Sebelum 14 Februari, 1989.

Di tahun 1280 M di Baghdad, muncul sebuah buku berbahasa Arab yang ditulis oleh seorang filsuf dan ahli fisika Yahudi bernama Ibn Kammuna. Buku ini dikenal dengan judul Pengamatan atas Tiga Agama. Buku ini penting karena berisi tinjauan ilmiah obyektif dalam menilai kritis agama-agama Yudaisme, Kristen dan Islam. “Deisme (kepercayaan berdasarkan akal belaka) bersebelahan dengan agnotisme (mempertanyakan keberadaan Tuhan) memungkinkan munculnya sedikit tulisan- tulisan seperti itu.” [8]
Muhammad dijabarkannya tidak sebagai nabi sejati: “Kami tidak akan mengakui bahwa [Muhammad] menambah pengetahuan dan ketaatan akan Tuhan yang lebih daripada apa yang sudah disampaikan agama sebelumnya.” [9]

Muhammad juga digambarkan tidak sebagai manusia sempurna: “Tiada bukti bahwa Muhammad itu sempurna dan punya kemampuan untuk menyempurnakan orang lain seperti yang dicantumkan.” Orang umumnya jadi memeluk Islam hanya karena “diteror atau dikalahkan dalam perang, atau untuk menghindari pajak jizya yang tinggi (pajak yg dikenakan bagi mereka yg menolak masuk Islam), atau untuk menghindari penghinaan, atau jika orang itu adalah tawanan, atau karena jatuh cinta pada seorang Muslimah.”

Non-Muslim yang berkecukupan dan mengerti betul agamanya sendiri dan agama Islam, tidak akan berubah memeluk Islam kecuali atas alasan-alasan yang disebutkan di atas. Akhirnya, Muslim tampaknya tidak mampu untuk mengajukan pendapat yang baik -apalagi bukti- bahwa Muhammad itu adalah nabi.

Bagaimana Muslim bersikap dalam menghadapi skeptisme ini? Penulis abad ke 13, Fuwati (1244-1323) menjabarkan keadaan yang terjadi empat tahun setelah tulisan Ibn Kammuna diterbitkan.

Di tahun ini (1284) telah diketahui di Baghdad bahwa seorang Yahudi bernama Ibn Kammuna telah menulis sebuah buku … yang mempertanyakan kenabian muhammad. Tuhan melindungi kita dari pengulangan apa yang telah dikatakannya. Masyarakat mengamuk, dan menyerbu rumahnya untuk membunuhnya. Sang amir … dan sejumlah pejabat tinggi datang ke madrasah Mustansiriya, dan memanggil hakim agung dan guru-guru (hukum) untuk menerangkan kejadian ini. Mereka mencari Ibn Kammuna tapi dia bersembunyi. Hari itu adalah hari Jum’at. Hakim agung berusaha sholat tapi karena massa yang marah menghalanginya, dia lalu kembali ke Mustansiriya. Sang Amir ke luar untuk menenangkan massa tapi dia malahan dicaci dan dituduh berpihak dan membela Ibn Kammuna. Maka, atas perintah sang amir di Baghdad, di pagi hari di luar tembok kota, menyatakan Ibn Kammuna harus dibakar hidup-hidup. Massa lalu tenang, dan tidak mempersoalkan Ibn Kammuna lagi. Ibm Kammuna sendiri disembunyikan dalam kotak bertutupkan kulit dan dibawa ke Hilla di mana putranya bertugas sebagai seorang pejabat. Dia diam di sana sampai mati. [10]

Tulisan Fuwati ini merupakan contoh sikap Muslim di sepanjang sejarah Islam. Bukan hanya Muslim fundamentalis yang bersikap seperti ini, tapi Muslim pada umumnya bersikap seperti ini jika agamanya dihina. Dua contoh serupa terjadi di India.
Seorang ahli ekonomi AS bernama John Kenneth Galbraith, mendapat masalah ketika dia menjabat sebagai duta besar Amerika di India (1961-1963). Dia memberi nama kucingnya “Ahmed” – Ahmed merupakan salah satu nama panggilan untuk Muhammad.
Ketika koran Deccan Herald di Bangalore menerbitkan kisah pendek berjudul Si Goblog Muhammad, masyarakat Muslim membakar kantor surat kabar itu. Ternyata kisah pendek itu tidak ada hubungannya dengan Muhammad karena Muhammad dalam cerita ini adalah orang gila yang kebetulan bernama sama dengan sang nabi.

Baru-baru ini, sepuluh orang India dipenjara di teluk emirat Sharjah gara-gara menggelar drama berjudul Semut yang Makan Mayat, yang menurut pihak penguasa, mengandung perkataan menentang Muhammad.

Muslim yang berani mengritik Islam secara langsung selalu dituduh munafik dan biasanya dipenggal, disalib, atau dibakar; aku membahas kejadian ini di bab 10 tentang Jaman Emas Islam. Di bab ini aku membatasi masalah tentang kritik Islam yang dilakukan oleh para Muslim.

Banyak contoh yang kubahas kuambil dari buku Daniel Pipes yang sangat bagus yang berjudul The Rushdie Affair (Masalah Rushdie). Pipes menjabarkan para penulis dan pemikir Muslim yang dihukum karena tulisan-tulisan bid’ahnya dan mereka yang berhasil menyelamatkan diri. Sebelum menerangkan nasib tragis Ali Dashti, aku akan menelaah kritik-kritik Dashti yang tajam terhadap Islam dalam bukunya yang berjudul Twenty-Three Years (Dua Puluh Tiga Tahun masa kenabian Muhammad). Meskipun buku ini ditulis di tahun 1937, buku ini baru diterbitkan di tahun 1974, mungkin di Beirut, karena dari tahun 1971 sampai 1977 rezim Shah Iran melarang penerbitan buku-buku kritik agama. Setelah Revolusi Iran di tahun 1979, Dashti diam-diam menerbitkan buku ini bagi kalangan perlawanan politik bawah tanah. Edisi bajakan buku mungkin terjual setengah juta buah dari tahun 1980 sampai tahun 1986.

Pertama-tama, Dashti membela pemikiran rasional secara umum dan mengritik iman buta karena “kepercayaan dapat menumpulkan kemampuan berpikir dan kesadaran manusia,” [11] bahkan jikalau orang tersebut adalah ilmuwan berpengetahuan. Pemikiran rasional membutuhkan “penelaahan tanpa prasangka.” Dia dengan keras menyangkal segala mujizat Muhammad yang disebut oleh para penulis Muslim yang terlalu bersemangat. Dashti menelaah secara kritis dan skeptis pandangan orthodoks yang menganggap Qur’an sebagai firman Auwloh sendiri yang bernilai tinggi karena isi dan bahasanya. Dia menunjukkan bahwa para ilmuwan Muslim awal sendiri “sebelum unggulnya sikap berlebihan dan tak bertoleransi, mereka secara terbuka mengakui bahwa susunan tulisan dan kata dalam Qur’an bukanlah ajaib dan orang-orang yang takut akan Tuhan lainnya juga sanggup menghasilkan tulisan yang sama nilainya atau bahkan lebih baik.” [12]

Terlebih lagi, Qur’an berisi kalimat-kalimat yang tidak lengkap dan tidak dapat dimengerti tanpa penjelasan tafsir; kata-kata asing, kata-kata Arab yang tak lumrah, dan kata-kata yang digunakan berbeda dari yang biasa dimengerti; kata sifat dan kata benda yang tidak jelas jenis gender dan jumlahnya; kata- kata ganti tak logis dan salah susunan katanya yang terkadang tidak bermakna apapun; dan kata-kata predikat dalam irama kalimat yang seringkali tak berhubungan dengan subyek. Keganjilan di sana sini mengakibatkan banyak pengritik menyangkal bahwa tata bahasa Qur’an itu sempurna…. Intinya, telah ditemukan lebih dari 100 kesalahan tata bahasa dalam Qur’an. [13]

Bagaimana dengan pernyataan bahwa Qur’an penuh mujizat? Sama seperti Ibn Kammuna, Ali Dashti juga menyatakan bahwa Qur’an:
Tidak mengandung gagasan apapun yang baru yang belum pernah dinyatakan orang lain. Semua aturan moral dalam Qur’an sudah ada dan diketahui orang umumnya sebelum ada Islam. Kisah-kisah dalam Qur’an disadur (dicopy-paste) sama atau diubah sedikit (dimodifikasi) dari sumber-sumber Yahudi dan Kristen, dari para rabi dan pendeta yang ditemui Muhammad dan berbicara dengannya dalam perjalanannya ke Syria, dan keterangan dari masyarakat keturunan “Ad dan Thamud.” … Dalam ajaran moral, Qur’an tidak bisa dianggap mujizat. Prinsip- prinsip umat manusia yang disampaikan Muhammad telah dinyatakan beberapa abad sebelumnya di berbagai penjuru dunia. Kong Hu Cu, Buddha, Zoroaster, Sokrates, Musa, dan Yesus telah mengatakan hal yang sama… Banyak kewajiban dan tatacara ibadah Islam merupakan contekan praktek-praktek ibadah yang dilakukan kaum pagan Arab yang juga menconteknya dari orang-orang Yahudi. [14]
Dashti menghina aspek-aspek ibadah takhayul, terutama ibadah naik haji di Mekah. Muhammad sendiri tampak sebagai sosok penipu yang kemudian melakukan pembunuhan, pembantaian, dan pemusnahan semua musuhnya demi alasan politik. Bagi para pengikut sang nabi, pembunuhan dipandang sebagai “pelayanan terhadap Islam.” Kedudukan perempuan dalam Islam ditelaah dan kedudukannya yang rendah diakui pula. Doktrin auwloh Islam dikritik. Tuhannya Qur’an merupakan tuhan yang kejam, pemarah, dan sombong – kualitas pribadi yang tidak bisa dibanggakan. Akhirnya, sudah jelas bahwa Qur’an bukanlah firman Tuhan, karena banyak kalimat yang tidak jelas diucapkan oleh Tuhan atau oleh Muhammad.

Dashti meninggal di tahun 1984 setelah dipenjara selama tiga tahun oleh Khomeini, di mana dia disiksa meskipun usianya telah 83 tahun. Dia mengatakan pada kawannya sebelum meninggal: “Jika saja sang Shah mengijinkan buku-buku seperti ini beredar dan dibaca orang, kita tidak akan pernah mengalami revolusi Islam.” [15]
Ali Abd al-Raziq, seorang syeikh dari Universitas Islam al-Azhar yang terkenal di Kairo, Mesir, menerbitkan buku yang berjudul Islam and the principles of Government (Islam dan prinsip- prinsip Pemerintahan) di tahun 1925.[16] Dalam buku ini, al-Raziq menyatakan bahwa agama dan politik haruslah dipisahkan karena begitulah yang benar-benar dipercayainya tentang Islam. Pandangan ini ternyata tidak diterima, dan al-Raziq diadili oleh pengadilan yang dipimpin para syeikh lainnya, dan dia dinyatakan bersalah. Dia lalu dipecat dari universitas tersebut dan dilarang memiliki jabatan keagamaan lagi.

Lulusan al-Azhar lainnya adalah orang Mesir bernama Taha Husayn.[17] Dia juga berpendidikan di Perancis di mana dia mendapatkan pemikirannya yang skeptis (tidak mudah percaya, cenderung ragu jika tidak ada bukti nyata). Sewaktu kembali ke Mesir, buah pemikirannya langsung mendapat kritik pedas. Pandangan Husayn tidak diterima oleh badan agama Islam Mesir dan dia dipaksa meletakkan jabatannya. Dalam bukunya yang berjudul On Pre-Islamic Poetry (Dalam Sajak Pra-Islam), Taha Husayn menulis bahwa meskipun nama Ibrahim dan Ishmael ada dalam Qur’an, hal itu bukan merupakan “hal yang cukup untuk membuktikan keberadaan sejarah mereka.”
Di bulan April 1967,[18] tak lama sebelum Perang Enam Hari (Perang Israel vs. negara-negara Arab, dmana Israel berhasil menang dari keroyokan negara-negara Islam) berlangsung, sebuah majalah militer Syria Jayash ash-Sha’b memuat sebuah artikel yang menyerang tidak hanya Islam, tapi juga Tuhan dan agama pada umumnya sebagai “mumi yang seharusnya digusur ke museum peninggalan sejarah.” Sama seperti yang dulu terjadi dalam kasus Ibn Kammuna, masyarakat Muslim murka, turun ke jalanan di berbagai kota besar Syria, dan kekacauan ini menimbulkan berbagai kekerasan, mogok kerja, dan penangkapan.

Pihak penguasa tidak lagi berhasil menggunakan taktik lama dengan menyalahkan konspirasi Amerika–Zionis untuk menenangkan massa, sehingga akhirnya pengarang artikel itu yakni Ibrahim Kalas dan dua editor majalah tersebut diadili, dinyatakan bersalah, dan dihukum seumur hidup kerja paksa. Untungnya, mereka semua akhirnya dibebaskan.

Di tahun 1969, setelah tentara Arab kalah habis-habisan melawan Israel di tahun 1967, seorang pemikir Marxis Syria menulis sebuah kritik tentang pemikiran agama. Sadiq al-Azm[19] adalah lulusan Universitas Amerika di Beirut, dan dia menerima gelar doktor filosofi di Universitas Yale, AS, dan telah menerbitkan tulisan berisi pengamatan tentang filsuf Inggris yakni Bishop Berkeley. Kritik pedas al-Azm terhadap Islam dan agama lainnya tidak disukai oleh umat Sunni di Beirut. Dia lalu diadili dengan tuduhan melakukan penyerangan agama tapi lalu dibebaskan, mungkin karena dia kenal dekat dengan keluarga pejabat penting Syria. Meskipun begitu, pemikiran al-Azm tersebar di luar negeri untuk sementara waktu.

Sadiq al-Azm mengritik para pemimpin Arab yang tidak mengembangkan pelayanan sosial yang penting bagi masyarakat, dan tentang sikap mereka yang tidak berani memeriksa Islam secara kritis dan jalan pikir mereka yang ketinggalan jaman. Pihak Arab menggunakan pemikiran agama sebagai senjata ideologi, tapi tiada seorang pun yang mau menggunakan pikirannya untuk:
Melakukan pemeriksaan yang kritis dan ilmiah untuk menunjukkan kepalsuan agama untuk memanfaatkan orang Arab … [Para pemimpin] menolak segala kritik dari para intelek Arab dan warisan sosial … Dengan alasan untuk mempertahankan tradisi, nilai-nilai, seni, agama, dan moral masyarakat, gerakan kebudayaan Arab digunakan untuk mempertahankan budaya dan pemikiran ideologi abad pertengahan yang gelap. [20]
Setiap Muslim akhirnya harus menghadapi tantangan perkembangan sains di 150 tahun terakhir. Dalam beberapa hal, pengetahuan sains secara langsung bertentangan dengan agama Islam. Tapi perbedaan yang lebih mendasar adalah pertanyaan tentang metodologi – Islam bergantung pada iman buta dan percaya saja pada isi Qur’an tanpa pemikiran kritis, sedangkan ilmu pengetahuan berdasarkan pada pemikiran, pengamatan, penyingkiran dan hasil yang kritis yang sesuai dengan kenyataan. Kita tidak bisa lagi mempercayai agama tanpa pemikiran yang kritis: semua yang dikatakan sebagai kitab suci harus diperiksa secara ilmiah. Hanya setelah itu dilakukan, kita berhenti menoleh ke belakang dan agama tidak akan lagi menjadi alat pembenaran untuk kekuasaan politik dan intelek.

Buku Sadiq al-Azm adalah buku yang penting dan layak untuk ditelaah, tapi setahuku buku itu belum diterjemahkan dari bahasa Arab. Di tahun 1991, Sadiq al-Azm dengan sangat beraninya membela Rushdie dalam tulisannya di Die Welt des Islams 31 (Dunia Islam) – (1991).

Usaha lain untuk mengubah bentuk Islam dari dalam berakhir pula dengan tragedi. Ahli agama Sudan bernama Mahmud Muhammad Taha[21] mencoba memperkecil peran Qur’an sebagai sumber hukum. Taha merasa sudah waktunya untuk membuat hukum baru yang lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat di abad ke 20. Untuk menyebarkan prinsip-prinsipnya, Taha mendirikan Persaudaraan Republika. Para pemimpin agama di Karthoum tidak suka akan gagasannya dan di tahun 1968, dia dinyatakan bersalah karena murtad, dan di bawah Syariah Islam, hal ini berarti dia dihukum mati. Tulisan-tulisannya dibakar, tapi Taha berhasil menghindari hukuman mati sampai 17 tahun. Dia lalu diadili lagi, dan lalu digantung di muka umum di usia 76 tahun di Khartoum pada bulan Januari, 1985.

Mungkin pengritik Islam yang paling terkenal adalah yang disebut oleh Daniel Pipes dan orang ini adalah pemimpin Lybia, Muammar al-Qaddafi,[22] yang pernyataannya tentang Muhammad, Qur’an dan Islam penuh dengan hujatan yang jauh lebih hebat daripada yang telah dibahas sejauh ini. Qaddafi membatasi Syariah untuk urusan pribadi; gagasannya sendiri disebarkan di berbagai lembaga masyarakat. Dia mengubah penanggalan Islam, menghina ibadah naik haji sebagai hal yang “bodoh,” mengritik Muhammad, dan menyatakan bahwa prestasinya sendiri lebih besar daripada prestasi sang Nabi. Secara umum, dia menunjukkan bahwa dia tidak percaya Qur’an dan kisah sang Nabi. Meskipun para ahli Islam tahu bahwa Qaddafi itu anti-Islam dan berani menantang, dan mengutuk “kebohongan-kebohongan muhammad,” tiada fatwa mati baginya, dan tiada yang melarang tulisannya beredar. Sebenarnya, jika CIA pintar, mereka seharusnya mencetak ulang dan menyebarluaskan hujatan-hujatan Islam yang ditulis oleh pemimpin Lybia ini, dan membiarkan para jihadis menghabisinya.

Ada dua orang skeptis Muslim lainnya yang juga meragukan Islam dapat menyediakan pemecahan masalah jaman modern. Di tahun 1986, seorang pengacara Kairo bernama Nur Farwaj menulis sebuah artikel yang mengritik hukum Syariah sebagai “koleksi hukum adat yang tidak sesuai lagi bagi masyarakat masa kini.” Juga di tahun 1986, seorang pengacara dan penulis Mesir bernama Faraj Fada menerbitkan selebaran yang berjudul NO TO SHARIA (TIDAK bagi Syariah). Tulisan ini menyetujui pemisahan antara agama dan pemerintahan karena Islam tidak dapat menawarkan tata-kerja hukum sekuler yang dibutuhkan untuk menjalankan pemerintahan modern. Tulisan Fada ternyata sukses besar, dan menyaingi keterangan tulisan-tulisan ahli agama Syeikh Kashk. Tulisannya diterjemahkan dalam bahasa Turki, Persia, Urdu, dan bahasa lainnya di dunia Islam.
Tulisan lain yang diterbitkan sebelum Februari 1989 layak untuk diperhatikan. Dalam tulisan L’Islam en Questions (Islam dan Pertanyaan-Pertanyaan) – (Grasset, 1986), 24 penulis Arab menjawab lima pertanyaan berikut:
(1) Apakah Islam mengandung nilai universal?
(2) Dapatkah Islam menjadi sistem Pemerintahan di negara modern?
(3) Apakah sistem Pemerintahan Islam merupakan kewajiban dalam evolusi Islam dan masyarakat Arab?
(4) Apakah kecenderungan “kembali ke Islam” yang gencar terjadi di 10 tahun belakangan ini di negara-negara Muslim merupakan hal yang positif?
(5) Apakah musuh Islam yang terbesar saat ini?

Dari jawaban para ahli sudah jelas bahwa kebanyakan intelek Arab tidak melihat Islam sebagai jawaban atas masalah sosial, ekonomi, dan politik di dunia Islam. Kebanyakan orang yang menjawab dengan tegas memilih pembentukan negara sekuler. Sembilan penulis menjawab “tidak” untuk pertanyaan nomer 2, “Dapatkah Islam menjadi sistem Pemerintahan di negara modern?.” Enam penulis lainnya memilih tegas negara sekuler daripada negara Islam. Bahkan para penulis lain yang menjawab “ya” untuk pertanyaan nomer 2, menjawab begitu dengan persyaratan lain seperti “hak-hak pribadi dihargai,” atau “selama kita punya pemahaman modern tentang Islam,” dan lain-lain. Hampir semua menyatakan bahwa “kembali ke Islam” merupakan kecenderungan yang negatif, dan menganggap fanatisme agama sebagai bahaya terbesar yang mengancam seluruh masyarakat Muslim. Salah satu penulis buku di atas bernama Rachid Boudjedra, dan dia menulis komentar[24] tentang agama di Aljeria dan mengritik kemunafikan masyarakat Muslim pada umumnya – 80% – yang hanya sholat atau pura-pura sholat di bulan Ramadan; yang naik haji agar status sosialnya naik; yang suka minum-munim dan berzinah tapi masih mengaku sebagai Muslim taat. Bagi pertanyaan nomer 2, Boudjedra menulis:
Tidak, sama sekali tidak. Ini hal yang tidak mungkin; ini bukan hanya pendapat pribadiku saja, tapi ini merupakan hal yang obyektif. Kita lihat bahwa ketika Nemeiri [kepala negara Sudan] ingin menerapkan Syariah: ternyata tidak berhasil. Usaha percobaan ini terhenti seketika setelah beberapa tangan dan kaki dipotong … Ada reaksi bahkan dari masyarakat Muslim sendiri menentang hal-hal seperti ini – rajam sampai mati bagi perempuan, contohnya, sungguh sukar dilaksanakan, kecuali di Saudi Arabia, dan hal ini bahkan sangat jarang terjadi … Sungguh jelas bahwa Islam sangat tidak sesuai bagi negara modern…. Tidak, aku tidak melihat kemungkinan Islam dapat jadi sistem Pemerintahan.

Tidak banyak yang tahu bahwa Boudjedra menerima fatwa mati sejak tahun 1983. Meskipun ada fatwa mati, dia tetap tinggal di Aljeria, berusaha hidup senormal mungkin, pindah dari tempat satu ke tempat lainnya sambil menyamar. Untuk menambah “dosa”-nya, di tahun 1992 Boudjedra menulis serangan tajam terhadap FIS, partai politik Islam, yang menang pemilu di tahun 1992, dan menelanjangi pandangan partai itu yang sangat tidak demokratis, dan bahkan membandingkannya dengan partai Nazi di tahun 1930-an. Boudjedra tidak hanya menegur mereka yang diam saja dan tidak berani menelaah Islam secara kritis, tapi juga mereka yang pura-pura melihat “kebaikan” dari kemunduran masyarakat ke jaman pertengahan. Fatwa 1983 baginya disusul kemudian dengan fatwa tahun 1989.

Sesudah 14 Februari, 1989

Musim semi tahun 1989 akan selalu dikenang sebagai saat pencerahan bagi sejarah intelektual dan dunia. Di bulan Februari 1989, Ayatollah Khomeini mengeluarkan fatwanya pada Salman Rushdie. Seketika setelah itu muncul gelombang wawancara dalam berbagai media tulis oleh para cendekiawan Barat, Arab, dan ahli Islam yang menyalahkan Rushdie karena menyebabkan dia tertimpa fatwa barbar gara-gara menulis buku Satanic Verses (Ayat-ayat Setan). John Esposito, ahli Amerika tentang Islam, menyatakan bahwa dia tahu “tiada cendekiawan Barat tentang Islam yang tidak menduga bahwa tulisan Rushdie akan mengakibatkan ledakan reaksi.” [25] Tulisan ini merupakan sifat munafik dari orang yang telah menerbitkan kutipan-kutipan dari buku Sadiq al-Azm yang juga berani mengritik Islam.
Beberapa penulis menuliskan sikap pengertian atas rasa sakit hati Muslim yang di beberapa kasus dibujuk untuk menghajar Rushdie di gang kecil yang tersembunyi. Ahli sejarah terhormat bernama Prof. Trevor-Roper bahkan menyetujui pembunuhan terhadap Rushdie yang adalah warga negara Inggris: “Aku ingin tahu bagaimana rasanya Salman Rushdie akhir-akhir ini di bawah perlindungan nyaman hukum dan polisi Inggris, padahal dia bersikap kasar terhadap mereka. Aku harap dia tidak merasa nyaman …Aku tidak akan mengucurkan airmata jika beberapa Muslim Inggris mengutuk tindakannya, dan membawanya ke jalanan yang gelap dan menghajarnya. Jika hal ini membuatnya lebih mengontrol penanya, maka masyarakat malah untung dan dunia sastra tidak akan rugi apapun.” [26]

Tiada artikel-artikel yang mengritik fatwa mati tersebut. Lebih parah lagi, disarankan agar buku Rushdie dilarang terbit dan beredar. Sungguh mencengangkan bahwasanya tiada pembelaan terhadap satu pun prinsip-prinsip demokrasi, yang merupakan prinsip utama kemajuan umat manusia, yang salah satunya adalah kebebasan berpendapat. Orang-orang seharusnya sudah tahu bahwa inilah satu prinsip yang harus dibela para penulis dan cendekiawan sampai mati.

Apakah si barbar Trevor-Roper akan siuman jikalau para “Muslim malang yang sakit hati” itu mulai menuntut dilarangnya sastra-sastra klasik dan sejarah intelektualitas Barat yang menyinggung perasaan peka Islami mereka sedangkan buku-buku tersebut sangat berharga bagi Prof. Roper?

Apakah para Muslim ini akan membakari tulisan Gibbon yang menulis: “[Qur’an merupakan] tulisan dongeng, prinsip & khotbah yang sangat tak beraturan, yang jarang mencantumkan perasaan ataupun gagasan, yang kadang merayap dalam debu, dan kadang tersesat di awan.”

Di tulisan lain, Gibbon menunjukkan bahwa “sang nabi Medinah menyampaikan wahyu dengan nada yang lebih keras dan tegas, dan ini membuktikan sikapnya yang dulu lebih lembut merupakan tanda kelemahan.” Pengakuan Muhammad bahwa dia adalah Rasul Auwloh hanyalah “kebohongan belaka.”

Penggunaan tipuan dan pengkhianatan, kekejaman dan ketidakadilan, seringkali digunakan sebagai bagian iman; dan Muhammad memerintahkan atau memberi ijin pembunuhan masyarakat Yahudi dan pagan yang selamat dari medan perang. Karena seringnya kejadian ini, tentunya sosok Muhammad pelan-pelan tercemar … Ambisi di tahun-tahun akhir hidupnya adalah keinginan untuk berkuasa; dan orang yang tahu politik sudah bisa menduga bahwa dia diam-diam tersenyum (senyuman orang yang menang) pada semangat para Muslim muda dan kekejaman para pengikut barunya yang tak berotak… Tingkah lakunya menunjukkan bahwa Muhammad memuaskan hawa nafsunya, dan menipu dengan mengaku sebagai nabi. Wahyu-wahyu spesial menyediakan pengecualian baginya dari hukum yang dia terapkan sendiri bagi para pengikutnya; seks, perempuan, tanpa pengecualian, diperuntukkan bagi pemuasan nafsunya.[27]

Bagaimana dengan tulisan Hume yang sangat dihargai oleh Roper:[28] “[Qur’an adalah] hasil tulisan yang kacau balau. Marilah kita simak narasi [Muhammad]; dan kita akan segera melihat bahwa dia memuji- muji perampokan, penindasan, kekejaman, balas dendam, dan kemunafikan yang sama sekali tidak layak bagi masyarakat beradab. Tiada aturan kebaikan yang harus dilaksanakan; dan setiap perbuatan dipuji atau dikecam hanya jika menguntungkan atau merugikan pihak Muslim.” Hume juga menyebut bahwa Muhammad adalah “nabi palsu.” Sudah jelas sekarang bahwa pandangan-pandangan tentang Qur’an dari perbuatan Muhammad dan wahyu-wahyunya sangatlah menghujat.
Bagaimana dengan Hobbes yang mengatakan bahwa Muhammad “dalam usaha mendirikan agama barunya, pura-pura mengaku bercakap-cakap dengan Roh Kudus dalam bentuk seekor merpati.” [30]

Bagaimana dengan The Divine Comedy (Lawakan Illahi), oleh Dante yang merupakan syair terbesar dalam sastra Barat. “Lihat bagaimana Mohamet dihancurkan! Di hadapanku Ali menangis, terbelah mukanya dari dagu sampai rambutnya; dan yang lain-lain juga, yang kau lihat di sini dulu semasa hidupnya penuh dengan kejahatan dan perpecahan; karena itulah mereka dibelah.” [30]

Dalam catatan terjemahan The Divine Comedy, Mark Musa menyimpulkan alasan Dante menulis keadaan Muhammad di neraka: “hukuman neraka [Muhammad], yakni dibelah dari buah zakar sampai ke dagu, juga hukuman yang sama yang dialami Ali, mewakili kepercayaan Dante bahwa mereka merupakan pelaku utama perpecahan antara gereja Kristen dan Muhamadisme. Banyak rekan sejawat Dante yang mengira bahwa Muhammad dulunya adalah Kristen dan seorang kardinal yang ingin jadi Paus.” [31]

Carlyle dan Voltaire juga menghujat Qur’an dan Muhammad, tapi di tahun 1989, para cendekiawan Barat yang membela Islam terlalu sibuk menyerang Rushdie atau malah membantu propaganda Islam dan bukannya mengritik ajaran Islam. Dengan menjelaskan istilah “fundamentalis Islam” karena katanya akibat dari kemiskinan atau korban Barat sehingga “kehilangan identitas”, “merasa terancam oleh Barat”, atau “korban rasisme kulit putih”, maka orang-orang Barat pembela Islam ini menghalalkan perbuatan barbar, dan dengan begitu mengalihkan tanggungjawab moral dari Muslim kepada Barat. “Masalahnya bukan Islam,” begitu katanya, “tapi para ekstrimis yang membajak Qur’an. Islam itu adalah agama yang toleran dan Ayatollah Khomeini tidak mengikuti ajaran asli Islam. Yang dia terapkan di Iran bukanlah ajaran Islam yang sebenarya, tapi hanyalah karangannya sendiri. Islam selalu bertoleransi terhadap perbedaan.”

Yang lebih tidak jujur lagi adalah usaha memaafkan Islam itu sendiri – dengan memberi istilah-istilah seperti “fundamentalis Islam,” “fanatik Muslim,” “radikal Islam” dan lain-lain.
Istilah “fundamentalis Islam” itu saja sudah salah, karena ada perbedaan luas sekali antara agama Kristen dan Islam. Kebanyakan Kristen sudah tidak mengartikan Alkitab secara harafiah lagi; karena menurut mereka, “Tidak musti begitu.”[32] Karena itu kita bisa membedakan dengan jelas perbedaan antara fundamentalis dan non- fundamentalis Kristen. Tapi para Muslim belum menjauh dari pengertian harafiah Qur’an: semua Muslim –tidak hanya sekelompok yang disebut sebagai “fundamentalis”– percaya bahwa Qur’an itu benar-benar ucapan Tuhan.
Contoh kemarahan massa sebelumnya menunjukkan bahwa Muslim biasa saja dapat dengan mudah mengamuk jika mereka merasa buku sucinya, nabinya, dan agamanya dihina. Kebanyakan Muslim mendukung fatwa Khomeini terhadap Rushdie.

Moderat Muslim, bersama-sama dengan orang liberal Barat dan juga ketua-ketua agama Kristen yang tertipu, menyatakan bantahan yang serupa, yakni Islam yang sebenarnya bukan seperti Islam yang diterapkan Khomeini di Iran. Tapi para Muslim moderat dan pihak-pihak yang membela mereka tidak bisa mengubah Islam. Sebanyak apapun jungkir-balik mental atau kebohongan intelek yang mereka lakukan, unsur-unsur Islam yang tak menyenangkan, tak dapat diterima, dan barbar tetap saja utuh.

Setidaknya “fundamentalis” Islam itu jujur dalam mengartikan Qur’an sebagai firman auwloh. Tindakan Khomeini secara langsung bersumber dari perintah Islam, baik yang tertulis di Qur’an, ahadis, sunnah Nabi, atau Syariah Islam. Untuk mensahkan perintah bunuh fatwa Rushdie, juru bicara Iran menelaah detail kehidupan Muhammad. Di sana mereka menemukan begitu banyak pembunuhan dengan alasan politik, termasuk pembunuhan para sastrawan yang berani menulis puisi mengritik Muhammad (ini dibahas di Bab 4). Khomeini sendiri menjawab orang-orang Barat apologis dan para moderat Muslim sebagai berikut:
Islam mewajibkan seluruh pria dewasa, yang tidak cacat dan yang mampu, untuk mempersiapkan diri mereka untuk menaklukkan negara-negara lain sehingga hukum Islam ditaati di seluruh dunia. Tapi mereka yang mempelajari Jihad Islam akan mengerti mengapa Islam ingin menaklukkan seluruh dunia… Mereka yang tidak tahu apa- apa tentang Islam berpura-pura menyatakan Islam menentang perang. Mereka itu bodoh. Islam berkata: Bunuh semua kafir sama seperti mereka sendiri ingin membunuhmu! Apakah ini berarti Muslim harus diam saja sampai mereka dibantai oleh kafir? Islam berkata: Bunuh mereka [kafir], tebas mereka dengan pedang dan bubarkan tentaranya. Apakah ini berarti Muslim harus diam saja sampai kafir menguasai kami? Islam berkata: Bunuh demi Auwloh mereka yang ingin membunuhmu! Apakah ini berarti kita harus menyerah pada musuh? Islam berkata: Pada apapun harta yang ada di situ, berterimakasihlah pada pedang dan bayang-bayang pedang! Orang-orang tidak bisa tunduk, kecuali di bawah ancaman pedang! Pedang itu kunci masuk surga, yang hanya bisa dibuka melalui Perang Suci (Jihad)! Ada ratusan lagi ayat-ayat Qur’an dan Hadis yang mengajak Muslim menjunjung tinggi perang dan berperang. Apakah ini berarti Islam itu adalah agama yang menghalangi manusia mengobarkan perang? Aku ludahi jiwa-jiwa bodoh yang menyatakan begitu.[33]

Khomeini mengutip langsung dari Qur’an dan memberi pengertian praktis tentang Jihad dalam doktrin Islam. Kamus Islam (Dictionary of Islam) yang termasyur mengatakan bahwa Jihad adalah: “perang agama melawan kafir yang dilakukan oleh Muhammad. Ini merupakan kewajiban agama, yang ditetapkan oleh Qur’an dan Ahadis sebagai perintah illahi, bertujuan khusus untuk menyebarkan Islam dan agar Muslim mengenyahkan kejahatan.” [34]

Jika Qur’an itu adalah firman Tuhan, sebagaimana yang dipercayai oleh Khomeini dan semua Muslim, dan jika perintahnya harus ditaati secara mutlak, maka siapakah yang lebih masuk akal, Khomeini atau para moderat Muslim dan orang-orang Barat apologis? Q.E.D.

Sikap tak jujur juga ditunjukkan oleh para cendekiawan Muslim modernis –baik laki maupun perempuan– dengan berpura-pura menyatakan bahwa “Islam yang sebenarnya memperlakukan perempuan dengan baik”; bahwa tidak ada kontradiksi antara demokrasi dan Islam, antara kemanusiaan dan Islam. (Lihat Bab 7 untuk membahas hal ini lebih mendalam).

Islamic Threat: Myth or Reality? (Ancaman Islam: Mitos atau Kenyataan?) ditulis oleh John Esposito, seorang ahli Islam dari Amerika yang mengajar di Universitas Holly Cross (Salib Suci), dan buku ini diterbitkan di tahun 1991. Buku ini berdasarkan atas kebohongan yang sama seperti pornografi yang diperhalus. Meskipun judulnya berani, isinya ternyata tidak menyajikan hal yang sesuai dengan kehebatan judulnya, dan kita segera tahu jawaban pertanyaan judul itu tanpa membuka bukunya. Kita benar-benar tahu bahwa sejak masalah Rushdie, Oxford University Press tidak berani menerbitkan buku yang mengritik Islam, dan Pak Esposito juga takut menulis hal yang membuat Muslim seluruh dunia murka. Apa yang tidak dapat dimengerti Esposito dan seluruh orang Barat yang membela Islam adalah Islam itu memang merupakan ancaman, dan ancaman ini adalah bagi jutaan Muslim. Seperti yang Amir Taheri katakan, “kebanyakan korban ‘Perang Suci’ (Jihad) adalah Muslim.” Seorang penulis dari negara yang menerapkan Syariah Islam baru-baru ini menulis, “Kau harus membela Rushdie, karena membela Rushdie berarti membela kami.”[35] Di surat terbuka pada Rushdie, seorang penulis Iran bernama Fahimeh Farsaie[36] menunjukkan bahwa karena hanya fokus pada Rushdie, kita lupa akan ratusan penulis lain di seluruh dunia yang juga diancam. Di Iran saja, tak lama setelah 14 Februari 1989, “banyak orang, yakni penulis dan wartawan, yang dibunuh dan dikubur massal bersama-sama dengan para tawanan politik karena mereka telah menulis buku atau artikel dan mengungkapkan pandangan-pandangan mereka. Ini beberapa nama mereka: Amir Nikaiin, Monouchehr Behzadi, Djavid Misani, Abutorab Bagherzadeh… Nasib mereka sama jeleknya seperti nasib kolega- kolega muda mereka yang diculik, disiksa, dan dibunuh beberapa bulan sebelumnya di malam yang gelap: dua penyair bernama Said Soltanpour dan Rahman Hatefi.”

Jika kita bandingkan pernyataan-pernyataan menyesatkan para penulis Barat apologis seperti Edward Mortimer dan Esposito yang menyalahkan semuanya pada Rushdie, dengan deklarasi berikut dari orang-orang Iran, maka kita sadar betapa pengecutnya penulis Barat apologis dan betapa beraninya orang-orang Iran.

Sekarang sudah tiga tahun sejak penulis Salman Rushdie hidup di bawah ancaman mati oleh Khomeini, dan tiada tindakan apapun dari masyarakat Iran untuk mengecam perintah barbar ini. Serangan biadab terhadap kebebasan berpendapat memang sudah menjadi masalah besar di Iran, dan kami merasa bahwa para intelektual Iran harus mengutuk fatwa ini dan membela Salman Rushdie lebih keras daripada pihak mana pun di dunia.

Para penanda-tangan pernyataan ini, yang telah menunjukkan dukungan pada Salman Rushdie saat kini dan lalu, percaya bahwa kebebasan berpendapat merupakan salah satu prestasi terbesar umat manusia, dan menunjukkan, seperti yang dikatakan Voltaire, bahwa kebebasan ini akan kehilangan arti jika manusia dilarang menghujat. Tiada orang atau kelompok yang berhak menghentikan kebebasan ini atas nama ini atau itu.

Kami menegaskan bahwa fatwa Khomeini tidak dapat ditoleransi, dan kami menekankan bahwa cara menelaah karya yang kreatif adalah melalui nilai-nilai estetiknya. Kami mengumumkan suara kami untuk membela Salman Rushdie, dan kami mengingatkan seluruh dunia bahwa para penulis, seniman, jurnalis, dan pemikir Iran di dalam negara Iran selalu ditindas tanpa ampun karena sensor agama, dan beberapa dari mereka dipenjara dan bahkan dibunuh karena “penghujatan” dilarang.
Kami yakin bahwa sikap toleransi yang ditunjukan pada sistem yang menindas kemanusiaan di Iran hanya akan mendukung rezim Iran untuk menyebarluaskan gagasan dan cara hidup teroris di seluruh dunia.[37]
Ditandatangani oleh limapuluh orang Iran yang hidup di pengasingan.

Advertisements