“Budaya Islamik bertanggungjawab atas kegagalan para migran berlatar belakang Muslim untuk berintegrasi ke dalam masyarakat Jerman,” kata Thilo Sarrazin, seorang bankir pusat yang kontroversial.

Seorang anggota dewan Bundesbank, memegang bukunya yang baru saat diadakan sebuah konperensi pers di Berlin, Jerman, pada hari Senin. Photo: AP.

Budaya Islamik bertanggungjawab atas kegagalan para migran berlatar belakang Muslim untuk berintegrasi ke dalam masyarakat Jerman, kata Thilo Sarrazin, seorang bankir pusat yang kontroversial.

Berbicara dalam acara peluncuran bukunya, “Germany Abolishes Itself”: How We Are Risking The Future of Our Nation (“Jerman Menghancurkan Dirinya Sendiri”: Betapa Kita Sedang Membahayakan Masa Depan Bangsa Kita), Mr. Sarazzin mengatakan bahwa hanya orang-orang Muslimlah diantara kelompok-kelompok migrant – yang telah gagal dalam berintegrasi ke dalam masyarakat dan karena itu mereka lebih banyak menjadi beban daripada mendatangkan manfaat.

“Semua masalah-masalah mayor dari segi budaya dan ekonomi telah mengkonsentrasikan diri mereka sendiri ke dalam kelompok 5-6 juta pendatang dari negara-negara Muslim,” katanya.

Buku Mr Sarazzin, yang juga melibatkan riset ilmiah, mengklaim bahwa lebih dari 80 persen inteligensia secara genetik telah ditakdirkan, dan hal ini menyebabkan kemarahan di Jerman setelah buku itu dipublikasikan secara resmi.

“Dengan para imigran dari Eropa Timur, India, Vietnam…setelah generasi pertama – tidak ada masalah-masalah integrasi … mereka tidak bisa dibedakan dari populasi Jerman yang lain,” kata mantan menteri keuangan pada masa Berlin belum menyatu dengan Jerman Barat.

Subyek dalam buku Mr. Sarrazin, yang umumnya tabu dibicarakan, dan juga elemen genetika kontroversialnya, membuat banyak orang menyerukan agar anggota dewan bank sentral itu mengundurkan diri.

Bankir itu telah menggunakan teori genetika dengan kesimpulan bahwa semua segmen masyarakat tidak bisa mengharapkan hasil yang sama, meskipun secara konsisten lebih banyak uang dikeluarkan untuk pendidikan dan pelatihan – sebuah pandangan yang secara langsung berkontradiksi dengan salah satu dari inti bagian penting dari Jerman sebelum perang dunia kedua, yang menganut paham negara kesejahteraan sosial.

“Bagaimana Jerman telah meninggalkan sejarah merupakan sesuatu yang sangat menggelisahkan saya,” katanya.

Pidato Mr Sarazzin didahului dengan sebuah introduksi oleh intelektual Jerman yang sama kontroversialnya, yang adalah keturunan Turki bernama Necla Kelek. Necla Kelek meyakini bahwa nilai-nilai Islam telah menghalangi integrasi para migran Muslim ke dalam budaya Jerman.

“Seorang warga masyarakat yang bertanggungjawab telah menyampaikan kebenaran-kebenaran yang pahit,” kata Ms. Kelek, dan ia menyerukan untuk mendiskusikan isi dari buku itu daripada membahas isu-isu moral.

Ia menambahkan, “Buku ini, kendati ada reaksi, akan merubah politik di negeri ini.”

Urutan terkini menempatkan buku ini pada puncak kartu penjualan Jerman, dan dipublikasikan secara massal oleh harian Bild.

Kepala Dewan Sentral Muslim Jerman, Ayyub Axel Koehler, menggambarkan Mr. Sarazzin sebagai “penjelmaan dari orang Jerman yang buruk,” dalam sebuah wawancara dengan Agen Pers Jerman dpa.

“Islamophobia sekarang punya sebuah nama di Jerman, yaitu Thilo Sarrazin.” Ia menyebabkan kerusakan serius dan akan berlangsung lama bagi reputasi negara kita, dengan komentar-komentarnya yang rasis dan menghina,” kata Mr. Koehler.