BBC News, 16 Agustus 2010

Seorang pria dan wanita yang dituduh melakukan perzinahan telah dieksekusi mati dengan cara dilempari dengan baru hingga keduanya tewas. Eksekusi mati ini terjadi di provinsi Kunduz, Utara Afghanistan. Hukuman ini dilakukan di tengah-tengah sebuah bazar yang ramai dikunjungi masyarakat, pada hari Minggu – di desa Mullah Quli yang dikontrol oleh Taliban. Taliban belum memberikan komentar publik atas pembunuhan ini, tetapi kejadian ini dikonfirmasi oleh para pejabat lokal dan para saksi mata.

Bulan ini Taliban juga melaporkan telah mencambuk dan membunuh seorang janda yang tengah hamil di provinsi Baghdis yang ada di sebelah Barat Afghanistan. Mohammad Ayub, gubernur distrik Imam Sahib di Kunduz, memberitahukan kepada BBC pada hari Senin: “Taliban membawa kedua orang ini ke bazar lokal.”

“Mereka melempari keduanya dengan batu atas tuduhan telah melakukan perzinahan. Saat itu dilakukan, banyak sekali orang yang menyaksikan.”
Dua saksi dari Mullah Quli juga memberitahukan kepada BBC bahwa Taliban meminta penduduk desa untuk menghadiri eksekusi ini melalui sebuah pengumuman lewat loudspeaker yang ada di mesjid.

“Ada banyak sekali orang pada waktu itu,” kata seorang saksi. “Taliban menyuruh para wanita mengenakan pakaian hitam, dan para pria diperintahkan untuk berdiri. Kemudian Taliban mulai melemparkan batu pada kedua orang itu.”

“Kami juga diperintahkan untuk melemparkan batu. Setelah beberapa saat, Taliban pun pergi. Wanita itu telah mati tetapi si pria masih hidup.” “Beberapa orang Taliban kemudian datang dan menembaknya sebanyak tiga kali. Taliban kemudian memperingatkan para penduduk desa bahwa jika ada orang yang melakukan hal-hal yang tidak islamik, maka seperti itulah nasib mereka.”

“Suasana ketakutan”

Seorang pegawai yang bekerja di Kunduz pada agen intelijen Afghanistan, NDS, membenarkan cerita di atas. Ia memberitahukan BBC: “Hal ini menunjukkan bahwa mereka (Taliban) ingin menciptakan suasana ketakutan.” Menurut agen surat kabar AFP, wanita itu berusia 23 tahun dan si pria berusia 28 tahun.

Seorang tua-tua suku lokal memberitahukan BBC bahwa pasangan ini telah melakukan kawin lari. Si wanita sendiri telah bertunangan sementara si pria telah menikah.”Seorang jirga (dewan suku) bertemu dan memutuskan bahwa kedua pasangan ini bisa kembali ke desa itu jika si pria membayar kompensasi. “Si pria kembali setelah ia diyakinkan bahwa ia tidak akan dilukai,” kata tua-tua suku itu. “Tetapi segera setelah ia kembali, maka Taliban pun menangkapnya.”