para tentara Pakistan dan pengikut-pengikut fanatik mereka. Mereka mendukung dengan kuat jika seluruh penduduk dunia menjadi Islam dan akan melakukan apa pun untuk mencapai hal itu. Hanya dengan demikian kata mereka, ”akan ada damai.”

Bahkan di negara seperti Australia, banyak dari para Islamis ini yang berani berkata, ”Kami datang ke Australia untuk membebaskan orang-orang di sini dari aktifitas-aktifitasnya yang berdosa dan merubah mereka menjadi Islam.” Salah satu goal mereka adalah mendirikan mesjid di setiap pinggiran kota di Australia. Tentu saja, ini adalah bahan tertawaan bagi orang-orang Australia. Kapan pun saya bertemu dengan kawan-kawan lama ini, hal itu benar-benar menghancurkan hatiku. Ketika saya bertanya kepada mereka, apa yang membuat mereka menjadi berubah seperti itu, mereka mengakui bahwa mereka sangat dipengaruhi oleh orang-orang Arab. Meskipun banyak dari mereka yang sangat benci dengan perlakuan kasar (dalam banyak kasus diperlakukan sebagai budak) oleh orang-orang Arab. Namun demikian, mereka merasa sangat bersyukur kepada orang-orang Arab karena memberikan mereka pekerjaan dan uang yang banyak. Banyak dari orang-orang Bengali ini bangga berpakaian seperti orang Arab. Secara literal mereka menghapuskan kenangan akan pembunuhan massal (genosida) yang terjadi di Bangladesh dan bahkan beberapa dari mereka membenarkan terjadinya genosida itu sebagai cara untuk memurnikan Islam. Hal ini membawa saya untuk menyimpulkan bahwa Islam tak lain dari usaha mengawetkan hegemoni Arab dan perbudakan atas negara-negara miskin seperti Bangladesh.

Anehnya, tak satu pun dari para Islamis ini yang ingin pindah ke negara-negara Islam. Tak satu pun dari mereka yang memilih untuk hidup di tengah-tengah masyarakat Islamik. Mengapa? Kebenarannya adalah, tak satu pun dari negara-negara Arab itu yang menginginkan mereka. Negara-negara ini hanya untuk orang-orang Arab. Dimanakah sebenarnya persaudaraan Islam itu? Orang-orang Arab adalah orang-orang yang licik. Mereka menggunakan Islam sebagai umpan yang kuat untuk meneruskan tradisi tua perbudakan dalam format abad ke dua puluh satu. Perkiraan saya hal ini akan semakin meningkat selagi harga minyak terus naik. Orang-orang fanatik ini memanfaatkan keterbukaan dan keadilan dari institusi-institusi demokratik di negara-negara seperti Australia untuk mempropagandakan doktrin-doktrin mereka yang penuh dengan racun.

Di sini ada beberapa kalimat dari Quran dan sumber-sumber Islam lainnya yang saya anggap sebagai hal yang menjijikkan, penuh dengan perasaan tidak suka, kebencian, dan fasis. Saya mempelajari dengan seksama Quran, Hadis, Sharia dan Sirah (biografi Muhammad) sebelum akhirnya saya menjadi yakin bahwa Islam bukanlah sebuah agama. Islam penuh dengan kepalsuan, barbarik, dan imperialistik. Persepsi saya mengenai Islam dikonfirmasikan melalui peristiwa-peristiwa yang terjadi tanggal 11 September, Madrid, Bali, Bombay, Istanbul, London, Jakarta……. dan sebagainya.

Dan Allah tidak menjadikannya (mengirimkan bala bantuan itu), melainkan sebagai kabar gembira agar hatimu menjadi tenteram karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Surah 8:10)

Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman,

Dan menghilangkan hati panas orang-orang mukmin. Dan Allah menerima tobat orang-orang yang dikehendakinya. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (Surah 9:14,15)

Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir maka pancunglah batang leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka, dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berhenti. Demikianlah, apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka; tetapi Allah ingin menguji sebahagian kamu dengan sebahagian yang lain. Dan orang-orang yang gugur pada jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka. (Surah 47:4)

Bukankah seharusnya orang-orang kafir Barat yang telah jatuh cinta dengan para apologis Islam (atau orang-orang moderat, Islam yang damai) mendapatkan pelajaran dari ayat-ayat di atas? Pesan ringkas dari ayat-ayat itu sangat keras dan jelas, bahkan seorang anak sekolah dasar kelas satu, setelah dengan rajin membaca kata-kata Allah yang tak mungkin salah, akan memberitahukan anda bahwa pelaku penganiayaan 11 September, 3 September, 7 Juli … sebenarnya mereka, hanya melaksanakan apa yang diperintahkan Allah untuk mereka lakukan. Bahkan jika hanya 10 persen dari orang-orang Muslim (jumlah ini sama dengan sekitar 100,2 juta para Jihadis yang baru lahir) yang ada di dunia kita, dengan keyakinan penuh akan iman mereka, memutuskan bahwa mereka akan bertindak sepenuhnya berdasarkan ayat-ayat ini, maka jumlah ini seharusnya cukup untuk melenyapkan orang-orang kafir. Ini lebih dahsyat dari bom atom yang dimiliki oleh orang-orang kafir. Tidakkah ini sesuatu yang sangat mengejutkan?

Sebab itu, logika sederhana bahwa mayoritas orang-orang Muslim adalah pencinta perdamaian, taat hukum, dan bukan teroris Islam adalah sesuatu yang kosong. Yang terutama untuk menjadi perhatian kita semua bukanlah mayoritas umat Muslim, melainkan 10 persen dari orang-orang Muslim yang sedang merusak peradaban kita hari ini. Hal ini bisa diumpamakan dengan serangan sebuah virus. Saya heran bagaimana logika sederhana dan sangat sempurna seperti ini tidak masuk di kepala para politisi kafir sehingga mereka mampu memberikan penilaian politis yang tepat? Mereka cukup puas bahwa mayoritas orang Muslim menentang terorisme Islamik; dan berpikir bahwa terorisme Islam cepat atau lambat akan lenyap.

Khayalan ini telah melumpuhkan para pembuat kebijakan di Barat. Mereka percaya bahwa bagaimana pun juga, dengan mengambil jalan pembenaran secara politis, maka ayat-ayat Allah yang tak bisa diubah itu suatu hari kelak akan lenyap, atau setidaknya “tidak akan dipraktekkan” oleh mayoritas orang-orang Muslim. Saya mengajak para politisi “buta” dan “belum tercerahkan” ini untuk mengunjungi sebuah Surga Islam, daripada melakukan negosiasi dengan para pemimpin Islam yang korup, mengunjungi mesjid, universitas, sekolah tinggi, atau sebuah madrasah untuk menanyakan apa yang diyakini oleh para siswa Muslim mengenai arti jihad atau apa yang mereka pahami mengenai serangan-serangan teror di kota-kota yang ada di negara-negara Barat. Jawaban yang fasih dari para Islamis muda ini boleh jadi akan membuat gemetar orang-orang kafir yang tak berpengetahuan itu. Yakinlah, para pelajar Muslim ini akan memberikan sebuah penjelasan lengkap mengenai ayat-ayat di atas: yaitu, Quran sendiri menyerukan agar tangan-tangan Muslim menghancurkan secara sempurna orang-orang kafir dengan cara apa pun.

Mari kita merangkum apa yang akan dilakukan oleh dunia non Muslim yang beradab kepada musuh yang berkepala batu seperti itu.

Di sini ada beberapa langkah yang diadopsi oleh orang-orang kafir untuk meredakan “amukan”, dari teror Islamik yang kelihatannya tidak bisa dihentikan:

Menjamin kotbah-kotbah dan indoktrinasi Islam melalui memberikan ijin kepada mereka untuk membangun banyak mesjid baru, madrasah, musala, sekolah tinggi Islam, sekolah dasar dan sekolah perawat Islam, universitas-universitas Islam, dan lain sebagainya. Dalam Surga Islam, mengganti agama selain Islam adalah sebuah kejahatan yang sangat serius; dan hal ini bisa mengakibatkan seseorang dijatuhi hukuman mati;

Mengijinkan gelombang imigrasi para Islamis ke teritorial kafir, lupa bahwa tujuan utama para Islamis ini untuk bermigrasi ke negara kafir adalah untuk merubah tanah-tanah yang haram/najis ini menjadi Surga Islam yang murni dengan paksaan atau dengan tipuan, dan jika perlu, melalui bekerjasama dengan para teroris Islamis yang hidup dan berkembang bersama-sama dengan mereka, maupun yang berasal dari Timur Tengah;

Mengijinkan bertumbuhnya pusat-pusat Islam dan organisasi-organisasi pelajar Islam di universitas-universitas dan sekolah-sekolah tinggi lainnya. Inilah tanah subur tempat bersembunyi para teroris Islam;

Mengijinkan para Islamis untuk menggunakan ruangan-ruangan yang tinggi nilainya, yang ada di institusi pendidikan, kantor-kantor, dan pabrik-pabrik untuk dipakai sholat. Hak untuk menggunakan ruang doa ini (orang-orang kafir mengkaitkan bahasa tubuh ini sebagai kebebasan beragama; sementara para Islamis menertawakan kebodohan orang-orang kafir itu), tidak diberikan kepada orang-orang beragama lain, atau ditolak ketika diminta. Orang mungkin bertanya, mengapa ada kebijakan bermuka dua seperti ini? Mengapa hanya para pelajar/pekerja/anggota-anggota staf Muslim yang mendapatkan hak istimewa seperti ini – kendati ada sejumlah orang dari anggota-anggota mereka yang mati-matian berusaha menghancurkan peradaban Barat? Apakah ini sebuah pendekatan yang tepat dalam memerangi ekstremisme dan terorisme Islam? – dengan memberi makan para Islamis barbarik ini dengan nutrisi dan memelihara mereka tanpa perlu diperiksa secara seksama terlebih dahulu?

Hanya mau menegaskan bahwa orang-orang kafir telah menuai apa yang sudah mereka tabur selama bertahun-tahun, pada tanggal 7 Juli, 2005 Islam “sejati” menyerang London dengan kehancuran yang tiba-tiba – balas dendam Allah yang tak terbatas. Sejak perbuatan keji terhadap Inggris itu, mereka masih terus berusaha untuk menyerang kembali dan akan terus berusaha untuk melakukannya.

Lalu bagaimana pemerintah Inggris (atau pemerintah kafir lain) mengatasi ancaman dari Islam radikal ini? Di sini saya berikan beberapa prediksi saya:
Orang-orang non-Muslim akan dilarang untuk mengunjungi pusat-pusat Islam dan mesjid-mesjid. Hal ini dilakukan sebagai respon atas tuntutan para Islamis yang “damai” agar mereka diberikan lebih banyak kebebasan untuk melakukan apa yang ingin mereka lakukan di mesjid-mesjid dan di pusat-pusat Islamik, sebab itu tak seorang pun non-Muslim yang diijinkan mencampuri urusan mereka. Orang-orang kafir diminta agar mereka menghormati privasi Muslim.

Akan ada lebih banyak dialog antar-agama, yang artinya menyediakan ruang lebih luas dan lebih banyak bagi para Islamis dengan platform yang kuat untuk menyerang dan mengkritik peradaban Barat dan non-Muslim. Dalam Islam, tidak ada yang namanya “dialog antar agama”. Pergilah ke sebuah Surga Islamik dan sebutkan kata-kata ini, maka mereka akan mentertawai anda.

Dianggap sebagai tindakan ilegal mengutip ayat-ayat bernada kebencian dari Quran dan Hadis.

Situs Internet yang menganalisa dan membedah Islam akan diperintahkan untuk ditutup. Namun, pemerintah kafir akan memberikan subsidi kepada organisasi-organisasi Islamik untuk mendirikan dan menjalankan website Islamik yang mengkotbahkan Islam yang “damai” dan “moderat”. Dalam bahasa orang-orang kafir, ini disebut sebuah program “penjangkauan” (outreach).

Setiap orang yang mengucapkan kata, kalimat, atau pesan apa pun, atau orang yang mendemonstrasikan perilaku yang tidak pas terhadap Islam/Muslim, atau mereka yang kata-katanya menyerang seorang Islamis, maka ia akan didenda dengan jumlah uang yang besar atau dibawa ke pengadilan (sama seperti melakukan pelanggaran lalu lintas).

Siapa pun yang mendiskusikan terorisme Islamik atau dengan sembunyi-sembunyi mengedipkan sebelah mata kepada seorang Muslim yang kebetulah tengah berada didekatnya, maka ia akan ditangkap dan didenda. Orang kafir menyebut ini sebuah tindakan pencemaran. Namun demikian, orang-orang Muslim akan diijinkan untuk mengkritik Kekristenan, Yudaisme, Budhisme dan Hinduisme.

Mesjid-mesjid akan diijinkan memakai pengeras suara untuk menyebarkan, lima kali sehari, lantunan dari ayat-ayat suci Islam yang indah itu. Setelah itu, orang-orang Muslim yang sudah cukup lama tinggal di negeri kafir, masih mengeluhkan bahwa larangan-larangan yang mereka dapatkan selalu menjadi poin yang menjengkelkan. Mereka masih terus mengeluhkan kurangnya kebebasan beragama dalam menginseminasi udara yang ramah, bersih dan tenang dengan seruan-seruan surgawi (baca Azan). Bagi agama-agama lain, menggunakan pengeras suara di luar gedung ibadah mereka dianggap telah menyebabkan polusi suara. Orang-orang yang mengorganisir hal ini akan didenda karena telah mengganggu ketenangan. Tetapi adzan Islam yang bising itu dianggap sebagai musik ilahi.

Setiap surat kabar yang mempublikasikan artikel-artikel yang dianggap sebagai serangan terhadap Islam, akan menghadapi hukuman yang keras. Pemerintah yang berkuasa akan memaksa surat kabar-surat kabar orang kafir menyediakan ruang iklan gratis untuk menyebarkan Islam yang damai (hal ini terjadi di Australia). Para Islamis akan diperbolehkan untuk mempublikasikan artikel-artikel yang memfitnah agama-agama lain. Hal ini dikenal sebagai toleransi Islamik, dan pemerintah kafir yang tidak Islamik akan menghormati merek toleransi Islam seperti ini.

Untuk mendamaikan para Islamis, pemerintah kafir akan mengabulkan tuntutan mereka atas pemberlakuan Hukum Syariah untuk diaplikasikan kepada orang-orang Muslim. Orang-orang Muslim akan memiliki parlemen mereka sendiri – Majelis Islamik atau Dewan Shura. Muslim akan memiliki ”Departemen” dan “Sistem Hukum ” yang terpisah. Bahkan mereka akan mendapatkan pantai, tempat bermain, gimnasium, pusat fitnes, arena piknik, tempat mencuci, ruang bayi, hostel, tempat bersalin, toilet umum, restoran, fasilitas untuk merawat orang tua, pasar yang hanya menjual barang-barang halal, rumah sakit, yang kesemuanya terpisah….Wanita yang mengenakan bikini atau tidak mengenakan pakaian Muslim ketika berada di pantai Islamik atau tempat-tempat Islamik lainnya, maka mereka akan menghadapi sidang Syariah Islamik. Karena ia ada di teritorial Islamik, maka ia harus tunduk pada hukum Islamik; hukum-hukum sekuler yang diperuntukkan bagi mayoritas besar penduduk kafir, tidak bisa diaplikasikan padanya.

Ketika bertemu dengan seorang pria Muslim, seorang wanita kafir harus mengenakan jilbab atau pakaian yang gelap sebagai tanda penghormatannya kepada Islam. Jabatan tangan tidak diijinkan. Prosedur ini akan menjadi sebuah hukum. Setiap wanita kafir yang melanggar peraturan ini akan diperhadapkan dengan pengadilan Syariah, bukannya pengadilan sekular.

Di universitas dan perguruan tinggi, bahkan jika hanya ada satu orang pelajar Muslim, jika ada siswa lain yang membicarakan tentang Islam akan dikenakan disiplin. Pengajar/profesor/guru harus mengijinkan siswa Muslim untuk masuk dan keluar kelas ketika ia bermaksud melakukan sholat. Prosedur khusus berlaku untuk siswa-siswa Muslim – untuk menegakkan kebijakan yang tegas. Hal ini untuk mengganti tindakan diskriminatif dan ketidakadilan pada masa lalu, yang dilakukan terhadap penduduk baru.

Pemerintah Inggris akan mengijinkan para Islamis melakukan latihan bela diri, untuk melindungi diri mereka jika ada serangan yang dilakukan dengan alasan warna kulit/agama. Muslim diijinkan untuk membentuk pasukan pertahanan diri atau korps pasukan siap siaga. Di masa yang akan datang, korps pertahanan diri Islamik ini akan menuntut sebuah teritorial tertentu di dalam wilayah Inggris untuk secara eksklusif disediakan bagi Muslim. Hampir tak bisa dipercaya, pemerintah Inggris mengabulkan tuntutan Islamik ini.

Para pembaca mungkin menertawakan sejumlah ide-ide yang saya bayangkan di sini, yang secara khusus bisa diterapkan kepada Islamis yang tinggal di negeri-negeri kafir. Tetapi tunggu sebentar; inilah yang sebenarnya dikatakan oleh Quran. Orang-orang Muslim adalah ciptaan Allah yang terutama. Dunia kafir berhutang kehidupan pada mereka, sebab jika tidak maka mereka akan diijinkan Allah untuk menciptakan teror, kehancuran dan penganiayaan. Mereka berhak atas perlakuan yang diluar kebiasaan seperti itu karena Allah menetapkan mereka untuk memerintah dunia dan menundukkan semua agama-agama lainnya.

Apa yang terjadi jika orang-orang kafir menolak untuk menyetujui hak-hak khusus yang diberikan kepada para Islamis itu? Jawabannya ada pada ayat yang dikutip di bawah ini: Anda akan mendapatkan 9 September, 3 November, Bali, Jakarta, Casablanca, Madrid, London, Istanbul, dan seterusnya….

ketika organisasi-organisasi intelijen terbaik dunia, seperti CIA, FBI, Scotland Yard, M15, M16, dan lain sebagainya gagal dalam mengungkapkan sebuah dugaan mengenai siapa sebenarnya para teroris tak berotak ini (yaitu sebelum mereka melakukan penyerangan), dan mengapa mereka melakukan perbuatan-perbuatan yang sangat mengerikan, seorang bertanya-tanya apa yang salah dengan membangun reputasi seperti ini? Jawaban atas teka-teki ini cukup mudah. Orang-orang kafir ini tidak memahami Islam. Mereka memancing di perairan yang salah. Mereka pikir teroris Islam seperti IRA, Macan Tamil, Separatis Basque, para teroris komunis, dan sebagainya. Mereka sama sekali salah. Untuk memerangi terorisme Islamik maka mereka terlebih dahulu harus memahami Islam. Sebelum mereka mengambil sebuah alat untuk melakukan pengintaian, mereka harus terlebih dahulu mengambil dan membaca Quran secara menyeluruh. Sebelum mereka dilatih untuk menggunakan senjata apa pun, mereka harus terlebih dahulu membaca Hadis dan Syariah dan melihat “keindahannya.”

Inilah cara yang dilakukan Islamis untuk melatih para Jihadis. Mereka (para teroris Islam) pertama-tama diindoktrinasikan dulu ke dalam “Islam Sejati” sebelum mereka belajar bagaimana menangani bahan peledak dan menggunakan senjata serta amunisi. Mereka tahu persis bagaimana caranya mengilhami para pejuang Islamik. Orang-orang kafir hanya tidak memiliki perasaan; mereka meletakkan kereta di depan kuda. Tidakkah anda berpikir bahwa para Islamis ini lebih cerdas dari semua organisasi-organisasi intelijen dunia yang terkenal itu? Mari kita hadapi kebenaran: dalam perencanaan strategis, kelicikan dan kecerdikan mereka, para Islamis ini telah mengalahkan tim-tim intelijen kafir.

Karena itu, pasukan anti-teroris (dari orang-orang kafir) harus mempelajari beberapa pelajaran dari para Islamis. Mereka harus belajar bagaimana mengalahkan musuh mereka dalam permainan mereka sendiri. Sekali pasukan-pasukan ini mempelajari apakah sesungguhnya Islam sejati itu, mereka akan dengan mudah melakukan pemetaan strategi-strategi yang tepat untuk membinasakan terorisme Islamik, bagi kebaikan. Di samping itu, untuk mengetahui “Islam sejati”, biayanya pun cukup murah!

Sebuah titik berangkat yang baik adalah dengan memahami ayat-ayat yang disebut di atas. Ada sebuah peribahasa lama mengatakan, ”Kenali musuh anda.” Hal ini benar, tetapi versi yang lebih benar lagi seharusnya, ”Kenali motivasi musuh anda.” Motif dari para Islamis adalah Islam – bukan terorisme, bukan Irak, juga bukan Afghanistan. Terorisme hanyalah alat yang dipakai, tetapi motivatornya adalah Quran, dan goal akhirnya adalah Islam. Tak ada pesan yang lebih jelas daripada ini. Peradaban dunia tengah berada dalam sebuah peperangan – sebuah perang dengan Islam. Para Islamis akan segera menegaskan kebenaran ini.

Abaikan saja kata-kata Allah yang kekal di atas (ayat-ayat Quran sebagaimana dikutip di atas), maka dijamin orang-orang kafir akan dikalahkan.