Gregory Luke mendekam dalam penjara di kota Praya, Lombok

Perisai.net – PADA bulan Agustus, ketika umat Muslim tengah menjalani ibadah puasa di bulan Ramadhan, biasanya masjid-masjid sering diisi dengan pembacaan-pembacaan doa pada malam hari. Bagi sebagian besar umat Muslim di Indonesia, hal semacam itu sudah lazim. Namun, tidak bagi Gregory Luke, 64.

Luke adalah seorang pensiunan insinyur dari California. Ia kini berprofesi sebagai pengusaha guesthouse bagi para turis di pulau Lombok dan sudah lama menetap di pulau itu. Luke sendiri adalah seorang Muslim.

Ketika doa-doa mulai dibacakan melalui pengeras suara di masjid, Luke merasa terganggu. Ia kemudian mendatangi masjid dan mengatakan bahwa doa-doa yang dibacakan melalui pengeras suara itu terlalu bising. Tak cukup sampai di situ, Luke kemudian mencabut kabel pengeras suara masjid sehingga pembacaan doa terhenti.

Tindakan Luke tersebut dianggap sebagai bentuk penghinaan terhadap Islam. Akibatnya, ia pun harus berurusan dengan pengadilan.

“Kami merekomendasikan hukuman tujuh bulan penjara karena ia bersalah menghina dan melakukan tindakan yang memicu kebencian,” kata jaksa penuntut umum, Baiq Nurjanah.

Namun, Hakim di Pengadilan Negeri Lombok, Mohammad Bilal, hanya memvonis Luke dengan hukuman lima bulan penjara, menurut Bilal hukuman yang diberikan kepada Luke relatif ringan. Hal yang meringankan terdakwa adalah karena ia telah meminta maaf atas tindakannya itu dan berlaku sopan dalam pengadilan.

“Saya meminta maaf atas kesalahan yang Saya lakukan di masjid. Saya telah mengikuti semua proses persidangan dan mendengarkan kesaksian para saksi. Saya berharap Saya bisa mendapatkan hukuman yang ringan,” kata Luke dalam persidangan.

Luke yang tampil mengenakan sarung, kaos dan peci di pengadilan awalnya menyangkal telah mencabut kabel pengeras suara masjid. Kepada media massa lokal ia berkata bahwa ia pergi ke masjid untuk meminta agar suara pengeras suara dikurangi, tetapi ia malah didorong oleh sekelompok pemuda hingga ia terjatuh, bahkan ia mengaku dilempari batu oleh pemuda-pemuda itu.

Massa kemudian mengejarnya hingga ke rumahnya kemudian melakukan pengrusakan atas rumah kediaman Luke. Polisi yang berada di lokasi kejadian tidak sanggup berbuat apa-apa menghadapi aksi amuk massa.

Tidak ada satu pun dari antara massa itu yang kemudian dijadikan tersangka terkait kasus penyerangan terhadap rumah Luke. Kerugian yang dialami Luke akibat rumahnya yang dirusak massa hampir mencapai 200 juta rupiah. Luke sendiri harus menjalani hukuman lima tahun penjara setelah vonis yang dibacakan pada hari Selasa (14/12). []