Perisai.net – LEBIH dari 99 persen warga Sudan Selatan memilih untuk memisahkan diri dari Utara, demikian hasil referendum yang diumumkan oleh seorang pejabat pada hari Minggu (30/1). Ini merupakan pengumuman resmi pertama pasca diadakannya referendum di negara itu.

Hasil ini disambut gembira oleh warga Selatan. Mereka menyambutnya dengan aksi damai di ibu kota Selatan, Juba.

Sudan Selatan akan tetap bersatu dengan Utara sampai dengan berakhirnya Perjanjian Perdamaian Komprehensif pada Juli 2011. Selanjutnya akan diatur mengenai pemisahannya sebagai negara merdeka.

“Jumlah suara yang mendukung pemisahan adalah 99,57 persen,” kata Chan Reek Madut, wakil kepala komisi yang mengorganisir referendum, kepada massa yang berkumpul di Juba, sebagaimana dikutip dari Reuters.

Pemilih di Sudan Selatan yang memilih berjumlah 99 persen, kata Madut. Sementara, lebih dari 60 persen warga Sudan Selatan yang tinggal di Utara juga ikut memberikan suara dengan hasil 58 persen mendukung pemisahan diri.

Ibrahim Mohamed Khalil, ketua Komisi Referendum Sudan Selatan, menambahkan bahwa 99 persen dari warga Sudan Selatan yang tersebar di delapan negara juga mendukung pemisahan diri.

Setelah puluhan tahun terlibat perang saudara dan ketegangan yang berkelanjutan antara pemerintahan Utara dan Selatan, sepertinya Selatan akhirnya akan menjadi negara merdeka. Referendum yang dimulai sejak 9 Januari tersebut merupakan bagian dari Perjanjian Perdamaian Komprehensif yang dibuat tahun 2005. Perjanjian itulah yang mengakhiri perang saudara antara kedua wilayah.

Meskipun perjanjian perdamaian telah ditandatangani sejak 2005, namun ketegangan antara Utara, yang mayoritas penduduknya adalah Arab-Muslim, dengan Selatan, yang berpenduduk mayoritas Afrika-Kristen dan animis, terus berlanjut dan cenderung meningkat selama enam tahun menjelang referendum. Bahkan, banyak pihak kuatir akan meletusnya kekerasan pada proses referendum selama seminggu, tapi untunglah kekuatiran itu tidak sampai terjadi.

Presiden Sudan Selatan, Salva Kiir, yang diharapkan untuk memimpin kemerdekaan Selatan, telah menyerukan kepada warga Sudan Selatan untuk mengampuni warga Utara atas apa yang terjadi selama perang saudara. Sekitar 1,9 juta jiwa penduduk tewas dalam perang saudara tersebut dan lebih dari 500 gereja dihancurkan di Selatan.

“Untuk semua saudara dan saudari kita yang meninggal, khususnya mereka yang telah jatuh selama masa perjuangan, kiranya TUHAN memberkati mereka dengan kedamaian abadi,” kata Kiir di Katedral Katolik di Juba pada 16 Januari.

“Dan semoga kita, seperti Yesus Kristus di atas kayu salib, mengampuni mereka yang telah menyebabkan kematian.”

Hasil akhir referendum akan diumumkan pada awal Februari. [] © CP