Dari Per Nyberg, CNN, 5 Februari 2011

Kelompok-kelompok anti Islam dan para pemrotes yang kontra, berkumpul di Luton, England pada hari Kamis; tetapi polisi menjaga kedua kelompok tetap terpisah.

Luton, England (CNN) — Nyanyian pendek (chanting) “tidak akan pernah menyerah” dan sambil mengibar-ngibarkan spanduk “Tidak boleh ada lagi mesjid” dan “Islam adalah Iblis,” diteriakkan oleh para pemrotes yang melakukan demostrasi tepat di utara London.

Protes di Luton diorganisir oleh Liga Pertahanan Inggris, sebuah organisasi hak manusia Inggris yang mendorong sebuah pesan anti-Islam. Kelompok ini didirikan pada musim panas 2009 setelah sekelompok Muslim radikal melakukan protes saat berlangsungnya sebuah parade homecoming untuk tentara-tentara Inggris. Pada waktu itu, sepasukan tentara Inggris yang ditarik pulang ke UK sebagai pahlawan perang dari medan Afghanistan, tiba-tiba diserang oleh segerombolan Muslim radikal. Lihat http://www.youtube.com/watch?v=ru0ijRo33Vo

Berdasarkan perkiraan sejumlah orang, jumlah pemrotes di Luton mencapai ribuan orang, dan termasuk di dalamnya anggota-anggota dari liga pertahanan Swedia, Norwegia, Belanda dan Skotlandia. Mereka berjalan menuju Lapangan St. George di pusat Luton, dimana sejumlah orang diberi kesempatan untuk berpidato dan para pemrotes meneriakkan seruan mereka (chanting).

Luton telah memperbaharui fokus di Inggris setelah peristiwa, Taimour Abdulwahab, seorang teroris yang lahir di Irak, dan telah tinggal di sana selama beberapa tahun untuk menempuh pendidikan di sebuah universitas lokal, meledakkan dirinya di sebuah jalan di Stockholm pada bulan Desember,

Seorang pendeta Amerika Serikat, Terry Jones, yang mengorganisir sebuah even “Hari Membakar Qur’an” pada tanggal 11 September tahun lalu, telah diundang untuk berbicara dalam rally tersebut, tetapi kunjungan Jones dibatalkan setelah pihak berwenang di UK mengatakan bahwa mereka tidak akan menginjinkan Jones ada di negara itu. Jones yang berasal dari Gainesville, Florida, membatalkan rencananya untuk membakar Qur’an setelah meningkatnya tekanan dari para pemimpin Amerika Serikat dan internasional.

Demi keamanan, polisi menurunkan 1800 orang personil, bersama dengan anjing dan kuda. Setiap pemrotes yang tiba di lapangan tersebut harus melewati pemeriksaan metal detektor.

Sebuah protes tandingan juga dilaksanakan, yang diorganisir oleh kelompok Unite Against Fascism (Bersatu Melawan Fasisme) yang menyerukan,”Tidak untuk rasisme, fasisme dan Islamophobia.” Pada satu kesempatan, para pemrotes UAF mencoba menerobos masuk melalui lingkaran penjagaan polisi, tetapi petugas keamanan yang mengendarai kuda berhasil mengusir mereka mundur sehingga kedua kelompok tidak bertemu secara langsung.

Hal yang aneh terjadi, sementara situasi semakin memanas, Lagu “Threee Little Bird” dari Bob Marley diperdengarkan melalui loudspeaker dengan liriknya: “Jangan khawatir tentang apa pun, sebab setiap masalah kecil pada saatnya akan menjadi baik”

Delapan pemrotes ditahan, kebanyakan karena diduga membawa senjata yang bisa dipakai untuk menyerang, kata pihak berwenang. Dilaporkan tak ada yang terluka.

Pada hari Sabtu pagi, para pemrotes dari kelompok Unite Against Fascism berusaha menghalangi pada pemrotes dari Liga Pertahanan Inggris dengan cara menduduki stasiun kereta api, tetapi polisi berhasil membubarkan mereka.

Para pemrotes datang pada hari yang sama ketika Perdana Menteri Inggris, David Cameron berbicara mengenai ekstrimis Islam dan ancaman yang ia berikan terhadap keamanan di Konperensi Keamanan global Munich, di Jerman. Menurutnya ideologi ekstrimis Islam berbeda dengan Islam itu sendiri.

“Ketika seorang berkulit putih memegang pandangan yang bisa ditentang  – sebagai contoh rasisme – maka kita punya hak untuk mengecam mereka,” kata Cameron. “Tetapi ketika pandangan-pandangan yang sama yang tidak bisa diterima muncul dari seorang yang tidak berkulit putih, kita menjadi terlalu curiga dan secara jujur, bahkan merasa takut untuk berdiri membela mereka… Toleransi yang tidak bertanggungjawab seperti itu hanya akan memperbesar akal sehat yang tidak cukup untuk dibagikan.

“Semua ini menyebabkan sejumlah besar orang muda Muslim merasa tengah menjalani hidup yang tak menentu dan merasa tercabut dari akarnya, katanya. “Dan mencari sesuatu yang ia rasa menjadi bagiannya, dan saat meyakini hal tersebut, bisa membawanya kepada ideologi yang ekstrim ini.”

“Ia katakan, selain mengabaikan ideologi ekstrimis,” kita – sebagai pemerintah dan masyarakat – harus mengkonfrontasikannya, dalam semua bentuknya. Dan kedua, daripada mendorong orang untuk tinggal terpisah, kita membutuhkan sebuah pengertian yang jernih mengenai pentingnya membagikan identitas nasional, yaitu terbuka pada semua orang.