Sebuah spanduk yang memperlihatkan seorang Kristen dengan seutas tali yang dikalungkan di lehernya, digantung di luar sebuah mesjid dengan kalimat seperti ini: “Orang ini patut dijatuhi hukuman mati!” Andreas Sanau, bersama-sama dengan Henry Sutanto, dituduh telah mengorganisir baptisan massal. “Pemerintah harus melindungi warganya dari tindakan anarki sebagaimana yang diamanatkan oleh konstitusi,” demikian pernyataan sekretaris Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia.

Jakarta (AsiaNews/Agencies) – Orang-orang Kristen terus mengalami penganiayaan di kota Bekasi, 25 kilometer dari Jakarta. Hari ini sebuah spanduk digantung di depan sebuah mesjid yang memperlihatkan seorang Kristen dengan seutas tali dikalungkan di lehernya dengan kata-kata: “Orang ini harus dihukum mati!” Pria ini adalah Andreas Sanau, 29 tahun, dituduh bersama-sama dengan Henry Sutanto oleh Front Pembela Islam (FPI) telah mengorganisir baptisan massal. FPI adalah sebuah kelompok Islam radikal dan selalu melakukan kekerasan terhadap kelompok agama minoritas, khususnya orang-orang Kristen.

Selama bertahun-tahun, para ekstrimis Islam telah menjadikan orang-orang Kristen di Bekasi menjadi target, dengan menuduh orang-orang Kristen telah mencoba “mengkristenkan” kota itu. Pada bulan pertama tahun 2010, kelompok-kelompok Islam radikal telah mengganggu jalannya ibadah orang-orang Kristen, menghalangi orang-orang Kristen untuk memasuki gereja-gereja mereka dan menutup pembangunan gereja-gereja baru. Tuduhan terhadap Sanau dan Sutanto merupakan hasil inisiatif dari Yayasan Mahanaim, sebuah organisasi Kristen yang bertujuan untuk membantu orang-orang miskin. Rabu yang lalu, 14 bus penuh orang bertemu di kediaman ketua yayasan, Henry Sutanto. Bagi Murhali Barda, ketua lokal FPI, Sutanto harus dibunuh; ia ingin melakukan baptisan massal.”

Juru bicara Yayasan, Marya Irawan mengatakan bahwa bus-bus itu berisi orang-orang desa yang telah datang ke sana sebagai bagian dari program penjangkauan terhadap orang-orang miskin. Yayasan tidak punya maksud untuk membaptiskan satu orang pun.

Namun demikian situasinya menjadi semakin kritis, khususnya setelah FPI lokal memutuskan membentuk organisasi para militer untuk dikirim ke situ guna mengacaukan orang-orang Kristen. Lebih dari 1500 sukarelawan tengah dilatih.

Menurut Murhali Barda,”Kami melakukan ini karena kami ingin menyebarkan ketakutan dalam hati orang-orang Kristen yang melakukan hal itu. Jika mereka menolak untuk berhenti melakukan apa yang sedang mereka lakukan, maka kami siap untuk berperang.”

Andreas Yewangoe, pengurus dari Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia mengatakan bahwa para milisi hanya menciptakan ketakutan, kegelisahan dan ketidakamanan di tengah-tengah bangsa ini. ”Pemerintah harus melindungi semua warga masyarakat dari tindakan-tindakan anarkis sebagaimana yang diamanatkan oleh konstitusi.” Sejauh ini, pemerintah belum melakukan apa pun.

Analis politik, Arbi Sanit mengatakan bahwa pihak berwenang merasa takut untuk mengambil tindakan yang bisa diintepretasikan sebagai anti-Islam. Bagi mereka, ”Menjadi populer itu jauh lebih penting […..] daripada menghukum mereka yang jelas-jelas telah melakukan pelanggaran hukum,” kata Sanit.