Yang membuat saya berbeda adalah bahwa saya tidak hanya mengasihi orang Arab, tetapi saya juga mengasihi orang Yahudi.

Oleh Nonie Darwish

Baru-baru ini saya menerima sebuah surat elektronik yang isinya menuduh saya membenci orang Arab dan ayah saya. Surat ini adalah tuduhan yang lazim dilakukan oleh media Arab terhadap pandangan-pandangan saya berkenaan dengan konflik Arab-Israel. Oleh karena pada umumnya orang Arab tidak mempunyai kesempatan untuk membaca buku saya, Now They Call Me Infidel, Why I Renounced Jihad for America, Israel and the War on Terror, yang menjelaskan posisi saya secara terperinci, maka saya akan menjawab surat elektronik tersebut melalui artikel ini.

Pertama-tama, di bawah ini adalah terjemahan dari surat elektronik dalam bahasa Arab tanpa pengirim, yang saya terima.

Salam bagimu,

Dengan segala rasa hormat kami kepada ayah anda, kami berdoa agar Allah memberkatinya dengan kemudahan masuk surga yang merupakan harapan semua orang setelah menjalani hidup yang singkat, tidak bermakna dan angkuh ini. Saya ingin bertanya pada anda, apakah ayah anda telah menjadi musuh anda setelah ia wafat? Kami di kota Gaza bangga terhadap ayah anda dan saya tinggal di jalan yang dinamai Shahid Moustafa Hafez yang juga ,menjadi nama sebuah sekolah. Kami tidak pernah melupakan pengorbanannya, jadi bagaimana anda dapat menjadi musuh dari orang-orang Palestina yang teraniaya, dan yang masih menderita di tangan para Zionis Arab? Saya mohon kepada Allah agar anda diberi kesehatan dan kekuatan. Saya menantikan jawaban anda dan terima-kasih sebelumnya.


Inilah jawaban saya:

Penduduk Gaza yang kekasih,

Surat elektronik anda sangat menyentuh saya walaupun tuduhan anda itu salah. Saya bukanlah musuh orang Arab dan saya meyakinkan anda bahwa saya mengasihi budaya asal dan bangsa saya. Yang membedakan saya adalah saya tidak hanya mengasihi orang Arab, tapi saya juga mengasihi orang Yahudi. Saya mengatakan isi hati nurani saya. Saya menghormati hak mereka untuk hidup dalam damai di negeri mereka yang sangat kecil, Israel. Saya mengerti bagaimana mengasihi baik orang Yahudi maupun orang Arab dapat membingungkan dan tidak dapat dipercaya oleh banyak orang Arab.

Indoktrinasi yang tidak alamiah

Kita orang Arab telah menderita oleh karena indoktrinasi yang konsisten dan tidak alamiah mengenai supremasi Islam dan kebencian terhadap Yahudi selama lebih dari 1400 tahun. Maka hal itu telah terpatri dalam pikiran orang Arab, bahwa orang Arab tidak mungkin untuk mengasihi orang Arab dan pada saat yang sama juga mengasihi orang Yahudi serta berharap agar kedua bangsa itu mengalami hal yang baik. Kebudayaan kita selama berabad-abad telah menghilangkan dari kita rasa kasih terhadap semua kemanusiaan dan memandang semua manusia setara, melalui indokrinasi religius yang intens yang menghasilkan pengasingan diri sendiri dan non-integrasi dengan budaya-budaya lain. Isolasi dan jihad ini terhadap orang non-Muslim telah menjadi semakin sulit untuk dihadapi. Orang Muslim di berbagai tempat berusaha dengan keras untuk menyelamatkan muka mereka, mereformasi citra Islam dan menyangkali yang tidak dapat disangkali. Tapi mereka juga ingin mendapatkan potongan kue itu. Sementara mereka mengatakan pada dunia bahwa Islam adalah agama damai, mereka masih ingin meneruskan jihad terhadap negara-negara non-Muslim. Sementara seorang pemimpin Islam mengatakan, mari kita membunuh semua orang Yahudi dan mengambil-alih Roma, yang lainnya mengatakan kepada media Barat bahwa Islam adalah agama damai dan kami sangat terhina oleh retorika anti Islam. Untuk memainkan permainan yang memuakkan ini, kebudayaan Muslim harus menjalani kehidupan ganda yang disfungsionil dimana semua orang tertipu, termasuk orang Muslim.

Penindas yang sebenarnya

Maka untuk melakukan jihad seperti yang dilakukan oleh Bin Laden, Ahmadinejad, Hamas, Persaudaraan Muslim, Assad, Nasser, para jihadis Saudi dan lain-lain, dan yang diperintahkan oleh Syariah, maka orang Muslim mendapatkan kesulitan untuk bersikap jujur. Jadi, orang Muslim harus mengklaim diri sebagai korban agar dapat membenarkan jihad. Seluruh dunia Muslim sedang memanfaatkan bangsa anda, orang Arab di Tepi Barat dan Gaza, untuk membenarkan jihad mereka bukan hanya terhadap Israel, tapi juga semua negara non-Muslim. Itu meliputi Iran, yang mendukung Hamas dan Hezbollah. Bangsa anda di Gaza mestinya telah menyadari permainan ini sejak dahulu, tetapi anda menolak untuk melihatnya dan bersikap terbuka soal siapa yang menjadi penindas anda yang sebenarnya. Media Arab dan Muslim memanfaatkan dan melecehkan bangsa anda untuk membenarkan jihad Islam mereka di seluruh dunia. Itulah sebabnya mengapa mereka tidak pernah ingin menyelesaikan masalah anda dan ingin agar anda menderita dan terus hidup dalam teror yang konstan terhadap Israel.

Di bawah hukum Islam, negara-negara non-Muslim tidak pernah setara dengan negara-negara Muslim dan sebenarnya kedaulatan mereka sebagai sebuah bangsa non-Muslim harus selalu ditantang oleh jihad Islam. Hukum Islam menyebutkan jihad sebagai sebuah perang permanen terhadap non-Muslim untuk menegakkan agama Islam. Maka orang Muslim menggunakan Taqiyya, dusta, untuk melegitimasi agresi mereka terhadap Israel dan Barat. Itulah sebabnya mengapa negara-negara Muslim tidak pernah dapat meninggalkan propaganda kebencian, dusta dan kesalahan informasi mengenai Israel dan Barat. Jika hal itu berakhir, maka jihad mereka juga berakhir.

Tuduhan-tuduhan tidak masuk akal

Perserikatan Bangsa-Bangsa pastilah terus-menerus dibombardir dengan keluhan-keluhan dari negara-negara Arab mengenai Israel. Jalanan di Arab terus-menerus dipenuhi dengan tuduhan-tuduhan yang tidak masuk akal dan konspirasi-konspirasi Zionis. Belum lama ini di TV Syria, seorang intelektual Syria menuduh Israel mencuri organ-organ tubuh manusia di Haiti ketika mereka sedang memberi bantuan setelah terjadi gempa bumi disana. Ini bukanlah sesuatu yang baru; ini telah dimulai pada abad ke-7, ketika Nabi Muhammad menuduh orang Yahudi sebagai pengkhianat untuk membenarkan tindakannya membunuh dan mengusir mereka dari kampung halaman mereka dan merampas harta milik mereka. Untuk menjelaskan hal ini, ia menyatakan bahwa orang Yahudi pantas menerima perlakuan seperti ini oleh karena mereka adalah keturunan monyet dan babi dan musuh-musuh Allah. Orang Muslim masih menggunakan dinamika yang sama dan dunia setiap kali masih tertipu karenanya.
Pikiran orang Arab telah dilatih untuk tidak pernah mengembara keluar dari kotak superioritas Islam, dan itu menghalangi kita untuk memperlakukan semua manusia dengan setara. Adalah hal yang asing bagi para penceramah Muslim dewasa ini untuk mengajarkan tentang kasih kepada semua manusia dan menghendaki agar non-Muslim mendapatkan hak azasi yang sama dengan orang Muslim. Saya tidak pernah mendengar hal itu dari seorang penceramah Muslim. Hanya setelah tragedi 9/11 dan dewasa ini di dunia Barat, kita dapat melihat beberapa penceramah Muslim berusaha untuk mengkhotbahkan beberapa nilai Barat dan terlibat dalam dialog antar agama, untuk merehabilitasi citra Islam di Barat dan menarik lebih banyak orang untuk memeluk Islam.

Dilema Islam

Saya sering mendapat surat dari orang Muslim sekuler yang bertanya pada saya: “Saya dapat mengerti mengapa anda memilih untuk meninggalkan Islam, tapi mengapa anda mendukung orang Yahudi?” Saya mendapat surat seperti ini karena, dalam alam pikir Muslim, mengasihi, menerima dan mempunyai perasaan yang baik terhadap orang Yahudi dan orang Kristen dan memandang mereka dengan setara, adalah hal yang tidak terbayangkan dan merupakan tindakan pengkhianatan terhadap Islam itu sendiri dan bahkan lebih buruk lagi. Seakan-akan keseluruhan agama Islam telah didedikasikan untuk membenci dan membunuh orang Yahudi.

Setelah berabad-abad mendapatkan pendidikan seperti ini, dunia Muslim menghasilkan sebuah masyarakat yang disfungsional, tidak mampu untuk berelasi dengan penduduk dunia lainnya. Sementara mereka ingin meyakinkan dunia bahwa Islam adalah agama damai, tidak perlu takut terhadap Islam, tetapi pada saat yang sama mereka tetap berkeras menaklukkan dunia bagi Islam. Itulah dilema yang dialami Islam dewasa ini.

Apa yang saya, dan beberapa orang lainnya coba lakukan adalah membawa kebenaran baik kepada orang Muslim dan juga non-Muslim supaya pada akhirnya mereka mau menghadapi permainan yang memuakkan ini. Kami ingin mendorong orang Arab untuk memandang orang Yahudi dan bangsa lainnya sebagai sesama manusia dan bukan sebagai musuh yang harus ditaklukkan. Tuhan seperti apa yang memerintahkan para pengikut-Nya untuk membunuh lebih dari separoh umat manusia jika mereka tidak mau tunduk kepada Islam? Dunia Muslim dewasa ini adalah sebuah musibah yang siap untuk melanda. Ahmadinejad, yang bukanlah seorang Arab, ingin meneruskan jihad Islam terhadap orang Yahudi dengan menghancurkan Israel. Saya mempunyai berita terutama untuk Eropa dan Amerika: jihad Islam tidak akan berhenti dengan Israel; kalian akan menjadi sasaran berikutnya.

Kepada orang yang mengirimi saya surat  elektronik: dalam surat anda kepada saya, saya perhatikan bahwa cara anda memandang hidup adalah menggambarkannya dengan pesimis sebagai sesuatu yang singkat dan kebanggaannya tidak berarti. Pandangan-pandangan anda lazim dalam budaya Muslim dan saya telah mendengarnya ribuan kali ketika saya tinggal di Timur Tengah. Saya ingat bahkan ketika kami tertawa cekikikan seperti yang biasa dilakukan gadis-gadis muda, kami langsung dibungkam dan dikatai tidak pantas dan bahwa Allah tidak suka jika kami tertawa tanpa alasan yang jelas atau di depan umum. Bahkan bagi seorang Muslim, tawa tidak akan mendatangkan teman, tetapi kritik. Pesan anda kepada saya dan kepada orang-orang Muslim adalah bahwa hidup di dunia tidak akan membawa kebahagiaan bagi kita dan satu-satunya jalan keluar dari penderitaan ini adalah kesenangan besar dalam surga milik Allah setelah mati karena menunaikan jihad. Tapi mengapa membawa-bawa orang Yahudi dengan kita? Mereka ingin hidup dan menikmati hidup ini dan menjadikan dunia ini, di sini dan sekarang ini, sebuah tempat yang lebih baik.

Budaya kematian

Penolakan kita terhadap kematian bukanlah sebuah kebetulan: oleh karena jihad tidak menghargai kehidupan, maka jihad mestilah menghargai kematian. Korban pertama dari prinsip jihad adalah kedamaian dan itulah sebabnya mengapa saya tidak pernah belajar mengenai damai sebagai sebuah nilai di Gaza. Saya belum pernah mendengar sebuah lagu yang mengandung nilai perdamaian dalam bahasa Arab. Memikirkan damai dengan orang Yahudi adalah sama dengan pengkhianatan kepada Islam. Penolakan terhadap damai mempunyai konsekuensi-konsekuensi yang merusak terhadap berfungsinya kepribadian, keluarga, masyarakat dan keseluruhan jazirah Arab secara sehat. Bukanlah sebuah kebetulan jika orang Saudi berdasarkan hukum menolak perayaan Hari Valentine, mengajarkan perdamaian dan belas kasihan terhadap orang lain dan kepada anak-anak mereka. Lihat saja buku-buku hukum Islam kita dan perhatikan hukuman-hukuman yang paling kejam dan tidak lazim yang pernah diciptakan dalam budaya apapun di dunia. Hanya budaya yang menuntut adanya perang dan teror yang dapat menganjurkan kekejaman seperti itu. Ayah saya adalah korban budaya kematian yang haus darah di sekitarnya.

Sedangkan untuk pertanyaan anda mengenai membenci ayah saya, sekali lagi saya ingin meyakinkan anda bahwa saya mengagumi dan menghormati ayah saya lebih dari semua orang di Gaza. Sesungguhnya saya mengasihinya dan menharapkan surga baginya bukan karena ia telah membunuh orang-orang Yahudi, tapi karena ia adalah orang yang baik yang dihormati banyak orang termasuk tentara Israel yang membunuhnya. Ia dikenal bahkan oleh orang Israel sebagai orang yang melampaui siapapun dan mempunyai integritas dan kehormatan. Ayah saya adalah korban dari budaya kematian yang haus darah di sekitarnya. Ia adalah satu dari ribuan bahkan jutaan korban ideologi jihad, yang dipraktekkan selama 1400 tahun terakhir ini.

Krisis yang menyakiti diri sendiri

Penduduk Gaza yang kekasih, benar, saya tidak dapat menyalahkan orang Yahudi, atau pemerintah Israel, untuk apa yang anda sebut sebagai ‘penderitaan’ bangsa Palestina. Saya hanya dapat menyalahkan orang Arab dan budaya Islam yang memanfaatkan dan melecehkan anda dan itu terjadi karena anda  mengijinkannya. Saya percaya bahwa ini adalah krisis yang  dibuat sendiri oleh Arab yang tidak ada hubungannya dengan Israel.

Pendidikan Arab tidak pernah mengajarkan pada kita kebenaran mengenai orang Israel dan kisah mereka dan apa arti Yerusalem bagi mereka. Kita diberitahu bahwa Yerusalem adalah kota Muslim hanya karena Muhammad bermimpi suatu malam ia pergi ke mesjid yang terjauh tapi ia tidak pernah menyebutkan Yerusalem. Qur’an tidak pernah menyebut Yerusalem, yang ratusan kali disebutkan di dalam Alkitab sebagai jantung hati orang Yahudi. Kita sebagai orang Muslim tidak pernah menghormati tempat-tempat suci agama-agama lain dan selalu mengklaimnya untuk Islam; bahkan Spanyol dan India diklaim sebagai tanah Muslim. Sudah menjadi tradisi para penakluk Muslim untuk mengubah gereja-gereja dan kuil-kuil menjadi mesjid-mesjid dan itulah yang terjadi dengan Bait Suci orang Yahudi (Temple Mount) ketika 100 tahun setelah nabi Muhammad meninggal dunia, para penakluk Muslim mendirikan mesjid tepat di atasnya. Coba bayangkan jika orang Yahudi atau orang Kristen membangun tempat ibadah mereka diatas Ka’bah di Mekkah. Beginilah cara Islam memperlakukan orang Yahudi. Sudah waktunya orang Muslim mengupayakan penebusan dan mencari pengampunan dan mengadakan rekonsiliasi dan perdamaian dengan orang Yahudi.

Nonie Darwish, Ny. Darwish, yang besar di Kota Gaza dan Kairo, adalah seorang pengarang, yang baru-baru ini menerbitkan buku “Cruel and Usual Punishment,” (Thomas Nelson)

(Sumber: Surat ini pertama-tama dimuat dalam Frontpagemag.com)