Muslim2 di Indonesia sedang bermain Drama sandiwara dimana diantara mereka sendiri saat ini bertengkar dan ribut soal ARAH KIBLAT yang SALAH alias MELESET malah menghadap BENUA HITAM AFRIKA, weleh-weleh si Komo geleng-geleng Kepala, Pie Tho, kok masih hidup dalam Tradisi IBADAH SIMBOLIK yang sudah berakhir sejak Zaman Yohanes Pembaptis datang sehingga Tuhan Yesus Kristus memroklamirkan IBADAH dalam ROH dan KEBENARAN, sehingga hari ini kita tidak perlu pusing sholat harus hadap mana, Yerusalem atau Kabah, atau hadap negara masing2-masing dan tidak perlu NAIK HAJI kata Presiden LIBYA MUAMMAR KHADAFI, siape bilang Tanah ARAB itu LEBIH SUCI dari TANAH AIR BETA??? Ngaca dulu, jangan terpengaruh ama Muhammad yang ingin MEMPERKAYA Negara ARAB dengan NAIK HAJI dan UMROH.

Jadi Naik Haji dan UMROHnya di Masjid-masjid di Indonesia, tidak perlu ke Situs Sejarah zaman bahula dulu.

Nonton saja Discovery Channel, itu anda sudah naik haji dan umroh, doa saja pada saat nonton. Gitu saja kok repot:)

Jadi Arah KIBLAT saja SALAH, Parah bener emang mereka yang pertahankan IBADAH SIMBOLIK, harus hadap sana sini, tidak boleh makan ini itu, dan segala macam aturan BADANIAH/LAHIRIAH yang mengikat, padahal itu semua sudah THE END. Baca liputan berikut:

VIVAnews – Majelis Ulama menyempurnakan redaksional fatwa terkait arah kiblat salat umat muslim di Indonesia, dari Barat menjadi Barat Laut. Salah satu patokan untuk mengetahui arah Barat Laut adalah posisi matahari.

“Arah (kiblat) kita bergeser 25 derajat dari Barat,” kata Profesor riset Astronomi Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaluddin, Kamis malam, 15 Juli 2010.

Lebih lanjut dia menjelaskan, matahari berada tepat di atas Mekkah atau Ka’bah pada hari ini, 16 Juli 2010. Cahaya matahari yang masuk melalui kusen rumah bisa jadi patokan kiblat. “Kita lihat bayangan dari sinar matahari.”

Selain itu, kata dia, masyarakat juga bisa menggunakan kompas sebagai panduan. Untuk Jakarta, arah salat digeser 25 derajat dari Barat ke arah Barat Laut. “Masyarakat juga bisa meng-klik www.qiblalocator.com,” kata dia.

Tak cukup itu, Thomas memberikan alternatif lain dengan menggunakan bayangan menara. “Menara yang ada lampunya, asumsikan itu sebagai Ka’bah. Bayangannya yang kita jadikan kiblat.” (hs)

Advertisements