BuktidanSaksi.com – Pengadilan Belanda hari Rabu lalu memutuskan untuk meneruskan pemeriksaan terhadap pemimpin Partai Kebebasan Belanda, Geert Wilders, atas tuduhan menebarkan kebencian dan diskriminasi terhadap orang-orang Muslim, ketika ia menyebut bahwa Al Quran itu mirip dengan buku Mein Kampf-nya Hitler; dan menyebut kitab suci umat Muslim itu sebagai sebuah “buku fasis”.

Wawancara saya dengan Wilders berkaitan dengan pemeriksaan yang tengah ia jalani di pengadilan, ada di sini.

Perlu diketahui bahwa pemeriksaan lanjutan dilakukan setelah jaksa penuntut sebenarnya telah ‘melemparkan handuk’ (tanda menyerah) pada Oktober tahun lalu.

Radio Netherlands Internasional melaporkan:

Pengadilan atas Geert Wilders sebenarnya sudah berakhir. Jaksa publik telah memanggil para politisi populis untuk menghentikan semua tuduhan. Pengadilan itu sendiri akan dilanjutkan, tetapi semuanya sekarang sudah menjadi sebuah anti-klimaks. Dalam kurun waktu dua hari argumentasi yang penuh dengan intrik, jaksa penuntut mengatakan kepada pengadilan bahwa mereka tidak menemukan satupun bukti yang menunjukkan Mr Wilders telah melanggar hukum.

Sidang ditunda hingga 13 April 2011. Keputusan hakim diharapkan sudah keluar pada bulan Juni. Sementara itu dalam sebuah perkembangan terpisah, sekurangnya terpisah dari kasus pengadilan yang saat ini ia jalani, Wilders hari ini kembali melakukan serangan terhadap Muhammad, dengan sebuah tulisan yang sangat keras, yang dipublikasikan di majalah Belanda “HP/De Tijd.”

Tulisan itu akan membuat orang-orang Muslim di Netherlands dan dunia akan menjadi sangat marah. Wilders mengutip sumber-sumber yang menyebut Muhammad sebagai seorang yang “narsis, pedofil, pembunuh massal, teroris, misoginis, penuh nafsu birahi, seorang pemimpin bidat, gila, pemerkosa, penganiaya, pembunuh dan penjarah…” Di samping sebagai seorang psikopat yang suka berhalusinasi.

Saatnya untuk membuka topeng Muhammad

Oleh Geert Wilders

Untuk mengetahui mengapa Islam adalah sebuah bahaya yang mematikan, seseorang tidak hanya harus mengamatinya dari Quran, tetapi juga melalui karakter Muhammad, yang melahirkan Quran dan Islam.

Quran bukan hanya sebuah buku. Orang Muslim percaya bahwa Allah sendiri yang menuliskan buku ini dan bahwa buku ini didiktekan kepada Muhammad dalam versi aslinya, yaitu Umm al-Kitab, yang disimpan dalam sebuah meja di surga. Sebagai konsekuensi, orang tidak bisa berbantahan dengan isinya. Siapa yang berani memperlihatkan ketidaksetujuannya dengan apa yang ditulis oleh Allah sendiri? Ini menjelaskan perilaku para pengikut Muhammad, dari kekerasan saat melaksanakan jihad hingga kebencian dan penganiayaan yang mereka lakukan terhadap orang-orang Yahudi, Kristen dan orang-orang Muslim lainnya, serta mereka yang murtad. Apa yang kita anggap sebagai hal yang abnormal di Barat, sepenuhnya normal bagi Islam.

Masalah kedua yang tak kurang pentingnya mengenai Islam adalah, berkaitan dengan figur Muhammad. Ia bukan hanya seseorang. Dia adalah seorang al-insan al-kamil, manusia yang sempurna. Untuk menjadi seorang Muslim, seseorang harus mengucapkan kalimat syahadat (pengakuan Muslim). Dengan mengucapkan syahadat, seseorang menyaksikan bahwa tidak ada tuhan yang bisa disembah kecuali Allah, dan dia bersaksi bahwa Muhammad itu adalah utusan dan pelayannya Allah.

Quran, dan juga Allah, meletakkan dasar bahwa kehidupan Muhammad harus diimitasi. Konsekuensi dari hal ini menjadi sesuatu yang menghebohkan, dan bisa kita saksikan setiap hari.

Ada banyak analisa mengenai kegilaan mental Muhammad. Namun kendati ada banyak riset yang dilakukan, sangat jarang hal itu disebut atau diperdebatkan. Dianggap sebagai sebuah tabu jika mendiskusikan natur dari seorang pria yang diyakini sebagai seorang rasul suci dan contoh yang harus diikuti oleh sekitar satu setengah milyar manusia. Tabu itu harus diputuskan di Barat dan di sini di Netherlands.

Ali Sina adalah seorang eks Muslim dari Iran yang mendirikan organisasi untuk orang-orang yang murtad dari Islam yaitu Faithfreedom International. Dalam bukunya yang terakhir, ia menjelaskan bahwa Muhammad itu adalah seorang narsis, pedofil, pembunuh massal, teroris, misoginis, penuh dengan nafsu birahi, pemimpin bidat, seorang pria gila, pemerkosa, penganiaya, pembunuh dan perampok(*). Sina telah menawarkan 50.000 dollar bagi mereka yang bisa membuktikan hal yang sebaliknya mengenai Muhammad. Sampai sekarang tak ada seorang pun yang memenangkan tawarannya itu. Dan hal ini tidak mengherankan, sebab deskripsi yang ia buat sesungguhnya bersumber dari teks-teks Islam sendiri seperti hadis, yang mendeskripsikan kehidupan Muhammad dari kesaksian-kesaksian orang-orang yang hidup pada zamannya.

Muhammad yang historis adalah pemimpin biadab dari sebuah gang para perampok dari Medina. Tanpa segan-segan mereka menyerang, memperkosa dan membunuh. Sumber-sumber mendeskripsikan kegilaan dari kekejaman Muhammad dan anggota-anggota gang rampoknya (Muslims), dimana ratusan leher orang dipenggal, tangan dan kaki dipotong, mata dicongkel, seluruh anggota suku dibinasakan. Sebuah contoh adalah punahnya suku Yahudi Qurayza di Medina pada tahun 627. Salah seorang dari mereka yang memenggal kepala orang-orang Yahudi ini adalah Muhammad sendiri. Para wanita dan anak-anak dijual sebagai budak. Jika kita mengkonfrontir kegilaan para teroris Islam hari ini, tak sulit untuk menemukan dari mana kegilaan itu bersumber.

Di Viena, aktivis kanan wanita, Elisabeth Sabaditsch-Wolff, baru-baru ini didenda karena menghina Islam dan menyebut Muhammad itu adalah seorang pedofil. Tetapi itu adalah pernyataan yang benar. Ada banyak hadis yang berisi kesaksian dari isteri favorit Muhammad, Aisha. Secara literal Aisha mengatakan:”Nabi menikahiku ketika aku berusia enam tahun, dan melakukan hubungan seks denganku saat aku berusia sembilan tahun.”

Berdasarkan penelitian ahli sejarah Theophanes (752-817), Muhammad adalah seorang penderita epilepsi. Penyakit ini terkadang diiringi dengan halusinasi, keringat di kening dan mulut berbusa, gejala-gejala yang sama yang terlihat pada diri Muhammad saat ia mengklaim mengalami penglihatan-penglihatan.

Dalam bukunya, “The Other Muhammad” (1992), psikolog Flemish, dr. Herman Somers, menyimpulkan bahwa pada usia empat puluhan tahun, “Nabi” mulai menderita penyakit yang disebut akromegali, sebuah kondisi yang disebabkan oleh sebuah tumor di kelenjar pituitary, sebuah kelenjar kecil yang terletak tepat di bawah otak. Saat tumor di kelenjar pituitary menyebabkan tekanan yang terlalu besar dalam otak, maka orang mulai melihat dan mendengar hal-hal yang sesungguhnya tidak ada. Psikopatologi Sommer mendiagnosa kondisi Muhammad sebagai: menderita halusinasi organis dengan karakteristik paranoid.

Sejarawan medis Jerman, Armin Geus, menyebut sebuah halusinasi paranoid sebagai schizophrenia. Analisa yang mirip bisa ditemukan dalam buku “The Medical Case of Muhammad” yang ditulis oleh seorang dokter yang bernama Dede Korkut.

Dalam bukunya “Psychology of Mohammed: Inside the Brain of a Prophet”, Dr. Masud Ansari menyebut Muhammad sebagai sebuah “personifikasi sempurna dari seorang psikopat yang berkuasa”. Muhammad memiliki sebuah personalitas paranoid dengan sebuah masalah inferioritas dan kecenderungan megalomania. Dalam usia empat puluhan, ia mulai melihat visi-visi yang membawanya pada keyakinan bahwa ia memiliki sebuah misi kosmis, dan tak ada yang bisa menghentikannya.

Kebenaran tidak selalu menyenangkan atau benar secara politik. Berdasarkan riset sebagaimana yang telah dipaparkan di atas, pengakuan Islam yang diwajibkan untuk diucapkan oleh satu setengah milyar manusia di seluruh dunia termasuk satu juta yang hidup di Netherlands, yang melihat Muhammad sebagai teladan mereka, sebagai hal yang bisa diperdebatkan. Sayangnya, tak ada kata berpaling saat seseorang telah menjadi seorang Muslim. Kendati artikel ke-18 Deklarasi Universal Hak-Hak Manusia menyatakan bahwa setiap orang mempunyai hak untuk “mengganti agama atau keyakinannya,” tetapi dalam Islam, konsekuensinya adalah hukuman mati jika ada Muslim yang berani mengganti iman mereka.

Setiap orang yang menyuarakan kritik terhadap Islam dan Muhammad, akan berada dalam bahaya yang sangat besar, sebagaimana yang saya alami. Dan barangsiapa mencoba untuk keluar dari pengaruh Islam dan Muhammad, berisiko kehilangan nyawa. Kita tidak bisa terus menerus menerima hal ini. Sebuah debat publik mengenai natur dan karakter Muhammad yang sebenarnya, bisa menyediakan pemahaman dan dukungan bagi orang-orang Muslim di seluruh dunia, yaitu mereka yang ingin meninggalkan Islam.

Orang-orang yang murtad adalah para pahlawan, dan lebih dari pada itu, mereka sangat pantas untuk didukung oleh orang-orang dari seluruh dunia, yang mencintai kebebasan. Partai-partai politik seharusnya tidak menjadikan ini permainan politik demi meraih dukungan publik. Inilah saatnya bagi kita untuk menolong para murtadin tersebut untuk mengekspos Muhammad.

Geert Wilders adalah seorang anggota Parlemen di Belanda. Ia adalah Ketua Partai untuk Kebebasan (PVV).

Sumber: Wilders Trial to Go Forward; He Attacks Mohammed Again