Perisai.net – Partai Keadilan Sejahtera PKS kembali menyatakan dirinya sebagai “partai terbuka”. Musyawarah Nasional ke-II PKS menegaskan kembali partai ini membuka pintu bagi non-Muslim yang ingin mewakili PKS di DPR dan DPRD…

Kemerosotan partai-partai berbasis Islam menunjukkan bahwa PKS pun harus menyadari akan karakter dasar masyarakat Indonesia yang majemuk. Sudah menjadi rahasia umum, kalangan PKS cenderung enggan memberikan ucapan selamat Natal kepada warga Kristen.

Fadjrul Rachman mengusulkan untuk menguji seberapa jauh keterbukaan PKS dengan mempertanyakan kesediaan para pemimpinnya untuk menyalami non Muslim pada hari-hari raya mereka.

Jadi, bersediakah kader PKS memberikan ucapan Selamat Natal kepada warga Kristen pada Hari Natal? Ketua PKS Wonosobo, Jawa Tengah, Ityanto, misalnya memilih menjawab secara normatif umum, dan kemudian berbelit-belit [Ketahuan belangnya kan? He, he, he…]

*”Kalau kami adalah tidak hanya sebatas seremonial tentang ucapan. Kami yakini ‘lakum diinukum wa lia diin’ bagimu agamamu, bagiku agamaku. Artinya masing-masing saling menghargai, saling menghormati.”

Maukah anda mengucapkan Selamat Natal?

*”Sekali lagi kami tidak dibatasi.”

Jadi anda bersedia?

*”Sekali lagi karena itu berkaitan dengan keyakinan mereka, dan kita menghargai …”

Anda mampu mengatakan ya atau tidak?

*”Ya, sekali lagi karena tidak dibatasi … itu …”

Jadi anda bersedia tidak, memberi ucapan Selamat Hari Natal?

*”Ya itu, tidak membatasi hanya momen itu …”

SELAMAT NATAL, YUK, PKS.

ADAKAH YANG SALAH? BUKANKAH MALAIKAT JIBRIL BERKATA KEPADA PARA GEMBALA:

“Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud” (luk2:10-11).