Transplantasi sumsum tulang belakang yang dilakukan di sebuah rumah sakit Israel telah menyelamatkan nyawa seorang bagi berusia empat bulan bernama Mohammed. Raida mengatakan, jika ia selamat, dia akan merasa sangat bangga melihat Mohammed bertumbuh menjadi seorang pelaku bom bunuh diri untuk Palestina. Buktidansaksi.com – Raz Somech, direktur immmunologi di rumah sakit anak terbesar Israel, dilatih untuk menyelamatkan nyawa anak-anak. Tetapi di Timur Tengah, bahkan sebuah perjuangan heroik untuk menyelamatkan nyawa seorang bayi, bisa menimbulkan kekusutan politik di wilayah itu.

Insert: Transplantasi sumsum tulang belakang yang dilakukan di sebuah rumah sakit Israel telah menyelamatkan nyawa seorang bagi berusia empat bulan bernama Mohammed. Raida mengatakan, jika ia selamat, dia akan merasa sangat bangga melihat Mohammed bertumbuh menjadi seorang pelaku bom bunuh diri untuk Palestina.

Dokumen Precious Life secara tidak terduga menyebabkan Dr. Somech menjadi seorang selebriti, karena usahanya menyelamatkan nyawa seorang bayi Palestina yang dilahirkan tanpa sistem kekebalan. Pada hari Senin malam, ia akan menjadi bintang yang atraktif dalam sebuah pemutaran film di Montreal, sebagai bagian dari Festival Film Israel.

Ketenarannya yang tidak terduga dimulai dengan sebuah aksi yang baginya hanya merupakan sebuah tindakan yang ia anggap sebagai tanggungjawab seorang dokter. Seorang bayi berusia empat bulan bernama Mohammed Abu Mustafa, tiba di ruang gawat darurat setelah diangkut dari Jalur Gaza. “Sangat mudah mendiagnosanya sebagai penderita semacam defisiensi kekebalan yang parah,” demikian dikatakan oleh Dr. Somech dalam sebuah wawancara. Kondisi genetis yang sama telah menyebabkan kematian kedua saudari perempuan Mohammed, dan tanpa sebuah transplantasi sumsum tulang belakang yang sangat mahal, akan sangat sulit buat bayi ini untuk bisa tetap hidup hingga ulangtahunnya yang pertama.

Tetapi sementara kisahnya dibukakan, menjadi jelaslah bahwa kesembuhan anak itu bukan hanya sebuah keajaiban medis, tetapi karena ada orang yang bermurah hati disamping karena tenaga medis di Israel melihat kehidupan seseorang sebagai sesuatu yang sangat bernilai. Perbedaan yang tajam antara kondisi kehidupan di Gaza dan Israel berarti bahwa sebuah operasi yang secara otomatis akan dilakukan terhadap seorang anak Israel, berada di luar jangkauan sebuah keluarga Palestina. Tanpa adanya intervensi mendesak dari seorang dermawan yang tak mau disebutkan namanya (yaitu seorang pria yang anak laki-lakinya baru saja tewas ketika menjalankan kewajiban militernya sebagai pasukan Israel), maka anak itu tidak akan pernah sembuh. Dan bahkan setelah dana dicairkan dan transplantasi dilaksanakan, Ibunya Mohammed, Raida, membuat sebuah pernyataan yang mempersoalkan semua usaha yang sudah dilakukan untuk menyelamatkan nyawa anaknya itu.

Ketika Dr Somech dan sang pembuat film, reporter TV Israel Shlomi Eldar mendiskusikan status Yerusalem, Raida mengatakan bahwa ia akan merasa sangat bangga melihat anak laki-lakinya itu bertumbuh untuk menjadi seorang pelaku bom bunuh diri. “Bahkan dari bayi yang paling kecil, lebih muda dari Muhammad, hingga orang yang paling tua, kami semua akan mengorbankan diri kami demi Yerusalem,” demikian katanya. Ditanya oleh Mr. Eldar, apakah ia akan mengijinkan Mohammed menjadi seorang syahid, atau martir jika ia sudah sembuh, ia menjawab, “Tentu saja. Jika hal itu demi Yerusalem, saya dengan penuh kerelaan mengijinkannya.” “Hidup bukanlah sesuatu yang berharga,” katanya.

Itu adalah sebuah statement yang mengejutkan yang datang dari seorang ibu yang anaknya baru saja disembuhkan oleh para ahli medis Israel, yang mana etika-etika medis sendiri tidaklah cukup untuk meredakan apa yang tengah bergolak dalam pikiran Dr. Somech. “Sangat mudah bagi saya untuk menyembunyikan diri saya di balik pakaian dokter saya dan berkata,”Bukan, saya adalah seorang dokter. Jika mereka memilih saya dan saya memiliki keahlian untuk mengobati mereka, maka insting saya adalah untuk mengobati mereka,” demikian katanya dalam sebuah wawancara. “Saya tidak membedakan para pasien berdasarkan warna kulit atau agama mereka.”

Baca Terus di : http://buktidansaksi.com/blogs/430/2011/05/