BuktidanSaksi.com – Benar, memang hari-hari ini kami sedang menayangkan pertunjukan aneh. Tapi tak satupun “Monstres Sacrés ” kami dapat menandingi Fatwa terbaru yang dikeluarkan Pakar Islam (yang terhormat) dan anggota penegakan religius Abdelbari Zemzami. Pada dasarnya ia mengijinkan hubungan seksual dengan mayat.

Halal di Maroko oleh kemurahan Alem Zemzami.

Mungkin saya harus lebih spesifik menjelaskan Fatwa Zemzami: ia mengijinkan suami yang ditinggal mati istrinya untuk bersetubuh dengan jenazah istrinya itu. Fatwa tersebut tidak mengatakan apakah hal yang sama juga berlaku untuk wanita yang ditinggal mati suaminya (walau saya menduga dengan “rigor mortis” nampaknya tidak), dan Fatwa itu juga tidak memerinci berapa jam setelah kematian istrinya itu, seorang pria masih boleh, ya…anda tahu sendirilah…melaksanakan kewajiban perkawinannya. Jika bukan karena tingkat senioritas sarjana tersebut, saya akan mengabaikan Fatwa itu dan hanya menganggap beliau sebagai seorang individu yang kesepian dan tersesat, yang sudah sejangka waktu tidak mendapat kesempatan untuk “melepaskan hasrat”. Tetapi yang mengatakan hal ini adalah Zemzami, dan ini adalah sebuah Fatwa yang dikeluarkan oleh seorang pejabat dari kementerian Habous. Dengan demikian Fatwa seperti itu asli adanya. 

Namun isu ini melampaui Zemzami yang nyentrik ini. Di sini anda akan mendapatkan hal yang mengejutkan dari imajinasi dan pemikiran-pemikiran tajam orang bodoh – yang langsung menghantam anda ke intisari kebebasan individual dan aturan hukum positif. Zemzami didorong untuk menghasilkan aturan-aturan Islam yang dapat dengan mudah dipandang sebagai sebuah kewajiban yang harus dilaksanakan oleh komunitas Muslim di Maroko. Sebagai seorang Alem (ulama) seorang pakar/sarjana Islam, fatwa-fatwa yang dikeluarkannya adalah norma. Ia dapat mengklaim (benar-benar) mendiktekan apa yang boleh atau tidak boleh kita lakukan sebagai Ummah. Dengan demikian, kita harus tunduk pada standar ganda yaitu Hukum Tuhan dan Hukum manusia. Kami sebagai warga negara, orang per orang, tidak mempunyai kuasa atas legislasi seperti itu, sebuah pembatasan atas hak-hak demokratis kami, dan boleh jadi argumen paling blak-blakan atas nama kritik adalah Maroko tidak mengenal demokrasi.

Zemzami membenarkan aturan yang dibuatnya dengan menggunakan analogi: Oleh karena pasangan Muslim yang baik akan bertemu lagi di Surga, dan oleh karena maut tidak menghapuskan kontrak pernikahan (menurut pendapatnya) maka itu tidak menjadi penghalang bagi hasrat suami untuk bersetubuh dengan jasad istrinya (yang baru saja meninggal dunia).

CATATAN: Abdelbari Zemzami, bukan sarjana biasa: secara formal ia adalah “الخبير في فقه النوازل“, yang berarti seorang Pakar dalam Perkara-perkara Eksepsional, isu-isu yang belum pernah dibahas secara mendalam oleh Quran, Hadith, maupun dalam Hukum Syariah. Zemzami sungguh-sungguh melakukan tugasnya: hal-hal ganjil yang belum pernah muncul sebelumnya, dan belum pernah didiskusikan oleh para sarjana terdahulu. Sehingga sebagai seorang pakar, dialah yang harus membuat sebuah pernyataan. Ya, Zemzami adalah pakar utama yang memimpin garis depan aturan-aturan islami yang baru yang dirancang untuk membuat hidup lebih selaras dalam komunitas Islam. Betapa menakutkan.