Tolong Saya, Dr. Lutfi, Saya Ingin keluar dari Islam’, demikian judul surat elektronik yang saya terima dari seorang pelajar Indonesia di Jerman. Kebetulan saya pernah bertemu dengan mahasiswa tersebut ketika saya berkunjung ke Jerman.

Sebagai seorang doctor lulusan Universitas ternama Australia dalam kajian Islam Mutokhir alias Advance Islam Study, saya sering diminta untuk menjadi pembicara kunci dalam seminar-seminar menyangkut kajian-kajian islam mutakhir di berbagai negara. Dari berbagai tanya jawab dan konseling, saya dapati dengan jelas bahwa kebanyakan siswa Indonesia beragama Islam di Eropa dan Amerika merasa malu akan agamanya. Pengalaman tahun pertama,mereka begitu getol solat dan bergabung dalam komunitas islam di kampusnya,mungkin karena perasaan persaudaraan dan homesick maka mereka menjaga kebersamaan dengan sesama mukmin setanah air, juga karena mereka alergi dengan pergaulan dan cara berpikir para ‘kafirun’. Namun di tahun kedua, mereka merasakan bahwa ketakutan mereka tidak beralasan. Bangsa  Amrik, Eropa dan Latin ternyata manusia biasa.  Tanpa islampun,bahkan tanpa peduli agama apapun mereka bisa menjalani hidup yang bermakna.
Justru dengan begitu banyak buku kajian2 islam disana,mahasiswa2 islam menyadari betapa rapuh keimanan islam itu. Apa yang menjadicela dalam sejarah & ajaran islam yang selama ini ditutup-tutupi di negeriini, ternyata ditelanjangi tanpa ampun di negara2 barat. Mereka menjadi malu dengan cerita sebenar-benarnya tentang nabi yang juga didasari atas kajian2 quran, surah dan hadist.
Kembali kepada sur-el yang saya terima, dibawah ini saya lampirkan, untuk menjaga privasi si pengirim saya ganti namanya. Beginilah bunyinya:
Dear DR. Lutfi,
Apa Kabar Pak Lutfi? Kembali menyoal kegamangan iman saya kepada Islam, semoga bapak tidak kesal dengan keterusterangan saya, tentu bapak sudah memahaminya lewat email-emailsaya sebelumnya. Saya sudah semakin matang akan mengakhiri kegamangan iman saya pada islam. Saya sudah malu dengan begitu banyak cacat cela dalam Islam. Begitumarah dan kesalnya saya menyadari bahwa saya telah ditipu mentah-mentah olehIslam. Islam hanyalah agama dari sekian banyak agama di dunia ini, yangsama-sama buatan manusia dalam konteks budaya dan jaman tertentu. Saya sdhtidak bisa menerima lagi keyakinan tentang agama yang terakhir, kitab sempurna,nabi yang terakhir dan sempurna. Semua itu cuman rekayasa pengikut Muhammad dijaman2 sesudahnya. Muhammad sendiri belum tentu secara historis ada. Semuasitus tentang kuburan, benda2 peninggalannya, cerita2 keberhasilannya bisa sajadikarang puluhan atau ratusan tahun setelah islam menjadi agama mayoritas diarab, lewat jalan kekerasan tentunya saja. Kalau benar situs2 dan benda2bersejarah itu itu asli, biar ditest carbon aging saja,tapi mana ada yangberani? Semua takut dengan kemungkinan fakta yang berbeda dengan keyakinan yangselama ini kukuh dipegang.
Saya malu ditanyai tentang keabsahan Muhammad sebagai manusia sempurna tapi doyan kawin dan perang, apalagi meniduri anak gadis umur 9 tahun, duh malunya saya. juga saya sering didamprat tentang kesempurnaan alquran yang jelas2 mengandung banyak kekeliruan sejarah dan sains.
Saya tidak tahu harus bagaimana, entah saya akan menjadi agnotis, atheis atau berpindah agama.
Please jangan membujuk saya untuk kembali kepada Islam. Saya sudah bahagia dengan kemurtadan saya.Tujuan saya menulis surat ini hanya ingin share dengan bapak. Bahwa ada orang2kritis dan jujur yang tidak mau lagi dibodoh-bodohi oleh agama dan ajaran yg sudah jelas2 tidak manusiawi.
Peace
Calon Murtadin.
Saya menghela nafas panjang. Berpikir keras apa yang harussaya tulis. Saya menutup kedua mata dan membayangkan masa2 kuliah saya di IAIN,masa2 dimana saya menyadari bahwa Islam tidak lah secemerlang yang sayabayangkan ketika sebelum masuk IAIN. Semakin mempelajari Islam, semakin sadarsaya akan kelemahan dan keterbatasan Islam itu sendiri. Semakin saya sadarbahwa islam, dan agama2 yang lain, hanyalah buatan manusia. Islam yang kitapahami sekarang, tidak an sich seperti islam dalam pandangan Muhammad. Itulahkenapa mahasiswa IAIN sering memplesetkan almamaternya sebagai Ingkar AgamaIngkar Negara.
Begitu pula ketika sy meneruskan studi di Australia, dalam KajianIslam Mutokhir alias Islam Advance Study, semakin terbuka bathin dan akal budisaya bahwa agama adalah bentukan manusia, suatu kolektifitas konsep tentangkebaikan dan keburukan dari manusia itu sendiri. Memercayai bahwa ada suatukekuatan ilahiah di atas sana yang mendukung suatu agama tertentu, bagi saya,sudah terasa naïf , lancung dan cacat logika.
Setelah setengah jam saya memejamkan mata dan mencari ilham, akhirnya saya tulis,
Sdr. Calon Murtadin yangterhormat,
Tidak ada keinginandari saya untuk membujuk anda memeluk erat2 islam. Saya seorang yang menjunjungtinggi HAM. Beragama dan tidak beragama adalah bagian dari freedom to believedan sekaligus freedom to disbelieve. Jikalau islam sudah tidak mampu menjawabmasalah hidupmu, siapa yang bisa memaksakan? Tidak seorangpun boleh memaksakan.
Jikalau Islam tampakbegitu redup bahkan hitam kelam dimata anda, silahkan anda meninggalkannya dancari ruang yang lebih terang untuk membimbing jalan hidup anda.
Kedewasaan kitaditandai dengan kesadaran bahwa dalam hidup ini tidak ada yang mutlak, tidakada kebenaran yang tak terbantahkan, kecuali dalam matematika dan sains.
Bahwa secara fakta danlogika agama islam tidak seperti apa yang pernah diajarkan pada kita, saya punsudah lama mengetahuinya. Bahwa Islam tidak seperti yg kita bayangkan dan kitaduga, sudah lama saya sadari. Seperti anda, sayapun pernah merasa gamang,dibodohi dan marah. Hanya sedikit orang yang tahu bahwa saya pernah lama sekaliabsen shalat. Saya pernah merasa telah salah masuk IAIN. Ingin rasanya saya jadi atheis. Namun kemudian saya justru bersyukur bahwa dengan mempelajari agama sebanyak mungkin, saya jadi tahu keterbatasan, kelemahan dan kebohongan agama saya.
Nah, pertanyaannya, kenapa setelah saya tahu kebobrokan Islam, saya malah tetap jadi Islam? Karena agama apapun sama saja. Sama-sama cuman konsep buatan manusia. Jadi untuk apa lepas dari perangkap yang ini, eh kejeblos perangkap yang lain lagi? Mengapa tidak jadi atheis atau agnotis saja? Yah kalo di Jerman sih Okey2 saja, tapi diIndonesia? Jangan harap anda bisa makan enak, kecuali anda memang orang yang kaya yang tidak perlu bekerja ke orang lain atau menjilat pemerintah untuk dapatkan proyek. Saya orang miskin, jadi yang praktis2 sajalah. Saya tetapmemilih jadi islam dengan misi untuk mengerem islam agar tidak masuk dalamk ebodohan, kenarcisan, kekerasan dan ekstrimisme yang lebih dalam lagi.
Dalam ratusan tahunlagi islam dan agama2 yang ada sekarang akan ditinggalkan, karena ketinggalan jaman dan jelas2, spesifik untuk islam, mengajarkan kekerasan dan diskriminasi pada manusia. Namun ketika kita masih hidup, adalah panggilan bathin saya untuksedikit menyelamatkan kapal yang akan tenggelam ini agar tidak lebih banyakpenumpang jatuh dan tenggelam.
Sekali lagi, itu hakanda untuk meninggalkan islam. Apalagi anda tinggal di Jerman. It’s OK. Anda sudah dewasa sekarang untuk melihat realitas sebenar2nya. Namun demikian, adalah lebih bijaksana apabila anda memikirkan bahwa ada ratusan juta bahkan milyaran manusia yang masih kanak-kana, masih memerlukan cerita sebelum tidur seperti cerita tentang kehidupan di surga bersama 72 bidadari berdada montok yang siap diperawani siang dan malam, atau tentang neraka jahanam tempat si kafir dan para pemakan babi di siksa. Kita yang dewasa tahu bahwa itu semua cuman kibulan. Tapi tidak demikian halnya buat para kanak-kanak  pecandu cerita stensilan yang berjudul “Agama”. Untuk itu, bersabarlah, beri mereka waktu. Asalkan mereka tidak melakukan kekerasan dan pemaksaan, biarlah mereka hidup tenang dan tentram dengan candunya masing-masing. Seperti halnya kita perlu juga hiburan dari sinetron2 yang surealis, sebagai penyeimbang dari realitas dunia yang sumpek dan stressful, begitu pula agama ada juga baiknya sebagai penyeimbang untuk menghadapi realitas dunia yang berat. Asalkan kita tahu saja, layaknya sinetron2 Indonesia yang surealis, dan tidak mendidik, begitu pula agama, sama-sama surealis dan tidak mendidik untuk menjadi dewasa.
Cheer up dan lakukan apa yang anda pikir perlu dilakukan. Saya tetap saudara anda apapun keputusan anda.
Wassalam.
DR. Lutfi
Begitulah jawaban dan nasihat dari saya seru sekalian alam.
———————————–11————————————————-
Kiranya sang Murtadin menuju kepada JALAN, KEBENARAN dan HIDUP dalam Yesus Kristus Tuhan dan Juruselamat Penebus Dosa Umat Manusia.
(Wahyu 21:6  Firman-Nya lagi kepadaku: “Semuanya telah terjadi. Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Awal dan Yang Akhir. Orang yang haus akan Kuberi minum dengan cuma-cuma dari mata air kehidupan.
Wahyu 21:7  Barangsiapa menang, ia akan memperoleh semuanya ini, dan Aku (yaitu YESUS) akan menjadi Allahnya dan ia akan menjadi anak-Ku.)